cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Pengaruh Lingkungan Fisik dan Host Terhadap Kejadian Tuberkulosis Paru di Puskesmas Sentosa Baru Medan Pratiwi, Tia; Hadisaputro, Suharyo; Suhartono, Suhartono
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.273-278

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian dan belum dapat terkendali. Kota Medan merupakan salah satu yang memiliki kasus Tuberkulosis tertinggi di Sumatera Utara. Dalam 5 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus tuberkulosis di Kota Medan yang disebabkan berbagai faktor risiko yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan fisik dan host terhadap kejadian Tuberkulosis Paru Dewasa.Metode: Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control yang dilakukan di Puskesmas Sentosa Baru Medan mulai Januari hingga April 2024. Penelitian ini terdapat sampel sebanyak 122 responden. Kasus adalah penderita tuberkulosis paru dewasa yang berobat di Puskesmas Sentosa Baru sebanyak 61 orang, kontrol adalah bukan penderita tuberkulosis paru yang berobat di Puskesmas yang sama sebanyak 61 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi langsung dengan lembar checklist. Analisa data diolah menggunakan SPSS dengan uji chi square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin (OR=2,937;95%CI=1,406-6,135,p=0,007), riwayat kontak (OR=9,540;95%CI=3,872-23,504,p=<0,001), kontak serumah (OR=8,625;95%CI=2,763-26,924,p=<0,001), pencahayaan tempat tinggal (OR=6,874;95%CI=1,886-25,050,p=0,003) merupakan faktor risiko dengan kejadian tuberkulosis paru dewasa.Simpulan: Jenis kelamin laki-laki, riwayat kontak dengan penderita, dan pencahayaan pada tempat tinggal yang kurang merupakan faktor risiko kejadian tuberkulosis paru dewasa di Puskesmas Sentosa Baru Medan. ABSTRACT Title: The Effect Of Physical Environment And Host On The Incidence Of Pulmonary Tuberculosis At Sentosa Baru Medan Health Center Background: Tuberculosis is one of the top 10 causes of death and has not been controlled. Medan City is one of the highest tuberculosis cases in North Sumatra. In the last 5 years there has been an increase in tuberculosis cases in Medan City caused by various risk factors, one of which is the physical environment and host.Method: This type of research uses quantitative methods with case control design carried out at Sentosa Baru Medan Health Center from February to March 2024. This study had a sample of 122 respondents and the data was processed using SPSS with chi-square test.Result:  The results of this study showed that the variables of gender (OR=2.937; 95%CI=1.406-6.135,p=0.007), contact history (OR=9.540; 95%CI=3.872-23.504.p=<0.001), household contacts (OR=8.625; 95%CI=2.763-26.924.p=<0.001), residential lighting (OR=6.874; 95%CI=1.886-25.050,p=0.003) is a risk factor for adult pulmonary tuberculosis. Conclusion: Male gender, history of contact with sufferers, and insufficient lighting in residential areas are risk factors for adult pulmonary tuberculosis at Sentosa Baru Medan Health Center.  
Hubungan Lingkungan Dan Perilaku Terhadp Kejadian Malaria Di Provinsi Aceh Siti Humaira; Nurjazuli Nurjazuli; Mursid Raharjo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.241-248

Abstract

Latar belakang: Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles betina. Pada tahun 2021 tercatat ada 314 kasus malaria di Aceh yang dimana Kabupaten tertinggi adalah Kabupaten Aceh jaya sebanyak 230 kasus. Dan pada tahun 2022 ada 137 kasus malaria di Aceh Kabupaten yang tertinggi ada di Kabupaten Aceh Jaya sebanyak 32 kasus, pada tahun 2022 kasus malaria mulai menurun namun terjadi peningkatan kembali pada tahun 2023 yang dimana ada 166 kasus tercatat yang dimana Kabupaten yang tertinggi kasus malaria yaitu Kabupaten Aceh Besar sebanyak 48 kasus.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan case control, penelitian ini dilakukan di tujuh kabupaten provinsi aceh, dengan jumlah sample 180 yang masing-masing 90 kelompok kasus dan kontrol, penelitian ini dilakukan dari akhir bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2023.Hasil: hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini keberadaan breeding place diperoleh nilai p value 0,655, resting places 0,053, kandang ternak, 0,073, kondisi rumah 0,229, penggunaan kelambu 0,763, penggunaan APD 0, 371, aktivitas malam hari 0,765, penggunaan lotion nyamuk 0,051.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 8 variabel yang di uji maka variable yang paling berpengaruh  dalam kejadian malaria di Aceh adalah keberadaan resting places.
Faktor Resiko dan Spasial Kejadian Campak Pada Anak di Kota Pontianak Tahun 2023 Ditha Fadhila; Selviana Selviana
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.84-92

Abstract

Latar belakang: Campak/morbilli adalah penyakit menular melalui udara yang terkontaminasi melalui droplet. Penyakit ini diakibatkan penularan virus Paramixoviridae (RNA), Virus ini  cepat mati oleh panas dan cahaya. Kejadian campak Kota Pontianak Januari-Maret 2023 mencapai 307 kasus. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor resiko dan spasial kejadian penyakit campak di Kota Pontianak. Metode: Metodologi penelitian menggunakan desain case control. Perhitungan sampel menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapatkan sampel sebesar 59 kasus : 59 kontrol. Analisis data secara bivariat menggunakan uji chi-square, multivariat menggunakan uji regresi logistic dan spasial untuk mengambarkan distribusi penyebaran kejadian campak di Kota Pontianak.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan faktor resiko kejadian campak pada anak di Kota Pontianak yaitu imunisasi campak  (p=0,003; OR=3,280), status imunisasi (p=0,025; OR=2,522), riwayat kontak serumah (p=0,002; OR=3,541), pemberian ASI ekslusif (p=0,026; OR = 2,495), suhu kamar (p=0,020; OR=2,712), dan kelembaban (p=0,007; OR=3,549). Sedangkan variabel yang tidak termasuk faktor resiko adalah status pemberian vitamin A (p=0,072; OR=2,580), kepadatan hunian (p=0,420; OR=1,803), dan pencahayaan (p=0,427; OR=1,485). Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya kontak serumah dengan penderita campak memberikan kontribusi positif paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak. Hasil spasial menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. Simpulan: Faktor resiko kejadian campak di Kota Pontianak terdiri dari imunisasi campak, status imunisasi, kontak serumah, ASI ekslusif, suhu, dan kelembaban. Kontak serumah mamberikan kontribusi positif yang paling tinggi terhadap kejadian campak di kota Pontianak dengan spasial yang menunjukkan sebagian besar rumah penderita campak saling berdekatan. ABSTRACT Title: Risk Factors and Spatial Measles Incidence in Children in Pontianak City in 2023Background: Measles/morbilli is an infectious disease through air contaminated by droplets from people infected with measles. Measles is caused by the Paramixoviridae (RNA) virus, a type of morbilli virus that is easily killed by heat and light. The incidence of measles in Pontianak City from January to March 2023 reached 307 cases. The aim of this research is to analyze the risk factors and spatial incidence of measles in Pontianak City in 2023.Method: The research methodology uses a case control design. Sample calculations used the Lemeshow formula to obtain a sample of 59 cases: 59 controls. Bivariate data analysis used the chi-square test, multivariate using logistic and spatial regression tests to describe the distribution of measles incidence in Pontianak City.Results: The results of the study show that the risk factors for measles in children in Pontianak City are measles immunization (p=0.003; OR=3.280), immunization status (p=0.025; OR=2.522), history of household contact (p=0.002; OR=3.541 ), exclusive breastfeeding (p=0.026; OR = 2.495), room temperature (p=0.020; OR=2.712), and humidity (p=0.007; OR=3.549). Meanwhile, variables that are not included as risk factors are vitamin A administration status (p=0.072; OR=2.580), residential density (p=0.420; OR=1.803), and lighting (p=0.427; OR=1.485), the results of multivariate analysis show that having household contact with measles sufferers provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak. The spatial results show that most of the houses of measles sufferers are close to each other.Conclusion: From the research results, it was found that several risk factors influence the incidence of measles in Pontianak City, consisting of measles immunization, immunization status, household contact, exclusive breastfeeding, temperature and humidity. Household contact provides the highest positive contribution to the incidence of measles in the city of Pontianak with spatial data showing that most of the homes of measles sufferers are close to each other.
Studi Ekologi Hubungan Iklim Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2022 Lulu Rakhmatsani; Dewi Susanna
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.207-214

Abstract

Latar belakang: Terdapat 2.997.097 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dilaporkan hingga 1 Juli 2023, sebanyak 0,13% masuk dalam kategori berat. Pada akhir tahun 2022 jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 143.000 kasus, dengan angka kejadian DBD terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap kejadian DBD di Kabupaten Bogor tahun 2013-2022.Metode: Menggunakan studi ekologi time series dan jenis data yang digunakan yaitu data sekunder. Data iklim diperoleh dari website Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan data kasus DBD diperoleh dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada November-Desember 2023. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Korelasi Spearman.Hasil: Kejadian DBD tidak berhubungan dengan variabel suhu yaitu koefisien korelasi (r) -0,097 dan p value 0,297 pada lag 1 bulan. Kejadian DBD berhubungan dengan variabel kelembapan yaitu (r) 0,451 dan p value 0,0001 serta variabel curah hujan yaitu (r) 0,352 dan p value 0,0001 pada lag 1 bulan.Simpulan: Variabel suhu tidak berhubungan sementara kelembapan dan curah hujan berhubungan dengan kejadian DBD, terdapat suhu ekstrem yang menyebabkan produksi telur menurun sehingga potensi penularan DBD rendah serta semakin tinggi kelembapan dan curah hujan menyebabkan produksi nyamuk meningkat sehingga potensi penularan DBD tinggi. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar kasus DBD dapat mengalami penurunan, di antaranya edukasi masyarakat terus menerus dan pemerintah menyusun kebijakan terkait pengendalian dan pencegahan DBD. ABSTRACT Title: Ecological Study of Climate Influence on Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Incidence in Bogor Regency 2013-2022Background: There were 2,997,097 Dengue Fever (DHF) cases reported until July 1, 2023, 0.13% of which were categorized as severe. By the end of 2022, the number of DHF cases in Indonesia reached 143,000 cases, with the highest number of DHF cases in the provinces of West Java, East Java and Central Java. The purpose of this study was to determine the effect of climate on the incidence of DHF in Bogor Regency in 2013-2022.Method: Using time series ecological studies and the type of data used is secondary data. Climate data was obtained from the website of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency and DHF case data was obtained from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia and the Bogor District Health Office. The research was conducted in November-December 2023. Data analysis used univariate and bivariate analysis with the Spearman Correlation test.Result: The incidence of DHF was not related with the temperature variable, namely the correlation coefficient (r) -0.097 and p value 0.297 at a lag of 1 month. The incidence of DHF is related to the humidity variable, namely (r) 0.451 and p value 0.0001 and the rainfall variable, namely (r) 0.352 and p value 0.0001 at a lag of 1 month.Conclusion: Temperature variables are not related while humidity and rainfall are related to the incidence of DHF, there are extreme temperatures that cause egg production to decrease so that the potential for DHF transmission is low and the higher the humidity and rainfall causes mosquito production to increase so that the potential for DHF transmission is high. Therefore, cooperation between the government and the community is needed so that dengue cases can decrease, including continuous community education and the government formulating policies related to dengue control and prevention.
Penilaian Kesehatan Sungai Menggunakan Metode Biotik dan Fisik di Sungai Boyong, Sleman, Yogyakarta Eka Sulistiyowati; Dien F. Awaliyah; Shofwatul Uyun
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.162-169

Abstract

Latar belakang: Penilaian kesehatan sungai merupakan upaya penting dalam membantu memonitor keseimbangan ekosistem sungai.  Penelitian dilakukan untuk mendapatkan penilaian kualitas Sungai Boyong sebagai hulu dari Sungai Code yang memasok air ke wilayah perkotaan Yogyakarta dengan menggunakan kombinasi metode biotik dan fisik untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.Metode: Penilaian kesehatan sungai dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan dua metode yakni metode biotik yang terdiri atas metode biotilik dan metode RHA, serta metode pengamatan fisik. Metode biotilik merupakan metode pengukuran kuantitif terhadap komunitas makroinvertebrata akuatik. Analisis data biotik dengan menghitung biotik indeks menggunakan panduan biotilik oleh Ecoton. Sampel yang diambil berupa makroinvertebrata akuatik dengan menggunakan jaring. Sampel tumbuhan diambil pada transek yang berada pada verge, bank, dan in-stream. Analisis data riparian vegetation menggunakan indeks Riparian Health Assessment. Sedangkan metode pengamatan fisik menggunakan analisis dari panduan biotilik oleh Ecoton.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode biotilik diketahui bahwa stasiun 1, 2, dan 3 berada pada kondisi sedang, meskipun nilai indeks biotilik stasiun 2 lebih rendah daripada yang lain. Penggunaan metode RHA menunjukkan bahwa kondisi ekosistem riparian di stasiun  1 dan 3 lebih baik daripada stasiun 2. Sedangkan dengan metode pengamatan fisik diketahui bahwa kondisi stasiun 1 dan 3 berada pada kategori sehat, dan stasiun 2 masuk dalam kategori kurang sehat.Simpulan: Penelitian menyimpulkan bahwa kondisi ekosistem Sungai Boyong yang paling baik di Stasiun 2 dan yang kurang baik pada stasiun 1 dan 3. ABSTRACTTitle: River Health Assessment using Biotic and Physical Methods in Boyong River, Sleman, YogyakartaBackground: River health assessment is important to monitor the balance of river ecosystem.. The study was conducted to assess  the quality of Boyong River as the upstream of the Code River which supplies water to the urban area of Yogyakarta using a combination of biotic and physical methods for a comprehensive result.  Method: River health assessment was carried out by two methods,  first was the biotic methods which consisted the biotilik method and the RHA method, and  second was the physical observation method . The biotilik method is a quantitative measurement method of aquatic macroinvertebrate communities. Analysis of biotic data by calculating biotic index using biotilik guidance by Ecoton. The samples taken were aquatic macroinvertebrates using nets. Plant samples were taken on transects located on verge, bank, and in-stream. Analysis of riparian vegetation data using the Riparian Health Assessment index. While the physical observation method uses analysis by Ecoton. Result: The results showed that using the biotilik method it was known that stations 1, 2, and 3 were in moderate condition, although the biotilic index value of station 2 was lower than the others. The use of the RHA method shows that the riparian ecosystem conditions at stations 1 and 3 are better than at station 2. Meanwhile, with the physical observation method, it is known that the condition of stations 1 and 3 is in the healthy category, and station 2 is included in the unhealthy category.Conclusion:  It was concluded that the ecosystem condition of Boyong River was best at Station 2 and not good at Stations 1 and 3.
The Analysis of the Impact of Petroleum Mining on the Environment and Community Economy in Wonocolo Village of Bojonegoro Regency Andriyan, Ricky; Astutik, Sri; Wijayanto, Yagus; Kurnianto, Fahmi Arif; Pangastuti, Era Iswara
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.280-287

Abstract

Latar belakang: Pertambangan minyak bumi tradisional menyebabkan kerusakan lingkungan terutama pada tanah. Proses pengolahan minyak bumi menggunakan alat sederhana menyebabkan minyak mentah tumpah ke permukaan tanah yang dapat merubah sifat-sifat tanah. Pertambangan minyak bumi tradisional juga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat lokal karena dikelola langsung oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisika dan kimia tanah tercemar limbah minyak bumi serta perbandingan pendapatan masyarakat dari hasil penambangan minyak pada tahun 2010 dengan 2023.Metode: Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Analisis deskriptif melalui survey lapangan digunakan untuk menggambarkan kondisi tanah secara fisika dan kimia serta kondisi perekonimian masyarakat lokal yang dilakukan pada tahun 2023. Parameter kualitas tanah yang diperiksa antara lain struktur tanah, konsistensi tanah, tekstur tanah, warna tanah, dan pH tanah yang dilakukan pada 7 titik berbeda dimana sampel titik 4 merupakan sampel tanah tidak tercemar limbah minyak bumi. Perbandingan pendapaan masyarakat deperoleh melalui wawancara terhadap 7 pekerja tambang yang secara khusus mewakili populasi yang diinginkanHasil: Hasil menunjukkan hilangnya konsistensi pada permukaan tanah, tekstur tanah didominasi pasir, warna tanah menjadi hitam pekat, dan pH tanah berubah. Limbah minyak bumi tidak dapat merubah struktur tanah secara partikel, akan tetapi limbah minyak dapat menyelimuti partikel-partikal tanah karena minyak bumi memiliki efek pelumasan. Hasil pendapatan dari pertambangan minyak bumi mengalami penurunan dan tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat lokal.Simpulan: Limbah minyak bumi dapat merubah sifat fisik dan kimia pada tanah serta meracuninya sehingga merusak ekosistem tanah, sedangkan hasil pertambangan minyak bumi mengalami penurunan akibat jumlah minyak yang akan habis. ABSTRACTBackground:Traditional petroleum mining causes environmental damage, especially to the soil. The crude oil extraction process using simple tolls results in crude oil spilling onto the soil serface, which can alter soil properties. Traditional petroleum mining can also increase the economic income of local communities because it is managed directly by the community. The aim of this research is to determine changes in the physical and chemical properties of soil contaminated with petroleum waste as well as a comparison of community income from oil mining in 2010 and 2023. Method: The qualitative research method is used to answer the research objectives. Descriptive analysis through field surveys is used to describe the physical and chemical conditions of the soil as well as the economic conditions of local communities which will be carried out in 2023. The soil quality parameters examined in clude soil structure, soil consistency, soil texture, soil color, and soil pH, conducted at 7 different points, where sampel  point 4 represents uncontaminated soil samples from oil waste. The comparison of community income was obtained through interviews with 7 mine worker who specifically represent the desire population.Result:The results indicate a loss of consistency on the soil surface, with soil texture dominated by sand, soil color becoming dark black, and a change in soil pH. Petroleum waste cannot change the soil structure in terms of particles, but oil waste can cover soil particles because petroleum has a lubricating effect. Income from petroleum mining has decreased and is no longer able to meet the needs of local communitiesConclusion:Petroleum waste can change the physical and chemical properties of soil and poison it, thereby damaging the soil ecosystem, in contrast, the results of oil mining are declining due to the decreasing amount of oil reserves. 
Strategi Literasi Sampah dalam Penanggulangan Masa Tanggap Darurat Sampah Wening Winursita; Riche Cynthia Johan
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.249-256

Abstract

Latar belakang: Pengelolaan sampah di Indonesia merupakan salah satu persoalan besar yang belum teratasi sepenuhnya. Permasalahan sampah memicu polemik lingkungan, kesehatan hingga sosial. Kebakaran TPA Sarimukti di bulan Agustus 2023 mengharuskan diberlakukannya masa tanggap darurat sampah di wilayah Bandung Raya, termasuk kota Cimahi. TPA Sarimukti menutup operasinya selama masa tanggap darurat sampah dan berimbas pada masyarakat yang tidak bisa membuang sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi literasi sampah yang dilakukan Kota Cimahi ketika masa tanggap darurat sampah, sekaligus untuk mengetahui tantangan yang dihadapi dalam proses literasi sampah kepada masyarakat.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian dilakukan dengan lima tahapan utama yaitu penentuan fokus penelitian, penentuan lokasi penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan pelaporan hasil penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yang melibatkan empat partisipan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi dan mitra pendukung, observasi ke TPS di Cimahi, dan meninjau ulang berdasarkan dokumen atau literatur yang sesuai. Analisis data dilakukan dengan organisasi data, klasifikasi, dan menafsirkan data.Hasil: Hasil yang didapatkan peningkatan literasi sampah di Kota Cimahi dimotori oleh Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kota Cimahi dengan menerapkan program Grak Ompimpah, hari pengangkutan sampah, dan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Proses edukasi literasi sampah juga melibatkan tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan Bank Sampah. Pemanfaatan media dioptimalisasikan untuk edukasi yang dapat menjangkau publik secara luas.Simpulan: Momentum masa tanggap darurat dapat menjadi satu kesempatan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kota Cimahi.ABSTRACT Title : Waste Literacy Strategy in Waste Emergency Response Period ManagementBackground: Waste management in Indonesia is one of the major problems that has not been fully resolved. Waste problems trigger environmental, health and social polemics. The Sarimukti landfill fire in August 2023 forced the implementation of a waste emergency response period in the Greater Bandung area, including Cimahi city. Sarimukti landfill closed its operation during the waste emergency response period and affected the community who could not dispose of their waste. This study aims to describe the waste literacy strategy carried out by Cimahi City during the waste emergency response period, as well as to find out the challenges faced in the waste literacy process to the community.Method: The method used in this research is a case study. The research was carried out in five main stages: determining the research focus, location, data collection, data analysis, and reporting research results. Data collection was carried out by interviews involving four participants from the Cimahi City Environmental Service and supporting partners, observations at TPS in Cimahi, and reviews based on appropriate documents or literature. Data analysis is carried out by organizing data and classifying and interpreting it.Result: The results obtained increased waste literacy in Cimahi City was led by the Regional Environmental Agency of Cimahi City by implementing the Grak Ompimpah program, waste collection days, and socialization to schools. The waste literacy education process also involves community leaders and Bank Sampah environmental activists. Media utilization is optimized for education that can reach the public widely.Conclusion: The participation of all elements of society will support the improvement of literacy in the community.The momentum of the emergency response period can be an opportunity to increase public awareness of waste management in Cimahi City.
Analisis Spasial Kejadian DBD Dengan Faktor Lingkungan Di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Panas Kota Batam Mutia Permata Iryanti; Mursid Raharjo; Martini Martini; Nur Endah Wahyuningsih
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.93-100

Abstract

Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular berbasis lingkungan yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti  betina. Wilayah kerja Puskesmas Sei Panas merupakan salah satu wilayah endemis DBD di Kota Batam yang terdapat 59 kasus (IR = 67,01) ditemukan pada tahun 2022. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola distribusi kasus DBD dan kaitannya dengan faktor lingkungan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain studi case control yang dilaksanakan pada bulan Februari-April 2023. Populasi kasus terdiri dari seluruh penderita DBD berjumlah 59 orang dan populasi kontrol meliputi seluruh masyarakat bukan penderita DBD tahun 2022 yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Sei Panas. Sampel penelitian ditentukan menggunakan rumus minimal sampel studi case-control dan didapatkan 86 responden kelompok kasus dan kontrol. Hasil penelitian akan dianalisis menggunakan uji chi-square serta analisis pola spasial dengan analisis Indeks Morans I (I)Hasil: : Hasil penelitian ini yaitu ada hubungan antara kelembaban udara (p = 0,033), container index (p = 0,0001), penggunaan kawat kasa (p = 0,030), dan kebiasaan mandi (p-value = 0,011) dengan kejadian DBD. Pola persebaran kasus DBD yaitu I < 1 yang artinya memiliki autokorelasi negatif dengan pola acak.Simpulan: Kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sei Panas tahun 2022 berhubungan dengan faktor lingkungan (kelembaban udara dan container index) dan faktor perilaku (penggunaan kawat kasa dan kebiasaan mandi). Pola persebaran kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Sei Panas adalah autokorelasi negatif dengan pola acak. ABSTRACT Title: Spatial Analysis of DHF Events with Environmental Factors in the Work Area of the Sei Panas Health Center in Batam CityBackground: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an environmentally-based infectious disease transmitted by the female Aedes aegypti mosquito. The working area of the Sei Panas Health Center is one of the DHF endemic areas in Batam City where 59 cases (IR = 67.01) were found in 2022. This research was conducted to determine the pattern of distribution of DHF cases and their relation to environmental factors.Method: This study used a descriptive observational method with a case control study design which was carried out in February-April 2023. The case population consisted of all 59 DHF sufferers and the control population included all non-DHF sufferers in 2022 who live in the working area of the Sei Health Center Hot. The research sample was determined using the minimum sample case-control study formula and obtained 86 respondents in the case and control groups. The results of the research will be analyzed using the chi-square test and analysis of spatial patterns with the analysis of the Morans Index I (I)Results: The results of this research are that there is a relationship between air humidity (p = 0.033), container index (p = 0.0001), use of wire mesh (p = 0.030), and bathing habits (p-value = 0.011) with the incidence of dengue fever. The pattern of distribution of dengue fever cases is I < 1, which means it has a negative autocorrelation with a random pattern.Conclusion: Dengue fever cases in the Sei Panas Health Center working area in 2022 are related to environmental factors (air humidity and container index) and behavioral factors (use of wire mesh and bathing habits). The distribution pattern of dengue fever cases in the Sei Panas Community Health Center working area is negative autocorrelation with a random pattern.
Analisis Kualitas Proses Layanan Kesehatan Lingkungan Dengan Pendekatan Quality Improvment Process (QIP) Nuryanto Nuryanto; Fauzan Ma’aruf; Bayu Chondro Purnomo
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.215-225

Abstract

Latar belakang: Layanan kesehatan lingkungan bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan supaya tidak berdampak pada penyakit/gangguan kesehatan. Penyelenggaraan layanan tersebut melalui berbagai proses. Proses kualitas layanan kesehatan lingkungan di Puskesmas A masih ditemukan kendala, sehingga memerlukan upaya perbaikan untuk meningkatkan kualitas layanan dengan menggunakan metode Quality Improvement Process (QIP). Penelitian bertujuan untuk menganalisis kualitas proses layanan kesehatan lingkungan dengan pendekatan QIP.Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan survei. Penelitian dilakukan di Puskesmas A Kabupaten Banyumas. Teknik pengumpulan data melalui FGD dan studi dokumentasi. Focus Group Discussion (FGD) melibatkan Kepala Puskesmas dan 4 orang pengelola program kesehatan lingkungan untuk mengidentifikasi, menentukan prioritas, menemukan akar masalah dan menyusun upaya perbaikan.Hasil: Prioritas area permasalahan kualitas proses layanan kesehatan lingkungan di Puskesmas A adalah layanan klinik sanitasi belum menjangkau seluruh pasien yang menderita penyakit berbasis lingkungan. Akar masalah kualitas proses layanan klinik sanitasi adalah belum adanya jadwal pembagian tugas dan pendelegasian, kurangnya koordinasi antara petugas sanitarian dengan layanan pengobatan, belum ada sosialisasi kepada pasien/masyarakat, belum menerapkan layanan jemput bola, belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP), kurang lengkapnya pengisian kuesioner, pengolahan data secara manual, penolakan kunjungan rumah dan tidak adanya target capaian layanan. Untuk menyelesaikan akar masalah kualitas proses layanan klinik sanitasi antara lain: perlu membuat jadwal jaga secara rutin, pendelegasian kepada sanitarian lain jika berhalangan, menerapkan layanan jemput bola, membuat media KIE (poster/x-banner), membuat SOP layanan, melakukan sosialisasi dan entry data yang terintegrasi dengan kegiatan konseling menggunakan Aplikasi Klinik Sanitasi Pintar (AKSI PINTAR).Simpulan: Permasalahan kualitas proses layanan klinik sanitasi berdampak pada kualitas layanan yang diberikan kepada pasien/masyarakat. Upaya perbaikan kualitas proses layanan perlu dilakukan untuk menyelesaikan permasalaahan berdasarkan akar masalah yang ditemukan. ABSTRACTTitle: Analysis Quality Process of Environmental Health Service using the Quality Improvement Process (QIP) ApproachBackground: Environmental health services aim to improve environmental quality so that it does not have an impact on disease/health problems. The provision of these services goes through various processes. The process of quality of environmental health services at Community Health Center A still finds obstacles, so it requires improvement efforts to improve service quality using the Quality Improvement Process (QIP) method. The research aims to analyze the quality of environmental health service processes using the QIP approach.Method: This type of research is descriptive with a survey approach. The research was conducted at the A Primary Health Center, Banyumas Regency. Data collection techniques through Focus Group Discussion (FGD) and documentation studies. Focus Group Discussion involves the Head of the Primary Health Center and  4 Sanitarians to identify, determine priorities, find the root of the problem and develop improvement efforts.Result:  The analysis shows that the priority problem area for the quality of the environmental health service process at the A Primary Health Center is that sanitation clinic services have not reached all patients diagnosed with environmental-based diseases. The root cause of problems with the quality of the sanitation clinic service process at the A Primary Health Center is the absence of a schedule for division of tasks and delegation, lack of coordination between sanitarian officers and officers in treatment services, no outreach to patients/community, no pick-up service implemented, no SOP for clinic services. sanitation, incomplete filling out of questionnaires, manual data processing, refusal of home visits, and lack of service achievement targets. The root cause of the quality of the sanitation clinic service process can be resolved through: the needs to make a routine duty schedule, delegate to other sanitarians if they are unable to do so, implement a pick-up service, create media of education (posters/x-banners), create Standard Operating Procedures for sanitation clinic services, carry out socialization and data entry integrated with counseling activities using the SIPINTAR application.Conclusion: The problem quality process of sanitation clinic services have an impact on the quality of services provided to patients/community. Efforts to improve the quality of service processes need to be made to resolve problems based on the root causes found.
Model Prediksi Hubungan Polusi Udara Terhadap Kasus Covid-19 Di Kota Tangerang Tahun 2020-2022 Ira Ayu Hastiaty; Haryoto Kusnoputranto; Umar Fahmi Achmadi; Ema Hermawati
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.170-181

Abstract

Latar belakang: Polusi udara dapat meningkatkan  kerentanan terhadap COVID-19. Pengendalian polusi udara serta pengendalian COVID-19 di Kota Tangerang belum dilaksanakan dengan maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan model prediksi hubungan polusi udara terhadap kasus COVID-19 Kota Tangerang Tahun 2020-2022.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi tren waktu serta kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tangerang pada bulan April- Juni 2023.  Penelitian ini menggunakan data sekunder meliputi data ISPU (NO2, SO2, PM10, dan PM2,5), suhu, kelembapan udara dan kasus COVID-19 di Kota Tangerang. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji korelasi, uji regresi linier berganda.Hasil: Gambaran NO2, SO2, PM10 tahun 2020-2022 berada dalam kategori baik, sedangkan PM2,5 adalah kategori sedang. Hasil uji korelasi spearman  menunjukkan SO2 (p= 0,001 ; r= -0,109) dan PM10 (p= 0,000 ; r= -0,210) berhubungan signifikan terhadap kasus konfirmasi COVID-19. Analisis multivariat menunjukkan polusi udara yang paling dominan mempengaruhi kasus COVID-19 di Kota Tangerang adalah PM10, setelah dikontrol dengan PM2,5, suhu dan kelembapan. Variabel PM10, PM2,5, suhu, dan kelembapan dapat menjelaskan variasi variabel kasus COVID-19 sebesar 17,7%.  .Simpulan: Model prediksi hubungan polusi udara dengan kasus COVID-19 di Kota Tangerang Tahun 2020-2022 adalah kasus konfirmasi COVID-19 = 4384,38 + 22,47PM10 + 1,63PM2,5 - 120,39 suhu - 13,33 kelembapan. ABSTRACT Title: Prediction Model of the Association between Air Pollution and Covid-19 Cases in Tangerang City in 2020-2022Background: Air pollution can increase vulnerability to COVID-19. Air pollution control and COVID-19 control in Tangerang City have not been implemented optimally. The purpose of this study is to determine the prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022.Method: This research uses a time trend ecological study design and qualitative. This research was conducted in Tangerang City in April-June 2023.  This study used secondary data including ISPU data (NO2, SO2, PM10, and PM2,5), temperature, humidity and COVID-19 cases in Tangerang City. Data analysis used univariate analysis, correlation test, multiple linear regression test.Result: The overview of NO2, SO2, PM10 in 2020-2022 is in the good category, while PM2,5 is in the moderate category. The results of the spearman correlation test showed that SO2 (p = 0.001; r = -0.109) and PM10 (p = 0.000; r = -0.210) were significantly associated with confirmed cases of COVID-19. Multivariate analysis shows that the most dominant air pollution affecting COVID-19 cases in Tangerang City is PM10, after controlling for PM2,5, temperature and humidity. PM10, PM2,5, temperature, and humidity variables can explain 17,7% of the variation in COVID-19 case variables.  Conclusion: The prediction model of the relationship between air pollution and COVID-19 cases in Tangerang City in 2020-2022 is confirmed COVID-19 cases = 4384,38 + 22,47PM10 + 1.63PM2,5 - 120.39 temperature - 13.33 humidity.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue