cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
JIMFISIP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi, yaitu Prodi Sosiologi, Prodi Ilmu Komunikasi, Prodi Ilmu Politik dan Prodi Ilmu Pemerintahan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 1,018 Documents
Analisis Implementasi Fungsi Anggaran Tuha Peut Gampong (Studi Kasus Gampong Keude Panga Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya) Farah Mita Suranda; Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.Hum
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 3, No 4 (2018): November 2018
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAK, Penelitian ini berjudul Analisis Implementasi Fungsi Anggaran Tuha Peut Gampong (Studi Kasus Gampong Keude Panga Kecamatan Panga Kabupaten Aceh Jaya). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis implementasi serta  mengidentifikasi hambatan terkait pelaksanaan fungsi anggaran Tuha Peut Gampong. Teori yang digunakan dalam skripsi ini yaitu teori implementasi, teori kebijakan publik, teori peran dan teori good governance. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposif sampling, dimana peneliti menetapkan sejumlah kriteria untuk pemilihan subjek atau informan berdasarkan tujuan penelitian, dalam hal ini informan berasal dari lembaga Tuha Peut Gampong, Pemerintah Gampong, Tokoh Masyarakat, dan Pemerintah Kabupaten. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi fungsi anggaran Tuha Peut Gampong Keude Panga belum dijalankan secara maksimal serta belum sepenuhnya sesuai dengan Peraturan Bupati Aceh Jaya Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Tuha Peut. Hal tersebut didasarkan pada 2 temuan penelitian utama. Pertama, kurangnya partisipasi Tuha Peut Gampong Keude Panga dalam Musrenbang gampong pada tanggal 26 Februari 2018. Dari total 7 orang anggota Tuha Peut, hanya 2 orang yang hadir pada Musrenbang Gampong Keude Panga tersebut. Kedua, kurangnya pengetahuan Tuha Peut Gampong mengenai fungsi anggaran.Kata kunci : Tuha Peut Gampong, Fungsi Anggaran, Musrenbang The Analysis of Implementation of the Budget Function of the Tuha Peut Gampong / Village Government (A Case Study of the Keude Panga Village of Panga Sub-District, Aceh Jaya District).ABSTRACT, This study is entitled The Analysis of Implementation of the Budget Function of the Tuha Peut Gampong / Village Government (A Case Study of the Keude Panga Village of Panga Sub-District, Aceh Jaya District). The purpose of this study was to analyze the implementation and identify obstacles related to the implementation of the budget function of the Tuha Peut Gampong. The theories used in this thesis are implementation theory, role theory, public policy theory and good governance theory. The approach method used was descriptive qualitative method with data collection techniques through interviews, observation and documentation. The selection of informants was by using purposive sampling technique, in which the researcher determined a number of criteria for selecting subjects or informants based on the research objectives, in this case the informants came from the Tuha Peut Gampong institution, the village government, community leaders, and the District Government. The results of this study indicated that the implementation of the budget function of the Tuha Peut Gampong in Keude Panga had not been optimally implemented and not fully corresponding with the Bupati of Aceh Jaya's Regulation Number 5 of 2007 concerning about Tuha Peut. This is based on 2 main research findings.The first is the lack of participation of the Tuha Peut Gampong Keude Panga in the Gampong Musrenbang (Development Planning Council) on February 26, 2018. From the total seven members of Tuha Peut, only two attended the Musrenbang of Gampong Keude Panga. Second, the lack of knowledge of Tuha Peut Gampong regarding the budget functions. This led to a shift in authority on the implementation of the budget function which should be the full authority of the Tuha Peut Gampong.Keywords: Tuha Peut Gampong, Budget Function, Musrenbang (Development Planning Council)
Implementasi Teknik Komunikasi Persuasif Dinas Sosial Kota Banda Aceh dalam Pembinaan Pengemis cut ayu felia; Rahmat Saleh
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.906 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai pelaksanaan teknik komunikasi persuasif yang digunakan oleh Dinas Sosial Kota Banda Aceh dalam pembinaan pengemis, kendala-kendala dalam pelaksanaan teknik komunikasi persuasif serta upaya-upaya yang dilakukan. Teori yang digunakan adalah teori retorika dijadikan acuan oleh peneliti sebagai landasan teori dalam penelitian karena dapat menggambarkan bagaimana komunikasi yang telah direncanakan dengan baik oleh Dinas Sosial Kota Banda Aceh untuk mempengaruhi pengemis sehingga dapat mengubah kepercayaan, nilai, atau sikap pengemis. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Teknik pemilihan informan yang digunakan ialah teknik Purposive Sampling dengan 9 informan dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data yang digunakan ialah observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa Dinas Sosial Kota Banda Aceh menggunakan teknik asosiasi, teknik integrasi, teknik ganjaran, teknik tataan dan teknik red herring dalam pembinaan. Kendala yang muncul dalam pelaksanaan teknik komunikasi persuasif antara lain belum terealisasikan program pembinaan fisik dan keterampilan, waktu dan tempat yang terbatas, kurangnya koordinasi yang terjalin antara Dinas Sosial Kota Banda Aceh dengan lintas sektoral, anggaran yang belum memadai, pengemis yang tidak mau mengalah dan berbuat kekerasan. Upaya untuk mengatasi kendala dalam pembinaan antara lain mencari pemecahan solusi terbaik, mengupayakan semua program pembinaan dapat terealisasikan, pihak dinas sosial akan memanggil seluruh pengusaha Aceh untuk bersosialisasi agar tidak melayani pengemis, mengatasi masalah penganggaran serta regulasi dengan lintas sektoral.Kata Kunci : Teknik Komunikasi Persuasif, Dinas Sosial Kota Banda Aceh, Pembinaan Pengemis.          Implementation Of Persuasive Communication Technique By Banda Aceh Goverment's Social Service Agency In Beggar Empowerment ABSTRACTThis research aimed to obtain a real portrayal of the implementation of persuasive communication technique, which was used by Banda Aceh government’s social service agency in empowering the beggars, including the challenges in the implementation of the persuasive communication technique and the all the efforts committed to overcome the challenges in empowering the beggars. Theory used is rhetoric theory as the matrix for the author as a theoretical foundation because its capability to portray how the communication has been designed well by the social service agency to persuade the beggars in order to change their perception, value, and attitude. This research is qualitative in nature with descriptive approach. Technique employed to select the informants is purposive sampling technique, where there are 9 informants involved in this research. The method in data collecting included observation, interview and documentation. Based on the research, the results obtained were the persuasive communication technique had been utilized by Banda Aceh government’s social service agency in empowering the beggars, which included association technique, integration technique, consequence technique, order technique and red herring technique. The challenges in the implementation of persuasive communication technique, which included the unrealized skill and physic workshop, limited availability of time and place, the lack of cross sector coordination among the service agency,insufficient budget, the stubbornness and the violent attitude of the beggars. The efforts to overcome the challenge had been conducted by finding the best solution, seeking the realization of the programs, inviting all Aceh entrepreneurs to reject the beggars, solving the budgeting problems as well as employing cross sector regulation.Keywords :Persuasive Communication Technique, Banda Aceh Government’s Social Service Agency,Beggar Empowerment.         
KONFLIK ANTAR PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH (Studi Penelitian Terhadap Konflik Antara Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh Pada Pemilu Tahun 2014) Harris Aswansyah; Dr. Mujibussalim SH, M.Hum
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.392 KB)

Abstract

Partai Politik adalah sarana untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dan untuk mendapatkan posisi/kedudukan yang diinginkan, partai lokal adalah partai yang jaringannya terbatas pada suatu daerah (provinsi/negara bagian) atau beberapa daerah, tetapi tidak mencakup semua provinsi (nasional). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari konflik antar partai lokal antara Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA) dalam pemilu 2014 dan faktor apa saja yang dapat menimbulkan konflik antar Partai Aceh (PA) dan Partai Nasional Aceh (PNA). Resolusi konflik merupakan kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan dengan yang lainnya dan merupakan aspek penting dalam pembangunuan sosial dan moral yang memerlukan keterampilan dan penilaian untuk bernegoisasi, kompromi serta mengembangkan rasa keadilan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Faktor-faktor yang menjadi penyebab dari konflik antara PA dan PNA  pada pemilu tahun 2014 antara lain, yaitu; pertama kurangnya moral dan ilmu calon legislatif yang maju pada pemilu dapat menyebabkan konflik antara partai. Kedua, persaingan tidak sehat antar partai yang menyebabkan konflik tersebut semakin besar. Ketiga, adanya orang diluar partai yang ikut terlibat dalam konflik atau penyebab konflik. Dampak dari konflik antar Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh pada pemilu tahun 2014 yang pertama yaitu, dapat megurangi kepercayaan masyarakat terhadap calon anggota legislatif, dan yang kedua dapat mempengaruhi keseimbangan demokrasi di Aceh, dengan adanya konflik tersebut perkembangan domokrasi yang berlangsung di Aceh akan terganggu. Seharusnya hal yang dilakukan oleh partai lokal di Aceh untuk merekrut caleg baru harus mempunyai ilmu dan tanggung jawab yang besar, karena jika hal tersebut tidak ada maka akan banyak terjadi konflik-konflik yang dapat merusak demokrasi di Aceh dan juga dapat membuat masyarakat di Aceh  enggan untuk memilih karena apa yang dilakukan oleh caleg tersebut banyak merugikan pihak-pihak yang lainnya. Adapun partai lokal di Aceh dapat bersaing dengan sehat antar sesama partai yang dapat membuat kenyamanan pada saat pesta demokrasi berlangsung dan juga memberikan ideologi yang bagus kepada masyarakat bahwa demokrasi itu bersanding bukannya bersaing, maka dari itu masyarakat akan terbuka pikirannya bahwa demokrasi tidak seburuk yang masyarakat kira dan akan ikut serta dalam pemilihan yang akan datangKata Kunci : Partai Politik Lokal, Konflik, Demokrasi, Pemilu 2014.
Keberadaan Forum Bersama (Forbes) Aceh Dalam Memperkuat Kekhususan Aceh Secara Politik Di Level Nasional (Studi Kajian: Pada Kepengurusan Forbes Aceh Periode 2014-2017) Jakfar jakfar; Ubaidullah MA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.816 KB)

Abstract

Abstrak        Forum Bersama (FORBES) merupakan institusi resmi yang menjadi salah satu wadah bagi angota DPR RI dan DPD RI asal Aceh dalam membahas masalah  aturan-aturan yang berhubungan dengan kekhususan Aceh. Pada perjalanannya Forbes banyak di kritik akibat adanya perombakan UUPA oleh pusat didalam pasal 57 dan 60 ayat (1), (2), (4) dalam UUPA No. 11 Tahun 2006  tentang penyelengara pemilu di Aceh. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran Forbes Aceh dalam mengawal UUPA di pemerintahan pusat dan menganalisa strategi Forbes Aceh dalam memperjuangkan kekhususan Aceh di level Nasional. Adapun dalam penelitian ini mengunakan 3 teori yaitu kelembagaan, representatif, dan komunikasi politik sebagai alat analisis untuk menjawab permasalahan penelitian. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Semua data yang diperlukan diperoleh melalui penelitian lapangan dan kepustakaan. Penelitian lapangan dilakukan dengan cara mewawancarai informan-informan yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara membaca buku, jurnal, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini bahwa tidak adanya pembagian program yang jelas dari ketua sehingga mengakibatkan  angota Forbes melaksanakan program kerja masing-masing yang berdampak bagi kekhususan Aceh itu sendiri. Selainnya itu kurangnya kinerja ketua Forbes dalam menjalin komunikasi antar angotanya dan juga menjalin komunikasi dengan pemerintah indonesia baik itu eksekutif dan legislatif. Untuk kepengurusan Forbes periode 2014-2017 secara kelembagaan tidak ada strategi yang di jalankan untuk mempertahan kekhususan Aceh di tingkat nasional.    Kata Kunci :  Kekhususan Aceh, Forbes DPR RI dan DPD RI Asal AcehThe Existence of Aceh Forum Bersama (FORBES) in Strengthening Political Aceh Specification in National Levels(Study Study: In the Management of Forbes Aceh for the 2014-2017 Period)ct  The Joint Forum (FORBES) is an official institution which is a forum for members of the Indonesian House of Representatives and the Republic of Indonesia Regional Representative Council from Aceh to discuss issues related to the specificity of Aceh. On his journey, Forbes was criticized as a result of the amendment of the UUPA by the central government in articles 57 and 60 paragraph (1), (2), (4) in the UUPA No. 11 of 2006 concerning election organizers in Aceh. The purpose of this study was to analyze the role of Forbes Aceh in overseeing the UUPA in the central government and analyze the Forbes Aceh strategy in fighting for the specificity of Aceh at the National level. The research uses 3 theories, namely institutional, representative, and political communication as analysis tools to answer research problems. This study uses qualitative methods that are descriptive. All required data is obtained through field research and literature. Field research is conducted by interviewing pre-determined informants, while library research is done by reading books, journals, legislation and other materials related to this research. The results of this study are that there is no clear division of programs from the chairman, resulting in Forbes members implementing their respective work programs that have an impact on the specificity of Aceh itself. In addition, the lack of performance of the chairman of Forbes in establishing communication between its members and also establishing communication with the Indonesian government, both the executive and the legislature. For the management of Forbes in the 2014-2017 period, there was no institutional strategy to maintain the specificity of Aceh at the national level. Keywords: Specificity of Aceh, Forbes DPR RI and RI DPD from Aceh
Perilaku Pemilih Masyarakat Etnis Tionghoa Pada Pilkada Aceh Tengah Tahun 2017 (Suatu Penelitian di Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah) Razikin Akbar; Ubaidullah, M.A
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.452 KB)

Abstract

Abstrak Perilaku pemilih masyarakat Etnis Tionghoa pada pilkada Aceh Tengah Tahun 2017 merupakan masalah yang sangat menarik untuk dikaji. Secara ideal tujuan penulis didalam penelitian ini ingin membahas perilaku pemilih masyarakat Etnis Tionghoa yang ada di Kabupaten Aceh Tengah pada saat Pilkada di tahun 2017 yang lalu dan faktor-faktor yang melatar belakangi mereka dalam menentukan pilihannya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu kualitatif deskriftif. Cara mengumpulkan data berupa observasi, menggunakan teknik wawancara mendalam untuk memahami masalah yang diteliti. Data primer yang diperoleh melalui wawancara, kemudian data sekunder melalui buku-buku, jurnal dan media massa. Kemudian dianalisis menggunakan teori Perilaku Pemilih. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku pemilih masyarakat etnis Tionghoa di Kecamatan Lut Tawar dalam memilih Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati di Aceh Tengah lebih cenderung kepada perilaku pemilih tradisional, sebab pilihan mereka dilandasi atas kedekatan terhadap salah satu calon Bupati. Kemudian ada juga yang cenderung kepada pemilih rasional, akan tetapi tetap faktor historis kedekatan mereka terhadap salah seorang calon Bupati memiliki pengaruh besar dalam pertimbangan mereka. Kemudian kecenderungan masyarakat etnis Tionghoa di Kecamatan Lut Tawar terhadap perilaku pemilih skeptis dan kritis sangatlah kecil. Saran yang dapat diberikan ialah,lembaga penyelenggara yaitu KIP/KPU harus memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat etnis Tionghoa dan Perlu diberi pemahan kepada masyarakat etnis Tionghoa di Kabupaten Aceh tengah bahwa mereka memiliki kedudukan yang sama dengan pemilih etnis mayoritas yang lainnya. Kata Kunci: Perilaku pemilih, Etnis Tionghoa, Aceh Tengah.The Behaviour of Voters of Ethnic Chinese Communities in The Regency Central Aceh at The Time of The 2017 Elections (A Study In District Lut Tawar of Central Aceh Regency) Abstract The behavior of the voters of ethnic Chinese communities for the regional election in Central Aceh for 2017 is a very interesting problem to study. Ideally, the aim of the writer in this study would be to discuss the behavior of voters of ethnic Chinese communities in Central Aceh Regency in the elections in 2017 and the factors behind their choice. In this study, the writer used qualitative research methods, namely qualitative descriptive. How to collect data in the form of observation, using in-depth interview techniques to understand the problem under study. Primary data obtained through interviews, and the secondary data obtained through books, journals, and mass media, and then analyzed using the voter behavior theory. The study was conducted in Lut Tawar Sub-district, Central Aceh Regency. The results of this study indicate that the behavior of Chinese ethnic voters in Lut Tawar Sub-district in choosing Regional Heads of Regents and Deputy Regents in Central Aceh tended to traditional voter behavior because their choices were based on the closeness with one of the candidates of the Regent. Then there were also those who tended to rational voters, but still the historical factor of their proximity to one of the candidates for the Regent had a big influence on their consideration. Then, the tendency of Chinese people in Lut Tawar Sub-district towards skeptical and critical voter behavior is very small. The advice that can be given is that the organizing institution, namely KIP / KPU, must provide political education to the ethnic Chinese community and it is necessary to give understanding to the ethnic Chinese community in Central Aceh Regency that they have the same position as the other majority ethnic voters. Keywords : Voter Behaviour, Chinese Ethnic, Central Aceh.
Analisis Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilihan Kepala Daerah Pada Tahun 2017 Di Kabupaten Aceh Timur Mahmudiah Mahmu; Dr. Dahlan, S.H., M.Hum Dahlan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

Berdasarkan data dari Komisi Independent Pemilihan Kabupaten Aceh Timur dengan berita acara nomor: 15/BA/KIP-ATIM/II/2017 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Di Tingkat Kabupaten Aceh Timur Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Timur Tahun 2017. Tertera Kabupaten Aceh Timur dari keseluruhan surat suara yang terpakai dengan jumlah persentase 66,80% surat suara, sedangkan persentase jumlah surat suara yang tidak terpakai atau golput (golongan putih) yaitu 33,20% surat suara. Seharusnya sebagai warga Negara Indonesia setiap masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan benar serta tidak golput, karena mengingat setiap masyarakat mempunyai hak pilih yang telah diberikan dan diatur dalam undang-undang. Apabila hak pilih digunakan dengan benar maka akan terpilihnya kepala daerah yang handal serta profesional dalam memimpin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat Kabupaten Aceh Timur terhadap pentingnya pemilihan kepala daerah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Timur. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif yaitu metode yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebab golongan putih (golput) yang terjadi di Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2017 disebabkan oleh tiga faktor, diantaranya yaitu; faktor status sosial dan ekonomi, faktor kekecewaan pada realitas pemerintah dan politik, dan faktor kesadaran politik. Diharapkan kepada masyarakat Kabupaten Aceh Timur agar ikut berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah, serta membuka diri untuk tidak apatis terhadap hak pilihnya yang telah diberikan kepada setiap masyarakat.Analysis of Community Participation in Regional Head Elections in 2017 in East Aceh RegencyBased on data from the Independent Election Commission of East Aceh district with the news number: 15/BA/KIP-Atim/I /2017 concerning Acquisition Summary of Vote Count Results In East Aceh District Level In Election of Regent and Vice Regent of East Aceh district of Aceh Year 2017 Listed east of the total ballots used with the percentage of 66.80% of ballots, while the percentage of the number of unused ballots or Abstentions (White Group) which is 33.20% of ballots. Indonesia should have as citizens of every community exercise their voting rights properly and no abstentions, because remember every society has the right to vote have been given and regulated by law. If suffrage is used correctly it will be the election of Regional Head of reliable and professional in the lead. The purpose of this study was to determine how the public participation in the important election of Regional Head. This research was conducted in East Aceh district. Type of research is quantitative research method that is based on the philosophy of positivism, is used to examine the population and the particular sample, data collection using research instruments, quantitative data analysis/statistics, with the aim to test the hypothesis that has been set. These results indicate the cause of the White Group (Abstentions) that occurred in East Aceh District in 2017 was caused by three factors, among which are; social status and economic factors, factors disappointment at the government and the political reality, and political awareness factor. It is expected that the people of East Aceh Regency should participate in the Election of Regional Heads, and open themselves to not be apathetic about their voting rights that have been given to every community. 
SELFIE DI MEDIA SOSIAL (STUDI PEMAKNAAN DAN KONSEP DIRI DI INSTAGRAM PADA MAHASISWA FISIP UNIVERSITAS SYIAH KUALA) Nadila ulva Nadila ulva; Bukhari Bukhari MHSc
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.425 KB)

Abstract

ABSTRAKSelfie merupakan sebuah seni fotografi yang biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok dengan menggunakan kamera smartphone, yang kemudian diunggah ke situs-situs jejaring sosial seperti instagram. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna selfie bagi mahasiswa serta untuk mengetahui konsep diri yang dimiliki oleh pelaku selfie tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, makna selfie adalah kegiatan memotret diri sendiri, berpose tanpa bantuan orang lain yang biasanya dilakukan menggunakan kamera depan smartphone. Perilaku selfie merupakan sebuah kegiatan yang positif yang dapat menghibur pengguna dalam berekspresi. Untuk hasil fotonya tidak semua diunggah, akan tetapi melalui seleksi, hanya foto selfie yang bagus dan menarik yang akan diunggah ke media sosial instagram di karena agar tetap menjaga image dan harus tampil semaksimal. Adapun hal yang menarik dari fenomena selfie ini yaitu adanya konsep diri positif, yang dapat dilihat pada aktivitas mereka saat sebelum mengupload foto, yaitu tidak memanipulasi foto selfie-nya secara berlebihan, dengan begitu pelaku selfie dapat menerima diri apa adanya, dan konsep diri negatif, yaitu yang cederung berlebihan dalam memanipulasi atau mengedit bahkan merubah tampilan, bentuk wajah, warna kulit, dan makeup yang berlebihan yang dikarenakan kurangnya percaya diri.Kata Kunci : Selfie, Konsep Diri, Instagram, SmartphoneSELFIE ON SOCIAL MEDIA(STUDY MEANING AND INSAGRAM SELF-CONCEPT IN STUDENTS FISIP SYIAH KUALA UNIVERSITY)ABSTRACT Selfie is an art of photography that is usually done alone or in groups using a smartphone camera, then uploaded to social networking sites like Instagram. This study uses qualitative research methods using a sampling procedure that is purposive sampling with data collection techniques in the form of interviews, documentation and visual material. The theory used in this study is the Symbolic Interaction Theory by George Herbert Mead. This study aims to determine the meaning of the selfie phenomenon for students and to know the self-concept that is owned by the perpetrator of the selfie it self. Based on the results of the study, the meaning of selfie is the activity of photographing or photographing your self, adjusting the style or poses without the help of other people and usually use the smartphone's front camera. Selfie is a positive activity that can be entertaining and expressive for the users. Not all selfies are uploaded, but through the selection. Only good and interesting selfies will be uploaded to Instagram. The interesting thing about this phenomenon are, the existence of a positive self-concept, which can be seen in their activities before uploading a selfie photo, which is they're not manipulating their selfies excessively, so they can accept themselves as they are. And negative self-concept, which tends to be excessive in manipulating or editing even changes the appearance, face shape, skin color, and excessive makeup due to lack of self-confidence.Key words: Selfie, Self-concept, Instagram, Smartphone 
Kebijakan Pemerintah Aceh Tengah Dalam Pengembangan Sektor Pariwisata Iqbal Arisa; iqbal ahmady
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.259 KB)

Abstract

Abstrak, Pariwisata mempunyai peranan penting dalam upaya pembangunan dan pengembangan suatu daerah. Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2013 Tentang Kepariwisatan Pasal 6 menyebutkan bahwa pemerintah kabupaten/kota berwenang mengatur penyelenggaraan dan pengelolaan kepariwisataan di wilayahnya, memfasilitasi dan melakukan promosi destinasi pariwisata dan produk pariwisata yang berada diwilayahnya, memfasilitasi pengembangan daya tarik wisata baru serta mengalokasikan anggaran kepariwisataan. Regulasi tersebut seharusnya dapat menjadi landasan utama bagi pemerintah Aceh Tengah dalam membuat kebijakan yang mendorong pengembangan pariwisata. Objek Pariwisata di Kabupaten Aceh Tengah masih kurang maksimal pengembangannya oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini terjadi karena belum adanya konsep kebijakan pengembangan pariwisata dan pengelolaannya masih kurang koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan pemilik usaha pariwisata. Kurang maksimalnya pengelolaan dan pengawasan kepariwisataan tersebut sangat berdampak pada kepuasan masyarakat khususnya wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata yang ada di Aceh Tengah. Teori utama yang digunakan dalam skripsi ini yaitu teori kebijakan publik dan kebijakan pariwisata. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Aceh Tengah belum memiliki kebijakan pengembangan pariwisata, dikarenakan acuan dalam penyusunan kebijakan belum disahkan yaitu Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah. Hal tersebut berdampak pada pengembangan pariwisata yang tidak terkoordinir dengan baik. Kebijakan pengembangan pariwisata Aceh Tengah masih belum mengarah kepada pengembangan pariwisata dan pariwisata berkelanjutan. Kemudian sinergitas antara Pemerintah Aceh Tengah dengan pelaku pariwisata belum terkoordinir dengan baik seharusnya antara Pemerintah Daerah dengan pelaku pariwisata menciptakan kerjasama yang baik untuk terwujudnya sinergitas dalam pengembangan pariwisata. Kata Kunci: Kebijakan, Pengembangan, Pariwisata
Penurunan Kepercayaan Publik Terhadap Elit Politik Partai Aceh (Studi Kasus: Kekalahan Psasangan Erwanto-Muzakir pada Pilkada Serentak Kabupaten Aceh Barat Daya tahun 2017 Trisna Winda; Dr. Effendi Hasan, MA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.127 KB)

Abstract

ABSTRAK Partisipasi politik berupa Pemilihan Umum, termasuk Pemilihan Kepala Daerah merupakan salah satu aspek dari pemberlakuan Sistem Demokrasi.Pilkada Serentak Kabupaten Aceh Barat Daya telah dilaksanakan pada 15 Februari 2017 yang diikuti oleh 9 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati. Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 9, Erwanto dan Muzakir ND sebagai pasangan petahana yang diusung oleh Partai Aceh kalah dari pasangan nomor urut 1 yaitu Akmal Ibrahim dan Muslizar.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab penurunan kepercayaan masyarakat terhadap elit politik Partai Aceh sehingga pasangan Erwanto dan Muzakir ND kalah dalam Pilkada Serentak Kabupaten Aceh Barat Daya serta untuk mengetahui penyebab masyarakat lebih mempercayai Akmal Ibrahim dibandingkan Erwanto.Penelitian menggunakan metode penelitian kualititif dengan tipe deskriptif sebagai pendekatan penelitian.Data primer diperoleh melalui hasil wawancara dan dokumentasi sedangkan data sekunder melalui buku, jurnal dan bacaan yang terkait dengan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab kekalahan pasangan Erwanto dan Muzakir ND dikarenakan oleh konflik internal elit Partai Aceh sehingga menyebabkan pecahnya dukungan Partai Aceh yang tersebar kebeberapa calon pasangan Bupati dan Wakil Bupati.Ketidakpercayaan masyarakat terhadap janji politik Partai Aceh, hal ini berkaitan dengan kepemimpinan Jufri Hassanudin dan Erwanto pada periode sebelumnya yang kurang berhasil menurut masyarakat. Rendahnya elektabilitas Erwanto sebagai calon pertahana, kurangnya sosialisasi antara Erwanto  dengan masyarakat menyebabkan sosok Erwanto tidak terlalu dikenal baik oleh masyarakat.  Temuan lain penelitianadalah masyarakat lebih memilih Akmal Ibrahim dibandingkan Erwanto karena figur Akmal Ibrahim yang dikenal dekat dengan masyarakat serta Program Akmal Ibrahim pada periode kepemimpinan 2007-2017 lebih aspiratif dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, menjadikan tolok ukur masyarakat dalam memilih Akmal Ibrahim pada Pilkada Serentak Kabupaten Abdya 2017.Kesimpulan penelitian penurunan kepercayaan karena Pecahnya suara Elit Partai Aceh Abdya dan figur lawan Erwanto pada saat Pilkada. Kata Kunci: Pilkada, Partai Aceh, Kekalahan, Elit Politik, Kepercayaan Terhadap Politik.   PUBLIC TRUST DECLINE TOWARD THE POLITICIANS FROM ACEH PARTY ( A CASE STUDY OR ERWANTO-MUZAKIR DEFEAT IN ACEH BARAT DAYA REGIONAL ELECTION IN 2017)  ABSTRACT                                                 Political participation like general election, including Head Regional election is one of the aspects of democracy system implementation. The regional election in Aceh Barat Regency was held simultaneously on February 15, 2017,  where nine of regent and vice regent candidates took part. The regent and vice regent candidates of number 9, Erwanto and Muzakir ND as the incumbent who were from Aceh Party was defeated by the candidates number 1, Akmal Ibrahim and Muslizar. The aim of this study is to define the causes of public trust decline towards the politician from Aceh party which leads Erwanto and Muzakir ND to be defeated in the regional election of Aceh Barat Daya Regency. Besides, this study aims to find out the reasons why the community trusts Akmal Ibrahim over Erwanto. This research is a descriptive qualitative research. The primary data was obtained through interview and documentation. While the secondary data was obtained through books, journals, and other references related to this study. The result of this research shows that the defeat causal factor of Erwanto and Muzakir ND is the internal conflict among the Aceh party elites which makes the community support shifted to some other candidates. The community distrusts towards the political election promise of Aceh party is highly correlated to community’s views of Jufri Hasanuddin and Erwanto less successful administration on the last period. The low electability of Erwanto as the incumbent and the lack of socialization make Erwanto becomes less popular in the community. Another finding in this study shows that the community prefers Akmal Ibrahim than Erwanto because Akmal Ibrahim is well known among community on 2007-2017 periode during those years. His leadershipis viewed as more aspirational and impressive. These reasons are made as the bench marks for the community to choose Akmal Ibrahim in the Regional Election in Aceh Barat Daya Regency in 2017. In conclusion, the public trust decline towards the politicians of Aceh Party related to Erwanto and Muzakir ND defeat on the Aceh Barat Daya simoultaneous Regional Election in 2017 is caused by the shifted voice to support the of the politician voice of Aceh party and the great figure of Erwanto’s rival in the regional election.  Key words:Local Elections, Aceh Party, Defeat, Political Elite, Trust toward Politics.
KOMUNIKASI ANTAR-BUDAYA DALAM KELUARGA CAMPURAN (Studi Tentang Pengelolaan Emosi Dan Komitmen Mempertahankan Rumah Tangga Pada Keluarga Campuran Tionghoa-Aceh Di Banda Aceh) Irham Syahputra; Amsal Amri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.795 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan emosi setiap individu pada pasangan kawin campur antara Etnis Aceh dengan Etnis Tionghoa, serta komitmen setiap pasangan keluarga campuran dalam mempertahankan rumah tangga yang memiliki perbedaan etnis. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah pasangan yang menikah beda suku antara suku Aceh dengan suku Tionghoa. Berdasarkan hasil penelitian ini, Latar belakang personal pasangan perkawinan campuran antara suku Aceh dengan suku Tionghoa di awali dengan bermacam-macam hal, ada yang memang sengaja bertemu di tempat kerja, ada yang didasari oleh cinta yang mempertemukan mereka, dan ada juga yang pernah menjadi tetangga sejak dulu, serta bisa dibilang bervariasi. Dalam hal pengelolaan emosi, setiap pasangan memiliki keberagaman dalam berpendapat. Namun, hampir keseluruhan pasangan pernikahan campuran ini menunjukkan sikap kedewasaannya dalam mengelola emosi. Baik itu emosi amarah, sedih, bahagia, rasa takut, kecewa, dan emosi-emosi lainnya. Mengenai komitmen mempertahankan rumah tangga, setiap pasangan pernikahan beda budaya ini memiliki tekad yang sangat kuat dalam mempertahankan rumah tangganya, mereka menganggap bahwa untuk mencapai ke tahap ini bukanlah yang mudah. Banyak suka dan duka harus dilewati masing-masing pasangan  ini hingga pernikahan mereka masih bias dipertahankan hingga saat ini.INTER-CULTURE COMMUNICATION IN MIXED FAMILIES(Study of Emotion Management and Commitment to Maintain Households in Chinese-Aceh Mixed Families in Banda Aceh)Abstract : The purpose of this study was to determine the emotional management of each individual in mixed marriages between Ethnic Acehnese and Chinese Ethnics, as well as the commitment of each mixed family partner in maintaining households with ethnic differences. In this study the data collection methods used were interviews and documentation. The subjects of this study were married couples from different ethnic groups between the Acehnese and Chinese ethnic groups. Based on the results of this study, the personal background of mixed marriages between the ethnic Acehnese and Chinese ethnic groups began with a variety of things, some of them deliberately met at work, some were based on love that brought them together, and some were neighbors long ago, and can be varied. In terms of managing emotions, each partner has diversity in opinion. However, almost all of these mixed marriage couples show their maturity in managing emotions. Whether it's anger, sadness, happiness, fear, disappointment, and other emotions. Regarding the commitment to maintain the household, each marriage couple of different cultures has a very strong determination to maintain their household, they assume that reaching this stage is not an easy one. A lot of joy and sorrow must be passed by each of these couples until their marriage can still be maintained today.

Page 47 of 102 | Total Record : 1018