cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
BIOAKUMULASI KADMIUM DAN MERKURI PADA KERANG HIJAU, SERTA ANALISIS MULTI MEDIUM RISIKO KESEHATAN DI KAWASAN PEMUKIMAN PESISIR Anna Rejeki Simbolon
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.119-126

Abstract

Kadmium dan merkuri merupakan logam berat yang bersifat toksik dan umumnya terdapat dalam limbah antropogenik yang masuk keperairan dan terakumulasi dalam air, sedimen, dan biota dasar. Kerang hijau (Perna viridis) merupakan jenis kerang yang menjadi salah satu bahan pangan bagi masyarakat. Kandungan kadmium dan merkuri dalam air dan sedimen akan terakumulasi pada kerang hijau dan menjadi sumber media paparan bagi manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bioakumulasi logam kadmium dan merkuri di kerang hijau dan risiko kesehatan bagi masyarakat di kawasan pemukiman pesisir. Penelitian dilakukan dengan metode survei di tiga titik lokasi pengambilan sampel di kawasan pemukiman pesisir DKI Jakarta. Nilai bioakumulasi dihitung degan menggunakan rasio dari kadar logam di kerang hijau dan sedimen. Analisis multi medium risiko menggunakan analisis risiko yang dikembangkan oleh United States Environmental Protection Agency (US EPA). Total tingkat risiko nonkarsinogenik dinyatakan dalam hazard index (HI), dan risiko karsinogenik dinyatakan dalam cancer risk (CR). Hasil penelitian ini menunjukkan nilai bioakumulasi logam kadmium dan merkuri yang tidak berbeda secara signifikan, dan konsentrasi logam kadmium di kerang hijau berkorelasi positif dan berbeda nyata dengan konsentrasi logam kadmium disedimen; hal ini menunjukkan kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi logam kadmium. Selain itu, analisis risiko kesehatan menunjukan nilai HI>1 dan CR>10-4. Penelitian ini menyimpulkan adanya bio-akumulasi logam kadmium dan merkuri pada kerang hijau dan adanya risiko kesehatan terhadap masyarakat di kawasan pemukiman baik efek karsinogenik maupun nonkarsinogenik dengan media jalur paparan yang paling dominan ialah bahan pangan (diet) kerang.Cadmium and mercury are toxic heavy metals, generally found in anthropogenic wastes, and accumulated in water, sediments, and benthic biota. Green mussels (Perna viridis) as one of the benthic biota is a popular delicacy not only in the Indonesian coastal community but also in the Southeast Asian countries. However, the green mussel is also well known as a bioaccumulator for heavy metals, including cadmium and mercury, and thus poses a great risk to human health. The purpose of this study was to determine the bioaccumulation level of metal cadmium and mercury in green mussels and their health risks to people in coastal residential areas. The study was carried out by a survey method in three sampling locations in coastal settlement area DKI Jakarta. The bioaccumulation value was calculated using the ratio of the metal content in green mussels and sediments. Risk analysis used the approach of Multi-medium Risk Analysis suggested by the United States Environmental Protection Agency (US EPA). The total level of non-carcinogenic risk was expressed in the hazard index (HI), and the carcinogenic risk was expressed in cancer risk (CR). The results of this study showed that the bioaccumulation of cadmium and mercury in green mussels did not differ significantly which cadmium concentration in green shells is positively correlated and significantly different from sediment; this shows the ability of green mussels to accumulate cadmium . Meanwhile, the health risk analysis shows HI> 1 and CR> 10-4. This study concludes that cadmium and mercury metals are present in green mussels. This study also concludes that the two heavy metals pose health risks (carcinogenic and non-carcinogenic) to the residents of the nearby coastal areas through shellfish as the most dominant pathway.
PENGARUH PENAMBAHAN ASAM HUMAT PADA PAKAN MENGANDUNG KADMIUM (Cd) DARI KERANG HIJAU TERHADAP BIOELIMINASI Cd, STATUS KESEHATAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer Rasidi Rasidi; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Munti Yuhana; Muhammad Zairin Jr.; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.31-40

Abstract

Asam humat (AH) terdiri atas AH alami (AHA) dan sintetik (AHS), namun efektivitasnya sebagai feed additive pada pakan ikan kakap putih belum dikaji. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penambahan AH pada pakan yang mengandung kadmium (Cd) dari kerang hijau Perna viridis terhadap status kesehatan dan pertumbuhan ikan kakap putih, Lates calcarifer. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas lima pakan uji mengandung AH yang berbeda, yaitu 0; 1.600; 10.000; dan 20.000 mg.kg-1 (AHA) dan sebagai pembanding menggunakan AHS sebesar 1.600 mg.kg-1 pakan. Benih ikan kakap putih (4,18 ± 0,25 g) dipelihara dalam akuarium ukuran 80 cm x 35 cm x 28 cm yang diisi air laut dengan sistem resirkulasi selama 70 hari. Ikan diberi pakan uji sesuai perlakuan tiga kali sehari sampai kenyang. Hasil penelitian menunjukkan penambahan AH baik jenis AHA maupun AHS pada pakan dapat menurunkan akumulasi Cd dalam daging, ginjal, dan hati; kedua jenis AH tersebut mampu mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Pada dosis 1.600 mg.kg-1 kedua jenis AH tersebut mampu meningkatkan performa pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan, namun pada dosis AHA > 1.600 mg.kg-1 pertumbuhannya relatif menurun. Pola respons pertumbuhan ikan bersesuaian dengan parameter hematologi, enzim pencernaan, dan status antioksidan di hati ikan. Kesimpulan penelitian ini, penambahan asam humat pada dosis yang sama (1.600 mg.kg-1) pada pakan, AHS lebih efisien dibandingkan AHA dalam hal meningkatkan pertumbuhan. Penambahan AH dari jenis asam humat alami dan sintetik dalam pakan uji dapat meningkatkan status kesehatan dan mengeliminasi Cd di dalam daging ikan. Penambahan AHA pada dosis tinggi pada pakan memberikan respons negatif terhadap status kesehatan, kelangsungan hidup, dan kinerja pertumbuhan ikan kakap putih.Humic acids (HAs) are available in natural and synthetic forms. HA has potential applications in aquaculture, yet its effectiveness as a feed additive in Asian seabass, Lates calcarifer has not well studied. The purpose of this study was to asses the effectiveness of the addition of natural and synthetic humic acids to reduce cadmium (Cd) concentration in green mussels Perna viridis used for Asian seabass feed and evaluate the fish health status and growth performance. The experiment was designed using a completely randomized design (CRD) with five treatments and three replications. Five test feeds containing different levels of humic acid, i.e., 0; 1,600; 10,000; and 20,000 mg natural humic acid kg-1 feed. As a comparison, a test feed was added with 1,600 mg synthetic humic acid kg-1 feed. Asian seabass juveniles (4.18 ± 0.25 g) were cultivated in seawater aquarium equipped with a recirculation system for 70 days. Fifteen aquaria of 80 cm x 35 cm x 28 cm were used as the culture tanks. The fish were fed with the experimental diet three times every day at the satiation level. The results showed that the addition of both HAs (natural, AHA and synthetic, AHS) in feed could reduce Cd level in the fish meat, kidneys, and liver. At a dose of 1,600 mg.kg-1, both HAs were able to improve the growth performance and survival of fish. However, at doses > 1,600 mg.kg-1, fish growth was relatively suppressed. Fish growth response patterns were concomitant with the hematological parameters, digestive enzymes, and antioxidant status in fish liver. This study concludes that the addition of AHS at 1,600 mg.kg-1 feed is more efficient in terms of increasing growth compared with the same AHA level. The addition of HA, either natural and synthetic humic acid in the feed, can improve the health status of Asian seabass and eliminate Cd in the fish meat. The addition of AHA at higher doses (> 1,600 mg.kg-1 feed) might cause a negative response to health status, survival, and growth performance of Asian seabass. 
PERFORMANSI PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI UDANG WINDU, Penaeus monodon YANG DIBERI PAKAN DENGAN PENAMBAHAN VITAMIN C DAN E Usman Usman; Kamaruddin Kamaruddin; Asda Laining; Samuel Lante; Bunga Rante Tampangallo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.233-242

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan vitamin C dan E dalam pakan terhadap performansi pertumbuhan dan reproduksi udang windu fase prematurasi. Dua pakan uji dengan perlakuan: penambahan vitamin C (mengandung ascorbic acid 406,1 mg/kg) dan vitamin E (mengandung 286,3 mg/kg) (PS), dan tanpa penambahan vitamin C dan E (PK). Hewan uji yang digunakan adalah udang windu fase prematurasi hasil budidaya berbobot awal 43,1±5,1 g untuk betina dan 41,9±4,4 g untuk jantan, dipelihara dalam 2 petak tambak beton berukuran 1000 m2 dengan kepadatan awal 100 ekor/tambak dan rasio udang jantan : betina adalah 4 : 6. Udang tersebut diberi pakan uji sebanyak 3% dari biomassa per hari selama 3 bulan di tambak. Selanjutnya udang dipindahkan ke bak pematangan gonad untuk mengevaluasi kinerja reproduksinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa,laju pertumbuhan spesifik, total hemosit, jumlah sel sperma, gonada somatic indeks, dan hepatosomatic indeks cenderung lebih tinggi pada udang yang diberi pakan uji PS dibandingkan yang diberi pakan PK. Udang yang diberi pakan uji PS juga memiliki fekunditas, diameter telur, daya tetas telur, dan produksi nauplii yang cenderung lebih tinggi, meskipun secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05) di antara kedua perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan penambahan vitamin C dan E dalam pakan cenderung meningkatkan performansi pertumbuhan dan reproduksi udang windu. This experiment was aimed to evaluate the effects of feed supplemented with vitamin C and E on the growth and reproductive performances of prematurated tiger shrimp. Two test diets were formulated as the treatments: diet with the addition of vitamin C (contain ascorbic acid of 406.1 mg/kg diet) and vitamin E (contain 286.3 mg/kg diet) (PS), and a diet without the addition of vitamin C and E (PK). The test shrimp were prematurated tiger shrimp with an average initial weight of 43.1 ± 5.1 g/ind. for females and 41.9 ± 4.4 g/ind. for males. The tiger shrimp were cultured in two of 1,000 m2 concrete ponds with a density of 100 ind./pond, and the ratio of male : female was 4 : 6. The shrimp were fed with the experimental diets at a rate of 3% of body weight/day for three months. The shrimp were then transferred to concrete tanks for reproductive evaluation. The results showed that the specific growth rates, total hemocytes, number of sperm cells, gonado-somatic index, and hepatosomatic index tended to be higher in the shrimp fed with the PS test diet compared to the shrimp fed with the PK test diet. The shrimp fed with the PS test diet had higher egg fecundity, egg diameter, hatching rate, and nauplii production compared to the shrimp fed with the PK test diet. However, the study found no significant difference (P>0.05) between the two treatments. The addition of vitamins C and E in the diet could improve the growth and reproductive performance of tiger shrimp.
PERFORMA BIBIT RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa HASIL KULTUR JARINGAN DENGAN BUDIDAYA METODE SEBAR (BROADCAST) DI TAMBAK KABUPATEN SINJAI Rosmiati Rosmiati; Harlina Harlina; Emma Suryati; Rohama Daud; Herlinah Herlinah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.265 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.145-152

Abstract

Rumput laut Gracilaria verrucosa asal Kabupaten Sinjai memiliki kualitas paling rendah di antara semua sentra produksi Gracilaria sp. di Sulawesi Selatan. Hal ini salah satunya dikarenakan oleh bibit yang buruk. Penyediaan benih rumput laut yang berkualitas dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bibit hasil kultur jaringan. Perbanyakan bibit Gracilaria verucosa dapat dilakukan dengan menggunakan metode tali panjang long line maupun metode sebar (broadcast) di tambak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respons pertumbuhan, kandungan agar, dan kekuatan gel (gel strength) dari bibit G. verucosa hasil kultur jaringan di tambak Kabupaten Sinjai. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan dua perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan A (bibit kultur jaringan) dan B (bibit lokal) dengan berat awal masing-masing 10 kg. Pemeliharaan bibit dengan metode sebar dilakukan selama 30 hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian (DGR), kandungan agar dan gel strength bibit kultur jaringan dan bibit lokal menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Secara kuantitas hasil produksi bibit hasil kultur jaringan memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi daripada bibit lokal dengan berat akhir bibit 44,3 ± 4,16 kg hasil kultur jaringan dan 33,0 ± 4,35 kg lokal dengan DGR 4,97% bobot/hari (kultur jaringan) dan 3,90% bobot/hari (lokal). Secara kualitas bibit hasil kultur jaringan lebih baik dari bibit lokal, ditunjukkan dengan persentase kandungan agar bibit hasil kultur jaringan lebih tinggi daripada bibit lokal dengan rendemen agar 22,19 ± 2,45% (kultur jaringan) dan 16,50 ± 0,96% (lokal), sementara gel strength sebesar 204,20 ± 0,45 g/cm2 (hasil kultur jaringan) dan 128,10 ± 1,55 g/cm2 (bibit lokal).Seaweed Gracilaria verrucosa from Sinjai Regency has the lowest quality among all Gracilaria sp. Production centers in South Sulawesi due to the low quality of the seed. The seed quality can be improved using seed selection, followed by tissue-culture methods. Long-line and broadcast methods in brackishwater ponds are the efficient seaweed culture techniques to multiply the number of Gracilaria verrucosa seeds. This research was aimed to determine growth performance, gel content, and gel strength of seeds produced from tissue-culture and local seaweed farming. The experiment consisted of two treatments: treatment A (cells culture seed) and B (local seed) with the initial weight of 10 kg, each has three replicates. Both seeds were stocked and reared in the ponds using the broadcast method for 30 days. The results of DGR, gel content and gel strength showed a significant difference between tissue-cultured and local seeds (P<0.05). The tissue-cultured seed had better growth than the local seed with 4.97% mass/day for tissue-cultured seed and 3.90 mass/day for local seed. The tissue-culture seed also had better quality in agar content and gel strength. The agar content of tissue-cultured was 22.19 ± 2.45% and the local was 16.50 ± 0.96%. The gel strength of tissue-culture was 204.20 ± 0.45 g/cm2, and the local was 128.10 ± 1.55 g/cm2.
DUPLEX POLYMERASE CHAIN REACTION UNTUK DETEKSI SIMULTAN KOI HERPESVIRUS DAN Aeromonas hydrophila PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Hessy Novita; Desy Sugiani; Taukhid Taukhid; Tuti Sumiati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.59-67

Abstract

Koi herpesvirus (KHV) dan Aeromonas hydrophila adalah patogen yang dapat mengkoinfeksi ikan mas secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode duplex polymerase chain reaction (dPCR), deteksi simultan untuk diagnosis KHV dan bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan mas. Dua pasang primer yang menargetkan sekuen spesifik SphI dan gen aerolisin, yang sering digunakan untuk mendeteksi KHV dan A. hydrophila dalam uji reaksi tunggal PCR dan menghasilkan target pita PCR 290 bp dan 417 bp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode duplex PCR dapat mendeteksi ganda infeksi KHV dan A. hydrophila pada ikan mas dan metode ini lebih efektif mendeteksi dua patogen secara bersamaan dalam satu reaksi PCR pada suhu pradenaturasi, 94°C selama dua menit, denaturasi pada suhu 95°C selama satu menit, annealing pada suhu, 55°C selama satu menit, dan 72°C selama satu menit, dengan 30 siklus amplifikasi dan final extention pada suhu 72°C selama lima menit. Metode dPCR untuk deteksi simultan kedua patogen adalah salah satu metode yang dapat diaplikasikan untuk deteksi koinfeksi virus dan bakteri dalam satu reaksi PCR.Koi herpesvirus (KHV) and Aeromonas hydrophila are pathogens that can co-infect common carp. This study aimed to develop a duplex polymerase chain reaction (dPCR) method to detect KHV and Aeromonas hydrophila in common carp simultaneously. Two pairs of primers targeted the specific sequences of SphI and aerolysin genes, often used in detecting KHV and A. hydrophila, in a single PCR reaction test and produced target bands of PCR 290 bp and 417 bp. This proposed method was more effective in simultaneously detecting the two pathogens in one PCR reaction at pre-naturation temperature of 94°C for two minutes, denaturation at 95°C for one minute, annealing at temperature, 55°C for one minute, and 72°C for one minute, with 30 cycles of amplification and final extension at 72°C for five minutes. The findings showed that the duplex PCR method could be used to double detect KHV and A. hydrophila infection in common carp. The duplex PCR method for simultaneous detection of both pathogens is one method that can be applied for the detection of co-infection of viruses and bacteria in a PCR reaction.
PENGARUH PENGGANTIAN TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG LARVA Hermetia illucens dan Azolla sp. TERHADAP KUALITAS PAKAN IKAN TERAPUNG Arif Rahman Hakim; Koko Kurniawan; Zaenal Arifin Siregar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.283 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.77-85

Abstract

Saat ini harga tepung ikan yang merupakan sumber protein utama terus mengalami kenaikan sehingga dibutuhkan sumber protein lainnya yang bisa mengganti peran tepung ikan dalam pakan ikan terapung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengganti tepung ikan terhadap kualitas fisik pakan. Bahan yang digunakan ialah tepung larva Hermetia illucens dan tepung Azolla sp. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan formula pakan yang berbeda yaitu perbandingan tepung ikan dengan tepung larva H. illucens atau Azolla sp. berturut-turut 100%:0%; 75%:25%; 50%:50%; dan 25%:75%. Parameter yang diamati meliputi kadar protein, rasio pengembangan, unit density, daya apung, dan kekerasan pakan. Hasil penelitian menunjukkan penggantian tepung ikan dengan tepung larva dalam formula menghasilkan kadar protein yang tidak berbeda nyata, berkurangnya rasio pengembangan, meningkatnya unit density, turunnya daya apung, dan meningkatkan kekerasan pakan. Sedangkan penggantian dengan tepung Azolla sp. memberikan efek terhadap turunnya kadar protein, turunnya rasio pengembangan dan kekerasan pakan namun tidak berpengaruh terhadap unit density dan daya apung pakan. Berdasarkan hasil ini tepung Azolla memiliki potensi sebagai pengganti sebagian tepung ikan dalam pembuatan pakan ikan terapung.Fish meal prices continue to increase, which has led to research efforts of finding other protein sources to replace fish meal in floating fish feed. The purpose of this study was to determine the effects of alternative fish meal replacements on the physical quality of feed. Alternative replacement ingredients were Hermetia illucens larval meal and Azolla meal. The research method used a completely randomized design (CRD) consisted of different ratios of fish meal with H. illucens larval meal and Azolla meal combination of 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, and 25%:75%, respectively. The parameters observed included protein content, expansion ratio, unit density, floatability, and hardness of feed. The study found that the larval meal produced similar protein content, reduced expansion ratios, increased unit density, decreased floatability and increased hardness of feed. The replacement of fish meal with Azolla meal had decreased the protein content, expansion ratio, and hardness of the feed. However, the substitution did not affect the unit density and floatability of feed. Based on this result Azolla meal has potential as replacement of fish meal partially in producing floating fish meal.
EFEKTIVITAS SALINITAS AIR DALAM MENINGKATKAN SINTASAN BELUT MONOPTERUS ALBUS DAN PENGARUHNYA TERHADAP PROFITABILITAS PENJUALAN BELUT HIDUP Iis Diatin; Yani Hadiroseyani; Danfi Astuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.163-171

Abstract

Belut (Monopterus albus) merupakan ikan air tawar konsumsi hasil tangkapan dari perairan umum yang dijual dalam keadaan hidup dengan harga tinggi dan permintaan yang terus meningkat. Aktivitas penangkapan, transportasi, dan penampungan menimbulkan kematian yang cukup banyak sehingga mengurangi stok dan nilai penerimaan penjualan belut. Penanganan belut pasca-penangkapan dalam air salin dapat menekan tingkat kematian belut, namun dampaknya terhadap keuntungan bisnis belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penampungan dalam air salin terhadap sintasan dan keuntungan usaha penjualan belut hidup. Penelitian dilakukan pada pedagang besar belut hidup di Jawa Tengah yang memperoleh pasokan belut dari berbagai lokasi di Jawa. Belut uji yang diperoleh dari tiga lokasi yaitu Ciamis, Jawa Barat; Cilacap, Jawa Tengah; dan Lumajang, Jawa Timur; masing-masing ditampung terpisah dan dipelihara selama enam hari dalam air tawar (salinitas 0 g/L) dan air tawar yang ditambah garam krosok pada konsentrasi 6 g/L. Hasil menunjukkan bahwa penampungan selama seminggu dalam salinitas 6 g/L menghasilkan tingkat sintasan belut 1,6 kali dibandingkan dengan penampungan dalam air tawar pada semua lokasi asal belut. Sintasan yang lebih tinggi tersebut meningkatkan nilai penerimaan dan keuntungan usaha.Asian swamp eel (Monopterus albus) is a highly-priced freshwater fish collected from natural waters and sold alive in the market with an ever-increasing demand. Fishing methods, transportation, and holding of live eels before being sold frequently result in significant mortality, which eventually reduces the sales revenue from the business. However, post-capture handling of the eel using saline water could reduce the mortality rate, but the impact on business profits has never been determined. This study was aimed to determine the effects of water salinity on the survival of the eels during the holding period and calculate the profit gain from live eel sales. The research was carried out in the facility of a wholesaler of live Asian swamp eel in Central Java which received eel supply from various locations in Java. The samples of eels were originated from three locations, namely Ciamis, West Java; Cilacap, Central Java; and Lumajang, East Java. The eels were placed in separate containers filled with: fresh water (salinity 0 g/L) and freshwater added with salt at concentration 6 g/L for six days. The results showed that six days holding period in salinity of 6 g/L resulted in a higher survival rate of the eels up to 1.6 times compared to the freshwater. This higher survival has increased the revenues and profitability of the live eels sales.
DISTRIBUSI POLUTAN LOGAM BERAT DI PERAIRAN PANTAI YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMASOK TAMBAK UDANG TERDEKAT DAN MITIGASINYA DI KECAMATAN JABON PROVINSI JAWA TIMUR Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Tarunamulia Tarunamulia; Muhammad Banda Selamat; Muhammad Farid Samawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.518 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.127-138

Abstract

Budidaya tambak merupakan andalan perikanan di Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur, namun terdapat berbagai kegiatan yang berpotensi menghasilkan bahan pencemar berupa logam berat di kawasan pesisir yang menjadi sumber air bagi budidaya tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan status mutu logam berat dalam air sehubungan dengan potensi pencemaran dalam air yang mungkin terjadi dalam kaitannya dengan pemanfaatan untuk budidaya tambak. Penelitian dilaksanakan di kawasan pesisir Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo dengan mengambil contoh air pada 12 stasiun pengambilan contoh dan selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk logam berat As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Mn, Mo, Pb, dan Zn. Data dari hasil analisis logam berat dianalisis secara deskriptif dan selanjutnya dengan metode Storage and Retrieval (Storet) digunakan untuk menentukan status mutu air dari logam berat untuk biota laut. Hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 ini menunjukkan bahwa kisaran konsentrasi Co, Hg, Mn, Mo, Pb, dan Zn berturut-turut < 0,001-0,072; < 0,001-0,045; 0,02-0,18; < 0,001-0,011; 0,309-0,835; dan 0,01-0,04 mg/L. Hasil penentuan status mutu air menunjukkan bahwa air di kawasan pesisir Kecamatan Jabon tergolong tercemar berat dari logam berat Hg dan Pb untuk biota laut. Disarankan agar kegiatan yang dapat menjadi sumber pencemar logam berat terutama Hg dan Pb di kawasan pesisir Kecamatan Jabon agar dikurangi dan atau mengaplikasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah dan merehabilitasi hutan mangrove untuk menjadi bioakumulator logam berat, serta melakukan pengelolaan berkelanjutan yang meliputi pemantauan, pembinaan, dan penegakan hukum sehingga dapat menjadi sumber air untuk budidaya tambak yang produktif dan berkelanjutan.Brackishwater aquaculture is one of the major aquaculture activities in Sidoarjo District, East Java Province. Unfortunately, its sustainability is currently threatened by the increased level of heavy metal pollutants in the coastal waters used as the major water source for the fish farming activity. The objective of this study was to determine the concentrations and distribution of heavy metal elements in the coastal water and devised potential mitigation plans in relation to the sustainability of existing brackishwater in the area. Water samples were collected from 12 sampling stations on the coastal waters of Jabon Subdistrict, Sidoarjo District. Laboratory analyses were performed to identify and measure the level of the heavy metal elements including As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Mn, Mo, Pb, and Zn. The results of the analysis were descriptively discussed. The Storage and Retrieval (Storet) method was used to determine the quality status of the coastal water based on heavy metals standard limits for marine biota. The results of this 2015 research showed that the concentrations of Co, Hg, Mn, Mo, Pb, and Zn were < 0.001-0.072; < 0.001-0.045; 0.02-0.18; < 0.001-0.011; 0.309-0.835; and 0.01-0.04mg/L, respectively. These heavy metal levels showed that water quality in the coastal area of Jabon Subdistrict was heavily polluted, particularly by Hg and Pb for marine biota. This research recommended that activities in the coastal area suspected to be the sources of heavy metals contaminants, especially Hg and Pb, have to be controlled or reduced. The application of wastewater treatment plants, rehabilitating mangrove forests as heavy metal bio accumulators as well as the implementation of sustainable water management procedures through monitoring, guidance, and law enforcement are highly recommended to ensure the long term sustainability of brackishwater aquaculture activities in the study area.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AAPTAMINOID DARI Aaptos aaptos DAN POTENSI PEMANFAATANNYA UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Vibrio harveyi Rosmiati Rosmiati; Andi Tenriulo; Nurhidayah Nurhidayah; Emma Suryati; Andi Parenrengi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.591 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.41-50

Abstract

Sponge Aaptos aaptos diketahui mengandung senyawa turunan aaptaminoid yang dapat digunakan sebagai sumber antibakterial alami tanpa efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa bioaktif dari ekstrak butanol Aaptos aaptos yang efektif menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi dan mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif dalam pencegahan infeksi V. harveyi. Ekstraksi metabolit sekunder menggunakan metode maserasi, sementara isolasi dan identifikasi senyawa aaptaminoid dengan metode kolom kromatografi dan spektroskopi. Uji aktivitas antibakterial menggunakan metode difusi agar dengan paper disc. Evaluasi kemampuan senyawa aktif dalam pencegahan vibriosis menggunakan metode eksperimental dengan empat perlakuan dengan masing-masing perlakuan menggunakan hewan uji Litopenaeus vannamei sebanyak 10 ekor/akuarium. Dosis senyawa aktif yang digunakan yaitu; A) 0 µg/g berat badan (bb); B) 0,67 µg/g bb; C) 25 µg/g bb; dan D) 50 µg/g bb. Penyuntikan 100 µL senyawa aktif pada masing-masing dosis tersebut dilakukan pada awal penelitian dan setelah 14 hari pemeliharaan, udang diuji tantang dengan V. harveyi pada kepadatan 107 CFU/mL Pemeliharaan udang dilanjutkan selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan morfologi udang berupa telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda memerah sebagai tanda-tanda udang terinfeksi mulai diamati pada 23 jam pasca penginfeksian. Udang pada perlakuan C dan D mulai pulih dari infeksi pada hari keempat yang ditandai oleh telson, rostrum, tubuh, pereopoda, dan pleopoda yang normal. Selain itu, perlakuan D juga menunjukkan nilai sintasan udang tertinggi (50%), sementara perlakuan C memberikan sintasan sebesar 25%. Sebaliknya pada perlakuan B dan A (kontrol) udang sudah mengalami kematian 100% sebelum 24 jam pasca penginfeksian. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa aaptaminoid pada dosis e” 25 µg/g bb dapat dikembangkan sebagai sumber alternatif untuk pencegahan vibriosis.Aaptos aaptos contains aaptaminoid widely known as a natural antibacterial without any side effect. This recent research aimed to extract bioactive compounds from butanol extract of Aaptos aaptos and determined its efficacy to inhibit the growth and prevent the infection of Vibrio harveyi. The extraction of secondary metabolites used maceration method, while isolation and identification of aaptaminoid used column chromatography and spectroscopy methods. The antibacterial test against V. harveyi used agar diffusion method using paper disc. The evaluation of the active compound during the vibrio challenge test used an experimental method with four treatments. Each treatment used whiteleg shrimp, Litopenaeus vannamei of 10 ind./aquarium. Dosages of the active compound used were A) 0 µg/g bb, B) 0.67 µg/g bb, C) 25 µg/g bb, and D) 50 µg/g bb. The injection of 100 µL of each bioactive compound was carried out at the initial experiment and on day 14 after challenged with V. harveyi at the density of 107 CFU/mL. The shrimps was reared for an additional seven days. The findings showed that the infection on shrimps started on 23 hours post-injection of V. harveyi indicated by the reddish color of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The shrimps in treatment C and D were able to recover from the infection started on the day-4 post-infection exhibited by the back to the normal condition of rostrum, body, pereopods, pleopods, and telson. The highest survival rate post-infection was obtained by shrimp in treatment D (50%) followed by treatment C (25 %). In turn, shrimps on treatment A and B had 100% mortality within 24 hours post-infection. This research concludes that aaptaminoid can be developed as an antibacterial agent for vibriosis prevention with an optimal dosage of e” 25 µg/g bb.
PENAMBAHAN VITAMIN E DALAM PAKAN TERHADAP KUALITAS REPRODUKSI INDUK IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Evi Tahapari; Jadmiko Darmawan; Adam Robisalmi; Priadi Setyawan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.614 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.243-252

Abstract

Penambahan vitamin E sintetis pada pakan induk sangat penting, karena vitamin E tidak dapat disintesis oleh ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penambahan vitamin E dalam pakan terhadap kualitas reproduksi induk ikan nila. Penelitian dilakukan di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi selama tiga bulan. Pakan uji adalah pakan formulasi berkadar protein kasar 35,83%-36,13%; lemak kasar 8,17%-9,79%; BETN 43,10%-45,72%; dan serat kasar 1,98%-2,58% dengan penambahan vitamin E berbeda, yaitu: A) 0 (kontrol), B) 150, C) 225, dan D) 300 mg/kg pakan. Ikan uji berumur 6,5 bulan sebanyak 80 ekor betina dan 40 ekor jantan, dan setiap induk ikan betina diberi tanda (tagging). Wadah ikan uji adalah jaring hapa berukuran 3 m x 2 m x 1,25 m sebanyak empat buah yang ditempatkan di kolam tanah seluas 6.000 m2 dengan ketinggian air ± 1 m. Setiap jaring diisi 20 ekor induk betina dan 10 ekor induk jantan. Parameter yang diamati adalah: gonad somatik indeks, frekuensi pemijahan, fekunditas, diameter telur, derajat tetas telur, produksi larva, abnormalitas larva, dan gonad pada akhir percobaan. Sampling dilakukan setiap satu minggu sekali selama tiga bulan pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin E 225 mg/kg pakan memberikan hasil terbaik, dapat meningkatkan produksi larva sebesar 78,55% dibanding dengan tanpa penambahan vitamin E (kontrol). Jumlah induk memijah sebesar 85% dengan jumlah frekuensi pemijahan terbanyak yaitu 28 kali dan total produksi larva tertinggi yaitu 37.927 ekor (produktivitas induk 2.231 larva/ekor) dan rataan fekunditas individu sebesar 1.886 ± 513 butir.The addition of synthetic vitamin E in broodstock feed is a necessity due to fish inability to synthesized vitamin E. Currently, there is limited information on vitamin E requirement to boost the reproductive performance of tilapia. The purpose of this study was to determine the effects of vitamin E in feed on the reproductive performance of tilapia broodstock. The study was conducted for three months at the Sukamandi Fish Breeding Research Center. The test feeds were formulated feeds with crude protein content of 35.83%-36.13%, crude fat 8.17%-9.79%, NFE 43.10%-45.72%, and crude fiber of 1.98%-2.58% with the addition of different vitamin E, namely: A) 0 (control), B) 150, C) 225, and D) 300 mg/kg of feed. The test fish were aged 6.5 months consisted of 80 females and 40 males, where each female was given a unique tagging code. The fish were reared in four hapa nets sized 3 m x 2 m x 1.25 m which were constructed in a pond of 6,000 m2 with a water level of ± 1 m. Each hapa net contained 20 female and ten male broodstocks. The parameters observed were: gonadal somatic index, spawning frequency, fecundity, egg diameter, hatching rate, larval production, larval abnormalities, and gonadal development at the end of the experiment. Sampling was done once a week during the three months of the experiment. The results showed that the addition of vitamin E 225 mg/kg of feed gave the best results. Larval production increased by 78.55% compared to without the addition of vitamin E (control). The percentage of spawning broodstock was 85% with the highest number of spawning frequencies of 28 times, the highest total larvae production of 37,927 larvae (broodstock productivity 2,231 larvae/fish), and the average individual fecundity of 1,886 ± 513 eggs.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue