cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 2 Juli 2024" : 20 Documents clear
Good Perinatal Outcome of Rhesus Incompatibility in Multigravida without Anti-D Injection Therapy: A Rare Case Report Husada, Abdillah; Lestari, Peby Maulina; Maritska, Ziske; Sari, Dian Puspita; Al Farisi Sutrisno, Muhammad; Stevanny, Bella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.668

Abstract

Introduction: Rhesus (Rh) incompatibility problem arises exclusively when an Rh-positive male impregnates an Rh-negative female, resulting in maternal Rh sensitization to produce anti-D antibodies that can bind and destroy Rh-positive erythrocytes of the fetus. Hemolytic disease of the neonate due to Rh incompatibility ranges from self-limited hemolytic anemia to severe hydrops fetalis. Rh incompatibility can be prevented by administering anti-D injection therapy containing Rh Intravenous Immunoglobulin (RhIVIG). We report a rare case of good perinatal outcome of rhesus incompatibility in multigravida without anti-D therapy injection due to weak D phenotype.Case Illustration: A gravida 3, para 2 woman at 27 weeks gestation with Rh-negative blood type, who has not experienced any previous compatibility problems, came to our facility for routine antenatal care. The husband has an Rh-positive blood type with a Dd genotype (heterozygous), suggesting a 50% probability that the offspring will have an Rh-positive blood type. Laboratory results showed a negative Coombs test and weak D phenotype. The patient had never received an anti-D therapy injection in this pregnancy and her previous two pregnancies. None of her children developed hemolytic disease in the neonate. Ultrasonography showed a well-developed 27-week gestational age fetus with no major congenital disorders. The good perinatal outcomes of her children might be due to weak D phenotype. Pregnant women with weak D phenotype have fewer D antigens that can still result in Rh sensitization but not enough to cause serious complications to the fetus. Conclusion: Rhesus incompatibility with weak D phenotype can have good perinatal outcomes without anti-D injection therapy. Administration of Anti-D injection remains a viable option to prevent subsequent Rh alloimmunization.Inkompatibilitas Rhesus pada Multigravida dengan Luaran Perinatal Baik tanpa Terapi Injeksi Anti-D: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Masalah inkompatibilitas Rhesus (Rh) muncul secara eksklusif pada ayah Rh-positif dan ibu Rh-negatif, sehingga terjadi sensitisasi Rh ibu untuk menghasilkan antibodi anti-D yang dapat mengikat dan menghancurkan eritrosit janin yang Rh-positif. Penyakit hemolitik pada neonatus akibat ketidakcocokan Rh dapat berupa anemia hemolitik yang bisa sembuh sendiri hingga hidrops fetalis berat. Inkompatibilitas Rh dapat dicegah dengan pemberian terapi injeksi anti-D yang mengandung Rh Intravenous Immunoglobulin (RhIVIG). Kami melaporkan kasus langka dengan hasil perinatal yang baik inkompatibilitas rhesus pada multigravida tanpa injeksi terapi anti-D akibat fenotip D yang lemah.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita gravida 3, para 2 pada usia kehamilan 27 minggu dengan golongan darah Rh-negatif, yang sebelumnya tidak mengalami masalah kompatibilitas, datang ke fasilitas kami untuk pemeriksaan antenatal rutin. Suami mempunyai golongan darah Rh-positif dengan genotipe Dd (heterozigot), sehingga kemungkinan keturunannya mempunyai golongan darah Rh-positif sebesar 50%. Hasil laboratorium menunjukkan tes Coombs negatif dan fenotipe D lemah. Pasien belum pernah menerima suntikan terapi anti-D pada kehamilan ini dan dua kehamilan sebelumnya. Semua anaknya tidak menderita penyakit hemolitik pada neonatus. Hasil USG menunjukkan janin usia kehamilan 27 minggu berkembang baik tanpa cacat bawaan mayor. Hasil perinatal yang baik mungkin disebabkan oleh lemahnya fenotip D. Ibu hamil dengan fenotip D yang lemah memiliki antigen D yang lebih sedikit sehingga masih dapat menyebabkan sensitisasi Rh, namun tidak cukup menyebabkan komplikasi serius pada janin.Kesimpulan: Inkompatibilitas rhesus dengan fenotip D lemah dapat memberikan outcome perinatal yang baik tanpa terapi injeksi anti-D. Injeksi Anti-D tetap dapat diberikan untuk mencegah aloimunisasi Rh di kemudian hari.Kata kunci: Fenotip D lemah, Imunoglobulin Rh, Inkompatibilitas rhesus, Multigravida, Terapi injeksi anti-D
Neonatal Outcome in Relation to Cardiotocography Interpretation During Pregnancy Megantoro, Izzati Faustina; Pribadi, Adhi; Nurdiawan, Windi; Hidayat, Dini; Ritonga, Mulyanusa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.718

Abstract

Introduction: The aim of this study is to evaluate the interrelation between neonatal outcome (neonatal asphyxia status) and cardiotocography interpretation during pregnancy.Methods: This is an observational analytical study employing a cross-sectional approach involving patients delivering at Hasan Sadikin General Hospital in 2023. The inclusion criteria were patients who gave birth with cardiotocography interpretation and neonatal outcome recording at 32-37 weeks of gestation. The exclusion criteria were fetal with congenital anomalies and multiple pregnancy. This study utilized secondary data from patient case notes. This study employed non-probability consecutive sampling. Descriptive and analytical statistics were performed.Result: The result of this study indicates abnormal cardiotocography patterns are significantly associated with higher incidences of asphyxia (p=0.0001). No significant difference was found between incidence of asphyxia with the type of delivery and birth weight. There was also no significant difference between Cardiotocography category II and III based on the maternal and neonatal factors.Conclusion: This study concluded that the significant relationship between CTG results, and neonatal asphyxia underscores the importance of CTG monitoring in predicting and managing fetal distress.Luaran Neonatus berdasarkan Pemeriksaan Kardiotokografi pada KehamilanAbstrakPendahuluan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara hasil neonatal (status asfiksia neonatal) dan interpretasi kardiotokografi selama kehamilan.Metode: Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan pasien yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin pada tahun 2023. Kriteria inklusi adalah pasien yang melahirkan dengan interpretasi kardiotokografi dan pencatatan hasil neonatal pada usia kehamilan 32 – 37 minggu. Kriteria eksklusi adalah janin dengan anomali kongenital dan kehamilan ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari catatan kasus pasien. Penelitian ini menggunakan metode sampling konsekutif non-probabilitas. Statistik deskriptif dan analitik dilakukan.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola kardiotokografi abnormal secara signifikan terkait dengan insiden asfiksia yang lebih tinggi (p=0.0001). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara insiden asfiksia dengan jenis persalinan dan berat lahir. Tidak ada perbedaan signifikan antara kategori Kardiotokografi II dan III berdasarkan faktor maternal dan neonatal.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan signifikan antara hasil CTG dan asfiksia neonatal menekankan pentingnya pemantauan CTG dalam memprediksi dan mengelola distress janin.Kata kunci: Kardiotokografi, Neonatal, Distress janin, APGAR
Congenital Diaphragmatic Hernia Anomaly in Multigravida at 36 Weeks Gestation with One Previous Cesarean Section, Single Live Fetus, Cephalic Presentation: Case Report Putri, Asri Indriyani; Martadiansyah, Abarham; Bernolian, Nuswil; Al Farisi Sutrisno, Muhammad; Nisfita, Rizania Raudhah; Maharsi, Rahma
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.613

Abstract

Background: Case of a multigravida at 36 weeks of gestation with one previous cesarean section carrying a single fetus was diagnosed with diaphragmatic hernia. This case aims to address the challenges posed by this complex scenario of diaphragmatic hernia and the importance of specialized care to ensure optimal maternal and fetal outcomes.Case Report: Referred from Muhammadiyah Hospital Palembang, the patient at 36 weeks of gestation with G3P2A0 status present a single live fetus and was diagnosed with diaphragmatic hernia. Following prior midwife care where fetal heartbeats were not detected, the patient was referred to Dr. Mohammad Hoesin Central General Hospital Palembang. The management plan includes a one-week follow-up and folic acid, calcium carbonate, and iron supplementation.Discussion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) is a developmental defect causing diaphragmatic discontinuity, diagnosed prenatally with 40% to 90% accuracy via ultrasound. The treatment aims to minimize lung hypoplasia and reduce mortality, typically performed at 26-28 weeks for severe cases and 30-32 weeks for moderate ones. The optimal delivery timing for CDH remains controversial, with lung-to-head ratio as a widely used prognostic indicator.Conclusion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) exhibits lower survival rates on the right side (50% vs. 75%), with lung area to head circumference ratio (LHR) as a common prognostic parameter. Recent minimally invasive techniques like FETO aim to improve prognosis by reducing pulmonary hypoplasia and mortality.Laporan Kasus: Multigravida Hamil 36 Minggu Belum Inpartu Bekas Seksio Sesarea Satu Kali Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala Dengan Anomali Kongenital Hernia DiafragmatikAbstrakLatar Belakang: Kasus multigravida hamil 36 minggu dengan riwayat operasi caesar janin tunggal hidup yang didiagnosis hernia diafragma. Tujuan laporan kasus ini untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh skenario kompleks hernia diafragma dan menunjukkan pentingnya perawatan khusus untuk memastikan hasil akhir ibu dan janin yang optimal.Laporan Kasus: Pasien usia kehamilan 36 minggu dengan status G3P2A0 janin hidup tunggal dengan diagnosis hernia diafragma dirujuk dari RS Muhammadiyah Palembang setelah sebelumnya diperiksa oleh bidan dan tidak terdeteksi detak jantung janinnya sehingga memerlukan rujukan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Rencana penatalaksanaannya mencakup tindak lanjut selama satu minggu, bersamaan dengan suplementasi asam folat, kalsium karbonat, dan zat besi.Diskusi: Hernia diafragma kongenital (CDH) merupakan kelainan perkembangan yang menyebabkan diskontinuitas diafragma dan didiagnosis sebelum lahir dengan akurasi 40% hingga 90% melalui ultrasonografi. Tatalaksana bertujuan untuk meminimalkan hipoplasia paru-paru dan mengurangi angka kematian, biasanya dilakukan pada minggu ke 26 sampai 28 untuk kasus yang parah dan 30 - 32 minggu untuk kasus yang sedang. Waktu persalinan yang optimal untuk CDH masih kontroversial, dengan rasio paru-paru sebagai indikator prognosis yang banyak digunakan.Kesimpulan: Hernia diafragmatika kongenital (CDH) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah pada sisi kanan (50% vs. 75%), dengan rasio area paru terhadap lingkar kepala (LHR) sebagai parameter prognosis yang umum; teknik invasif minimal terkini bertujuan untuk meningkatkan prognosis dengan mengurangi hipoplasia paru dan kematian.Kata kunci: Hernia Diafragma Kongenital, Riwayat Operasi Caesar Sebelumnya, Multigravida 
The Relationship Between Body Mass Index And Anemia An Pregnancy At The Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru City Razali, Renardy Reza; Noviardi, Noviardi; Afdanil, Fitra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.702

Abstract

Introduction: Anemia during pregnancy is a health problem that can be detrimental to the mother and baby, such as premature birth, low birth weight, and even death in the mother. Inappropriate nutritional intake can cause health problems such as malnutrition which can increase risks in pregnancy such as low birth weight, premature birth, and anemia.Method: This study is a cross-sectional study of pregnancy in the first and third trimesters recorded at the Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru was conducted in February 2024.Results: This study was conducted with a total research sample of 106 pregnant women. Bivariate analysis showed the relationship between the incidence of anemia and gestational age showed a p-value <0.05. The relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women was found to be a p-value of 0.001, which indicates that there is a relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the Muara Fajar Community Health Center working area, Pekanbaru City. The variables age, BMI, level of knowledge, and income are the dominant variables in causing the incidence of anemia in pregnancy.Conclusion: Maternal nutritional status as assessed by BMI influences the incidence of anemia in pregnant women, especially in the third trimester.Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Anemia Pada Kehamilan di Puskesmas Muara Fajar, Kota PekanbaruAbstrakPendahuluan: Anemia selama kehamilan merupakan masalah kesehatan yang dapat merugikan ibu dan bayi seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga menyebabkan kematian pada ibu. Asupan gizi yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah kesehatan seperi malnutrition yang dapat meningkatkan risiko pada kehamilan seperti berat bayi lahir rendah kelahiran prematur dan anemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada ibu hamil trismester I dan III yang terdata di Puskesmas Muara Fajar Rumbai Kota Pekanbaru yang dilakukan pada bulan Februari 2024.Hasil: Penelitian ini dilakukan dengan total sampel penelitian berjumlah 106 orang ibu hamil. Analisis bivariate menunjukkan hubungan antara kejadian anemia dan usia kehamilan menunjukkan p-value < 0,05. Hubungan antara IMT dan kejadian anemia pada ibu hamil diperoleh p-value 0.001 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan IMT dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah Kerja Puskesmas Muara Fajar Kota Pekanbaru. Variabel usia, IMT, tingkat pengetahuan, dan penghasilan menjadi variabel yang dominan dalam mengakibatkan kejadian anemia pada kehamilan.Kesimpulan: Status gizi ibu yang dinilai dari IMT memengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil terutama pada trimester ke-III.Kata kunci: Kehamilan, Status Gizi, Indeks Massa Tubuh, Anemia 
Dengue Hemorrhagic Fever and its Effect on the Pregnancy Outcomes: A Case Series Farhanah, Aninda Yasmin; Siddiq, Amillia; Djuwantono, Tono; Adriansyah, Putri Nadhira Adinda
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.678

Abstract

Background: Dengue fever in pregnancy is associated with a more severe presentation and an increased risk of adverse obstetric and neonatal outcomes. We describe three cases of dengue fever in pregnancy with different fetal outcomes (intrauterine fetal death, fetal distress, and healthy neonate). Case Illustration: The first case involves a 23-year-old G1P0A0 at 31-32 weeks of gestation complaining of reduced fetal movement. She presented with a high-grade fever, anaemic, and thrombocytopenic. Her liver function was increased with AST 447 U/L and ALT 403 U/L. The fetal heart rate could not be detected. The second case involves a 26-year-old G3P2A0 at term pregnancy complaining of labor pain. She presented with vaginal bleeding, high-grade fever, and vomiting five days prior. Her liver function was also increased (AST 301 U/L and ALT 298 U/L). At presentation, fetal distress was detected. The third case involves a 19-year-old G2P1A0 presented with high-grade fever and nausea for five days. Her liver function was moderately increased (AST 68 U/L and ALT 76 U/L). She delivered a 3050-gram healthy neonate vaginally. Discussion: Dengue fever causes adverse obstetric outcomes. Endothelial injury exacerbated by plasma loss leads to placental dysfunction and poor fetal conditions. Unfortunately, dengue fever in pregnancy is not yet specifically addressed in our national guidelines. Conclusion: Increased severity of dengue fever in pregnancy may cause poor maternal and fetal outcomes.Demam Berdarah Dengue dan Dampaknya terhadap Luaran Kehamilan: Sebuah Serial KasusAbstrakPendahuluan: Demam berdarah dengue pada kehamilan terkait dengan tingkat keparahan penyakit dengue yang lebih berat dan meningkatnya risiko komplikasi obstetrik dan neonatus. Serial kasus ini menyajikan tiga kasus demam berdarah pada kehamilan dengan luaran janin yang berbeda (kematian janin intrauterine, gawat janin, dan neonatus sehat). Presentasi Kasus: Kasus pertama, G1P0A0 gravida 31 – 32 minggu, berusia 23 tahun, datang dengan keluhan utama berkurangnya gerakan janin. Keluhan demam, nyeri retro-orbital, mual, dan muntah dirasakan sejak 4 hari sebelumnya. Terdapat tanda konjungtiva anemis, trombositopenia, dan fungsi liver meningkat (AST 447 U/L dan ALT 403 U/L). Detak jantung janin tidak terdeteksi. Kasus kedua, G3P2A0 gravida aterm, 26 tahun, datang dengan keluhan mules-mules, perdarahan jalan lahir, demam, mual, dan muntah dirasakan sejak 5 hari sebelumnya. Pasien mengalami trombositopenia dan peningkatan fungsi liver (AST 301 U/L dan ALT 298 U/L). Pemeriksaan janin menunjukkan tanda gawat janin. Kasus ketiga, G2P1A0 gravida aterm, 19 tahun, datang dengan keluhan utama mules-mules. Keluhan demam dan mual dirasakan sejak 5 hari. Pemeriksaan menunjukkan trombositopenia dan fungsi liver sedikit meningkat (AST 68 U/L dan ALT 76 U/L). Pasien melahirkan neonatus sehat secara spontan dengan berat 3050 gram.Diskusi: Kebocoran plasma merupakan pencetus dari kerusakan endotel sehingga dapat mengakibatkan disfungsi plasenta dan kondisi janin memburuk. Namun, belum ada panduan resmi tatalaksana demam berdarah pada kehamilan di Indonesia.Kesimpulan: Meningkatnya tingkat keparahan demam berdarah pada kehamilan menyebabkan luaran maternal dan neonatus yang buruk.Kata kunci: Demam dengue, maternal, fetus, luaran, kehamilan
Comparison of Maternal and Perinatal Outcomes between Severe Preeclampsia without Complications and with HELLP Syndrome Riva, Salma Nisrina; Pribadi, Adhi; Siddiq, Amillia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.719

Abstract

Introduction: Maternal and perinatal outcomes in severe preeclampsia conditions, without or accompanied by HELLP syndrome, are variable. There is currently a lack of research data in Indonesia comparing maternal and perinatal outcomes in both conditions. This study compares pregnancy outcomes between severe preeclampsia with no complications and severe preeclampsia with HELLP syndrome.Methods: This study employs an observational analytical approach, utilizing a retrospective cross-sectional design. The samplings contain 92 patients from the medical records of patients who were diagnosed with preeclampsia without complications and severe preeclampsia with HELLP syndrome at Hasan Sadikin Hospital Bandung from January 2021 to December 2023.Results: It was found that maternal with HELLP syndrome are five times more at risk for eclampsia compared to maternal with preeclampsia without complications. Maternal who have severe preeclampsia accompanied by HELLP are two times more at risk of having labor under 34 weeks or preterm compared to maternal with preeclampsia without complications. Other outcomes, including maternal mortality, DIC, acute renal failure, pulmonary edema, antepartum hemorrhage, as well as perinatal mortality, FGR, IUFD, and perinatal asphyxia, did not show a statistically significant difference in proportion (p > 0.05).Conclusion: There is a relationship between maternal and perinatal outcomes in severe preeclampsia without complications or with HELLP syndrome.Perbandingan Luaran Maternal dan Perinatal antara Preeklamsia Berat Tanpa Penyulit dan dengan Sindrom HELLPAbstrakPendahuluan: Luaran maternal dan perinatal pada kondisi preeklamsia berat, tanpa dan dengan sindrom HELLP, tergolong bervariasi. Saat ini masih minim data penelitian di Indonesia yang membandingkan hasil luaran maternal dan perinatal pada kedua kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan luaran kehamilan antara preeklamsia berat tanpa komplikasi dan preeklamsia berat dengan Sindrom HELLP. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel penelitian ini adalah 92 pasien dari rekam medis pasien yang didiagnosis preeklamsia tanpa komplikasi dan preeklamsia berat dengan Sindrom HELLP di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari 2021 hingga Desember 2023.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan sindrom HELLP berisiko lima kali lebih besar untuk mengalami eklampsia dibandingkan dengan ibu dengan preeklampsia tanpa komplikasi. Ibu yang mengalami preeklampsia berat disertai HELLP berisiko dua kali lebih besar untuk mengalami persalinan di bawah 34 minggu atau prematur dibandingkan dengan ibu yang mengalami preeklampsia tanpa komplikasi. Luaran lain seperti kematian ibu, DIC, gagal ginjal akut, edema paru, perdarahan antepartum dan juga kematian perinatal, FGR, IUFD, asfiksia perinatal tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna secara statistik (p>0,05).Kesimpulan: Terdapat hubungan luaran maternal dan perinatal antara preeklamsia berat tanpa komplikasi atau dengan sindrom HELLP.Kata kunci: Luaran Maternal, Perinatal, Sindrom HELLP
Neutrophil- Lymphocyte Ratio (NLR) and Platelet- Lymphocyte Ratio (PLR) as Inflammatory Markers in Preterm Birth Izzah, Muthiah Nurul; Sumawan, Herman; Achmad, Eppy Darmadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.671

Abstract

Introduction: Preterm births make up roughly 16–18% of all live births in Indonesia. One of the factors that contribute to preterm birth is inflammation. The study aimed to assess the role of platelet/lymphocyte ratio (PLR) and neutrophil/lymphocyte ratio (NLR) as inflammatory markers in preterm birth. Method: This is a cross-sectional retrospective Study. Data were collected from medical records at Margono Soekarjo Hospital, January 2022-February 2023. The cohort comprised 150 participants with singleton pregnancies, ranging from 28 to less than 37 weeks of gestation, divided into three groups: preterm birth without preterm premature rupture of membranes (PPROM), preterm birth with PPROM, and threatened preterm labor (TPL). Multivariate ANOVA tests were employed for data analysis. Result: There was a statistically significant difference NLR values , notably in preterm births without PPROM compared to other groups (p value < 0.005), whereas the only difference noted in PLR values was noted between preterm births with and without PPROM. Our finding differs from that of previous studies, which indicated higher NLR values in preterm births with PPROM.Conclusion: NLR and PLR have the potential to be used as inflammatory markers indicative of heightened risk of preterm birth.Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) dan Rasio Platelet-Limfosit (RPL) sebagai Penanda Inflamasi pada Persalinan PrematurAbstrakPendahuluan: Angka kejadian persalinan prematur di Indonesia mencakup 16-18% dari semua kelahiran hidup. Inflamasi atau infeksi dianggap sebagai salah satu penyebab persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk menilai peran rasio trombosit/limfosit (PLR) dan rasio neutrofil/limfosit (NLR) sebagai penanda inflamasi pada kelahiran premature.Metode: Penelitian merupakan studi retrospektif cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis RSUD Margono Soekarjo periode Januari 2022 - Februari 2023. Didapatkan 150 pasien hamil tunggal dengan rentang usia kehamilan 28 hingga kurang dari 37 minggu yang terbagi dalam tiga kelompok: kelahiran prematur tanpa ketuban pecah dini (KPD), kelahiran prematur dengan KPD, dan ancaman persalinan prematur. Tes ANOVA multivariat digunakan untuk analisis data.Hasil: Terdapat perbedaan nilai NLR yang signifikan secara statistik, terutama pada kelahiran prematur tanpa KPD dibandingkan dengan kelompok lain (nilai p <0,005), sedangkan perbedaan nilai PLR hanya terdapat pada kelahiran prematur dengan dan tanpa KPD. Temuan kami berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan nilai NLR lebih tinggi pada kelahiran prematur dengan KPD.Kesimpulan: NLR dan PLR berpotensi digunakan sebagai penanda inflamasi yang mengindikasikan peningkatan risiko kelahiran prematur.Kata kunci: NLR, PLR, persalinan prematur
Effect of Vitamin D Supplementation in Women with Pelvic Floor Dysfunction: A Systematic Review Yanuaristi, Herdifitrianne Saintissa; Idhar, Syauqi Maulana; Rahman, Muhammad Nurhadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.641

Abstract

Objective: This review systematically analyzes and summarizes existing studies on the association between vitamin D supplementation and symptoms of Pelvic Floor Dysfunction (PFD) in women. Methods: We conducted a comprehensive literature search based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) Statements’ flow diagram for systematic review. Two independent reviewers searched five online databases using keywords to identify relevant studies from 2018-2023. Excluded were articles with populations other than women, case reports or case series, review papers, and studies that did not report vitamin D supplementation as a means of intervention in the study.Result: After identifying 2392 references, 13 studies were examined. Three studies explored the correlation between vitamin D supplementation and levator ani muscle strength, revealing a positive association. Results on vitamin D’s effect on urinary incontinence varied: five studies reported a negative correlation, while three showed significant improvement. Two studies indicated that vitamin D supplementation improved sexual function in the intervention group compared to the control group.Conclusion: Current evidence suggests that vitamin D supplementation is a potential strategy for the prevention and treatment of PFD in women, but relevant studies are severely available.Efek Suplementasi Vitamin D pada Wanita dengan Disfungsi Dasar Panggul: Tinjauan SistematikAbstrakTujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis studi yang ada dan meringkas data yang menunjukkan hubungan antara suplementasi vitamin D dan wanita dengan gejala disfungsi dasar panggul.Metode: Pada penelitian ini, dilakukan pencarian literatur yang komprehensif berdasarkan diagram alir Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) untuk tinjauan sistematis. Dua pengulas independen mencari lima basis data daring menggunakan kata kunci untuk mengidentifikasi studi yang relevan dari tahun 2018 – 2023. Artikel dengan populasi selain wanita, laporan kasus atau seri kasus, makalah ulasan, dan studi yang tidak melaporkan suplementasi vitamin D sebagai sarana intervensi dalam studi dikecualikan.Hasil: Setelah mengidentifikasi 2394 referensi dan 13 studi ditinjau. Tiga studi melaporkan korelasi antara suplementasi vitamin D dan kekuatan otot levator ani, mengungkapkan hubungan positif. Namun, hasil mengenai dampak vitamin D pada inkontinensia urin bervariasi: lima studi melaporkan korelasi negatif, sementara tiga menunjukkan perbaikan signifikan. Dua studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D meningkatkan fungsi seksual pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D merupakan strategi pencegahan dan pengobatan yang potensial untuk wanita dengan disfungsi dasar panggul, tetapi penelitiannya masih sangat terbatas.Kata kunci: Vitamin D, Disfungsi Dasar Panggul, Prolaps, Inkontinensia
Overview of Midwives’ Knowledge of Postpartum Bleeding to Reduce Maternal Mortality Rate In Working Area at Pelabuhan Ratu Hospital Apriliyani, Sinta Nur; Tjahja, Raden
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.705

Abstract

Introduction:The Maternal Mortality Rate indicator shows the level of risk of maternal death during pregnancy, childbirth, and the postpartum period per 100,000 live births in a given area over a certain period. According to the district health profile report, Maternal deaths in 2023 reached 792 cases or 96.89 per 100,000 live births, an increase of 114 cases compared to 2022 which recorded 678 cases. In 2022 Sukabumi district common causes of maternal death are hemorrhage 14 case and 7 case in 2023Methods:Study used a descriptive approach with a cross-sectional design involving 74 midwives. The sampling technique was random sampling. Data were obtained through the use of questionnaires that focused on the variable of knowledge about postpartum hemorrhage. Data analysis was performed using the univariate analysis method.Results:It was found of 74 midwives in the working arae of Pelabuhan Ratu Hospital, the majority were 31-35 years old (43.2%), had D3 Midwifery educational background (59.5%), and had 11-15 years of work experience (33.8%). In addition, 77% not attended PPGDON training. Most midwives (55.4%) had a good understanding of postpartum hemorrhage. Conclusion:The majority of midwives in working area at Pelabuhan Ratu Hospital have good knowledge about postpartum hemorrhage.Gambaran Pengetahuan Bidan tentang Perdarahan Pascapersalinan untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu di Wilayah Kerja RSUD Pelabuhan RatuAbstrakPendahuluan: Indikator Angka Kematian Ibu menunjukkan tingkat risiko kematian ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas per 100.000 kelahiran hidup di suatu wilayah selama periode tertentu. Berdasarkan laporan profil kesehatan daerah, kematian ibu pada tahun 2023 mencapai 792 kasus atau 96,89 per 100.000 kelahiran hidup, Hal ini meningkat 114 kasus dibandingkan tahun 2022 yang tercatat 678 kasus. Di Kabupaten Sukabumi tahun 2022 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 14 kasus dan tahun 2023 menjadi 7 kasus.Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 74 bidan. Teknik pengambilan sampelnya adalah random sampling. Data diperoleh melalui penggunaan kuesioner yang berfokus pada variabel pengetahuan tentang perdarahan postpartum. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis univariat.Hasil: Ditemukan dari 74 bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu, mayoritas berusia 31 – 35 (43,2%), berlatar belakang pendidikan D-3 Kebidanan (59,5%), dan memiliki pengalaman kerja 11 – 15 (33,8%). Selain itu, 77% tidak mengikuti pelatihan PPGDON. Sebagian besar bidan (55,4%) memiliki pemahaman yang baik mengenai perdarahan pascapersalinan. Kesimpulan: Mayoritas bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu memiliki pengetahuan yang baik tentang perdarahan postpartum.Kata kunci: Bidan, Perdarahan Pascapersalinan, Pelabuhan Ratu
Distinguishing Benign and Malignant Ovarian Tumors Preoperatively Adhipurnawan Winarno, Gatot Nyarumenteng
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.683

Abstract

Ovarian cancer ranks as the fifth leading cause of cancer-related mortality among women globally. In 2020, there were approximately 314,000 reported cases of new ovarian cancer patients, resulting in an estimated 207,000 deaths.1 The highest incidence rates were observed in non-Hispanic white women, with 12.0 cases per 100,000 individuals, followed by Hispanics (10.3 per 100,000), non-Hispanic blacks (9.4 per 100,000), and Asian/Pacific Islander women (9.2 per 100,000). Disparities in access to healthcare services and treatment modalities contribute to varied mortality patterns, with the highest rates recorded among African populations. In Indonesia, ovarian cancer ranks as the third most prevalent cancer, comprising 7.84% of total cancers diagnosed in women.1 The heightened mortality rate observed in ovarian cancer can be ascribed to several factors including asymptomatic tumor growth, delayed manifestation of symptoms, and inadequate screening methods, ultimately resulting in diagnoses at advanced stages. Consequently, ovarian cancer is frequently described as a “silent killer”.2 To address diagnostic delays and reduce mortality rates associated with ovarian cancer, early detection and differentiation between benign and malignant ovarian tumors are crucial. This requires a comprehensive assessment comprising patient history, physical examination, and supporting investigation.

Page 2 of 2 | Total Record : 20