cover
Contact Name
M. Syukri Ismail
Contact Email
msyukri_ismail@staiyasnibungo.ac.id
Phone
+6282278916431
Journal Mail Official
jurnalnurelislam@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lintas Sumatera KM.04 Sungai Binjai Kec. Bathin III Kab. Bungo Provinsi Jambi Kode Pos 37211
Location
Kab. bungo,
Jambi
INDONESIA
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
ISSN : 23377828     EISSN : 25276263     DOI : -
NUR EL-ISLAM Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan the journal is published by Institut Agama Islam Yasni Bungo Jambi Indonesia. It’s dedicated for the publication of scientific articles in Islamic Education, Islamic Economics and Religious Studies. The languages used in this journal are Indonesia, English and Arabic. This journal is published twice a year, April and October in printed and online version. The editors receive scientific articles of academics, lecturers, and researchers who have never been published by other Journals.
Articles 508 Documents
Tren dan Peta Problematika Pembelajaran Fikih di Lembaga Pendidikan Islam: Studi Systematic Literature Review Berbasis Analisis Bibliometrik dan Meta-Sintesis Tematik (2020–2025) Arifin, Miftahul Arifin; Aisyatul Farhah; Ah. Zakki Fuad
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1397

Abstract

Dinamika pendidikan Islam pada periode 2020–2025 menghadapi tantangan transformasi digital dan transisi kurikulum yang signifikan. Meskipun pembelajaran fiqih memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter siswa, praktiknya di lapangan seringkali masih terjebak dalam metode tekstual-normatif yang berorientasi pada hafalan. Terdapat kesenjangan antara percepatan inovasi teknologi (seperti AI dan Madrasah Digital) dan masalah mendasar para pendidik yang terus berulang. Studi ini menggunakan metode Tinjauan Pustaka Sistematis (SLR) dengan protokol PRISMA. Data dikumpulkan dari basis data Google Scholar, SINTA, PoP, dan Garuda untuk periode 2020–2025. Dari 100 artikel yang diidentifikasi, 20 artikel relevan dipilih untuk diekstraksi menggunakan analisis bibliometrik dan teknik meta-sintesis tematik. Temuan menunjukkan evolusi masalah yang paradoks; Di satu sisi, terjadi peningkatan integrasi teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), tetapi di sisi lain, terjadi pengulangan masalah mendasar yang berkaitan dengan rendahnya kompetensi pedagogis guru dan literasi digital. Secara epistemologis, pembelajaran fiqih masih berjuang untuk menjembatani kesenjangan antara kajian klasik dan pendekatan modern yang kritis dan reflektif. Sebagai solusi, studi ini menawarkan rekonstruksi model konseptual melalui integrasi pilar Bayani, Burhani, dan Irfani untuk membentuk karakter Ulul Albab, yang memiliki keseimbangan intelektual dan spiritual dalam menanggapi tantangan zaman.
Reinterpreting Ihdad in The Context Of Modernity: An Analysis From The Shafi’i School of Thought on The Practices of The Village Community of Pengambengan, Bali Dwi Juniarty, Mila; Hasani; Muslihun; Wahyudi
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1402

Abstract

This study aims to analyze the application of iḥdād for women during the ‘iddah period following a spouse’s death in the modern era, as well as to examine its alignment with the Shafi’i school of thought in Pengambengan Village, Negara Subdistrict, Jembrana Regency, Bali. This study employs a qualitative method with a case study approach to gain a deep understanding of the social practices developing within the community. Data were collected through in-depth interviews with informants, direct observation of social conditions, and a documentary study of Islamic legal sources within the Shafi’i School. Data analysis was conducted using an interactive model encompassing data reduction, data presentation, and the systematic drawing of conclusions. The results of the study indicate that the majority of women in Pengambengan Village still observe iḥdād in accordance with the provisions of Shafi’i fiqh, particularly regarding the prohibition on adornment, the use of perfumes, and restrictions on activities outside the home during the ‘iddah period. However, in practice, there are several forms of adaptation influenced by economic demands and social realities, such as the need to work or meet daily living needs. These adjustments are made within limited parameters and continue to consider the principle of public interest, without substantially contradicting the fundamental provisions of the Shafi’i School. Thus, it can be concluded that the application of iḥdād in the modern era is not entirely rigid but rather adaptive and contextual, without undermining the normative values that form the primary foundation of Islamic law.  
KONTEKSTUALISASI NILAI-NILAI TAFAQQUH FI AD-DIN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN ANTI BULLYING DI PESANTREN Januri
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1406

Abstract

This study aims to contextualize the values of tafaqquh fi ad-din in the implementation of anti-bullying education at Al-Muballighin Islamic Boarding School, Muara Bungo. Bullying phenomena, manifested in verbal, physical, and psychological forms, are still found within the pesantren environment, despite its reputation as a religious-based educational institution that emphasizes moral and character development. The values of tafaqquh fi ad-din, which focus on deepening religious understanding and internalizing Islamic moral values, are believed to have strong potential as a foundation for building a comprehensive anti-bullying culture. This study employs a qualitative case study approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis followed the Miles and Huberman model, with data reduction, data display, and conclusion drawing, and triangulation was used to ensure data validity. The findings indicate that bullying persists due to a lack of supervision, imbalanced senior-junior relationships, and insufficient internalization of religious values in students’ daily practices. The values of tafaqquh fi ad-din, such as proper conduct (adab), empathy, mutual respect, and the prohibition of harming others, are highly relevant as foundational principles for anti-bullying education. Contextualization strategies were implemented through strengthening the moral education curriculum, habituation of Islamic behavior, role modeling by caregivers, and the integration of religion-based anti-bullying policies. The implementation of these values has proven effective in fostering a safer and more inclusive pesantren environment that reflects the principles of compassion and respect. This study offers both theoretical and practical contributions by proposing a tafaqquh fi ad-din based anti-bullying education model that can be applied in other Islamic boarding schools.
Membangun Karakter Sejak Dini Urgensi Konsistensi Dalam Pola Asuh Dan Pembelajaran narti, wiwin; Yulia Friska, sonia
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1413

Abstract

Pembentukan karakter pada anak usia dini memerlukan fondasi yang stabil, dan konsistensi dalam pola asuh serta pembelajaran terbukti menjadi syarat utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi konsistensi sebagai prasyarat mutlak dalam pembentukan karakter anak usia dini. Metode yang digunakan adalah studi literatur sistematis dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap 35 artikel jurnal terindeks periode 2014–2024. Hasil menunjukkan bahwa konsistensi — dalam aturan, respons emosional, dan penerapan nilai — secara signifikan memengaruhi keamanan psikologis, kepercayaan diri, dan internalisasi nilai moral anak. Sebaliknya, inkonsistensi menyebabkan disonansi kognitif, kebingungan moral, dan perilaku oportunis. Simpulan penelitian menegaskan bahwa konsistensi bukan sekadar strategi, melainkan kondisi wajib yang harus dipenuhi oleh orang tua dan pendidik untuk membangun karakter utuh sejak dini.
IMPLEMENTASI SIMPATIKA DAN DAMPAKNYA PADA PROFESIONALISME GURU PAI Jannah, Rifqotul; Ruslan
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1418

Abstract

This study examines the implementation of SIMPATIKA (Management Information System for Educators and Education Personnel) and its relevance to the professionalism of Islamic Education (PAI) teachers at Nurul Amal Islamic Educational Institution. The study is motivated by the gap between the ideal function of SIMPATIKA as a strategic educational management tool and its actual implementation at the institutional level. The purpose of this research is to analyze the implementation of SIMPATIKA, its relevance to teacher professionalism, and its supporting and inhibiting factors. This research employs a qualitative approach using the Participatory Action Research (PAR) method. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed descriptively. The results show that the implementation of SIMPATIKA is still administrative and operator-centered, and has not been supported by strategic planning. The system contributes to improving discipline, accountability, and moral values such as honesty and responsibility among teachers, but it has not been optimal in enhancing overall teacher professionalism. Supporting factors include leadership commitment and the role of operators, while inhibiting factors include limited technological competence among teachers and technical system constraints. SIMPATIKA functions effectively as an administrative control tool but has not yet been optimal as an instrument for developing teacher professionalism.
PENGELOLAAN DANA BPPDGS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS MADRASAH DINIYAH AL-AMIEN PUTRI 1 Hasanah, Mamluatul; amini, Izzat
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1419

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengelolaan dana pendidikan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah diniyah, khususnya melalui program Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta (BPPDGS). Pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi, implikasi, serta efektivitas penggunaan dana BPPDGS dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Diniyah Al-Amien Putri 1 Prenduan Sumenep sebagai mitra pengabdian. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang diintegrasikan dengan metode pengabdian berupa pelatihan dan pendampingan berbasis Participatory Action Research (PAR). Kegiatan dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta intervensi langsung dalam pengelolaan keuangan madrasah. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa implementasi dana BPPDGS berjalan secara sistematis melalui perencanaan partisipatif, pelaksanaan yang berorientasi pada kebutuhan pembelajaran, serta pelaporan dan pengawasan yang transparan dan akuntabel. Dampaknya terlihat pada peningkatan kualitas pembelajaran, profesionalitas guru, sarana prasarana, serta motivasi belajar santri. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan dana yang efektif dan partisipatif memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengelolaan keuangan madrasah menjadi langkah penting dalam mendukung keberhasilan program pendidikan diniyah.
Peran Kota Gede Sebagai Ruang Edukasi Budaya Bagi Masyarakat Septina, Pradita Wahyu; Maulana, Usup; Naja , Ubayyinun; Mahmudah , Widya Nur; Masruroh, Siti Badriatul; Nurkholifah Kholifatul , Yogi Febriana; Saputro, Deny Joko; Mufidah, Nastiti
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 13 No. 1 (2026): (April 2026)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v13i1.1428

Abstract

Abstract This study aims to analyze the role of the Kotagede area as a cultural education space for the community and identify the educational values ​​​​in it. The background of this study is based on how important cultural preservation is in the current era that has the potential to shift local identity, as well as the less than optimal use of cultural areas as a learning tool. Kotagede as the former capital of the Islamic Mataram Sultanate has various cultural assets such as the Mataram Grand Mosque, the royal tomb complex, and traditional houses that are closely related to the lives of the community, so it has the potential to become a learning space based on direct experience. The results of the study show that Kotagede is not only used as a tourist spot, but also as a dynamic cultural education space. The learning process is carried out through direct experience, both through interaction with tour guides of Kotagede's historical sites, observation activities of cultural activities such as silver craftsmen, as well as involvement and life of the local communityThis ensures the continued transmission of cultural values ​​in everyday life. Furthermore, the educational value of the Kotagede area encompasses historical, social, economic, and local religious aspects, contributing to the formation of cultural identity and community character. The activities not only provide knowledge but also instill values ​​such as cooperation, tolerance, and appreciation for cultural heritage. However, the utilization of Kotagede as a cultural education space is still optimal, some visitors tend to view this area only as a tourist attraction without looking for the educational meaning that exists. This could potentially reduce the educational function of the area if no balanced management efforts are made. Therefore, strategic steps need to be taken by increasing public awareness, knowledge of the role of local communities, and the development of cultural-based educational programs so that the learning function can run optimally and maximally. Through various activities such as educational tours, craft workshops, and local historical experiences, people can more easily understand and absorb these cultural values. The role of the younger generation is also very important in this regard, because they are the successors who will preserve culture in the future. With the active involvement of various parties, the educational function of the Kotagede area is not only maintained but can also develop according to the needs of the times. Thus, Kotagede not only functions as a cultural heritage preservation area, but also as a real social learning space. The existence of Kotagede is able to connect past values ​​with the lives of today's society, so that it can strengthen cultural identity in the midst of the era of globalization that continues to develop. Therefore, directed and collaborative management is needed so that the benefits of the Kotagede area can be felt by both local people and visitors. Keywords: Cultural heritage, cultural education, Kotagede, cultural identity, society Abstrak Penelitian Ini bertujuan untuk menganalisis peran kawasan Kotagede sebagai ruang edukasi budaya bagi masyarakat.dan mengidentifikasi nilai nilai edukatif yang ada di dalamnya.Latar belakang penelitian ini berdasarkan pada seberapa penting pelestarian budaya di era sekarang yang berpotensi bisa menggeser identitas lokal,serta kurang optimalnya pemanfaatan kawasan budaya sebagai sarana pembelajaran.Kotagede sebagai bekas ibu kota ksultanan Mataram Islam memiliki berbagai aset budaya seperti Masjid Gede Mataram,Komplek makam raja,dan rumah tradisional yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat,sehingga berpotensi menjadi ruang belajar yang berbasis pengalaman langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Kotagede tidak hanya dijadikan sebagai tempat wisata,tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya yang dinamis.Proses pembelajaran dilakukan melalui pengalaman langsung,baik melalui interaksi dengan tour guide situs bersejarah Kotagede,aktivitas pengamatan aktivitas Budaya seperti pengrajin perak,maupun keterlibatan dan kehidupan masyarakat setempat.Hal ini menjadikan pewarisan nilai nilai budaya dapat berkelanjutan dalan kehidupan sehari hari. Selanjutnya nilai edukatif yang ada di kawasan Kotagede mencakup aspek histori,sosial,ekonomi dan keafiran lokal yang turut berkontribusi dalam pembentukan identias budaya dan karakter masyarakat.Aktivitas yang berlangsung tidak hanya memberikan pengetahuan ,tetapi juga menanamkan nilai nilai seperti kerja sama, toleransi dan pemghargaaan teehadap warisan budaya. Tetapi,pemanfaatn Kotagede sebagai ruang edukasi budaya masih optimal sebagian pengunjung cenderung memamndang kawasan ini hanya sebagai objek wisata tanpa mencari makna edukatif yang ada.hal ini bisa berpotensi menngurangi fungsi edukasi kawasan apabila tidak dilakukan upaya pengelolaan yang seimbang.oleh karea itu langkah strategis perlu dilakukan dengan cara penginkatan kesadaran masyarakat,pengetahuan peran komunitas lokal,dan pembangunan program edukasi yang berbasis budaya agar fungsi pembelajaran dapat berjalan secara optimal dan maksimal.Melalui berbagai kegiatan seperti wisata edukasi,patihan kerajinan,dan pengalaman sejarah lokal masyarakat bisa lebih mudah memahami dan menyerap nilai nilai budaya tersebut.peran generasj muda juga sangat penting dalam hal ini,karena mereka merupakan penerus yang akan melestarikan budaya di masa mendatang.Dengan adanya keterlibatan aktif dari berbagai pihak ,fungsi edukatif kawasan Kotagede tidak hanya sekedar tetap terjaga tetapi juga dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.Dengan demikian Kotagede tidak hanya berfungsi sebagai kawasan pelestarian warisan budaya,tetapi juga sebagai ruang pembelajaran sosial yang nyata. keberadaan Kotagede mampu menghubungkan nilai nilai masa lampau dengan kehidupan masyarakat masa kini,sehingga dapat memperkuat identitas budaya di tengah era globalisasi yang twrus berkembang.Oleh karena itu pengelolaan yang terarah dan kolaboratif diperlukan agar manfaat dari kawasan Kotagede dapat dirasakan secara masyakarat setempat maupun pengunjung . Kata Kunci: Cagar budaya,Edukasi budaya,Kotagede,Identitas budaya,Masyarakat
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA SISWA MODERASI BERAGAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 SAROLANGUN PROVINSI JAMBI suparno
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 12 No. 2 (2025): (October 2025)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v12i2.1472

Abstract

Moderasi beragama merupakan konsep penting dalam menjaga harmoni kehidupan sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama sejak dini, khususnya melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah menengah. Guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi keagamaan, tetapi juga sebagai pembina sikap keberagamaan yang inklusif dan toleran (Azra, 2020). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina moderasi beragama siswa di SMA Negeri 4 Sarolangun Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Moleong, 2019). Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai edukator, teladan, mediator, dan fasilitator dalam pembinaan moderasi beragama siswa. Strategi yang digunakan meliputi pembelajaran dialogis, integrasi nilai moderasi dalam kurikulum, serta penguatan budaya sekolah yang inklusif. Faktor pendukung implementasi moderasi beragama meliputi dukungan kebijakan sekolah dan profesionalisme guru, sedangkan faktor penghambat berasal dari pengaruh media sosial dan keterbatasan literasi keagamaan siswa. Penelitian ini menegaskan bahwa peran guru PAI sangat penting dalam membentuk sikap keberagamaan moderat sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pencegahan sikap intoleran di lingkungan sekolah.

Filter by Year

2014 2026