cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
SPESIES BARU MOLUSKA INDONESIA, 15 TAHUN TERAKHIR George Hadiprajitno
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2805.652 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.95-106

Abstract

ndonesia negara kepulauan merupakan surga bagi moluska baik yang hidup di laut maupun di darat, sehingga menjadi sorotan para peneliti asing. Dalam 15 tahun terakhir lebih dari 120 lebih spesies baru yang dipertelakan (diteliti), hampir semua dari spesies baru tersebut dipertelakan di luar negeri oleh peneliti asing dan holotipenya disimpan di museum-museum yang berada di luar Indonesia. Dalam studi ini dibuat daftar spesies baru moluska Indonesia dari tahun 1991 sampai 2006. Juga informasi spesies-spesies yang dipertelakan dari lokasi di luar negeri dan diperkirakan dapat ditemukan di Indonesia; maupun spesies yang awalnya dipertelakan dari Indonesia tetapi saat ini keberadaannya tidak ada beritanya lagi. Melalui tulisan ini penulis mengajak/menggugah para peneliti untuk bangkit karena kesempatan masih terbentang luas dan apa yang dapat kita lakukan masih banyak, baik dalam segi penelitian, konservasi, pemanfaatan, serta budi daya moluska Indonesia untuk kehidupan manusia.
FITOREMEDIASI KOLAM PEMELIHARAAN IKAN DENGAN MEMANFAATKAN SAYURAN Nuryadi Nuryadi; Sutrisno Sutrisno; Dewi Puspaningsih
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.266 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.50-53

Abstract

Limbah domestik yang mengandung N dan P apabila kadarnya melebihi kemampuan perairan untuk mengurainya, akan memicu pertumbuhan organisme tertentu secara berlebihan dan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem perairan. Kondisi tersebut apabila tidak ditanggulangi akan mengakibatkan menurunnya kualitas perairan yang akan menurunkan produktivitas dan keanekaragaman hayati perairan tersebut. Arah pembangunan perikanan budidaya air tawar mulai berubah ke arah peningkatan efisiensi penggunaan lahan dan air untuk memproduksi ikan bersih dan sehat dikonsumsi. Teknik fitoremediasi terbukti mampu mengurangi penggunaan lahan dan air dalam kolam sistem tertutup, selain resirkulasi pada sistem akuaponik. Teknik fitoremediasi lebih hemat energi dibanding sistem akuaponik yang kerjanya sangat tergantung dari kerja pompa air, sehingga penggunaan sistem ini dapat mencakup daerah yang lebih luas, terutama di daerah yang belum terjangkau listrik. Fitoremediasi juga dapat memberikan andil dalam pemenuhan pangan yang sehat dengan menghasilkan ikan dan sayuran organik yang bermanfaat.
EFEKTIVITAS HIDROGEN PEROKSIDA DALAM PENGENDALIAN INFEKSI EKTOPARASIT PADA IKAN LELE Clarias gariepinus Septyan Andriyanto; Uni Purwaningsih; Shofihar Sinansari; Yohanna R Widyastuti
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.076 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.49-57

Abstract

Penggunaan bahan kimiawi yang aman dan ramah lingkungan merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit parasitik pada budidaya ikan, meskipun masih sedikit informasi mengenai efektivitas penggunaan hidrogen peroksida untuk pengobatan penyakit parasitik pada ikan air tawar di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis efektif hidrogen peroksida (H2O2) dan pengaruhnya terhadap infeksi ektoparasit pada ikan lele Clarias gariepinus. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan H2O2 dalam media pemeliharaan dengan dosis berbeda yaitu: (A) aplikasi H2O2 dosis 100 mg/L, (B) aplikasi H2O2 dosis 200 mg/L, (C) aplikasi H2O2 dosis 300 mg/L, dan (D) tanpa aplikasi H2O2 atau kontrol. Pemberian hidrogen peroksida dilakukan satu kali pada awal pengujian dan tiap perlakuan menggunakan tiga ulangan. Pemeriksaan sampel dilakukan setiap hari terhadap tingkat infestasi dan prevalensi ektoparasit selama enam hari pemeliharaan. Pengamatan hanya dilakukan pada parasit dewasa yang memiliki organ tubuh lengkap dan telah melewati fase telur. Fokus penelitian untuk memperoleh informasi dosis H2O2 yang paling efektif menekan infeksi ektoparasit selama enam hari pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi hidrogen peroksida dosis 300 mg/L efektif menekan tingkat infestasi dan prevalensi parasit Trichodina sp., Dactylogyrus sp., dan Gyrodactylus sp., diikuti dosis 200 mg/L, 100 mg/L, dan terendah pada kontrol. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai infestasi parasit yang berbeda nyata (P<0,05) antara perlakuan aplikasi H2O2 dibandingkan dengan kontrol atau tanpa aplikasi H2O2.Chemical compounds that are safe and environmentally friendly has been widely used to treat parasitic diseases in fish farming. However, there is limited information on the effectiveness of the application of hydrogen peroxide to treat parasitic diseases in freshwater fish in Indonesia. The study was aimed to determine the effective dose of hydrogen peroxide (H2O2) and its influence on the presence of ectoparasites on Clarias gariepinus catfish. The treatment used was the addition of H2O2 in the media preservation at different doses, namely: the application of H2O2 dose of (A) 100 mg/L, (B) 200 mg/L, (C) 300 mg/L, and (D) without H2O2 or control. Treatment media were exposed to hydrogen peroxide once at the beginning of the test and each treatment used three replications. Infestation and ectoparasite prevalence were observed daily for six days. The observations were only performed on adult parasites that have complete organs and passed the egg stage. The study focuses on obtaining the most effective dose of H2O2 to suppress ectoparasite infection within six days. The results showed that the application of hydrogen peroxide of 300 mg/L was the most effective dose to suppress the infestation level and prevalence of Trichodina sp., Dactylogyrus sp., and Gyrodactylus sp., followed by 200 mg/L, 100 mg/L, and the lowest was in control. The statistical analysis of the parasite infestation had shown a significant difference (P<0.05) between the treatment of H2O2 as compared with the control.
SUMBERDAYA GENETIK IKAN, ASET YANG MASIH TIDUR Muhammad Hunaina Fariduddin Ath-thar; Rudhy Gustiano
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.674 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.98-101

Abstract

Berkaitan dengan sumberdaya alam kekayaan sumberdaya genetik ikan, Indonesia merupakan negara terkaya di dunia. Kajian mengenai sumberdaya genetik atau keanekaragaman hayati memerlukan suatu pendekatan genetika evolusi. Seiring perkembangan zaman, keanekaragaman hayati yang kita miliki harus diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan dalam negeri. Untuk itu, dibutuhkan spesies ikan yang mudah dibudidayakan, harganya relatif terjangkau oleh masyarakat dan produktivitasnya tinggi. Jenis nila, patin, dan lele diharapkan dapat mengawal ketahanan pangan nasional yang dapat dipersiapkan untuk membantu ketergantungan masyarakat terhadap unggas. Dari segi pengelolaan dan pelestarian, spesies-spesies yang memainkan peranan penting dalam proses ekologi akan mendapatkan prioritas yang lebih tinggi untuk dikonservasi. Pendekatan ekologi dengan sistematik dapat dijadikan acuan ke mana program konservasi yang akan kita jalankan untuk melindungi kekayaan hayati yang kita miliki.
PEMANFAATAN BAHAN BAKU LOKAL DI KLUNGKUNG, BALI UNTUK PAKAN IKAN NILA BEST (Oreochromis niloticus) Mas Tri Djoko Sunarno; Irin Iriana Kusmini; Vitas Atmadi Prakoso
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.165 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.105-112

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan pemanfaatan bahan baku lokal di Klungkung, Bali sebagai pakan ikan nila BEST dibandingkan dengan pakan komersil. Pemilihan bahan baku lokal untuk memformulasikan pakan uji ditentukan berdasarkan hasil survei bahan baku yang mengandung nutrien terbaik sesuai dengan kebutuhan ikan nila dan harga yang relatif murah. Pakan uji yang diformulasikan mengandung protein 29%-30%. Performa pakan uji dibandingkan dengan pakan komersil dengan menggunakan uji-T. Setelah diaklimatisasi, benih ikan nila BEST (panjang total 5,7 ± 0,4 cm; bobot 3,1 ± 1,8 g) ditebar secara acak ke dalam enam buah hapa berukuran 2 m × 1 m × 1 m yang terletak di dalam kolam 100 m2 dengan kepadatan 65 ekor/m3 dan diberi pakan uji sebanyak 3% dari total bobot seluruh ikan uji per hari selama tiga bulan masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan nila BEST tidak berbeda nyata antara pakan uji hasil formulasi dengan pakan komersil (P>0,05). Nilai FCR pakan komersil tidak berbeda nyata dibandingkan pakan formulasi. Berdasarkan hasil tersebut, keuntungan dengan menggunakan bahan baku lokal lebih tinggi dibandingkan dengan pakan komersil.The purpose of this study was to compare the utilization effects of locally found feed ingredients in Klungkung, Bali for BEST strain tilapia feed compared to a commercial feed. The selection of local raw ingredients used in the feed formulation was based on the best nutrient composition for tilapia needs and its price determined through a separate survey. Formulated test feed contained 29%-30% protein. The formulated feed performance was compared to the commercial feed using the T-test. After acclimatization, the fish (BEST strain tilapia, total length of 5.7 ± 0.4 cm; weight of 3.1 ± 18 g) were randomly stocked into six hapas, each measuring 2 m × 1 m × 1 m in size placed inside a pond (100 m2) with a density of 65 fish/m3 and fed 3% of the total fish biomass per day for three months rearing period. The results showed that the growth of BEST tilapia was not significantly different between the formulated feed and commercial feed (P>0.05). The FCR value of the commercial feed was not significantly different compared to the formulation feed. Based on these results, the benefit of using local raw materials was higher than that of commercial feed. 
PENGGUNAAN BERBAGAI JENIS FILTER UNTUK PEMELIHARAAN IKAN HIAS AIR TAWAR DI AKUARIUM Bambang Priono; Darti Satyani
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.129 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.76-83

Abstract

Akuarium merupakan salah satu wadah untuk pemeliharaan ikan hias baik tawar maupun laut, betapapun indahnya ikan hias apabila tidak ditunjang dengan penampilan, aksesoris, dan dekorasi yang memadai, maka nilai keindahan akan berkurang. Penggunaan filter untuk mendukung salah satu sintasan ikan hias sangat penting. Terdapat banyak jenis-jenis filter yang dapat digunakan di dalam akuarium, dengan bentuk, desain, ukuran, dan harga yang bermacam-macam pula. Namun demikian, fungsi utama filter sebernarnya adalah untuk (1) menghilangkan atau mengangkat kotoran atau sisa kotoran dari air, (2) mengangkat atau menghilangkan bahan kimia dari air yang membuat air menjadi berwarna (warna coklat)/keruh atau bahan yang tak dikehendaki, dan (3) menghilangkan kotoran ikan dan menguraikan produk atau zat yang beracun menjadi tak beracun untuk ikan.
HIBRIDISASI SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK PENYEDIAAN IKAN UNGGUL Titin Kurniasih; Rudhy Gustiano
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1477.385 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.173-176

Abstract

Upaya peningkatan produksi, yang merupakan target utama pembangunan subsektor perikanan dapat dicapai antara lain melalui perbaikan teknik budi daya dan penyediaan benih yang cukup dan berkualitas. Hibridisasi atau teknik kawin silang, yang bertujuan untuk memperbaiki laju pertumbuhan, menunda kematangan gonad, dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan benih unggul. Di Indonesia, teknik hibridisasi telah berhasil meningkatkan laju pertumbuhan antara lain terhadap ikan-ikan cyprinid, cichlid, clariid, dan pangasiid.
PELESTARIAN SUMBER DAYA TERIPANG MELALUI RESTOCKING DAN BUDI DAYA DI SULAWESI SELATAN Abdul Malik Tangko; Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.728 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.1.2008.70-76

Abstract

Teripang pasir (Holothuria scabra) merupakan salah satu komoditas ekspor dari sektor perikanan yang sudah menurun produksi dan kelestarian sumber dayanya. Hal ini ditandai semakin kurangnya hasil tangkapan dan semakin kecilnya ukuran teripang yang tertangkap. Untuk meningkatkan produksi dan mempertahankan kelestariannya, perlu dilakukan upaya restocking dan budidaya di tambak. Restocking dilakukan dengan menebar benih teripang dari panti benih ke perairan dengan tujuan untuk memperkaya stok populasi teripang tersebut, sedangkan budidaya teripang di tambak, seperti di tambak tanah sulfat masam yang berasosiasi tanah gambut adalah selain bertujuan untuk meningkatkan produksi teripang, juga untuk meningkatkan produktivitas tambak tersebut yang selama ini kurang dimanfaatkan oleh pemiliknya oleh karena tingkat produktivitasnya sangat rendah bila digunakan untuk budidaya udang. Padahal jenis tambak semacam ini cukup luas di Sulawesi Selatan. Dasar pertimbangan untuk pengembangan budidaya teripang pasir di tambak sulfat masam yang berasosiasi tanah gambut adalah hasil temuan di lapangan di mana teripang pasir yang terikut pada saat panen ikan bandeng dan rumput laut mencapai bobot 300--500 g/ekor. Untuk keberhasilan budidaya teripang pasir di tambak tersebut teknik budidaya yang diaplikasikan antara lain padat penebaran 3--5 ekor/m2, pemberian pakan berupa klekap, dedak halus dicampur kotoran ayam dengan dosis dari bobot total biomassa di samping melakukan pemupukan awal dan susulan untuk menumbuhkan pakan alami berupa klekap dan plankton yang merupakan makanan utama bagi teripang. Untuk menjaga kestabilan kualitas air selama pemeliharan dilakukan penggantian air secara teratur mengikuti pola pasang surut.
PENDEDERAN IKAN PATIN DI KOLAM OUTDOOR UNTUK MENGHASILKAN BENIH SIAP TEBAR DI WADUK MALAHAYU, BREBES, JAWA TENGAH Septyan Andriyanto; Evi Tahapari; Irsyaphiani Insan
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.508 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.20-25

Abstract

Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki program berupa industrialisasi perikanan dengan salah satu komoditas unggulannya yaitu ikan patin. Dalam rangka mendukung pengembangan program tersebut, maka dilakukan kegiatan “Pemasyarakatan IPTEK (IPTEKMAS) Pendederan Ikan Patin di Waduk Malahayu, Brebes, Jawa Tengah”, yang bertujuan sebagai transfer teknologi pendederan untuk menghasilkan benih ikan patin dengan ukuran yang siap dibesarkan atau siap ditebar sebagai benih restocking di Waduk Malahayu. Tahapan kegiatan IPTEKMAS ini di antaranya pemilihan lokasi, koordinasi dan sosialisasi, pelatihan dan pendampingan teknologi pendederan ikan patin, serta temu lapang dan restocking benih ikan patin di Waduk Malahayu. Kegiatan yang dilakukan dalam pendederan ikan patin meliputi: persiapan kolam pendederan, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, manajemen kesehatan ikan, dan teknik pemanenan benih. Melalui kegiatan ini dihasilkan benih ikan patin berukuran 4-5 inci atau 10 g, dengan tingkat sintasan benih rata-rata sebesar 98,76%. Manfaat yang diperoleh selain nelayan mampu mendederkan sendiri benih ikan patin sampai ukuran restocking, juga mendukung program restocking di Waduk Malahayu yang berdampak pada peningkatan pendapatan nelayan setempat tanpa merusak lingkungan perairan.
EFEK PEMUASAAN PERIODIK DAN RESPONS PERTUMBUHAN IKAN NILA BEST (Oreochromis niloticus) HASIL SELEKSI Deni Radona; Fitriyah H. Khotimah; Irin I. Kusmini; Tri Heru Prihadi
Media Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Desember, 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.171 KB) | DOI: 10.15578/ma.11.2.2016.59-65

Abstract

Pertumbuhan ikan dapat dipicu dengan pemberian pakan yang baik. Untuk meningkatkan efisiensi diperlukan strategi pemberian pakan melalui pembatasan pakan atau pemuasaan secara periodik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek pemuasaan secara periodik pada ikan nila BEST terhadap laju pertumbuhan dan sintasannya. Ikan nila hasil seleksi dengan kisaran panjang rata-rata 4 cm dan bobot rata-rata 3 g dipelihara pada kolam (4 m x 3 m) dengan ketinggian air 80 cm. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan satu kontrol yaitu (A) ikan yang diberi pakan setiap hari, (B) ikan yang mengalami daur pembatasan pakan periodik 1/1, dipuasakan satu hari dan diberi pakan satu hari, (C) ikan yang mengalami daur pembatasan pakan periodik 3/3, dipuasakan dan diberi pakan selama tiga hari, (D) ikan non-seleksi yang diberi pakan setiap hari; setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Selama 60 hari pemeliharaan ikan diberi pakan berupa pelet (28% protein) sebanyak 3% dari bobot total ikan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila BEST pada perlakuan A memiliki nilai pertumbuhan (panjang dan bobot), biomassa dan konversi pakan yang berbeda nyata (P<0,05) dengan ikan nila non-seleksi pada perlakuan D. Perlakuan B menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan A. Efisiensi pakan pada ikan yang dipuasakan memberikan hasil yang relatif sama dan meminimalkan biaya produksi dengan menggunakan pakan relatif lebih sedikit.Fish growth can be triggered with a good feeding. To increase the efficiency, feeding strategies are needed through feed restriction or periodically fasted. This study aims to determine the effect of periodically fasted on the growth and survival rates of the selected BEST tilapia (Oreochromis niloticus). The fishes with the length and weight average of 4 cm and 3 g, respectively were reared in the pool with the size of 4 m x 3 m and the water height of 80 cm. The study used a completely random design with four treatments and three replication, namely (A) fish fed every day, (B) fish experiencing cycles of periodic feed restriction 1/1, fasted and fed one day, (C) fish experiencing cycles of periodic feed restriction 3/3, fasted and fed for three days, and (D) non-selected with fed every day (control). During the rearing period of 60 days, fish were fed with pelleted commercial diet (28% protein), 3% of total body weight of the fish per day. The results showed that the selected tilapia on the treatment A gave a significant difference (P<0.05) the growth value (length and weight), biomass and food conversion ratio (FCR) with non-selected tilapia in treatment D (control). Meanwhile, treatment B did not show any significant difference (P>0.05) on treatment A. Feed efficiency in fish fasted was obtained to have relatively similar results and minimize the production cost of by using relative less feed.

Page 11 of 33 | Total Record : 328