Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Articles
107 Documents
ANALISIS PENENTUAN ZONASI PEMUKIMAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS: STUDI KASUS KECAMATAN GEDANGSARI, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Khafid, Mohammad Abdul
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (967.002 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.114
Indonesia merupakan negara yang sering terjadi bencana hidrometeorologi di antaranya adalah tanah longsor. Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, termasuk kabupaten yang sangat tinggi berpotensi terjadinya tanah longsor. Hal ini di buktikan dengan banyaknya kejadian gerakan massa tanah ataupun batuan terutama saat musim hujan dan telah menimbulkan kerusakan fisik atau bahkan sampai dengan korban jiwa. Gedangsari Terletak pada ketinggiam 120 ? 800 mdpl dengan kemiringan lereng datar ? sangat curam yang memungkinkan terjadinya bencana longsor. Perlunya dilakukan penyidikan awal untuk memetakan daerah potensi rawan longsor sehingga dapat menentukan pula daerah pemukiman rawan longsor, selanjutnya dapat menjadi rujukan dalam penataan wilayah dan penyiapan mitigasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pembobotan dengan parameter, berupa: data kelerengan, data curah hujan, data zona aktif struktur, data jenis batuan, dan data penggunaan lahan yang nantinya diolah menggunakan perangkat lunak Arc.GIS 10.2. Hasil dari peta potensi longsor ini selanjutnya dianalisis dengan peta pemukiman penduduk, sehingga menghasilkan peta zonasi pemukiman rawan longsor. Dengan hasil ini diharapkan dapat membantu pemerintah untuk melakukan penanganan bencana tanah longsor lebih cepat, sehingga dampak yang ditimbulkan nantinya tidak mengakibatkan kerugian yang besar dan dapat juga di gunakan sebagai perencanaan pembangunan wilayah.
STUDI KEJADIAN MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX (MCC) DI WILAYAH PAPUA BAGIAN SELATAN PADA 9-10 MEI 2018
Perdana, Ilham Fajar Putra;
Rismana, Yosza Indra;
Prasetya, Ferdian Adhy;
Mulsandi, Adi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1531.24 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.115
Mesoscale Convective Complex (MCC) pertama kali diperkenalkan oleh Maddox pada tahun 1980. MCC merupakan salah satu jenis Mesoscale Convective System (MCS) yang memiliki ukuran lebih dari 100.000 km2 dan waktu hidup lebih dari 6 jam yang dapat menghasilkan cuaca buruk dan curah hujan yang berkelanjutan. Pada tanggal 9 Mei 2018, sebuah MCC tumbuh di wilayah Papua bagian selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan MCC, kondisi atmosfer, dan distribusi curah hujan di sekitar wilayah Papua bagian selatan. Hasil citra satelit kanal infrared (IR) menunjukkan bahwa MCC yang ada tumbuh hingga mencapai luasan > 300.000 km2 dengan waktu hidup selama 14 jam. Distribusi curah hujan citra Global Satellite Mapping (GSMaP) menunjukkan adanya daerah hujan sepanjang 800 km dengan intensitas curah hujan yang beragam hingga mencapai 40 mm/jam. Analisis kondisi atmosfer juga dilakukan terhadap parameter angin, kelembapan relatif, divergensi, dan vertical velocity dari data model European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF). Berdasarkan hasil analisis secara deskriptif, konvergensi terjadi di wilayah Papua bagian selatan pada troposfer bagian bawah pada saat fase pertumbuhan MCC yang disertai dengan kondisi kelembapan udara yang tinggi di lapisan 850 hPa. Deret waktu nilai vertical velocity juga menggambarkan adanya proses pertumbuhan dan peluruhan MCC di wilayah Papua bagian selatan pada 9-10 Mei 2018.
ESTIMASI STOK KARBON MENGGUNAKAN SPEKTRAL BAND 6 CITRA LANDSAT 8 PADA KAWASAN MANGROVE DI SUNGAI TALLO, KOTA MAKASSAR SULAWESI SELATAN TAHUN 2018
Budiman, Agung Sandi
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (923.885 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i1.116
Kota Makassar merupakan salah satu kota dataran rendah di Indonesia dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter di atas permukaan laut yang banyak ditumbuhi oleh tanaman mangrove di salah satu sungai nya yaitu Sungai Tallo. Tanaman mangrove yang tumbuh didaerah tersebut dapat dipergunakan untuk menduga nilai estimasi stok karbon melalui biomassanya, namun hal ini masih belum banyak dilakukan lantaran lokasinya yang jauh terutama untuk para peneliti dari luar Kota Makassar sehingga dana yang diperlukan untuk melakukan pengamatan langsung ini pun menjadi lebih besar. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan dengan maksud memanfaatkan Sistem Informasi Geografi dan citra Landsat 8 untuk dapat mengetahui nilai estimasi stok karbon menggunakan spectral band 6 citra satelit Landsat 8 dengan biomassa pada kawasan mangrove di Sungai Tallo Kota Makassar Sulawesi Selatan pada tahun 2018 tanpa perlu datang ke lokasi nya langsung. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi citra satelit Landsat 8 Kota Makassar yang diperoleh dari website earthexplorer.usgs.gov , data tutupan lahan tahun 2016, dan data shp wilayah Kota Makassar. Nilai estmasi potensi biomassa didapat dengan persamaan hasil regresi di kawasan mangrove di Sungai Tallo Makassar dengan nilai maksimumnya sebesar 1115.40 ton/ha dan nilai minimumnya 168.65 ton/ha dengan nilai estimasi stok karbon diperoleh dari 46% dari biomassa sehingga diperolehlah nilai estimasi stok karbon maksimumnya sebesar 513.08 ton/ha dan minimumnya sebesar 77.57 ton/ha.
KAJIAN PERTUMBUHAN AWAN HUJAN PADA SAAT BANJIR BANDANG BERBASIS CITRA SATELIT DAN CITRA RADAR (STUDI KASUS : PADANG, 2 NOVEMBER 2018)
Al Habib, Abdul Hamid;
Pradana, Yoga Wahyu;
Pangestu, Dany;
Winarso, Paulus Agus;
Sujana, Jusa
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (983.352 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.117
Banjir besar kembali melanda enam kecamatan di kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 2 November 2018. Banjir terjadi disebabkan oleh debit sungai yang meluap akibat hujan sangat lebat yang terjadi di bagian hulu dan hilir. Dampak banjir bandang tersebut mengakibatkan 600 rumah terendam banjir, 3 jembatan putus dan menelan korban jiwa. Karena dampak tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk meninjau kondisi suhu permukaan laut, mean sea level pressure, nilai transport uap air, streamline, data citra satelit Himawari-8 dan data citra radar cuaca C-Band. Data diolah dalam bentuk grafik dan peta spasial kemudian dilakukan analisis deskriptif yang meliputi analisis temporal dan analisis spasial. Berdasarkan hasil analisis hujan sangat lebat yang terjadi di wilayah Padang dipicu oleh gangguan cuaca skala regional berupa adanya pola shearline atau komponen zona arah lintasan angin yang mengalami perubahan secara tiba-tiba yang sejajar dengan angin horizontal dan daerah tekanan rendah yang menimbulkan konvergensi di pesisir kota Padang, kemudian nilai transport uap air yang cukup tinggi yaitu kisaran antara 700-1100 Kg/ms-1 pada lapisan 1000-300 mb. Terjadinya hujan lebat seringkali terkait dengan keberadaan awan Cumulonimbus (Cb). Hal ini dikarenakan karakteristik awan Cb dengan dimensi yang besar serta mengandung banyak partikel presipitasi seperti air dan kristal es. Kondisi ini didukung dengan keberadaan awan Cb berdasarkan analisis time series citra satelit Himawari-8 dan nilai reflektifitas radar berada pada nilai 45-60 dBz. Pada tanggal 2 November 2018, hampir seluruh awan hujan yang muncul mempunyai ketebalan lebih dari 7 km, dimana suhu puncak awan terendah mencapai nilai -72.5°C.
POTENSI PANAS LAUT SEBAGAI ENERGI BARU TERBARUKAN DI PERAIRAN PAPUA BARAT DENGAN METODE OCEAN THERMAL ENERGY CONVERSION (OTEC)
Aprilia, Erlita;
Aini, Althaf;
Frakusya, Ayu;
Safril, Agus
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1178.049 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.118
Energi listrik merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam keberlangsungan kehidupan manusia. Kebutuhan akan energi listrik yang semakin meningkat dari waktu ke waktu memerlukan inovasi baru untuk menghasilkan energi listrik yang ramah lingkungan. Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) adalah metode untuk menghasilkan energi listrik menggunakan prinsip perbedaan temperatur antara laut dalam dan permukaan dengan selisih temperatur minimal sebesar 20C untuk menjalankan mesin kalor. Papua Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan elektrifikasi yang masih rendah. Letak Indonesia yang berada di wilayah tropis dengan perbedaan suhu air laut yang tinggi memiliki potensi untuk memanfaatkan metode OTEC dalam menghasilkan energi listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemanfaatan OTEC di perairan sekitar Papua Barat. Data yang digunakan adalah data suhu air laut dalam dan permukaan periode tahun 1955 ? 2012 di dua belas titik di perairan sekitar Papua Barat. Data tersebut diperoleh dari World Ocean Atlas 2013 yang kemudian diolah menggunakan perangkat lunak olah data dan Ocean Data View (ODV). Hasil olah data didapatkan nilai efisiensi terbesar yaitu 7,67% dan terkecil yaitu 7,21%.
PENENTUAN STRATIGRAFI KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) DI DAERAH RAWAN ABRASI KABUPATEN BENGKULU UTARA MENGGUNAKAN METODE MULTICHANNEL ANALYSIS OF SURFACE WAVE (MASW)
Refrizon, Refrizon;
Sugianto, Nanang;
Bernard, Admo
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (864.33 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.119
Struktur batuan bawah permukaan yang lemah diduga salah satu faktor penyebab tingginya laju abrasi di Kabupaten Bengkulu Utara. Struktur batuan bawah permukaan ini diestimasi berdasarkan analisis nilai kecepatan gelombang geser (Vs) dari pengukuran Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) di 20 titik sepanjang garis pantai. Nilai Vs diinterpretasikan berupa profil 1D dan 2D untuk menggambarkan struktur dan jenis material penyusun batuan di tiap kedalaman dan lapisan. Hasil analisis menunjukkan bahwa stratigrafi nilai Vs bawah permukaan di daerah rawan abrasi Bengkulu Utara terdiri tiga lapis batuan. Lapisan pertama dengan nilai Vs <180 m/s yang mengindikasikan didominasi oleh lempung lunak, lapisan kedua 180<Vs<360 m/s didominasi oleh tanah kaku dan lapisan ketiga 360< Vs <760 m/s mengindikasikan didominasi oleh tanah yang sangat padat dan batuan lunak. Material penyusun batuan terdiri dari endapan pasir, kerikil, lempung, dan alluvium yang tingkat kepadatannya rendah dan bervariasi tiap-tiap kedalaman. Tidak ditemukan adanya indikasi batuan keras hingga kedalaman 30 meter, hanya batuan berstruktur lunak yang sangat mudah retak dan rapuh. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur batuan bawah permukaan di daerah rawan abrasi Bengkulu Utara ini merupakan batuan berstruktur lemah yang rentan mengalami deformasi seperti crack, settlement, dan collapse seperti fenomena abrasi yang selama ini terjadi.
RANCANG BANGUN SOLAR TRACKER OTOMATIS PADA PENGISIAN ENERGI PANEL SURYA BEBASIS INTERNET OF THINGS
Syahab, Alfin Syarifuddin;
Romadhon, Hanif Cahyo;
Hakim, M. Luqman
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (919.887 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.120
Indonesia merupakan negara tropis yang mendapatkan pencahayaan sinar matahari optimum di permukaan bumi. Sementara kebutuhan energi listrik meningkat dikarenakan pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi. Hal ini menyebabkan adanya kebutuhan suatu energi alternatif. Salah satu inovasi untuk mendapatkan energi listrik adalah dengan cara memanfaatkan cahaya matahari menggunakan panel surya. Panel surya adalah alat yang mampu mengubah energi panas dari cahaya matahari menjadi energi listrik. Panel surya akan menerima daya sebesar intensitas cahaya matahari yang diterimanya dari pancaran cahaya matahari. Namun banyak dipasang secara tetap, sehingga daya yang terserap oleh panel surya menjadi tidak maksimum akibat penyerapannya yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu alat yang mampu menyerap pancaran cahaya matahari secara optimal dengan menggunakan sistem pelacak otomatis berbasis mikrokontroler 2560. Sistem pelacak energi surya tersebut mampu menyerap energi listrik rata-rata sesaat 9.933 Watt, sedangkan energi rata-rata sesaat yang dihasilkan sistem panel surya statis adalah 0.8 Watt. Hasil monitoring tersebut dapat dilihat menggunakan sistem komunikasi berbasis internet secara realtime yang ditampilkan pada display web thingspeak.com dan aplikasi android virtuino.
PENGARUH PARAMETER METEOROLOGI TERHADAP KONSENTRASI CO2 DAN CH4 DI DKI JAKARTA
Agustina, Lisa;
Simanjuntak, Presli Panusunan;
Khoir, Aulia Nisa?ul
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1053.247 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.121
DKI Jakarta merupakan pusat dari pemerintahan dan ekonomi di Indonesia. Pesatnya aktivitas penduduknya tentu saja menyebabkan adanya polutan penyebab pencemaran udara, dimana beberapa parameternya adalah CO2 dan CH4. Meningkatnya jumlah polutan tersebut akan membahayakan lingkungan terutama kesehatan manusia serta dapat menjadi gas rumah kaca di atmosfer dengan masa hidup panjang, terutama CO2. Tinjauan terhadap parameter meteorologi sangat penting, karena mempengaruhi tingkat konsentrasi CO2 dan CH4 di atmosfer. Oleh sebab itu, perlu dilakukan analisis keterkaitan antara parameter meteorologi dengan konsentrasi CO2 dan CH4 di DKI Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistika deskriptif untuk melihat sebaran secara temporal dari polutan CO2 dan CH4 terhadap waktu dan hubungannya dengan parameter meteorologi (suhu, kelembaban, curah hujan dan kecepatan angin). Lokasi pengamatan terletak di BMKG Pusat yaitu Kemayoran. Periode data yang digunakan adalah 2008-2017. Hasil pengolahan data menunjukkan konsentrasi CO2 tertinggi pada periode MAM dan terendah pada periode JJA. Konsentrasi CH4 tertinggi pada periode DJF dan terendah pada periode JJA. Stabilitas atmosfer yang tinggi dan kecepatan angin yang rendah serta tidak sedikit curah hujan menyebabkan konsentrasi CO2 dan CH4 tinggi di lokasi pengamatan. Perhitungan statistika deskriptif memerlihatkan adanya pengaruh dari musiman dalam menghasilkan rata-rata konsentrasi polutan. Kecepatan angin menyebabkan penurunan konsentrasi CO2 sebanyak 83%, dan 17% lainnya disebabkan oleh faktor lain. Faktor curah hujan sebesar 45% mempengaruhi penurunan konsentrasi CH4 di Kemayoran. Sebesar 45% faktor kelembapan juga mempengaruhi konsentrasi CH4. Jadi kenaikan konsentrasi CH4 dipengaruhi oleh faktor curah hujan dan kelembapan, dan lainnya dipengaruhi faktor lain. Penurunan konsentrasi CH4 dipengaruhi kecepatan angin sebesar 44%, dan sebesar 56% disebabkan oleh faktor lainnya
KAJIAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT DAN TINGGI GENANGAN (ROB) PADA TAHUN 2023, 2028, DAN 2033 DI KOTA SAUMLAKI, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT
Ginanjar, Satria;
Putri, Christianti Kartika;
Nurhakim, Rizkyan
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (629.782 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.122
Kota Saumlaki berlokasi di Kabupaten Maluku Tenggara Barat tepatnya pada Pulau Yamdena. Kota ini terletak pada wilayah pesisir yang menjadikannya bersentuhan langsung dengan kondisi eksternal seperti pasang surut. Adapun subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang terletak di sebelah Barat Laut Saumlaki menjadikannya semakin rentan terhadap perubahan muka air laut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar kenaikan muka air laut berdasarkan analisis data pasang surut tahun 2014-2018 dan memprediksi tinggi genangan yang akan menutupi pantai pada 2023, 2028 dan 2033. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif bersifat studi kasus. Penelitian ini menggunakan data pasang surut wilayah Saumlaki yang didapat dari Badan Informasi Geospasial (BIG) yang kemudian diolah untuk mendapatkan nilai MSL (Mean Sea Level) bulanan dan tahunan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diketahui laju kenaikan muka air laut Kota Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah 3,75cm/tahun dan termasuk ke dalam tipe pasang surut campuran condong ke harian ganda (Mixed Semi-Diurnal) dengan bilangan Formzahl pada 2018 = 0,602, nilai MSL = 383cm; nilai LLWL = 226,4cm; nilai HHWL = 541cm; nilai ZO = 314cm. Prediksi tinggi genangan di Kota Saumlaki, Maluku Tenggara Barat pada 2023 = 175,75cm; pada 2028 = 194,5cm; dan pada 2033 = 213,25cm.
ANALISIS PENGARUH MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI WILAYAH NGURAH RAI
Pattipeilohy, Wendel Jan;
B, Femmy Marsitha;
Asri, Devina Putri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (778.2 KB)
|
DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.123
Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan suatu gelombang atau osilasi non seasonal yang terjadi di lapisan troposfer yang bergerak dari barat ke timur dengan periode osilasi kurang lebih 30-60 hari. Fenomena ini sangat berdampak terhadap kondisi anomali curah hujan pada suatu wilayah yang dilaluinya. Dalam penelitian ini delapan fase MJO dikelompokan menjadi 4 bagian sesuai dengan pergerakannya yaitu fase 1 dan 8 (Western and Africa), fase 2 dan 3 (Indian Ocean), fase 4 dan 5 (Maritime Continent), fase 6 dan 7 (Western Pacific). Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data curah hujan periode 1996-2015 dan data MJO periode yang sama. Lokasi penelitian yaitu wilayah Ngurah Rai. Data curah hujan dihitung anomalinya lalu dipisahkan antara anomali positif dan negatif lalu disandingkan dengan fase MJO aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis porsentase kelompok fase MJO mana yang mendominasi anomali curah hujan pada saat anomali positif maupun negatif. Hasil kajian menunjukan persentase kejadian anomali curah hujan positif dominan terjadi saat fase MJO berada di Maritime Continent sebesar 36%. Kemudian persentase kejadian anomali curah hujan negatif dominan terjadi saat MJO berada pada fase Indian Ocean dengan porsentasi sebesar 33%.