Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Articles
107 Documents
DAMPAK SIKLON TROPIS FRANCES TERHADAP UPWELLING LAUT TIMOR DAN SEKITARNYA
Gaol, Adelina Lumban;
Siadari, Ejha Larasati;
Ryan, Muhammad;
Kristianto, Aries
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1793.375 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v5i3.73
Dampak siklon tropis berupa meningkatnya curah hujan, angin kencang, bencana banjir hingga kerusakan infrastruktur. Disisi lain, siklon tropis menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya pengadukan vertikal dan upwelling yang menyebabkan meningkatnya kesuburan perairan. Penelitian mengenai dampak siklon tropis terhadap konsentrasi klorofil-a dan upwelling di perairan Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak siklon tropis terhadap upwelling di perairan Laut Timor dan sekitarnya. Data yang digunakan berupa data komposit harian konsentrasi klorofil-a, arah dan kecepatan angin, anomali tinggi muka laut, dan suhu permukaan laut, kemudian data bulanan konsentrasi klorofil-a, arah dan kecepatan angin, dan suhu permukaan laut periode 2002 ?2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis variasi spasial dan temporal konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut. Analisis komposit harian menunjukkan daerah yang dilalui oleh siklon tropis Frances mengalami peningkatan konsentrasi klorofil-a namun dengan respon yang berbeda pada area pengamatan. Nilai konsentrasi klorofil-a sebelum terjadi siklon antara <0,2 mg/m3 - 1,0 mg/m3 dan mengalami peningkatan 0.4 mg/m3 ? 5.0 mg/m3. Sementara hasil anomali kenaikan tinggi muka laut menunjukkan bahwa pada saat kejadian siklon tropis terdapat anomali positif berkisar 0.4 - 0.7 meter pada wilayah sekitar pusat siklon tropis. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan tekanan yang menyebabkan gerakan naiknya massa air ke permukaan (upwelling). Suhu permukaan laut menunjukkan penurunan dengan nilai tertinggi mencapai 2,0o C dalam kurun waktu 1 - 4 hari pasca siklon tropis.
PEMODELAN MIKE21 DALAM KEJADIAN BANJIR ROB MENJELANG GERHANA BULAN DI PESISIR SEMARANG
Dewi, Ratna Cintya;
Hakim, Oky Sukma;
Siadari, Ejha Larasati
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (905.36 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v5i3.74
Pesisir Semarang merupakan wilayah yang rentan terkena dampak bencana banjir rob. Hampir setiap bulan wilayah tersebut tergenang akibat pasang air laut. Peristiwa banjir rob yang paling diingat publik adalah saat terjadi menjelang gerhana bulan tanggal 31 Januari 2018. Peringatan dini informasi banjir rob perlu dibuat dengan tingkat akurasi tinggi dan dalam bentuk yang mudah dipahami masyarakat untuk kepentingan mitigasi. Tipe pasang surut (pasut) di Pesisir Semarang perlu diidentifikasi untuk mengetahui kecenderungan waktu kejadian banjir rob. Model Hidrodinamika Mike 21 digunakan untuk mengolah data pengamatan pasut sepanjang tahun 2017 menjadi informasi prakiraan pasut sepanjang bulan Januari 2018. Nilai akurasi prakiraan pasut Mike 21 diukur dengan Root Mean Square Error (RMSE), serta dibandingkan dengan keakurasian prakiraan pasut dari Pushidrosal (Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut) dan BIG (Badan Informasi Geospasial). Hasil prakiraan pasut terbaik selanjutnya diolah pada aplikasi ArcGIS, dengan mengambil nilai prakiraan pasang tertinggi pada hari kejadian sebagai data input untuk pembuatan peta luas genangan banjir rob. Puncak kejadian banjir rob cenderung terjadi pada pukul 06.00 WIB dan 17.00 WIB, yang mana berdasarkan hasil identifikasi di Pesisir Semarang termasuk tipe pasang surut harian ganda. Prakiraan pasut dari Mike 21 memiliki nilai RMSE terbaik. Nilai RMSE prakiraan pasut Mike 21, Pushidrosal dan BIG berturut-turut bernilai 10 cm, 30 cm dan 22 cm. Nilai pasut tertinggi baik model Mike 21 maupun hasil pengamatan terjadi pukul 20.00 WIB. Pemodelan nilai pasut tertinggi dari Mike21 sebesar 122 cm menghasilkan peta luas genangan banjir rob sebesar 1753.35 ha, sedangkan nilai pasang tertinggi hasil pengamatan sebesar 133 cm menghasilkan 185.31 ha lebih luas.
KAJIAN PERUBAHAN IKLIM DITINJAU DARI PENGARUH TINGKAT GDP PER KAPITA TERHADAP EMISI CO2 DI ASIA TENGGARA TAHUN 1980 – 2014
Nurbandi, Wahyu;
Astuti, Indinna Sofia
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (948.206 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v5i3.75
Perubahan iklim sebagai salah satu permasalahan global yang juga menjadi salah satu agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Perubahan iklim menjadi isu penting karena memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti perubahan pola musim, peningkatan kerawanan bencana alam, dan sebagainya. Perubahan iklim dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya peningkatan emisi CO2 dari permukaan bumi. Peningkatan emisi CO2 memicu penigkatan suhu permukaan bumi ynag berdampak pada perubahan iklim global. Peningkatan emisi CO2 sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia di permukaan bumi, seperti kegiatan industri dan transportasi yang juga terkait dengan aspek ekonomi. GDP per kapita sebagai salah aspek untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yang dapat menunjukkan sektor ekonomi domain dalam suatu negara. Pertumbuhan ekonomi ditinjau dari GDP per kapita dan perubahan iklim ditinjau dari emisi CO2 dimungkinkan memiliki keterkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara GDP per kapita dan emisi CO2 dengan studi kasus negara-negara di Asia Tenggara secara temporal tahun 1980?2014. Metode yang digunkan dalam penelitian ini berupa visualisasi spasio-temporal dan analisis statistik. Data GDP per kapita dan emisi CO2 divisualisasikan secara spasio-temporal menggunakan peta dan grafik. Digunakan scatter plot dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh GDP per kapita terhadap emisi CO2. Uji korelasi statistik Spearman?s correlation digunakan untuk mengetahui kekuatan korelasi GDP per kapita dan emisi CO2. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang kuat dengan nilai R2 sebesar 0,5319 antara GDP per kapita terhadap emisi CO2. Uji korelasi menunjukkan adanya nilai korelasi yang kuat dan bersifat positif sebesar 0,729. Dapat disimpulkan bahwa terhadap pengaruh dan korelasi kuat antara GDP per kapita dan emisi CO2, sehingga peningkatan GDP per kapita menyebabkan peningkatan nilai emisi CO2.
PRIORITAS ARAH PENEMPATAN TITIK PENGAMATAN KECEPATAN VERTIKAL DI KALIMANTAN MENGGUNAKAN ANALISIS ANISOTROPI
Ramadhan, Muhammad Gilang;
Putri, Ayuna Santika;
Kurniawan, Andang;
Irawan, Amir Mustofa
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (776.468 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v5i3.76
Keberadaan hutan sebagai paru-paru dunia berperan penting dalam menghasilkan gas oksigen. Pulau Kalimantan merupakan salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya yang mencapai 40,8 juta hektar. Namun, pada saat ini kualitas dan kuantitas hutan di Pulau Kalimantan mengalami penurunan drastis akibat adanya deforestasi dan kebakaran hutan. Kebakaran hutan di Pulau Kalimantan menjadi sorotan dunia karena persebaran asapnya menyebabkan polusi udara di berbagai wilayah Indonesia. Dampak dari persebaran asap kebakaran hutan dipengaruhi oleh kecepatan angin vertikal pada daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menambah bahan pertimbangan dalam menentukan titik pengamatan kecepatan vertikal angin di Pulau Kalimantan, sehingga dapat diketahui prioritas sebaran penempatan titik pengamatan yang dapat digunakan sebagai upaya mitigasi persebaran asap kebakaran hutan. Data kecepatan angin vertikal Pulau Kalimantan pada bulan Juni sampai Oktober mulai tahun 2008 ? 2017 disajikan dalam bentuk spasial. Analisis data angin tersebut menggunakan metode variogram permukaan dengan piranti lunak SAGA. Berdasarkan analisis anisotropi, diperoleh hasil bahwa pengamatan kecepatan vertikal angin di Pulau Kalimantan cenderung mempunyai prioritas arah Timur-Barat pada bulan Juni sampai Agustus, prioritas arah Tenggara-Barat Laut pada bulan September, dan prioritas arah Timur Laut-Barat Daya pada Bulan Oktober. Analisis dan pemodelan kecepatan angin vertikal pada Pulau Kalimantan secara umum mendapatkan pola dominan prioritas arah Timur-Barat, sehingga prioritas penempatan titik pengamatan kecepatan vertikal pada Pulau Kalimantan efektif jika membentuk pola oval yang memanjang dari Utara ke Selatan.
MODEL KECEPATAN 1-D GELOMBANG P DAN GELOMBANG S DARI DATA HASIL RELOKASI HIPOSENTER DI WILAYAH GUNUNG SINABUNG
Arimuko, Abraham;
Persada, Yoga Dharma;
Subakti, Hendri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 5 No 3 (2018): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (773.571 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v5i3.77
Gunung Sinabung merupakan gunung yang aktif kembali setelah tidak beraktifitas (dorman) selama lebih dari 400 tahun. Gunung Sinabung sampai saat ini melakukan aktivitas vulkanik. Hal itu membuat masyarakat di sekitar lereng Gunung Sinabung berwaspada. Salah satu aktivitas vulakanik tersebut adalah gempa vulkanik. Penelitian ini bertujuan merelokasi hiposenter untuk mendapatkan model kecepatan 1-D gelombang P dan gelombang S di Gunung Sinabung yang dapat digunakan sebagai data acuan kondisi bawah permukaan. Penelitian ini menggunakan input data magnitudo, parameter hiposenter, serta waktu jalar gelombang P dan gelombang S. Data ini diperoleh dari BMKG EQ (Earthquakes) Repository. Kejadian gempa bumi yang digunakan pada rentang waktu 1 Januari 2017 sampai 28 Februari 2017 dan pada koordinat 3,0931 LU-3,3543 LU dan 98,2928 BT-98,6202 BT. Pada pengolahan ini juga menggunakan parameter letak stasiun (sensor). Data tersebut direlokasi menggunakan software VELEST 3.3 dengan model kecepatan global IASP91 sebagai model kecepatan awal. Hasil dari relokasi tersebut adalah koreksi letak stasiun (sensor), parameter hiposenter akhir, waktu jalar gelombang seismik, dan model kecepatan 1-D gelombang P dan gelombang S. Hasil yang didapatkan untuk model kecepatan 1-D gelombang P pada kedalaman 0 km sebesar 5.58 km/s dan untuk kedalaman 210 km, lapisan terdalam pada pengolahan data ini, sebesar 8.30 km/s.
PREDIKSI INTENSITAS CURAH HUJAN MENGGUNAKAN PRODUK NOWCASTING RTR DIBANDINGKAN DENGAN PRODUK ESTIMASI CURAH HUJAN SRI PADA KEJADIAN BANJIR DI PALEMBANG TANGGAL 12 – 13 NOVEMBER 2018
Hidayat, Anistia M;
Aofany, Diar;
Arfianti, Dinda R;
Nugraheni, Imma Redha;
Ali, Abdullah
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1658.28 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.109
Palembang merupakan salah satu wilayah rawan terdampak banjir di Indonesia. Sebanyak 24 kasus banjir terjadi selama kurun waktu 2017?2018 dan memiliki kecenderungan untuk terus meningkat sepanjang tahun terhitung sejak 1972. Merujuk pada latar belakang tersebut, penelitian ini memanfaatkan produk Rain Tracking (RTR) untuk estimasi intensitas dan distribusi spasial curah hujan secara nowcasting. Laporan sinoptik Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menunjukkan bahwa hujan yang sangat lebat terjadi dalam rentang waktu 14.00 ? 18.00 UTC tanggal 12 November 2018. Analisis produk CAPPI dan SSA menunjukkan adanya pola sebaran awan konvektif dengan nilai reflectivity maksimum pada inti badai mencapai 58 dBZ menyebar di atas lokasi penelitian pada pukul 16.10 UTC dan dikategorikan sebagai fase matang awan badai. Berdasarkan analisis MLVCUT (dBZ), nilai reflectivity maksimum pada fase matang awan badai adalah 48 dBZ dengan tinggi puncak awan mencapai 6,15 km. Pada waktu yang sama, analisis VVP menunjukkan adanya pola updraft kuat mencapai 9,25 m/s dan downdraft yang kuat mencapai ?8,27 m/s. Hasil prediksi dengan produk Rain Tracking (RTR) menunjukkan nilai intensitas curah hujan yang cenderung lebih mendekati hasil pengukuran curah hujan sebenarnya menggunakan ARG, dengan selisih nilai absolut berkisar antara 1,24 ? 14,76 mm/jam. Sementara selisih nilai absolut intensitas curah hujan antara produk SRI dan ARG dalam periode waktu yang sama menunjukkan penyimpangan yang lebih besar, yaitu 0,92 ? 24,53 mm/jam.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI DONGGALA TAHUN 2018 MENGGUNAKAN METODE HYPORELOCATE
Kurniawan, Sigit Eko;
Saputri, Febriani
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1738.721 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.110
Pada Jumat, 28 September 2018, pukul 17.02.44 WIB terjadi gempabumi yang berpotensi tsunami di daerah Donggala. BMKG mengeluarkan parameter gempabumi dengan magnitudo 7.7, lokasi 0.18 LS dan 119.85BT atau 26 km dari Utara Donggala. Gempabumi dengan kedalaman 10 km tersebut terjadi dengan mekanisme sesar mendatar akibat aktivitas sesar Palu-Koro dan diikuti oleh ratusan gempabumi susulan. Sesar Palu-Koro melintang dari Selat Makasar sampai pantai utara Teluk Bone memotong jantung kota Palu hingga ke sungai Lariang, Donggala. Studi ini akan merelokasi hiposenter gempabumi Donggala beserta gempabumi pendahulu dan susulannya menggunakan metode hypoRelocate. Relokasi ini menggunakan waktu tempuh mutlak dari 599 gempabumi, beda waktu tempuh relatif dari 2.492 pasangan gempabumi dan waktu dari 11 tumpukan coda cross-correlogram untuk selanjutnya diinversi dengan simulated annealing. Metode ini memiliki kelebihan berupa berupa pengurangan ketergantungan hasil relokasi pada lokasi absolut katalog dengan menyisir waktu tempuh mutlak, pembatasan jarak relatif antargempabumi dengan menggunakan perbedaan waktu tempuh dan koreksi jarak antargempabumi berdasarkan tumpukan coda cross-correlogram. Hasil relokasi menunjukan episenter gempabumi lebih mengumpul atau terfokus daripada posisi awal dan membentuk kluster yang berwujud sebuah bidang dengan luas sekitar 250 km × 85 km. Sebagian besar episenter setelah direlokasi bergeser dengan jarak 15?20 km dan perubahan kedalaman gempabumi dominan kurang dari 10 km. Arah pergeseran episenter tersebar merata secara acak namun arah barat lebih sedikit dominan. Relokasi menggunakan hypoRelocate menunjukkan peningkatan kualitas yang cukup baik dengan turunnya nilai total residual setelah relokasi. Hasil validasi relokasi hypoRelocate dengan peta citra satelit ALOS-2 mode ScanSAR dan ALOS-2 PALSAR-2 menunjukan bahwa hasil relokasi berada pada bidang sesar akibat gempabumi.
DINAMIKA SUHU PERMUKAAN DAN KERAPATAN VEGETASI DI KOTA CIREBON
Dede, Moh;
Pramulatsih, Galuh Putri;
Widiawaty, Millary Agung;
Ramadhan, Yanuar Rizky Rizky;
Ati, Amniar
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (919.758 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.111
Peningkatan suhu udara merupakan dampak dari pemanasan global serta berkurangnya vegetasi. Pada kawasan perkotaan, peningkatan suhu udara secara signifikan dapat memunculkan fenomena urban heat island yang dalam jangka panjang mampu mengubah iklim mikro. Estimasi suhu permukaan dan kerapatan vegetasi diperoleh dari data satelit penginderaan jauh secara multi-temporal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika suhu permukaan dan kerapatan vegetasi di Kota Cirebon. Penelitian ini memanfaatkan data citra Landsat-5 TM dan Landsat-8 OLI yang divalidasi dengan data MODIS pada periode tahun 1998, 2008, serta 2018. Nilai suhu permukaan diekstraksi dengan radiative transfer equation, sedangkan informasi kerapatan vegetasi diperoleh dengan normalized difference vegetation index (NDVI). Interaksi antara suhu permukaan dan kerapatan vegetasi diketahui melalui analisis korelasi spasial. Sepanjang tahun 1998 hingga 2018 terjadi peningkatan suhu permukaan sebesar 1.18 oC yang disertai dengan menurunnya area bervegetasi rapat hingga 12.683 km2. Penelitian ini juga menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara suhu permukaan dan kerapatan vegetasi di Kota Cirebon. Suhu permukaan tertinggi terpusat pada CBD, pelabuhan, area rawan kemacetan, kawasan industri, dan terminal. Berdasarkan kajian ini, upaya menanggulangi suhu permukaan di Kota Cirebon perlu ditangani melalui penyediaan ruang terbuka hijau, green belt, maupun reforestrasi.
KAJIAN ATMOSFER SAAT MCC (MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX) DI PAPUA BARAT (STUDI KASUS 14 AGUSTUS 2017)
Wulandari, Ayu Vista;
Swastiko, Wishnu Agum;
Silitonga, Andreas Kurniawan;
Hariadi, Hariadi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (622.22 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.112
Mesoscale Convective Complex (MCC) merupakan salah satu jenis dari Mesoscale Convective System (MCS). MCC membentuk sistem awan badai yang luas akibat dari banyaknya sel tunggal awan Cumulunimbus yang berkumpul dan tumbuh sehingga disebut gugusan awan konvektif berskala meso. Pada 14 Agustus 2017 terbentuk MCC di wilayah Papua Barat dengan masa hidup dari pukul 14.00 hingga 19.00 UTC. Fenomena MCC tersebut menghasilkan hujan yang berlangsung cukup lama dan bersifat terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi atmosfer saat terjadinya MCC di Papua Barat pada 14 Agustus 2017. Kajian ini menggunakan data reanalysis dari ECMWF berupa parameter komponen angin meridional dan zonal, vortisitas, dan kelembaban udara. Selain itu, juga perlu dikaji dengan menggunakan citra satelit Himawari 8 dan data Radiosonde. Dari komponen angin meridional dan zonal pada pukul 06.00-24.00 UTC terdapat angin yang cukup kencang di Papua Barat dengan arah pergerakan ke barat laut hingga utara. Berdasarkan kajian sementara, nilai vortisitas lapisan 500 mb pada pukul 06.00-24.00 UTC bernilai negatif yang mengindikasikan adanya sirkulasi siklonik pada troposfer bagian tengah. Kondisi tersebut didukung dengan nilai kelembaban udara yang berkisar antara 70-100% yang menunjukkan kondisi lapisan pada saat kejadian relatif basah. Pada citra satelit Himawari menunjukkan adanya gugusan awan Cumulonimbus dengan suhu puncak -80 0C dan berdiameter sekitar 200 km, yang bercampur dengan awan jenis lain. Sehingga, MCC tersebut tergolong pada MCS kategori beta.
ANALISA HARMONIK PASANG SURUT DENGAN METODE ADMIRALTY PADA STASIUN BERJARAK KURANG DARI 50 KM
Fitriana, Dina;
Oktaviani, Nadya;
Khasanah, Isna Uswatun
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (729.501 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.113
Pasang surut laut merupakan sebuah fenomena naik dan turunnya permukaan air laut di bumi akibat pengaruh gravitasi benda luar angkasa, terutama matahari dan bulan. Pengamatan pasang surut laut sangat penting dalam penentuan referensi vertikal, untuk menyatukan data-data pengukuran di laut dan di daratan agar dapat diterjemahkan dalam satu kesatuan sistem pemetaan. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas laut 3,25 juta km2 dari 7,81 juta km2 total luas wilayah Indonesia, sudah seharusnya memiliki stasiun pasang surut yang tersebar merata di seluruh Indonesia. Penempatan stasiun tersebut juga harus tepat lokasi karena setiap perairan memiliki karateristik tersendiri. Badan Informasi Geospasial (BIG) mengelola 138 stasiun pasang surut (pasut) yang terdistribusi di seluruh wilayah Indonesia. Stasiun pasut tersebut pada umumnya ditempatkan di dermaga/pelabuhan, sehingga jarak antar staisun pasang surut menyesuaikan ketersediaan dermaga yang ada. Pada penelitian ini dilakukan analisa harmonik pasut dengan metode admiralty pada stasiun pasut BIG yang jarak antar stasiunnya kurang dari 50 km, disumsikan tipe pasut di lokasi yang berdekatan tersebut sama. Lokasi penelitian adalah stasiun pasut Ulee Lhue dibandingkan dengan stasiun pasut Malahayati, stasiun pasut Pel. Ciwandan dibandingkan dengan stasiun pasut Serang, stasiun pasut Sunda Kelapa dibandingkan dengan Pondok Dayung, dan stasiun pasut Pameungpeuk dibandingkan dengan stasiun pasut Pamayangsari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasut dilokasi yang dibandingkan tersebut memiliki karakteristik yang sama.