cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 374 Documents
Kajian Perubahan Luasan untuk Prediksi Simpanan Karbon Ekosistem Mangrove di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes Faishal Widiaputra Nugraha; Rudhi Pribadi; Anindya Wirasatriya
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.30039

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki potensi besar dalam penyerapan CO2 dari atmosfer. Jumlah kadar CO2 yang tersimpan pada ekosistem mangrove semakin berkurang seiring menyusutnya luasan ekosistem mangrove tersebut. Ekosistem mangrove Kabupaten Brebes diduga telah mengalami perubahan luasan sehingga berpengaruh terhadap jumlah CO2 yang terserap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luasan dan prediksi simpanan karbon ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019 dengan menggunakan metode deskriptif. Citra yang digunakan adalah citra satelit Landsat tahun 1996, 2000, 2007, 2010, 2015, dan 2019. Pengolahan citra dilakukan dengan bantuan software Er Mapper 7.0 dan Arcmap 10.4.1. Tahapan identifikasi mangrove menggunakan komposit band RGB 564, kemudian dilakukan pemisahan obyek mangrove dan non mangrove dengan menggunakan metode unsupervised classification. Metode analisis kerapatan mangrove yang digunakan adalah algoritma NDVI. Perhitungan nilai kandungan biomassa berdasarkan rumus allometrik tiap spesies. Perubahan luasan ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes tahun 1996 - 2019 berturut-turut adalah 51,84 ha, 114,30 ha, 43,29 ha, 163,62 ha, 286,38 ha dan 475,65 ha. Sedangkan prediksi nilai simpanan karbon total adalah ± 689,57 ton, ± 1474,18 ton, ± 541,07 ton, ± 2612,17 ton, ± 4324,36 ton, dan ± 6778,30 ton. Nilai simpanan karbon total pada ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes meningkat seiring dengan bertambahnya luasan ekosistem mangrove tersebut.  Mangrove ecosystems have great potential in absorbing CO2 from the atmosphere. The amount of CO2 stored in the mangrove ecosystem decreases as the area of the mangrove ecosystem shrinks. The mangrove ecosystem area of Brebes Regency was justified decreased as well as the CO2 absorption. This study aims to determine changes in the extent and predictions of carbon stock of mangrove ecosystems in Kaliwlingi village, Brebes Regency. This research was conducted in May 2019 using descriptive methods. The imagery used was Landsat satellite imagery in 1996, 2000, 2007, 2010, 2015 and 2019. Image processing was carried out with the help of Er Mapper 7.0 and Arcmap 10.4.1 software. The stages of mangrove identification using the RGB 564 composite band, then the separation of mangrove and non-mangrove objects was carried out using the unsupervised classification method. The mangrove density analysis method used was the NDVI algorithm. Calculation of biomass value based on the allometric formula for each species. Changes in the extent of mangrove ecosystems in Kaliwlingi village, Brebes Regency in 1996 - 2019 were 51.84 ha, 114.30 ha, 43.29 ha, 163.62 ha, 286.38 ha and 475.65 ha, respectively. While the predicted values of total carbon stock were ± 689,57 ton, ± 1474,18 ton, ± 541,07 ton, ± 2612,17 ton, ± 4324,36 ton, dan ± 6778,30 ton. The values of total carbon stock in the mangrove ecosystem in Kaliwlingi village, Brebes Regency was increased along with the expansion of the mangrove ecosystem.
Potensi Penyimpanan Karbon Pada Vegetasi Padang Lamun di Perairan Pulau Besar Utara, Sikka, Maumere, Nusa Tenggara Timur Jan Ericson Wismar; Wilis Ari Setyati; Ita Riniatsih
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.27223

Abstract

Konsep blue carbon adalah salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas karbon pemicu pemanasan global dengan cara memanfaatkan vegetasi pesisir sebagai penyerap karbon. Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang dapat menyerap  karbon dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lamun dan kandungan karbon pada lamun di Perairan Pulau Besar Utara, Maumere, Sikka.  Pengamatan lamun menggunakan transek kuadrat 50x50cm menurut panduan LIPI. Sampling lamun dilakukan acak menggunakan seagrass core berdiameter 15 cm di setiap lokasi. Perhitungan kandungan karbon menggunakan metode Loss On Ignition (LOI) yang kemudian dikonversikan dengan nilai biomassa pada setiap titiknya. Jenis lamun yang ditemukan sebanyak 4 spesies yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii,, Cymodocea rotundata,dan Syringodium isoetifolium. Lokasi pengamatan memiliki tutupan lamun sangat padat. Nilai biomassa dibawah  dan diatas substrat pada lokasi pengamatan didapat nilai 424,60 gbk/m2  dan 79,67 gbk/m2. Total kandungan karbon pada lokasi pengamatan  adalah 41,95 gC/m2. Kandungan karbon terbesar disimpan pada jaringan lamun (akar dan rhizoma) dengan spesies E. acoroides sebagai penyumbang nilai biomassa  dan kandungan karbon tertinggi. Lokasi perairan Pulau Besar Utara, Maumere memiliki kondisi perairan yang baik dengan kerapatan lamun yang tinggi, secara umum kandungan karbon yang terdapat pada perairan tersebut memiliki kandungan yang tinggi. Kondisi lamun yang baik akan memiliki simpanan karbon yang baik dan hal ini merupakan salah satu upaya dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus menjaga kelestarian laut.  The concept of blue carbon is one of the efforts to reduce carbon gas emissions that trigger global warming by utilizing coastal vegetation as a carbon sink. Seagrass ecosystems are one of the coastal ecosystems that can absorb large amounts of carbon. This study aims to find seagrass conditions and carbon content in seagrasses on the waters of Besar Utara Island, Maumere, Sikka. Seagrass observations used a 50x50cm quadrant transect according to the LIPI guideline, 2017. Seagrass sampling was using seagrass cores with 15cm diameter in each location. Calculation of carbon content using the Loss On Ignition (LOI) method which is then converted to biomass values at each point. Seagrass species found in location sampling were 4 species, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Syringodium isoetifolium. The Location  has very dense seagrass cover. Biomass values below and above the substrate at location sampling (424.60 gbk / m2 and 79.67 gbk / m2). The total carbon content in location sampling is 41.95 gC / m2. The largest carbon content is stored in seagrass tissues (roots and rhizomes) with E. acoroides as a contributor to the highest biomass and carbon content. The location of Besar North island, Maumere has good water conditions with high seagrass density, in general the carbon storage at the location of Besar North island is high condition. Seagrass with good condition will have good carbon storage and this is one of the efforts in mitigating climate change at once preserving the sea.
Particle Tracking Model Approach for Analyzing Crude Oil Spill (Palm Fatty Acid Distillate) in Bayur Bay Based on Navier Stokes Discrete Koko Ondara; Ulung Jantama Wisha; Serli Marlinda Panjaitan
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.29036

Abstract

Oil spilled in the marine ecosystem may be induced by some sources which alter over time and location. Oil leakage from offshore oil drilling, underwater oil pipeline leakage, etc., are the possible source of oil spill pollution. Marine pollution generated by oil spilling occurred in Padang City in 2017. Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) spilled within Bayur Bay Harbor due to a leaking storage tank. As much as 50 tons of PFAD overflowed and commenced to pollute Bayur coastal bay. This study aimed to determine the distribution pattern of oil spills throughout the Bayur Bay based on a hydrodynamical model. We employed some oceanographic data and PFAD characteristics obtained directly from survey results. We simulated the particle tracking model for 30 days since the PFAD spilled within the port.  The model developed applied the Least Square method to analyze tidal data and a flexible mesh as a model basis, while the governing equation used is Navier Stoke discrete. During a month of simulation, the dominant particles' distribution is still spinning around the Bayur Bay due to the weak current characteristics with the magnitude ranging from 0.02-0.06 m/s. The lighter PFAD particle mass tended to move faster throughout the bay and settled in the coastal area. It will pollute the coastal system even though it is going to be decomposed chemically in the sediment.
Kualitas Habitat Rekruitmen Juvenil Karang Di Perairan Pulau Kemujan, Karimunjawa Kharisma Ayu Zeina Halisah; Anhar Solichin; Aninditia Sabdaningsih
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.31038

Abstract

Pulau Kemujan merupakan salah satu pulau terbesar di Kepulauan Karimunjawa yang memiliki kerapatan terumbu karang yang beragam. Ekosistem terumbu karang memiliki peranan penting namun juga merupakan ekosistem yang rentan akan terjadinya kerusakan. Akibat penurunan kondisi kualitas lingkungan dapat memungkinkan untuk memberikan pengaruh terhadap habitat rekruitmen juvenil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan juvenil karang berdasarkan perbedaan kedalaman, kesesuaian faktor fisika, kimia dan biologi yang mempengaruhi proses penempelan juvenil karang, kondisi terumbu karang berdasarkan perbedaan kedalaman serta hubungan antara kelimpahan juvenil karang dengan tutupan karang dan bahan organik di perairan Pulau Kemujan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif, sedangkan metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu Line Intercept Transect (LIT) sepanjang 50 meter. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu kelimpahan juvenil karang tertinggi berada di daerah reef flat sisi barat perairan Pulau Kemujan sebanyak 47 koloni, sedangkan kelimpahan terendah berada di daerah reef slope sisi timur sebanyak 7 koloni. Parameter perairan fisika, kimia dan biologi pada penelitian masih berada pada batas kisaran nilai optimum. Kondisi tutupan karang hidup pada sisi barat perairan Pulau Kemujan berkisar dari 46,60% hingga 53,62% sedangkan pada sisi timur yaitu berkisar dari 44,10% hingga 71,38%. Kelimpahan juvenil karang dengan tutupan karang hidup, pecahan karang serta bahan organik menunjukkan pola hubungan yang berbanding terbalik sedangkan dengan tutupan karang mati berbanding lurus. Berdasarkan peneltian ini dapat diketahui bahwa juvenil karang memiliki kecenderungan ditemukan lebih banyak pada tutupan karang mati dalam kondisi lingkungan yang optimum.   Kemujan Island is one of the largest islands in the Karimunjawa which has a varying density of coral reefs. The coral reef ecosystem has an important role however it is vulnerable to damage. The purpose of this study is to determine the decline of coral juvenile based on the depth difference, the compatibility of chemical, physical and biological factors that enhance the resilience of coral juvenile, and the correlation of coral juvenile with the coral covers and the organic material in the waters of Kemujan Island. The method used in this research is a descriptive analysis method. The method used in data collection is Line Intercept Transect (LIT) 50 meter .  The results from this study obtained that the highest abundance of juvenile corals was in the reef flat area of the west side from the waters of the Kemujan Island as many as 47 colonies while the lowest abundance was in the reef slope area of the eastern side as many as 7 colonies. The physical, chemical, and biological water parameters in the study were still in the optimum range. The condition of live coral cover on the west side of Kemujan Island waters ranged from 46.60% to 53.62% while on the east side it ranged from 44.10% to 71.38%. The abundance of juveniles coral with live coral cover, coral fragments, and organic matter showed inversed pattern relationship whereas with dead coral cover was directly proportional. Based on this study it can be known that corals juvenile have a tendency to be found more at dead coral in optimum environmental conditions.
Analisis Kadar Senyawa Fenol dan Aktivitas Antioksidan pada Tiga Jenis Sargassum dari Pantai Jepara, Indonesia Wilis Ari Setyati; Rini Pramesti; Chrisna Adhi Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.32127

Abstract

Radikal bebas merupakan senyawa yang bersifat reaktif dan berbahaya karena dapat merusak sel tubuh. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian senyawa antioksidan. Saat ini di pasaran telah beredar antioksidan sintetis, tetapi senyawa ini bersifat akumulatif dan toksik. Oleh karena itu perlu pencarian senyawa alami bersifat antioksidan alami dan salah satunya  salah satu sumbernya adalah rumput laut. Perairan Jepara memiliki sumber daya rumput laut yang tinggi dan salah satunya jenis Sargassum. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian evaluasi total senyawa fenol dan kapasitas antioksidan berbagai ekstrak Sargassum. Hasil penelitian ini sebagai dasar dalam penelitian suplemen antioksidan untuk tindakan preventif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2018 dengan tahapan pengambilan sampel, ekstraksi, penentuan total fenol dan aktivitas antioksidan. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposif dan penentuan kapasitas antioksidan dan total fenol menggunakan metode eksperimen laboratoris.  Hasil analisis menunjukkan perlakuan perbedaan jenis ekstrak memiliki nilai persen inhibisi (IC50) yang berbeda secara nyata (p < 0,05). Tiga ekstrak dengan persen inhibisi terbaik jika diurutkan dari terkecil ke terbesar adalah ekstrak dengan pelarut etil asetat pada S. polycystum, S. crassifolium dan S duplicatum. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka nilai persen inhibisi semakin tinggi juga (p < 0,05) demikian juga pada nilai total senyawa fenol. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan antara total fenol dan persen inhibisi adalah linier dengan persamaan regresi dan nilai besar hubungan berbeda signifikan (p < 0,05). Free radical are reactive and dangerous compound which have bad impact to human cell. Antioxidant is an effective compound to against free radical. Recently, synthesis antioxidant are easy to find in the market, however, this compound tends to toxic accumulation. The nature antioxidant can be a solution of negative effect from synthesis product. Seaweed is natural product which content an active compound as antioxidant. Sargassum is brown seaweed that abundant in Jepara seawater. This study are aiming to evaluate of phenol content and antioxidant capacity from several sargassum extract. The result of this study is a primarily research of antioxidant supplements for preventive measures. This study was conducted in June 2018 with the stages of sampling, extraction, determination of total phenol and antioxidant activity. Purposive method is used for sampling method and experimental laboratory is used for determination of antioxidant capacity and total phenol. The analysis result show that each sargassum extract has significant deferent of inhibition concentrations (IC50) (p < 0,05). Three extracts with the best percentage of inhibition sorted from the smallest to the largest were S. polycistum, S. crassifolium and S duplicatum which were extracted with ethyl acetate solvents. The percentage of inhibitions are increase with increasing of extract concentration and phenol compound. The conclusion of this study is that total phenol and percent inhibition are linear with regression equations and significant difference values (p <0.05).
Studi Morfologi Dasar Laut dengan Survey Batimetri di Daerah Pantai Pasar Palik, Bengkulu Utara Ashar Muda Lubis; Nanda Sari; Juhendi Sinaga; M. Hasanudin; Edi Kusmanto
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.32691

Abstract

Daerah Pantai Pasir Palik, Bengkulu Utara merupakan salah satu daerah dengan tingkat abrasi yang tinggi. Salah satu faktor pemicu cepatnya laju abrasi adalah morfologi dasar laut yang mempengaruhi tinggi gelombang yang sampai ke pantai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk morfologi dasar laut di daerah Pantai Pasar Palik dengan survey batimetri dan membandingkannya dengan data batimetri dari Badan Informasi Geospasial (BIG) resolusi 25 m, Earth Topography 1-Arc Minute Gird (ETOPO1) dengan resolusi 1850 m dan General Bathymetric Chart of the Ocean (GEBCO) resolusi 450 m dan 900 m. Pengambilan data dilakukan dengan pemeruman menggunakan Single Beam Echosounder danGlobal Positioning System (GPS). Koreksi pasang surut dilakukan dengan bantuan perangkat lunakwxtide4.7. Hasil penelitiaan menunjukkan pada pengukuran Echosounderkedalaman maksimum mencapai10 m, sedangkan data BIG maksimum 8 m, GEBCO 450 m mencapai 55 m, GEBCO 900 m mencapai 32 m sedangkan ETOPO1 hanya 2,67 m. Kemiringan morfologi dasar laut dikategorikan landai dengan nilai kemiringan 0,32˚. Morfologi bawah laut di daerah pantai dapat dipengaruhi oleh faktor hidrografi dan oseanografi, maka penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk melihat dinamika perubahan morfologi dasar laut. The Palik Coast area, North Bengkulu, is one of the area with high level of abrasion. One of the factors triggering the rapid rate of abrasion is the seabed morphology which affects the height wave energy near the coast. The purpose of this study was to determine the seabed morphology based on slope of seabed in Pasar Palik coast area with bathymetry survey, and also to compare the result with other bathymetry data; the BIG with resolution of 25 m, ETOPO1 with resolution of 1850 m and GEBCO resolution of 450 m and 900 m. The research was carried out by measuring bathymetry using Single Beam Echosounder and GPS. Tidal correction was conducted by using wxtide4.7 software. The result shows that the maximum depth reaches 10 m while the BIG data has the maximum depth of 8 m.Maximum depth  from GEBCO, GEBCO 900 m, ETOPO1 data is 55 m, 32 m and 2.67 m respectively. The slope of the seabed morphology is categorized as as declivous with a slope value of 0.32˚. Morphology in coastal areas can be influenced hydrography dan oceanography factors, further research is needed to better understand the dynamics of morphology changes.
Pemanfaatan Kitosan untuk Menurunkan Kadar Logam Pb dalam Perairan yang Tercemar Minyak Bumi Rima Rosema; Endang Supriyantini; Sri Sedjati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.31051

Abstract

Kitosan telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan manusia, salah satunya dijadikan sebagai adsorben logam berat. Logam berat timbal (Pb) merupakan polutan yang mencemari perairan dan bersifat toksik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kapasitas dan daya adsorpsi larutan kitosan komersial dan non komersial (produk sendiri) dalam konsentrasi berbeda terhadap logam Pb. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Faktorial 2 Aras dengan menggunakan 1 kontrol (0 %) dan 4 perlakuan yaitu konsentrasi 0,5% (A), 1% (B), 1,5% (C) dan 2% (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara sumber kitosan dengan konsentrasi kitosan untuk menurunkan kandungan Pb. Dosis terbaik yang mampu menurunkan logam Pb untuk kitosan komersial yaitu pada konsentrasi 1% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,228 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 87,870 %. Sedangkan kitosan non komersial mampu menurunkan logam Pb pada konsentrasi 1,5% dengan kapasitas penyerapan sebesar 0,143 mg/g dan kemampuan penyerapan sebesar 82,660 %.  Chitosan has been widely used in various fields of human life, one of which is used as a heavy metal adsorbent. Lead heavy metals (Pb) is a pollutants that pollutes the waters and is toxic. This study aims to examine the capacity and adsorption capacity of commercial and non-commercial chitosan  solutions  (own products) in  different concentrations of Pb metal. The research method used is an experimental laboratories with chitosan from the isolation itself and commercial chitosan. The research method used is an experimental laboratory with 2 Aras factorial experimental design using 1 control  (0%) and 4 treatments namely a concentrations of 0.5% (A), 1% (B), 1.5% (C) and 2% (D). The results showed that there was an interaction between chitosan sources and chitosan concentration to reduce Pb content. The best dose that can reduce Pb metal for commercial chitosan is at a concentration of 1% with an adsorption capacity of 0.228 mg/g, and an adsorption ability of 87.870 %. while non-commercial chitosan can reduce Pb metal at a concentration of 1.5 % with an adsorption capacity of 0.143 mg/g and an adsorption ability of 82.660 %.  
Kontribusi Lamun Enhalus acoroides Terhadap Kelimpahan Perifiton Di Perairan Legon Boyo, Karimunjawa Hendrayana Hendrayana; Ambariyanto Ambariyanto; Delianis Pringgenies; Mujiyanto Mujiyanto
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.27346

Abstract

Kelimpahan perifiton dipengaruhi oleh kerapatan lamun karena pada semakin tinggi kerapatan lamun maka kecepatan arus akan berkurang sehingga dapat meningkatkan laju penempelan perifiton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kerapatan lamun Enhalus acoroides dengan kelimpahan perifiton di Perairan Legon Boyo, Karimunjawa Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Juni, September dan Desember Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perifiton yang ditemukan pada lamun Enhalus acoroides di Perairan legon sebanyak 10 jenis dan jenis Baciliarophyceae merupakan jenis perifiton paling banyak ditemukan. Kelimpahan terbesar terjadi di musim peralihan yaitu sebesar 2.146 sel/l. Keanekaragaman jenis perifiton di lamun E. acoroides memiliki nilai antara 0,26-1,43 (Keanekaragaman rendah-sedang), keseragaman dengan nilai 3,61-5,82 (keseragaman tinggi) dan dominansi dengan nilai 0,68-1,12 (dominansi sedang-tinggi). Hasil analisis regresi hubungan kerapatan lamun dengan kelimpahan perifiton sebesar 79,13% yang menunjukkan hubungan kuat. Dengan demikian kerapatan lamun berpengaruh terhadap kelimpahan perifiton pada lamun. Periphyton abudance is influence by Seagrass densit. The aim of the research was to determaine Enhalus acoroides seagrass density and periphyton abudance correlation in Legon Boyo, Karimunjawa waters. Descriptive method and purposive sampling used in the research. The result show perphyton found as 10 kinds ang Baciliarophyceae clases are most of periphyton found. The most abundant periphyton in the transitional season is 2,146 cells/l. Periphyton species diversity in E.acoroides seagrass has a value between 0.26-1.43 (low-moderate diversity), uniformity with a value of 3.61-5.82 (high uniformity) and dominance with a value of 0.68-1.12 (moderate-high dominance). Correlation relationship with periphyton abundance was 79.13%, which showed a strong relationship. This value show of seagrass density influence periphyton abudance in seagrass.
Morfologi, Anatomi dan Indeks Ekologi Bulu Babi di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta Suryanti Suryanti; Prasasti Nusa Pertiwi Nur Fatimah; Siti Rudiyanti
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.31740

Abstract

Pantai Sepanjang memiliki karakteristik pantai dengan substrat berupa pasir dan hamparan karang mati yang banyak ditumbuhi makroalga, merupakan habitat berbagai jenis biota, salah satunya bulu babi. Biota tersebut memiliki fungsi ekologi sebagai pemakan detritus dan pengendali populasi makroalga di ekosistem terumbu karang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis, morfologi, anatomi, dan kelimpahan bulu babi serta hubungannya dengan parameter lingkungan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 di Pantai Sepanjang, Kabupaten Gunungkidul. Metode sampling menggunakan stratified random sampling dengan membagi lokasi pengamatan menjadi 3 stasiun (A, B, C) berdasarkan perbedaan tutupan substrat dasar perairan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis, morfologi, anatomi, kelimpahan dan parameter lingkungan. Hasil penelitian ditemukan 6 jenis Bulu Babi yaitu Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum dan Stomopneustes variolaris. Enam Jenis Bulu Babi tersebut memiliki karakteristik morfologi dan anatomi yang berbeda. Kelimpahan bulu babi pada stasiun A sebesar 474 ind/ 15m2, stasiun B sebesar 611 ind/ 15m2 dan stasiun C sebesar 81 ind/ 15m2. Berdasarkan Uji korelasi  menunjukkan bahan organik sedimen berkorelasi positif, sedangkan tekstur sedimen, suhu, salinitas berkorelasi negatif  dengan kelimpahan bulu babi. Sepanjang Beach has the characteristics of sand substrates and covered by dead corals, which are overgrown by macroalgae, and is a habitat for various types of biota, one of them sea urchins. This biota has an ecological function as a detritus feeder and macroalgae population controller in a coral reef ecosystem. The aims of the study is to determine the type, morphology, anatomy, and the linkage between the abundance of sea urchins to environmental parameters. The study was conducted in November 2019 at Sepanjang Beach, Gunungkidul Regency. The stratified random sampling was applied as sampling method, by dividing the observation location into 3 stations (A, B, C) based on the difference coverage of substrate. The observation covers the type, morphology, anatomy, abundance, and the environmental parameter. There were 6 sea urchins species namely Echinometra mathaei, Echinometra oblonga, Echinothrix calamaris, Heterocentrotus trigonarius, Diadema setosum and Stomopneustes variolaris, which have different characteristics of morphology and anatomy. The abundance of sea urchins at station A is 474 ind/ 15m2, station B is 611 ind/ 15m2, and station C is 81 ind/ 15m2. The sediment organic material and the abundance of sea urchins showed a significant correlation, while sediment texture, temperature, salinity have an insignificant correlation to the abundance of sea urchins.
Studi Penjalaran Gelombang Laut di Pulau Panjang, Kabupaten Jepara Tri Widya Laksana Putra; Muhammad Zainuri; Denny Nugroho Sugianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.34299

Abstract

Pulau Panjang terletak di sebelah barat pantai Kota Jepara memiliki luas wilayah teritorial 30 Ha dan dimanfaatan sebagai wisata pulau, wisata ziarah, dan lokasi penangkapan ikan. Kombinasi kondisi gelombang ekstrim dan air pasang mengakibatkan tekanan kuat di pesisir Pulau Panjang sehingga menimbulkan kerusakan pada fasilitas wisata. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya analisis mengenai karakteristik penjalaran gelombang laut untuk menunjang segala jenis kegiatan masyarakat. Analisis penjalaran gelombang dilakukan melalui pendekatan pemodelan numerik hidrodinamika dua dimensi (two-dimensional hydrodynamic model). Data primer yang digunakan adalah data pengukuran langsung nilai gelombang menggunakan instrument Acoustic Doppler Current Profiler dan pengukuran langsung data batimetri menggunakan instrument single-beam echosounder. Data sekunder meliputi data angin (1999 – 2019) yang didapatkan dari portal unduh data di www.ogimet.com, data pasang surut BMKG dan data batimetri dari Badan Informasi Geospasial. Tinggi gelombang signifikan (Hs) dan periode signifikan (Ts) didapatkan dari konversi data angin menjadi nilai Hs dan Ts dengan metode DNS. Nilai Hs dan Ts maksimal setiap arah mata angin mmenjadi input perhitungan model hidrdodinamika. Hasil spasial penjalaran gelombang tertinggi terjadi pada arah datang gelombang dari arah timur laut, tenggara dan barat.  Penjalaran gelombang di Pulau Panjang menciptakan daerah terlindung di sisi seberang dari arah datang gelombang dan saat gelombang endekati pantai penjalaran gelombang mengikuti kontur garis pantai diikuti dengan melemahnya kecepatan rambat gelombang. Panjang Island is located on the west coast of Jepara City and has a territorial area of 30 hectares and is used as island tourism, pilgrimage tours, and fishing locations. The combination of extreme wave conditions and high tide resulted in strong force on the coast of Panjang Island causing damage to tourist facilities. Based on this, it is necessary to have an characteristics analysis of the sea waves propagation to support all types of community activities. Analysis of the propagation of the waves was carried out using a two-dimensional hydrodynamic model approach. The primary data used are direct measurement data of wave values using the Acoustic Doppler Current Profiler instrument and direct measurement of bathymetric data using a single-beam echosounder instrument. Secondary data includes wind data (1999 - 2019) obtained from the data download portal at www.ogimet.com, BMKG tidal data and bathymetry data from the Geospatial Information Agency. Significant wave height (Hs) and significant period (Ts) are obtained from the conversion of wind data into Hs and Ts values using the DNS method. The maximum Hs and Ts values for each cardinal direction are the input for calculating the hydrodynamic model. The highest spatial results of wave propagation occur in the coming direction of waves from the northeast, southeast and west. The wave propagation in Panjang Island creates a protected area on the opposite side from the direction of the waves coming and when the waves approach the coast the propagation of the waves follow the contours of the coastline followed by a weakening of the wave propagation speed.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 2 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 1 (2016): Buletin Oseanografi Marina Vol 3, No 1 (2014): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 4 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 2 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 3 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 2 (2012): Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 1 (2011): Buletin Oseanografi Marina More Issue