cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 781 Documents
THE EFFECT OF MIXED ANIMAL-VEGETABLE OILS IN FEED ON EARLY GONADAL MATURATION OF MALE ASIAN REDTAIL CATFISH (Hemibagrus nemurus) Mujtahidah, Tholibah; Tartila, Shobrina Silmi Qori; Azril, Muhammad; Risqulloh, Sultan Jibran; Oktavian, Muhammad Abizar Sakti; Azmi, Rifky Tsabitul; Fatikasari, Amelia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.4.2025.319-328

Abstract

Male broodstock candidates of Asian redtail catfish tend to have aggressive behaviour due to excessive testosterone production, which is exacerbated by poorly-regulated high-cholesterol feeding practices. This study aimed to suppress these conditions by administering the dietary combination of animal and plant-based oils during pre-gonadal maturation of male broodstock candidates (BW: 215.83±41.28 g; BL: 272.12±19.89 mm), reared in a 2 × 1 × 1 m3 net cage with the stocking density of two fish per cage. This study was conducted using a completely randomized design with three dietary combination treatments (2% of each oil dosage) with four replicates: base feed with no mixed dietary oil (K), mixed fish oil-maggot oil (IM), and mixed fish oil-palm oil (IS). All parameters, namely reproductive performance (final length/Pt, final weight/Wt, feed intake/FI, gonadosomatic index/GSI, and hepatosomatic index/HSI) and blood chemistry profile (total cholesterol/TC, high-density lipoprotein/HDL, triglycerides/TG, and glucose/GLU), were statistically tested their significance using the analysis of variance and Duncan’s multiple range test with 95% confidence level. Significant differences were found in Pt and Wt (p<0.05), where the dietary combination of oils (IM-IS) showed higher Pt and Wt values than the dietary without the mixed oils (K). The IM treatment obtained the highest TG level (159.98±38.44 mg dL-1; p<0.05), yet showed no significant differences from the other treatments in TC, HDL, and GLU levels (p>0.05). This study concludes that the dietary combination of fish oil (2%)-maggot oil (2%) improves lipid deposition during pre-gonadal maturation and regulates energy storage through weight gain, without jeopardizing the somatic growth (length) of male Asian redtail catfish broodstock candidates.Calon induk ikan baung jantan memiliki sifat agresif yang salah satunya disebabkan produksi testosteron berlebih akibat pemberian pakan dengan kadar tinggi kolesterol. Penelitian ini ditujukan untuk mengurangi dampak tersebut melalui evaluasi kombinasi minyak hewani dan nabati pada pakan selama fase awal kematangan gonad calon induk ikan baung jantan (BW: 215,83±41,28 g; BL: 272,12±19,89 mm), yang dipelihara pada hapa ukuran 2 × 1 × 1 m3 dan padat tebar sebesar dua ekor ikan per hapa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan pakan kombinasi (dosis tiap minyak 2%) dan empat ulangan, yaitu pakan tanpa kombinasi (K), pakan dengan kombinasi minyak ikan-maggot (IM), dan minyak ikan-sawit (IS). Seluruh parameter, yaitu kinerja reproduksi (panjang akhir/Pt, bobot akhir/Wt, total konsumsi pakan/FI, indeks somatik gonad /GSI, dan indeks somatik hati /HSI) dan profil kimia darah (total kolesterol/TC, high-density lipoprotein/HDL, trigliserida/TG, dan glukosa/GLU), dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan uji jarak berganda Duncan dengan derajat kepercayaan 95%. Perbedaan nyata ditunjukkan pada Pt dan Wt (p<0,05), dimana kombinasi minyak IM-IS menunjukkan nilai Pt dan Wt yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pemberian kombinasi minyak (K). Perlakuan IM memperoleh konsentrasi TG tertinggi (159,98±38,44 mg dL-1; p<0,05), namun menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata terhadap perlakuan lainnya pada konsentrasi TC, HDL, dan GLU. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa kombinasi minyak ikan (2%) dan minyak maggot (2%) mampu memperbaiki penyimpanan lemak untuk fase awal kematangan gonad (trigliserida dalam serum darah) dan mendorong penyimpanan energi melalui peningkatan bobot, tanpa mengganggu pertumbuhan somatik (panjang) dari calon induk ikan baung jantan.
MODELLING DISSOLVED OXYGEN IN INTENSIVE AQUACULTURE SYSTEMS: LINEAR REGRESSION vs RANDOM FOREST APPROACHES Yani, Ahmad; Puspitasari, Asthervina W.; Poltak, Hendra; Fahrizal, Ahmad; Rusli, Rusli; Saville, Ramadhona
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.4.2025.339-354

Abstract

Dissolved oxygen (DO) is a critical water quality parameter in intensive aquaculture systems because its fluctuations directly affect farmed fish. Accurate prediction of DO is challenging due to complex, often nonlinear interactions among physicochemical and biological variables. Despite increasing interest in machine learning applications, comparative evaluations between traditional linear models and ensemble-based approaches in aquaculture contexts remain limited. This study aimed to analyse key variables associated with DO dynamics, compare the predictive performance of linear regression (LR) and random forest (RF) models, and identify dominant predictors relevant to aquaculture management. A publicly available aquaculture water quality dataset from Mendeley Data was analysed. Data were preprocessed by outlier removal and normalization, then split into training (70%) and test (30%) sets, and model robustness was assessed using 5-fold cross-validation. Dissolved oxygen concentrations ranged from 0.21 to 10.17 mg L⁻¹ (mean = 5.19 mg L⁻¹). Pearson correlation analysis showed positive associations between DO and ammonia (r = 0.60), biochemical oxygen demand (r = 0.55), and nitrite (r = 0.52), and negative associations with hydrogen sulphide (r = −0.55) and turbidity (r = −0.53). These relationships reflected indirect, management-mediated effects rather than direct causation. The RF model slightly outperformed LR (R² = 0.515 vs. 0.470), demonstrating the advantage of non-linear modelling. The feature importance analysis identified ammonia, hydrogen sulphide, nitrite, and biochemical oxygen demand as the dominant predictors. Although predictive accuracy remained moderate, the results highlight key drivers of DO variability and support the use of machine learning as a decision-support tool for smart aquaculture management. Oksigen terlarut (dissolved oxygen = DO) merupakan parameter kualitas air yang sangat penting dalam sistem akuakultur intensif karena fluktuasinya secara langsung memengaruhi komoditas yang dibudidayakan. Prediksi DO yang akurat menjadi tantangan karena adanya interaksi yang kompleks dan sering kali bersifat nonlinier antara variabel fisikokimia dan biologis. Meskipun minat terhadap penerapan machine learning terus meningkat, evaluasi komparatif antara model linier tradisional dan pendekatan berbasis ensemble dalam konteks akuakultur masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel-variabel utama yang berkaitan dengan dinamika DO, membandingkan kinerja prediktif model regresi linier (LR) dan random forest (RF), serta mengidentifikasi prediktor dominan yang relevan untuk pengelolaan akuakultur. Dataset kualitas air akuakultur yang tersedia secara publik dari Mendeley Data dianalisis dalam penelitian ini. Data dipraproses melalui penghapusan pencilan dan normalisasi, kemudian dibagi menjadi data training (70%) dan pengujian (30%), dengan ketahanan model dievaluasi menggunakan validasi silang lima lipatan. Konsentrasi DO berkisar antara 0,21 hingga 10,17 mg L⁻¹ (rata-rata = 5,19 mg L⁻¹). Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara DO dan amonia (r = 0,60), kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD; r = 0,55), serta nitrit (r = 0,52), dan hubungan negatif dengan hidrogen sulfida (r = −0,55) dan kekeruhan (r = −0,53). Hubungan tersebut mencerminkan efek tidak langsung yang dimediasi oleh praktik pengelolaan, bukan hubungan kausal langsung. Model RF menunjukkan kinerja yang sedikit lebih baik dibanding LR (R² = 0,515 vs. 0,470), yang menegaskan keunggulan pemodelan nonlinier. Analisis kepentingan fitur mengidentifikasi amonia, hidrogen sulfida, nitrit, dan kebutuhan oksigen biokimiawi sebagai prediktor dominan. Meskipun akurasi prediksi masih tergolong moderat, hasil penelitian ini menyoroti faktor-faktor utama yang memengaruhi variabilitas DO dan mendukung penerapan machine learning sebagai alat pendukung keputusan dalam pengelolaan akuakultur cerdas. 
SCREENING AND ENZYMATIC–BIOCHEMICAL CHARACTERIZATION OF PROBIOTIC CANDIDATE BACTERIA ISOLATED FROM THE DIGESTIVE TRACT OF LAKE TOBA NILE TILAPIA (Oreochromis niloticus) Syafitri, Emmy; Afriani, Dwi Tika
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.4.2025.355-367

Abstract

Intensive Nile tilapia (Oreochromis niloticus) culture in floating net cages in Lake Toba has increased organic waste accumulation due to uneaten fish feed, contributing to water quality degradation, eutrophication, and mass fish mortality. Probiotics are considered a potential solution to improve feed digestibility to mitigate eutrophication and high concentration of dissolved organic matter. However, information on indigenous probiotic bacteria from the digestive tract of tilapia cultured in Lake Toba is limited, particularly regarding their enzymatic and biochemical characteristics. This study aimed to isolate, screen, and characterize enzyme-producing bacteria from the digestive tract of Lake Toba Nile tilapia as early probiotic candidates. Bacterial isolation was performed using serial dilution and culture on tryptic soy agar, followed by purification and morphological characterization. Enzymatic screening for amylolytic, proteolytic, and lipolytic activities was conducted using substrate-specific agar media, and selected isolates were identified using biochemical tests. Seven bacterial isolates were obtained, of which three exhibited extracellular enzymatic activity. Two isolates showed proteolytic activity with clear-zone diameters ranging from 17.4 ± 0.7 to 22.6 ± 0.7 mm, while one isolate demonstrated amylolytic activity with a clear-zone diameter of 1.57 ± 0.5 mm. No lipolytic activity was detected. Based on morphological and biochemical characteristics, the enzyme-producing isolates were identified as belonging to the genera Micrococcus, Staphylococcus, and Streptococcus. These results indicate that the digestive tract of Lake Toba Nile tilapia harbors indigenous enzyme-producing bacteria with potential as probiotic candidates. Further molecular identification, safety evaluation, and in vivo assessment are required prior to their application in aquaculture. Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) secara intensif dalam sistem keramba jaring apung di Danau Toba telah meningkatkan akumulasi limbah organik akibat adanya pakan yang tidak termakan, sehingga berkontribusi terhadap penurunan kualitas perairan, eutrofikasi, dan terjadinya kematian ikan secara massal. Probiotik dipandang sebagai salah satu solusi potensial untuk meningkatkan kecernaan pakan untuk mitigasi terjadinya eutrofikasi dan tingginya konsentrasi bahan organik terlarut. Namun, informasi mengenai bakteri probiotik indigenous yang berasal dari saluran pencernaan ikan nila yang dibudidayakan di Danau Toba masih terbatas, khususnya terkait karakteristik enzimatik dan biokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, menyeleksi, dan mengkarakterisasi bakteri penghasil enzim dari saluran pencernaan ikan nila Danau Toba sebagai kandidat probiotik tahap awal. Isolasi bakteri dilakukan menggunakan metode pengenceran bertingkat dan penanaman pada media tryptic soy agar, diikuti dengan pemurnian dan karakterisasi morfologi. Skrining aktivitas enzimatik meliputi aktivitas amilolitik, proteolitik, dan lipolitik menggunakan media agar dengan substrat spesifik, sedangkan isolat terpilih diidentifikasi melalui uji biokimia. Sebanyak tujuh isolat bakteri berhasil diperoleh, dengan tiga isolat menunjukkan aktivitas enzim ekstraseluler. Dua isolat menunjukkan aktivitas proteolitik dengan diameter zona bening berkisar antara 17,4 ± 0,7 hingga 22,6 ± 0,7 mm, sedangkan satu isolat menunjukkan aktivitas amilolitik dengan diameter zona bening sebesar 1,57 ± 0,5 mm. Aktivitas lipolitik tidak terdeteksi. Berdasarkan karakteristik morfologi dan biokimia, isolat penghasil enzim tersebut diidentifikasi berasal dari genus Micrococcus, Staphylococcus, dan Streptococcus. Hasil ini menunjukkan bahwa saluran pencernaan ikan nila Danau Toba mengandung bakteri indigenous penghasil enzim yang berpotensi sebagai kandidat probiotik. Identifikasi molekuler lebih lanjut, evaluasi keamanan, dan pengujian in vivo diperlukan sebelum aplikasinya dalam sistem akuakultur.
RESPON PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) TERHADAP PERLAKUAN WARNA DINDING BAK YANG BERBEDA Setiadi, Ananto; Gunawan, Gunawan; Hutapea, Jhon Harianto; Anwar, Kasful
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.4.2025.369-383

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya mortalitas larva hingga fase juvenil pada pemeliharaan larva tuna sirip kuning, terutama akibat kanibalisme dan tabrakan larva/benih dengan dinding wadah. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa warna gelap meningkatkan sintasan larva, sementara warna terang mengurangi kematian pada fase juvenil, namun belum ada pendekatan yang mengombinasikan kedua kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh perubahan warna dinding bak pemeliharaan terhadap pertumbuhan dan sintasan larva hingga fase benih. Dua perlakuan dalam penelitian ini : (A) dinding bak berwarna hitam pada fase larva (D-0–D-15) kemudian diubah menjadi putih pada fase juvenil awal (D-16–D-30), dan (B) dinding bak tetap hitam sepanjang pemeliharaan sebagai kontrol. Penelitian dilakukan tiga ulangan dengan rancangan acak lengkap (RAL). Larva dipelihara dalam bak beton berkapasitas 6 m³ dengan padat tebar 90.000 telur per bak, diberi pakan bertahap berupa rotifer, naupli kopepoda, larva kerapu, larva bandeng, hingga nener bandeng, serta dikelola dengan manajemen kualitas air sesuai standar hatchery tuna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna dinding bak tidak memengaruhi pertumbuhan larva, namun berpengaruh signifikan terhadap sintasan. Perlakuan B (bak hitam sepanjang pemeliharaan) menghasilkan sintasan lebih tinggi pada D-30 (0,36 ± 0,06%) dibandingkan perlakuan A (0,20 ± 0,01%) dengan p<0,05. Sementara itu, respon pertumbuhan menunjukan tidak beda nyata. Secara keseluruhan, penggunaan dinding bak berwarna hitam selama seluruh periode pemeliharaan memberikan sintasan larva-benih yang lebih baik dibandingkan kombinasi perubahan warna. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi visual lingkungan yang lebih gelap lebih sesuai untuk mengurangi stres dan mortalitas larva tuna sirip kuning sepanjang fase awal kehidupannya.This study was motivated by the high mortality rate of yellowfin tuna larvae rearing during the transition to the early juvenile stage, mainly due to cannibalism and collision with tank walls. Previous studies have shown that dark colors increase larval survival, while light colors reduce mortality in the juvenile phase, but there has been no approach that combines the two conditions. This study aims to evaluate the effect of color changes in the walls of the care tub on the growth and survival of larvae to the seed phase. Two treatments in this study : (A) black tank walls during the larval phase (D-0–D-15) followed by white walls during early juvenile rearing (D-16–D-30), and (B) continuously black tank walls throughout rearing as the control. The study was conducted with three replications using a completely randomized design (RAL). Larvae were reared in 6 m³ concrete tanks stocked with 90,000 eggs per tank and fed gradually with rotifers, copepod nauplii, grouper larvae, milkfish larvae, and milkfish fry, supported by standard hatchery water-quality management. The results showed that tank wall color did not significantly affect larval growth but had a significant effect on survival. Treatment B (black walls throughout rearing) produced a higher survival rate at D-30 (0,36 ± 0,06%) compared with Treatment A (0,20 ± 0,01%) with p<0.05. Meanwhile, the growth response shows no real difference Overall, maintaining fully black tank walls throughout the rearing period yielded better larval-to-seed survival, indicating that a darker visual environment reduces stress and mortality in early life stages of yellowfin tuna.
PENGARUH PEMBERIAN LARUTAN TEH HITAM (Camellia sinensis) DENGAN DOSIS DAN WAKTU PERENDAMAN BERBEDA TERHADAP DAYA REKAT TELUR IKAN LELE LOKAL (Clarias batrachus) Kaumizzolimin, Minal; Nuraini, Nuraini; Sukendi, Sukendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.4.2025.385-399

Abstract

Riset ini dilakukan untuk mengkaji dampak perendaman telur ikan lele lokal (Clarias batrachus) dalam larutan teh hitam (Camellia sinensis) dengan takaran serta durasi yang bervariasi terhadap proporsi telur melekat, proporsi fertilisasi, proporsi penetasan, dan kelangsungan hidup larva. Pelaksanaan riset berlangsung pada 5–10 Mei 2025 di Laboratorium Pembenihan dan Pemuliaan Ikan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau, Indonesia. Pendekatan yang diterapkan dengan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, meliputi takaran larutan teh hitam (0, 6, 8, dan 10 g L-1) serta durasi perendaman (2, 4, dan 6 menit), masing-masing dengan tiga ulangan sehingga menghasilkan 36 unit percobaan. Parameter yang dicermati mencakup proporsi telur melekat, telur tidak melekat, proporsi fertilisasi, proporsi penetasan, kelangsungan hidup, serta mutu air. Temuan riset memperlihatkan bahwa variasi takaran dan durasi perendaman berdampak nyata terhadap keseluruhan parameter yang dicermati (p < 0,05). Kombinasi optimal untuk proporsi telur melekat dijumpai pada takaran 10 g L-1 selama 6 menit (W6D3), sementara untuk derajat fertilisasi, proporsi penetasan, dan kelangsungan hidup, capaian terbaik diraih pada takaran 10 g L-1 selama 4 menit (W4D3). Dosis 10 g L-1 merupakan konsentrasi paling efektif untuk seluruh parameter, dengan waktu perendaman 4 menit lebih optimal bagi keberhasilan pembuahan, penetasan, dan sintasan larva, sedangkan 6 menit lebih sesuai untuk menurunkan persentase telur merekat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perendaman terlalu lama dapat menurunkan kualitas fisiologis telur meskipun efektif menurunkan persentase telur merekat ikan lele lokal.This study aimed to determine the effect of immersing local catfish (Clarias batrachus) eggs in black tea (Camellia sinensis) solution at different dosages and immersion durations on the percentage of adhesive eggs, fertilization percentage, hatching percentage, and larval survival rate. The study was conducted from 5 to 10 May 2025 at the Hatchery and Fish Breeding Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Riau University, Indonesia. A factorial completely randomized design was applied with two factors: black tea solution doses (0, 6, 8, 10 g L-1) and immersion times (2, 4, and 6 minutes), each with three replicates, resulting in 36 experimental units. The observed parameters included the percentages of adhesive and non-adhesive eggs, fertilization and hatching percentages, survival rate, and water quality. The results showed that different dosages and immersion durations had a significant effect on all observed parameters (p < 0.05). The best treatment for the percentage of adhesive eggs was obtained at a concentration of 10 g L-1 with an immersion time of 6 minutes (W6D3). Meanwhile, the highest fertilization rate, hatching rate, and larval survival rate were achieved at a concentration of 10 g L-1 with an immersion time of 4 minutes (W4D3). The 10 gL-1 concentration was the most effective for all parameters. An immersion time of 4 minutes was more optimal for fertilization success, hatching, and larval survival, whereas a 6-minute immersion was more effective in reducing egg adhesiveness. These differences indicate that excessively long immersion durations may reduce the physiological quality of eggs, although they are effective at reducing egg adhesiveness in local catfish.
IMPROVEMENT OF PRODUCTION PERFORMANCE OF SOFT-SHELL CRAB CULTURE THROUGH DIETARY SUPPLEMENTATION OF HIGH DOSE OF PURSLANE IN RECIRCULATING AQUACULTURE SYSTEM USING APARTMENT BOX Irzal Effendi; Risma Amelia Putri; Dinamella Wahjuningrum; Muhammad Arif Mulya; Bagus Ansani Takwin; Thavasimuthu Citarasu
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.1-13

Abstract

The major constraints in soft-shell crab (Scylla serrata) culture are the irregular and low frequency of molting, which reduce production efficiency. Previous studies have shown that purslane (Portulaca oleracea) supplementation significantly improves molting and production performance of soft-shell crab cultured in an apartment box using a recirculating aquaculture system; however, evaluations at higher doses remain limited.  This study aimed to evaluate the effectiveness of dietary supplementation with purslane stems and young leaves and to determine the optimal dose to enhance soft-shell crab growth and molting. The study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates, namely P0 (yellowstripe scad without purslane), P60 (yellowstripe scad + 60 g kg-1 purslane), P70 (yellowstripe scad + 70 g kg-1 purslane), and P80 (yellowstripe scad + 80 g kg-1 purslane). The results showed that purslane supplementation significantly increased molting and improved growth performance (P < 0.05). Treatment P70 yielded the highest molting percentage of 76.6% and growth rate of 1.3 g day⁻¹. Meanwhile, the control treatment (P0) only achieved a molting percentage of 36.6% and a growth rate of 1.07 g day⁻¹. These findings indicate that purslane has a potential as a natural feed additive to enhance molting and growth performance in soft-shell crab culture. The dose of 70 g kg-1 feed can be recommended to achieve the best molting response of soft-shell crab reared in a recirculating aquaculture system using the apartment box. Kendala utama dalam budidaya kepiting soka (Scylla serrata) adalah proses molting yang tidak serempak dan frekuensinya yang rendah, sehingga menurunkan efisiensi produksi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa suplementasi krokot (Portulaca oleracea) dapat meningkatkan molting dan kinerja produksi kepiting soka yang dibudidayakan dalam sistem kotak apartemen berbasis resirkulasi; namun, evaluasi pada dosis yang lebih tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas suplementasi batang dan daun muda tanaman krokot dalam pakan serta menentukan dosis optimal untuk meningkatkan pertumbuhan dan molting kepiting soka. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P0 (ikan selar tanpa penambahan krokot), P60 (pakan ikan selar + 60 g kg-1 krokot), P70 (pakan ikan selar + 70 g kg-1 krokot), dan P80 (pakan ikan selar + 80 g kg-1 krokot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi krokot secara signifikan meningkatkan molting dan kinerja pertumbuhan (P < 0,05). Perlakuan P70 menghasilkan persentase molting tertinggi sebesar 76,6%, dan laju pertumbuhan 1,3 g hari-1. Sementara itu, perlakuan kontrol (P0) hanya mencapai persentase molting sebesar 36,6% dan laju pertumbuhan sebesar 1,07 g. hari-1. Hasil ini menunjukkan bahwa tanaman krokot berpotensi sebagai bahan tambahan pakan alami untuk meningkatkan molting dan pertumbuhan pada budidaya kepiting soka. Dosis 70 g kg-1 pakan dapat direkomendasikan untuk menghasilkan respons molting terbaik pada kepiting soka yang dipelihara dalam sistem resirkulasi dengan metode kotak apartemen.
RELATIONSHIPS BETWEEN PRIMARY WATER QUALITY PARAMETERS AND CYANOPHYTA ABUNDANCE IN INTENSIVE WHITELEG SHRIMP (Litopenaeus vannamei) PONDS Arie Kiswanto; Diah Ayu Satyari Utami; I Nyoman Sudiarsa; Ilham Ilham; Anik Kusmiatun; Sri Rejeki Minda Ratu; Salsabila Ayudia Listy; Maria Jelita Gone; I Made Aditya Nugraha; Wahyu Wahyu
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.15-39

Abstract

Phytoplankton dynamics, especially Cyanophyta abundance, play a crucial role in shaping water quality and overall productivity in intensive whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) culture. However, the interactions between key water quality parameters and Cyanophyta proliferation remain poorly understood under commercial farming conditions. This study aimed to examine the relationships between ammonium, nitrite, nitrate, phosphate, total organic matter (TOM), dissolved oxygen (DO), and Cyanophyta abundance in two intensive shrimp ponds with contrasting phytoplankton conditions. This study compared two ponds operated by PT Pyramide Paramount Indonesia that differed in stocking density, pond size, and culture conditions. Weekly measurements included Cyanophyta abundance and composition using microscopy and a Neubauer counting chamber, as well as monitoring water quality parameters daily and weekly through in-situ and ex-situ methods. Pearson’s correlation was used to assess the relationships between the variables. The High Cyanophyte (HC) pond exhibited significantly higher cell abundance (47,400 cells mL⁻¹) and dominance compared to the Low Cyanophyte (LC) pond (18,250 cells mL⁻¹). Multiple regression confirmed that dissolved oxygen was the only significant predictor of Cyanophyta abundance, explaining 51.9% of the variance, whereas nutrients and total organic matter were not significant predictors. Shrimp in the LC pond showed better growth performance, with higher final biomass (6,110.33 kg), lower FCR (1.26), and greater productivity (17.65 ton ha-1), indicating that lower Cyanophyta levels may promote more stable culture conditions than higher ones. These findings highlight the need to manage phytoplankton dynamics and DO availability to enhance water quality and promote sustainable shrimp farming. Dinamika fitoplankton, khususnya kelimpahan Cyanophyta, berperan penting dalam membentuk kualitas air dan produktivitas secara keseluruhan pada budidaya intensif udang vaname (Litopenaeus vannamei). Namun, interaksi antara parameter kualitas air utama dan proliferasi Cyanophyta masih kurang dipahami dalam kondisi budidaya komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara amonium, nitrit, nitrat, fosfat, total bahan organik (TOM), oksigen terlarut (DO), dan kelimpahan Cyanophyta di dua tambak udang intensif dengan kondisi fitoplankton yang kontras. Penelitian ini membandingkan dua tambak yang dioperasikan oleh PT Pyramide Paramount Indonesia, namun berbeda dalam kepadatan tebar, ukuran tambak, dan kondisi budidaya. Pengukuran mingguan meliputi kelimpahan dan komposisi Cyanophyta menggunakan mikroskop dan counting chamber Neubauer, sementara parameter kualitas air dipantau secara harian dan mingguan melalui metode in-situ dan ex-situ. Korelasi Pearson digunakan untuk menilai hubungan antarvariabel. Tambak dengan kelimpahan Cyanophyta tinggi (HC) menunjukkan kelimpahan sel yang jauh lebih tinggi (47.400 sel mL⁻¹) dan dominansi dibandingkan dengan kolam kelimpahan Cyanophyta rendah (LC) (18.250 sel mL⁻¹). Analisis regresi berganda mengonfirmasi oksigen terlarut sebagai satu-satunya prediktor signifikan bagi kelimpahan Cyanophyta, yang menjelaskan 51.9% varians, sementara nutrien dan total bahan organik bukan merupakan prediktor yang signifikan. Udang di tambak LC menunjukkan kinerja pertumbuhan yang lebih baik, dengan biomassa akhir lebih tinggi (6,110.33 kg), FCR lebih rendah (1.26), dan produktivitas lebih besar (17.65 ton ha⁻¹), yang mengindikasikan bahwa tingkat Cyanophyta yang lebih rendah dapat mendukung kondisi budidaya yang lebih stabil. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan dinamika fitoplankton dan ketersediaan oksigen terlarut untuk meningkatkan kualitas air dan produksi udang yang berkelanjutan.
DETEKSI PCR TERHADAP Myxobolus cerebralis PADA IKAN SALMON CHUM (Oncorhynchus keta) DAN IKAN KOMET (Carassius auratus) DI KARANTINA JAWA TIMUR Fitriyatus Sulchah; Ahmad Khusairy; Sumaryam Sumaryam
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.%p

Abstract

Myxobolus cerebralis merupakan patogen Myxozoa penyebab whirling disease pada ikan salmonid hasil budidaya dan liar, serta ditetapkan sebagai penyakit ikan wajib dilaporkan yang mengancam industri akuakultur global. Deteksi dini yang akurat sangat penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit ini ke sistem budidaya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi akurasi metode deteksi M. cerebralis secara makroskopis, mikroskopis, dan molekuler pada dua komoditas akuakultur yaitu fillet ikan salmon chum (Oncorhynchus keta) beku hasil impor dan jaringan kista dari ikan komet (Carassius auratus) hasil budidaya. DNA diekstraksi dari jaringan otot fillet ikan salmon chum dan jaringan kista ikan komet, masing-masing sebanyak 15 sampel, kemudian diamplifikasi menggunakan primer spesifik M. cerebralis (Tr 5-16m dan Tr 3-17). Hasil elektroforesis menunjukkan seluruh sampel (100%) negatif terhadap M. cerebralis. Fillet ikan salmon chum bebas dari lesi dan materi genetik target. Pada ikan komet, meskipun pemeriksaan mikroskopis mengonfirmasi keberadaan spora Myxobolus spp. (ukuran rata-rata 13,4 ± 0,9 µm × 9,6 ± 0,6 µm), namun hasil negatif pada analisis PCR mengindikasikan infeksi disebabkan oleh spesies Myxobolus non-cerebralis yang bersifat endemik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko introduksi M. cerebralis melalui produk fillet ikan salmon impor sangat rendah, dan kista pada ikan komet budidaya bukan disebabkan oleh patogen M. cerebralis. Hasil ini mendukung penerapan risk-based surveillance di pintu karantina dan menegaskan pentingnya deteksi dini patogen infeksi secara molekuler sebagai bagian integral dari sistem biosekuriti akuakultur nasional. Myxobolus cerebralis is a Myxozoan pathogen that causes whirling disease in both farmed and wild salmonids. The pathogen has been designated as a notifiable fish disease that poses a significant threat to the global aquaculture industry. Early detection with high accuracy is critical for preventing the introduction and transmission of this disease in aquaculture systems in Indonesia. This study aimed to verify the accuracy of detection methods for M. cerebralis using macroscopic, microscopic, and molecular approaches in two aquaculture commodities: imported frozen chum salmon (Oncorhynchus keta) fillets and cyst tissue from cultured goldfish (Carassius auratus). DNA was extracted from 15 muscle tissue samples of chum salmon fillets and cyst tissue of goldfish and then amplified using M. cerebralis-specific primers (Tr 5-16m and Tr 3-17). The results of electrophoresis showed that all samples (100%) were negative for M. cerebralis. The chum salmon fillets were free from lesions and target genetic materials. In goldfish, although microscopic examination confirmed the presence of Myxobolus spp. spores (average size 13.4 ± 0.9 µm × 9.6 ± 0.6 µm), the negative PCR results indicate that the infection was caused by other Myxobolus species, which are likely endemic. These findings indicate that the transmission risks of M. cerebralis through imported salmon fillet products are negligible and that cysts found in farmed goldfish are not caused by M. cerebralis. Nonetheless, this study highlights the importance of risk-based surveillance at quarantine entry points and early molecular detection of infectious pathogens as an integral part of the national aquaculture biosecurity system.
KEPADATAN SEL DAN KADAR BETA-KAROTEN MIKROALGA HALOFILIK Dunaliella salina HASIL KULTIVASI PADA SALINITAS BERBEDA DAN PENGERINGAN BEKU Aldy Nur Faqih; Eka Nurrahema Ning Asih; Makhfud Efendy; Mohamad Zaki Mahasin; Siska Aprilliyanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.53-67

Abstract

Dunaliella salina merupakan mikroalga halofilik uniseluler hijau yang tumbuh pada salinitas ekstrem. Pertumbuhan sel D. salina dan kandungan beta-karotennya sangat bergantung pada salinitas media. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh salinitas terhadap kepadatan sel dan kandungan beta-karoten D. salina. Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap dengan menggunakan empat tingkat salinitas, yaitu 15, 30, 45, dan 60 ppt. Hasil kultur D. salina dikeringkan dengan menggunakan metode freeze drying pada suhu beku -50°C dan diuji menggunakan metode spektrofotometri untuk mengetahui kandungan beta-karotennya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada kepadatan sel D. salina dengan perlakuan salinitas media kultur yang berbeda. Kepadatan sel D. salina tertinggi didapati pada salinitas 15 ppt (142,83 × 104 sel mL-1), sedangkan kepadatan sel terendah terdapat pada salinitas 60 ppt (103,16 × 104 sel mL-1). Variasi salinitas secara signifikan dapat memengaruhi kandungan beta-karoten D. salina (p < 0,05). Perlakuan salinitas ekstrem (60 ppt) mampu menghasilkan rata-rata kandungan beta-karoten sebesar 1,320 ± 0,01 µg g-1, sedangkan perlakuan salinitas terendah (15 ppt) menghasilkan rata-rata kandungan beta-karoten sebesar 0,074 ± 0,01 µg g-1. Pada kesimpulannya, temuan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa salinitas merupakan faktor kunci yang meregulasi pertumbuhan D. salina dan akumulasi beta-karotennya, dengan salinitas rendah (15 ppt) membantu dalam pertumbuhan sel dan salinitas tinggi (60 ppt) dapat meningkatkan produksi beta-karoten. Dunaliella salina is a green unicellular halophilic microalga that grows in extreme salinity. The cell growth of D. salina and its beta-carotene content are highly influenced on the salinity of the culture media. This study aimed to evaluate the effects of salinity on cell density and beta-carotene content of D. salina. This experiment was conducted using a completely randomized design with four salinity treatments: 15, 30, 45, and 60 ppt. The biomass of D. salina was dried using freeze drying method at -50°C and tested by spectrophotometry method to determine the beta-carotene content. The results demonstrated that salinity significantly affected the cell density of D. salina (p < 0.05). The highest cell density of D. salina was found at a salinity of 15 ppt (142.83 × 104 cells mL-1), while the lowest cell density was found at a salinity of 60 ppt (103.16 × 104 cells mL-1). Variations in salinity could significantly influence the beta-carotene content of D. salina (p < 0.05). The extreme salinity treatment (60 ppt) was able to produce an average beta-carotene content of 1.320 ± 0.01 µg g-1, while the lowest salinity treatment (15 ppt) produced an average beta-carotene content of 0.074 ± 0.01 µg g-1. In conclusion, these findings indicate that salinity is a key factor regulating the growth and beta-carotene accumulation of D. salina, with low salinity (15 ppt) favoring cell growth and high salinity (60 ppt) promoting beta-carotene production. 
EFFECTS OF LOW SALINITY ON IMMUNE RESPONSES AND SURVIVAL OF JUVENILE Litopenaeus vannamei Rahman Rahman; Desy Rahmatia Abdurakib Rabo; Widanarni Widanarni; Agum Pratama Fasya Abdullah; Md. Abul Kashem; Amalia Putri Firdausi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.21.1.2026.69-82

Abstract

Salinity is a key environmental factor affecting physiological performance and immune responses in shrimp aquaculture, particularly during adaptation to low-salinity culture systems. However, information on how reduced salinity influences both cellular and humoral immune responses in juvenile Litopenaeus vannamei remains limited, making it necessary to evaluate immune-related responses under different salinity conditions. This study evaluated the effects of different salinity levels on survival, hemocyte profiles, and selected cellular and humoral immune responses of juvenile L. vannamei. Shrimp (2.50 ± 0.28 g) obtained from a commercial hatchery were reared at salinities of 3.5, 7, 14, and 28 g L⁻¹ in triplicate for 14 days. Measured parameters included survival rate, total hemocyte count (THC), differential hemocyte count (DHC), phagocytic activity, phenoloxidase activity, and lysozyme activity. Salinity significantly affected survival and most immune-related parameters. Survival increased progressively with increasing salinity, reaching 86.67 ± 3.85% at 28 g L⁻¹ and declining to 48.89 ± 5.88% at 3.5 g L⁻¹. THC was highest at 14 g L⁻¹ (2.61 ± 0.12 × 10⁴ cells mm⁻³) and decreased markedly under reduced salinity conditions. Similarly, phagocytic and phenoloxidase activities were significantly reduced at lower salinities, whereas lysozyme activity was not significantly affected. Overall, suboptimal salinity conditions below 7 g L⁻¹ imposed physiological stress on L. vannamei juveniles, leading to impaired immune responses and reduced survival.Salinitas merupakan faktor lingkungan penting yang memengaruhi performa fisiologis dan respons imun dalam budidaya udang, khususnya selama adaptasi pada sistem budidaya bersalinitas rendah. Namun, informasi mengenai bagaimana penurunan salinitas memengaruhi respons imun seluler dan humoral pada juvenil Litopenaeus vannamei masih terbatas, sehingga diperlukan evaluasi terhadap respons imun pada kondisi salinitas yang berbeda. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh berbagai tingkat salinitas terhadap kelangsungan hidup, profil hemosit, serta respons imun seluler dan humoral terpilih pada juvenil L. vannamei. Udang dengan bobot 2,50 ± 0,28 g yang diperoleh dari hatchery komersial dipelihara pada salinitas 3,5; 7; 14; dan 28 g L⁻¹ dengan tiga ulangan selama 14 hari. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, total hemocyte count (THC), differential hemocyte count (DHC), aktivitas fagositik, aktivitas fenoloksidase, dan aktivitas lisozim. Salinitas berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan sebagian besar parameter imun. Kelangsungan hidup meningkat seiring meningkatnya salinitas, dengan nilai tertinggi pada 28 g L⁻¹ sebesar 86,67 ± 3,85% dan terendah pada 3,5 g L⁻¹ sebesar 48,89 ± 5,88%. Nilai THC tertinggi diperoleh pada salinitas 14 g L⁻¹ sebesar 2,61 ± 0,12 × 10⁴ sel mm⁻³ dan menurun pada salinitas rendah. Aktivitas fagositik dan fenoloksidase juga mengalami penurunan nyata pada salinitas rendah, sedangkan aktivitas lisozim tidak menunjukkan perbedaan nyata. Secara keseluruhan, kondisi salinitas suboptimal di bawah 7 g L⁻¹ menyebabkan stres fisiologis, menekan respons imun, dan menurunkan kelangsungan hidup udang uji.

Filter by Year

2006 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 1 (2026): Maret (2026) Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue