cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
ANALISIS KAWASAN POTENSIAL UNTUK TAMBAK SUPER-INTENSIF DI PESISIR KABUPATEN BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN Hasnawi Hasnawi; Tarunamulia Tarunamulia; Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.913 KB) | DOI: 10.15578/ma.11.1.2016.35-46

Abstract

Tambak teknologi super-intensif tidak memerlukan lahan budidaya yang luas, produksi yang tinggi dimungkinkan dengan padat tebar tinggi dan input teknologi. Keberhasilan teknologi ini sangat ditentukan oleh lokasi budidaya yang tepat, infrastruktur yang memadai dan memenuhi standar, dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta dukungan faktor sosial yang menjadi penentu penerapan dan keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi potensial pengembangan tambak super-intensif di kawasan pesisir Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahap awal, kawasan pesisir yang potensial diidentifikasi melalui analisis elevasi lahan dari citra satelit Aster GDEM dan penggunaan lahan dari data Google Earth. Selanjutnya faktor sosial berupa potensi konflik dengan penggunaan lahan saat ini menjadi data awal yang dikumpulkan sebelum dilakukan pengukuran variabel lain. Variabel yang diobservasi langsung antara lain; elevasi lahan, tekstur tanah, ketersediaan infrastruktur pendukung, pasang surut, penggunaan lahan saat ini, dan kualitas perairan dilakukan di sekitar lokasi potensial terpilih. Analisis data dilakukan dengan mengaplikasikan sistem informasi geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi potensial dijumpai di Desa Pancana Kecamatan Tanete Rilau dengan luas kawasan sekitar 17,5 ha. Variabel yang diidentifikasi menjadi pembatas utama untuk pengembangan tambak super-intensif di kawasan tersebut adalah elevasi lahan dan keberadaan potensi konflik dengan penggunaan lahan saat ini.A super-intensive pond technology does not require extensive land cultivation, however the high production is expected from its ability to increase stocking density particularly for vannamei species. The success of this technology is highly depend upon proper site selection, availability of supporting infrastructure, the availability of wastewater treatment plant (WWTP), and supporting of social factor determining the implementation and sustainability. The objective of this study was to determine the potential sites for the development of super-intensive pond in Barru Regency, South Sulawesi Province. Social factors such as potential conflicts with existing land uses were employed as quick assessment prior to the measurement of other variables including: land elevation, soil texture, availability of supporting infrastructure, tidal characteristics, and existingland uses. These biophysical variables were collected through a direct observation in the potential coastal areas which were previously delineated through the analysis of land elevation data from GDEM Aster satellite imagery, Google Earth data, and secondary data. Data were analysed using geographic information system (GIS). The analysis identified a total of 17.5 ha coastal area located in Pancana Village, Tanete Rilau District to be a suitable location for super-intensive aquaculture ponds of vanname shrimp. The major constraining variables for super-intensive ponds development in the study site were land elevation and the presence of potential conflict with existing land uses.
POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA ABALON DI NUSA PENIDA, BALI Rasidi Rasidi; Idil Ardi; Joni Haryadi
Media Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8843.886 KB) | DOI: 10.15578/ma.9.2.2014.77-81

Abstract

Abstrak lengkap dapat dilihat di file PDF
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI LAHAN GAMBUT Gleni Hasan Huwoyon dan Rudhy Gustiano Gleni Hasan Huwoyon; Rudhy Gustiano
Media Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (Juni 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.001 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.1.2013.13-21

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kawasan gambut tropika terluas di dunia, berkisar antara 13,5-26,5 juta ha (rata-rata 20 juta ha). Luas area gambut tersebut merupakan 50% gambut tropika dunia. Untuk mengoptimalkan potensi lahan gambut melalui perikanan diperlukan suatu strategi untuk menanggulangi masalah pH rendah. Pilihan strategi yang dapat diterapkan melalui pendekatan biologis adalah dengan memanfaatkan secara optimal ikan lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan tersebut selain itu, strategi pendekatan secara biologis lainnya adalah dengan melakukan introduksi ikan-ikan dari luar dan hasil rekayasa yang tahan terhadap perairan gambut. Beberapa jenis ikan yang telah diintroduksi dan mulai dikembangkan di perairan gambut adalah ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus), lele dumbo (Clarias gariepienus), dan ikan nila (Oreochromis niloticus) strain BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia). Untuk mendukung pengembangan budidaya yang berkelanjutan diperlukan adanya pemahaman pengelolaan lingkungan yang benar di perairan gambut. Untuk mengoptimalkan potensi yang ada perlu adanya transfer teknologi dalam pengembangan ikan-ikan yang berpotensi untuk dibudidayakan di perairan gambut agar kesejahteraan dan pembangunan daerah khususnya berbasis perikanan dapat tercapai.
APLIKASI REKAYASA GENETIK PADA BUDIDAYA IKAN DI INDONESIA Otong Zenal Arifin; Muhammad Hunaina Fariddudin Ath-thar; Rudhy Gustiano
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.473 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.76-83

Abstract

Perbaikan mutu genetik ikan merupakan suatu langkah lanjut dari kegiatan budidaya ikan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas suatu komoditas apabila teknologi budidaya sudah optimal diterapkan. Strategi perbaikan mutu genetik dapat dilakukan baik secara konvensional melalui seleksi dan hibridisasi atau molekuler melalui rekayasa genetik. Di Indonesia, upaya perbaikan mutu genetik melalui rekayasa genetik telah mulai dilakukan sejak tahun 1980. Rekayasa genetik yang pertama kali diterapkan adalah manipulasi set kromosom untuk menghasilkan klon ginogen yang dapat mempercepat pemurnian galur dan poliploidi untuk menghasilkan populasi ikan yang memiliki set kromosom lebih dari 2N. Aplikasi rekayasa genetik yang kedua adalah manipulasi kelamin untuk memanfaatkan potensi “sexual dimorphisms” pada pertumbuhan ikan konsumsi dan sifat eksotis pada ikan hias. Aplikasi rekayasa genetik yang ketiga adalah transgenik atau DNA rekombinan. Teknologi, aplikasi, perkembangan, potensi, dan  manfaat rekayasa genetik di atas bagi perkembangan budidaya ikan di Indonesia diuraikan dalam makalah ini.
INFEKSI BAKTERI Streptococcus iniae PADA IKAN UDIDAYA DI INDONESIA Hambali Supriyadi
Media Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.773 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.2.2006.71-74

Abstract

liat lengkapnya di file PDF
STEAM DALAM PEMBUATAN PAKAN UNTUK KOMODITAS AKUAKULTUR Sukarman Sukarman
Media Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.955 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.2.2010.123-128

Abstract

Kualitas fisik pakan (pelet) untuk hewan akuakultur sangat penting, karena akan dimasukkan ke dalam air dan diharapkan tidak banyak mencemari lingkungan. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam menjaga kualitas fisik pakan adalah penambahan dan pengaturan steam pada saat proses pembuatan pelet. Steam adalah aliran gas yang dihasilkan oleh air pada saat mendidih. Steam dibagi menjadi 3 jenis yaitu steam basah, saturated steam, dan superheated steam. Steam yang digunakan dalam proses pembuatan pelet adalah saturated steam. Pengaruh penambahan steam pada kualitas pelet bisa mencapai 20%. Penambahan steam dengan jumlah dan kualitas yang tepat akan menghasilkan pelet berkualitas. Sedangkan jika pengaturan dan penambahannya tidak tepat, maka kualitas fisik pelet akan rendah dan kemungkinan bisa merusak kandungan nutrisi seperti vitamin dan protein. Penambahan steam yang benar bisa dilakukan di dalam kondisioner dengan mengatur retention time, sudut kemiringan paddle conditioner, kecepatan putaran bearing dan menjaga kualitas steam dari mesin boiler sampai dengan kondisioner.
INDUSTRIALISASI IKAN TILAPIA: PENGALAMAN BERHARGA DARI CINA SEBAGAI PRODUSEN UTAMA TILAPIA DI DUNIA Estu Nugroho
Media Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.612 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.2.2012.103-107

Abstract

Pengalaman Cina sebagai salah satu pemasok utama komoditas ikan nila di dunia dapat dijadikan pelajaran yang berharga bagi Indonesia yang telah menetapkan visinya sebagai penghasil produk perikanan yang terbesar di dunia pada tahun 2014. Berangkat dari upaya untuk memenuhi kebutuhan pasar akan pasokan daging nila, Cina telah berhasil mengembangkan suatu sistem industrialisasi yang komprehensif yang terdiri atas tiga pilar utama yaitu penggunaan benih unggul, pengembangan produksi secara massal dengan teknologi yang tepat guna dan pengolahan produk hasil budidaya yang efisien.
BUDIDAYA IKAN PATIN DI VIETNAM: Suatu Kajian Untuk Pengembangan Budidaya Ikan Patin Indonesia Nina Meilisza
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.986 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.26-31

Abstract

Budidaya ikan patin telah lama dilakukan di Indonesia dan menjadi salah satu komoditas penting dalam dunia perikanan. Ikan patin tidak hanya populer sebagai ikan konsumsi namun juga disukai sebagai ikan hias saat masih kecil karena bentuk, warna dan pergerakannya yang indah. Perkembangan budidaya ikan patin di Indonesia tidak secepat yang terjadi di Vietnam. Sebagai negara yang memiliki luas lahan perairan umum dan potensi sumberdaya manusia yang cukup besar, Indonesia hanya mampu menempati posisi kelima dalam produksi patin dunia. Produksi ikan patin Vietnam mencapai jumlah 1,2 juta ton di tahun 2007, sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 36.250 ton. Perbandingan ini sangat signifikan dan menjadi pertanyaan besar apa saja yang telah dilakukan oleh pelaku perikanan kita. Budidaya ikan patin telah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian Vietnam dan menjadi penggerak roda ekonomi masyarakatnya. Keberhasilan Vietnam perlu dipelajari dan dikaji sebagai acuan dalam mengembangkan budidaya ikan patin di Indonesia.
EVALUASI PERFORMA BIBIT RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa HASIL KULTUR JARINGAN DI KABUPATEN LUWU, SULAWESI SELATAN Makmur Makmur; Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.164 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.1-9

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa bibit rumput laut Gracilaria verrucosa. hasil kultur jaringan yang dibudidayakan di salah satu daerah sentra produksi rumput laut di Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan di Desa Murante Kecamatan Suli Kabupten Luwu, Sulawesi Selatan pada 2014 selama tiga siklus pemeliharaan dengan lama pemeliharaan 40 hari/siklus. Luasan tambak yang digunakan pada siklus pertama adalah 1,2 ha; siklus kedua 2 ha; dan siklus ketiga 4 ha. Sebagai perlakuan adalah bibit rumput laut hasil kultur jaringan dibandingkan dengan rumput laut lokal sebagai kontrol. Padat penebaran bibit rumput laut adalah 1.000 kg/ha yang dipelihara dengan metode tebar dasar. Penimbangan rumput laut dilakukan pada awal dan akhir penelitian untuk mengetahui laju pertumbuhan harian (LPH) dan produksi, sedangkan kandungan agar dianalisis setelah panen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel. Dari tiga siklus budidaya menunjukkan bahwa bibit rumput laut hasil kultur jaringan memiliki performa pertumbuhan, produksi, dan kandungan agar yang lebih tinggi dibandingkan bibit rumput laut lokal dengan perbedaan masing-masing 12,1%; 17,8%; dan 6,7%. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada siklus kedua, sedangkan kandungan agar tertinggi terjadi pada siklus ketiga baik pada bibit hasil kultur jaringan maupun bibit lokal. Bibit rumput laut Gracilaria sp. hasil kultur jaringan dapat dijadikan alternatif sumber bibit yang berkualitas.This study was aimed to evaluate the performance of G. verrucosa seaweed seed produced from tissue culture and cultivated at the seaweed production center in Murante Village Suli District Luwu Regency South Sulawesi in 2014. The seeds were cultivated for three production cycles, with each cycle lasted for 40 days. The first culture period was conducted in 1.2 ha, the second in 2 ha, and the third in 4 ha of pond areas. The treatments consisted of two different seaweed seed sources, i.e: tissue cultured seaweed seed and local seaweed as a control. The seaweed stocking density used was 1.000 kg/ha cultivated using broadcast method. The daily growth rate (DGR) and biomass as production indicators were measured at the initial and the end of the culture period. The agar yield was measured after harvest. The data were analyzed descriptively and presented in graphical visualization and data tabulation. The present study showed that tissue cultured seaweed had a higher performance in terms of growth, biomass production, and agar yield with the values of 12.1%, 17.8%, and 6.7%, respectively, than that of the local seedling. The highest DGR was produced at the second cycle, and the highest agar yield was measured at the third cycle for both of seaweed seedlings. Given this result, tissue cultured seaweed can be an alternative source of quality seeds.
PROFIL PERTUMBUHAN, ENZIMATIS, DAN NUTRISI IKAN BANDENG (Chanos chanos) GENERASI KEDUA (G-2) TERSELEKSI DENGAN MENERAPKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMELIHARAAN LARVA Daniar Kusumawati; Zafran Jamaris; Titiek Aslianti
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.463 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.55-66

Abstract

Isu nasional menurunnya produksi budidaya ikan bandeng di tambak pantai utara Pulau Jawa didugasebagai akibat rendahnya kualitas benih produk Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) di Bali, yang secara kontinu merupakan sumber utama pasok benih. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas benih, antara lain kualitas telur dan induk, serta manajemen pemeliharaan induk dan larva. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan,aktivitas enzim pencernaan dan nutrisi benih ikan bandeng dari HSRT dan generasi kedua (G2) terseleksi yang dipelihara berdasarkan standar operasional prosedur. Penelitian dilakukan di tambak Pejarakan, dengan hewan uji benih produk HSRT dan benih generasi ke-2 (G-2) terseleksi dengan panjang total rata-rata 11,79 ± 1,64 mm, masing-masing dengan padat tebar 5.000 ekor/petak dengan luasan 0,5 Ha/petak, diberi pakan jenis pelet kering berkadar protein 25 % dan dipelihara selama 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan performa benih ikan bandeng dipengaruhi oleh sumber induk dan manajemen pemeliharaan saat larva. Pertumbuhan benih ikan bandeng asal HSRT dengan SOP pemeliharaan larva menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan panjang dan bobot sebesar 10,11% dan 47,18% lebih tinggi dibandingkan benih G2-terseleksi, dan 13,82% dan 50,55% lebih tinggi dibandingkan benih HSRT tanpa SOP. Aktivitas enzimatis pada benih HSRT dengan SOP lebih efisien dibandingkan benih G2-terseleksi. Aktivitas enzimatis pada benih HSRT tanpa SOP adalah yang paling rendah dimana hal ini terlihat dari laju pertumbuhannya yang juga paling rendah. Benih HSRT yang dipelihara dengan SOP mampu menekan rasio konversi pakan sebesar 28,29% lebih rendah dibandingkan benih G2-terseleksi, dan 22,64% dibandingkan benih HSRT yang dipelihara tanpa SOP. Currently, there is a national concern regarding the decreasing of milkfish production from ponds in North Java allegedly due to a low quality of milkfish seed produced by small-scale hatcheries in Bali, which is the main producer of milkfish seed. Some factors can influence seed quality, such as quality of egg and broodstock also rearing management of broodstock and larvae. The aim of this experiment was to evaluate morphological aspect (growth rate) and biological aspect (digestive enzymes activities) of seed from backyard hatchery and selected G2 milkfish. Research on grow-out of milkfish seed was conducted at the IMRAD ponds facility in Pejarakan, using milkfish seed produced by small-scale hatcheries as well as selected second-generation (G-2) seed, each with the density of 5,000 seed/pond (1 pond=0.5 ha). The seeds were fed with dry pellet and reared for 6 months.The result showed performance of seed in terms of morphological and biological influenced by broodstock itself and larvae rearing management.The growth of seed of HSRT origin with larvae rearing SOP had increased the length of and weight growth rates of 10.11% and 47.18%, respectively compared to seed G2 selected and 13.82% and 50.55% from seed HSRT without SOP. Enzymatic activity in HSRT seed with SOP was more efficient than that of selected G2 seed. Enzymatic activity in HSRT seed without SOP was the lowest in which correlated to the lowest growth. Seed from HSRT origin with SOP had better feed conversion ratio which was 28.29% lower than that of selected G2 seed and 22.64% lower than that of HSRT seed without SOP.