cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
KONFIRMASI GEN PENYANDI TUMBUH CEPAT PADA BENIH DAN INDUK IKAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) Sari Budi Moria Sembiring; Ketut Suwirya; Ida Komang Wardana; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.314 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.13-20

Abstract

Keberlanjutan budidaya kerapu sunu (Plectropomus leopardus) sangat ditentukandari ketersediaan benih yang berkualitas secara fenotip maupun genotip. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi gen pengontrol tumbuh cepat sebagai indikator atau penyandi seleksi dalam produksi benih kerapu sunu P. leopardus. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan, meliputi: proses pemeliharaan larva, persiapan benih uji, dan evaluasi karakter kuantitatif sebagai gen penyandi tumbuh cepat pada benih kerapu sunu. Konfirmasi gen penyandi tumbuh cepat yang telah diperoleh pada lokus PL-03 dari microsatelit/SSRs (Simple Sequence Repeats), selanjutnya digunakan untuk penyandi dalam seleksi pada benih yang diproduksi melalui metode analisis amplifikasi PCR. Konfirmasi adanya gen penyandi yang digunakan sebagai indikator tumbuh cepat pada benih kerapu sunu selanjutnya dianalisis dengan metode SSCP (Single Strand Confirmation Polyacrilamide). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gen penyandi tumbuh cepat pada benih kerapu sunu dapat ditunjukkan dengan locus PL-03 dan terekspresi pada fragmen DNA 370 bp. Keakurasian ini juga ditunjukkan pada karakter fenotip (pertumbuhan) selama budidaya di keramba jaring apung (KJA). Calon induk kerapu sunu yang membawa gen tumbuh cepat yang dihasilkan sudah mencapai ukuran panjang rata-rata 38,5±2,47 cm dan bobot 968,0 g dengan jumlah ikan sebanyak 180 ekor. Dibandingkan dengan individu ikan yang tidak membawa gen penyandi DNA370 bp mempunyai panjang dan bobot rata-rata sebesar 34,6±2,0 cm dan 734,4 g.
TINGKAT PENCEMARAN LOGAM BERAT PADA EKOSISTEM WADUK DI JAWA BARAT (SAGULING, CIRATA, DAN JATILUHUR) Sutrisno Sutrisno; Santosa Koesoemadinata; Imam Taufik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.86 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.103-115

Abstract

Ekosistem waduk di Jawa Barat (Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) merupakan perairan yang sangat potensial bagi pengembangan usaha budi daya ikan air tawar dengan sistem keramba jaring apung (KJA). Ekosistem tersebut menghadapi ancaman masuknya cemaran logam berat dari limbah pemukiman, perkotaan, dan industri di sekitarnya, yang dapat berpengaruh negatif terhadap produktivitas perikanan di perairan tersebut. Kegiatan penelitian telah dilakukan untuk menentukan tingkat pencemaran enam logam berat (Mn, Cd, Cr, Cu, Pb, dan Fe) di ekosistem waduk di atas, untuk mendapatkan data dasar sebagai acuan dalam manajemen perikanan budi daya ikan air tawar yang rasional dan lestari di perairan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat residu rata-rata keenam logam berat di ketiga waduk tersebut pada umumnya masih sesuai baku mutu air untuk perikanan budi daya air tawar (Peraturan Pemerintah RI  No. 82 Tahun 2001). Tingkat residu logam berat di tiga waduk adalah sebagai berikut: Cirata > Saguling > Jatiluhur. Tingkat konsentrasi logam berat Fe > Mn > Cr > Pb > Cu > Cd. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa residu logam berat dalam air < ikan < sedimen.Reservoir ecosystems in West Java (Saguling, Cirata, and Jatiluhur) are potentially suitable waterbodies for the development of floating cage culture. However these aquatic ecosystems are increasingly endangered by heavy metal pollutants introduced from the neighboring rural development, cities and industrial establishments, which may eventually effects, quantatively as well as qualitatively, the productivity of fisheries in the system. Studies to determine the residu levels of highly toxic metals (Mn, Cd, Cr, Cu, Pb, and Fe) in water, sediment and fish were carried out in the reservoirs to obtain to define the extent of heavy metal pollution in the aquatic ecosystems. Results of this study revealed that the residue level of the six heavy metals measured in the three reservoirs were still within acceptable limits for fish culture according to the water quality standard issued by the government (Indonesian Government Regulation Number 82 Year 2001). The potential metal pollution in the three reservoirs was noted as follows: Cirata > Saguling > Jatiluhur. The amounts of heavy metal concentration detected in the reservoirs were as follows: Fe > Mn > Cr > Pb > Cu > Cd. The study also demonstrated that the increase sequent of heavy metal residues in the reservoirs was: water < fish < the sediment.
APLIKASI SISTEM RESIRKULASI PADA PENDEDERAN IKAN KAKAP PUTIH, Lates calcarifer KEPADATAN TINGGI Gusti Ngurah Permana; Zeny Pujiastuti; Fakhrudin Fakhrudin; Ahmad Muzaki; Ketut Mahardika; Kukuh Adiyana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.173-182

Abstract

 Teknologi resirkulasi (Recirculating aquaculture system [RAS]) dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas benih ikan kakap putih. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbedaan kepadatan pada pendederan benih ikan kakap dengan sistem RAS. Penelitian ini menggunakan sistem RAS dengan 12 bak dengan volume 1,0 m3 yang terbagi dalam dua modul dengan masing-masing modul terdiri atas enam bak. Untuk perbandingan digunakan sistem sirkulasi yang mengadopsi teknologi yang ada di masyarakat menggunakan tiga bak beton dengan volume 1 m3. Benih ikan kakap putih yang dipergunakan memiliki panjang rata-rata: 2,87 cm ± 0,18 cm dan bobot rata-rata: 0,39 ± 0,07 g. Perlakuan menggunakan perbedaan kepadatan yaitu (A) 3.000 ekor/m3 (1,17 kg/m3); (B) 4.500 ekor/m3 (1,75 kg/m3); dan (C) sirkulasi 1.500 ekor/m3 (0,62 kg/m3). Parameter yang diamati meliputi: pertumbuhan, sintasan, kualitas air, dan pada akhir penelitian, sampel darah diambil untuk menentukan kesehatan ikan yang berhubungan dengan parameter haematokrit darah. Analisis data secara deskriptif dan uji t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan padat penebaran pada sistem RAS dan sirkulasi secara signifikan tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05) pertumbuhan panjang dan bobot benih. Sintasan tertinggi diperoleh pada kelompok ikan kontrol, diikuti dengan kelompok ikan dengan kepadatan 3.000 ekor/m3 dan terendah pada kelompok ikan dengan kepadatan 4.,500/m3 ekor. Nilai hematokrit dalam darah lebih tinggi (P<0,05) ditunjukkan dari kelompok ikan dengan kepadatan yang lebih rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa aplikasi sistem resirkulasi pada pendederan ikan kakap putih dapat dilakukan dengan penerapan kepadatan 3.000 ekor/m3 (31,04 kg/m3).Recirculating aquaculture system (RAS) has been developed to increase the productivity of barramundi nursery. This study used 12 tanks with a volume of 1.0 m3 each. The tanks were grouped into two modules, each module consisted of six tanks. As a comparison, a circulation system adopted by the local community was used which consisted of three concrete tanks with a volume of 1 m3. Barramundi juveniles with an average length: 2.87 cm ± 0.18 cm and an average weight of 0.39 ± 0.07 g) were used in the experiment. The treatments were differences in stocking densities: 3,000 fish/m3 (1.17 kg/m3); 4,500 fish/m3 (1.75 kg/m3); and control 1,500 fish/m3 (0.62 kg/m3). Data collected included growth of survival and water quality variables (temperature, salinity, DO, pH, nitrite, NH3, total bacteria/vibrio) and blood hematocrit. The results of this study showed that fish densities (4,500; 3,000; and 1,500 fish/m3) did not affect fish growth. However, the survival rate was significantly different (P<0.05) among the treatments. The values of hematocrit were significantly (P<0.05) higher at the density of 46.56 kg/m3. These results suggest that the RAS application can sustain a nursery density of Barramundi up to 3,000 ind./m3 (31.04 kg/m3).
KEMAMPUAN Bacillus subtilis VITNJ1 DARI SALURAN PENCERNAAN IKAN NILA DALAM MEMPRODUKSI ENZIM PROTEASE Yusra Yusra; Yempita Efendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.87-93

Abstract

Bacillus subtilis strain VITNJ1 merupakan bakteri potensial yang berasal dari saluran pencernaan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas enzim protease dari bakteri Bacillus subtilis strain VITNJ1. Metode yang digunakan adalah eksperimental, data dianalisa secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan B. subtilis strain VITNJ1 memiliki kemampuan produksi enzim protease yang diukur dari indeks proteolitiknya yakni sebesar 26 mm. Waktu inkubasi optimum enzim protease bakteri B. subtilis strain VITNJ1 dicapai pada jam ke-54 dengan aktivitas enzim protease sebesar 9,10 U/mL; kadar protein 110,64 mg/mL; dan aktivitas spesifik sebesar 0,082 U/mg; dan diharapkan dapat dijadikan sebagai probiotik untuk budidaya ikan nila.Bacillus subtilis strain VITNJ1 is a potential bacterium derived from nile tilapia’s (Oreochromis niloticus) digestive tract and known to have proteolytic activity. This research aimed to determine the protease activity of B. subtilis strain VITNJ1 bacterium. The method used were experimental design, the data were analyzed in quantitative descriptive. The research result confirms that B. subtilis strain VITNJ1 can produce protease. The proteolytic activity was 26 mm. The optimum incubation period of B. subtilis strain VITNJ1 was obtained at hour-54 with the proteolytic enzyme activity of 9.10 U/mL, the protein concentration of 110.64 mg/mL, and the specific activity of 0.082 U/mg. This research suggests that the bacteria strain could be used as an alternative probiotic bacterium in nile tilapia farming.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) KETURUNAN G-1, G-2, DAN G-3 Irin Iriana Kusmini; Anang Hari Kristanto; Ani Widiyati; Fera Permata Putri
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.861 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.201-211

Abstract

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) telah berhasil didomestikasi oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan, Bogor. Hasil penelitian domestikasi, populasi Cirata memiliki fekunditas dan pertumbuhan yang lebih bagus, populasi ini dikembangkan hingga tiga generasi (G1, G2 dan G3) namun, ada informasi terbatas mengenai perbandingan antara perkembangan gonad dari berbagai generasi ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur pertumbuhan dan mengamati perkembangan gonad generasi pertama (G-1), kedua (G-2), dan ketiga (G-3). Parameter yang diukur dan diamati meliputi pengukuran panjang, berat, laju pertumbuhan spesifik, morfologi dan berat gonad, diameter oosit, dan indeks gonad somatik (IGS). Pengambilan sampel dilakukan setiap dua bulan dengan mengumpulkan sepuluh sampel ikan dari setiap generasi. Jaringan gonad disiapkan secara histologis dan diwarnai larutan asetokarmin sebagai zat pewarna. Pengamatan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 4 x 10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia 222 hari, gonad jantan dan betina secara fisik masih dalam bentuk benang halus. Namun, karakteristik sekunder pada ikan jantan seperti papila sudah mulai tampak meski tidak terlalu jelas. Pada usia 283 hari, ukuran oosit berkisar antara 0.025-0.05 mm. Pada usia 345 hari, telur mulai terlihat dengan ukuran oosit G-1, G-2, dan G-3 masing-masing berkisar antara 0.59 ± 0.24, 0.39 ± 0.15, dan 0.48 ± 0.15 mm. Setelah usia 406 hari, perkembangan gonad mencapai TKG-III dengan diameter rata-rata oosit G-1, G-2, dan G-3 berkisar antara 1.13 ± 0.11, 0.92 ± 0.18, dan 1.11 ± 0.10 mm dengan IGS dari G-1, G-2, dan G-3 dari 8.20%, 0.98 %, dan 4.8%, masing-masing. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara diameter oosit G-1, G-2, dan G-3 (P£0,05). Keturunan kedua (G-2) merupakan generasi terbaik untuk dijadikan kandidat budidaya. Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) has been successfully domesticated by the Research Institute for Freshwater Aquaculture and Fisheries Extension, Bogor. The results of the domestication of Cirata population have better fecundity and growth, this population has been developed for up to three generations (G1, G2 and G3) however, there is limited information regarding the comparison between the ovarian development of different generations of the fish]. This study’s aim was to measure the growth and observe the ovarian development of the first (G-1), second (G-2), and third generations (G-3). The parameters measured and observed included the measurements of length, weight, specific growth rate, morphology and gonad weight, oocyte diameter, and somatic gonad index (IGS). The sampling was carried out every two months by collecting ten fish samples of each generation. Gonad tissues were histologically prepared and stained asetocarmine solution as the coloring agent. The observations used a microscope with a magnification of 4 x 10. The results of the study showed that at the age of 222 days, the male and female gonads were physically still in the form of fine threads. However, secondary characteristics in male fish such as papillae have begun to appear though not very clear. At the age of 283 days, oocytes’ sizes ranged between 0.025-0.05 mm. At the age of 345 days, the eggs were starting to be visible with the oocyte sizes of G-1, G-2, and G-3 ranged between 0.59 ± 0.24, 0.39 ± 0.15, and 0.48 ± 0.15 mm, respectively. After the age of 406 days, the development of gonads reached gonad maturating level III with the average diameter of the oocytes of G-1, G-2, and G-3 ranged between 1.13 ± 0.11, 0.92 ± 0.18, and 1.11 ± 0.10 mm with the IGS of G-1, G-2, and G-3 of 8.20%, 0.98%, and 4.8%, respectively. There was no significant difference among the oocyte diameters of G-1, G-2, and G-3 (P£0.05). The 2nd generation (G2) is the best generation to be a candidate aquaculture.
KERAGAMAN DAN KORELASI KANDUNGAN ALBUMIN DENGAN KARAKTER PERTUMBUHAN PADA TIGA POPULASI IKAN GABUS (Chana striata) Ikhsan Khasani; Dessy Nurul Astuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.976 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.1.2020.1-9

Abstract

Albumin ikan gabus merupakan bahan farmasi bernilai tinggi, banyak dimanfaatkan untuk mengobati pasien pascaoperasi dan luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman dan korelasi kandungan albumin terhadap karakter pertumbuhan pada tiga populasi ikan gabus (Chana striata) dari Sumatera (SM), Jawa (JW) dan Kalimantan (KL). Tahap awal dari penelitian ini adalah pemeliharaan larva-benih, karakterisasi dan analisis kandungan albumin ikan gabus dari tiga populasi. Kandungan albumin pada sampel daging (20 ekor ikan per populasi) dianalisis menggunakan reagen bromocresol green dan diukur dengan spektrofotometer pada 578 nm. Benih ikan gabus dari populasi SM, JW, dan KL dengan ukuran panjang total 28,9 ± 5,7 mm dan bobot badan 0,27 ± 0,09 g dari 12 famili, terdiri dari 4 famili untuk setiap populasi dipelihara secara acak dalam 12 buah kolam beton ukuran 25 m2 selama 75 hari. Kandungan albumin rata-rata ketiga populasi tidak berbeda nyata (P>0,05), yaitu 2,6 ± 0,4 g dL-1 (KL), 2,4 ± 0,3 g dL-1 (SM) dan 2,2 ± 0,4 g dL-1 (JV); dengan koefisien keragaman sebesar 12,60% (SM), 18,13% (JT) dan 17,0% (KL). Nilai korelasi antara panjang total, panjang standar, dan bobot badan dengan kandungan albumin tergolong rendah hingga sedang, yaitu secara berurutan sebesar -0,05; -0,03 dan -0,43 (SM), 0,42; 0,475 dan 0,34 (JW) dan -0,28; -0,35 dan -0,275 (KL). Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa keragaman kandungan albumin tidak berbeda antar populasi, sehingga pendekatan seleksi kurang efektif. Nilai korelasi antara karakter pertumbuhan terhadap kandungan albumin pada ikan gabus tergolong rendah. The snakehead fish (SHF) albumin is a highly valued pharmaceutical material widely used to treat postsurgery wounds and skin burns. This study’s purpose was to analyze the coefficient of variance and correlation of albumin trait to growth characters of three SHF populations: Sumatera (SM), Java (JV) and Kalimantan (KL). The first step of this study consisted of larval and seed rearing of three SHF populations followed up by characterization and analysis of their albumin content. The albumin contents of the SHF meat (20 fish for each population) were analyzed using bromocresol green reagent and measured using a spectrophotometer at 578 nm. The SHF seeds (28.9 ± 5.7 mm of total length and 0.27 ± 0.09 g of body weight) from 12 families consisted of four families for each population were reared in 12 concrete ponds measuring 25 m2 for 75 days. The averages of albumin content of the three populations were 2.6 ± 0.4 g dL-1 (KL) 2.4 ± 0.3 g dL-1 (SM) and 2.2 ± 0.4 g dL-1 (JV) and considered not significantly different (P> 0.05) with coefficients of variance of 12.60% (SM), 18.13% (JV) and 17.0% (KL). The correlation values of total length (TL), standard length (SL) and body weight (BW) with albumin content of the SHF were -0.05, -0.03, and -0.43 (SM); 0.42, 0.475, and 0.34 (JV); and -0.28, -0.35, dan -0.275 (KL) and classified as low to moderate. The results suggested that the variances of albumin content among the populations were not significantly different and the individual selection method was not effective.  
PERBANYAKAN TANAMAN HIAS AIR Microsorum pteropus MELALUI KULTUR KANTONG SPORA PADA BERBAGAI SUBSTRAT Muhamad Yamin; Tutik Kadarini; Lili Solichah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.253-260

Abstract

Produksi massal tanaman hias air pakis jawa Microsorum pteropus melalui pemotongan rhizoma terlihat kurang efisien sedangkan melalui kultur in vitro spora masih sulit dilakukan masyarakat. Salah satu pendekatan baru dalam perbanyakan tanaman M. Pteropus melalui kultur kantong spora telah berhasil dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan media dalam perbanyakan tanaman M. pteropus melalui kultur kantong spora. Potongan daun yang mengandung satu kantong spora diletakkan di atas media tanam, ditutup dengan plastik transparan, dan ditaruh pada lingkungan di luar ruangan (outdoor). Media tanam yang digunakan yaitu: A) cacahan akar pakis; B) serutan kayu; C) cacahan akar pakis + serutan kayu; D) cacahan akar pakis + serutan kayu + kompos; E) pasir gunung berapi (pasir malang); F) abu sekam padi; G) pasir; dan H) tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sporofit muda (young sporophye) sudah mulai terlihat pada bulan pertama sampai ketiga setelah tanam. Sporofit muda yang berkembang dari kantong spora yang dipelihara pada media pasir, media tanah dan media campuran serutan kayu + akar pakis + kompos menunjukkan rata-rata persentase tanaman hidup yang paling tinggi yaitu 48%. Sebaliknya sporofit muda paling sedikit berkembang pada media akar pakis, media abu sekam padi dan media campuran akar pakis, dan serutan kayu. Berdasarkan hasil tersebut maka media terbaik untuk perbanyakan M. pteropus di luar ruangan melalui kultur kantong spora adalah media tanah dan media campuran akar pakis + serutan kayu + kompos.Mass production of Microsorum pteropus through rhizome cuttings has been deemed not efficient while the application of in vitro culture of its spores is still technically difficult to be performed by farmers. A novel approach to mass-produce M. pteropus trough sori culture has been developed and is relatively easy to perform. This study was aimed to determine a suitable propagation media for sori culture of M. pteropus. Small cut fronds containing one sorus were laid on the culture media and covered with a transparent plastic sheet and left on outdoor conditions. The culture media used were: A) fern-root; B) wood shavings; C) fern-root + wood shavings; D) fern-root + wood shavings + compost; E) volcanic sand; F) rice husk ash; G) sand; and H) soil. The results showed that young sporophytes developed in the 1st to 3rd month after culture. The young sporophytes developed in the sand, soil and mixture of wood shavings + fern-root + compost medium showed higher numbers of live plants (48%). In contrast, the lower numbers of live young sporophyte were found in the fern-root, rice husk ash, and mixture of fern-root + wood shavings medium. Based on these results, the best alternative media for propagation of M. pteropus through sori culture on the outdoor conditions are soil media and the mixture of fern roots + wood shavings + compost media.
AKTIVITAS DAN KARAKTERISASI ENZIM PROTEASE ISOLAT Bacillus sp. (UJ132) SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF Sumardi Sumardi; Salman Farisi; Chiristina Nugroho Ekowati; Milsa Solva Diana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.012 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.3.2019.193-199

Abstract

Bakteri penghasil enzim protease memiliki kemampuan untuk melakukan bioremediasi limbah protein. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan karakterisasi enzim protease dari isolat Bacillus sp. (UJ132) yang diisolasi dari udang pasir (Metapenaeus affinis) di kawasan hutan mangrove Desa Margasari, Lampung Timur. Uji aktivitas enzim dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Karakterisasi enzim meliputi penentuan suhu dan pH optimum, pengaruh ion logam, serta penentuan Km dan Vmaks. Dari hasil percobaan diketahui bahwa enzim protease dihasilkan pada waktu produksi optimum 18 jam dengan aktivitas protease sebesar 0,09 U/mL. Suhu optimum enzim ini yaitu pada suhu 50°C yang menghasilkan aktivitas sebesar 0,08 U/mL. Enzim protease ini mempunyai kondisi optimum pada pH 5 dengan nilai aktivitas 0,09 U/mL. Semua ion logam (Ca2+, Mn2+, Cu2+, Mg2+) berfungsi sebagai inhibitor kecuali ion Fe3+ yang berfungsi sebagai aktivator pada konsentrasi 1 mM dan 5 mM. EDTA dengan konsentrasi 1 mM dan 5 mM berfungsi sebagai inhibitor pada enzim protease isolat UJ132. Nilai Vmaks enzim protease 0,33 U/mL sedangkan Km senilai 4,59 mg/mL substrat, enzim ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap substrat.Shrimp farming produces protein wastes which mainly come from the remnants of given feed and excreta (feces) of shrimp. Bacteria known to possess protease enzymes have the ability to solve this protein waste problem in the shrimp farming industry. This study was conducted to determine the production and characterization of protease enzyme from Bacillus sp. (UJ132) isolated from the mangrove forest area of Margasari Village of Lampung Timur. The enzyme activity test was done qualitatively and quantitatively. The objectives of this study were to determine the optimum production of the enzymes and observe their characteristics, including determining the temperature and optimum pH, the effect of several metal ions, as well as Km and Vmax. The experimental results revealed that the protease enzyme had an optimum time of 18 hours of protease activity as much as 0.09 U/mL. The optimum temperature of this enzyme was 50°C which produced an activity of 0.08 U/mL. This protease enzyme has an optimum working condition at pH 5 with an activity value of 0.09 U/mL. All metal ions (Ca2+, Mn2+, Cu2+, Mg2+) acted as inhibitors except Fe3 + ions which acted as activators at concentrations of 1 mM and 5 mM. EDTA with a concentration of 1 mM and 5 mM served as an inhibitor of UJ132 isolate protease enzyme. The value of Vmax of the protease enzyme was 0.33 U/mL while Km was 4.59 mg/mL suggesting that this enzyme has a high affinity with the substrate.
PEMBERIAN VAKSIN DNA ANTI-KHV IKAN MAS DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP BENIH IKAN KOI Eni Kusrini; Sri Nuryati; Siti Zubaidah; Lili Sholihah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.744 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.2.2019.95-108

Abstract

Salah satu upaya penanggulangan wabah koi herpes virus (KHV) yang biasa menyerang ikan koi dan ikan mas adalah dengan pemberian vaksin DNA. Vaksin DNA dapat merangsang kekebalan spesifik dan kekebalan yang ditimbulkan relatif tinggi, serta aman digunakan. Penelitian ini bertujuan menguji beberapa dosis vaksin DNA terhadap benih ikan koi sehingga didapatkan dosis yang tepat yang dapat memberikan RPS (relative percent survival) dan imunitas terbaik. Perlakuan yang diberikan adalah vaksinasi dengan dosis berbeda melalui teknik injeksi secara intra muskular, yaitu perlakuan A (7,5 µg/100 µL), B (10 µg/100 µL), C (12,5 µg/100 µL), serta kontrol positif (ikan tidak divaksinasi tetapi diuji tantang) dan kontrol negatif (ikan tidak divaksinasi dan tidak diuji tantang). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian vaksin dengan dosis berbeda mampu meningkatkan sintasan pada ikan koi, serta vaksin DNA dengan dosis 12,5 µg/100 µL mampu memberikan nilai sintasan ikan koi yang diinfeksi KHV sebesar 97,22% dan memberikan nilai RPS sebesar 95,83 ± 0,58%; serta memberikan gambaran sistem imun terbaik dibandingkan perlakuan lainnya.One of the alternatives to deal with the koi herpesvirus (KHV) infections in koi fish and common carp is through the use of DNA vaccine. DNA vaccines can stimulate a high level of specific immune responses and induced immunity and are relatively safe to be used. This research was aimed to determine the effective dose of DNA vaccine for the best relative percent survival (RPS) and immunity. The treatments consisted of different vaccine doses administered through intramuscular injection: treatment A (7.5 mg/100 mL), B (10 mg/100 mL), C (12.5 mg/100 mL), and the positive control (non-vaccinated fish but challenged by KHV test) and negative control (non-vaccinated fish and not challenged by KHV test). The results showed that the administration of the vaccine with different doses had increased the survival of koi fish across all treatments (excluding positive and negative controls). Vaccine dose of 12.5 mg/100 mL was considered as the best vaccine dose. The vaccine dose had produced the best survival value of 97.22% and resulted in the highest RPS values of 95.83 ± 0.58%. DNA vaccine is expected to be the future vaccine.
PENGARUH APLIKASI dsRNA VP-15 IN VITRO DAN IN VIVO TERHADAP SINTASAN DAN RESPONS IMUN UDANG WINDU Penaeus monodon Andi Parenrengi; Andi Tenriulo; Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum; Samuel Lante; Agus Nawang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.291 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.213-223

Abstract

Teknologi RNA interference (RNAi) merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan resistensi udang windu terhadap infeksi patogen termasuk WSSV. Pengembangan teknologi RNAi melalui aplikasi untai ganda RNA (dsRNA) yang berasal dari gen pengkode viral protein (VP) dari WSSV telah mulai dikembangkan pada udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sintasan dan respons imun udang windu yang diberi VP-15 pasca uji tantang dengan WSSV. Udang windu (panjang 15,21 ± 1,19 cm dan bobot 32,5 ± 1,83 g) diinjeksi dengan 0,2 µg/ekor dsRNA in vitro (A), dsRNA in vivo (B), dan larutan garam/kontrol (C). Setelah tiga hari vaksinasi, udang windu ditantang dengan WSSV dengan dosis 50 µL/ekor. Pengamatan sintasan dilakukan setiap hari, sedangkan respons imun (THC dan aktivitas proPO) dilakukan pada awal dan hari ke-1, ke-3, dan ke-5 pasca uji tantang, serta analisis ekspresi gen antivirus dan histopatologi hepatopankreas dilakukan pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi dsRNA berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap sintasan, THC, dan proPO. Sintasan udang windu yang diberi dsRNA VP-15 in vitro dan in vivo memberikan sintasan yang lebih tinggi 75% dibandingkan dengan kontrol. Nilai proPO tertinggi didapatkan pada dsRNA in vivo (0,138); kemudian dsRNA in vitro (0,093); dan terendah kontrol (0,061); sedangkan THC tertinggi (5.704 x 104 sel/mL) pada dsRNA in vivo, kemudian dsRNA in vitro (3.516 x 104 sel/mL) dan terendah pada perlakuan kontrol (3.322 x 104 sel/mL). Ekspresi gen antivirus semakin meningkat dengan semakin lamanya udang windu terpapar dengan WSSV. Jaringan hepatopankreas udang windu pada perlakuan kontrol (tanpa dsRNA) menunjukkan adanya kerusakan sel akibat infeksi virus.RNA interference (RNAi) technology is one of the approaches used to improve tiger shrimp Penaeus monodon resistance against WSSV infection. The development of RNAi technology through double-stranded RNA (dsRNA) isolated from gene encoding viral protein (VP) of WSSV has been applied to shrimp. This study was aimed to assess the survival rate and immune response of injected-VP-15 WSSV tiger shrimp after a challenge with WSSV. The tiger shrimp (15.21 ± 1.19 cm in length and 32.5 ± 1.83 g in weight) were injected with 0.02 µg/shrimp of in vitro dsRNA (A), in vivo dsRNA (b) and saline solution (C). After three days of vaccination, the tiger shrimp were challenged with WSSV using a dosage of 50 µL/shrimp. The survival rate was observed daily. Analyses of immune responses (hemocyte total and PO activity) were performed in several stages: before the challenge test and day-1, day-3, and day-5 post-challenge test. The expression of the antivirus gene and hepatopancreas histophatology were was observed at the end of the experiment. The results showed that the application of dsRNA significantly influenced the shrimp survival rate, THC, and proPO. Tiger shrimp injected with dsRNA VP-15 of in vitro and in vivo exhibited a higher 75% survival rate than the control (P<0.05). The highest proPO activity (0.138) was obtained at dsRNA in vivo, followed by dsRNA in vitro (0.093) and the lowest (0.061) in the control. The highest THC (5,704 x 104 cell/mL) was in vivo dsRNA, then in vitro dsRNA (3,516 x 104 cell/mL), and the lowest in the control (3,322 x 104 cell/mL). The longer the exposure with WSSV, the higher the antivirus gene expression. Histopathology analysis showed some damages to the hepatopancreas cells in the control shrimp (without dsRNA) caused by the virus infection.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue