cover
Contact Name
Muhammad Syahrir
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ma.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Sungai Musi Km. 09 Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone, Sulawesi
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Akuakultur
ISSN : 19076762     EISSN : 25029460     DOI : 10.15578/ma
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 328 Documents
PENGARUH MASA TANAM TERHADAP KUALITAS RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii Rohama Daud
Media Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.201 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.2.2013.135-138

Abstract

Budidaya rumput laut memliki peranan yang sangat penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan serta memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Beberapa kendala yang masih dijumpai di lapangan antara lain kualitas hasil panen yang masih rendah akibat pemanenan rumput laut yang lebih awal dari waktu panen yang seharusnya (6-7 minggu), akibat permintaan rumput laut cukup tinggi. Percobaan ini bertujuan untuk memperlihatkan kandungan nilai gizi rumput laut yang dipanen pada masa tanam 10, 20, dan 30 hari. Jenis rumput laut yang ditanam adalah Kappaphycus alvarezii yang dibudidayakan di sekitar perairan Teluk Maumere Desa Kojadoi Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Metode budidaya rumput laut yang digunakan adalah metode tali panjang (long line), dengan panjang tali 35 m sebanyak 750 bentangan. Jarak antara bentangan 1 m, jarak tanam yang diaplikasikan adalah 15 cm, dengan bobot awal bibit 50 g. Setiap 10 hari sampel diambil secara acak untuk dianalisis proksimatnya (kadar air, protein, karbohidrat, serat, dan abu), sehingga diperoleh masa tanam 10, 20, dan 30 hari. Sebelum dianalisis, rumput laut tersebut dijemur selama 3 hari sampai kering. Untuk mengetahui kadar air, abu, lemak, dan serat kasar, rumput laut dianalisis dengan menggunakan metode gravimetrik, sedang kadar protein dan BETN dengan metode trimetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air, abu, lemak, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) menurun seiring dengan lamanya masa tanam, sedangkan kadar protein dan serat kasar meningkat seiring dengan lamanya masa tanam.
BEBERAPA TEKNIK TRANSPORTASI IKAN LAUT HIDUP DAN FASILITASNYA PADA PERDAGANGAN IKAN LAUT DI BELITUNG Philip Teguh Imanto
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1212.243 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.181-188

Abstract

Permintaan produk perikanan laut di masa datang tidak dapat dipenuhi hanya dari hasil penangkapan, sehingga produksi hasil budidaya akan memegang peranan sangat penting pada pemenuhan kebutuhan ikan yang berkualitas, karena dapat disampaikan dalam kondisi hidup. Teknik transportasi ikan laut hidup menjadi faktor utama bagaimana menyampaikan produk budidaya sebaik mungkin. Observasi pada kegiatan transportasi ikan laut hidup dilakukan di wilayah budidaya laut di Belitung bertujuan untuk mengetahui perkembangan teknologi transportasi ikan laut hidup dan faktor-faktor penting dalam penyelenggaraannya. Wawancara dan dokumentasi dilakukan sebagai cara untuk menghimpun data dan informasi. Hasil observasi menunjukkan ada tiga bentuk teknik transportasi ikan laut hidup di wilayah Belitung, yaitu transportasi laut, transportasi darat, dan transportasi udara. Faktor yang berperan pada transportasi ikan laut hidup adalah kualitas media, pemuasaan, pendinginan, pembiusan, oksigenasi, dan kadar garam. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan proses-proses pencernaan, metabolisme hingga konsumsi oksigen. Butir penting dari transportasi ikan laut hidup adalah menurunkan tingkat konsumsi oksigen serendah mungkin, meniadakan pencemaran pada media pengangkut, menstabilkan kondisi oksigen terlarut dan suhu media pengangkut, serta meningkatkan daya angkut.
PENENTUAN BAKTERI SULFAT REDUCING BACTERIA (SRB) DAN SULFUR OXIDAZING BACTERIA (SOB) DENGAN MENGGUNAKAN PELARUT YANG BERBEDA Nurjanna Nurjanna; Ahmadirrahman Fajrihanif
Media Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (Juni 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.727 KB) | DOI: 10.15578/ma.5.1.2010.47-50

Abstract

Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui populasi bakteri pereduksi sulfat dan pengoksidasi sulfur pada sedimen tambak menggunakan larutan pengencer yang berbeda. Sampel sedimen sebanyak 5 g digerus dengan lumpang penggerus yang steril hingga homogen. Dua jenis larutan pengencer yang steril yaitu larutan garam fisiologis (NaCl 0,85%) 9 mL dan larutan Artificial Sea Water (ASW) atau larutan air laut buatan 9 mL disiapkan. Selanjutnya masing-masing 1 g sedimen tambak yang telah homogen dimasukkan ke dalam larutan pengencer tersebut, kemudian divortex hingga homogen. Setelah homogen masing-masing diambil 100 L, kemudian dimasukkan dalam media penumbuh bakteri SRB dan SOB dalam microplate 24 lubang yang telah disiapkan sebelumnaya. Biakan tersebut kemudian diinkubasi secara Anaerobik selama 12 hari untuk bakteri SRB dan 14 hari untuk SOB. Pengamatan populasi bakteri SRB dilakukan dengan melihat adanya perubahan warna media dari warna merah muda menjadi warna hitam, sedangkan bakteri SOB dapat dilihat dengan adanya perubahan dari warna biru muda menjadi merah bata setelah penambahan larutan kalium iodid (larutan KI 1%) sebanyak 1 mL/lubang microplate. Hasil percobaan menunjukkan bahwa populasi bakteri SRB dengan menggunakan pelarut ASW dan garam fisiologis relatif sama terutama pada percobaan periode II dan IV. Sedangkan populasi bakteri SOB relatif lebih tinggi pada penggunaan pelarut garam fisiologis (NaCl 0,85%) dibanding pelarut ASW.
PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS KOI (Cyprinus carpio) LOKAL DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS DEPOK Eni Kusrini; Sawung Cindelaras; Anjang Bangun Prasetio
Media Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.964 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.2.2015.71-78

Abstract

Salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar internasional dan merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi (Cyprinus carpio). Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi, Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomian masyarakat dan menjadikannya sebagai alternatif penghasilan selain padi. Guna mendukung produksi ikan hias koi di beberapa sentra yang ada, dilakukan penelitian untuk mengembangkan budidaya secara intensif yang dilakukan pada lingkungan terkontrol melalui perbaikan teknologi budidaya. Penelitian dilakukan skala lapang di BPPBIH dengan metode survai ke sentra produksi untuk koleksi induk, pembenihan, dan pembesaran dengan menggunakan kolam tanah serta kolam beton untuk pemijahan dan inkubasi telur. Hasil dari penelitian ini berupa data dan informasi teknik budidaya dan produksinya yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi budidaya ikan hias koi.
PENCEMARAN DETERJEN DALAM PERAIRAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP ORGANISME AIR Imam Taufik
Media Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2115.84 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.1.2006.25-32

Abstract

Deterjen merupakan bahan pembersih yang terbuat dari bahan kimia sintetis dengan komonen utama berupa surfaktan. Karena dianggap bukan bahan berbahaya atau toksik maka sebagian limbah penggunaan deterjen sering dibuang ke dalam perairan sehingga merupakan sumber pencemeran yang potensial
BUDIDAYA LOBSTER (Panulirus sp.) DI VIETNAM DAN APLIKASINYA DI INDONESIA Akhmad Mustafa
Media Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.301 KB) | DOI: 10.15578/ma.8.2.2013.73-84

Abstract

Desa Xuan Tun di Kecamatan Van Ninh Kota Nha Trang Provinsi Khanh Hoa merupakan lokasi pertama kegiatan budidaya lobster di Vietnam yang dilakuan pada tahun 1992. Secara umum di Kota Nha Trang, ada tiga jenis lobster yang dibudidayakan yaitu lobster mutiara (Panulirus ornatus), lobster pasir (Panulirus homarus), dan lobster batik (Panulirus longipes), karena benih lobster tersebut mudah didapat pada awalnya, cepat tumbuh, berukuran besar, warna cerah, dan memiliki harga yang tinggi. Kegiatan budidaya lobster pada dasarnya terdiri atas: penangkapan benih lobster, produksi tokolan lobster, dan pembesaran lobster yang masing-masing merupakan segmen usaha tersendiri. Pakan yang digunakan dalam produksi tokolan dan pembesaran lobster adalah berupa udang, kerang, tiram, cumi-cumi, dan ikan rucah, di mana sebagian besar dari pakan tersebut digunakan ikan rucah terutama pada pembesaran lobster. Sebagai akibat penggunaan pakan tersebut dan peningkatan jumlah keramba jaring apung yang cukup signifikan berdampak pada penurunan kualitas perairan yang memicu berkembangya penyakit susu (milky haemolymph disease) sehingga terjadi penurunan produksi. Terkait dengan hasil yang didapatkan tersebut, ke depan diperlukan berbagai kegiatan termasuk untuk dapat diaplikasikan di Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi: produksi benih lobster secara buatan di hatcheri dan penggunaan pakan buatan berupa moist pellet. Upaya pencegahan penyakit susu dan perlakuan-perlakuan praktis untuk mencegah perkembangan serangan penyakit susu juga perlu mendapat perhatian. Perkembangan budidaya lobster yang begitu cepat memicu terjadinya penurunan daya dukung lahan. Oleh karena itu, kegiatan untuk menentukan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan menjadi penting untuk dilakukan untuk menentukan lokasi dan jumlah keramba jaring apung yang dapat dioperasikan. Penentuan daya dukung lahan dan evaluasi kesesuaian lahan tidak hanya dilakukan pada daerah yang sudah berkembang pesat seperti di Vietnam, tetapi juga pada daerah yang baru memulai pengembangan budidaya lobsternya seperti di Indonesia untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan penurunan produksi dan ketidakberlanjutan usaha budidaya lobster di masa akan datang.
PERANAN PENGAPURAN DAN FAKTOR FISIKA KIMIA AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax sp.) Titin Kurniasih
Media Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.409 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.2.2008.126-132

Abstract

Pertumbuhan lobster air tawar (Cherax sp.) hanya akan terjadi apabila didahului oleh proses pergantian kulit. Semakin sering pergantian kulit terjadi, maka pertumbuhannya makin pesat. Frekuensi ganti kulit dipengaruhi umur, kecukupan makanan dan kalsium media, serta kualitas air yang sesuai. Kadar kalsium perairan dapat ditingkatkan melalui pengapuran. Kualitas air yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan Cherax sp. antara lain: alkalinitas, pH, oksigen terlarut, suhu, amoniak, dan nitrit.
ANALISIS BAHAN DAN MANFAATNYA DALAM MENYUSUN FORMULASI PAKAN IKAN BUDI DAYA Abdul Mansyur; Kamaruddin Kamaruddin
Media Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1113.913 KB) | DOI: 10.15578/ma.1.3.2006.113-117

Abstract

SELENGKAPNYA LIHAT PADA FILE pdf
BEBERAPA ASPEK PENTING DALAM BUDIDAYA UDANG VANAMEI (Litopenaeus vannamei ) DENGAN SISTEM PEMUPUKAN SUSULAN DI TAMBAK (TRADISIONAL PLUS) Gunarto Gunarto
Media Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (Juni 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2042.858 KB) | DOI: 10.15578/ma.3.1.2008.15-24

Abstract

Sebagian besar tambak di Indonesia dikelola secara tradisional oleh petambak yang rata-rata bermodal kecil. Untuk itu, teknologi budidaya udang vanamei pola tradisional plus perlu dikembangkan misalnya dengan sistem pemupukan susulan sehingga akan diperoleh teknologi budidaya yang murah tetapi menguntungkan bagi petambak tradisional. Beberapa faktor penting yang sangat perlu diperhatikan agar supaya berhasil dalam budidaya udang vanamei pola tradisional plus, di antaranya adalah persiapan tambak harus maksimal, pemilihan dan penanganan benur harus betul, kontruksi tambak meskipun untuk pola tradisional harus didisain agar air baru mudah masuk ke tambak dan air buangan beserta limbahnya dapat segera keluar dari pelataran tambak, cara pengelolaan air sistem resirkulasi atau penggantian air hanya dilakukan saat terjadi air pasang tinggi. Penggunaan fermentasi probiotik dan peningkatan upaya biosekuritas di sekitar lingkungan tambak. Dengan memperhatikan faktor-faktor penting tersebut, meskipun udangdipelihara pada musim kemarau dengan kadar garam tinggi (53--34 ppt) dengan hanya mengandalkan pemupukan susulan 750 g urea dan 375 g SP-36/500 m2 serta penambahan fermentasi probiotik sebanyak 3 mg/L per minggu ternyata masih bisa panen dengan masa pemeliharaan lebih singkat yaitu 76 hari. Produksi pada kepadatan 1, 3, 5, dan 7 ekor/m2 masing-masing pada kisaran 4,1--8,69 kg/500 m2 (82--173,8 kg/ha); 8,7--10,7 kg/500 m2 (174--214 kg/ha); 4,27--10,55 kg/500 m2 (175,6--211 kg/ha); dan 11,6--17,5 kg/500 m2 (232--350 kg/ha).
KARAKTER FENOTIPE DAN GENOTIPE IKAN MAS “MERAH MENYALA” NAJAWA DARI CANGKRINGAN, JOGJAKARTA SERTA POTENSI EKONOMISNYA Estu Nugroho; Dwijo Priyanto; Hery Sulistio Hermawan; Sunaryo Sunaryo; Andung Santoso Prihadi
Media Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.771 KB) | DOI: 10.15578/ma.10.1.2015.13-16

Abstract

Plasma nutfah ikan merupakan kekayaan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya perikanan. Salah satu jenis plasma nutfah yang layak untuk dikembangkan adalah ikan mas merah Najawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter fenotipe dan genotipe ikan mas merah Najawa dan potensi ekonomisnya dalam usaha budidaya. Ikan mas ini mempunyai kualitas warna merah yang sangat menyala, berbeda dengan jenis ikan mas dari daerah lainnya di Indonesia. Pengembangan jenis ikan ini akan lebih banyak dimanfaatkan oleh daerah-daerah yang mempunyai preferensi pada ikan warna cerah dibandingkan daerah dengan kesukaan pada ikan dengan warna gelap. Di antaranya adalah daerah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Daerah Istemewa Jogjakarta. Sampai saat ini hasil seleksi warna telah menghasilkan keturunan dengan proporsi 87,1% mempunyai warna merah mulus, 2,7% warna albino dan sisanya 10,2% mempunyai warna merah berbintik hitam. Identifikasi morfometrik dengan menggunakan metode Truss Network menunjukkan adanya perbedaan pada parameter C (jarak kepala dan sirip dada), F (jarak sirip punggung dan sirip perut), dan M (panjang standar) dibandingkan dengan ikan mas Majalaya. Karakterisasi secara genetik dengan menggunakan marker molekuler RAPD dengan 6 primer menunjukkan perbedaan secara genetik yang nyata dibandingkan beberapa varietas ikan mas yang banyak digunakan oleh masyarakat yaitu ikan mas Rajadanu, Majalaya, Wildan, Sinyonya, dan Sutisna. Ikan mas Najawa mempunyai tingkat keragaman 0,1513, sedangkan 5 jenis ikan mas lainnya yang mempunyai tingkat keragaman antara 0,2120 (Majalaya) hingga 0,2747 (Wildan).