cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
IKAN GABUS (Channa striata) MANFAAT PENGEMBANGAN DAN ALTERNATIF TEKNIK BUDIDAYANYA Nurbakti Listyanto; Septyan Andriyanto
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.766 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.18-25

Abstract

Ikan gabus (Channa striata) merupakan jenis ikan yang bernilai ekonomis. Di Indonesia penyebarannya antara lain di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Spesies ini memiliki rasa yang khas, tekstur daging tebal dan putih sehingga harganya pun cukup mahal baik dalam bentuk segar maupun kering (ikan asin). Selain itu, memiliki kandungan albumin yang diperlukan tubuh manusia dalam mengatasi berbagai penyakit terutama yang disebabkan berkurangnya jumlah protein darah. Ikan ini termasuk salah satu jenis ikan karnivora air tawar dikarenakan sifatnya yang gemar memangsa ikan-ikan kecil sebagai pakannya. Walaupun memiliki potensi strategis, serta kegunaan yang luas dalam industri pangan maupun farmasi, namun di Indonesia masih belum banyak dibudidayakan karena belum dikuasai teknik budidayanya. Pemeliharaan bersama ikan mujair di kolam, penggunaan campuran pakan buatan kaya nutrisi, serta pemanfaatan tanaman air dalam proses pemijahan merupakan alternatif budidaya yang perlu dikembangkan.
AKTIVITAS OSMOREGULASI, RESPONS PERTUMBUHAN, DAN ENERGETIC COST PADA IKAN YANG DIPELIHARA DALAM LINGKUNGAN BERSALINITAS Wahyu Pamungkas
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.961 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.44-51

Abstract

Salinitas di perairan menimbulkan tekanan-tekanan osmotik yang dapat berbeda dengan tekanan osmotik di dalam tubuh organisme perairan. Hal tersebut menyebabkan organisme harus melakukan mekanisme osmoregulasi di dalam tubuhnya sebagai upaya untuk menyeimbangkan tekanan osmotik di dalam dan di luar tubuh. Proses osmoregulasi merupakan salah satu proses fisiologi yang terjadi dalam tubuh ikan untuk mengontrol konsentrasi larutan dalam tubuh agar seimbang dengan lingkungannya. Ketidakmampuan ikan dalam mengontrol keseimbangan osmotik dalam tubuhnya akan menyebabkan ikan stres dan dapat berakibat pada kematian ikan. Perubahan kondisi lingkungan juga akan mengakibatkan perubahan alokasi energi yang ada di dalam badan ikan. Energi yang seharusnya untuk pertumbuhan akan digunakan untuk melakukan aktivitas metabolisme yang meningkat sebagai akibat dari perubahan kondisi lingkungan. Hal tersebut mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan. Review yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas osmoregulasi, respons pertumbuhan, dan energi yang digunakan pada ikan yang dipelihara dalam media bersalinitas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat metabolisme dan pertumbuhan pada ikan yang dipelihara pada kondisi salinitas yang berbeda.
ARAH RISET BIOTEK-BREEDING PERIKANAN BUDI DAYA KE DEPAN Rudhy Gustiano; Haryanti Haryanti; Sulaeman Sulaeman
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6967.561 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.164-168

Abstract

Sektor perikanan sangat diharapkan menjadi salah satu penghasil devisa yang dapat memberikan solusi terhadap perekonomian nasional. Meskipun budi daya kontribusinya kecil, namun dampak sosial yang diberikan cukup besar bagi masyarakat. Produksi perikanan budi daya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan produksi ini hendaknya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk peningkatan produktivitas dan nilai tambah yang diperoleh. Efisiensi merupakan faktor yang sangat penting dan membutuhkan dukungan riset dan teknologi yang lebih baik. Makalah ini akan menyampaikan arah riset biotek dan breeding ke depan untuk pembangunan perikanan budi daya.
PAKAN BUATAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN DISCUS (Symphysodon discus) DI INDONESIA Eni Kusrini; Bambang Priono
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.163 KB) | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.32-35

Abstract

Ikan discus termasuk ikan hias yang agak sulit untuk dibudidayakan sehingga para pembudidayanya masih sangat terbatas. Cara budidaya yang sekarang sudah perkembang adalah masih secara konvensional. Larva ikan discus yang baru menetas sampai berumur satu minggu masih diasuh induknya karena masih tergantung dari lendir induk sebagai sumber makanannya, sehingga akan menunda induk lebih lama memijah berikutnya  dan kanibalisme dapat terjadi terhadap larvanya sendiri. Artificial food (pakan buatan) yang terbuat dari telur ayam yang dibuat menyerupai lendir induk ikan discus merupakan sebuah inovasi dari pembudidaya ikan discus. Pemberian pakan buatan tersebut selain dapat memacu pematangan gonad induk ikan discus juga dapat menyelamatkan larva yang biasanya dimakan oleh induk-induknya (mengurangi kanibalisme).
PEMELIHARAAN LARVA KEPITING BAKAU, Scylla olivacea DENGAN PENAMBAHAN BIOFLOK Gunarto Gunarto; Herlinah Herlinah
Media Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.595 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.1.2014.19-27

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat pada Full PDF Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penambahan bioflok pada pemeliharaan larva kepiting bakau Scylla olivacea terutaman pada sintasan dan perkembangan larva hingga mencapai stadia krablet.
PLASMA NUTFAH IKAN HIAS SUMATERA Sudarto Sudarto
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4491.356 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.67-92

Abstract

Data yang dikemukakan atau disampaikan oleh para ekportir ikan hias mempunyai kecenderungan adanya eksploitasi ikan hias air tawar dari alam. Banyak jenis yang diekspor umumnya berasal dari Indonesia bagian Barat khususnya dari Sumatera dan Kalimantan. Data ini dapat dikumpulkan melalui kompilasi dari para stakeholder ikan hias dan penelusuran ke sentra penangkapan ikan hias melalui survai lokasi khususnya ikan hias air tawar Sumatera. Lebih dari 100 spesies, termasuk ke dalam 31 famili telah dikompilasi dari lokasi-lokasi sentra ikan hias. Data ini khususnya merupakan gambaran jenis plasma nutfah dan potensi ikan hias asal Sumatera yang dapat dipakai untuk pengembangan di masa mendatang.
PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT: IMPLIKASI PENERAPAN BLUE ECONOMY DI TELUK SEREWEH, NUSA TENGGARA BARAT Erlania Erlania; I Nyoman Radiarta
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.978 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.97-101

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas budidaya yang juga berperan dalam perbaikan kualitas lingkungan perairan, sehingga dijadikan sebagai salah satu komponen pengembangan budidaya laut dengan konsep ekonomi biru (blue economy). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi perairan bagi pengembangan budidaya rumput laut sebagai implikasi penerapan blue economy di Teluk Sereweh, Nusa Tenggara Barat. Pengumpulan data lapangan meliputi beberapa paremeter kualitas perairan pada 32 titik pengamatan in situ dan 16 titik pengamatan ek situ yang disebar pada seluruh kawasan penelitian, serta kondisi existing budidaya rumput laut melalui wawancara langsung dengan masyarakat pembudidaya. Data yang terkumpul digunakan untuk mengestimasi daya dukung lingkungan perairan untuk budidaya rumput laut dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif yang ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kondisi perairan Teluk Sereweh sangat baik untuk pengembangan budidaya rumput laut dengan daya dukung mencapai 93,3 ha untuk sistem long line dan 142,2 ha untuk sistem rakit apung. Namun pemanfaatan kawasan perairan untuk budidaya rumput laut perlu diatur berdasarkan daya dukung perairan tersebut, sehingga dapat menghasilkan produksi yang optimum, dan rumput laut sebagai komponen budidaya berbasis blue economy dapat memperlihatkan peranannya untuk mendukung keberlanjutan usaha budidaya rumput lautoleh masyarakat pesisir.
YOLK OPAQUE SYNDROME PADA TELUR IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) Gusti Ngurah Permana; Jhon Harianto Hutapea; Ketut Sugama
Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6762.307 KB) | DOI: 10.15578/ma.2.1.2007.137-141

Abstract

Yolk opaque syndrome merupakan suatu kejadian di mana secara tiba-tiba telur atau larva yang menetas terserang endoparasit yang ditunjukkan dari warna telur atau larva keruh. Infeksi ini terjadi pada telur ikan tuna di Kinki University Jepang, larva ikan cod (Gadus morhua) dan ikan turbot (Scopthalmus maximus), serta ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares), sehingga perlu kiranya diketahui tentang penyebab dan cara pencegahan. Kemungkinan besar endoparasit ini termasuk protozoa karena mampu bergerak dengan menggunakan flagella. Hal ini mengindikasikan bahwa endoparasit (Icthtyodinium chabelardii) menyerang telur ikan tuna di dalam bak terkontrol dan infeksinya terjadi adalah secara horizontal yang berasal dari air media pemeliharaan.
OPTIMALISASI SUMBERDAYA LAHAN UNTUK BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Erna Ratnawati
Media Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.718 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.2.2013.101-113

Abstract

Kabupaten Luwu Utara (Lutra) memiliki lahan potensial untuk tambak dan perubahan luas lahan tambak yang cukup besar, tetapi produktivitas tambak untuk budidaya udang dan ikan yang rendah. Oleh karena itu, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maros telah melakukan serangkaian penelitian yang bertujuan untuk mengetahui luas potensi lahan, kesesuaian lahan, dan kebutuhan faktor lingkungan untuk budidaya rumput laut di tambak Kabupaten Lutra yang hasilnya dirangkum dalam makalah ini. Tambak di Kabupaten Lutra meningkat dari 4.938,84 ha pada tahun 2002 menjadi 7.838,94 ha pada tahun 2005. Potensi lahan tambak di Kabupaten Lutra mencapai 11.299,00 ha yang terdiri atas lahan tambak yang ada seluas 7.838,94 ha dan potensial lahan tambak seluas 3.460,06 ha. Dari luas potensi lahan tambak di Kabupaten Lutra, ternyata 3.527,3 ha tergolong sangat sesuai (kelas S1); 490,9 ha tergolong cukup sesuai (kelas S2); dan 7.280,8 ha tergolong kurang sesuai (kelas S3). Produksi rumput laut yang tinggi dapat diperoleh di tambak Kabupaten Lutra pada tanah dengan pHF lebih besar 6,5; pHFOX lebih besar 4,0; pHF -pHFOX kurang dari 2,5; dan SPOS kurang dari 1,00%. Kandungan Fe tanah yang melebihi 5.000 mg/L dan Al yang melebihi 490 mg/L menyebabkan penurunan produksi rumput laut. Peningkatan kandungan PO4 tanah lebih besar dari 6,0 mg/L dapat meningkatkan produksi rumput laut secara signifikan. Produksi rumput laut tertinggi didapatkan pada salinitas air 25,6 ppt dan rumput laut tumbuh baik pada kisaran pH antara 6,00 dan 9,32; fosfat lebih besar 0,1000 mg/L; dan besi kurang dari 0,1000 mg/L.
PERSIAPAN DAN PENYUSUNAN BAHAN BAKU LOKAL UNTUK FORMULASI PAKAN IKAN Kamaruddin Kamaruddin; Usman Usman; Abdul Malik Tangko
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.799 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.150-156

Abstract

Usaha budidaya ikan dalam keramba jaring apung masih mengandalkan pasok pakan alami berupa ikan rucah yang dapat mencapai 60%--70% dari total biaya produksi. Karena itu perlu pengadaan pakan buatan yang memenuhi persyaratan kebutuhan nutrisi bagi pembesaran ikan, baik makro maupun mikro nutrien diperlukan sebagai informasi dasar dalam upaya pengembangan pakan buatan. Terdapat banyak bahan baku lokal yang sangat potensial dijadikan bahan baku pakan, seperti: ikan rucah, rebon, kepala udang (limbah cold storage), tepung darah (limbah pemotongan hewan), dan tepung DOC (limbah penetasan ayam). Dari beberapa bahan baku tersebut telah dianalisis kandungan nutrisinya dan telah dilakukan uji kecernaan masing-masing bahan menunjukkan bahwa bahan tersebut dapat mensubstitusi bahan baku impor tepung ikan sebagai sumber protein hewani. Selain bahan hewani, juga telah dilakukan analisis kandungan nutrisi bahan nabati lokal, seperti pemanfaatan bungkil kelapa sawit, bungkil kopra, dan dedak halus. Untuk menghasilkan pakan yang berkualitas, maka semua bahan harus dalam bentuk tepung yang halus, serta mempunyai keseimbangan antara protein, lemak, dan energi serta suplemen vitamin dan mineral.

Page 9 of 33 | Total Record : 328