cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Akta Kimia Indonesia
ISSN : 18584586     EISSN : 25493736     DOI : -
Core Subject : Science,
Akta Kimia Indoneisa publishes peer-reviewed open access articles in all areas of chemistry, including: Analytical Chemistry Physical Chemistry Organic Chemistry Inorganic Chemistry Biological Chemistry To submit an article, you need to register first. Please click register in the menus above.
Arjuna Subject : -
Articles 104 Documents
Synthesis of Polystyrene Sulfonate and Its Characterization as a Polymer Electrolyte Membrane Emil Salim; Afrizal Afrizal; Zilfadli Zilfadli
Akta Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v6i2.10916

Abstract

This study aims to synthesize polystyrene sulfonate (PSS) from polystyrene (PS) isolated from waste styrofoam. Sulfonation reaction of polystyrene was conducted using acetyl sulfonate as sulfonating agents with variation times and temperatures. The sulfonated products were characterized using FT-IR spectrophotometer, degree of sulfonation, cation exchange capacity, water uptake and thermal stability. The FTIR spectrums show vibration of O-H streching at wave number 3300-3400 cm-1, S=O streching at the wave number 1050-1200 cm-1 which indicates the presence of sulfonate groups. Sulfonation reaction at 40oC for 2 hours (SPS-40-2) gives the highest degree of sulfonation, cation exchange capacity, water uptake with values 1,960%, 0.1880 meq/gr, 9.04% respectively. Thermal gravimetry analysis shows that polystyrene sulfonate has better thermal stability than polystyrene.
Studi In-silico menghambat enzim α-glukosidase pada fitokimia yang terkandung pada Momordica charantia Linn. (Pare) sebagai terapi diabetes Marisca Evalina Gendokesumo; Galih Satrio Putra; Farida Anwari; Widianat Widianat; Mauren Elysia
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i1.12588

Abstract

Momordica charantia Linn. (Pare) adalah salah satu tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes militus. Secara empiris Fitokimia yang terkandung pada  Momordica charantia Linn. yang berasa pahit dipercaya dapat melawan efek manis dari gula. Oleh karena itu Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mekanisme penghambatan enzim alfa glukosidase pada senyawa yang terkandung dari Momordica charantia Linn. (Pare) yaitu cucurbitene, lanostene,  momordicin derivatives, momordicoside derivatives, goyaglycoside derivatives dalam menghambat enzim α-glukosidase secara in-silico menggunakan Molegro Virtual Docker (MVD) Ver.5.5 yang dibandingkan dengan native ligandnya dan acarbose. Hasil in-silico menunjukan bahwa glikosida yang terdapat pada Momordica charantia Linn memiliki potensi menghambat enzim α-glukosidase. Salah satunya adalahnya Momordicoside B (-192.74 Kcal/mol) yang memiliki moldock score yang lebih rendah dibandingkan native ligannya (-75.00 Kcal/mol) dan acarbose (-151.73 Kcal/mol).
Evaluasi Parameter Fisikokimia, Farmakokinetika, dan Farmakodinamika Senyawa Fisetin Dalam Desain Obat Arif Fadlan; Tri Warsito; Sarmoko Sarmoko
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i1.10879

Abstract

Fisetin is a flavonoid with flavonol framework found in various fruits and vegetables such as strawberries, apples, persimmons, lotus root, grapes, onions, kiwi, peaches, and others. Fisetin with four hydroxyl and one oxo groups shows biological activities such as antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial, antidiabetic, and anticancer. Thus, fisetin becomes an interesting target for finding alternative therapeutic agents. However, more than 50% of drug candidates fail due to poor absorption, distribution, metabolism, excretion, and toxicity (ADMET) analysis. This research studied the physicochemical, pharmacokinetic, and pharmacodynamic parameters of fisetin to avoid those problems by using PreADMET, SwissADME, dan Molinspiration. The results revealed good physicochemical parameters for fisetin with potential to be used as oral or transdermal. Fisetin was known to be quite easy synthesized, crossed the BBB, non-toxic, not carcinogenic in mice, and had a medium cardiotoxicity. Furthermore, fisetin inhibited kinases, nuclear receptor ligands, and enzymes. It was moderate as GPCR ligands and ion channel modulators.
METABOLIT SEKUDER, METODE EKSTRAKSI, DAN BIOAKTIVITAS CABAI (CAPSICUM) Nur Hasanah; Sri Fatmawati
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i1.11239

Abstract

Cabai merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan dengan genus Capsicum. Tanaman genus ini dilaporkan memiliki turunan senyawa capsaicinoid. Capsaicin merupakan senyawa capsaicinoid utama pada cabai yang dapat menimbulkan sensasi panas pada tanaman ini. Sensasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meredakan nyeri sehingga senyawa ini banyak dmanfaatkan sebagai obat analgesik atau penghilang rasa sakit di bidang farmasi. Selain itu, tanaman genus ini juga memiliki kelompok senyawa karotenoid yang berperan sebagai pemberi warna pada buah tanaman tersebut, fenolik, flavonoid, vitamin dan senyawa volatil. Kadar metabolit sekunder cabai ini dipengaruhi oleh pemilihan metode dan kondisi ekstraksi yang digunakan sehingga penelitian terkait ekstraksi cabai ini banyak dilakukan dengan berbagai variasi. Beberapa metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi, sokletasi, dan refluks hingga ekstraksi modern seperti sonikasi, microwave, subcritical fluid dan supercritical fluid (SFE). Bioaktivitas pada buah cabai yang telah dilaporkan oleh beberapa literatur meliputi antiinflamasi, antimikroba, antioksidan, antidiabetes, antikanker dan analgesik. Meskipun bioaktivitas tanaman ini telah banyak dilaporkan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui keamanan, dosis penggunaan dan efek samping dari cabai tersebut. Oleh karena itu, review ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah tentang Senyawa metabolit sekunder, metode ekstraksi dan bioaktivitas buah cabai yang nantinya diperlukan dalam penelitian selanjutnya.
The Correlation Between Crystal Phase and Acidity in Nickel Doped Zinc Fluoride Solid Ummi Nazhiroh; Irmina Kris Murwani
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i1.12491

Abstract

Nickel-doped zinc fluoride (Zn1‑xNixF2) with x= 0; 0.025; 0.050; 0.075; 0.100 and 0.150 were synthesized from zinc acetate as precursors. Solid materials were prepared by the fluorolytic sol gel method. The resulting solid materials were characterized by XRD and FTIR. The XRD characterization of the samples showed that there were characteristic peaks of zinc fluoride, zinc oxide and zinc hydrogen fluoride. The IR characterization spectrum showed the presence of Zn-F, Zn-O and -OH bonds in the samples. Pyridine adsorbed FTIR technique explains that the material has Lewis and Brønsted acidity. The acidity site in the solid were influenced by the Zn-O and Ni-O bonds in the catalyst. 
Ekstraksi Senyawa Fenolat dalam Daun Teh Hijau (Camellia Sinensis) Zjahra Vianita Nugraheni; Try Mefirwan Rachman; Arif Fadlan
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i1.12557

Abstract

Daun teh hijau (Camellia sinensis) telah terbukti mempunyai kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Fenolat merupakan salah satu komponen dalam daun teh hijau yang mempunyai kemampuan sebagai zat antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui total kandungan senyawa fenolat dalam ekstrak daun teh hijau. Maserasi dipih sebagai metode ekstraksi dengan menggunakan air sebagai pelarutProses ekstraksi dioptimalisasi dengan melakukan variasi suhu ekstraksi (80℃, 90℃, 100℃) dan waktu perendaman (5 dan 10 menit) terhadap dua ukuran sampel daun teh hijau (halus dan kasar). Berdasarkan hasil analisis, kandungan senyawa fenolat optimal pada daun teh hijau halus dan kasar didapatkan pada suhu 80℃ dan waktu pengadukan 10 menit dengan nilai berturut-turut sebesar 44,487 ± 0,483 µg AGE/g daun teh kering halus dan 22,676 ± 0,483 µg AGE/g daun teh kering kasar. Dari hasil tersebut diketahui bahwa ukuran sampel, suhu, dan waktu perendaman berpengaruh pada kandungan senyawa fenolat yang didapatkan. Kandungan fenolat yang diperoleh semakin tinggi seiring dengan berkurangnya ukuran partikel dan meningkatnya waktu perendaman serta suhu ekstraksi.
Optimasi Proses Pemisahan Minyak Jintan Hitam Dengan Kualifikasi Food Grade Menggunakan Metode Hydrodistillation Melalui Variasi Treatment Pra-Ekstraksi Elisabeth Ratnani Wahyu Hapsari; Achmad Ferdiansyah Pradana Putra; Achmad Haris Sofani
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i2.14686

Abstract

Jintan hitam memberikan manfaat yang baik bagi tubuh sebagai peningkat imunitas, namun sayang teknologi pengekstrakan jintan hitam masih belum memenuhi standart FDA yang menganjurkan penggunaan pelarut air sewaktu proses ekstraksi agar aman dikonsumsi. Adapun teknologi yang sudah berkembang yaitu metode ekstraksi hidrodistilasi mengunakan pelarut air hanya mampu menghasilkan yield 7,52%, sehingga memerlukan treatiment tambahan agar dihasilkan yield yang lebih maksimal. Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah variasi treatment pra-ekstraksi meliputi : Maceration (M), Maceration Microwave (MW), Maceration Ultrasonic (MU), dan Maceration Ultrasonic Microwave  (MWU) dengan metode ekstraksi hydrodistillation. Variabel waktu pra-ekstraksi divariasikan dari 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit, sedangkan proses ekstraksi berlangsung selama 9 jam. Hasil penelitian menunjukkan variasi pra-ekstraksi MWU memberikan pemecahan dinding sel jintan hitam yang sempurna, sehingga dihasilkan yield sebesar 20,61% (w/w), dengan 11 komponen bahan aktif. Perlakukan yang dilakukan dengan metode pra ekstraksi MWU juga mampu menghemat konsumsi energi sebesar 81,53% jika dibandingkan dengan metode maserasi saja. Dengan demikian metode pra-ekstraksi MWU terbukti mampu memberikan optimasi proses pemisahan minyak jintan hitam.
DETERMINATION OF SECONDARY METABOLITE CONTENT, TOTAL PHENOLIC ANTIOXIDANT TEST, AND TOXICITY OF ULIN LEAF EXTRACT (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) Yayan Rabbani Kurniawan; adlis santoni; suryati suryati
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i2.14346

Abstract

Ulin leaf (Eusideroxylon zwageri Teijsm. & Binn) is one of the traditional Indonesian medicinal plants. In this research, the secondary metabolite content, antioxidant activity, cytotoxic and total phenolic content were tested. The extraction process by maceration starts from hexane, ethyl acetate and methanol. The content of secondary metabolites of ironwood leaves are flavonoids, phenolics, steroids, terpenoids, and alkaloids. The results of the antioxidant activity test using the DPPH method (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazil), methanol extract showed very strong activity IC50 10.96 mg/L, moderate ethyl acetate extract 115,409 mg/L and weak hexane extract IC50 368,555 mg/L. L. This result correlated with the total phenolic yield, methanol extract had the highest value of 162.95 mg GAE/Gram, followed by ethyl acetate extract of 96.7 mg GAE/Gram and hexane with a value of 19.85 mg GAE/Gram. The results of the cytotoxic test using the (BSLT) method on hexane extract had very strong toxicity LC50 82.1675 mg/L, methanol extract and weak ethyl acetate LC50, respectively; 683,282; and 812.456 mg/L.Key word : Ulin, Antioxidants, Total Phenolic, cytotoxic
Formulation of Gambir Extract Nanoemulgel with Maggot Oil as Oil Phase Syifa Annaura; Irfan Yogik Ferdianiko; Akhfas Faisal Amin; Mayu Rahmayanti; Ria Indah Lestari; Dhia Fadhilah Salsabila
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i2.14755

Abstract

AbstractGambir is the result of extraction from the leaves of the gambier plant (Uncaria gambir Roxb)which contains polyphenolic compounds. The polyphenolic compounds contained in this gambier extract are catechins which act as antimicrobials and antioxidants. The nanoemulgel formulationin this study used an active ingredient, namely gambir extract (Uncaria gambir Roxb) with a concentration of 9% containing flavonoids which have good antibacterial activity. In the manufacture of oil phase nanoemulsions from the use of 1% Black Soldier Fly (BSF) maggot oilwhich has characteristics such as VCO which is commonly used. Emulsification method wascarried out using a magnetic stirrer with a spontaneous mixing technique. Several nanoemulsion characterization tests using the Particle Size Analyzer (PSA) included particle size, polydispersityindex, and zeta potential results obtained according to the nano criteria, namely 382.27 ± 72.28 nm, 0.29 ± 0.14, respectively. and -0.57 ± 1.28 mV. In the nanoemulgel formulation of gambir extract, several tests were carried out such as organoleptic, homogeneity, pH (6.23 ± 0.31),dispersion (5.83 ± 0.15 g.cm/s), and adhesion (7.33 ± 0.90 s) that meet the criteria for nanoemulgel preparations.Keywords: Gambir extract; maggot oil; nanotechnology.
Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder dari Ekstrak Etil Asetat Daun Pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.) berdasarkan Sifat Toksisitas dengan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) Emil Salim; Suryati Suryati; Rini Ramadani; Wini Sukrila
Akta Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25493736.v7i2.14532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa metabolit sekunder dari ekstrak etil asetat daun pulai (Alstonia scholaris) berdasarkan sifat sitotoksik terhadap larva udang Artemia salina. Pemisahan senyawa aktif dilakukan menggunakan kromatografi kolom, eluen petroleum eter:etil asetat (10:0-0:10) dan etil asetat:metanol (10:0–9:1), dan menghasilkan 8 fraksi (F1-F8). Fraction 6 paling aktif dengan nilai LC50 9,47 mg/L, kemudian direkromatografi dengan eluen petroleum eter:etil asetat (7:3) , diperoleh 5 sub-fraksi (F6.1-F6.5). Sifat toksisitas tertinggi ditunjukkan oleh subfraksi F6.5 dengan LC50 7,694 mg/L. Subfraksi F6.5 kemudian dimurnikan dan dikarkterisasi dengan UV dan FTIR. Senyawa hasil isolasi diketahui merupakan senyawa alkaloid.

Page 7 of 11 | Total Record : 104