cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
Implementasi Sistem Tanggap Darurat Kebakaran di Rumah Sakit X Sragen Rizkha Ayu Pratiwi; Ekawati Ekawati; Siswi Jayanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 2 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.2.105-113

Abstract

Latar belakang: Rumah sakit merupakan tempat kerja dengan risiko kebakaran yang dapat menimbulkan dampak besar. Rumah Sakit Umum X Sragen perlu mengelola sistem tanggap darurat kebakaran untuk menjamin keselamatan kebakaran. Penelitian bertujuan menganalisis implementasi sistem tanggap darurat kebakaran di Rumah Sakit Umum X Sragen.Metode: Jenis penelitian kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan penelitian terdiri atas 4 informan utama yang merupakan bagian K3RS (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit) dan IPSRS (Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit), 2 informan triangulasi merupakan staf rumah sakit red code dan petugas keamanan. Seluruh informan telah mendapatkan pelatihan kebakaran dan bersedia mengisi lembar inform concent.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan kebakaran terlaksana dengan baik. Sumber bahaya kebakaran dapat diketahui dengan baik namun belum dilakukan penilaian risiko. Organisasi sudah baik dengan penunjukkan petugas peran kebakaran. Sistem proteksi kebakaran terlaksana dengan baik. Sarana penyelamatan jiwa belum optimal, titik kumpul satu area parkir kendaraan. Pembinaan dan pelatihan terlaksana sesuai regulasi. Komunikasi kebakaran cukup baik untuk menjamin kelancaran penanggulangan kebakaran. Inspeksi kebakaran terlaksana dengan baik. Proses penanggulangan kebakaran telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Investigasi dan pelaporan kebakaran terlaksana dengan baik namun belum optimal akibat rendahnya pelaporan terhadap kejadian berbahaya. Audit kebakaran belum optimal.Simpulan: Implementasi sistem tanggap darurat kebakaran secara keseluruhan telah disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku namun perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk penyempurnaannya.Kata kunci: kebakaran; rumah sakit; tanggap darurat Title: Implementation of Fire Emergency Response System at X Sragen HospitalBackground: A fire at the hospital can have a significant effect. General Hospital X Sragen needs to manage a fire response system to ensure fire safety.The purpose of this study is to analyze the application of the fire response system at X General Hospital, Sragen.Method: Descriptive qualitative research type through in-depth interviews and observations. Informans of this research consisted of 4 main informants who are part of K3RS and IPSRS, 2 triangulation informans are red code hospital staff and security officers. All of them had received fire training and were willing to fill out an informes consent form.Result: The results showed that the fire policy implementation was well implemented. The potential source of fire hazard can be well-identified, but risk assessment has not done yet. The organization is doing good with the appointment of fire officers. The fire protection system is well implemented. Lifesaving facilities have not been working optimally, the assembly point is one with parking area. Coaching and training are carried out according to regulations. Fire communication is good enough to ensure smooth fire suppression. The fire inspection was carried out well. The fire suppression process is by the established procedures. Investigation and reporting of fires are well carried out, but the reporting of dangerous events is not yet optimal. A fire audit is not optimal.Conclusion: The overall implementation of the fire emergency response system has been implemented and adjusted to the applicable regulations, but further evaluation is necessary to improve it.Keywords: fire; hospital; emergency response
Hubungan Faktor Individu dan Beban Kerja FIsik dengan Kelelahan Kerja Subektif pada Petugas Kebersihan Kabupaten Banjarnegara Restiana Winayu Kinasih; Bina Kurniawan; Ekawati Ekawati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.223-227

Abstract

Latar belakang: Kelelahan kerja dapat diartikan sebagai menurunnya kapasitas kerja dan stamina tubuh untuk bekerja. Petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara khususnya petugas penyapu jalan berisiko mengalami kelelahan kerja karena berbagai faktor individu yang dimiliki dan beban kerja yang ditanggungnya. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan faktor individu dan beban kerja fisik dengan kelelahan kerja subjektif pada petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara.Metode: Pendekatan cross-sectional digunakan dalam penelitian kuantitatif ini. Sampel diperoleh melalui teknik total sampling yaitu seluruh petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara bagian penyapu jalan dengan jumlah 41 pekerja. Variabel bebas berupa faktor individu mencakup usia, status gizi, masa kerja, dan kebiasaan merokok dengan variabel terikat berupa kelelahan kerja subjektif. Data diperoleh dari wawancara kuesioner dan pengukuran langsung. Instrumen penelitian untuk beban kerja fisik yaitu SNI 7269:2009, sedangkan untuk kelelahan kerja subjektif yaitu kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Research Committee). Uji statistik data menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Dari hasil penelitian diketahui kelelahan kerja subjektif tingkat sedang dirasakan 34,1% pekerja dan kelelahan kerja subjektif tingkat ringan dirasakan 65,9% pekerja. Variabel yang berhubungan dengan kelelahan kerja subjektif yaitu usia (p-value = 0,033), status gizi (p-value = 0,035), dan masa kerja (p-value = 0,001). Sedangkan kebiasaan merokok (p-value = 0,923) dan beban kerja fisik (p-value = 1,000) menjadi variabel yang tidak memiliki hubungan dengan dengan kelelahan kerja subjektif.Simpulan: Masing-masing dari usia, status gizi, dan masa kerja memiliki hubungan dengan kelelahan kerja subjektif, namun tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok maupun beban kerja fisik dengan kelelahan kerja subjektif  pada petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara.Kata kunci: kelelahan kerja subjektif; faktor individu; petugas kebersihan; penyapu jalan Title: The Correlation of  Individual Factors and Physical Workload with Subjective Work Fatigue on Janitors at Banjarnegara RegencyBackground: Work fatigue can be described as a decrease in work capacity and physical stamina. Due to various kinds of individual factors and workload, Banjarnegara Regency's janitors, specifically street sweepers, are at risk of experiencing work fatigue. The goal of this research is to analyze the correlation of individual factors and physical workload with subjective work fatigue on janitors at Banjarnegara Regency.Method: Cross-sectional methodology is used in this quantitative research. Samples were obtained through the Total Sampling technique which consisted of 41 janitors of the street sweeper section. Subjective work fatigue is a dependent variable that has independent variables such as age, nutritional state, length of working, and smoking habits. The data were obtained from questionnaire interviews and direct measurements. SNI 7269:2009 is used to measure physical workload, while the IFRC (Industrial Fatigue Research Committee) questionnaire is used to measure subjective work fatigue. Analytical Chi-Square test was used.Result: The outcomes showed that 34,1% of workers felt moderate subjective work fatigue felt and 65,9% of workers felt mild subjective work fatigue. Variables related with subjective work fatigue are age (p-value = 0,033), nutritional status (p-value = 0,035), and length of working (p-value = 0,001). Smoking habits (p-value = 0,923) and physical workload (p-value = 1,000) are variables that are not related to subjective work fatigue.Conclusion: Each of age, nutritional status, and length of working has a correlation with subjective work fatigue, but smoking habit as well as physical workload has no correlation with subjective work fatigue on Banjarnegara Regency’s janitors.Keywords: subjective work fatigue; individual factor; janitors; street sweeper
Gambaran Cemaran Bakteri Escherichia coli pada Jajanan di SDN 70 Banda Aceh Nonie Safira; Yuni Rahmayanti; Fia Dewi Auliani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.256-265

Abstract

Latar belakang: Anak usia sekolah umumnya setiap hari menghabiskan sepertiga waktunya di sekolah, sehingga menyebabkan mereka menghabiskan waktu makan siangnya di sekolah. Adapun jenis jajanan yang dijajakan beraneka ragam dari mulai jajanan sehat maupun jajanan tidak sehat. Makanan sehat yang mempunyai gizi yang cukup, sedangkan makanan tidak sehat sudah terkontaminasi mikroba. Salah satu mikroba yang berbahaya bagi manusia pada makanan adalah bakteri Escherichia coli. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat cemaran bakteri Escherichia coli pada jajanan di SDN 70 Banda Aceh.Metode: Metode jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini menggunkana metode kuantitifikasi bakteri dengan Teknik MPN (Most Probable Number) dan TPC (Total Plate Count). Sampel dipilih dengan metode purposive sampling.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 sampel minuman yang diuji dengan metode MPN (Most Probable Number) melebihi batas maksimum. Sedangkan 6 sampel makanan yang diuji dengan meode TPC (Total Plate Count) dinyatakan masih dalam ambang batas.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel minuman terkontaminasi bakteri Escherichia coli dan unutk makanan tidak terkontaminasi bakteri Escherichia coli.Kata kunci: jajanan sekolah, kontaminasi, Escherichia coli Title: Description of Contamination of Escherichia Coli Bacteria in Food at SDN 70 Banda AcehBackground: School-age children generally spend a third of their time at school every day, causing them to spend their lunch time at school. The types of snacks that are sold vary from healthy snacks to unhealthy snacks. Healthy food that has sufficient nutrition, while unhealthy food is contaminated with microbes. One of the microbes that are harmful to humans in food is Escherichia coli bacteria. The purpose of this study was to determine whether there was contamination of Escherichia coli bacteria in snacks at SDN 70 Banda Aceh.Method: This type of research method is descriptive. This study used a bacterial quantification method using MPN (Most Probable Number) and TPC (Total Plate Count) techniques. The sample was selected by purposive sampling method.Result: The results showed that 3 samples of drinks tested using the MPN (Most Probable Number) method exceeded the maximum limit. while 6 food samples tested with the TPC (Total Plate Count) method were declared to be still within the threshold. Conclusion: Showed that all drink samples were contaminated with Escherichia coli bacteria and food was not contaminated with Escherichia coli bacteria.Keywords: school snacks, contamination, Escherichia coli
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Derajat Merokok pada Laki-Laki Usia 26-45 Tahun di Aceh Besar Aditya Candra; Tahara Dilla Santi; Maidayani Maidayani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 2 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.2.100-104

Abstract

Latar belakang: Menurut Global Adults Tobacco Survey (GATS) diperkirakan jumlah perokok dewasa mencapai 7,9 milyar orang dan 3,5 milyar orang terpapar asap rokok di tempat kerja. Indonesia didominasi perokok dengan jenis kelamin laki-laki. Merokok dapat menyebabkan jumlah oksigen di dalam paru-paru dan aliran darah menjadi berkurang sehingga kelelahan kerja dapat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat merokok  pada laki-laki usia 26-45 tahun di Aceh Besar.Metode: Jenis  penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel yang digunakan adalah laki-laki usia 26-45 tahun sebanyak 45 responden. Data dianalisis menggunakan uji statistik korelasi Pearson dengan nilai p < 0,05.Hasil: Responden perokok berdasarkan derajat merokok Indeks Brinkman adalah derajat merokok ringan 56,8%, derajat merokok sedang sebanyak 34,1%, dan derajat merokok berat 9,1%. Saturasi oksigen perokok dengan hasil normal sebanyak 72,7%, dan tidak normal sebesar 27,3%. Kadar asam laktat normal dengan persentase 65,9%, sedangkan kadar asam laktat yang tidak normal sebanyak 34,1%. Hasil analisis derajat merokok dengan saturasi oksigen dengan menggunakan korelasi Pearson diperoleh 0,523. Hasil analisis derajat merokok dengan kadar asam laktat diperoleh nilai koefesien sebesar 0.596.Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara merokok dengan saturasi oksigen dan asam laktat. Semakin berat derajat merokok maka semakin rendah kadar saturasi oksigen dan asam laktat semakin tinggi.Kata kunci: derajat merokok; saturasi oksigen; asam laktat Title: Analysis of Factors Associated with Smoking Degree in Men Aged 26-45 Years in Aceh Besar.Background: According to the Global Adults Tobacco Survey (GATS) it is estimated that there are 7.9 billion adult smokers and 3.5 billion people are exposed to secondhand smoke in the workplace. Smoking can cause the amount of oxygen in the lungs and blood flow to decrease so that work fatigue can occur. This study aims to determine the factors that influence the degree of smoking in men aged 26-45 years in Aceh Besar.Method: This type of research is descriptive analytic with cross sectional design. The sample used was men aged 26-45 years as many as 45 respondents. Data were analyzed using the Pearson correlation statistical test with a p value <0.05. Result: Respondents who smoked based on their degree of smoking, the Brinkman index, were 56.8% mild smokers, 34.1% moderate smokers, and 9.1% heavy smokers. Smokers' oxygen saturation with normal results is 72.7%, and abnormal is 27.3%. The percentage of normal lactic acid is 65.9%, while the abnormal lactic acid level is 34.1%. The results of the analysis of smoking degrees with oxygen saturation using Pearson's correlation obtained 0.523. The results of the analysis of smoking degrees with lactic acid levels obtained a coefficient value of 0.596.Conclusion: There is a significant relationship between smoking and oxygen saturation and lactic acid. The heavier the degree of smoking, the lower the oxygen saturation and lactic acid levels.Keywords: degree of smoking; oxygen saturation; lactic acid
Literature Review: Analisis Pelaksanaan Program Pencegahan Stunting di Puskesmas Fadilla Utari; Hairi Salsabila Siregar; Nailan Nida Barkah; Tri Beby Nisa Vonica Purba; Fadilah Aini; Rusmalawaty Rusmalawaty
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 3 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.3.153-163

Abstract

Latar belakang: Salah satu isu gizi terbesar di Indonesia ialah pertumbuhan terhambat. Implementasi Puskesmas memegang peran yang penting dalam program mengatasi kasus stunting dan karenanya pentingnya program pencegahan stunting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan megnalisis pelaksanaan program pencegahan stunting di puskesmas.Metode: Penelitian menggunakan studi literatur dengan cara mengumpulkan dan menelaah penelitian terdahulu, terutama mencari informasi program pencegahan stunting dan data gizi buruk stunting dari berbagai referensi jurnal nasional.Hasil: Upaya pencegahan terhadap stunting telah diberlakukan di Indonesia, seperti pemberian ASI Eksklusif, Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), penimbangan dan pengukuran bayi, pemeriksaan ibu hamil, pemberian tablet tambah darah (TTD), dan pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil yang menderita penyakit khusus. Agar program pencegahan stunting berhasil, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat harus berkolaborasi.Simpulan: Indonesia memiliki banyak program yang diperuntukkan bagi mengatasi kasus stunting, seperti Strategi Nasional Percepatan Gizi Buruk 2018-2024, 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Pendekatan Multisektoral Terpadu.Kata kunci: puskesmas; stunting; pencegahan Title: A Literature Review: Analysis of Preventation Program Implementation Stunting in PuskesmasBackground: One of the biggest nutritional issues in Indonesia is stunted growth. The implementation of Puskesmas plays an important role in programs to overcome stunting cases and hence the importance of stunting prevention programs in Indonesia. This study aims to analyze the implementation of the stunting prevention program at the puskesmas.Method: The research methodology uses literature studies by collecting and reviewing previous research, especially seeking information on stunting prevention programs and stunting malnutrition data from various national journal references.Result: Efforts to prevent stunting have been implemented in Indonesia, such as exclusive breastfeeding, provision of complementary feeding (MPASI), weighing and measuring babies, examining pregnant women, administering blood-boosting tablets (TTD), and providing supplementary food (PMT) to pregnant women who suffer from a special disease. For the stunting prevention program to be successful, the government, health workers and the community must collaborate.Conclusion: Indonesia has many programs devoted to addressing stunting cases, such as the 2018-2024 National Strategy for the Acceleration of Malnutrition, the First 1000 Days of Life and the Integrated Multisectoral Approach.Keywords: puskesmas, stunting, prevention
Literature Review: Hubungan Gaya Hidup dan Pola Makan Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Clara Thalia Pionnita Pasaribu; Diva Radana Sirait; Ivana Yalim Siregar; Martha Fiorella Sihombing; Fadilah Aini; Rusmalawaty Rusmalawaty
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 2 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.2.136-144

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi adalah penyakit yang mudah ditemukan di lingkungan kita yang memiliki resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi bagi penderita. Hal-hal yang berkaitan dengan tekanan darah meliputi faktor keturunan (warisan) dan gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia.Metodologi: Artikel ini menggunakan metode seleksi berdasarkan kriteria dan kata kunci dengan hubungan gaya hidup yaitu pola makan dengan hipertensi pada lansia dan digunakan sebanyak 15 artikel yang akan dianalisis. Hasil : Berdasarkan 15 buah artikel yang dianalisis, seluruhnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gaya hidup dan pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia.Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup yaitu pola makan dengan kejadian hipertensi pada lansia.Kata kunci: hipertensi; gaya hidup; pola makan; lansia Title: Literature Review: Correlation between Lifestyle and Diet to the Incidence of Hypertension in the Elderly in the Health Center Work AreaBackground: Hypertension is a disease that is easy to find in our environment which has a high risk because it can cause complications for sufferers. Matters related to blood pressure include heredity (inheritance) and lifestyle. This study aims to determine the relationship between lifestyle and diet and the incidence of hypertension in the elderly.Method: This article uses a selection method based on criteria and keywords with the relationship between lifestyle, namely diet and hypertension in the elderly and used as many as 15 articles to be analyzed.Results: Based on the 15 articles analyzed, all showed a significant relationship between lifestyle and diet with the incidence of hypertension in the elderly.Conclusion: There is a significant relationship between lifestyle, namely diet and the incidence of hypertension in the elderly.Keywords: hypertension; lifestyle; diet; elderly
Gambaran Pengetahuan dan Persepsi Kebutuhan Antenatal Care (ANC) terhadap Kecemasan pada Calon Ibu (Hamil) Pasca Pandemi COVID-19 (PP-CV19) di Puskesmas Poncol Indah Tri Susanti; Agus Supriyanto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.217-222

Abstract

Latar belakang: Ibu hamil harus melakukan pemeriksaan ANC untuk memastikan kehamilan yang sehat—pengetahuan sebagai kondisi yang mempengaruhi kunjungan ANC ibu hamil (hamil). Pada saat pemeriksaan, semua ibu hamil wajib mendapat pelayanan 10T. Kecemasan prenatal pada ibu hamil berdampak pada perubahan nutrisi, aktivitas fisik, dan kondisi tidur, mempengaruhi perkembangan janin dan mood ibu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi perlunya ANC untuk kecemasan pada ibu perspektif (hamil) PP-CV19 di lokasi Puskesmas Poncol.Metode: Metode penelitian cross sectional dalam penelitian kuantitatif dilakukan pada populasi 75 (hamil) calon ibu dengan sampel 42 (hamil) calon ibu dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian dengan tingkat pengetahuan dan skala (persepsi ANC dan kecemasan) dianalisis secara bivariat.Hasil: Temuan pada 42 responden terfokus pada ibu hamil usia 21-37 tahun. Responden sebagai calon ibu (hamil) rata-rata berusia 25 tahun. Tingkat pendidikan terakhir dengan tamat SMA/SMK dan perguruan tinggi sebesar 46,5%. Ada juga rata-rata 46,5% dari seluruh responden sebagai ibu rumah tangga. Responden yang mengalami kecemasan menunjukkan persentase yang lebih tinggi yaitu 95,3%, dan responden yang mengalami kecemasan kategori sedang sebesar 37,2%. Pengetahuan seluruh responden tertinggi pada kelas unggulan sebesar 60,5%. Sedangkan persepsi responden dengan kategori baik tertinggi adalah sebesar 53,5%. Ada juga hubungan antara persepsi ANC dengan kecemasan pada ibu hamil (p-value = 0,006). Tidak ada hubungan pengetahuan dengan perhatian pada ibu hamil (p-value = 0,442).Simpulan: Ada hubungan antara persepsi tentang ANC yang berdampak pada kecemasan ibu hamil, sedangkan pengetahuan tidak berpengaruh yang menimbulkan kecemasan/stres pada ibu hamil.Kata kunci: pengetahuan; persepsi kebutuhan ANC; kecemasan Title: Description of Knowledge and Perceptions of Antenatal Care (ANC) Needs for Anxiety in Post-Covid-19 Pandemic (PP-CV19) Prospective Mothers at the Poncol Health CenterBackground: pregnant women must carry out ANC examination to ensure a healthy pregnancy—knowledge as a condition that affects perspective (pregnant) mothers' ANC visits. At the time of inspection, all pregnant women must receive 10T services. Prenatal anxiety in pregnant women impacts changes in nutrition, physical activity, and sleeping conditions, affecting fetal development and the mother's mood. The research aimed to find an overview of the knowledge and perceptions of the need for ANC for anxiety in prospective (pregnant) PP-CV19 mothers at the Poncol Health Center location.Method: The cross-sectional study method in quantitative research was conducted on a population of 75 (pregnant) prospective mothers with a sample of 42 (expectant) future mothers using simple random sampling. Research instrument with a level of knowledge and scale (perceived ANC and anxiety) was analysed by bivariate. Result: Findings on 42 respondents focused on pregnant women aged 21-37 years. Respondents as prospective mothers (expectant) have an average age of 25. The last level of education with high school/vocational high school and university graduates is 46.5%. There is also an average of 46.5% of all respondents as housewives. Respondents who experienced anxiety showed a higher percentage of 95.3%, and respondents who experienced a moderate anxiety category of 37.2%. Knowledge of all respondents with the highest in the excellent class equals 60.5%. At the same time, the perception of respondents with the highest in the excellent category is equal to 53.5%. There is also a relationship between perceptions of ANC and anxiety in expectant (pregnant) mothers (p-value: 0.006). There is no relationship between knowledge and concern in expectant (pregnant) mothers (p-value: 0.442).Conclusion: There is a relationship between perceptions about ANC, which impacts pregnant women's anxiety, while knowledge hasn't effect that causes anxiety/stress for pregnant women.Keywords: knowledge; perceived ANC needs; anxiety
Upaya Pencegahan Penularan COVID-19 Di Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor Yolanda Yolanda; Syamsulhuda Budi Musthofa; Ratih Indraswari
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 1 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.1.60-68

Abstract

Latar belakang: Ditengah  keadaan  pandemi COVID-19, masyarakat kecamatan Bogor Utara masih kurang mempedulikan  pentingnya protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19. Hal tersebut menyebabkan lonjakan jumlah kasus positif tertinggi dengan angka 293 kasus terjadi di Kecamatan Bogor Utara. Tujuan  penelitian  ini untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam menjalankan upaya pencegahan penularan COVID-19 di Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.Metode: Penelitian dilakukan menggunakan jenis penilitian deskriptif dengan pendekatan desain studi cross-sectional. Populasi penelitian adalah masyarakat Kecamatan Bogor Utara berjumlah 196.051 jiwa. Teknik sampling menggunakan non-probability sampling yaitu accidental sampling, didapatkan sample yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 220 responden. Instrument penelitian berupa angket disebarkan dengan menggunakan googleform. Data penelitian di analisis univariat dan bivariat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sudah baik melaksanakan protokol kesehatan  hasil sebesar 61%. Mayoritas responden jenis kelamin laki-laki (61,8%), berpendidikan menengah (60,5%), dan memiliki pekerjaan (61,4%). Variabel yang terdapat hubungan yaitu pengetahuan (p-value=0,027), sikap (p-value=0,001), sarana dan prasarana (p-value 0,003), regulasi pemerintah (p-value=0,003), dukungan petugas kesehatan (p-value=0,002), dukungan keluarga (p-value=0,001), dukungan tokoh masyarakat (p-value=0,001), dan pendidikan (p-value=0,002).Simpulan: Mayoritas responden sudah berperilaku yang memenuhi protokol kesehatan. Akan tetapi, keluarga diharapkan dapat lebih andil dalam melaksanankan praktik pencegahan penularan COVID-19, terlebih disaat darurat seperti situasi pandemi. Tokoh masyarakat seperti ketua RT/RW juga perlu memberikan perhatian lebih ketat untuk masyarakat sehinggadapat memaksimalkan protokol kesehatan dengan baik.Kata kunci: perilaku kesehatan, protokol kesehatan, COVID-19, pencegahan ABSTRACTTitle: Effort to Prevent the Transmission of COVID-19 in North Bogor District, Bogor CityBackground: In the midst of the COVID-19 pandemic, residents of the North Bogor subdistrict are still largely unconcerned with the significance of COVID-19-prevention measures. This resulted in the loss of 293 cases in the North Bogor District, the highest number. This study aimed to determine how much the community in the North Bogor District of Bogor City contributed to halting the spread of COVID-19.Method: The research was conducted using descriptive research methods and a cross-sectional design. The research population consisted of 196,051 residents of the North Bogor District. The sampling technique used, non-probability sampling, or incidental sampling, yielded a sample of 220 respondents who met the inclusion criteria. Using Google Forms, a questionnaire was distributed as the research instrument. Analyze data using univariate and bivariate methods.Result: The total 61% of responders followed health procedures, according to the research. Male (61.8%), educated (60.5%), and employed (61.4%) are the majority. Knowledge (p-value = 0.027), attitude (p-value = 0.001), facilities and infrastructure (p-value = 0.003), government regulations (p-value = 0.003), health worker support (p-value = 0.002), family support (p-value = 0.001), community leader support (p-value = 0.001), and education (p-value = 0.002).Conclusion: Most respondents followed health regimens. However, the family can do more to limit COVID-19 transmission, especially during a pandemic. RT/RW chiefs must also pay greater attention to the community to optimize health protocols.Keywords: health behavior, health protocol, COVID-19, prevention
Hubungan Merokok dengan Kejadian Penyakit Katarak di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh Athaya Rabbi; Fauziah Hayati; Andri Andri
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.250-255

Abstract

Latar belakang: Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada lensa. Katarak juga terjadi karena proses multifaktor, seperti faktor intrinsik dan ekstrinsik. Merokok dan mengunyah tembakau dapat menginduksi stres oksidatif dan dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan, askorbat dan karatenoid, sehingga menyebabkan penumpukan molekul berpigmen 3-hydroxihynurine dan chromophores yang menyebabkan terjadinya penguningan warna lensa. Bahan kimia dalam rokok juga menyebabkan karbamilasi dan denaturasi protein pada lensa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan kejadian penyakit katarak di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh.Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik. Jumlah sampel yang belum diketahui maka sampel dipilih dengan metode non-probability sampling dengan metode Purposive Sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengolahan data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan Statistic Program Social Science (SPSS) dengan jumlah sampel 38 orang. Penelitian dilakukan di Poli Mata Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang merokok cenderung mengalami katarak (37,1%). Hasil analisis bivariat melalui uji Chi-Square mendapatkan nilai p sebesar 0,001 (kurang dari α 0,05) yang mana menunjukkan bahwasanya H1 diterima dan H0 ditolak. Hasil tersebut dapat diartikan terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian katarak.Simpulan: Dalam penelitian ini didapatkan hubungan antara merokok dengan kejadian penyakit katarak di Rumah Sakit pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. ABSTRACTTitle: The Relationship between Smoking and Cataract Disease in Indonesia Pertamedika Ummi Rosnati Hospital Banda AcehBackground: Cataracts are a condition where cloudiness occurs in the lens. Cataracts also occur due to multifactorial processes, such as intrinsic and extrinsic factors. Smoking and chewing tobacco can induce oxidative stress and are associated with decreased levels of antioxidants, ascorbate, and carotenoids, causing the accumulation of pigmented molecules such as 3-hydroxyhynurine and chromophores, which cause yellowing of the lens color. Chemicals in cigarettes also cause carbamylation and denaturation of proteins in the lens. The purpose of this study was to determine the relationship between smoking and the incidence of cataracts at the Pertamedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh.Method: This investigation type is analytical. The quantity of samples is unknown, so samples were selected based on inclusion and exclusion criteria using non-probability sampling and the purposive sampling method. Using the Statistical Program for Social Science (SPSS), a total sample of 38 individuals was analyzed univariately and bivariately for data processing. At the Pertamedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh, the research was conducted. A questionnaire is used as the research instrument in this study.Result: The results showed that respondents who smoke tend to experience cataracts (37.1%). The results of bivariate analysis through the Chi-Square test obtained a p value of 0.001 (less than α 0.05), which indicated that H1 was accepted and H0 was rejected. These results can be interpreted as indicating that there is a relationship between smoking and cataracts.Conclusion: This study found a correlation between smoking and the prevalence of cataracts at the Permedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh.
Analisis Determinan Literasi Terkait Vaksinasi COVID-19 pada Ibu di Daerah Pesisir Kota Semarang Rani Tiyas Budiyanti; Roro Isyawati Permata Ganggi; Murni Murni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 2 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.2.94-99

Abstract

Latar belakang: Program Vaksinasi Coronavirus Disease-19 (COVID-19) telah diimpelementasikan di Indonesia sejak awal tahun 2021. Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tantangan salah satunya penolakan masyarakat akibat hoaks atau misinformasi. Informasi yang update dan relevan menjadi tantangan tersendiri pada daerah pesisir salah satunya di daerah pesisir Kota Semarang. Peran ibu atau perempuan merupakan hal krusial dalam  mendukung kesuksesan vaksinasi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan literasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 pada ibu di daerah pesisir Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada bulan Maret hingga Juli 2021. Responden penelitian sebanyak 220 orang yang merupakan ibu dengan domisili di daerah pesisir Kota Semarang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terkait tingkat literasi terhadap vaksinasi COVID-19, aspek sumber daya, aspek motivasi, dan aspek sosial budaya.Hasil: Sebanyak 58,2% responden pada penelitian ini memiliki tingkat literasi vaksinasi COVID-19 sedang. Tingkat literasi pada ibu di daerah pesisir Kota Semarang tersebut dipengaruhi oleh faktor motivasi, sumber daya, dan sosial budaya (p=<0,05). Sedangkan faktor pendidikan tidak mempengaruhi literasi kesehatan vaksinasi COVID-19 secara signifikan.Simpulan: Perlu adanya dukungan sumber daya dan akses informasi kesehatan terkait vaksinasi COVID-19 yang memadai dari pemerintah, selain itu dukungan tokoh agama, tokoh masyarakat dan peran lintas sektor juga diperlukan dalam penyebarluasan informasi terkait vaksinasi COVID-19.Kata kunci: literasi kesehatan, vaksinasi COVID-19, daerah pesisir Title: Analysis of Literacy Determinants Related to COVID-19 Vaccination in Mothers in the Coastal Areas of Semarang CityBackground: Coronavirus Disease (COVID-19) vaccination program has been implemented in Indonesia since early 2021. Nevertheless, there are many obstacles in the implementation, one of them is the rejection from the community that was caused by hoax and misinformation. The update and relevant information can be a challenge in a coastal area such as Semarang city. The role of women is very crucial to the success of the COVID-19 vaccination program. This research aims to identify the determinant factor related to COVID-19 vaccination literacy in the woman at the coastal area in Semarang City.Method: This research was quantitative research using a cross-sectional approach that was done from March until July 2021. The number of respondents was 220 respondents that including women that placed in the coastal area at Semarang City. Data were collected using a questionnaire related to COVID-19 vaccine literacy, resources, motivation, and social culture aspects.Result: In this research, 58,2% of respondents have enough literacy related to the COVID-19 vaccination. This literacy has been affected by motivation, resources, and social culture aspects (p=<0.05). Whereas, the education level wasn't affected the COVID-19 vaccination literacy significantly.Conclusion: The Government's support related to resources and health information access was needed. Besides that, support from the religion and public figure, also multi-stakeholder were needed to improve information access related to COVID-19 vaccination.Keywords: health literacy, COVID-19 vaccination, coastal area