cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PERBAIKAN KUALITAS PAKAN DAN KINERJA PERTUMBUHAN IKAN NILA DENGAN PENAMBAHAN ENZIM PROTEASE BAKTERI PADA PAKAN FORMULASI Titin Kurniasih; Nur Bambang Priyo Utomo; Zafril Imran Azwar; Mulyasari Mulyasari; Irma Melati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.588 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.87-96

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian enzim protease bakteri pada pakan formulasi terhadap kecernaan nutrien, efisiensi pakan, dan pertumbuhan ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu pakan formulasi kontrol tanpa penambahan enzim (FK 28), pakan formulasi yang ditambah enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Bacillus cereus (FBc), pakan formulasi yang diberi enzim protease yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus epidermidis (FSe), pakan komersial berkadar protein 28% (KK 28), dan pakan komersial berkadar protein 31% (KK 31). Penelitian menggunakan ikan nila berukuran awal 4,07±0,25 g, dilakukan pada 15 buah akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 50 cm yang dilengkapi sistem resirkulasi selama enam puluh hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian enzim protease bakteri Bacillus cereus secara signifikan mampu meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan ikan nila dibandingkan dengan pakan kontrol. Kecernaan protein dan total pakan meningkat secara signifikan dengan adanya penambahan enzim protease bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus. Penambahan enzim bakteri Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus juga secara nyata meningkatkan retensi protein dan palatabilitas pakan formulasi. Sintasan tidak berbeda nyata di antara kelima perlakuan. Diperoleh kesimpulan bahwa enzim protease kedua bakteri tersebut efektif untuk meningkatkan kualitas pakan dan kinerja pertumbuhan ikan nila.
PERBANDINGAN PATOGENESITAS, Edwardsiella tarda PADA IKAN MAS KOKI (Charassius auratus) DAN IKAN CELEBES RAINBOW (Telmatherina celebensis) Siti Narwiyani; Kurniasih Kurniasih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.232 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.291-301

Abstract

Edwardsiella tarda adalah salah satu jenis bakteri yang masuk dalam daftar Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) yang harus dicegah penyebarannya. Infeksi E. tarda terdapat pada berbagai jenis ikan budidaya maupun pada ikan yang hidup di perairan bebas. E. tarda juga menginfeksi vertebrata tingkat tinggi (burung dan reptil), mamalia, dan termasuk juga manusia. Pada manusia, dikenal sebagai penyebab penyakit gastrointestinal dan ekstraintestinal. Edwardsiella tarda sudah tersebar di beberapa negara di antaranya adalah Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia. Di Indonesia, E tarda ditemukan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. E. tarda dapat diidentifikasi melalui gejala klinis, identifikasi secara morfologi, fisik, dan biokimia, serta molekuler DNA. Bakteri ini menyerang mekanisme pertahanan tubuh inang, karena itu, proses proliferasi bakteri ini sangat cepat di dalam inang dan menyebabkan kematian. Tingkat patogenitas E. tarda dapat ditentukan berdasarkan kemampuan bakteri tersebut untuk menginfeksi kekebalan non spesifik pada ikan. Perbedaan patogenitas E. tarda pada berbagai ikan air tawar di Indonesia belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan patogenitas dan LC50 E. tarda pada ikan mas koki (Carassius auratus) dan ikan Celebes rainbow (Telmatherina celebensis). Untuk uji LC50 ikan uji disuntik dengan penyuntikan intraperitonial dengan konsentrasi bakteri 0, 102, 104,106, 108, dan 1010cfu/mL, ikan dipelihara dalam akuarium selama 48 jam dan dihitung jumlah kematiannya setiap 12 jam. Nilai LC50 untuk ikan mas koki dan ikan Celebes Rainbow adalah 1,8 x 105 cfu/mL dan 2,3 x 107 cfu/mL. Uji patogenitas dilakukan dengan melakukan perendaman ikan uji dalam akuarium berukuran 30 cm x 30 cm x 50 cm dengan kepadatan 10 ekor/akuarium dan volume 20 air liter selama seminggu; dan kepadatan bakteri menggunakan nilai LC50 masingmasing ikan. Perubahan makroskopik patologik anatomik menunjukkan adanya lesi kemerahan pada ekor dan sirip, pembengkakan perut dan tubuh, insang pucat, lesi pada pangkal sirip dan ekor, dan pembengkakan pada hati dan ginjal pada ikan mas koki dan ikan Celebes rainbow
KERAGAAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) STRAIN MAJALAYA, LOKAL BOGOR DAN RAJADANU DI KOLAM CIJERUK, BOGOR-JAWA BARAT Otong Zenal Arifin; Titin Kurniasih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.793 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.177-185

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan strain ikan mas yang memiliki keragaan pertumbuhan yang baik sebagai spesies kandidat untuk program seleksi. Tiga strain ikan mas (majalaya, lokal Bogor, dan rajadanu) dipelihara dalam jaring yang diletakkan di kolam Instalasi Penelitian Cijeruk, Bogor selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata untuk parameter pertambahan bobot dan sintasan dari 3 strain ikan mas yang diuji, sedangkan untuk pertambahan panjang individual (mm per bulan) ada perbedaan yang sangat nyata (P<0,05). Strain ikan mas rajadanu memiliki pertambahan panjang terbaik (16,0 ± 1,41) dan berbeda dengan majalaya (10,3 ± 4,50) serta lokal (10,8 ± 2,06).Objective of this study is to produce good performance of common carp by comparing three promising strains majalaya, local, and rajadanu. The study was carry out using floating net cages placed in earthen pond at The Cijeruk Germ Plasm Research Station. During the study, growth and survival rate were observed were observed for six weeks. The results indicated there was no significant difference for growth of weight and survival rate. However, growth of standard length was significantly different (P<0.05). Rajadanu made the best growth of standard length (16.0 ± 1.41) and was different from majalaya (10.3 ± 4.50) and local strain (10.8 ± 2.06).
RELASI PERTUMBUHAN DAN RANSUM HARIAN PADA BENIH IKAN LELE (Clarias batrachus L.) Amin Setiawan; Agus Priyadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.732 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.341-347

Abstract

Relasi pertumbuhan (G) dan ransum harian (R) dari ransum nol sampai ransum maksimal telah dipelajari pada benih ikan lele (Clarias batrachus L.) berukuran bobot rata-rata 21,7 ± 7,94 mg dalam kondisi iluminasi alami dan kisaran suhu 22,9-26,1oC untuk memahami aksi faktor-faktor lingkungan terhadap pertumbuhan. Perbedaan respon pertumbuhan benih ikan lele terhadap perbedaan ransum harian tampak amat jelas.  Peningkatan ransum harian diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan dengan penambahan yang semakin berkurang dengan mengikuti persamaan G = -5,379 + 1,447 R – 0,016 R2. Pertumbuhan nol (Gnol = 0%), pertumbuhan optimal (Gopt. = 15,77%) dan pertumbuhan maksimal (Gmaks.= 27,32%) berturut-turut diperoleh dari tingkat pemberian ransum pemeliharaan 3,88%, ransum optimal 18,33% dan ransum maksimal 45,21% bobot badan kering per hari.Growth (G) and daily ration (R) relationship from zero ration to maximum ration has been studied in catfish (Clarias batrachus L.) fry of 21.7± 7.94 mg in average body weight under natural illumination and temperature range of 22.9-26.1oC to study the effect of environmental factors on growth. Different growth responses have been shown by catfish fry fed with different daily rations. Increasing in daily ration was followed by increasing in growth rate with downward increment according to equation of G = -5.379 + 1.447 R – 0.016 R2. Zero growth (Go = 0%), optimum growth (Gopt. = 15.77%) and maximum growth (Gmax. = 27,32%) were gained, respectively, from maintenance ration of 3.88%, optimum ration of 18,33% and maximum ration of 45.21% dry body weight per day.
SALINITAS OPTIMAL UNTUK PENDEDERAN BENIH IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata) Idil Ardi; Eri Setiadi; Anang Hari Kristanto; Ani Widiyati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.673 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.4.2016.347-354

Abstract

Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) termasuk ikan perairan tawar yang memiliki nilai ekonomis penting dan sangat disukai karena memiliki daging yang tebal, tulangnya sedikit, dan gurih. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh dalam kegiatan budidaya adalah salinitas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan salinitas optimum dalam pemeliharaan benih ikan betutu yang diharapkan dapat meningkatkan sintasan dan pertumbuhannya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakukan berdasarkan perbedaan salinitas yaitu kontrol ppt, 1 ppt, 3 ppt, dan 5 ppt. Setiap perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik, panjang mutlak, bobot mutlak, dan kadar glukosa darah terhadap kontrol (salinitas 0 ppt) setelah dipelihara selama 56 hari. Laju pertumbuhan mutlak, bobot mutlak, dan glukosa darah paling baik dijumpai pada benih yang dipelihara dengan salinitas 3 ppt, yaitu 0,94 ± 0,09%; 2,53 ± 0,35 mm; 37,33 ± 6,28 g; dan 0,06 ± 0,01 g/dL. Pemeliharaan benih betutu membutuhkan air bersalinitas. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan sintasan air media budidaya disarankan bersalinitas 3 ppt.Sand goby (Oxyeleotris marmorata) is one of freshwater fish that has high economic value and is more desired for its thick meat, bone less, and tasteful. Salinity is one of the most important environmental factors in fish culture. The purpose of this study was to determine the optimal salinity concentration on growth and survival of sand goby fish. A completely Randomized Design (CRD) was used in this study with four treatments of salinity levels comprising A) Control; B) 1 ppt; C) 3 ppt; D) 5 ppt. Each treatment was consisted of three replicates. The result showed significant differences (P<0.05) in specific growth rate, absolute length, absolute weight, and blood glucose among the treatments against control after 56 days cultured. Seed reared under the salinity of 3 ppt was better than other treatments in terms of specific growth rate (0.94±0.09%), absolute length (2.53±0.35 mm), absolute weight (37.3±6.28 mg), and blood glucose (0.06±0.01 g/dl). Based on the present result, it was suggested that 3 ppt of salinity is better for optimize the growth and survival of sand goby.
KERAGAAN GENOTIPE DAN FENOTIPE IKAN UCENG Nemacheilus fasciatus (Valenciennes, 1846) ASAL BOGOR, TEMANGGUNG, DAN BLITAR Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Arifah Ambarwati; Dinar Tri Soelistyowati; Anang Hari Kristanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.579 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.1.2018.1-10

Abstract

Ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) merupakan ikan asli Indonesia yang hidup di sungai dan potensial sebagai komoditas budidaya lokal yang bernilai ekonomi. Pengenalan sumber genetik ikan uceng berdasarkan lokasi geografis perlu dilakukan untuk pengembangan budidaya jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi genotipe dan fenotipe ikan uceng asal Bogor (Jawa Barat), Temanggung (Jawa Tengah), dan Blitar (Jawa Timur). Tiga primer (OPA-12, OPC-04, dan OPC-06) digunakan untuk analisis genotipe dengan metode PCR-RAPD, sedangkan performa fenotipik dievaluasi berdasarkan analisis truss morfometrik dan kinerja pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan uceng asal Temanggung memiliki heterozigositas dan tingkat polimorfisme tertinggi yaitu 0,153 dan 34,69%. Fenotipe truss morfometrik interpopulasi ikan uceng asal Temanggung dan Bogor memiliki tingkat inklusivitas sebesar 10%, sedangkan populasi Blitar menunjukkan tingkat keseragaman intrapopulasi yang tertinggi (96,7%). Sintasan tertinggi terdapat pada populasi ikan uceng asal Temanggung (96,66 ± 3,33%) yang diikuti dengan peningkatan nilai faktor kondisi, namun laju pertumbuhan spesifik tertinggi yaitu populasi asal Blitar (1,082 ± 0,164%). Berdasarkan keragaan genotipe dan fenotipe populasi ikan uceng asal Temanggung menunjukkan potensial sebagai sumber genetik budidaya dengan tingkat keragaman genetik, sintasan, dan inklusivitas tertinggi.Barred loach (Nemacheilus fasciatus) is an Indonesian native fish and has a potential as an economically valuable aquaculture species. The genetics resource identification of barred loach based on geographical location is needed in order to determine its aquaculture potential. The purpose of this research was to evaluate the genotype and phenotype performance of barred loach originated from Bogor (West Java), Temanggung (Central Java), and Blitar (East Java). Three primer (OPA-12, OPC04, and OPC-06) were used in the genotype analysis using PCR-RAPD method, while phenotype performance was evaluated based on truss morphometric analysis and growth performance. The result indicated that barred loach from Temanggung had highest heterozigosity (0.153) and polymorphism (34.69%) compared to the others. The highest intrapopulation sharing component gained by barred loach from Blitar (96.7%), while the interpopulation sharing component by barred loach from Temanggung and Bogor (10%). Barred loach from Temanggung had the highest survival rate (96.66 ± 3.33%) with increasing of condition factor. The highest specific growth rate resulted by barred loach from Blitar (1.08 ± 0.16%). Barred loach from Temanggung potential for genetic resources as highest polymorphism, inclusivity, and survival rate.
PERFORMA IKAN PATIN HIBRIDA PASUPATI (PANGASIID) DARI INDUK TERSELEKSI PADA SISTEM BUDIDAYA BERBEDA Evi Tahapari; Jadmiko Darmawan; Ika Nurlaela; Wahyu Pamungkas; Huria Marnis
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.115 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.1.2016.29-38

Abstract

Pada segmen pembenihan, ikan patin Pasupati II hasil hibridisasi antara ikan patin Siam betina dan ikan patin Jambal jantan menunjukkan performa terbaik dibandingkan ikan patin Pasupati l, dan patin Siam F-1.Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa ikan patin Pasupati II pada segmen pembesaran yang dilakukan di kolam air tenang (KAT) berukuran 50 m2, dan di jaring (berukuran 5 m x 3 m x 1,5 m) yang dipasang di tambak air payau (TAP, salinitas < 10 ppt). Ikan uji yang digunakan adalah ikan patin Pasupati II, Pasupati I, dan patin Siam F-1 dengan bobot awal di KAT 11,1-16,1 g/ekor, dan di TAP 21,3-32,5 g/ekor. Sebanyak dua KAT, dan dua jaring di TAP digunakan untuk setiap kelompok ikan. Parameter yang diamati meliputi: pertambahan bobot dan panjang harian, konversi pakan, sintasan, kualitas air pemeliharaan, dan konsentrasi hormon Insuline-like Growth Factor (IGF-I) pada plasma darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa ikan patin Siam F-1 pada parameter pertambahan bobot memberikan yang terbaik (P<0,05) dibandingkan patin Pasupati I dan II yang dipelihara di KAT dan di TAP. Kemudian performa pertambahan bobot ikan patin Pasupati II lebih baik (P<0,05) daripada patin Pasupati I yang dipelihara di TAP. Hasil analisis ELISA pada beberapa ikan uji yang dipelihara di KAT menunjukkan bahwa konsentrasi hormon IGF- 1 tertinggi terdapat pada ikan patin siam F-1 (4,48 ± 0,81 ng/mL), kemudian diikuti oleh patin Pasupati II (3,96 ± 0,51 ng/mL); dan terendah pada ikan patin Pasupati I (3,93 ± 0,54 ng/mL). Jika dicermati dari data pertumbuhan dan konsentrasi hormon IGF-1 ikan uji ternyata terdapat korelasi yang positif antara pertumbuhan ikan dengan konsentrasi hormon IGF-1, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ikan maka semakin tinggi konsentrasi hormon IGF-1 pada ikan uji.In thenursery, Pasupati II catfish hybrid of female Siamese catfish and male Jambal catfish showed the best performance compared to Pasupati I catfish and Siam catfish F-1 generation. The aim of this study was to test performance of Pasupati II on grow out segment in freshwater pond (KAT) measure 50 m2 and in net cage (measure 3 m x 5 m x 1.5 m) which settled in brackishwater pond (TAP, salinity < 10 ppt). The fish that used were Pasupati II, Pasupati I, and Siam catfish F-1 with body weight of 11.1-16.1 g/fish in KAT, and 21.3-32.5 g/fish in TAP. A total of two KAT, and two TAP were used for each group of fish. Parameters observed were included daily body weight and length, feed conversion ratio (FCR), survival rate, water quality, and concentration of insulin-like growth factor (IGF-1) hormone on plasma. The results showed that the performance of Siamese catfish F-1 growth parameters give the best weight gain (P<0.05) than catfish Pasupati I and II were maintained at KAT and TAP. Then the weight gain performance catfish Pasupati II was better (P<0.05) than that of catfish Pasupati I reared in TAP. Results of ELISA analysis on some of the fish that are reared in the KAT were showed that the concentration of the hormone IGF-1 was highest in F-1 Siamese catfish (4.48 ± 0.81 ng/mL), followed by Pasupati catfish II (3.96 ± 0.51 ng/mL) and the lowest in the Pasupati catfish I (3.93 ± 0.54 ng/mL). When the data of growth and IGF-1 hormone concentrations in the tested fish was examined there was a positive correlation, the higher the growth rate of the fish followed the higher concentration of the IGF-1 hormone in the test fish.
KARAKTERISTIK MORFOLOGIS DAN GENETIS IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus Burchell, 1822) STRAIN MUTIARA Bambang Iswanto; Rommy Suprapto; Huria Marnis; Imron Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.901 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.325-334

Abstract

Ikan lele Mutiara merupakan strain baru ikan lele Afrika Clarias gariepinus hasil pemuliaan yang memiliki keunggulan karakteristik budidaya. Selain karakteristik budidayanya, karakteristik morfologis dan genetis ikan lele Mutiara juga perlu dibandingkan dengan strain yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik morfologis ikan lele Mutiara (melalui uji morfometrik dan meristik), serta karakteristik genetis menggunakan marka DNA mikrosatelit dibandingkan dengan ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo yang merupakan induk-induk pembentuknya. Karakterisasi morfometrik dilakukan melalui pengukuran terhadap 20 karakter, sedangkan karakterisasi meristik dilakukan melalui penghitungan terhadap lima karakter sesuai metode standar karakterisasi biometrik-morfologis ikan lele. Data karakteristik morfometrik dan meristik dievaluasi dengan menggunakan analisis komponen utama. Hasil karakterisasi morfologis menunjukkan bahwa karakteristik morfometrik dan meristik ikan lele Mutiara tidak dapat dibedakan dari ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo. Karakterisasi secara genetis dengan menggunakan empat primer DNA mikrosatelit untuk ikan lele Afrika (Cga01, Cga02, Cga05, dan Cga09) menunjukkan bahwa ikan lele Mutiara memiliki keragaman genetis (jumlah alel dan heterozigositas) yang relatif lebih tinggi daripada ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo.
SELEKSI KANDIDAT PROBIOTIK ANTI AEROMONAS HYDROPHILA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN AIR TAWAR Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.265 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.269-277

Abstract

Secara dasar ada tiga model kerja probiotik yaitu menekan populasi mikroba melalui kompetisi dengan memproduksi senyawa anti-mikroba atau melalui kompetisi nutrisi dan tempat pelekatan di dinding usus, mengubah keseimbangan metabolisme mikroba dengan meningkatkan atau menurunkan aktivitas enzim dan menstimulasi imunitas dengan meningkatkan antibodi dan aktivitas makrofag. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh mikroba yang berpotensi sebagai kandidat probiotik untuk dapat diaplikasikan di dalam menekan atau menghambat bakteri patogen sebagai langkah pengendalian penyakit pada ikan air tawar. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, tahap pertama adalah tahap seleksi yang dimulai dari koleksi dan isolasi bakteri kandidat probiotik dan tahap kedua adalah tahap pengujian bakteri kandidat probiotik secara in vitro menggunakan metode daya hambat dan menguji daya patogenisitas bakteri. Total isolat bakteri yang diperoleh adalah 72 isolat, dan hanya enam isolat terpilih sebagai kandidat probiotik anti Aeromonas hydrophila. Probiotik anti A. hydrophila adalah sebagai berikut: Chromobacterium lividum, Alcaligenes faecalis, Aeromonas caviae, Bacteriodes serpens, Bacillus firmus, Aeromonas caviae = A. hydrophila Sub sp. Anaerogenes.
ISOLASI DAN SELEKSI BAKTERI PROBIOTIK DARI LINGKUNGAN TAMBAK DAN HATCHERI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT VIBRIOSIS PADA LARVA UDANG WINDU, Penaeus monodon Widanarni Widanarni; Fahmi Rajab; Sukenda Sukenda; Mia Setiawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.26 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.103-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri probiotik yang mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi untuk pengendalian penyakit vibriosis pada larva udang windu. Jumlah isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari 34 sumber yang berbeda di lingkungan tambak dan hatcheri ada 118 isolat. Dari total isolat tersebut setelah diseleksi secara in vitro menggunakan metode Kirby-Bauer dipilih 3 isolat bakteri kandidat probiotik yang paling potensial dalam menghambat pertumbuhan bakteri V. harveyi MR5339, yaitu isolat 9a berasal dari Cyclotella dengan zona hambat 12,8 mm; isolat Ua berasal dari saluran pencernaan udang vaname dengan zona hambat 14,5 mm; dan isolat P17Bb berasal dari air pemeliharaan kerapu bebek dengan zona hambat 15,0 mm. Hasil uji patogenisitas dengan konsentrasi bakteri 106 CFU/mL menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut tidak bersifat patogen pada larva udang windu. Hasil uji tantang pada larva udang juga menunjukkan bahwa ketiga isolat tersebut mampu meningkatkan sintasan larva udang windu. Nilai sintasan larva pada perlakuan yang selain diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 juga ditambah probiotik Ua, 9a, dan P17Bb masing-masing adalah 88,3%; 88,3%; dan 76,7% sedangkan pada perlakuan yang hanya diinfeksi dengan V. harveyi MR5339 tanpa probiotik nilai sintasannya hanya mencapai 65,0%. Populasi V. harveyi pada perlakuan dengan penambahan bakteri probiotik tampak lebih rendah dibanding perlakuan tanpa probiotik, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kompetisi antara bakteri V. harveyi dengan bakteri probiotik

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue