cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
historis.ummat@gmail.com
Editorial Address
http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah
ISSN : 26224763     EISSN : 26141167     DOI : https://doi.org/10.31764/historis
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN MASUKNYA NARKOBA DI INDONESIA Sulung Faturachman
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 1 (2020): JUNE
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.527 KB) | DOI: 10.31764/historis.v5i1.2051

Abstract

Abstrak: Maraknya penyalahgunaan narkoba saat ini khususnya di Indonesia, telah menjadi salah satu permasalahan yang meresahkan masyarakat. Peredaran narkoba di Indonesia saat ini menyerang kalangan muda yang merupakan generasi penerus bangsa. Penelitian tentang sejarah dan perkambangan narkoba yang ada di Indonesia ini bertujuan untuk melihat dan memahami sejarah dan perkembangan narkoba di Indonesia serta mengapa Indonesia dapat menjadi salah satu basis peredaran narkoba. Penelitian ini menggunakan metode metode sejarah, dengan tahapan yaitu heuristic, kritik sumber, interpretasi atau penafsiran, dan historiografi. Hasil penelitian yang didapatkan adalah pengetahuan mengenai sejarah dan perkembangan narkoba yang bermula dari masa 2000 SM kemudian pada masa kolonial Belanda, pada masa kolonial Jepang, pada masa Orde Lama, pada masa Orde Baru hingga masa Reformasi saat ini. Perkembangan narkoba di Indonesia telah menjadi salah satu ancaman bagi negara Indonesia karena dapat merusak masa depan generasi muda bangsa Indonesia.Abstract: The rise of drug abuse at this time, especially in Indonesia, has become one of the problems that disturb society. Drug trafficking in Indonesia is currently attacking young people who are the nation's next generation. This research on the history and mining of drugs in Indonesia aims to see and understand the history and development of drugs in Indonesia and why Indonesia can become one of the bases of drug trafficking. The research method uses the historical method. The research results obtained are knowledge about the history and development of drugs that began from the period 2000 BC and then during the Dutch colonial period, during the Japanese colonial period, during the Old Order, during the New Order until the current Reformation. The development of drugs in Indonesia has become one of the threats to the Indonesian state because it can damage the future of the young generation of the Indonesian nation.
KAJIAN HISTORY DESA PAKUAN KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT Ahmad Afandi; Safrudin Safrudin
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.171 KB) | DOI: 10.31764/historis.v2i1.201

Abstract

Adapun sejarah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejarah dinamakannya desa serta makna nama tersebut yang berbeda dalam lintas sejarah. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dan mengidentifikasi bagaimana sejarah sejarah dinamakannya desa Pakuan. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, tokoh adat, serta oarang-orang yang dianggap mengetahui tentang informasi yang dibutuhkan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang sejarah desa Pakuan, makna pakuan sehingga diangkat menjadi nama desa. Dalam penelitian ini alat yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di desa Pakuan ceritanya adalah nama sebuah jabatan atau orang yang sangat dipercayai dan disegani oleh masyarakat jawa pada waktu itu. Dinamakannya Pakuan sebagai nama desa karena pada zaman dahulu di hutan Narmada yang dinamakan Pengkoak didatangi oleh sekelompok transmigasi dari desa Belumbung. Abstract: As the history studied in this study is the historical name of the village and the meaning of this different name in the history of the cross. The goal to be achieved in this research and historical history is called Pakuan village. Subjects in this study are community leaders, customary leaders, and people who know about the information needed. The data collected in this study is data about the history of the village pakuan, meaning pakuan be appointed to the name of the village. In this study the tools used in the data set are observations, and interviews. The results show in Pakuan village the story is the name of a position or a person who is very trusted and respected by the people of Java at that time. Pakuan named Pakuan as the name of the village because in ancient times in the forest called Narmada Pengkoak visited by a group of transmigations from the village of Notbung.
SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT DALAM TRADISI “WERO MATA” (UPACARA KEMATIAN) DI DESA WAE CODI KECAMATAN CIBAL KABUPATEN MANGGARAI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) Yohanes Lesing
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 4, No 2 (2019): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.303 KB) | DOI: 10.31764/historis.v4i2.1392

Abstract

Abstrak: Masyarakat Desa Wae Codi upacara kematian bukan akhir dari segalahnya melainkan awal kehidupan baru. Masyarakat Desa Wae Codi percaya orang  mati, meskipun raganya sudah tidak bergerak, rohnya masih tetap hidup. Sebagai penghormatan terakhir, kerabat melakukan upacara Wero Mata. Diyakini masyarakat Desa Wae Codi memiliki fungsi untuk kelangsungan hidup masyarakat dan generasi berikutnya. Permasalahan dalam penulisan ini adalah  (1) Bagaimana pelaksanaan Tradisi Wero Mata (Upacara Kematian) pada Masyarakat Desa Wae Codi Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur ? (2) bagaimana bentuk solidaritas masyarakat dalam prosesi Wero Mata (Upacara Kematian) di Desa Wae Codi Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur ?. Bertujuan untuk memperoleh interprestasi terhadap pemahaman manusia atas fenomena yang tampak, dibalik yang tampak, muncul kesadaran manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan Atnografi. Obyek penelitian masyarakat Desa Wae Codi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling dengan Informan kunci adalah kepala desa, Tu’a Golo Tu’a Teno dan Tu’a Gendang dan masyarakat desa Wae Codi. Tekhnik pengumpulan data dengan menggunakan tekhnik observasi, wawancara  dan dokumentasi, sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengatakan bahwa Upacara kematian masyarakat Desa Wae Codi diawali Haeng Nai (nafas terakhir), saat seorang meninggal pihak Anak Rona (keluarga pihak wanita), dan Anak Wina (keluarga pihak laki-laki) menyiapkan hewan kurban berupa babi untuk melepas kepergian seseorang, dengan maksud pihak keluarga telah mengetahui bahwa seorang kerabatnya telah meninggal, serta mendoakan kepergiannya dengan memberinya persembahan berupa seekor babi. Tahap awal upacara Wero Mata berakhir pada saat Ancem Peti (penutupan peti). Tahap kedua upacara Wero Mata diawali dengan prosesi Tekang Tanah (peresmian tanah kubur), dan tahap terakhir pada upacara Wero Mata berakhir pada prosesi Kelas (kenduri) yang biasa dilaksanakan setelah satu tahun seseorang meninggal.Abstract: The village community of Wae Codi's death ceremony is not the end of everything but the beginning of a new life. The people of Wae Codi Village believe the dead, even though the body is immobile, the spirit is still alive. As a final honor, the relatives performed the Wero Mata ceremony. It is believed that the people of Wae Codi Village have a function for the survival of society and the next generation. The problems in this writing are (1) How is the implementation of Wero Mata Tradition (Death Ceremony) in Wae Codi Village Community of Cibal District of Manggarai Regency of East Nusa Tenggara Province? (2) what is the form of community solidarity in Wero Mata procession (Death Ceremony) in Wae Codi Village, Cibal District, Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province? Aiming to gain an interpretation of human understanding of the visible phenomenon, behind the apparent, emerging human consciousness. The research method used is qualitative research with approach of Atnografi. Research object of Wae Codi Village community. The technique of determining informants using purposive sampling with key informants was the village head, Tu'a Golo Tu'a Teno and Tu'a Gendang and villagers of Wae Codi. Technique of data collecting by using observation technic, interview and documentation, data source used is primary data and secondary data. Data analysis techniques used in this study is data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The results of the study say that the death ceremony of the village of Wae Codi begins with Haeng Nai (the last breath), when a person dies of the Rona (female family), and the Viennese child (male family) prepares a pig sacrificial animal to let someone go, with the intent of the family having learned that a relative had died, and praying for his departure by giving him a pig offering. The initial stage of Wero Mata ceremony ends at Ancem Peti (the closing of the crate). The second stage of the Wero Mata ceremony begins with a Tekang Tanah procession (the inauguration of the grave), and the last stage of the Wero Mata ceremony ends in a Class procession (kenduri) which is usually performed after one year of deat.
Nilai Religi Arsitektur Rumah Adat Sasak Dusun Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Muaini Muaini; Zainudin Zainudin
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.233 KB) | DOI: 10.31764/historis.v2i2.192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna nilai-nilai religi arsitektur rumah adat sasak. Jenis penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di dusun Sade desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Tehnik pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Analisis data mengunakan kulitatif deskriptif. Hasil penelitian yang memiliki nilai-nilai religi arsitektur rumah adat sasak menemukan sebanyak 8 (delapan) yaitu: 1) Rumah Adat (Bale gunung rate ), 2) Arah rumah, 3) Bagian belakang rumah, 4) Atap rumah, 5) Lantai rumah, 6) Tangga rumah, 7) Pintu rumah, 8) Ruang dalam bale (Ruangan dalam). Masyarakat menjaga keaslihan peningalan kebudayaan dari nenek moyang. This study aims to describe the meaning of religious values of traditional architecture of sasak house. This type of research uses descriptive qualitative. The research was conducted in Sade village of Rembitan village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency. Data collection techniques use observation, interview, documentation and field notes. Data analysis using descriptive skin. The result of research which have religious values of architecture of traditional house of sasak found as many as 8 (eight) that is: 1) Traditional house (Bale mount rate), 2) House direction, 3) Back of house, 4) Roof house, 5) , 6) Household staircase, 7) Door of house, 8) Space in bale (Room inside). Society keep the authenticity of cultural pengingalan from ancestors.
PERAN TU’A GOLO DALAM PEMBAGIAN TANAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA MASYARAKAT DI DESA MACAN TANGGAR KECAMATAN KOMODO KABUPATEN MANGGARAI BARAT NTT Israwati Israwati
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 3, No 2 (2018): DESEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.725 KB) | DOI: 10.31764/historis.v3i2.1381

Abstract

Abstrak: Keberadaan tu’a golo sebagai sebuah budaya yang masih terjaga dan harmonis oleh masyarakat desa Macan Tanggar. Tu’a golo berperan dalam hal pembagian tanah, membuat surat-surat tanah dan penyelesaian masalah tanah. Tu’a golo juga mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap budaya tu’a golo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran tu’a golo dalam pembagian tanah dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yang merupakan pengujian secara rinci terhadap suatu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi untuk analisis data mengumpulkan data kualitaif seperti reduksi data, penyajian data, verivikasi atau kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, penyusun dapat menyimpulkan bahwa: 1. Tu’a golo adalah orang yang dituakan di kampung atau pemimpin yang bertugas memimpin dan yang berkaitan dengan tanah. 2. Kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat desa Macan Tanggar.Abstract: The existence of tu'a golo as a culture that is still awake and harmonious by the community of the Macan Tanggar village. Tu'a golo plays a role in terms of land distribution, making land letters and solving land issues. Tu'a golo also affects the socio-economic and cultural life of the local community. This makes the researcher interested to do research on tu'a golo culture. This study aims to determine the role of tu'a golo in the distribution of land and its influence on the socio-economic and cultural life of the community.This study uses descriptive qualitative research with a case study approach which is a detailed test of a background or one subject person or a document store or a particular event. The techniques used in this research are observation techniques, interview techniques and documentation techniques for data analysis to collect qualitative data such as data reduction, data presentation, verification or conclusion.Based on the results of the study, the authors can conclude that: 1. Tu'a golo is a person who is elder in a village or leader who is in charge of and related to the land. 2. Socio-economic and cultural life of the Tanggan Tiger villagers
FUNGSIWOE DALAM SISTEM SOSIAL MASYARAKAT TRADISIONAL DESA TUREKISA Maria Goreti Djandon
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3521

Abstract

Abstrak: Flores  merupakan salah satu pulau yang dihuni  oleh berbagai suku dengan latar budayanya masing-masing. Demikian pula dengan masyarakat di Desa Turekisa yang memiliki woe (suku) dari asal-usul berdeda-beda. Arus globalisasi membawa dampak bagi anggota woe itu sendiri terutama yang berkenaan dengan asal mula woe dan fungsi woe dalam sistem sosial masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji lebih dalam tentang sejarah asalmula woe dan fungsi woe yang ada di Desa Turekisa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptf kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data menggunakan wawancara medalam dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Turekisa anggota woe masih mengetahui asalmula woe dan fungsi woe dengan baik. Untuk menjaga keharmonisan antara anggota se-woe (se suku) maupun dengan woe yang lainnya selalu ada kerja sama baik yang berhubungan dengan pekerjaan (budaya gotong royong), pada saat hajatan apa saja maupun pada saat duka. Hal ini merupakan warisan dari para leluhur yang tetap dipelihara dengan baik dari generasi ke generasi penerusnya. Masing-masing woe memiliki Ngadhu dan Bhaga sebagai lambang persatuan dan Sa’o Pu’u sebagai tempat berkumpulnya seluruh anggota woe dalam ritual-ritual adat.Abstract: Flores is one of the islands inhabited by various tribes with their cultural background. Similarly, the people in Turekisa village have woe (tribe) from different origins. The current globalization has an impact on the woe members themselves, especially about the origin of woe and the function of woe in the social system of society. The purpose of this research is to examine more about the history of woe origin and the function of woe in Turekisa Village. The research method used is descriptive qualitative. The data sources used are primary and secondary data. Data collection using deep interviews and documentation. Data analysis is done through data reduction, data exposure, and conclusion drawing. The results showed that the people of Turekisa Village woe members still know the origin of woe and woe function well. To maintain harmony between members of the se-woe (se tribe) and with another woe there is always cooperation both related to work (gotong royong culture), at any time of hajatan or at the time of grief. This is the legacy of the ancestors who remained well preserved from generation to generation. Each woe has Ngadhu and Bhaga as symbols of unity and Sa'o Pu'u as a gathering place for all woe members in traditional rituals.
PRAKTIK PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MASA PEMBELAJARAN JARAK JAUH (PJJ) Sri Susanti
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.2992

Abstract

Abstrak: Layanan pendidikan pada masa darurat penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2O2O tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) Surat Edaran ini mengatur tentang kententuan Belajar dari Rumah. Berdasarkan Surat Edaran ini, pembelajaran jarak jauh menjadi alternatif yang tepat untuk tetap memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik. Sejarah merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dan memiliki nilai-nilai yang bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa. Pada mata pelajaran sejarah materi yang harus dipelajari cukup banyak sehingga mengharuskan peserta didik untuk terus membaca pada masa penerapan PJJ ini.  Penelitian ini bertujuan mengetahui praktik pembelajaran sejarah pada masa penerapan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara kepada guru dan peserta didik di SMA Negeri 1 Pringsurat. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling (dengan pertimbangan tertentu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru sejarah pada masa pembelajaran jarak jauh cukup efektif untuk dilaksanakan, namun tetap memiliki beberapa kelemahan misalnya kendala sinyal dan kuota.Abstract: Educational services during the emergency period of the spread of Corona Virus Disease (COVID-19) are carried out following Circular Number 4 of 2O2O concerning Implementation of Education Policies in an Emergency for the Spread of Corona Virus Disease (COVID-19) This Circular regulates the provisions of Learning from Home. Based on this Circular, distance learning is the right alternative to continue providing educational services to students. History is an important subject and has values that are useful for shaping the character of the nation. In the subject of history, the material that must be studied is quite a lot so that it requires students to keep reading during the application of this PJJ. This study aims to determine the practice of historical learning during the application of Distance Education (PJJ). The research method used is qualitative research. The data was collected using interviews with teachers and students at SMA Negeri 1 Pringsurat. The research sample was determined by using a purposive sampling technique (with certain considerations). The results showed that the practice of history learning carried out by history teachers during the distance learning period was effective enough to be implemented, but still had several weaknesses, such as signal and quota constraints.
ANALISIS TINGKAT VALIDITAS LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS HOTS DENGAN SISTEM BARCODE Mariyani Mariyani; Rini Setiyowati; Husnul Fatihah
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3747

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas lembar kerja peserta diidk berbasis HOTS dengan sistem barcode pada mata pelajaran PPKn. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (RnD) dengan teknik pengumpulan data angket dan dokumentasi. Angket digunakan untuk menghimpun data dari para validator mengenai aspek materi, media, dan bahasa dalam lembar kerja peserta didik. Dokumentasi digunakan untuk menghimpun data mengenai materi yang akan dikembangkan. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: (1) Tingkat validitas aspek materi dinyatakan valid dengan skor 85.7 % (2) Tingkat validitas aspek media dinyatakan valid dengan skor 84.8 %. Dengan demikian, bahan ajar yang telah dikembangkan dinyatakan valid.Abstract:  This study aims to determine the validity level of HOTS-based student worksheets with the barcode system in civic education subjects. This research is a Research and Development (RnD) research with questionnaire data collection techniques and documentation. Questionnaires are used to collect data from validators regarding aspects of material, media, and language in student worksheets. Documentation is used to collect data about the material to be developed. The analysis technique used is descriptive quantitative. The conclusions of the research results are as follows: (1) The level of validity of the material and language aspects is valid with a score of 85.7% (2) The level of validity of the media aspects is declared valid with a score of 84.8%. Thus, HOTS-based student worksheets with the barcode system that have been developed are declared valid.
PERAN MOSALAKI (TOKOH ADAT) TERHADAP TARIAN NAPA NUWA SEBAGAI WUJUD MENJAGA KETAHANAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ADAT WOLOTOPO Karolus Charlaes Bego; Bonaventura R. Seto Se
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3442

Abstract

Abstrak: Kehidupan bangsa Indonesia sangat beragam dalam hal suku, adat-istiadat, ras, dan agama. Kesenian tradisional merupakan refleksi dari cara hidup sehari-hari masyarakat. Pengaruh arus globalisasi saat ini akan berdampak pada kesenian tradisional. Jika tidak direspons dengan baik oleh semua pihak yang berkepentingan akan berdampak pada tergerusnya budaya bangsa Indonesia. Peran Mosalaki (Tokoh Adat) Terhadap Tarian Napa Nuwa Sebagai Wujud Menjaga Ketahanan Sosial Budaya Masyarakat Adat Wolotopo sangat diperlukan. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam menjaga dan melestarikan budayanya sebagai warisan leluhur Mosalaki (tokoh adat) belum mampu menjalankan perannya sebagai pihak yang memegang amanah, pihak yang memberi teladan, dan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal ini karena dihadapkan dengan berbagai kendala, yaitu: 1) Pemahaman tentang tarian Napa Nuwa oleh mosalaki (tokoh adat) sangat minim; 2) Tidak adanya larangan yang tegas masuknya tarian dari luar; 3) tidak adanya keteladanan dari para mosalaki (tokoh adat); 4) Kurang adanya kemauan dari masyarakat adat wolotopo khususnya generasi muda untuk menari tarian napa nuwa lebih suka tarian dari luar atau tarian barat; 5) Mudahnya mengakses informasi melalui media masa.Abstract: Indonesian life is very diverse in terms of ethnicity, customs, race, and religion. Traditional art is a reflection of the daily way of life in the community. The influence of the current globalization will have an impact on traditional arts. If not responded well by all interested parties will have an impact on the eroding culture of the Indonesian nation. The role of Mosalaki (Indigenous People) towards Napa Nuwa Dance as a Form of Maintaining Social and Cultural Resilience of Wolotopo Indigenous Peoples is indispensable. The results of the study found that in maintaining and preserving its culture as the ancestral heritage of Mosalaki (indigenous figures) has not been able to carry out its role as a party that holds the mandate, the party that sets an example, and as a responsible party. This is because it is faced with various obstacles, namely: 1) The understanding of Napa Nuwa dance by mosalaki (indigenous figures) is minimal; 2) The absence of a strict prohibition on the entry of dances from outside; 3) the absence of accuracy of the mosalaki (indigenous leaders); 4) Lack of willingness from wolotopo indigenous peoples, especially the younger generation to dance napa nuwa dance prefers dance from outside or western dance; 5) Easy access to information through mass media.
KAJIAN HISTORIS MAKNA UPACARA ADAT ALA BALOE KAMPUNG BAMPALOLA ALOR Rosada Rosada; Nurmi Ali
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2020): DECEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v5i2.3734

Abstract

Abstrak: Upacara Ala Baloe merupakan identitas Desa Bampalola dan Kabupaten Alor secara umum sebagai proses pewarisan budaya yang harus dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat dan merupakan tradisi yang masih bertahan di tengah-tengah kemajuan zaman seperti ini. Belum ada penulisan-penulisan tentang upacara tersebut, sehingga penulis ingin menggali secara lebih dalam tentang upacara Ala Baloe supaya terdokumentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah upacara adat Ala Baloe (Makan Baru Padi) merupakan upacara adat tradisional suku Adang, suku yang mendiami kampung adat/tradisional Bampalola. Kampung Bampalola terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Adapun nilai-nilai yang terkadung dalam upacara Ala Baloe (Makan Baru Padi) antara lain; nilai sosil budaya, nilai religius, nilai kebersamaan, nilai ketelitian, nilai gotong royong serta  nilai pendidikan.Abstract: Ala Baloe ceremony is the identity of Bampalola Village and Alor Regency in general as a process of cultural inheritance that must be maintained by the local community and is a tradition that still survives during the progress of this era. There have been no writings about the ceremony, so the author wants to dig deeper into the Baloe ceremony to be documented. The research method used is qualitative with ethnographic approach. The results showed that the history of traditional ceremonies Ala Baloe (Makan Baru Padi) is a traditional ceremony of the Adang tribe, a tribe that inhabits the traditional village of Bampalola. Kampung Bampalola is located in Alor Regency, East Nusa Tenggara Province. The values that are protected in ala Baloe (Makan Baru Padi) ceremony include; cultural values, religious values, values of togetherness, the value of thoroughness, the value of mutual assistance and the value of education.

Page 6 of 14 | Total Record : 137