cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpenataanruang@gmail.com
Editorial Address
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian (FTSPK),Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sukolilo, Surabaya 60111
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Penataan Ruang
ISSN : 19074972     EISSN : 2716179X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penataan Ruang (JPR) merupakan jurnal yang dikelola oleh Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia. Tujuan dari Jurnal Penataan Ruang adalah sebagai wadah diseminasi hasil-hasil penelitian pengabdian masyarakat pada bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, baik di Indonesia maupun internasional.
Articles 208 Documents
Identifikasi Tema Wisata Budaya dan Sejarah di Kota Surabaya (Studi Kasus: Sepanjang Sungai Kalimas) Felicia Esterlita Nugroho; Hertiari Idajati
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i2.7163

Abstract

Surabaya memiliki daya tarik potensi wisata dan keunikan budaya dan sejarah sehingga menarik wisatawan domestik dan internasional. Pariwisata menjadi salah satu fokus pembangunan karena meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Surabaya. Pertumbuhan tersebut karena adanya daya tarik potensi wisata dan keunikan budaya dan sejarah di Kota Surabaya, terutama di sepanjang Sungai Kalimas sehingga dapat menarik wisatawan domestik dan internasional. Namun, objek daya tarik budaya dan sejarah di Surabaya sepi peminat, ditunjukkan dengan tidak meratanya kunjungan di setiap DTW. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema wisata khusus budaya dan sejarah sehingga wisatawan dapat dengan mudah menentukan objek yang akan dikunjungi sesuai minat masing-masing di Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah identifikasi melalui analisis deskriptif yang berasal dari stakeholder kunci ditambahkan dengan hasil observasi di lapangan. Hasil analisis teridentifikasi bahwa terdapat tema 5 kelompok jalur wisata budaya dan sejarah di Surabaya. Tema sejarah maritim, tema perjuangan kemerdekaan, tema budaya Arab dan Pecinan, dan tema permukiman kolonial serta bangunan kolonial.
Segmentasi Kondisi Psikografis Masyarakat Berdasarkan Konsep VALS (Value and Lifestyle) di Kelurahan Kedung Cowek Putu Gde Ariastita; Gita Toruli Sidauruk
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i1.7149

Abstract

Kelurahan Kedung Cowek merupakan salah satu prioritas pertama penanganan kumuh di Kota Surabaya. Namun, program penanganan kekumuhan yang selama ini sudah dilakukan seringkali mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh partisipasi masyarakat setempat untuk terlibat dalam program perbaikan permukiman masih tergolong rendah. Dalam upaya penanganan kumuh tersebut, pemerintah harus memberikan program yang sesuai dengan kondisi masyarakat terkait kecenderungannya untuk terlibat dalam suatu program. Pada hakikatnya, kondisi psikografis dapat menggambarkan sikap dan tanggapan seseorang terhadap suatu program pembangunan secara mendalam dibandingkan dengan kondisi demografisnya. Oleh karena itu, dengan berlokasi di RW 2 dan 3 Kelurahan Kedung Cowek, penelitian ini bertujuan untuk mensegmentasikan kondisi psikografis masyarakat ke dalam 8 variabel psikografis menurut konsep VALS (Value and Lifestyle), yaitu segmen innovators, thinkers, believers, achievers, strivers, experiencers, makers dan survivors. Proses ini dilakukan dengan metode scoring menggunakan skala likert secara kuantitatif. Output dari penelitian ini adalah teridentifikasinya kondisi psikografis masyarakat di Kelurahan Kedung Cowek yang beragam. Kondisi psikografis terbanyak adalah believers, sementara yang paling sedikit adalah makers.
Metode Spatial Linear Regression dalam Memprediksi Kualitas Perairan Danau Ranu Grati Kabupaten Pasuruan Hertiari Idajati; Elok Wuri Safitri
Jurnal Penataan Ruang Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Penataan Ruang 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v13i1.7063

Abstract

Danau Ranu Grati sebagai tempat penampung air dan menopang berbagai kegiatan pemanfaatan di dalamnya seperti budidaya perikanan, penangkapan ikan dan pariwisata, merupakan potensi sumber daya air alami yang ada di Kabupaten Pasuruan. Kegiatan budidaya perikanan keramba yang semakin marak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air di danau tersebut sekaligus menimbulkan kerugian di sektor pariwisata, sektor ekonomi maupun sektor ekologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memprediksi nilai kualitas perairan Danau Ranu Grati di Kabupaten Pasuruan melalui metode statistik spasial untuk melihat kesesuaiannya dengan pemanfaatan kegiatan eksisting. Hasil yang didapat adalah dengan metode Spatial Linear Regression, kualitas perairan danau Ranu Grati masih mendukung kegiatan pemanfaatan Danau Ranu Grati dengan faktor suhu, pH dan Dissolved Oxygen (DO) yang diketahui memiliki pengaruh terhadap model atau rumus fungsi prediksi nilai kualitas perairan. Hasil lain yang didapat adalah Metode Spatial Linear Regression tidak dapat digunakan untuk karakteristik perairan danau yang berupa perairan tertutup dengan arus permukaan dan gelombang air yang statis. 
Tipologi Ketertinggalan Wilayah pada Kabupaten Sampang Ketut Dewi Martha Erli Handayeni; Fajrii Audrina Majida
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i1.7150

Abstract

Kabupaten Sampang adalah salah satu daerah tertinggal di Provinsi Jawa Timur. Misi Provinsi Jawa Timur tentang Rencana Tata Ruang Wilayah adalah keseimbangan pemerataan pembangunan antar wilayah dan pertumbuhan ekonomi. Ditanggapi oleh RPJMD Provinsi Jawa Timur tahun 2014-2019 dengan memprioritaskan pembangunan kawasan tertinggal yang diarahkan pada wilayah selatan Jawa Timur dan Kepulauan Madura. Kabupaten Sampang merupakan salah satu prioritas penanganan daerah tertinggal berdasarkan pertimbangan bobot Indeks Ketertinggalan yang paling rendah. Potensi Kabupaten Sampang selain lokasi yang berdekatan dengan jembatan Suramadu juga potensi pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan pariwisata. Jika memanfaatkan potensi Kabupaten Sampang secara maksimal maka mampu mengeluarkan Kabupaten Sampang dari daerah tertinggal. Untuk memaksimalkan potensi tersebut maka diperlukan rencana strategi pula yang tepat, sesuai  dengan karakteristik ketertinggalan wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tipologi ketertinggalan wilayah dengan analisa cluster sehingga dapat memudahkan dalam menyusun rencana strategi pengembangan wilayah sehingga dapat mengentaskan Kabupaten Sampang sebagai daerah tertinggal.  Dari 186 desa dan kecamatan yang terdapat pada Kabupaten Sampang, 7 desa termasuk pada tipologi ketertinggalan wilayah rendah, 140 desa termasuk pada tipologi ketertinggalan sedang dan 75 desa termasuk pada ketertinggalan tinggi.
Evaluasi Responsivitas Program Kabupaten Sehat Di Kabupaten Blitar Handy Twinosa; Agam Maryoso
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i2.7166

Abstract

Program Kabupaten Sehat adalah suatu kondisi kabupaten yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk, dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah. Pelaksanaan Kabupaten Sehat di Kabupaten Blitar diwujudkan dengan menyelenggarakan semua program yang menjadi permasalahan di Kabupaten Blitar secara bertahap, dimulai kegiatan perioritas bagi masyarakat di sejumlah kecarnatan pada sejumlah desa/ kelurahan atau bidang usaha yang bersifat sosial ekonomi dan budaya di kawasan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hasil evaluasi responsivitas masyarakat terhadap Program Kabupaten Sehat. Penelitian ini berlokasi di 14 Kecamatan di Kabupaten Blitar yang terdampak langsung Program Kabupaten Sehat. Pendekatan penelitian responsivitas Program Kabupaten Sehat di Kabupaten Blitar menggunakan alur pemikiran deduktif kuantitatif dan kualitatif.teknik analisis menggunakan statistik deskriptif serta teknik analisis kualitatif. Sampel penelitian adalah rumah tangga di 14 Kecamatan yang terdampak Program Kabupaten Sehat secara langsung sebanyak 348 rumah tangga. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa Program Kabupaten Sehat telah memenuhi kriteria responsivitas. Namun, masih terdapat beberapa warga yang belum berperan dalam Program Kabupaten Sehat dikarenakan akses terhadap infomasi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan masih terbatas. Selain itu, mereka juga masih bersifat pasif dengan menganggap suatu program yang dilakukan oleh pemerintah adalah tanggung jawab pemerintah itu sendiri.
Gemeinschaft City: Konsep dan Pengukuran Kota Guyub Pradinie, Karina
Jurnal Penataan Ruang Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Penataan Ruang 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v13i1.7065

Abstract

Dalam dialog keruangan dan model perkembangan perkotaan, kampung merupakan representasi dari sistem guyub dan tidak akan ditemui dalam konteks perkotaan. Paradigma planning sendiri bergeser dari yang semula berorientasi top down menjadi bottom up. Tujuan perencanaan ini untuk menciptakan lingkungan yang lebih “guyub” (gemeinschaft) untuk masyarakat dimana masyarakat bisa menikmati hasil perencanaan itu sendiri. Keberadaan kota yang guyub dimana masyarakatnya memiliki inisiatif dalam pembangunan kotanya dan termasuk berpartisipasi di dalamnya memiliki dampak yang lebih positif terhadap pembangunan kota. Kota guyub (gemeinschaft city) timbul disebabkan dua konsep besar yakni Tonnies (1886) dengan faktor – faktor dominasi nilai – nilai kekerarabatan dibandingkan dengan nilai–nilai yang sifatnya formal pada suatu wilayah dan perkembangan paradigma perencanaan di Amerika yang diusung Jane Jacobs (1992) yang menunjukkan bahwa perencanaan berbasis komunitas merupakan jenis perencanaan terbaik yang dapat dihasilkan oleh seorang perencana. Konsep mengenai gemeinschaft dan community based planning memang merupakan dua konsep yang berbeda, namun konsep ini secara tidak langsung memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Melihat dua hal tersebut maka dapat ditarik suatu dugaan bahwa Kota Guyub merupakan kota atau area/bagian perkotaan yang memiliki karakter lokal dan nilai–nilai gemeinschaft yang diindikasikan oleh hubungan/interaksi kekerabatan yang ada di wilayah tersebut dan terwujud dalam ekspresi keruangan yang intim dengan masyarakatnya. Dengan definisi yang sangat baru tersebut maka diperlukan indikator dan parameter untuk membuktikan keberadaan Kota Guyub. Setidaknya terdapat tiga aspek untuk dapat membedakan bentukan Kota Guyub dan Kota formal yaitu bentuk dasar, underlying system dan ekspresi keruangan yang ditimbulkan.
Penilaian Tingkat Transparansi Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Surabaya Prima Tama Setyasa
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 1 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i1.7148

Abstract

E-musrenbang hadir dengan harapan dapat memenuhi perwujudan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Dalam konsepsi good governance, transparansi publik menjadi sebuah prioritas tersendiri karena transparansi dapat memperkecil terjadinya kesalahan, sehingga masyarakat dapat turut menilai dan mengkritisi. Namun, dalam praktik musrenbang Kota Surabaya, masih terdapat temuan-temuan yang menuntun pada permasalahan transparansi kebijakan publik, diantaranya adalah elite capture, ketidaksesuaian data, dan hambatan-hambatan lain pada sistem. Hal seperti ini merupakan sebuah gap tersendiri mengingat Kota Surabaya juga bertindak sebagai kota prestatif dan percontohan bagi banyak wilayah lain di bidang kepemerintahan.Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan teknik analisis skoring Indeks Kepuasan Masyarakat, transparansi musrenbang Kota Surabaya dinilai baik, dengan klarifikasi transparansi variabel termasuk pada kategori baik dan sangat baik. Berdasarkan tipologi penilaian yang telah dilakukan sesuai klaster wilayah, Surabaya Selatan merupakan wilayah Surabaya dengan tingkat transparansi tertinggi dan mendapatkan label transparansi sangat baik (nilai indeks 83,365). Sedangkan Surabaya Barat merupakan wilayah Surabaya dengan tingkat transparansi terendah dan mendapatkan label transparansi baik (nilai indeks 74,881). Selain itu, diketahui pula bahwa variabel yang menjadi titik lemah pelaksanaan musrenbang Kota Surabaya saat ini adalah variabel “keterbukaan implementasi program”
Penilaian Fungsi Taman Kota Sebagai Ruang Terbuka Publik di Kota Surabaya Desy Dwi Saputri
Jurnal Penataan Ruang Vol 13, No 2 (2018): Jurnal Penataan Ruang 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v13i2.7113

Abstract

Taman kota sebagai ruang terbuka publik seharusnya memiliki empat fungsi utama yaitu fungsi ekologi, fungsi sosial-budaya, fungsi ekonomi dan fungsi estetika. Kualitas sebuah taman kota dapat diketahui melalui keberhasilan fungsi taman kota tersebut. Hingga saat ini belum terdapat penilaian terukur terhadap keberhasilan fungsi taman kota terutama taman kota di Kota Surabaya. Untuk  itu peneliti mengukur tingkat efektivitas fungsi taman kota sebagai ruang terbuka publik di Kota Surabaya.  Penelitian ini terbagi kedalam tiga tahapan yaitu (1)mengidentifikasi fungsi taman kota berdasarkan karakteristik taman kota di Kota Surabaya dengan menggunakan metode analisa deskriptif statistik, (2)merumuskan kriteria yang menentukan fungsi taman kota sebagai ruang terbuka publik di Kota Surabaya dengan metode analisa expert judgement, (3)menilai tingkat efektivitas fungsi taman kota sebagai ruang terbuka publik di Kota Surabaya dengan metode analisa skoring.  Hasil analisa menunjukkan bahwa (1)Taman Bungkul efektif untuk fungsi sosial-budaya dengan nilai efektivitas sebesar 2,5; (2)Taman Kebun Bibit Wonorejo cukup efektif untuk fungsi estetika dengan nilai efektivitas sebesar 2,4; (3)Taman Prestasi efektif untuk fungsi estetika dengan nilai efektivitas dengan nilai efektivitas sebesar 2,5; (4)Taman Flora efektif untuk fungsi estetika dengan nilai efektivitas sebesar 2,4 (5)Taman Mundu cukup efektif untuk fungsi ekonomi dengan nilai efektivitas sebesar 2,4. Semua kriteria penentuan fungsi taman kota tergolong efektif dan cukup efektif pada semua taman kota kecuali kriteria kegiatan mencari dan mengumpulkan hasil taman yang tidak efektif dengan nilai efektivitas sebesar 1,5 pada Taman Mundu.
Prioritas Pengembangan Infrastruktur Pada Wisata Pantai Teluk Hijau Desa Sarongan, Kabupaten Banyuwangi Arwi Yudhi Koswara; Yonathan Gustaf W
Jurnal Penataan Ruang Vol 13, No 2 (2018): Jurnal Penataan Ruang 2018
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v13i2.7142

Abstract

Suatu kawasan wisata perlu memperhatikan kenyamanan pengunjung. Hal itu dapat terpenuhi apabila terdapat perilaku masyarakat yang ramah pariwisata dan didukung dengan keberadaan infrastruktur yang mendukung. Sementara itu, salah satu wisata pantai di Indonesia yang berada di Teluk Hijau belum mempunyai infrastruktur yang memadai, seperti: jaringan jalan, jaringan listrik, dan penerangan jalan. Meski demikian, pengunjung wisata pantai Teluk Hijau tetap justru meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis infrastruktur yang dibutuhkan wisata pantai Teluk Hijau, Kabupaten Banyuwangi. Untuk mengetahui hal tersebut, penelitian ini terbagi menjadi beberapa tahap, yaitu menilai tingkat kinerja infrastruktur eksisting dan tingkat kepentingan infrastruktur pariwisata di wisata Pantai Teluk Hijau secara deskriptif, serta mengidentifikasi infrastruktur prioritas berdasarkan analisis tingkat kinerja dan kepentingan dengan metode IPA (importance-performance analysis). Output dari penelitian ini adalah teridentifikasinya infrastruktur prioritas di wisata pantai Teluk Hijau, yaitu penyediaan titik evakuasi, penyediaan jaringan jalan, penyediaan pos kesehatan, penyediaan toilet, terminal angkutan, moda transportasi, jaringan telekomunikasi.
Identifikasi Potensi Pelanggaran Kawasan Konservasi Pantai Timur Surabaya Berdasarkan Pemodelan Spasial Prediksi Tren Perkembangan Penggunaan Lahan Berbasis Cellular Automata Lukman Yusuf; Cahyono Susetyo
Jurnal Penataan Ruang Vol 14, No 2 (2019): Jurnal Penataan Ruang 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v14i2.7165

Abstract

Keterbatasan lahan di Surabaya membuat kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) dilirik oleh pihak pengembang permukiman swasta. Namun, RTRW Kota Surabaya 2014 menetapkan kawasan Pamurbaya sebagai kawasan lindung/konservasi dengan zona ruang terbuka hijau. Dari seluruh kawasan konservasi Pamurbaya 92,66% masih berstatus kepemilikan perorangan. Sehingga terjadi kerawanan pelanggaran pada kawasan konservasi Pamurbaya. Dari perhitungan GIS faktual lapangan 2017, sudah terjadi pelanggaran sebesar 0,5% dari seluruh kawasan konservasi Pamurbaya. Selain itu kerawanan ini di perkuat dengan kondisi tutupan lahan saat ini, dari seluruh kawasan konservasi seluas 2.503,9  Ha, didominasi tutupan lahan tambak seluas 2080,40 Ha.Sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifakasi potensi pelanggaran pada kawasan konservasi Pamurbaya berdasarkan model spasial prediksi tren perkembangan lahan tahun 2034. Hasil penelitiannya adalah faktor yang dominan mempengaruhi perkembangan lahan di Pamurbaya adalah faktor adanya jaringan jalan lingkar luar timur Surabaya dan kedekatan dengan permukiman yang sudah ada. Pola perkembangan lahan eksisting di kawasan Pamurbaya selama 2011-2017 didominasi dengan pertumbuhan permukiman sebesar 602,35 Ha, dan tambak tumbuh sebesar 222,45 Ha. Kemudian berdasarkan prediksi tren perkembangan lahan  Pamurbaya tahun 2034 dengan Cellular Automata, diprediksi permukiman akan tumbuh sebesar 62% dari luas saat ini, industri akan tumbuh sebesar 7%, perdagangan jasa akan tumbuh 15%. Juga diprediksi tambak akan berkurang 29% dari luas saat ini. Indetifikasi potensi pelanggaran kawasan konservasi Pamurbaya menghasilkan pada tahun 2029 kawasan konnservasi diprediksi akan  terjadi pelanggaran 8,74% dan tahun 2034 akan terlanggar 24,02%.

Page 11 of 21 | Total Record : 208