cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
ISOLASI DAN ANALISIS GEN HORMON PERTUMBUHAN LELE (Clarias gariepinus Burch.) Ibnu Dwi Buwono; Nono Carsono; Yuniar Mulyani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.473 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.3.2012.371-379

Abstract

Isolasi gen hormon pertumbuhan lele dumbo (C. gariepinus) dari hipofisa ikanmerupakan sumber DNA yang selanjutnya dapat digunakan sebagai cetakan untuk mengkopi gen tersebut menggunakan primer Amc-GH-F dan Amc-GH-R. Fragmen DNA lele dumbo hasil isolasi terdeteksi berdasar elektroforesis gel agarosa 1%. Amplifikasi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone / GH) lele dumbo menggunakan primer Amc-GH-F (5’-GCAGAAATGGCTCGAGGTAAGG-3’) dan Amc-GH-R (5’-CAGGGTGCAGTTGGAATCC-3’) dapat mengkopi sekuen gen GH lele dengan ukuran fragmen PCR sekitar 1.400 bp. Sementara amplikon gen GH American catfish (Rhamdia quelen) menggunakan primer Amc-GH-F dan Amc-GH-R sebesar 1.465 bp. Hasil analisis sekuensing gen penyandi GH menggunakan program BlastP dan Genetyx versi 7.0, menunjukkan bahwa sekuen gen penyandi GH lele dumbo memiliki homologi 80% dengan sekuen GH C. gariepinus pada bank gen (no. aksesi AF 416488.1), sehingga sebagian besar sekuen gen penyandi hormon pertumbuhan ikan tersebut dapat diamplifikasi secara in vitro.
KAJIAN LAPANG PENGGUNAAN BENIH NILA (O. niloticus) HASIL PEMULIAAN DI KERAMBA JARING APUNG JATILUHUR Estu Nugroho; Saepudin Saepudin; Mochamad Bajar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.709 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.43-49

Abstract

Penelitian penggunaan benih nila hasil pemuliaan dalam skala usaha telah dilakukan dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) petani yang ada di daerah Waduk Jatiluhur (Ir. H. Djuanda) Jawa Barat. Dua perlakuan yang digunakan yaitu: benih nila hasil pemuliaan dan benih lokal sebagai kontrol, masing-masing dengan empat ulangan yang dipelihara pada KJA dengan volume 1.800 m3. Parameter yang diamati meliputi sintasan, pertambahan bobot total harian, produksi saat panen dan nilai ekonomisnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa benih hasil pemuliaan mempunyai produktivitas lebih baik dibandingkan benih nila lokal. Nilai rata-rata yang dimiliki oleh benih nila unggul adalah 70,74% (sintasan); 7,22 kg/hari (pertambahan bobot total harian); 1.274,5 kg (total panen); dan Rp 7.305.000,- (laba/periode). Sementara benih nila lokal mempunyai nilai rata-rata 57,28% (sintasan); 3,45 kg/hari (pertambahan bobot total harian); 620,5 kg (total panen); dan Rp 1.583.310,- (laba/periode).
KULTUR JARINGAN RUMPUT LAUT (Gracillaria sp.) DARI SUMBER TALLUS YANG BERBEDA LOKASI Emma Suryati; Rosmiati Rosmiati; Andi Parenrengi; Andi Tenriulo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.028 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.143-147

Abstract

Dalam rangka perbaikan mutu benih Gracillaria sp., telah dilakukan beberapa upaya antara teknik kultur jaringan atau propagasi rumput laut secara in vitro yang bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan eksplan rumput laut yang berkualitas tinggi secara vegetatif. Media tumbuh yang digunakan dalam perbanyakan rumput laut Gracillaria sp. adalah media yang diperkaya dengan PES 1/20. Sumber benih yang digunakan berasal dari Jepara, Sinjai, Takalar, Barru, dan Palopo. Jumlah tunas dan panjang tunas yang paling baik di laboratorium antara lain yang berasal dari Jepara dan Sinjai. Hasil aklimatisasi di tambak memperlihatkan bahwa sumber benih yang berasal dari Jepara menghasilkan jumlah tunas yang paling baik sedangkan panjang tunas yang paling baik berasal dari Belopa. Sedangkan pada aklimatisasi di KJA memperlihatkan jumlah tunas yang paling baik berasal dari Palopo dan pertumbuhan panjang tunas yang paling baik adalah dari Takalar. Secara keseluruhan hasil aklimatisasi di lapangan memperlihatkan pertumbuhan benih rumput laut hasil kultur in vitro di laboratorium lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan rumput laut yang berasal dari alam tanpa melalui kultur in vitro.Several efforts to improve the quality of Gracillaria sp. seed were conducted i.e; trough in vitro tissue culture technique on propagation of seaweed to find out technique of multiplication of the vegetative high quality seaweed seed. The culture medium used for multiplication of seaweed seed is medium enriched with PES 1/20.  Seed source used were collected from Jepara, Sinjai, Takalar, Barru, and Palopo. The best amount and length of bud on the in vitro culture at laboratory are seed collected from Jepara and Sinjai. The result of acclimatization in pond showed that seeds collected from Jepara resulted the best amount bud, meanwhile seed collected from Belopa displayed the best length bud. On the other hand, the acclimatization in floating net cage exhibited that seed collected from Palopo showed the best amount bud and seed collected from Takalar showed the best growth of length bud. In general, the acclimatization result in field exhibited the growth of seaweed seed of in vitro culture at laboratory is better than that of nature without in vitro culture.
PERBEDAAN MUSIM TANAM TERHADAP PERFORMA BUDIDAYA EMPAT VARIAN RUMPUT LAUT EUCHEUMATOIDS DI TELUK GERUPUK, NUSA TENGGARA BARAT Erlania Erlania; I Nyoman Radiarta
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.496 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.331-342

Abstract

Musim tanam rumput laut di perairan Teluk Gerupuk dikelompokkan menjadi musim produktif dan non-produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan performa budidaya dari empat varian rumput laut: Kappaphycus alvarezii varian Tambalang dan Maumere, Eucheuma denticulatum, dan K. striatum yang dibudidayakan di perairan Teluk Gerupuk dengan metode long line pada musim tanam yang berbeda. Pengamatan terhadap parameter performa budidaya meliputi laju pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, dan produksi rumput laut, yang dilakukan setiap 15 hari sekali selama masa budidaya yaitu 45 hari per siklus. Pengamatan dilakukan selama tiga siklus tanam dari bulan Juli-Desember. Analisis ragam (ANOVA) dengan rancangan acak lengkap faktorial dan uji lanjut Tukey Test dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan varian rumput laut dan periode musim tanam terhadap parameter yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim tanam (produktif dan non-produktif) merupakan salah satu aspek penting yang berpengaruh nyata terhadap performa budidaya rumput laut (P<0,05). Dari keempat varian yang dibudidayakan, E. denticulatum merupakan varian yang memiliki performa terbaik yang berbeda nyata dengan ketiga varian lainnya (P<0,05), baik pada musim produktif maupun musim non-produktif. Pemilihan varian rumput laut yang tepat dengan tingkat pertumbuhan dan daya adaptasi yang lebih baik terhadap perbedaan kondisi lingkungan merupakan salah satu kunci keberhasilan dan keberlanjutan budidaya rumput laut.
KLONING PROMOTER b-AKTIN DARI IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) Estu Nugroho; Alimuddin Alimuddin; Anang Hari Kristanto; Odang Carman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.573 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.23-31

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi promoter b-aktin (ggBA) dari ikan gurami (Osphronemus gouramy). Sekuens promoter ggBA diisolasi menggunakan metode “degenerate” PCR. Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100-Avant. Analisis sekuens menggunakan program BLAST, GENETYX versi 7 dan TFBind. Panjang sekuens DNA hasil kloning adalah sekitar 2,2 kb. Analisis BLAST menunjukkan bahwa sekuens DNA hasil kloning memiliki kemiripan dengan sekuens gen b-aktin ikan yang ada di Bank Gen. Sekuens hasil kloning memiliki faktor transkripsi yang konserf untuk promoter b-aktin, yaitu: CCAAT, CC(A/T)6GG, dan boks TATA. Posisi faktor transkripsi tersebut juga mirip dengan yang dimiliki oleh promoter b-aktin dari ikan yang ada di Bank Gen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter b-aktin ikan gurami.The research was aimed to isolate b-actin promoter of gouramy (ggBA). Sequence of ggBA promoter was isolated using “degenerate” PCR. Sequencing was conducted using ABI PRISM 3100-Avant machine. The sequencing analysis was done using BLAST, GENETYX ver 7 and TFBind programs. The sequencing length of DNA clone result was around 2.2 kb. BLAST analysis showed that sequences from cloned DNA had the resemblence to those of b-actin sequences in GenBank database. The cloned sequences had transcript factors which followed b-actin promoter namely CCAAT, CC(A/T)6GG and TATA box.
PEMBENTUKAN INDUK NEOFEMALE UDANG GALAH GIMacro MELALUI ANDREKTOMI Bambang Iswanto; Ikhsan Khasani; Imron Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.245 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.165-173

Abstract

Udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki sifat seksual dimorfisme pada karakter pertumbuhan. Udang galah jantan dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan udang galah betina, sehingga mendorong pengupayaan budidaya udang galah secara monoseks jantan. Benih monoseks jantan dapat diperoleh dengan mengawinkan neofemale, yang dihasilkan melalui proses feminisasi udang galah jantan, dengan jantan normal. Andrektomi merupakan salah satu teknik feminisasi yang dapat dilakukan pada udang galah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas andrektomi terhadap proses feminisasi pada udang galah GIMacro. Proses andrektomi dilakukan terhadap yuwana jantan udang galah GIMacro umur 70—97 hari, dengan ukuran panjang total 3,2—7,6 cm; panjang standar 1,8—4,5 cm; dan bobot 0,29—3,63 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa andrektomi menyebabkan kematian yang cukup tinggi, yaitu: 26,83%—37,70% setelah 24 jam dan 35,37%—81,89% setelah 5 hari. Setelah 3 bulan pembesaran, sintasan berkisar 9,45%—57,32%; dengan komposisi 8,51%—91,67% tetap sebagai jantan; 8,33%—40,43% mengalami feminisasi, dan 60,00%—77,27% tampak sebagai jantan dengan berbagai abnormalitas. Udang galah betina hasil andrektomi menunjukkan tanda-tanda mengalami perkembangan gonad, kantung pengeraman, dan dapat memijah dengan sedikit massa telur. Hasil yang diperoleh memberikan harapan bagi pembentukan betina neofemale melalui andrektomi pada yuwana udang galah umur 75—80 hari.Males of giant freshwater prawn (Macrobrachium rosenbergii) grow faster than females. All male seeds can be produced through the mating of neofemale, which can be resulted from the feminization of male freshwater prawn, with normal male. Andrectomy is a method to feminize the male freshwater prawn. This study was aimed to investigate the effectiveness of andrectomy on the feminization of giant freshwater prawn, using GIMacro strains as experimental animals. The androgenic glands of male juveniles at 70—97 days old, with 3.2—7.6 cm total length, 1.8—4.5 cm standard length, and 0.29—3.63 g body weight were removed micro surgically (andrectomy). The andrectomized juveniles were then reared for three months to allow the development of their reproductive characteristics. The results showed that andrectomy caused high mortality, about 26.83%—37.70% after 24 hours, and about 35.37%—81.89% after 5 days. At the end of rearing period, survival rate of adult prawn ranged from 9.45%—57.32%, with the proportion of normal male, female (feminized) and abnormal male were 8.51%—91.67%, 8.33%—40.43%, and 60.00%—77.27%, respectively. Despite of the high mortality rate, the successfully feminized individuals showed the development of reproductive characteristics including gonadal and egg chamber developments and egg production. The results suggest that andrectomy, particularly which was applied to the juveniles of 70—97 days old, has been a quite effective technique to produce neofemale on the GIMacro strain of freshwater prawn.
HIBRIDISASI INTRASPESIFIK ANTAR DUA POPULASI IKAN GURAMI GALUNGGUNG (Osphronemus goramy, Lacepede, 1801) Otong Zenal Arifin; Imron Imron; Asependi Asependi; Ade Hendri; Nandang Muslim; Akhmad Yani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.198 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.315-323

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus goramy) populasi Galunggung Hitam (GH) dan Galunggung Putih (GP) telah dibudidayakan secara luas di wilayah Priangan. Dalam upaya mendapatkan strain unggul ikan gurami untuk budidaya, hibridisasi intraspesifik, yaitu persilangan antar strain berbeda dalam spesies yang sama, merupakan pendekatan sederhana yang menarik untuk dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaan hasil pemijahan dua populasi ikan gurami. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengembangan Budidaya Ikan Gurami dan Nilem, Singaparna. Empat populasi ikan diperoleh dari hasil pemijahan dua arah antara ikan gurami yang berwarna putih dan berwarna hitam. Hasil yang diperoleh menunjukkan, hibridisasi antara induk betina gurami Galunggung Hitam dengan induk jantan Galunggung Putih (GH><GP), menghasilkan rerata panjang standar akhir 17,76 ± 1,129 cm; laju pertumbuhan mutlak 10,98 ± 1,240 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,32 ± 0,017% per hari. Pada karakter lebar akhir, ikan gurami hibrida memiliki nilai 8,98 ± 0,485 cm; pertumbuhan mutlak lebar 5,68 ± 1,014 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,33 ± 0,030% per hari. Bobot akhir ikan gurami hibrida sebesar 301,9 ± 6,63 g; laju pertumbuhan mutlak 295,6 ± 17,42 g; laju pertumbuhan spesifik 1,29 ± 0,017% per hari; dan sintasan sebesar 77,6 ± 5,26%; serta produktivitas sebesar 8,8 ± 0,70 kg/m2. Nilai heterosis ikan gurami hibrida (GH><GP) untuk seluruh karakter adalah positif. Nilai heterosis karakter bobot akhir adalah 14,1%; pertumbuhan mutlak 14,6%; laju pertumbuhan spesifik 5,38%; sintasan 31,75%; dan produktivitas sebesar 51,72%.The black Galunggung and white Galunggung strains of the giant gourami (Osphronemus goramy) have been widely cultured in Priangan areas, Indonesia. Intraspecific hybridization, a crossing between different strains of the same species, is a simple and commonly used approach to produce a superior strain for aquaculture purposes. This study was aimed to obtain information on the performance of gourami spawned from two different populations. The experiment was conducted at the Aquaculture Development Center of Giant Gourami and Nilem Carp, Singaparna. Four populations of giant gourami were obtained from spawning between white and black giant gourami. The results obtained showed that the hybrid resulted from the female of Black Galunggung and male of White Galunggung (GH><GP) produced the final average standard length of 17.76 ± 1.129 cm, standard length gain of 10.98 ± 1.240 cm, and specific growth rate in standard length of 0.32 ± 0.017% per day. On height character, the hybrid gourami had the final height of 8.98 ± 0.485 cm, a height gain of 5.68 ± 1.014 cm, and specific growth rate in height of 0.33 ± 0.030% per day. The final weight of the hybrid gourami of 301.9 ± 6.63 g, weight gain of 295.6 ± 17.42 g, the specific growth rate in weight of 1.29 ± 0.017% per day, and survival rate of 77.6 ± 5.26%, as well as the productivity of 8.8 ± 0.70 kg/m2. Heterosis value of the hybrid gourami (GH><GP) for the whole character was positive, with the heterosis value on the final weight of 14.1%, growth of 14.6%, the specific growth rate of 5.38%, the survival rate of 31.75%, and productivity of 51.72%.
KEMAMPUAN BAKTERI PROBIOTIK YANG DIISOLASI DARI MAKROALGA TERHADAP KUALITAS AIR DAN SINTASAN UDANG WINDU SKALA LABORATORIUM Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Nurhidayah Nurhidayah; Endang Susianingsih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.109 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.1.2012.101-110

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri yang diisolasi dari makroalga terhadap perbaikan kualitas air dan sintasan udang windu skala laboratorium. Penelitian ini dilakukan di laboratorium basah, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros, mulai bulan Juli hingga September 2010 menggunakan 15 buah akuarium berukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang dilapisi dengan tanah tambak setebal 10 cm dan diisi air laut salinitas 28 ppt sebanyak 15 L. Hewan uji yang digunakan berupa benur windu PL-25 sebanyak 30 ekor/akuarium. Penelitian dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: A= Isolat BM12 (diisolasi dari makroalga), B= Isolat BM31(diisolasi dari makroalga), C= Isolat BM58 (diisolasi dari makroalga), D= BL542 (diisolasi dari sedimen laut), dan E= kontrol (tanpa probiotik). Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Penelitian dilakukan selama 2 bulan. Pengamatan parameter kualitas air meliputi; BOT, NH3-N, NO2-N, NO3-N, total bakteri, serta total Vibrio sp. dalam air dan sedimen dilakukan satu kali setiap 2 minggu. Sintasan udang windu diamati pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOT dan NH3-N pada akhir penelitian tertinggi pada perlakuan B yaitu masing-masing 31,08 mg/L dan 0,0772 mg/L, sementara total Vibrio sp. pada perlakuan tersebut relatif lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Sintasan udang windu tertinggi pada perlakuan A (BM12= bakteri probiotik yang diisolasi dari makroalga) yaitu 55,55% dan terendah pada perlakuan D (BL542= bakteri probiotik yang diisolasi dari sedimen laut) yaitu 25%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa sintasan udang windu pada perlakuan yang menggunakan isolat BM12 berbeda nyata (P<0,05) dengan sintasan udang windu pada perlakuan yang menggunakan BL542.
ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL KOMUNITAS FITOPLANKTON SEKITAR BUDIDAYA LAUT TERINTEGRASI DI TELUK EKAS, NUSA TENGGARA BARAT I Nyoman Radiarta; Erlania Erlania; Ketut Sugama Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.727 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.283-291

Abstract

Fitoplankton merupakan trofik level paling rendah yang dapat digunakan sebagai indikasi kesuburan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial dan temporal komunitas fitoplankton sekitar budidaya terintegrasi (IMTA) di Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat. Pengamatan lapangan dilakukan selama enam bulan mulai Juni-November 2014. Sebanyak sembilan stasiun pengamatan yang dirancang melingkar dengan jarak 60 m dan 150 m dari titik pusat IMTA (KJA ikan). Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif, indeks ekologi, dan statistik multivariat. Hasil identifikasi jenis dan kelimpahan fitoplankton menunjukkan bahwa jenis Nitzschia sp., Girosygma sp., dan Coscinodiscus sp.; dari kelas Bacillariophyceae merupakan jenis yang dominan ditemukan. Analisis indeks ekologi memberikan gambaran bahwa fitoplankton di kawasan budidaya terintegrasi memiliki indeks keanekaragaman yang rendah, indeks dominansi tergolong kategori rendah-sedang, dan indeks keseragaman yang tinggi. Kelimpahan fitoplanktonsecara spasial dan temporal menunjukkan bahwa kelimpahan yang tinggi ditemukan pada bulan Agustus-Oktober, dan secara umum tersebar pada kawasan IMTA dengan jarak 7 60 m dari KJA ikan. Karena berhubungan dengan kesuburan perairan maka kawasan ini dalam implementasinya dapat digunakan sebagai kawasan budidaya rumput laut atau kekerangan.
PENGARUH BERBAGAI RASIO ENERGI PROTEIN PADA PAKAN ISO PROTEIN 30% TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) Mas Bayu Syamsunarno; Ing Mokoginta; Dedi Jusadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.58 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.63-70

Abstract

Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan rasio energi protein optimum yang menghasilkan pertumbuhan maksimum benih ikan patin (Pangasius hypophthalmus). Percobaan menggunakan 5 (lima) pakan iso protein dengan rasio energi protein berbeda, yaitu: 8,5; 9,0; 9,5; 10,0; dan 10,5 kkal DE/g protein. Benih patin berukuran 1,84±0,02 g ditebar secara acak ke dalam 15 akuarium (50 cm x 40 cm x 35 cm) dengan kepadatan 20 ekor per akuarium. Benih ikan patin tersebut diberi pakan uji dua kali sehari sekenyangnya (satiation) selama 40 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kandungan protein tubuh tertinggi dihasilkan oleh pakan dengan rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein, sedangkan lemak tubuh terendah dicapai oleh perlakuan 8,5 kkal DE/g protein. Namun, protein karkas adalah sama untuk perlakuan 8,5–9,5 kkal DE/g protein dan kandungan lemak karkas terendah dicapai oleh 8,5 kkal DE/g protein. Konsumsi pakan, retensi protein, dan pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh pakan dengan rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein (P<0,05) dan konversi pakan tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05). Oleh karena itu, kandungan optimum rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein memberikan pertumbuhan tertinggi pada benih ikan patin

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue