cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
KERAGAMAN FENOTIPE TRUSS MORFOMETRIK DAN GENOTIPE IKAN GABUS (Channa striata) DARI JAWA BARAT, SUMATERA SELATAN, DAN KALIMANTAN TENGAH Irin Iriana Kusmini; Vitas Atmadi Prakoso; Kusdiarti Kusdiarti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.983 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.501-509

Abstract

Ikan gabus di Indonesia awalnya hanya terdapat di Barat garis Wallace (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) yang kemudian diintroduksi ke Indonesia bagian Timur. Ikan gabus termasuk ke dalam deretan ikan air tawar sebagai sumber daya genetik untuk menunjang diversifikasi usaha budidaya. Guna menyukseskan program diversifikasi tersebut, maka perlu diketahui keragaman genetik ikan gabus dari Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah agar dapat direkomendasikan sebagai dasar pemuliaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keragaman dan kekerabatan antara populasi ikan gabus dari Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan tengah. Metode penelitian dilakukan dengan analisis fenotipe terhadap 16 ekor ikan sampel dari masing-masing daerah tersebut, sedangkan untuk analisis keragaman genotipe masing-masing digunakan 10 ekor ikan dari setiap daerah. Analisis tersebut dilakukan melalui truss morfometrik dan RAPD dengan primer OPA-10, OPA-11, dan OPA-15. Hasil penelitian menunjukkan keragaman berdasarkan truss morfometrik dan hasil PCR ikan gabus asal Sumatera Selatan lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah dan Jawa Barat. Kekerabatan ikan gabus Kalimantan Tengah lebih dekat dengan ikan gabus Sumatera Selatan dibandingkan dengan ikan gabus Jawa Barat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi untuk pertimbangan dalam program pemuliaan.
ALOKASI PEMANFAATAN WILAYAH PESISIR KOTA DUMAI UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG MELALUI APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Eko Prianto; Joko Purwanto; Awal Subandar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.619 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.349-358

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2003 di kawasan pesisir kota Dumai, Kepulauan Riau
PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM PADA MEDIA TERHADAP SIKLUS MOLTING DAN PERTUMBUHAN BIOMASSA UDANG GALAH, Macrobrachium rosenbergii (de Man) Azam Bachur Zaidy; Wartono Hadie
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.555 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.179-189

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penambahan kalsium ke dalam media dalam proses peningkatan kadar kalsium kulit dan konsumsi pakan, serta konsekuensinya bagi pertumbuhan udang. Penelitian tahap 1 dengan perlakuan dosis penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L, dan 60 mg/L, dengan 3 ulangan. Penelitian tahap 2 dengan perlakuan penambahan kalsium 0 mg/L, 30 mg/L, dan 60 mg/L. Parameter yang diukur meliputi kadar kalsium kulit, tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan, dan efisiensi pemanfaatan pakan. Penambahan Ca(OH)2 sebanyak 15-60 mg/L meningkatkan kadar kalsium media (25,51-35,22 mg/L) dibanding dengan kontrol (18,53 mg/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kalsium Ca(OH)2 sebanyak 30 mg/L mampu mempercepat laju peningkatan kadar kalsium kulit. Laju peningkatan kadar kalsium kulit yang lebih cepat berimplikasi terhadap peningkatan konsumsi pakan dan berkonsekuensi lanjut bagi peningkatan pertumbuhan udang. Aplikasi penggunaan kalsium  Ca(OH)2 sebanyak 15-30 mg/L untuk mempercepat proses ganti kulit udang berimplikasi terhadap pertumbuhan udang. Konsumsi pakan harian, mulai meningkat pada penambahan Ca(OH)2 15 mg/L, dan tertinggi pada perlakuan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 45 mg/L. Laju pertumbuhan biomassa pada media yang ditambah Ca(OH)2 sebanyak 30 dan 60 mg/L memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05). Efisiensi tingkat konsumsi pakan perlakuan penambahan Ca(OH)2  sebanyak 30 mg/L lebih tinggi dibanding perlakuan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 dan 60 mg/L.This research was aimed to study the effect of calcium addition into culture media in order to increase husk calcium and food consumption and its consequences to prawn growth. Research phase 1 consisted of treatments of Ca(OH)2 addition i.e. 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L, and 60 mg/L, with 3 replications for all  treatments. Research phase 2 consisted of treatments of calcium addition of 0 mg/L, 30 mg/L, and 60 mg/L. The measured parameters were the rate of husk calcium, feed consumption rate,  growth rate, and feed conversion ratio. The Ca (OH)2 addition was 15-60 mg/L to increase calcium concentration in the media (25.51-35.22 mg/L) compared to the control (18.53 mg/L). Result of the research indicated that the usage of calcium Ca(OH)2 of 30 mg/L can accelerate the calsium deposition in prawn husk. Acceleration of calsium deposition has direct implication to the increase of FCR and thus it increases prawn growth rate. Application of calcium Ca(OH)2 addition of 15-30 mg/L to accelerate molting process has positive effect on the growth rate of prawn. Daily food consumption rate started to increase with the addition of 15 mg/L of Ca(OH)2, and the highest was reached at the concentration of 45 mg/L Ca(OH)2. Growth rate of prawn biomass in culture media added with 30 and 60 mg/L of Ca(OH)2 were significantly different (P<0.05). Better food consumption efficiency levels were achieved by the treatment of Ca(OH)2 addition of 30 mg/L compared to the other treatments.
Front Matter dan Back Matter Suyatno Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.151 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.i-vi

Abstract

PENGARUH MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PEMANFAATAN BIOFLOK UNTUK PERTUMBUHAN IKAN BANDENG Usman Usman; Neltje Nobertine Palinggi; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.27 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.433-445

Abstract

Upaya konversi limbah budidaya ikan menjadi bioflok mulai banyak dilakukan oleh pembudidaya untuk memperbaiki kualitas air dan menekan biaya pakan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan bioflok sebagai makanan ikan bandeng melalui pengaturan dosis pemberian pakan. Perlakuan yang dicobakan adalah ikan uji dipelihara dengan: (A) bioflok tanpa diberi pemberian pakan buatan, (B) bioflok + pakan buatan sebanyak 2,5% per hari, (C) bioflok + pakan buatan sebanyak 5% perhari, (D) pemberian pakan buatan sebanyak 5%/hari tanpa bioflok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan bandeng ukuran awal rata-rata 1,6 g yang hanya diberi bioflok dapat tumbuh dengan laju pertumbuhan 1,82%/hari, namun laju pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan yang diberi pakan buatan 5%/hari yaitu 2,01%/hari. Tanpa memperhitungkan jumlah pemberian molase, ikan yang diberi pakan buatan sebanyak 2,5%/hari dalam media bioflok, dapat meningkatkan efisiensi pakan sebanyak 58,5% dan efisiensi pemanfaatan protein sebanyak 59,2%. Kandungan TAN, nitrit dan oksigen terlarut dalam media budidaya cukup baik bagi pertumbuhan ikan bandeng.
INDUKSI PEMATANGAN GONAD DAN PENINGKATAN TINGKAT PEMBUAHAN TELUR INDUK UDANG WINDU, Penaeus monodon MELALUI RANGSANGAN HORMONAL TANPA ABLASI MATA Asda Laining; Samuel Lante; Usman Usman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.152 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.61-68

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rangsangan hormon gonadotropin (GTH) dan antidopamin (AD) terhadap performa induk betina alam sebagai pengganti ablasi. Dua perlakuan yang dicobakan adalah: 1) rangsangan hormon GTH dan AD pada betina udang windu alam tanpa ablasi; 2) kontrol berupa ablasi induk udang windu tanpa rangsangan hormon. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemijahan pertama terjadi setelah rangsangan ke-2 yaitu 4 ekor induk (23,5%). Pascainjeksi ke-3, jumlah induk yang memijah meningkat menjadi 92,7% atau sebanyak 11 ekor dari 12 ekor yang diinjeksi. Setelah empat kali rangsangan, dari 17 ekor yang diinjeksi ternyata 14 ekor dapat memijah (82%) dan 3 ekor induk tidak memijah hingga akhir pengamatan. Kontrol menghasilkan 6 ekor induk memijah dari 10 ekor yang diablasi (60%). Fekunditas telur (fertil dan tidak fertil) dari induk yang dirangsang GTH+AD adalah 219.313 butir/induk lebih tinggi dibandingkan induk yang diablasi yaitu 182.848 butir/induk. Tingkat pembuahan pada kontrol adalah 54%, lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah telur yang fertil dari induk yang dirangsang GTH+AD yaitu 76%. Meskipun tingkat pembuahan telur yang dihasilkan oleh induk pascainjeksi lebih tinggi, ternyata tingkat penetasan telurnya hanya 39%, lebih rendah dari induk yang diablasi yaitu 52%. Diameter telur dari induk yang mendapat rangsangan AD+GTH adalah 29,3 μm ± 0,8 (rerata ± SD) lebih besar dari diameter telur induk yang diablasi (25,1 μm ± 0,3). Total asam amino karkas induk udang yang dirangsang GTH+AD adalah 61,4% relatif lebih tinggi dibandingkan kontrol. Berdasarkan jumlah induk yang matang gonad dan fekunditas telur yang dihasilkan, aplikasi AD+GTH secara injeksi cukup dilakukan 3x pada dosis 0,3 mL/100 g udang.
PENGGUNAAN PAKAN BERBASIS BUNGKIL KOPRA PADA PEMBESARAN IKAN BANDENG DI TAMBAK Usman Usman; Kamaruddin Kamaruddin; Asda Laining; Neltje Nobertine Palinggi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.762 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.417-427

Abstract

Bungkil kopra merupakan hasil samping dari pengolahan kopra untuk menghasilkan minyak, berpotensi digunakan sebagai komponen utama dalam pakan ikan, khususnya ikan-ikan herbivora-omnivora, karena kandungan proteinnya cukup tinggi, ketersediaannya relatif banyak di daerah-daerah tertentu dengan harga murah. Penelitian ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal (bungkil kopra) dalam pakan untuk pembesaran ikan bandeng di tambak. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tambak berukuran 2.500 m2 sebanyak tiga unit, masing-masing disekat dengan waring menjadi dua bagian, sehingga menjadi enam petak (@ 1.250 m2). Ikan uji yang digunakan adalah yuwana ikan bandeng berukuran awal 67 g/ekor yang ditebar dengan kepadatan 6.000 ekor/ha. Tiga pakan uji yang terdiri atas dua pakan buatan berbahan utama tepung bungkil kopra yaitu 65% (BK-65) dan 55% (BK-55), serta pakan komersil (PK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan berbasis bungkil kopra (BK-65 dan BK-55) cenderung memiliki koefisien kecernaan bahan kering, protein, dan energi yang lebih rendah dari pada pakan komersil. Namun laju pertumbuhan harian ikan, rasio konversi pakan, dan rasio efisiensi protein tidak berbeda nyata (P>0,05) di antara perlakuan, kecuali bobot akhir ikan tertinggi (P<0,05) pada ikan yangdiberi pakan komersil. Sementara retensi lemak tertinggi terjadi pada ikan yang diberi pakan PK, diikuti berturut-turut yang diberi pakan BK-65 dan BK-55. Pakan berbasis bungkil kopra layak digunakan sebagai pakan alternatif dalam pembesaran ikan bandeng tradisional (+) di tambak. 
EVALUASI PEMANFAATAN PAKAN DENGAN SUMBER KARBOHIDRAT BERBEDA UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) Ningrum Suhenda; Zafril Imran Azwar; M. Sulhi; Y. Moreau
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.904 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.171-179

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan beberapa sumber karbohidrat sebagai upaya penghematan penggunaan protein pada benih ikan patin jambal.  Benih ikan patin jambal dengan bobot awal rata-rata 4,95 gram ditebar dalam akuarium volume 100 liter dengan padat penebaran 50 ekor/akuarium.  Akuarium dilengkapi dengan sistem resirkulasi dan water heater dengan debit air 4 liter/menit.  Ikan uji diberi pakan selama 4 minggu.  Sebagai pakan uji yaitu pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, dan dengan penambahan tepung jagung, tapioka, dedak padi, dan terigu sebagai sumber karbohidrat. Ransum harian diatur agar tiap pakan ikan uji dapat memasok 17 g protein/kg ikan/hari; 9,0 g lemak/kg ikan/hari dan 24 g pati/kg ikan /hari kecuali untuk pakan tanpa penambahan karbohidrat 15 g protein/kg ikan/hari, 7 g lemak/kg ikan/hari dan 8 g pati/kg ikan/hari.  Pakan diberikan dalam bentuk remah, 3 kali per hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan tanpa sumber karbohidrat dan dengan sumber karbohidrat berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) untuk semua parameter yang diuji kecuali untuk nilai retensi protein.  Nilai retensi protein untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05).  Nilai konversi pakan terbaik (0,8) diperoleh pada pakan tanpa penambahan karbohidrat dan selanjutnya diikuti oleh tepung jagung (1,1), tapioka (1,2), terigu (1,2), dan dedak  padi (1,3).  Retensi lemak terendah (28,3%) diperoleh untuk tepung jagung dan nilainya tidak berbeda nyata dengan dedak padi (30,6%) serta tertinggi (42%) untuk terigu.  Bobot rata-rata pada akhir penelitian yang tertinggi diperoleh pada pakan dengan penambahan tepung jagung yaitu 15,7 g tetapi tidak berbeda dengan dedak padi (15,3 g). Demikian pula dengan nilai laju pertumbuhan spesifik tubuh diperoleh pada pakan dengan tepung jagung (4,1%).  Nilai laju pertumbuhan spesifik protein yang terendah (4,7%) diperoleh pada pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, untuk tepung jagung (4,9%), dedak padi (5,2%) sedangkan untuk tapioka dan terigu sama nilainya yaitu 5%.  Berdasarkan data yang diperoleh ternyata benih patin jambal dapat memanfaatkan karbohidrat dengan baik untuk mendukung pertumbuhan dan sintasannya. ABSTRACT:     Evaluation of feed utilization by different carbohydrate sources on the growth of Asian catfish (Pangasius djambal), By: Ningrum Suhenda, Zafril Imran Azwar, M. Sulhi, and Y.MoreauCarbohydrates are least expensive nutrient of dietary energy both for human and domestic animals but their utilization by fish varies by species.  The study was conducted to evaluate the utilization of some sources of carbohydrate in Pangasius djambal.  Fifty fingerling average 4.95 g individual body weight were stocked in each of 15 aquaria filled with 100 liters of water.  Water was recycled using a closed system and each aquaria was equipped with water heater.  The fish were fed daily for four weeks with diets containing different carbohydrate sources such as corn meal, cassava meal, rice bran, and wheat flour. The daily nutrients allowance were the same for all diets.  7 g protein kg-1. day-1, 9.0 g fat kg-1.day-1, and 24 g NFE kg-1.day-1 except for non carbohydrate source diet the NFE allowance was 8 g  kg-1.day-1. The feed was given in crumble form three times a day at 8.00; 12.00; and 16.00 hours. There were significant differences (P < 0.05) among treatments for all parameters except for protein retention. The protein retention were not significant different (P > 0.05) among treatments.  Pangasius djambal fed with non carbohydrate source diet reach the best feed conversion ratio (0.8) and are followed by corn meal  (1.1), cassava meal (1.2), wheat flour (1.2), and rice bran (1.3).  The average final body weight for corn meal diet (15.7 g) and rice bran (15.3 g) and  these values were higher than those for another diets. The lowest fat retention (28.3%) was found for corn meal diet and the highest (42%) was reach by wheat flour diet.  Body specific growth rate for corn meal diet (4.1%) and for rice bran diet (4.0%).  These values were higher than another diets.  Based on the observed data, carbohydrates were well utilized by P. djambal fingerlings for their growth and survival rates.
UJI KETAHANAN LARVA UDANG GALAH DARI BEBERAPA SUMBER POPULASI TERHADAP BAKTERI Vibrio harveyi Ikhsan Khasani; Dinamella Wahjuningrum; Yan Evan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.671 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.411-424

Abstract

Salah satu penyakit yang sering menyerang udang di pembenihan adalah vibriosis, yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan beberapa strain larva udang galah, yaitu asal Sungai Ogan, Sumatera Selatan; Sungai Asahan, Sumatera Utara; Sungai Barito, Kalimantan Selatan; Sungai Ciasem, Jawa Barat; dan strain GIMacro terhadap infeksi bakteri Vibrio harveyi, sebagai dasar perakitan varietas unggul udang galah. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, yaitu strain larva dan tiga ulangan. Larva udang galah stadia 4 dari 5 populasi berbeda, dengan panjang rata-rata 2,7±0,4 mm ditempatkan di stoples volume 3 L dengan padat penebaran  larva 100 ekor/L. Setiap wadah diisi 1 L air payau 10‰. Selanjutnya diinfeksi bakteri V. harveyi patogen berumur 24 jam dengan kepadatan 105 cfu/mL. Nauplii Artemia diberikan pada pagi dan sore hari. Parameter yang diamati meliputi pengamatan visual abnormalitas larva uji yang dilihat dari tingkah laku larva dan kondisi organ hepatopankreas, tingkat sintasan, kelimpahan total bakteri Vibrio sp. dan V. harveyi, identifikasi bakteri, dan parameter kualitas air. Selama 48 jam perlakuan sintasan larva yang berasal dari strain induk yang berbeda memberikan hasil berbeda nyata dengan tingkat sintasan tertinggi pada larva asal Barito, yaitu 75%; diikuti GIMacro 65%; Asahan 61,33%; Ciasem 53,66%; strain Ogan 20%.Vibriosis caused by Vibrio harveyi is a serious problem in intensive system hatcheries of freshwater prawn. This study was conducted to study the resistance of larvae from different locations i.e. Ogan River, South Sumatra; Asahan River, North Sumatra; Barito River, South Kalimantan; Ciasem River, West Java; and GIMacro, as part of breeding program to create superior prawn strain. Complete randomized design was used in this study, with 5 treatments, i.e. larvae source and 3 replications. 4th stage of freshwater prawn larvae from the different populations, average total length of 2,7±0,4 mm, were reared in 3 liters buckets with larvae density of 100 larvae/L. Each bucket was filled with 1 L of 10‰ saline water. V. harveyi aged 24 hours was inoculated in each bucket with a density of 105 cfu/mL. Artemia sp. nauplii was given to the larvae twice per day. Some parameters consisting of abnormalitas of larvae, larvae behaviour, hepatopancreas performance, mortality, total of Vibrio sp. number and water quality was observed during the study. During 48 hours of the treatment, showed that factor of different larvae location gave a significant result to larvae survival rate. The highest survival rates was observed in the Barito larvae population (75%), followed by GIMacro (65%), Asahan (61.33%), Ciasem (53.66%), and Ogan 20%.
PENAMBAHAN TAURIN MELALUI ROTIFER Brachionus rotundiformis UNTUK PERBAIKAN PERTUMBUHAN LARVA DAN PENINGKATAN PRODUKSI BENIH KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus Regina Melianawati; Ni Wayan Widya Astuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.041 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.421-428

Abstract

Ikan kerapu sunu Plectropomus leopardus merupakan komoditas perikanan laut yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga perlu dikembangkan dalam skala budidaya. Untuk meningkatkan keberhasilan pembenihan maka kualitas rotifer Brachionus rotundiformis sebagai pakan alami bagi larva perlu ditingkatkan. Uji coba penggunaan taurin sebagai salah satu bahan pengkaya rotifer perlu dilakukan, mengingat taurin merupakan asam amino bebas yang diharapkan dapat diabsorbsi dengan mudah dan cepat oleh larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan taurin terhadap pertumbuhan dan sintasan larva kerapu sunu. Penelitian dilakukan pada bak berkapasitas 6.000 liter. Selama pemeliharaan larva diberi fitoplankton Nannochloropsisocullata, rotifer, dan Artemia, serta pakan buatan. Perlakuan yang diujikan adalah: (A) penambahan taurin dan (B) tanpa penambahan taurin. Penambahan taurin dilakukan melalui proses bioenkapsulasi pada rotifer. Parameter yang diamati meliputi: panjang total, pertumbuhan duri sirip punggung dan perut, jumlah rotifer yang dikonsumsi oleh larva, serta sintasan benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva kerapu sunu umur 25 hari pada perlakuan A memiliki panjang total lebih besar (7,00±0,83 mm) dibandingkan pada perlakuan B (6,39±0,85 mm). Pertumbuhan duri sirip punggung dan perut larva pada perlakuan A terjadi lebih cepat dibandingkan pada perlakuan B. Jumlah rotifer yang dikonsumsi oleh larva pada perlakuan A lebih banyak dibandingkan pada perlakuan B. Secara statistik, semua parameter yang diamati tersebut berbedanyata pada kedua perlakuan (P<0,05). Sintasan benih kerapu sunu pada perlakuan A lebih tinggi (1,45%) dibandingkan pada perlakuan B (0,01%) (P<0,01). Dengan demikian maka penambahan taurin dapat meningkatkan pertumbuhan dan sintasan larva kerapu sunu.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue