cover
Contact Name
netty herawati
Contact Email
nettyherawati76@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
nettyherawati76@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Distilasi
ISSN : 25287397     EISSN : 26144042     DOI : -
Jurnal Distilasi merupakan berkala ilmiah yang dikelola oleh Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang yang mempublikasikan makalah-makalah ilmiah berupa hasil penelitian, studi kepustakaan, gagasan, teori dan kajian kritis di bidang ilmu Teknik Kimia. Jurnal Distilasi diterbitkan 2 (dua) kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI DAN KONSENTRASI HCl PADA PROSES EKSTRAKSI SELULOSA DALAM AMPAS TEH Fernianti, Dewi; Jayanti, Yeyen
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v1i1.906

Abstract

Selulosa merupakan bahan dasar penyusun tumbuhan yang merupakan metabolit primer. Sedangkan selulosa dapat dengan mudah diperoleh melalui ekstraksi dari bahan dasar tumbuhan. Dalam ampas teh mengandung selulosa yang cukup tinggi yakni 43,87 % . Melihat masih tingginya kadar selulose dalam ampas teh tersebut maka pada penelitian ini akan dilakukan ekstraksi selulosa dari ampas  teh menggunakan HCL. Metode yang dilakukan yaitu dengan cara mengekstrak ampas teh menggunakan HCl. Variabel yang dipelajari adalah variasi kosentrasi 3%, 5%, 7%, 9% dan 11% dengan variasi waktu mulai dari 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam. Dari hasil penelitian diperoleh hasil selulose yang baik yaitu pada waktu ekstraksi 12 jam dan konsentrasi HCl 1 %  dengan kadar air 0,2 % dan Kadar abu 0,02 %, sedangkan kadar selulosa yang dihasilkan  yang tinggi, yaitu untuk konsentrasi HCL 7% dari hasil SEM diperoleh konsentrasi  Oksigen (O) 72,8 % dan Karbon (C) 20,5 %, untuk konsentrasi HCL 5% diperoleh konsentrasi Oksigen (O) 71,2% dan Karbon (C) 21,0% dan untuk konsentrasi HCL 9% diperoleh konsentrasi Oksigen (O) 74,5 % dan Karbon (C) 20,0 %.
PEMBUATAN BIOGASOLINE DARI AMPAS TEBU Herawati, Netty; Melani, Ani
Jurnal Distilasi Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i1.1874

Abstract

Biomassa merupakan jenis sumber energi terbarukan yang diperoleh dari materi alami. Energi biomassa adalah jenis bahan bakar yang dibuat dengan mengkonversi bahan biologis seperti tanaman. Umumnya biomassa merujuk pada materi tumbuhan yang dipelihara untuk digunakan sebagai biofuel, tapi dapat juga mencakup materi tumbuhan atau hewan yang digunakan untuk produksi serat, bahan kimia, atau panas. Penggunaan biomassa sebagai bahan bakar yaitu dengan memanfaatkan kandungan lignoselulosa yang berasal dari tanaman dengan komponen utama lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Ampas tebu (bagasse) adalah limbah padat industri gula tebu yang mengandung serat selulosa, Sehingga dilakukan analisa terhadap pemanfaatan Ampas tebu sebagai bahan baku pembuatan biogasoline. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur dan waktu reaksi serta konsentrasi pelarut terhadap yield yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan variasi temperatur 100oC, 140oC dan 180oC, variasi waktu reaksi 60 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit dan 180 menit serta konsentrasi pelarut 10%, 20% dan 30%. Untuk temperatur 180oC dengan waktu reaksi 180 menit pada konsentrasi 20% didapatkan yield sebesar 65,85 %.
PEMANFAATAN UBI KAYU (Manihot Esculenta Crantz) MENJADI BIOETANOL DENGAN MENKAJI PENGARUH TEMPERATUR, BERAT RAGI DAN LAMA FERMENTASI Juniar, Heni
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v1i1.900

Abstract

Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa) dan diproses secara biologi yaitu dengan enzimatik dan fermentasi. Kadar bioetanol yang dihasilkan akan semakin tinggi sampai waktu fermentasi maksimum (3 hari) karena pada  hari ketiga khamir berada fase pertumbuhan logaritma, dimana khamir mengalami kecepatan pembelahan tertinggi, dan setelah waktu maksimum kadar bioetanol yang dihasilkan menurun. Kadar bioetanol maksimum yang dihasilkan pada hari ke tiga yaitu sebesar 12,15 %. Semakin tinggi suhu fermentasi, maka kadar bioetanol yang dihasilkan akan semakin menurun. Kadar bioetanol tertinggi dihasilkan pada suhu 20 0C sebesar 12, 15 % dan terendah pada suhu 30 0C sebesar 0,40 %. Semakin besar berat ragi yang digunakan, maka akan semakin tinggi kadar bioetanol yang dihasilkan. Kadar bioetanol terbesar dihasilkan pada berat ragi 10 gram sebesar 12,15 %. Pada penelitian ini didapatkan kadar bioetanol tertinggi pada variabel suhu fermentasi 20 0C, waktu fermentasi 3 hari dan konsentrasi ragi sebanyak 10 gram
PENGARUH KONFIGURASI ELEKTRODA DAN KINETIKA PROSES ELEKTROKOAGULASI METHYLEN BLUE Ariyanto, Eko
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v1i1.902

Abstract

Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh methylen blue dapat menggangu kesehatan lingkungan. Proses pengolahan limbah methylen blue diteliti dengan menggunakan proses elektrokoagulasi. Proses elektrokoagulasi menggunakan reaktor batch dengan volume 1 liter dengan voltase 12 volt dan 5 A dan jarak antar plat adalah 2 cm. Elektroda yang digunakan adalah besi dan alumunium dengan konfigurasi Fe-Fe (katoda) Al-Al (anoda), Fe (katoda) Al-Al-Al (anoda), Fe-Fe-Fe (katoda) Al (anoda), Al-Al (katoda) Al-Al (anoda), dan Fe-Fe (katoda) Fe-Fe (anoda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi Fe Al-Al-Al menhasilkan laju penurunan konsentrasi methylen blue lebih tinggi dibandingkan dengan susunan konfigurasi elektroda yang lain. Kinetika elektrokoagulasi menunjukkan bahwa laju penurunan konsentrasi methylen blue berlangsung pada orde 2
EFEKTIVITAS ALAT PENGERING SEBAGAI PENGGANTI SINAR MATAHARI PADA PENGERINGAN KEMPLANG IKAN Lukman, Rifdah; Kalsum, Ummi
Jurnal Distilasi Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i1.1875

Abstract

Kerupuk kemplang adalah makanan khas tradisional Kota Palembang. Ciri khas makanan ini terletak pada cita rasa ikan yang menonjol. Penggunaan ikan akan berpengaruh terhadap kekhasan rasa dan harga dari makanan ini. Kerupuk kemplang merupakan salah satu produk industri kecil yang cukup populer di masyarakat. Agar kerupuk kemplang dapat bertahan lama dan memilki rasa renyah setelah digoreng, perlu dilakukan pengurangan kandungan kebasahan (humidity) pada kerupuk kemplang ikan. Untuk melakukan hal ini, salah satunya dengan proses pengeringan.Proses pengeringan ini tergantung pada sinar matahari, bila musim hujan, proses pengeringan pempek dengan sinar matahari akan terhenti, sehingga kerupuk kemplang menjadi rusak karena dihinggapi mikroorganisme. Akibatnya kerupuk kemplang menjadi berubah menjadi warna kuning, ditumbuhi jamur dan busuk sehingga tidak layak dikonsumsi. Sebagai gantinya, maka proses pengeringan kerupuk kemplang dapat menggunakan alat pengering kerupuk kemplang dengan media pengering udara.. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa kandungan kebasahan berkurang, dan waktu pengeringan relatif lebih singkat. Dalam penelitian ini didapat untuk 120 menit pengeringan dengan temperature pengeringan rata-rata 51oC dan kecepatan udara 2500 m/jam, kandungan kebasahan pada kerupuk kemplang adalah 0.3970 gr/gr zat padat kering dari kebasahan awal 0.6043 gr/gr zat padat kering. Laju dan waktupengeringan konstan adalah0.0648 lb/ft2-jam , 1.5 jam. Pada uji organoleptik kerupuk kemplang ikan setelah dikeringkan yang meliputi aroma, rasa, warna dan teksturnya dan uji kadar protein hasilnya adalah baik.Kata kunci : kemplang ikan, pengering udara, humidity
PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI CAMPURAN LIMBAH TONGKOL JAGUNG, KULIT DURIAN DAN SERBUK GERGAJI MENGGUNAKAN PEREKAT TAPIOKA Kalsum, Ummi
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v1i1.903

Abstract

Serbuk gergaji kayu, tongkol jagung, dan kulit durian merupakan sampah biomassa. Namun sampah-sampah tersebut dapat pula dijadikan salah satu sumber bahan bakar alternatif, yaitu dengan cara dibuat menjadi briket dengan campuran perekat tapioka. Penelitian ini dilakukan untuk membuat briket campuran serbuk gergaji kayu, tongkol jagung, dan kulit durian yang memliki nilai kalor yang dapat memenuhi standar SNI briket. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah nilai kalor briket yang dihasilkan dapat memenuhi standar SNI briket. Hasil penelitian menunjukan bahwa campuran briket dari 50% serbuk gergaji kayu, 10% tongkol jagung, 40% kulit durian mendapatkan nilai kalor yang tertinggi sebesar 5745,60 cal/gr pada suhu karbonisasi 500 oC
PEMBUATAN BRIKET ARANG DARI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT Karim, Muhammad Arief
Jurnal Distilasi Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i1.1876

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit merupakan salah satu limbah yang dihasilkan oleh kelapa sawit, limbah ini dapat diperoleh dalam jumlah yang banyak dan dihasilkan secara kontinyu. Alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit yang paling sederhana adalah dengan menjadikannya briket arang sebagai sumber energi terbaharukan. Keunggulan dari briket arang ini adalah panas dari nyala briket relatif tinggi, nyala briket lebih bersih (tidak berjelaga), lebih hemat, bebas bahan kimia dan tidak bau Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit untuk pembuatan briket arang dengan menggunakan starch ubi kayu sebagai bahan pengikat. Dari penelitian yang dilakukan didapat nilai kalor briket arang Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang tertinggi sebesar 3988 cal/g diperoleh dari ratio perbandingan 6:1 antara arang dan zat pengikat starch ubi kayu, dengan waktu pengeringan selama 3,5 jam. Untuk uji pembakaran, ukuran briket dengan diameter 7 cm menunjukkan waktu pembakaran terlama selama 1,5 jam.Kata kunci : tandan kosong kelapa sawit, briket arang, energi terbarukan
PENGEMBANGAN PROSES OKSIDASI TINGKAT LANJUT MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO2 DENGAN PENAMBAHAN H2O2 UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERTAMBANGAN BATUBARA Marhaini, Marhaini; Wibowo, Hendra Satria
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v1i1.904

Abstract

Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh methylen blue dapat menggangu kesehatan lingkungan. Proses pengolahan limbah methylen blue diteliti dengan menggunakan proses elektrokoagulasi. Proses elektrokoagulasi menggunakan reaktor batch dengan volume 1 liter dengan voltase 12 volt dan 5 A dan jarak antar plat adalah 2 cm. Elektroda yang digunakan adalah besi dan alumunium dengan konfigurasi Fe-Fe (katoda) Al-Al (anoda), Fe (katoda) Al-Al-Al (anoda), Fe-Fe-Fe (katoda) Al (anoda), Al-Al (katoda) Al-Al (anoda), dan Fe-Fe (katoda) Fe-Fe (anoda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi Fe Al-Al-Al menhasilkan laju penurunan konsentrasi methylen blue lebih tinggi dibandingkan dengan susunan konfigurasi elektroda yang lain. Kinetika elektrokoagulasi menunjukkan bahwa laju penurunan konsentrasi methylen blue berlangsung pada orde 2
EFFECT OF BREAD YEAST (SACCHAROMYCES CEREVISEAE) CONCENTRATION AND FERMENTATION TIME IN THE MANUFACTURE OF BIOETHANOL USING BANANA PEEL Febriana, Ida
Jurnal Distilasi Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i1.1869

Abstract

Energy needs that are developing at this time are not comparable with the increasing availability of fuel that is running low. Therefore, a study is needed to obtain alternative sources of renewable energy by utilizing biomass waste such as banana peels and so on. In this study, the raw material used was banana peel waste in the industrial area processing bananas that had been taken, and the skin was left to rot and become organic fertilizer. The purpose of this research is to determine whether there is influence of banana skin type to bioethanol content, influence of yeast concentration and fermentation time in bietanol manufacture using banana peel. Based on the research results can be seen that the hights % alcohol content is found in banana peel batu (musa balbisiana)samples with the addition of yeast weight ± 0.0720 gr of 13.6451% then banana peel kepok (musa paradisiaca L) and banana peel raja (musa sapientum) with each % alcohol content of 13.5353% and 12.9953%
PENGARUH WAKTU DAN RATIO VOLUME EKSTAK AIR BELIMBING WULUH : AIR PADA PROSES EKSTRAKSI SELULOSA DALAM SELUDANG PISANG Fernianti, Dewi; prihatmoko, Atikah
Jurnal Distilasi Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v3i1.1877

Abstract

Kelopak jantung pisang (seludang jantung pisang) berwarna merah tua yang bila diamati dengan kasat mata tersusun secara spiral, berlapis lilin, dan berserat. Serat merupakan senyawa yang membentuk selulosa. Selulosa adalah senyawa organik penyusun utama dinding sel tumbuhan. Selulosa merupakan bahan dasar penyusun tumbuhan yang merupakan metabolit primer yang dapat dengan mudah diperoleh melalui ekstraksi dari bahan dasar tumbuhan. Asam organik bisa didapat dari buah-buah yang memiliki rasa asam seperti belimbing wuluh. Penelitian dilakukandengan mencuci seludang jantung pisang dengan air hingga bersih, lalu dikeringkan selama kurang lebih 3 hari dibawah sinar matahari dan disimpan pada suhu ruangan. Kemudian serat di bleaching dengan larutan sodium chlorite (NaClO2) selama 3 jam pada 80oC di waterbath lalu disaring dan dicuci dengan air destilat. Untuk menghilangkan kadar hemiselulosa maka sebanyak 5 gram seludang jantung pisang diekstrak menggunakan air belimbing wuluh pada temperatur 60oC dengan variabel waktu 1, 2, 3, 4, 5 dan variasi air ekstrak belimbing wuluh dengan air 60:40, 70:30, 80:20, 90:10 dan 100:0. Selanjutnya sampel disaring dan dicuci dengan air destilasi. Untuk mendapatkan hasil maksimal maka serat selulosa yang telah diperoleh direndam kembali dalam ekstrak air belimbing wuluh selama 5 jam, kemudian dilakukan penyaringan dan dicuci dengan air distilat hingga terbebas dari asam. Dari penelitian dihasilkan kadar ?-selulosa dari seludang jantung pisang yang didapatkan cukup besar yaitu 67,12% pada kondisi waktu pemasakan 3 jam dan ratio air ekstrak belimbing wuluh dengan air yaitu 70 : 30, dengan rendemen 73,00%, kadar air 8% dan kadar abu 5%.Kata kunci : selulosa, belimbing wuluh, ekstraksi