cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Rising Adolescents Pregnancy Cases: An Additional Problem in Efforts to Reduce Maternal Mortality Rates Pribadi, Adhi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.998

Abstract

In the past three months, our institution have cared for 17 cases of pregnancies involving mothers under 20 years old. The youngest case involved a 14-year-old adolescent. These adolescent pregnancies are accompanied by various pregnancy pathologies, such as preterm birth, cephalopelvic disproportion, preeclampsia and eclampsia, mental disorders, and the potential for death for both the mother and the baby. In past decades, the majority of adolescent pregnancies were due to early marriage, while currently, unmarried pregnancies are on the rise. This is noteworthy, as it may be not only in Bandung and its surrounding areas but also throughout Indonesia and even globally. The increase in adolescent pregnancies results in the potential for maternal deaths, which are expected to increase in the future if this is not prevented and controlled properly.
Correlation of Cesarean Section and Curettage History with Placenta Previa at Limboto Regional Hospital Ayuwa, Amanda Auliya; Hidayat, Fadil
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.953

Abstract

Objective: To investigate the correlation of cesarean section and curettage history with placenta previa at Dr. M.M. Dunda Limboto Hospital.Methods: A cross-sectional analytical study was conducted from January to February 2025, involving 180 pregnant women with gestational age ≥28 weeks from records from 2022-2024. Data were collected through consecutive sampling from medical records. Chi-square analysis was performed using SPSS version 24.Result: Among women with a history of cesarean section, 8.3% (12/145) had placenta previa compared to 54.3% (19/35) without such a history (p<0.001; PR=0.152, 95% CI: 0.082-0.284). Similarly, only 2.9% (1/35) with a history of curettage had placenta previa compared to 20.7% (30/145) without a curettage history (p=0.012; PR=0.138, 95% CI: 0.019-0.978). These findings suggest apparent protective effects that contradict established literature.Conclusion: Although statistically significant associations were observed between surgical histories and placenta previa in unexpected directions, these probably reflect study artifacts rather than actual protective effects. Multivariate analysis will be crucial in future research to account for confounding variables.Hubungan Riwayat Sectio Caesarea dan Kuretase dengan Plasenta Previa di RSUD LimbotoAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara riwayat kuretase dan sectio caesarea dengan kejadian plasenta previa di RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto.Metode: Penelitian analitik potong lintang dilakukan pada Januari – Februari 2025, melibatkan 180 ibu hamil dengan usia kehamilan ≥28 minggu dari rekam medis 2022 – 2024. Data dikumpulkan melalui consecutive sampling. Analisis Chi-square dilakukan menggunakan SPSS ver 24. : Pada kelompok dengan riwayat sectio caesarea, 8,3% (12/145) mengalami plasenta previa dibandingkan 54,3% (19/35) tanpa riwayat tersebut (p<0,001; PR=0,152, 95% CI: 0,082-0,284). Demikian pula, hanya 2,9% (1/35) dengan riwayat kuretase mengalami plasenta previa dibandingkan 20,7% (30/145) tanpa riwayat kuretase (p=0,012; PR=0,138, 95% CI: 0,019-0,978). Temuan ini menunjukkan efek protektif yang bertentangan dengan literatur medis.Kesimpulan: Meskipun ditemukan asosiasi signifikan antara riwayat bedah dan plasenta previa dalam arah yang tidak terduga, temuan ini kemungkinan merupakan artefak penelitian daripada efek protektif sejati. Analisis multivariat sangat penting untuk penelitian masa depan guna mengontrol faktor perancu.Kata kunci: kuretase; plasenta previa; sectio caesarea. 
Case Report: Family’s Role in Mentoring Adolescent Pregnancy Ichsan, Muhammad; Hidayat, Dini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.856

Abstract

Introduction: Adolescent pregnancy negatively affects maternal and infant health, leading to preterm birth, low birth weight (LBW), and intrapartum hemorrhage, all of which contribute to increased maternal and neonatal mortality. It is also associated with unintended pregnancies and unsafe abortions. Deliveries by mothers under 20 years old are associated with higher neonatal, infant, and under-five mortality rates and a greater risk of stunting. Infant health outcomes are heavily influenced by maternal nutritional status. Case Report: A 15-year-old adolescent (Mrs. S) was brought by her aunt to Ahmad Ripin District Hospital, Muaro Jambi, on November 10, 2022, for antenatal assessment. Initial examination showed a body mass index (BMI) of 16 (underweight; <18.5), for which a total gestational weight gain target of 12.5–18 kg was recommended. Her MUAC was 21 cm and hemoglobin (Hb) 9 g/dL. The case underscores the crucial role of a strong family support system in achieving adequate weight gain in pregnant adolescents, given its significant association with maternal health during pregnancy and infant birth weight. Conclusion: this case highlights the importance of healthcare education and monitoring in adolescent pregnancy. It shows that when combined with the family’s role as a supporter, these factors can effectively protect maternal and infant health, resulting in positive outcomes.Laporan Kasus: Peranan Keluarga dalam Pendampingan Kehamilan Remaja Abstrak Pendahuluan: Kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan ibu dan bayi. Beberapa dampak negatif tersebut adalah bayi prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan perdarahan persalinan yang berujung pada kenaikan kematian maternal–neonatal. Kehamilan pada remaja juga berkaitan dengan kehamilan tidak diinginkan dan aborsi tidak aman. Persalinan pada ibu <20 tahun berkontribusi pada tingginya kematian neonatal, bayi, dan balita, serta meningkatkan risiko stunting. Luaran bayi sangat dipengaruhi status gizi ibu. Laporan Kasus: Seorang ibu Ny.S berusia15 tahun, pertama kali dibawa oleh bibinya ke Rumah Sakit Daerah Ahmad Ripin, Kabupaten Muaro Jambi, pada tanggal 10 November 2022 untuk memeriksakan kehamilannya. Setelah dilakukan pemeriksaan, Ny.S memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 16 yang berarti kurang dari 18,5 (gizi kurang) harus meningkatkan berat badannya sebesar 12,5 sampai 18 kg. Ny.S memiliki nilai LILA 21 cm, dan kadar Hemoglobin 9 gr/dl. Dalam menyukseskan pertambahan berat badan remaja yang hamil diperlukan peranan keluarga yang berkualitas untuk menjadi support system terbaik karena berhubungan dengan kesehatan ibu selama kehamilan serta berat badan bayi saat lahir. Kesimpulan: Berdasarkan laporan kasus ini, peran keluarga sebagai pendamping kehamilan remaja terbukti efektif menjaga kesehatan ibu dan bayi. Di samping itu, pengetahuan tentang kesehatan ibu dan bayi pada tingkat individu (faktor pengetahuan ibu) serta dukungan tenaga kesehatan juga berkontribusi signifikan terhadap luaran yang baik.Kata kunci: kehamilan remaja; kesehatan ibu dan bayi: peran keluarga
Comparing Optimal Debulking Surgery Outcomes between Anemic and Non-Anemic Ovarian Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2022 – 2023 Dewanto, Wenardy; Harsono, Ali Budi; Aziz, Muhammad Alamsyah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.948

Abstract

Objective: Ovarian cancer remains one of the most lethal gynecological malignancies. Optimal debulking surgery is one of the treatment options of ovarian cancer. Anemia was commonly observed in ovarian cancer patients, yet its association with the outcome of optimal debulking surgery remains unclear. This study aims to evaluate the association between preoperative anemia and the outcome of optimal debulking surgery.Methods: A case-control analytical observational study was conducted on 87 ovarian cancer patients who had undergone optimal debulking surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2022-2023. Data were collected from medical records and was analyzed using Chi-square test.Results: The majority of ovarian cancer patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2022–2023 presented with mild to moderate anemia, accounting for 37,78% and 33,33% of cases, respectively. Only 24,44% had normal hemoglobin levels, while 4,44% had severe anemia. Optimal debulking was achieved in 76,7% of cases. No significant association was found between preoperative anemia and optimal debulking outcomes (p = 0,601; OR 1,21, 95% CI: 0,68–2,16).Conclusion: Preoperative anemia was not associated with optimal debulking surgery outcomes.Perbandingan Keberhasilan Optimal Debulking Surgery antara Pasien Kanker Ovarium dengan Anemia dan Non-Anemia di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2022 – 2023AbstrakTujuan: Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan ginekologi dengan angka kematian tertinggi. Optimal debulking surgery merupakan salah satu terapi utama pada pasien kanker ovarium. Anemia sering ditemukan pada pasien kanker ovarium. Namun, hubungan anemia dan keberhasilan optimal debulking surgery belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan anemia preoperatif dan keberhasilan optimal debulking surgery pada pasien kanker ovarium.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah studi observasional analitik dengan desain case control yang melibatkan pasien kanker ovarium yang menjalani optimal debulking surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2022 – 2023. Data diperoleh dari rekam medis dengan total 87 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis hubungan anemia preoperatif dengan keberhasilan optimal debulking surgery dilakukan dengan uji Chi square. Hasil: Mayoritas pasien kanker ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin tahun 2022 – 2023 mengalami anemia ringan (37,78%) dan sedang (33,3%). Hanya 24,4% pasien memiliki kadar hemoglobin normal dengan 4,44% pasien mengalami anemia berat. Optimal debulking surgery berhasil dicapai pada 76,6%. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara anemia preoperatif dan keberhasilan optimal debulking surgery (p = 0,601; OR 1,21; 95% CI : 0,68-2,16)Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan anemia preoperatif tidak berhubungan dengan keberhasilan optimal debulking surgery pada pasien kanker ovarium.Kata kunci: Anemia; kanker ovarium; optimal debulking surgery
Correlation of Histological Type, Stage, Age, and Prognosis in Uterine Cervical Cancer at Margono Soekardjo Hospital Purwokerto from January – December 2024 Tambunan, Eka Maranatha; Permadi, Wiryawan; Aditiyono, Aditiyono; Grazielle, Grazielle
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1007

Abstract

Objective: To evaluate the correlation of histological subtype, stage, age, and prognosis in cervical cancer patients treated at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto.Methods: This is a retrospective descriptive cohort study conducted using medical records. Data on cervical cancer staging, age, and histopathological subtype were collected from all patients meeting the inclusion criteria. Statistical analysis was performed, and associations were examined using chi-square tests. The data used in the study were obtained from the medical records of patients at the research site from January to December 2024.Result: Of 582 patients identified, 245 met the inclusion criteria. Squamous cell carcinoma (SCC) accounted for 147 cases, and adenocarcinoma (AC) for 98. Most patients were aged >50 years old and diagnosed at stage II. SCC was most common at stage II, while AC was most frequently found at stage III. Statistical analysis revealed a significant but weak association between age, stage, prognosis, and histological subtype.Conclusion: There was a significant weak correlation of histological subtype and age, stage, and prognosis in cervical cancer.Korelasi Tipe Histologis, Stadium, Usia, dan Prognosis pada Kanker Uterin Serviks di Rumah Sakit Margono Soekardjo pada Januari – Desember 2024AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara subtipe histologis, stadium, usia, dan prognosis kanker serviks uteri pada pasien yang diobati di RSUD Prof. Dr. Soekarjo Margono, Purwokerto, dalam rentang waktu Januari – Desember 2024Metode: Studi ini merupakan studi retrospektif deskriptif kohort dengan data dari rekam medis. Data yang diambil adalah stadium kanker, usia, dan subtipe histopatologis dan didapatkan dari semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis statistik dilakukan serta asosiasi diuji dengan uji Chi-Square. Data yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari rekam medis pasien di RSUD Margono Soekardjo, Purwokerto pada bulan Januari hingga Desember 2024Hasil: Dari 582 pasien, sebanyak 245 pasien memenuhi kriteria inklusi. Karsinoma sel skuamosa (SCC) ditemukan pada 147 kasus, sedangkan adenokarsinoma (AC) pada 98 kasus. Sebagian besar pasien berusia >50 tahun dan didiagnosis pada stadium II. SCC paling banyak ditemukan pada stadium II, sementara AC didapatkan paling banyak pada stadium III. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna dengan korelasi lemah antara usia, stadium, dan prognosis dengan tipe histologis.Kesimpulan: Terdapat korelasi signifikan antara subtipe histologis dan usia, stadium, serta prognosis kanker serviks.Kata kunci: Kanker serviks; prognosis; subtipe histologis; stadium; usia
Hypomethylation of the Promoter Region of the Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Gene and It’s Low Expression in Placenta as a Risk Factor for Preeclampsia Bay, Godefridus Paulo; Kusuma, A.A.N Jaya; Darmayasa, I Made; Mahendra, I Nyoman Bayu; Mahayasa, Putu Doster; Marta, Kadek Fajar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.923

Abstract

Objective: This study aimed to determine the association between hypomethylation of VEGF gene promoter region and low VEGF expression in the placenta as a potential risk factor for preeclampsia.Methods: An observational case-control study was conducted involving pregnant women with preeclampsia and normotensive controls. Placental tissue samples were collected and analysed for DNA methylation status of the VEGF gene promoter using quantitative real-time PCR. VEGF expression levels in placental tissue were measured using ELISA. Results: Significant hypomethylation of the VEGF promoter region was observed in placenta samples from preeclamptic women compared to controls. This finding correlated with decreased VEGF expression. These results indicate that reduced VEGF expression due to promoter hypomethylation may impair placental vascularization, contributing to preeclampsia.Conclusions: Hypomethylation of the VEGF promoter and subsequent reduction in placental VEGF expression may serve as early biomarkers to predict preeclampsia. These results highlight the importance of epigenetic regulation in preeclampsia pathogenesis and suggest potential targets for early diagnosis and intervention.Hipometilasi Regio Promoter Gen Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang Rendah pada Plasenta sebagai Faktor Risiko PreeklampsiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipometilasi pada daerah promoter gen VEGF dan rendahnya ekspresi VEGF di plasenta sebagai faktor risiko potensial terjadinya preeklampsia.Metode: Penelitian observasional dengan desain kasus-kontrol ini melibatkan ibu hamil dengan preeklampsia dan kontrol normotensif. Sampel jaringan plasenta dikumpulkan dan dianalisis untuk menentukan status metilasi DNA pada daerah promoter gen VEGF menggunakan quantitative real-time PCR. Tingkat ekspresi VEGF dalam jaringan plasenta diukur menggunakan metode ELISA.Hasil: Didapatkan hipometilasi yang signifikan pada daerah promoter gen VEGF pada jaringan plasenta ibu dengan preeklampsia dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini berkorelasi dengan penurunan ekspresi VEGF. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penurunan ekspresi VEGF akibat hipometilasi promoter dapat mengganggu vaskularisasi plasenta, sehingga berperan dalam patogenesis preeklampsia.Kesimpulan: Hipometilasi pada daerah promoter gen VEGF dan penurunan ekspresi VEGF di plasenta dapat berfungsi sebagai biomarker awal untuk memprediksi terjadinya preeklampsia. Hasil ini menyoroti pentingnya regulasi epigenetik dalam patogenesis preeklampsia serta membuka peluang untuk diagnosis dini dan intervensi yang lebih tepat.Kata kunci: Preeklampsia, VEGF, Hipometilasi, Plasenta, Epigenetik
Risk of Urinary Tracy Infection Among Pregnant Women with Anemia: A Systematic Review and Meta-Analysis Wibowo, Muhammad Farhan; Erisadana, Rifaldy Nabiel; Prawirodiharjo, Leo; Akbar, Willy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.853

Abstract

Objective: This study aims to provide an evidence-based answer to whether anemia during pregnancy is a risk factor for the development of UTIMethods: A literature search for the systematic review and meta-analysis was carried out by PubMed, ScienceDirect, and Scopus databases for observational studies that reported the incidence of anemia during pregnancy and urinary tract infections (UTI). Quantitative analysis of pooled odd ratio with a 95% confidence interval was performed using Review Manager 5.4 software and visualized by forest plot graphResult: Based on 9 articles included in the analysis, anemia revealed a statistically significant for UTI [Pooled OR 2.38, 95% CI: 1.24—4.56; p<0.00001] but not for asymptomatic bacteriuria (ASB) [Pooled OR 2.08, 95% CI: 0.89—4.90; p=0.09]. We accumulated both outcomes for the total bacteriuria and demonstrated statistically significant [Pooled OR 2.27, 95% CI: 1.38—3.75; p<0.0001].Discussion: Statistical significance was observed for the development of UTI 2.38 times in pregnant women with anemia compared to pregnant women without anemia.Conclusion: This research showed evidence that anemia during pregnancy was a significant risk factor for the development of UTI and bacteriuria, but not a significant risk factor for ASB.Risiko Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil dengan Anemia: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan jawaban berbasis bukti mengenai apakah anemia selama kehamilan merupakan faktor risiko untuk perkembangan ISK atau bukanMetode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang disusun berdasarkan PRISMA guideline. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data PubMed, ScienceDirect, dan Scopus pada penelitian observasional yang melaporkan kejadian anemia selama kehamilan dan infeksi saluran kemih (ISK). Analisis kuantitatif untuk gabungan odd ratio dengan interval kepercayaan 95% dilakukan menggunakan perangkat lunak Review Manager 5.4 dan divisualisasikan dengan grafik forest plotHasil: Berdasarkan 9 artikel yang disertakan dalam analisis menunjukkan bahwa anemia selama kehamilan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian  ISK [Pooled OR 2.38, 95% CI: 1.24—4.56; p<0.00001], tetapi tidak untuk bakteriuria asimtomatik (ASB) [Pooled OR 2,08, 95% CI: 0,89—4,90; p=0,09]. Kami menggabungkan kedua hasil untuk total bakteriuria dan menunjukkan signifikansi statistik [Pooled OR 2,27, 95% CI: 1,38—3,75; p<0,0001].Pembahasan: Anemia selama kehamilan dapat meningkatkan risiko ISK sebesar 2,38 kali lebih tinggi daripada tanpa anemia yang terjadi melalui mekanisme disregulasi sistem imun. Pemantauan kadar hemoglobin pada periode antenatal dapat menjadi upaya skrining faktor risiko terjadinya ISK.Kesimpulan: Anemia selama kehamilan merupakan faktor risiko untuk perkembangan ISK dan bakteriuria, tetapi bukan faktor risiko untuk ASB. Evaluasi faktor risiko dan penatalaksanaan anemia lebih dini menjadi upaya penting bagi klinisi dalam mencegah perkembangan terjadinya ISK selama kehamilanKata kunci: Anemia; faktor risiko; infeksi saluran kemih; kehamilan; meta-analisis
Diagnosis and Management of Complex Genital Warts: Case Report Surya, Ilham Utama; Gunardi, Eka Rusdianto; Rahmi, Trisha Alya; Putra, Dhifa Dwi; Mirza, Syauqi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.888

Abstract

Introduction: This case reports a pregnancy complicated by condyloma acuminata with co-infection of HIV and tuberculosis (TB). Such a combination is rarely documented and presents significant clinical and therapeutic challenges. This case aims to demonstrate the effectiveness of a simple surgical approach in managing extensive condyloma acuminata during high-risk pregnancy.Case Presentation: A 24-year-old pregnant woman was diagnosed with condyloma acuminata along with confirmed HIV and TB co-infection. Electrocauterization was performed successfully, leading to complete lesion removal and significant improvement in wound healing, with no early recurrence observed. The pregnancy was planned to be delivered by cesarean section.Conclusion: This case demonstrates that, even with multiple comorbidities and a high-risk pregnancy, simple surgical treatments like electrocauterization can be both safe and effective. Early multidisciplinary intervention is crucial for achieving the best maternal outcomes.Diagnosis dan Penatalaksanaan Kondiloma Genital dengan Komplikasi: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Laporan kasus ini membahas kehamilan yang disertai komplikasi berupa kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan tuberkulosis (TB). Kombinasi tersebut jarang didokumentasikan dan menimbulkan tantangan klinis serta terapeutik yang signifikan. Kasus ini bertujuan untuk menunjukkan efektivitas pendekatan bedah sederhana dalam menangani kondiloma akuminata ekstensif pada kehamilan risiko tinggi.Presentasi Kasus: Seorang wanita hamil berusia 24 tahun didiagnosis menderita kondiloma akuminata dengan ko-infeksi HIV dan TB terkonfirmasi. Tindakan elektrokauter berhasil dilakukan dengan hasil berupa pengangkatan lesi secara menyeluruh dan perbaikan yang nyata pada penyembuhan luka, tanpa adanya kekambuhan dini yang teramati. Kehamilan direncanakan untuk dilahirkan dengan operasi sesar.Kesimpulan: Kasus ini menegaskan bahwa dalam konteks komorbiditas multipel dan kehamilan risiko tinggi, penatalaksanaan bedah sederhana seperti elektrokauter dapat aman dan efektif. Intervensi multidisiplin sejak dini sangat penting untuk mencapai luaran maternal yang optimal.Kata kunci: HIV: Kehamilan; kondiloma akuminata; tuberkulosis
Insulin Treatment for Gestational Diabetes Mellitus Winata, I Gde Sastra; Mahendrata, Prayascita; Widia, Made Yudha Ganesa Wikantyas; Setiawan, William Alexander; Nathalia, Jessica
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.823

Abstract

AbstractIntroduction: Gestational diabetes is one of the most common pathologies in pregnancy that can potentially cause other complications, both to the mother and the fetus. This condition is considered a global health problem, with Asia having the highest prevalence.Methods: This article is a literature review of publications from the past five years (2019–2024) obtained from the NCBI, PubMed, and Science Direct databases. The keywords used include “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Results: Insulin remains the gold standard therapy for managing GDM when lifestyle interventions over 1–2 weeks fail to achieve glycemic targets. Various types of insulin, such as human insulin, rapid-acting analogs (lispro, aspart), intermediate-acting insulin (NPH), and basal analogs (detemir, glargine), are considered safe and effective for use during pregnancyDiscussion: The main advantage of insulin is that it does not cross the placenta, thereby avoiding teratogenic risks. Some insulin analogs, such as lispro and detemir, have the advantage of reducing the risk of maternal hypoglycemia and providing more stable glycemic control.Conclusion: Insulin is the only therapy that does not cross the placenta, and most types do not affect pregnancy and fetuses or neonates.Keywords: diabetes gestational; insulin; treatment Pengobatan Insulin untuk Diabetes Mellitus GestasionalAbstrak Pendahuluan: Diabetes gestasional merupakan salah satu patologi yang paling umum terjadi pada kehamilan. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi lain, baik pada ibu maupun janin. Kondisi ini dianggap sebagai masalah kesehatan global dan di Asia memiliki prevalensi tertinggi.Metode: Artikel ini merupakan tinjauan literatur dari publikasi dalam lima tahun terakhir (2019–2024) yang diperoleh dari basis data NCBI, PubMed, dan Science Direct. Kata kunci yang digunakan meliputi “gestational diabetes,” “insulin therapy,” “types of insulin,” dan “management”.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa insulin tetap menjadi terapi standar emas dalam penatalaksanaan GDM apabila intervensi gaya hidup selama 1 – 2 minggu tidak mampu mencapai target glikemik. Berbagai jenis insulin seperti insulin manusia, analog kerja cepat (lispro, aspart), insulin intermediet (NPH), dan analog basal (detemir, glargine) dinilai aman dan efektif digunakan selama kehamilan.Diskusi: Keuntungan utama insulin adalah tidak melewati plasenta sehingga menghindari risiko teratogenik. Beberapa jenis insulin analog seperti lispro dan detemir memiliki keunggulan berupa penurunan risiko hipoglikemia maternal dan kontrol glikemik yang lebih stabil.Kesimpulan: Insulin merupakan satu-satunya terapi yang tidak melewati plasenta dan sebagian besar jenis insulin tidak memiliki efek pada kehamilan dan janin atau neonatus.Kata kunci: diabetes gestasional; insulin; tatalaksana
Survival Outcomes at Three Years After Primary vs Interval Debulking in Advanced Ovarian Cancer: A Retrospective Study from Hasan Sadikin Hospital (2021) Everdien, Alce; Kurniadi, Andi; Pusianawati, Dini; Nisa, Aisyah Shofiatun; Subhan, Dadang Hawari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1003

Abstract

Objective: Ovarian cancer is the third most prevalent malignancy among women in Indonesia. The 5-year survival rate is approximately 49%, with 68% of patients diagnosed at an advanced stage. Standard treatment involves debulking surgery, which is categorized into primary debulking surgery (PDS) and interval debulking surgery (IDS). This study aims to compare the survival outcomes of ovarian cancer patients treated with PDS versus IDS at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) during 2021.Methods: A retrospective review of medical records was performed for ovarian cancer patients who underwent surgery at RSHS in 2021. Patients were classified according to the type of surgical management (PDS or IDS), and survival data were analyzed accordingly.Result: A total of 46 patients were included, with 38 undergoing PDS and 8 undergoing IDS. The mean overall survival was 34.1 months for the PDS group and 27.5 months for the IDS group. Bivariate analysis showed no significant difference in survival between the two groups (HR: 1.810, p = 0.341; 95% CI: 0.53–6.13). However, age (HR: 0.950, p = 0.014; 95% CI: 0.91–0.99) and progression-free survival duration (HR: 0.788, p = 0.0001; 95% CI: 0.71–0.86) were identified as significant prognostic factors for overall survival.Conclusion: The mean overall survival for patients undergoing primary debulking surgery (PDS) was higher than for those undergoing interval debulking surgery (IDS), although this difference was not statistically significant.Angka Kelangsungan Hidup Tiga Tahun Setelah Debulking Primer vs Interval pada Kanker Ovarium Stadium Lanjut: Sebuah Studi Retrospektif di RSUP Hasan Sadikin (2021)AbstrakTujuan: Kanker ovarium merupakan keganasan ketiga terbanyak pada wanita di Indonesia. Angka kelangsungan hidup 5 tahun sekira 49%, dengan 68% pasien datang pada stadium lanjut. Tatalaksana standar melibatkan operasi debulking yang diklasifikasikan menjadi operasi debulking primer (PDS) dan operasi debulking interval (IDS). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil kelangsungan hidup pasien kanker ovarium yang diobati dengan PDS versus IDS di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) selama tahun 2021.Metode: Sebuah studi retrospektif dilakukan melalui tinjauan rekam medis pasien kanker ovarium yang menjalani tatalaksana bedah di RSHS pada tahun 2021. Pasien dikategorikan berdasarkan jenis tatalaksana bedah (PDS atau IDS), dan data kelangsungan hidup dianalisis.Hasil: Sebanyak 46 subjek diikutsertakan, dengan 38 pasien menjalani PDS dan 8 pasien menjalani IDS. Rerata kelangsungan hidup keseluruhan adalah 34,1 bulan pada kelompok PDS dan 27,5 bulan pada kelompok IDS. Analisis bivariat tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam kelangsungan hidup antara kedua kelompok (HR: 1,810, p = 0,341; 95% CI: 0,53–6,13). Namun, usia (HR: 0,950, p = 0,014; 95% CI: 0,91–0,99) dan durasi kelangsungan hidup bebas progresi (HR: 0,788, p = 0,0001; 95% CI: 0,71–0,86) diidentifikasi sebagai faktor prognostik yang signifikan terhadap kelangsungan hidup keseluruhan.Kesimpulan: Rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking primer (PDS) lebih tinggi daripada rata-rata kelangsungan hidup keseluruhan pasien yang menjalani operasi debulking interval (IDS), meskipun tidak signifikan secara statistik.Kata kunci: Angka kelangsungan hidup; kanker ovarium; pembedahan debulking interval; pembedahan debulking primer