cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi
ISSN : -     EISSN : 25989596     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Started in 2017, FaST publishes articles in the areas of science and technology, particularly in food technology, biology, electrical engineering, industrial engineering, mathematics and civil engineering. Articles are either reviews and/or research results.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN NANOPARTIKEL SENG OKSIDA PADA DAUN DAN BUAH PIRDOT (Saurauia vulcani Korth.) [ANTIOXIDANT ACTIVITY OF ZINC OXIDE NANOPARTICLES ON THE LEAVES AND FRUIT OF PIRDOT] (Saurauia vulcani Korth.) Lumantobing, Lukas Hotma Parulian; Handayani, Ratna; Cahyana, Antonius Herry
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 1 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.8998

Abstract

One of the potential local sources of Indonesia for nanoparticle synthesis is pyrdot (Saurauia vulcani Korth.). This study aims to synthesize zinc oxide nanoparticles with pyrdot leaf and fruit extracts by maceration. Total phenolic testing using the Folin-Ciocalteau method, antioxidant activity using the DPPH method. Antioxidant activity with IC50 of 0.891 ± 0.045 (leaf ZnONPs), 2.181 ± 0.167 (leaf extract), 2.945 ± 0.009 (fruit ZnONPs), and 4.017 ± 0.277 (fruit extract) respectively. ZnoNPs were subjected to morphological testing using SEM and TEM methods as well as particle size testing with the general results that the nanoparticles obtained met the requirements as a nanoparticle in terms of particle size, with leaf ZnONPs generally having a smaller particle size than fruit, although morphologically they are generally irregular in shape.Bahasa Indonesia Abstract:Salah satu sumber lokal Indonesia yang potensial untuk sintesis nanopartikel adalah pirdot (Saurauia vulcani Korth.). Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel seng oksida dengan ekstrak daun dan buah pirdot dengan maserasi. Pengujian total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteau, aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Aktivitas antioksidan dengan IC50 masing-masing sebesar 0,891 ± 0,045 (ZnONPs daun), 2,181 ± 0,167 (ekstrak daun), 2,945 ± 0,009 (ZnONPs buah), dan 4,017 ± 0,277 (ekstrak buah). ZnoNPs dilakuan pengujian morforlogi dengan metode SEM dan TEM serta pengujian ukuran partikel dengan hasil secara umum bahwa nanopartikel yang didapat memenuhi syarat sebagai sebuah nanopartikel dalam hal ukuran partikel, dengan ZnONPs daun secara umum memiliki ukuran partikel lebih kecil dari buah, meskipun secara morfologi pada umumnya berbentuk tidak beraturan.
SISTEM INFORMASI DASHBOARD MONITORING C/N PADA PRODUK SCPC DI PT. PI [DASHBOARD INFORMATION SYSTEM FOR C/N MONITORING ON SCPC PRODUCTS AT PT. PI] Pratama, Chuan; Junita, Junita
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 1 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9006

Abstract

SCPC (Signal Carrier Per Carrier) is a priority VSAT service that requires continuous frequency signal monitoring to ensure network stability. Currently, this monitoring is performed using a web-based decimator device. However, the monitoring data still requires manual processing to create reports and analyses, which is inefficient and time-consuming. This study developed a web-based dashboard monitoring system that automates the processing of C/N (Carrier to Noise) data for SCPC products at PT. PI. The system was tested using a task scheduler for 14 hours with 30-minute intervals, recording a longest processing time of 16.665 seconds with 11,812 data points, 60.6% RAM usage, and 36.9% CPU usage, and a shortest processing time of 4.026 seconds with 3,546 data points, 53.9% RAM usage, and 39.7% CPU usage. The proposed web application successfully displays historical graphs, total remote counts, databases, top 10 under C/N, tables, and reports, as initially designed. The average dashboard loading time to complete data display is approximately 9.894 seconds. This system is expected to improve the efficiency of SCPC monitoring and provide faster, more accurate reporting.Bahasa Indonesia Abstract:SCPC (Signal Carrier Per Carrier) adalah layanan VSAT prioritas yang memerlukan monitoring sinyal frekuensi secara terus-menerus untuk memastikan kestabilan jaringan. Saat ini, monitoring dilakukan melalui perangkat decimator berbasis web; namun, pengolahan data monitoring menjadi laporan dan analisis masih harus dilakukan secara manual, yang tidak efisien dan memakan waktu. Penelitian ini mengembangkan sistem dashboard monitoring berbasis web yang mampu mengotomatisasi pengolahan data C/N (Carrier to Noise) pada produk SCPC di PT. PI. Sistem ini diuji menggunakan task scheduler selama 14 jam dengan interval 30 menit, di mana waktu proses terlama tercatat 16,665 detik dengan 11.812 data, penggunaan RAM 60,6%, dan CPU 36,9%; sementara waktu tercepat adalah 4,026 detik dengan 3.546 data, penggunaan RAM 53,9%, dan CPU 39,7%. Aplikasi web berhasil menampilkan grafik historis, total remote, basis data, top 10 di bawah C/N, tabel, dan laporan sesuai desain awal. Waktu rata-rata yang dibutuhkan dashboard untuk memuat data hingga selesai adalah sekitar 9,894 detik. Pengembangan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi monitoring SCPC dan memberikan laporan yang lebih cepat dan akurat.
Non-Parametric Analysis of Factors Influencing Maximum Heart Rate in the Healthcare Sector Tanubrata, Nicholas Andrew; Sambow, William Samuel; Christian, Jonathan; Ferdinand, Ferry Vincenttius
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 1 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9009

Abstract

This study aims to analyze factors that influence maximum heart rate using a non-parametric statistical analysis approach, which is flexible in analyzing data with unknown or non-normal distributions. Factors analyzed include resting electrocardiogram (ECG) examination results, type of chest pain, and blood pressure. Respondents were classified based on these factors to facilitate analysis. Methods used in this study included the Expanded Median Test (K-Sample), Pearson Correlation Test, and Kruskal-Wallis Test, which were chosen because they were appropriate for the type of data and the objectives of the study that involved testing the median between multiple groups. Results showed that ECG and chest pain type significantly influenced maximum heart rate, while blood pressure did not show a significant effect. The main contribution of this study is that it provides an empirical basis for detecting modifiable cardiovascular risk factors, supporting heart attack prevention efforts through early detection, and directing further research for a more comprehensive analysis.Bahasa Indonesia Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi detak jantung maksimum menggunakan pendekatan analisis statistik non-parametrik, yang fleksibel dalam menganalisis data dengan distribusi yang tidak diketahui atau tidak normal. Faktor yang dianalisis meliputi hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) istirahat, tipe nyeri dada, dan tekanan darah. Responden diklasifikasikan ke dalam kelompok risiko berdasarkan faktor-faktor ini untuk memudahkan analisis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup Perluasan Uji Median (K-Sampel), Uji Korelasi Pearson, dan Uji Kruskal-Wallis, yang dipilih karena sesuai dengan jenis data dan tujuan penelitian yang melibatkan pengujian median antara beberapa kelompok. Hasil menunjukkan bahwa EKG dan tipe nyeri dada secara signifikan memengaruhi detak jantung maksimum, sedangkan tekanan darah tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Kontribusi utama penelitian ini adalah memberikan dasar empiris untuk mendeteksi faktor risiko kardiovaskular yang dapat dimodifikasi, mendukung upaya pencegahan serangan jantung melalui deteksi dini, dan mengarahkan penelitian lanjutan untuk analisis yang lebih komprehensif.
RANCANG BANGUN SISTEM PEMANTAUAN DAN KONTROL INTENSITAS CAHAYA SERTA PENYIRAMAN TANAMAN OTOMATIS PADA GREENHOUSE BERBASIS INTERNET OF THINGS Astuti, Fitri Yuni; Uranus, Henri P.
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 1 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.9030

Abstract

Agriculture is an important sector in a country's economy, but with the increasing population growth, the challenges in agriculture are becoming increasingly complex. One of the main challenges is maintaining the quality and quantity of plants product. Greenhouses are an effective solution to control the plant growth environment. However, environmental management in conventional greenhouses today requires a lot of labor and high costs. To address this challenge, there is an urgent need to develop an automation system capable of monitoring plant conditions and controlling the light intensity and watering of plants in greenhouse plants. The system uses Internet of Things (IoT) technology with an ESP32 Devkit v1 microcontroller module for automatic and real-time monitoring and control of the plant growth environment. Through the implementation of carbon dioxide (CO2), light intensity, soil pH, and soil moisture quality monitoring systems along with automatic control of light intensity and watering of plants in greenhouses, it is hoped that agricultural productivity can be increased. Sensor data were taken and read by the microcontroller which is then displayed and sent to 4 platforms, namely Serial Monitor, LCD OLED, website Platform, and Google Sheets. The microcontroller successfully reads the data of the installed sensors and sent in real-time to multiple platforms. These test data provide a concrete picture of the performance of the developed greenhouse plant monitoring and control system. The results of verification to commercial measuring instruments showed that the LDR sensor had an average error of 1.15%, the CO2 sensor had an error of 0.86%, the soil pH sensor had an error of 3.22%, and the soil moisture sensor had an error of 1.46%. Functional tests show that the system responds to turn on the growlight when the light intensity drops to 500 Lux and turn on the pump when the soil moisture drops below 40% according to the threshold points setting.Bahasa Indonesia Abstract:Pertanian adalah sektor penting dalam perekonomian suatu negara, namun dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, tantangan dalam pertanian menjadi semakin kompleks. Salah satu tantangan utama adalah menjaga kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Greenhouse adalah solusi efektif untuk mengendalikan lingkungan pertumbuhan tanaman. Namun, pengelolaan lingkungan dalam greenhouse konvensional saat ini memerlukan banyak tenaga kerja dan biaya yang tinggi. Untuk mengatasi tantangan ini, ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan sistem otomatis yang mampu memantau kondisi tanaman dan mengontrol intensitas cahaya serta penyiraman tanaman pada greenhouse. Sistem ini menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) dengan mikrokontroler ESP32 Devkit v1 untuk pemantauan dan kontrol otomatis realtime pada lingkungan pertumbuhan tanaman. Melalui implementasi sistem pemantauan konsentrasi karbon dioksida (CO2), intensitas cahaya, pH tanah dan kelembapan tanah serta kontrol otomatis intensitas cahaya dan penyiraman tanaman otomatis, diharapkan produktivitas pertanian dapat ditingkatkan. Data-data sensor diambil dan dibaca oleh mikrokontroler yang kemudian ditampilkan dan dikirimkan ke 4 platform, yaitu Serial Monitor, LCD OLED, platform website, dan Google Spreadsheet. Mikrokontroler berhasil membaca data-data sensor yang terpasang, dan mengirimkan secara realtime pada platform-platform tersebit. Data-data pengujian ini memberikan gambaran konkret tentang kinerja sistem pemantauan dan kontrol tanaman greenhouse yang dikembangkan. Hasil verifikasi terhadap alat ukur komersial menunjukkan sensor LDR mempunyai kesalahan sebesar 1.15%, sensor CO2 mempunyai kesalahan sebesar 0.86%, sensor pH tanah mempunyai kesalahan 3.22%, sensor kelembaban tanah mempunyai kesalahan 1.46%. Uji fungsional menunjukkan sistem memberi respon menyalakan lampu growlight saat intensitas cahaya turun sampai 500 Lux dan menyalakan pompa saat kelembaban tanah turun di bawah 40% sesuai dengan setting titik threshold yang diberikan.
Rancang Bangun Sistem Monitoring Kualitas Udara, Kecepatan Angin, dan Arah Angin Menggunakan Mikrokontroler ESP32 dan Visualisasi Data Menggunakan Blynk : [Design of Air Quality, Wind Speed, and Wind Direction Monitoring System Using ESP32 Microcontroller and Data Visualization Using Blynk] Abdur Rahman Haritsah; Henri P. Uranus
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9159

Abstract

Air quality, wind speed, and wind direction monitoring system is a system that can measure environmental parameters that affect human health and comfort, as well as displaying real-time measurement data through an application. This system is designed and built using ESP32 microcontroller and data visualization using Blynk IoT platform. The system consists of three main components, namely sensors, microcontroller, and IoT platform. The sensors used are DHT22 sensor to read temperature and humidity, MQ135 sensor to read CO2 concentration, anemometer sensor to read wind speed, and wind direction sensor to read wind direction. These sensors send data to the ESP32 microcontroller, which then processes the data and sends it to the Blynk server via an internet connection. In addition, the measurement data is also automatically sent to a Google Spreadsheet using the Google Sheets API. This allows users to save data in a tabular format, perform further analysis, and store measurement history in the cloud. The Blynk app displays measurement data in the form of graphs, numbers, and color indicators. The test showed that the system can function well in measuring environmental parameters. Verification showed that the average relative errors in reading the parameters are as follows: temperature 1.7%, humidity 1.63%, CO2 concentration 1.99%, and wind speed 0.02%. These error values are within accepted tolerance level, hence the system is sufficiently accurate to measure environmental conditions. Bahasa Indonesia Abstract: Sistem monitoring kualitas udara, kecepatan angin, dan arah angin adalah sistem yang dapat mengukur parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan dan kenyamanan manusia, serta menampilkan data hasil pengukuran secara real-time melalui aplikasi. Sistem ini dirancang dan dibangun dengan menggunakan Mikrokontroler ESP32 dan visualisasi data menggunakan Blynk. Mikrokontroler ESP32 adalah sistem berbiaya rendah dan berdaya rendah, terintegrasi pada chip mikrokontroler, dengan WiFi terintegrasi dan mode ganda Bluetooth. Blynk adalah platform perangkat lunak IoT berbiaya rendah dan berdaya rendah yang memungkinkan pengembang untuk membuat proyek terhubung dengan mudah. Sistem ini terdiri dari tiga komponen utama, yaitu sensor, mikrokontroler, dan aplikasi. Sensor yang digunakan adalah sensor DHT22 untuk membaca suhu dan kelembapan, sensor MQ135 untuk membaca CO2, sensor anemometer untuk membaca kecepatan angin, dan sensor arah angin untuk membaca arah angin. Sensor-sensor ini mengirim data ke mikrokontroler ESP32, yang kemudian mengolah data dan mengirimnya ke server Blynk melalui koneksi internet. Selain itu, data hasil pengukuran juga dikirimkan secara otomatis ke Google Spreadsheet menggunakan API Google Sheets. Hal ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan data dalam format tabel, melakukan analisis lebih lanjut, dan menyimpan riwayat pengukuran secara terpusat. Aplikasi Blynk menampilkan data hasil pengukuran dalam bentuk grafik, angka, dan indikator warna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem dapat berfungsi dengan baik dalam mengukur parameter-parameter lingkungan. Rata-rata kadar CO2 adalah 310PPM. Rata-rata kecepatan angin adalah 1.2 m/s, dengan nilai minimum 0 m/s dan maksimum 3.1 m/s. Arah angin terbanyak adalah dari arah Tenggara (135°). Sistem ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna untuk mengetahui kondisi lingkungan di sekitarnya.
Pengembangan dan Perancangan Alat Potong Sayur dengan Menggunakan Metode Quality Function Deployment (QFD): [Vegetable Cutting Tools Development and Design Using Quality Function Deployment (QFD) Method] Limiyana, Fanny; sylvia, sylvia
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9564

Abstract

Technology can help household chores. One household task involves manual cutting of vegetables. The concept of vegetable cutting tool’s design and development is driven by the need to reduce injuries and increase productivity for users. The research’s objective is to design and develop a vegetable cutting tool using the Quality Function Deployment (QFD) method. The limitations of the problems in QFD are the creation of the House of Quality , parts deployment, and product development and design is on phases 0, 1, 2, and 3. Phase 0 generates a mission statement for the vegetable cutting tool. Phase 1 creates assessments for the HoQ. Phase 2 produces design representations. Phase 3 designs the prototype. First step of HoQ is gathering feedback on customer needs based on feature, performance, and ergonomic aspects. The Voice of Customer results in six variable WHATs and seven HOWs. The HoQ shows three main priorities for product design and  development: short user steps, blade sharpness, and automation of the tool. Parts deployment identifies critical components in the design of the tool, including the main frame, tool automation, and blade. Subsequently, the vegetables cutting tool’s prototype is designed. Prototype shows difference in ergonomic and shorter user step. Bahasa Indonesia Abstract: Teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Salah satu pekerjaan rumah tangga yaitu pemotongan sayur yang manual. Gagasan pengembangan dan perancangan alat potong sayur dilandasi oleh kebutuhan pengurangan cedera serta meningkatkan produktivitas kerja bagi penggunanya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk merancang dan mengembangkan produk alat potong sayur menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Pembatasan masalah penelitian pada QFD dilakukan penyusunan House of Quality, parts deployment, serta pada pengembangan dan perancangan produk berfokus pada fase 0, 1, 2, dan 3. Fase 0 menghasilkan mission statement alat potong sayur. Fase 1 menghasilkan penilaian penyusunan HoQ. Fase 2 menghasilkan penggambaran desain. Fase 3 berfokus perancangan prototype. Penyusunan awal HoQ adalah mendapatkan suara kebutuhan pelanggan yang didasarkan aspek fitur, performansi dan ergonomi. Pengumpulan VoC menghasilkan enam variabel WHATs dan tujuh HOWs. Hasil HoQ mendapatkan tiga prioritas utama dalam pengembangan dan perancangan produk yaitu langkah penggunaan singkat, ketajaman pisau, dan otomatisasi alat potong sayur. Parts deployment mengidentifikasi komponen kritis dalam perancangan alat potong sayur yaitu kerangka utama, otomatisasi alat, dan pisau pemotong. Lalu, dilanjutkan perancangan prototype alat potong sayur. Prototype memberikan pengembangan yang terlihat pada aspek ergonomi dan langkah penggunaan alat singkat.
Evaluation of Plantaricin Gene Expression in Lactiplantibacillus plantarum Strain SU-KC1a: [Evaluasi Ekspresi Gen Plantarisin pada Lactiplantibacillus plantarum Strain SU-KC1a] Sugata, Marcelia; Sunardi, Jessica; Victor, Hans; Tan, Tjie Jan
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9595

Abstract

Lactobacillus species are normal gastrointestinal flora and are commonly used in the food industry for fermented milk products. Due to their probiotic properties, Lactobacillus strains are considered safe and effective for human consumption, with antimicrobial activity often attributed to bacteriocins. Lactobacillus plantarum (known as Lactiplantibacillus plantarum) produces plantaricin, a ribosomally synthesized bacteriocin with activity against a range of pathogens and potential as a bio-preservative. In this study, L. plantarum SU-KC1a, isolated from human breast milk, was assessed for its antimicrobial activity through the production of plantaricin. Since plantaricin is typically produced at low concentrations, reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) was employed. PCR amplification of the plnJ and plnK genes resulted in amplicons of approximately 168 bp and 173 bp, respectively. These findings suggest that L. plantarum SU-KC1a produces plantaricin JK. However, further sequence analysis is required to confirm the homology of the amplified genes with known plantaricin J and K genes in GenBank. Bahasa Indonesia Abstract: Spesies Lactobacillus adalah flora gastrointestinal normal dan sering digunakan dalam industri makanan untuk produk susu fermentasi. Karena sifat probiotiknya, strain Lactobacillus dianggap aman dan efektif untuk konsumsi manusia, dengan aktivitas antimikroba yang sering dikaitkan dengan bakteriosin. Lactobacillus plantarum (dikenal sebagai Lactiplantibacillus plantarum) menghasilkan plantarisin, sebuah bakteriosin yang disintesis ribosom dengan aktivitas melawan berbagai patogen dan berpotensi sebagai bio-preservatif. Dalam penelitian ini, L. plantarum SU-KC1a yang diisolasi dari ASI manusia dievaluasi aktivitas antimikrobanya melalui produksi plantarisin. Karena plantarisin biasanya diproduksi dalam konsentrasi rendah, dilakukan reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Amplifikasi PCR dari gen plnJ dan plnK menghasilkan produk amplifikasi sekitar masing-masing 168 bp dan 173 bp. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa L. plantarum SU-KC1a menghasilkan plantarisin JK. Namun, analisis urutan lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi kesamaan gen yang diamplifikasi dengan gen plantarisin J dan K yang diketahui di GenBank.
Optimasi Tata Letak Penyimpanan Bahan Baku Menggunakan Metode Penyimpanan Berbasis Kelas di PT. XYZ: [Optimization of Raw Material Storage Layout Using A Class-Based Storage Method at PT. XYZ] Christiani, Agustina; Nata, Christopher; Putra, Kurniawan Dwi
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9596

Abstract

In an operational process of the manufacturing industry, one of the crucial aspects that affect efficiency and productivity is the layout of raw material storage. At present, the way raw materials are stored at PT XYZ still uses simple storage methods and there has been no adjustment to the new provisions or policies that apply. This condition causes several problems including: difficulty in grouping raw materials based on their characteristics, difficulty in ensuring proper inventory rotation. In addition, the planned installation of new machines and buildings in the production area makes it necessary to rearrange the arrangement of raw materials. Based on this background, it is necessary to re-plan the new raw material storage layout to maximize the remaining storage space to be more optimal and in accordance with future production needs with the class-based storage policy. The result of this research is a proposed layout design that can accommodate production needs in department X, Plant M, PT XYZ.  Based on the analysis, it is known that the proposed layout design can reduce travel distance by 6.69%, reduce material handling costs by 7.5%., and increase space efficiency by 3.11% from the initial raw material layout. This study shows that the class-based grouping strategy and layout improvements provide significant benefits in space efficiency and operational cost reduction. Bahasa Indonesia Abstract: Dalam proses operasional industri manufaktur, salah satu aspek krusial yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas adalah tata letak penyimpanan bahan baku. Pada saat ini, cara penyimpanan bahan baku di PT. XYZ masih menggunakan metode penyimpanan sederhana dan belum adanya penyesuaian dengan ketentuan atau kebijakan baru yang berlaku. Hal ini mengakibatkan beberapa masalah di antaranya: kesulitan dalam mengelompokkan bahan baku berdasarkan karakteristiknya, kesulitan dalam memastikan rotasi persediaan yang tepat. Selain itu adanya rencana pemasangan mesin dan bangunan yang baru di area produksi membuat perlu dilakukan tata ulang kembali susunan bahan baku. Berdasarkan latar belakang tersebut perlu adanya perencanaan ulang tata letak penyimpanan bahan baku yang baru untuk memaksimalkan ruang penyimpanan yang tersisa agar lebih maksimal dan sesuai dengan kebutuhan produksi ke depannya dengan metode penyimpanan berbasis kelas. Hasil penelitian ini adalah rancangan tata letak usulan yang dapat mengakomodasi kebutuhan produksi di departemen X, Plant M, PT XYZ. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa rancangan tata letak usulan yang dibuat dapat mengurangi jarak tempuh sebesar 6,69%, dan mengurangi ongkos material handling sebesar 7,5% serta meningkatkan efisiensi ruang sebesar 3,11% dari tata letak bahan baku awal. Studi ini menunjukkan bahwa strategi pengelompokan berbasis kelas dan perbaikan tata letak memberikan manfaat signifikan dalam efisiensi ruang dan pengurangan biaya operasional.
Efek Edible Coating dengan Penambahan Ekstrak Daun Jati pada Mutu Daging Sapi Segar: [Effect of Edible Coating with Addition of Teak Leaf Extract on The Quality of Fresh Beef] Handayani, Ratna; Meldi, Helenna
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9607

Abstract

Beef is one of perishable food because it has the availability of complete nutrition. Storage at low temperatur could slow down quality degradation. Edible coating is a method that has been proven capable of protecting and inhibiting damage to food products. The addition of antimicrobial compounds can be an alternative in increasing the durability and quality of food during storage. Red teak leaves, Chinese teak leaves and Dutch teak leaves are known to have active compounds that can act as antibacterial. This study aims to study the effect of adding different types of teak leaf extract as an additive to the edible coating on the quality of beef stored at refrigerator temperatures. Each ethanol extract of teak leaves will be seen its antibacterial activity based on inhibition zones produced using the well diffusion method, MIC (Minimum Inhibitory Concentration) and MBC (Minimum Bactericidal Concentration) at concentrations of 1, 2, and 3%. Red teak leaves have the ability to produce the best inhibition zone diameter between the two other types of teak leaves at 3% extract concentration can produce inhibition zone diameter of 14.85 ± 0.05 mm against Escherichia coli bacteria and 12.93 ± 0.55 mm against Staphylococcus aureus bacteria. Edible coating with the addition of 3% red teak leaf extract is known to be able to maintain the quality of beef until the storage time of the 9th day at refrigerator temperature (chilling) based on parameters of pH, color (lightness and hue value) and total plate count (TPC). Bahasa Indonesia Abstract: Daging sapi merupakan bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan karena memiliki ketersediaan nutrisi yang lengkap. Salah satu cara untuk memperlambat penurunan mutu daging sapi yaitu dengan penyimpanan suhu rendah. Edible coating merupakan metode yang telah terbukti mampu melindungi dan menghambat kerusakan produk pangan. Penambahan senyawa anti mikroba dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan selama penyimpanan. Daun jati Merah, daun jati Cina dan daun jati Belanda diketahui memiliki senyawa aktif yang dapat berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek dari penambahan ekstrak daun jati dengan jenis yang berbeda sebagai bahan tambahan pada edible coating terhadap mutu daging sapi yang disimpan pada suhu refrigerator. Setiap ekstrak daun jati akan dilihat aktivitas antibakterinya berdasarkan zona hambat yang dihasilkan menggunakan metode difusi sumur, nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan MBC (Minimum Bactericidal Concentration) pada konsentrasi 1, 2, dan 3%.  Daun jati Merah memiliki kemampuan menghasilkan diameter zona hambat yang paling baik diantara kedua jenis daun jati lainnya pada konsentrasi ekstrak 3% dapat menghasilkan diameter zona hambat sebesar 14,85 ± 0,05 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 12,93 ± 0,55 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Edible coating dengan penambahan ekstrak daun jati Merah 3% diketahui mampu mempertahankan mutu daging sapi hingga waktu penyimpanan hari ke-9 pada suhu chilling (refrigerator) berdasarkan parameter mutu pH, warna (lightness dan nilai Hue) dan total plate count (TPC).
Pemanfaatan Tepung Labu Kuning (Cucurbita Moschata Duchesne) sebagai Substituen Tepung Beras pada Pembuatan Baby Puff: [Utilization of Pumpkin Flour (Cucurbita Moschata Duchesne) as A Constituent of Rice Flour in Making Baby Puff] Cornelia, MT, Dr. Ir. Melanie; Maulani, Heidi
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v9i1.9609

Abstract

Pumpkin was one of Indonesian agricultural product and known as a good source of carrotenoids such as β-carotene. β-carrotene was one of vitamin A precursor for human body and good for children’s growth. In this research, pumpkin flour made by two methods, by soaking in sodium metabisulfite solution 0,25% and with no treatment as control. This treatment can preserve β-carrotene value during heating process. The objective of this research were to determine the best method on producing pumpkin flour and to study its physical characteristic, β-carotene, dietary fiber, hardness, color and proximate analysis of chosen baby puff using pumpkin flour as its substitute. The result show that the best method of pumpkin flour was soaking in sodium metabisulfite solution 0,25%. The best pumpkin flour has characteristic 35,24µg/g of β-carotene, 4,62% dietary fiber, 66,7 ohue, 407,67% water holding capacity, and 0,63 gr/ml density. The best baby puff formulation based on physical, chemical analysis and organoleptic score was 5 % pumpkin flour subtitution. Its contain 24,6 µg/g of β-carotene, 5,12% of dietary fiber, 79,86 ohue and 493,00 g hardness. The highest amount of β-carotene was found in baby puff with 20% pumpkin flour subtitution Bahasa Indonesia Abstract: Labu kuning merupakan hasil pertanian Indonesia yang dikenal sebagai sumber zat gizi berupa β-karoten. β-karoten adalah salah satu prekursor vitamin A bagi tubuh manusia dan baik untuk pertumbuhan anak. Pada penelitian ini, tepung labu kuning dibuat dengan dua metode, yaitu perlakuan perendaman dalam larutan natrium metabisulfit 0,25% dan tanpa perlakuan sebagai kontrol. Perlakuan ini dapat mempertahankan nilai β-karoten selama proses pemanasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan metode terbaik yaitu perendaman pada pembuatan tepung labu kuning berdasarkan sifat fisik, β-karoten, dan analisis proksimat tepung labu kuning terpilih dilihat dari β-karoten, serat pangan, kekerasan dan warna tepung labu kuning dan menggunakan tepung labu kuning sebagai substitusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembuatan tepung labu kuning terbaik adalah perendaman dengan larutan natrium metabisulfit 0,25%. Tepung labu kuning terbaik mempunyai data analisis β-karoten 35,24µg/g, serat pangan 4,62%, daya ikat air 407,67%, dan berat jenis 0,63 gr/ml. Formulasi baby puff terbaik berdasarkan analisis fisik dan kimia serta skor organoleptik adalah subtitusi tepung labu kuning 5%. Kandungan β-karotennya 24,6 µg/g, serat pangan 5,12%, kekerasan 493,00 g. Kandungan β-karoten tertinggi terdapat pada baby puff dengan subtitusi tepung labu kuning 20%