cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
historis.ummat@gmail.com
Editorial Address
http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah
ISSN : 26224763     EISSN : 26141167     DOI : https://doi.org/10.31764/historis
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
PERANG INGGRIS-JERMAN (KAJIAN GEOPOLITIK PADA TAHUN 1940-1942) Dedy Julkarnain
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 4, No 1 (2019): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.425 KB) | DOI: 10.31764/historis.v4i1.1391

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ssejarah tentang kekalahan yang tidak terduga yang dialami oleh Jerman pada perang Inggris-Jerman 1940-1942 tidak hanya keunggulan militer yang dimiliki oleh Inggris, tetapi keunggulan Geopolitik (geografis dan politik) yang dimiliki Inggris yang mampu menggagalkan invasi Jerman ke Inggris merupakan suatu hal yang menarik. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Inggris memanfaatkan letak geografisnya dalam memenangkan perang dan bagaimana keadaan politik kaitannya dengan perang 1940-1942. Skripsi ini menelusuri jalannya perang atau konflik Inggris-Jerman dengan menggunakan teori konflik Charles Darwin. Jenis penelitian ini kualitatif deskriptif dengan pendekatan Hitoris dan menggunakan metode sejarah yang lazim digunakan untuk membuat rekrontuksi masa lampau secara sistematis dan objektif untuk memverifikasi bukti dan menegakkan fakta. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, penarikan atau verifikasi kesimpulan yang menghasilkan atau menyimpulkan menjadi Negara yang berkepulauan maka Inggris memanfaatkan sebaik mungkin akan letak geografisnya, keadaan alam ataupun sebagainya dengan cara memperkuat angkatan lautnya, serta memanfaatkan sebaik mungkin akan adanya cuaca buruk pada Oktober dan Desember serta di tunjang oleh system radarnya. Maka untuk melindungi tanah jajahnya dan mempertahankan dominasi politiknya di Eropa Inggris pula melakukan politik pertimbangan agar kekuatan daratnya tidak tertandingi oleh Negara Eropa lain,terutama Jerman serta membangun Politik persemakmuran Bangsa-bangsa. Selain itu pula AS mulai menjalankan politik Containment. Abstract: The study aims to determine the history of the unexpected defeat suffered by the Germans during the English-German war 1940-1942 not only the British-owned military excellence, but the geopolitical superiority (geographical and That the British-owned, capable of thwarting the German invasion of England is an interesting thing. Therefore, the research aims to determine how the British capitalize its geographical location in winning the war and how the political situation relates to the 1940-1942 war. This thesis traces the course of the English-German war or conflict using Charles Darwin's conflict theory. This type of research is qualitative descriptive with the Hitoris approach and uses a historical method that is commonly used to make past rechrontuctions systematically and objectively to verify evidence and enforce facts. Data analysis through data reduction, data presentation, withdrawal or verification of conclusions that generate or conclude into an archipelago of countries then the UK utilizing the best possible geographical location, nature or so on By strengthening its navy, as well as making good use of inclement weather in October and December and supported by its system of rades. Thus, to protect the soil and maintain its political dominance in British Europe also conducted political considerations in order to power his powers unmatched by other European countries, especially Germany and build the political Commonwealth The nations. In addition, the U.S. began to run political Containment.
PENERAPAN METODE INKUIRI MELALUI PENGAMATAN SITUS SEJARAH DI KOTA BIMA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MENUMBUHKEMBANGKAN KECINTAAN PADA BANGUNAN BERSEJARAH Ilmiawan Mubin
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.3 KB) | DOI: 10.31764/historis.v2i2.191

Abstract

Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran sejarah  pada siswa kelas XI IPS 1 MAN 2 kota dengan menggunakan metode Inkuiri dapat menumbuhkan kecintaan pada bangunan bersejarah. Metode penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas, subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 MAN 2 Kota Bima, sedangkan obyeknya hasil pengamatan kegiatan proses belajar mengajar melalui tahapan  Planning, Acting, Observing dan Reflecting. Masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Masih rendahnya hasil belajar siswa, dikarenakan oleh pembelajaran yang kurang melibatkan siswa. Setelah dilakukan tindakan dan berdasarkan nilai post test hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. siklus I persentase ketuntasan 77,14% dengan nilai rata-rata 75,02,  siklus II persentase ketuntasan 85,71% dengan nilai rata-rata 79 sedangkan Siklus III persentase ketuntasan 100% dengan nilai rata-rata 82,85. Nilai sikap dari data angket setiap siklus mengalami peningkatan dari siklus I pencapaian ketuntasan 77,14%  nilai rata-rata 80,54, siklus II pencapaian ketuntasan 88,57% nilai rata-rata 82,71 sedangkan pada siklus III pencapaian ketuntasan 100% nilai rata-rata 84,57. This study aims to find out how the process of learning history in students class XI IPS 1 MAN 2 cities using Inkuiri method can foster a love of historic buildings. The research method is Classroom Action Research, the research subjects are the students of class XI IPS 1 MAN 2 Kota Bima, while the object is the observation of teaching and learning activities through Planning, Acting, Observing and Reflecting. Each cycle consists of two meetings. Still low student learning outcomes, due to the less learning involving students. After the action and based on the value of post test student learning outcomes have increased in each cycle. cycle I 77.14% percentage of completeness with an average value of 75.02, cycle II percentage of 85,71% completeness with an average value of 79 while Cycle III percentage of 100% completeness with an average value of 82.85. Attitude value of the questionnaire data each cycle has increased from the cycle I achievement mastery 77.14% average value 80.54, cycle II achievement 88.57% average value of 82.71 while in cycle III achievement 100% average 84.57.
ANALISIS DAN ADAPTASI MASYARAKAT MAYORITAS BUDHA DI DUSUN LENEK BENTEK Sipa Sasmanda; Bunyamin Bunyamin; Sri Wahyunanik
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2018): JUNI
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.954 KB) | DOI: 10.31764/historis.v3i1.1380

Abstract

Abstrak: Indonesia adalah satu Negara yang memiliki beranekaragam etnis dan agama. Keanekaragamaan ini menjadi salah satu kekayaan kehidupan berbudaya dan relegi banyaknya etis dan agama tersebut tidak terlepas dari sejarah kebudayaan Indonesia pada masa lalu. Kedatangan agama budha bersamaan dengan agama hindu, Kedatangannya disambut baik oleh warga Negara Indonesia disebabkan karna agama hindu dan budha tidak datang disertai dengan pemberontakan melainkan dengan berdagang diantarany benang wol an sutra. Banyak dari mereka yang menetap di Indonesia kemudian menikahi masyarakat pribumi, kesempatan ini tidak disia-siakan, melainkan mereka berlomba-lomba untuk menyebarkan agama di Indonesia. Dalam penelitian ini akan meneliti berbagai hal tentang. 1) Bagaimanakah masyarakat agama budha didusun lenek desa bentek  , bersosialisasi dan beradaptasi dengan masyarakat agama non budha disekitarnya 2). Bagaimanakah cara masyarakat menyikapi perbedaan  pendapat dalam menyelesaikan masalah antaraa masyarakat kususnya didusun bertetangga 3). Mengapa masyarakat yang beragama budha kususnya didusun lenek desa bentek   hidup berkelompok tidak berbaur dengan agama. Dalam penelitian tentang sosialisasi dan adaptasi masyarakat minoritas sebagai interaksi social masyarakat desa lenek dusun lenek   ini peneliti menggunakan metode fenomenologi pendekatan kualitatif deskritip.Abstract: Indonesia is a country that has a diverse ethnic and religious. This Keanekaragamaan is one of the wealth of cultural life and the ethical and religious strategy is not separated from the history of Indonesian culture in the past. The arrival of Buddhism along with Hinduism, his return was welcomed by the Indonesian citizen because of the Hinduism and Buddhism does not come accompanied by rebellion but by trading on the thread of wool and silk. Many of those who settled in Indonesia then married indigenous peoples, this opportunity is not wasted, but they are competing to spread religion in Indonesia. In this study will examine various things about. 1) How Buddhist society is the village of Bentek villages in the Ganges district of North Lombok, socializing and adapting to the non-Buddhist religious community around 2). How the community is involved in addressing disagreements in solving the problem between the people who have a neighbor's the neighboring 3). Why is the Buddhist Society of the religion of the village of Bentek Fortress in the district Ganges North Lombok living groups do not mingle with religion. In the research on socialization and adaptation of minority communities as social interaction of villagers Lenek Village Lenek District Ganges District North Lombok researchers use the method phenomenological qualitative approach Deskritip.
MAKNA SIMBOL ATAU MOTIF KAIN TENUN KHAS MASYARAKAT DAERAH BIMA DI KELURAHAN RABA DOMPU KOTA BIMA PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT. Ilmiawan Mubin
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 1, No 1 (2016): Desember
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.678 KB) | DOI: 10.31764/historis.v1i1.205

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari ribuan pulau yang membentang mulai Sabang hingga Merauke. Sebagai negara yang beribu-ribu pulau tentu memiliki potensi dan kekayaan alam untuk dikembangkan. Kita tahu berbagai potensi dan kekayaan alam banyak dijumpai diseluruh daerah di tanah air. Salah satu potensi dan kekayaan Nusantara terdapat di propinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Kota Bima yang memiliki sejarah dan leluhur yang mempunyai nilai eksotis untuk dapat dikembangkan, salah satunya yaitu Tenun Khas Bima.Budaya masyarakat Bima pada umumnya menjunjung tinggi adat istiadat dan tradisi serta modernisme di aktivitas formal, misalnya dalam acara hari ulang tahun lahirnya Kota Bima, dan acara lain yang bernuansa kelokalan. Atas dasar realita tersebut, keberadaan tenun daerah Bima di dalam acara tersebut sangatlah berperan sebagai pakaian formal kedaerahan dalam upacara adat dan tradisi Kota Bima.Keahlian membuat kain tenun khas Bima serta bentuk-bentuk motif dan makna nilai simbol yang merupakan warisan turun temurun yang hanya dimiliki oleh masyarakat daerah Bima, umumnya sebagai anak bangsa Indonesia, maka wajib mempertahankan keberadaan budaya tersebut serta ditumbuh kembangkan.  Indonesia as an archipelago, consisting of thousands of islands stretching from Sabang to Merauke. As a country with thousands of islands of course has the potential and natural wealth to be developed. We know the various potentials and natural wealth are found throughout many regions in the country. One of the potentials and riches of the archipelago is found in the province of West Nusa Tenggara, precisely in the city of Bima which has a history and ancestors that have exotic value to be developed, one of which is Typical Woven Bima.Budaya community culture generally uphold the customs and traditions and modernism in formal activities, for example in the birthday event of the birth of Kota Bima, and other events that have nuances of localization. On the basis of the reality, the existence of weaving Bima area in the event is very role as a regional formal clothing in traditional ceremonies and traditions of Bima City. Expertise to make woven cloth Bima typical and forms of motifs and symbols of meaning that is a hereditary heritage that is owned only by the Bima local community, generally as a child of the nation of Indonesia, it is mandatory to maintain the existence of the culture and grown to develop.
INTEGRASI ILMU SEJARAH DAN AGAMA: IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN Sharfina Nur Amalina
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2020): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.536 KB) | DOI: 10.31764/historis.v5i1.2325

Abstract

Abstrak: Kitab suci Al-Qur’an menghormati kedudukan ilmu pengetahuan lebih dari kitab-kitab suci lainnya termasuk ilmu sejarah yang banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai penguat mempelajari sejarah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep ilmu sejarah dan integrasi keislaman.  Metode dalam penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka, penelitian pustakan dilakukan dengan mengumpulkan data maupun informasi dengan menggunakan bantuan dari bermacam-macam sumber referensi. Hasil penelitian Integrasi Ilmu sejarah dan Islam dalam artikel ini adalah : 1) menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pembelajaran sejarah, 2) menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ilmu sejarah serta pentingnya belajar sejarah, 3) pembelajaran sejarah dan integrasi Islam. Konsep integrasi ilmu sejarah dan islam adalah dengan menjadikan Ilmu Agama sebagai sumber penguat pembelajaran sejarah.Abstract: The Holy Qur'an respects the position of more science than other sacred books including the historical sciences which are widely mentioned in the Qur'an. Qur'an that can be used as an amplifier to learn history. This article aims to examine the concept of historical sciences and Islamic integration.  The method in this research is a type of library research, pustulates research conducted by collecting data and information using the help of various reference sources. The research results of the integration of historical and Islamic sciences in this article are: 1) making the Qur'an as a source of historical learning, 2) tracing the verses of the Qur'an describing the historical sciences and the importance of learning history, 3) historical learning and the integration of Islam. The concept of integration of historical and Islamic Sciences is to make the science of religion as a source of history learning reinforcement.
ASMILASI BUDAYA MASYARAKAT TRASMIGRASI DENGAN MASYARAKAT LOKAL DI DESA CALABAI KECEMATAN PEKAT KABUPATEN DOMPU Nurhaini Nurhaini; Dian Eka Mayasari; Uswatun Hasanah
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.446 KB) | DOI: 10.31764/historis.v4i2.1399

Abstract

Abstrak: Tujuan Penelitian dalam penelitian yaitu untuk mengetahui asmilasi budaya masyarakat tarsmigrasi  dengan masyarakat lokal di Desa Calabai  Kecematan Pekat Kabupaten Dompu dan untuk mengetahui pola  komunikasi masyarakat trasmgrasi dengan masyarakat lokal di Desa Calabai  Kecematan Pekat Kabupaten Dompu. Metode yang digunakan  dalam penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekata etnorafi. Jenis data yang dipergunakan adalah data kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini sumber data primer dan sumber data skunder tentang asmilasi masyarakat trasmigrasi dengan masyarakat lokal di Desa Calabai  Kecematan Pekat Kabupaten Dompu. Hasil penelitian diperoleh, asmilasi budaya masyarakat transmigrasi  dengan masyarakat lokal di Desa Calabai  Kecematan Pekat Kabupaten Dompu meliputi adat istiadat, kesenian  dan kepercayaan/agama . Perilaku asmilasi antara masyarakat lokal dan pendatang dapat berjalan dengan baik karena  dalam menghubungkan antara pribadi kedua masyarakat terdapat  adanya sifat saling  keterbukaan, saling mendukung  yang mereka jalani. Dari kelima pasangan perkawinan yang malakukan dengan etnis, dapat dilihat bahwa dengan memiliki sikap keterbukaan dukungan dan sikap positif  dalam keluarga, memberikan konstribusi  yang sangat besar dalam menciptakan kenyamanan komunikasi dalam sebuah keluarga, pola komunikasi masyarakat  trasmigrasi dengan masyarakat lokal  di Desa Calabai  Kecematan Pekat Kabupaten Dompu yaitu apabila dilihat secara keseluruhan terdapat adanya hubungan  sosial yang berbeda  pada tinggkat yang baik.  Proses akulturasi ditandai  dengan tiga  proses yang mendasar yang ditinjau dari variable asimilasi yakni proses pertama adalah komunikasi personal (antarpribadi ) proes yang kedua, lingkungan komunikasi, sedangkan proses yang ketiga adalah komunikasi sosial.Abstract: Research objectives  in the study is 1) to know the cultural asmilation  of the transmigration society with local in the village of dense kecematan  Pekat Dompu district. The method usad in the study is a deskciptive study the etnorafi approach. The data types are qualitatif, data sources and skunder on the asmilation local people of village calabi poor kecematan district Dompu. The resulof the study were obtained by 1 cultural asmilation of transmigration communities in the village of calabai dance koncumpu districh covering customs, successes, and beliefs/religion. Assmilation behavior between local people and migrants can work well because in the connecting  between  the two individuals there are customs. Openness, mutual support that  they live of  the five married couples who do with ethnicity can be seen that by having an attitude of openness of support and a positive attitude in they family give contribution  that creates communication  comfort in a family. Theree basic processes, are personal communication (interpersonal) processes; the secondis the communication environment. While the processof acculturation of the asmilation variable, the thirth is social communication.
TRADISI PERANG TEMBUNG SEBAGAI AKULTURASI BUDAYA PADA MASYARAKAT DESA SEREWE KECAMATAN PRAYA TENGAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH Sipa Sasmanda; Anwar Anwar
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.278 KB) | DOI: 10.31764/historis.v2i1.196

Abstract

Perang Tembung  merupakan suatu bentuk kegiatan saling melempar dengan Tembung antara peserta  atau  masyarakat  yang  ada di halaman  makam  serewe  (tempat  yang disucikan atau dikeramatkan oleh masyaraat islam yang ada di Desa Serewe) dengan peserta atau masyarakat yang ada di luar Makam Serewe.  Terdapat   perpaduan   budaya   yang   selanjutnya   disebut akulturasi budaya antara Islam dengan budaya local, sehingga dengan demikian peneliti  mencoba  melihatnya  ke  dalam  ranah  ilmiah  dalam  konteks  kajian silang budaya (cross culture comparation).  Metode penelitian meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi subjek penelitian masyarakat desa serewe yang terlibat dalam prosesi pelaksanaan tradisi Perang Tembung. Hasil temuan   peneliti,   pada   prosesi   Perang   Tembung       terjadi pembauran dan penyatuan yang berbentuk akulturasi pada dimensi-dimensi tertentu keyakinan masyarakat Desa serewe.  Abstract: Tembung War is a form of throwing activities with Tembung between the participants or the community in the grave of serewe (the place that is sanctified or sacred by the Islamic community in Serewe Village) with the participants or the community outside Serewe Tomb. There is a cultural blend hereinafter called cultural acculturation between Islam and local culture, so that the researchers try to see it in the scientific realm in the context of cross cultural comparation. Research methods include observation, interviews and documentation of research subjects of serewe village communities who are involved in the procession of the implementation of the Tembung War tradition. The findings of researchers, on the procession of Tembung War occurred integration and unification in the form of acculturation on certain dimensions of community belief serewe Village.
RUMAH ADAT PELANG SERANG SUKU UMA KAKANG SEBAGAI CAGAR BUDAYA DI DESA DULOLONG KECAMATAN ALOR BARAT LAUT KABUPATEN ALOR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Rosada Rosada; Dian Eka Mayasari; Ardi Itawan Gorang
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 4, No 1 (2019): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.57 KB) | DOI: 10.31764/historis.v4i1.1387

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini Adalah untuk mengetahui upaya-upaya masyarakat dalam mempertahankan dan Faktor-faktor penghambat dalam mengembangkan Rumah Adat Pelang Serang Suku Uma Kakang Sebagai Cagar Budaya di Desa Dulolong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif dengan pendekatan Deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Dulolong dengan informan kunci adalah kepala suku Uma Kakang, kepala desa dan ketua adat dengan tekhnik pengumpulan data melalui observasi, wawancara  dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah dengan pengaruh era globalisasi, kurangnya pengetahuan tentang budaya serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka masyarakat mengalami perubahan dan mulai menyampingkan aturan-aturan atau tata cara pelaksanaan adat istiadat dan pelaksanaan Adat istiadatpun tidak sesuai dengan tata cara pelaksanaan yang sebenarnya. Beberapa upaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah dalam melestarikan eksistensi rumah adat Pelang Serang yaitu tersimpannya  benda-benda bersejarah, diadakan pesta-pesta adat, perbaikan bronjong, mengadakan silaturahim dan juga perbaikan jalan utama menuju rumah adat Pelang Serang.  Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan jawaban atas permasalahan yang ada, 1) faktor penghambat eksistensi rumah adat pelang serang yaitu: a) berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi. b) kurangnya pengetahuan mengenai budaya. c) pengaruh era globalisasi. 2). Upaya melestarikan eksistensi rumah adat pelang serang a)  tersimpannya  benda-benda bersejarah. b) diadakan pesta-pesta adat.Abstract: The purpose of this research is to know the efforts of people in maintaining and inhibiting factors in developing the traditional house of Pelang Serang tribe of Kakang clan as a cultural reserve in Dulolong village. The method used in this research is a qualitative method with a descriptive approach. The data source in this research is the community of Dulolong village with key informant is the tribal head of Uma Kakang, village head and customary chairman with data collection technology through observation, interviews and documentation. The results of this research are with the influence of the era of globalization, lack of knowledge about the culture and the development of science and technology, society changed and began to override the rules or procedures of customs implementation Customs and implementation of ADAT is not in accordance with the actual procedures of implementation. Some of the efforts undertaken by the public and the Government in preserving the existence of the traditional house of Pelang Serang is the preservation of historical objects, held customary parties, improvement of Bronjong, holding grenchester and also improvements Main road to Pelang Serang traditional house.  Based on the results of the study, the authors concluded the answer to the problem, 1) The inhibitory factor of the existence of indigenous houses of Serang, namely: a) the development of science and technology. b) Lack of knowledge about culture. c) The influence of globalization era. 2). Efforts to preserve the existence of traditional home of the attack a) the preservation of historical objects. b) held customary parties.
LABUHAN DELI SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN KESULTANAN DELI ABAD XVIII Abdul Haris Nasution; Bayu Satria
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.358 KB) | DOI: 10.31764/historis.v2i2.187

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai kegiatan di Labuhan Deli sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Deli dan apa penyebab terjadi perpindahan pusat pemerintahan yang dilakukan Kesultanan Deli. Teknik pengumpulan data  penelitian ini melalui study pustaka, wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian proses perpindahan pusat pemerintahan diawali dengan mempersiapkan kawasan baru, secara kewilayahan Labuhan Deli mampu memberikan kontribusi dalam menjalankan pemerintahan baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada. Tuanku Panglima Pasutan yang berinisiatif memindahkan pusat pemerintahan pada tahun 1728, penyebab utama perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Deli adalah faktor ekonomi dan faktor politik, hal tersebut dikarenakan pada saat itu keramaian Selat Malaka mampu memberikan keuntungan jika pusat pemerintahan lebih dekat dengan pesisir pantai dan berperan sebagai pintu gerbang tol transportasi yang melalui jalur sungai Deli sedangkan faktor politiknya untuk mempermudah  mengawasi kasawan taklukan Deli, pembangunan sarana pusat pemerintahan, seperti Istana, Masjid, dan Dermaga. This study aims to find out various activities in Labuhan Deli as the central government of Deli Sultanate and what causes the transfer of government center conducted Deli Sultanate. Technique of collecting data of this research through literature study, interview and observation. From the results of the research process of moving the center of government begins by preparing new areas, in the territory Labuhan Deli able to contribute in running the government be it natural resources and human resources available. Tuanku Panglima Pasutan who took the initiative to move the central government in 1728, the main cause of the transfer of the central government of Deli Sultanate is the factor of economic and political factors, it is because at that time the crowds of the Strait of Malacca can provide benefits if the center of government closer to the coast and acts as a door gate of transportation toll through Deli river while the political factor to facilitate overseeing Deli delinquent kasangan, development of central government facilities, such as the Palace, Mosque, and Dock.
KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KERAJAAN PEKAT PASCA LETUSAN GUNUNG TAMBORA TAHUN 1815 DI KECAMATAN PEKAT KABUPATEN DOMPU Ahmad Afandi; Ilmiawan Mubin; Dedy Julkarnain
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 3, No 1 (2018): JUNI
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.247 KB) | DOI: 10.31764/historis.v3i1.1376

Abstract

Abstrak: Kerajaan Pekat merupakan salah satu dari tiga kerajaan yang tertimbun oleh letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Wilayah bekas kerajaan Pekat sekarang sudah ditempati kembali setelah lama tidak terpakai. Maka dari itu, perlu diteliti apa yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Pekat pada tahun 1815, bagaimana kehidupan sosial ekonomi masyarakat kerajaan Pekat pasca letusan gunung Tambora, serta apa saja yang menjadi peninggalan dari kerajaan Pekat. Penelitian ini bertujuan untuk mendetulisankan dan menjelaskan penyebab runtuhnya kerajaan Pekat pasca letusan gunung Tambora, dan bagaimanakah kehidupan sosial ekonomi dari masyarakat kerajaan Pekat pasca letusan gunung Tambora, serta untuk mengetahui peninggalan-peninggalan dari kerajaan Pekat. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.Lokasi penelitian bertempat di Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu.Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.Teknik analisis data; 1) reduksi data, 2) penyajian dan 3) penarikan kesimpulan. Kesimpulannya yakni, kerajaan Pekat adalah salah kerajaan yang hilang saat kejadian meletusnya gunung Tambora pada tahun 1815, dengan jumlah penduduknya yang paling banyak tertimbun dibandingkan dengan kerajaan Sanggar dan kerjaan Tambora. Pekat sendiri berasal dari kata Papekat yang berarti “burung kakak tua”. Bekas wilayah dari kerajaan Pekat sekarang sudah ditempati setelah lama tidak terpakai pasca letusan Tambora 1815, dan diberi nama dengan nama yang sama dari kerajaan Pekat yaitu Kecamatan Pekat. Kecematan Pekat ditempati oleh berbagai macam suku, dan mata pencaharian mereka pun berbeda-beda. Kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya begitu baik dan maju. Adapun peninggalan yang merupakan bukti nyata akan keberadaan kerajaan Pekat di Pulau Sumbawa yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya yakni; 1) tare/Nampan, 2) peti emas, 3) tempat rempah dan penumbuk sirih, dan 4) tempat rempah-rempah.Abstract: The concentrated kingdom was one of three kingdoms that were buried by the eruption of Mount Tambora in 1815. The territory of the former concentrated kingdom is now reoccupied after a long unused. Therefore, it should be examined what caused the collapse of the concentrated kingdom in 1815, how the social economic life of the people of the concentrated Kingdom post the eruption of Mount Tambora, as well as anything that became a relic of the concentrated kingdom. This research aims to Mendetulisankan and explain the cause of the collapse of the concentrated kingdom after the eruption of Mount Tambora, and how the socio-economic life of the people of the concentrated Kingdom post the eruption of Mount Tambora, and to know the relics of the dense kingdom. This method of research uses qualitative methods of descriptive. The research site is located in concentrated district of Dompu district. Data collection techniques using observation techniques, interviews, and documentation. Data analysis techniques; 1) data reduction, 2) presentation and 3) withdrawal of conclusion. In conclusion, the concentrated kingdom is one of the kingdoms lost in the event of the eruption of Mount Tambora in 1815, with the most populous population buried in comparison with the Kingdom of Sanggar and the work of Tambora. Concentrated itself is derived from the word Papekat which means "old bird". The former territory of the concentrated Kingdom is now occupied after a long unused post-eruption of Tambora 1815, and was given the name of the same name from the concentrated kingdom of the concentrated district. Concentrated jealousy is occupied by a wide variety of tribes, and their livelihoods also vary. The socio-economic life of the people is so good and advanced. The relic that is the apparent evidence of the existence of the concentrated kingdom on Sumbawa Island is still preserved in its sustainability, namely; 1) tare/tray, 2) Gold crates, 3) place spices and betel nut, and 4) place spices.

Page 5 of 14 | Total Record : 137