cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
MASJID RAYA SUMATRA BARAT SEBAGAI SIMBOL PERSATUAN MUSLIM DI SUMATRA BARAT Nurhayatu Nufut Alimin
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.786 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.1605

Abstract

Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid terbesar di Sumatera Barat, Indonesia. Masjid ini dirancang oleh Tim Khusus yang dibentuk oleh pemerintah Sumatra Barat. Berbeda dari kebanyakan masjid lainnya, masjid ini memiliki bentuk yang unik yaitu dengan menggabungkan unsur-unsur dari rumah gadang, dan unsur modern, bentuk yang unik menimbulkan persepsi yang bermacam-macam dari masyarakatnya sendiri, baik positif maupun negatif. Dari persepsi yang bermacam-macam tersebut penulis mencoba menelusuri apa makna yang muncul dari bentuk bangunan masjid tersebut. Pencarian makna pada desain masjid ini dilakukan dengan menganalisis bentuk visual, tema, dan esensi di balik itu. Penelitian ini meneliti bagian interior masjid yang menjadi ikon pada bangunan ini yang meliputi arsitektur dan interior bangunannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, masjid ini merupakan bangunan Neo-Vernakular, konsep yang diangkat adalah “Musyawarah dan Mufakat” yang dikenal sebagai filosofi masyarakat Minangkabau dalam mengambil keputusan. Melalui penelitian ini penulis menemukan bahwa masjid ini merupakan simbol pemersatu bagi umat Islam di Sumatera Barat. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan budaya masyarakat setempat bahwa umat Islam di Sumatera Barat memiliki beberapa aliran dan beberapa cara pandang yang berbeda terhadap Islam. Dengan demikian, secara tidak langsung masjid ini diharapkan dapat memberikan dampak sosial dan psikologis yang mampu mewakili penyatuan umat Islam di Sumatera Barat. Masjid Raya Sumatra Barat is the largest mosque in West Sumatra, Indone- sia. This mosque was designed by Team elected based by the government of western Sumatra. Different from most other mosques, this mosque has a unique shape that is by incorporating elements of the rumah gadang and modern style. By the uniqe shape, thise mosque made many perception from people inWest Sumatra barat, even positif and negative. From that perception I want to find the meaning of that uniqe shape from arsitecture this mosque. Searching for the meaning on the design of this mosque was done by analyzing the visual form, theme, and the essence behind it. This study examines the parts of the interior of the mosque which became the icons on this building which includes acrhitecture and Interior. Based on research conducted by the author of this mosque is NeoVernacular buildings, theme pre- sented is compromise with icon word in Minangkabau is “musyawah and mufakat” that’s mean is discussion to reach an agreement. Through the study found that this mosque is a unifying symbol for Muslims in West Sumatra - see the development of cultural community, Muslims in the West Sumatra has some of the cult and perspective about Islam. Thus indirectly the mosque is expected to provide social and psychological effects are capable of representing the unification of Muslims in West Sumatra.
Membakar Kebinatangan (Plastik dalam Perwujudan Karya Seni Rupa) / Burning Bestiality (Plastics in Manifestation of Fine Art Works) Bangkit Sanjaya
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.945 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3221

Abstract

AbstrakTujuan dalam penciptaan yaitu usaha melihat kebinatangan menjadi fenomena untuk inspirasi dalam menciptakan karya. Lalu, memvisualisasikan membakar kebinatangan (Plastik dalam Perwujudan Karya Seni Rupa). Kata “kebinatangan” yaitu sifat-sifat binatang atau kelakuan seperti binatang. Kebinatangan yang dimaksudkan dalam penciptaan karya seni ini yaitu perilaku manusia yang melebihi hewan. Perilaku tersebut justru tidak dilakukan oleh hewan, bahkan hanya manusialah yang melakukan perilaku keji kepada makhluk lainnya karena untuk menggapai tujuannya. Metode penciptaan menggunakan Practice Based Research. Dua penggunaan yang dapat dilakukan yaitu kegelisahan pribadi dan menggunakan literatur atau teori pendukung. Metode lukis menggunakan lima proses kreativitas dari ahli. Pertama, persiapan adalah suatu sikap bagaimana seseorang membuat dasar masalah penciptaan. Kedua, konsentrasi yaitu memfokuskan permasalahan. Ketiga, inkubasi yaitu seseorang mencoba mengambil dan menciptakan jarak pada masalah agar bisa beristirahat sejenak. Keempat, iluminasi yaitu usaha untuk mencari cara untuk penyelesaian masalah agar mendapatkan ide dan gagasan berkarya. Kelima, verifikasi yaitu mencoba menghubungkan dan mensintesiskan berbagai rencana kerja serta melaksanakannya. Sehingga, lahirlah karya dengan judul “Membakar Kesombongan” dan “Membakar Kesedihan” dengan teknik membakar plastik.AbstractThe objective of creation is the effort to see animalism as a phenomenon for inspiration in creating works. Then, visualize burning animalism (Plastic in the Embodiment of Fine Art). The word "bestiality" is the nature of animals or behavior like animals. The bestiality intended in the creation of this work of art is human behavior that exceeds animals. These behaviors are not actually carried out by animals, even only humans do cruel behavior to other creatures because they reach their goals. The methodology of creation is Practice-Based Research. Two functions that can be done are personal anxiety and using supporting literature or theory. The painting method uses five creative processes from experts. First, preparation is an attitude on how one makes the basis of the problem of creation. Second, concentration is focused on the problem. Third, incubation is someone trying to take and create a distance to the problem so they can take a break. Fourth, illumination is an effort to find ways to solve problems in order to get ideas and ideas for work. Fifth, verification is trying to connect and synthesize various work plans and implement them. So, the work was born with the title "Burning Pride" and "Burning Sadness" by burning plastic.
Pengaruh Budaya Pandalungan pada Bentuk Penyajian Kesenian Can Macanan Kadduk (The Effect of Pandalungan Culture on Performance Forms Can Macanan Kadduk) Lindhiane Saputri
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.625 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3226

Abstract

AbstrakBentuk penyajian kesenian Can Macanan Kadduk dilatarbelakangi dari fenomena budaya yang ada di Kota Jember. Untuk membantu menemukan jawaban dari permasalahan, menggunakan pendekatan sosiologi tari yaitu mengenai kaitannya manusia dengan tari, sejarah, serta perkembangan budaya yang menghasilkan suatu kesenian yang mencerminkan wilayahnya. Namun, pendapat tersebut dapat dilihat lebih detail menjadi yang lebih spesifik. Untuk itulah penulis meminjam konsep atau pendekatan lain untuk dapat menjelaskan latar belakang yang dipengaruhi oleh budaya Pandalungan pada bentuk penyajian kesenian Can Macanan Kadduk yaitu dengan meminjam pendapat dari Clifford Gretz, adanya anggapan bahwa pengaruh dapat membawa perubahan tertentu yang menghasilkan pada elaborasi dan komplikasi struktur sosial yang telah ada dalam komunitas, dengan tetap melestarikan wujud-wujud yang ada sebelumnya. Kesenian Can Macanan Kadduk adalah kesenian rakyat yang selalu hadir di setiap upacara ruwatan di desa-desa dan arisan yang dilakukan oleh kelompok kesenian Can Macanan Kadduk di Kota Jember. Kesenian Can Macanan Kadduk mencerminkan kebudayaan yang ada dalam masyarakat Jember. Kebudayaan itu disebut Pandalungan, yaitu memiliki dua unsur, budaya Jawa dan Madura. Fenomena budaya Pandalungan, memiliki pengaruh dalam bentuk penyajian kesenian ini. Pengaruh tersebut dapat dilihat secara visual dari semua unsur-unsur pertunjukan tersebut memiliki simbol dari budaya Pandalungan.AbstractThe form of presenting Can Macanan Kadduk's art is based on cultural phenomena in Jember city. To help find an answer to the problems, using the sociology of dance is about the relation of man to dance, history, and the development of a culture that produces art that reflects on its territory. But this opinion can be seen in more detail becomes more specific. For why the author borrowed concepts or another approach to explain the background of the presenting art that is by borrowing Can Macanan Kadduk opinion is the assumption that the influence can bring certain changes which resulted in the elaboration and complication of the social structures that already existed before. Can Macanan Kadduk art is a folk art that is always present in every ceremony ruwatan in villages and gathering done by arts groups Can Macanan Kadduk in the town of Jember. Can Macanan Kadduk's art reflect the culture that exists in Jember society? The culture is called Pendalungan, which has two cultural elements of Java and Madura. Pendalungan cultural phenomenon has some influence on the presentation of this art form. The effect can be seen as visual elements of the show to have a cultural symbol Pendalungan. 
Kosmologi sebagai Pijakan Kreasi dalam Berkarya Seni (Cosmology as the Foundation of Creation in Artwork) Ernawati Ernawati
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.019 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3222

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses kreatif berkarya seni berdasarkan kosmologi. Kosmologi dalam berkarya seni adalah konsep berkarya dengan tumbuh dalam keselarasan atau keteraturan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Studi Kasus pada kegiatan berkesenian seniman. Hasil dari penelitian ini, menunjukan bahwa 1) Proses kreatif dengan kosmologi memiliki nilai atau esensi mendalam meliputi aspek pengetahuan (kognitif), sila krama/sikap dan keterampilan. Fungsi kosmologi dalam berkarya, menumbuhkan seniman yang memiliki keselarasan dan keseimbangan antara nilai etika yaitu sikap dan estetika pengetahuan (kognitif), serta nilai keterampilan, 2) Karya kreasi tumbuh berdasarkan kesadaran kosmologi menyampaikan muatan nilai pada karya dan melatih berfikir secara analitis,kritis, dan kreatif. Memilih jalan berkesenian berdasarkan kosmologi oleh seniman mencerminkan sebuah kesadaran akan adanya hubungan timbal-balik dan saling menerima antara dunia antropologis dan kosmos secara luas serta nyaris tanpa batas. Hal ini penting dalam menyikapi kosmologi sebagai pengetahuan intangible, metode tranfser pengetahuan berbasis lokal, dan nilai akar tradisi sebagai konsep tumbuh dalam berkarya seni.AbstractThis research aims to know the creative process of creating art based on cosmology. Cosmology in work art is an art concept based on conformity and regularity. the method used in this research is descriptive qualitative with a case study approach to artists' artistic activities. The result of this research shows that 1) the creative process using cosmology has a value or deep essences such as cognition aspect (cognitive), manners/act and skills. The function of cosmology in work art is to grow artists who have conformity and balance between ethical values as attitudes and cognition aspects (cognitive), also skills. 2) creations grow based on cosmological awareness delivering the value of work art and train to think analytically, critically, and creatively. Choosing the path of art based on cosmology by the artist shows an awareness of reciprocity and mutual acceptance between the anthropological world and the cosmos without limits. This is important to respond to cosmology as intangible knowledge, locally based knowledge transfer method, the root values of tradition as a growing concept in work art.
MAKNA PENYAJIAN GONDANG PADA PROSESI KEMATIAN MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN DOLOK MASIHUL PROVINSI SUMATERA UTARA Tria Ocktarizka
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 2, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.037 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v2i2.1869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi kematian masyarakat Batak Toba di Kecamatan Dolok Masihul, dan makna penyajian musik gondang pada prosesi kematian masyarakat Batak Toba di Kecamatan Dolok Masihul. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gondang memiliki peranan penting sebagai iringan setiap upacara Suku Batak. Prosesi kematian saur matua (kematian yang diharapkan) menyajikan gondang dan tortor sesuai dengan tata aturan adat. Setiap jenis gondang yang didendangkan oleh pargonsi (pemain gondang) dalam prosesi kematian memiliki makna yang berbeda beda. Gondang mula-mula ini ditujukan untuk Tuhan. Gondang Mula-mula memiliki makna bahwa semula Dia (Tuhan) sudah ada, dan Dia (Tuhan) memulai ada. Gondang Somba dimaksudkan sebagai sembah syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan dan memelihara hidup manusia. Gondang Mangaliat memiliki makna bahwa Tuhan senantiasa memberikan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan. Gondang Hasahatan memiliki makna bahwa segala pinta yang meliputi hidup sejahtera bahagia dan penuh rejeki didengar Tuhan. This study aims to describe the procession of Batak Toba’s death in Subdistrict of Dolok Masihul, and the meaning of serving music gondang on procession Batak Toba’s death in subdistrict of Dolok Masihul. This study is using a qualitative approach with descriptive type. The data collection was done by using observation, interview, and documenttaion techinques. The results showed that gondang has an important role as an accompaniment in every ceremony performed by Batak tribe community. Saur Matua (the expected death) funeral procession presented gondang and tortor based on the customary rules. Every kind of gondang which sang by pargonsi (gondang’s player) in funeral procession has the meaning all it is own. Gondang mula-mula is presented for God. Gondang mula-mula originally means that since the very beginning Him (God) is already there. Gondang Somba means as a praise to worship God who created and maintain human life. Gondang Mangaliat has a meaning that God is always giving a salvation, joy and prosperity for the family remained. Gondang Hasatan means that every request including the prosperity life and full of fortune which listened by God.
Makna Sosial dalam Fenomena Baru Mendesain Website (Social Meaning in the New Phenomenon of Designing a Website) Fitro Nur Hakim
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.704 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3223

Abstract

AbstrakAbad XXI merupakan euforia digital pada hampir seluruh produk desain manusia. Website adalah salah satu perubahan besar yang hadir dalam produk Desain Komunikasi Visual. Website menjadi suatu media komunikasi visual yang populer menjadi pilihan khalayak untuk berkomunikasi. Proses desain website telah mencapai revolusi yang mulai mengesampingkan aspek-aspek sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui web berbasis Content Management System, desainer web, dan struktur pendukung web dari sudut pandang sosial. Desain Penelitian: Eksploratori, memahami fenomena sosial desain web yang terbagi menjadi objek, seniman, dan struktur pendukungnya. Pada kelas ekonomi bawah tantangan desain website dijawab dengan teknologi Content Management System, keunggulan yang dimilikinya berupa kemiripan visual dengan website kelas atas di Indonesia. Desainer dalam kungkungan metode Content Management System adalah buatan dari lingkungan sosialnya yang telah terkondisi menjadi konsumtif terhadap produk-produk teknologi internet. Pengunjung weblah yang akan menafsirkan arti pentingnya karya, dengan memperhatikan masa kini dengan sesuatu yang baru, dan secara terus-menerus mengalami pembaharuan.AbstractThe XXI century is a digital euphoria in almost all human design products. The website is one of the major changes that are present in Visual Communication Design products. The website is a popular visual communication medium that is the choice of audiences to communicate. The website design process has reached a revolution that began to rule out social aspects. This study aims to find out web-based Content Management Systems, web designers, and web support structures from a social point of view. Research Design: Exploratory, understanding the social phenomena of web design that is divided into objects, artists, and their supporting structures. In the economy class under the challenge of website design answered with Content Management System technology, the advantages it has in the form of visual resemblance to top class websites in Indonesia. Designers in the confinement of the Content Management System method are made from the social environment that has been conditioned to be consumptive of internet technology products. Web visitors will interpret the importance of the work, by paying attention to the present with something new and continuously experiencing renewal.
PENDEKATAN MATERIAL SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK PENGEMBANGAN PRODUK (USING MATERIAL APPROACH AS AN ALTERNATIVE FOR PRODUCT DEVELOPMENT) Winta Adhitia Guspara
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 2, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.604 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v2i2.1865

Abstract

Dunia desain telah tumbuh serta berkembang pesat hingga hari ini, dan masih banyak hal untuk dibahas pada wilayah design research, salah satunya ialah mengenai pemahaman tentang makna dari desain itu sendiri. Munculnya pertanyaan tersebut didasarkan kepada pemahaman yang menterjemahkan desain hanya pada proses styling saja dan tidak memahami bahwa proses desain telah dimulai ketika manusia mulai berpikir untuk mengatasi keterbatasan serta memenuhi kebutuhan. Persoalan pemahaman desain tersebut dijawab melalui proses desain yang menggunakan pendekatan material sehingga didapatkan bahwa aktivitas desain telah melibatkan pemikiran semenjak dari awal hingga pada perwujudannya. Pada proses desain berbasis pendekatan material, menemukan dan memunculkan bakat material pada sebuah produk merupakan unsur utama yang harus diusahakan. Kondisi tersebut sama halnya dengan menemukan DNA dan identitas dari sebuah produk yang dihasilkan sehingga dapat memunculkan aspek kegunaan (utilitarian) dan aspek estetik (dekoratif). Metode yang digunakan dalam menjawab persoalan tersebut berupa penelitian kualitatif menggunakan perspektif emic dan penelitian desain berbasis material, sehingga melalui metode tersebut didapatkan pemahaman desain yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan istilah rekayasa. Melalui pemahaman demikian, desain lebih mudah dipahami karena sangat dekat dengan realita keseharian dan lebih mudah untuk diajarkan, bahkan dapat menterjemahkan pengertian mengenai brand identity dari produk secara lebih lugas. Today, the world of design has been grown and developed, even though there are many questions still leaves need to discuss. One of the most fundamental questions in design research is an understanding of the meaning of design itself. The emergence of such question, in particular, what is design, based on an understanding that many students or people translete design into the styling process only, and did not understand that design process has begun when people start to think to overcome limitations and meet the needs. The problem of understanding design has been answered through a design process which based on material approach, so it is found that the design activity has involved thinking from the beginning until embodiment. In the design process which based on material approach, discovering and adressed a material property into a product is the most important thing has to be sought. The conditions is the same thing to find DNA and the identity of a product, so that it can bring up the purposes (utilitarian), and aesthetic (decorative) aspects. The methods used for answering a problem are qualitative research with emic persepective and material-based design research, so that through those methods, there is a better understanding of meaning for design by Indonesian people and has been known as rekayasa. Through this paradigmshift, design is more easily to understand and taught as well, as it is very close to reality.
WARNA SEBAGAI LOOK DAN MOOD PADA VIDEOGRAFI FILM TELEVISI “PANCER” Mandella Majid Pracihara
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.441 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.1585

Abstract

Manfaat warna dalam film mampu menciptakan look (nuansa) dan mood (suasana) serta memberikan bentuk tontonan baru terhadap masyarakat. Pancer dalam bahasa Jawa mempunyai arti jiwa, yang mana jiwa adalah unsur kelima pembentuk manusia. Dalam filosofi Jawa manusia terlahir dari 5 unsur yaitu "Kakang Kawah, Adhi Ari-Ari, Getih, Puser, Kang Limo Pancer". Pancer yang menjadi unsur terakhir inilah yang kemudian mampu menjadi jiwa dan terlahir sebagai manusia. Karya ini menitikberatkan pada teknis warnanya yang tidak konvensional untuk memunculkan pesan utama pada setiap proses hidup yang dialami manusia yaitu ingatan, perasaan, pikiran, dan kesadaran yang terjadi sepanjang hidup manusia Jawa. Film ini mencoba menjadi alternatif baru sebagai tontonan yang mengutamakan warna dan unsur visual sebagai pembawa pesan pada setiap adegannya.Warna yang digunakan dalam film merupakan warna dengan makna tertentu yang mampu menjelaskan filosofi Pancer. Warna tersebut mengambil dari struktur pohon kelapa gading yaitu : merah, kuning, putih, dan hitam. Kelapa gading dalam Jawa mempunyai filosofi semua bagian dari pohon kelapa mempunyai manfaat bagi kehidupan. Dalam teknis videografi warna dapat diciptakan melalui pencahayaan, artistik, properti dan kostum (tata busana). Color in the film is able to create the look and mood as well as giving a new shape to the public spectacle. Pancer in the Java language has meaning soul, which is the fifth element forming the soul of human. In Javanese philosophy humans are born of five elements, namely "Kakang Kawah, Adhi Ari-Ari, Getih, Puser, Kang Limo Pancer". Pancer who became the last element is then capable of being a soul and a human. This work focuses on the technical unconventional color to bring up the main message at every process of life that people experience are memories, feelings, thoughts, and consciousness that occurs throughout the life of Java man. This film tries to be a new alternative as a spectacle in which the color and visual elements as a messenger in every scene. Color used in the film is a color with a specific meaning that is able to explain the philosophy Pancer. The color take from the tree structure that ivory palm; red, yellow, white, and black. Kelapa Gading in Java has a philosophy all parts of the coconut tree has benefits for life. In technical videography colors can be created through lighting, artistic, props and costumes (fashion).
RETRACTED ARTICLE: Kreasi Bentuk Bulu Merak sebagai Motif dalam Fashion (Peacock Feather Shape Creations as a Motive in Fashion) Delfita Yeni
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.128 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3224

Abstract

Artikel ini telah ditarik kembali oleh penerbit berdasarkan temuan kesamaan publikasi (publikasi ganda) pada jurnal SULUH: Jurnal Seni, Desain, Budaya,  Volume 1 Nomor 2 (2018)  (https://ejournal.unisnu.ac.id/JSULUH/article/view/910) dan pengakuan penulis bahwa penulis melakukan pelanggaran etika terhadap publikasi. Artikel ini telah mengikuti prosedur yang berlaku pada manajemen jurnal INVENSI, yaitu Penulis telah menerima hasil ulasan dan telah memperbaiki artikel sesuai dengan hasil ulasan. Namun, salah satu syarat penyerahan naskah artikel untuk publikasi dalam jurnal ini adalah bahwa penulis menyatakan secara eksplisit bahwa karya mereka asli dan belum muncul dalam publikasi di tempat lain, dan juga sedang tidak dipertimbangkan oleh jurnal lain telah dilanggar oleh Penulis. Karena itu, artikel ini menunjukkan penyalahgunaan parah terhadap sistem penerbitan ilmiah.
Bunga Anggrek Hitam sebagai Ide Penciptaan Karya Batik pada Kain Tenun Ulap Doyo (Black Orchid Flower as an Idea for the Creation of Batik in Doyo Ulap Woven Fabrics) Irma Indah Sari
INVENSI Vol 4, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.394 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i2.3220

Abstract

AbstrakKekaguman penulis akan bunga anggrek hitam menggugah keinginan penulis untuk melestarikan tanaman alam Kalimantan ini, dengan cara membuat suatu karya seni dengan konsep batik yang mengangkat tema bunga anggrek hitam. Dengan pembuatan karya ini penulis berharap agar masyarakat memiliki kepedulian dan kesadaran terhadap bunga anggrek hitam dan alam habitatnya. Karya batik ini akan dituangkan di atas tenun Ulap Doyo yang berasal dari serat daun doyo khas Kalimantan Timur. Dalam pembuatan karya seni ini, metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan estetika dan pendekatan empiris, sedangkan metode penciptaan yang digunakan ialah metode penciptaan S.P. Gustami, yakni eksplorasi, perancangan, perwujudan. Karya batik tulis ini menggunakan teknik batik tradisional dengan menggunakan proses canting, teknik pewarnaan sintesis celup tutup, colet dan proses lorodan. Karya ini merupakan karya batik yang dipadukan dengan tenun ulap doyo. Karya yang dihasilkan berupa karya panel yang berfungsi sebagai hiasan interior, dirasakan sangat fleksibel karena bisa untuk hiasan interior di mana saja, selain mudah diapresiasi dan menyampaikan pesan juga dapat mendorong inspirasi ekonomi kreatif kearifan lokal masyarakat setempat.AbstractThe admiration of the authors of black orchid flowers aroused the writer's request to preserve this natural Kalimantan plant, by making artworks with the concept of batik that raised the theme of black orchid flowers. By making this work the author hopes that the community has concern and awareness of the black orchid flower and its natural habitat. This batik work will be poured on the woven Ulap Doyo which comes from doyo leaf fibers typical of East Kalimantan. Making a senior work, the method used is discussing aesthetics and asking for empirical, while the method used is the method that uses S.P. Gustami, namely exploration, design, embodiment. This written batik works using traditional batik techniques using the canting process, the dye synthesis technique, the colet, and the lorodan process. This work is batik work combined with doyo weaving. The work produced by the panel made of interior decoration is accepted to be very flexible because it can only be interior decoration, besides being easily appreciated and conveyed the message can also encourage creative economic inspiration of local wisdom of the local community.

Page 6 of 15 | Total Record : 143