cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Pengaruh Eco Enzyme Kulit Nanas (Ananas Comosus) Dan Kulit Jeruk (Citrus Sinesis L.) Terhadap Penurunan Angka Kuman Udara Zaenab, Zaenab; Azizah, Nurfitriani; S, Syamsuddin
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.341-348

Abstract

Latar belakang: Aktivitas belajar mengajar di ruangan selama 8-10 jam setiap harinya berpotensi meningkatkan pencemaran udara dalam ruangan, termasuk mikroorganisme. Pengendalian mikroorganisme di dalam ruangan dapat dilakukan dengan disinfeksi menggunakan disinfektan, seperti eco enzyme. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh eco enzyme dari kulit nanas (Ananas comosus) dan kulit jeruk (Citrus Sinesis L.) terhadap penurunan jumlah kuman udara.Metode: Jenis penelitian merupakan eksperimen semu dengan rancangan Pre-Post Test Control Design dengan masing-masing variasi bahan eco enzyme menggunakan konsentrasi 25% dan waktu kontak selama 1 jam. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 – April 2024. Variabel bebas dalam penelitian adalah eco enzyme kulit nanas dan kulit jeruk, variabel terikat yaitu angka kuman udara.  Sementara variabel pengganggu yaitu suhu dan kelembaban. Populasi penelitian adalah jumlah kuman udara di ruang kelas SMA Negeri 12 Makassar. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling di ruang kelas XII MIPA 4, XII MIPA 5, dan XII MIPA 6. Sampel penelitian terdiri dari jumlah kuman udara yang dihitung menggunakan media plate count agar. Pengukuran berdasarkan Permenkes No. 2 Tahun 2023, di mana angka kuman yang memenuhi syarat adalah <700 CFU/m3. Analisis statistik dilakukan menggunakan Uji One Way ANOVA dan Uji Post Hoc Tukey HSD untuk membandingkan kelompok perlakuan secara spesifik. Keputusan diambil berdasarkan nilai p, di mana p-value > 0,05 menunjukkan tidak ada pengaruh, sedangkan p-value < 0,05 menunjukkan adanya pengaruh.Hasil: Pada uji pre-test, jumlah kuman udara tercatat sebanyak 214 CFU/m3, sementara setelah perlakuan dengan eco enzyme kulit nanas (Ananas comosus), jumlahnya menurun menjadi 107 CFU/m3, dengan persentase penurunan sebesar 50%. Sedangkan pada uji dengan eco enzyme kulit jeruk (Citrus Sinesis L.), jumlah kuman udara pre-test tercatat 216 CFU/m3 dan menurun menjadi 144 CFU/m3, dengan persentase penurunan sebesar 33,33%. Uji statistik menunjukkan bahwa eco enzyme kulit nanas memiliki p-value 0,004 (<0,05), sehingga dinyatakan berpengaruh, sedangkan eco enzyme kulit jeruk memiliki p-value 0,057 (>0,05), sehingga dinyatakan tidak berpengaruh signifikan.Simpulan: Disarankan kepada pengelola sekolah untuk menggunakan eco enzyme, terutama eco enzyme kulit nanas (Ananas comosus), sebagai alternatif disinfektan guna mengurangi angka kuman udara. ABSTRACT Title: Effect of Eco Enzyme of Pineapple Peel (Ananas Comosus) and Orange Peel (Citrus Sinesis L.) in Reducing The Number of Air GermsBackground: Classroom learning activities lasting 8-10 hours each day have the potential to increase indoor air pollution, including microorganisms. Microorganism control indoors can be achieved through disinfection using disinfectants such as eco enzyme. This study aims to evaluate the effects of eco enzymes derived from pineapple peel (Ananas comosus) and orange peel (Citrus Sinesis L.) on reducing airborne germ counts.Method: The study is a quasi-experimental with a Pre-Post Test Control Design, using 25% concentrations of eco enzyme variants and a 1-hour contact time. The study was conducted from November 2023 to April 2024. The independent variables were the eco enzymes made from pineapple and orange peels, while the dependent variable was the airborne germ count. Disturbing variables included temperature and humidity. The population of the study consisted of airborne germs in the classrooms of SMA Negeri 12 Makassar. The samples were selected using Purposive Sampling, targeting classes XII MIPA 4, XII MIPA 5, and XII MIPA 6. The sample consisted of the airborne germ count calculated using plate count agar media. Measurements followed Permenkes No. 2 of 2023, where the standard for germ count is <700 CFU/m³. Statistical analysis was carried out using One-Way ANOVA and Post Hoc Tukey HSD to compare the treatment groups in detail. The decision rule was based on p-value, where p-value > 0.05 indicates no effect, while p-value < 0.05 indicates an effect.Result: In the pre-test, the airborne germ count was recorded at 214 CFU/m³, while after treatment with pineapple peel eco enzyme (Ananas comosus), the count decreased to 107 CFU/m³, showing a reduction of 50%. Meanwhile, in the test using orange peel eco enzyme (Citrus Sinesis L.), the pre-test airborne germ count was recorded at 216 CFU/m³ and decreased to 144 CFU/m³, with a reduction of 33.33%. Statistical tests showed that the pineapple peel eco enzyme had a p-value of 0.004 (<0.05), indicating a significant effect, while the orange peel eco enzyme had a p-value of 0.057 (>0.05), indicating no significant effect.Conclusion: It is recommended that school administrators use eco enzymes, especially pineapple peel eco enzyme (Ananas comosus), as an alternative disinfectant to minimize airborne germ counts. 
Karakterisasi, Analisis Risiko Kesehatan dan Multiple-Path Particle Dosimetry (MPPD) Model Akibat Paparan Uap Las pada Pekerja Bengkel Pengelasan Susanto, Arif; Yudhiantara, Muhamad Rizky; Putro, Edi Karyono; Kara, Prayoga; Hidayah, Nurulia
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.349-361

Abstract

Latar belakang: Pengelasan di industri pengolahan bijih mineral menimbulkan risiko kesehatan bagi pekerja akibat paparan uap las yang mengandung logam berbahaya seperti krom, mangan, tembaga, dan besi. Penelitian ini mengevaluasi risiko kesehatan pekerja di sebuah bengkel las dengan menganalisis data paparan personal dan karakteristik unsur logam spesifik dalam uap las selama periode 2021-2024.Metode: Multi-Path Particulate Dosimetry (MPPD) digunakan untuk menganalisis deposisi partikel di saluran pernapasan pekerja dan pengukuran kadar logam pada uap las menggunakan metode NIOSH 7300 menggunakan instrumen ICP (Inductively Coupled Plasma). Analisis risiko dilakukan untuk menilai potensi peningkatan risiko kesehatan, baik karsinogenik maupun non-karsinogenik.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pekerja terpapar uap las dengan konsentrasi logam berbahaya yang tinggi, terutama krom, mangan, dan besi. Nilai risiko karsinogenik (ECR) untuk krom mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan nilai 7,8x10-5, sementara nilai risiko non-karsinogenik logam  mangan mencapai nilai tertinggi pada tahun yang sama dengan HQ sebesar 1568 tertinggi selama empat tahun terakhir, mengindikasikan terjadinya peningkatan risiko kesehatan. Simulasi model MPPD menunjukkan laju deposisi partikel total fume yang cukup tinggi pada tahun 2022, menunjukkan laju deposisi partikel total fume sebesar 0,097 μg/menit dan deposisi partikel total fume per area mencapai 1,27.10-4μg/m2 selama periode pengamatan. Tingginya tingkat paparan dan deposisi partikel ini mengindikasikan risiko tinggi terjadinya penyakit saluran pernafasan, termasuk penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) hingga kanker paru. Analisis risiko lebih lanjut mengkonfirmasi hubungan antara paparan  krom dan mangan dengan peningkatan risiko kanker dan efek kesehatan non-kanker. Untuk mengurangi risiko kesehatan pekerja, disarankan penerapan pengendalian teknik seperti perbaikan sistem ventilasi lokal yang efektif, seperti penggunaan fume extractor atau fume hood, serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pernafasan berupa respirator dan pemeriksaan kesehatan berkala juga perlu dilakukan..Simpulan: Pekerja pengelasan di industri pengolahan bijih mineral menghadapi risiko kesehatan yang tinggi akibat paparan uap las mengandung logam berbahaya. Perlu adanya tindakan pengendalian risiko yang komprehensif untuk melindungi kesehatan pekerja. ABSTRACTTittle: Characterization, Health Risk Analysis, and Multiple-Path Particle Dosimetry (MPPD) Model Due to Welding Fume Exposure in Welding Workshop WorkersIntroduction: Welding in the mineral ore processing industry poses significant health risks to workers due to exposure to welding fumes containing hazardous metals such as chromium, manganese, copper, and iron. This study evaluated the health risks of workers in a welding workshop by analyzing personal exposure data and the characteristics of specific metallic elements in welding fumes over the period 2021-2024.Methods: Multi-Path Particulate Dosimetry (MPPD) was used to analyze particle deposition in the respiratory tract of workers, and the metal content in welding fumes was measured using the NIOSH 7300 method with an Inductively Coupled Plasma (ICP) instrument. Risk assessment was conducted to evaluate the potential increase in both carcinogenic and non-carcinogenic health risks.Results: The study showed that workers were exposed to high concentrations of hazardous metals in welding fumes, particularly chromium and manganese. Excess carcinogenic risk (ECR) for chromium peaked in 2022 with a value of 7.8x10-5, while the non-carcinogenic risk (HQ) for manganese reached its highest value in the same year at 1568, indicating an increased health risk. MPPD model simulations showed a significant rate of total fume particle deposition in 2022, with a deposition rate of 0.097 μg/min and a deposition area of 1.27x10-4 μg/m². These high exposure and particle deposition levels indicate a high risk of respiratory diseases, including chronic obstructive pulmonary disease (COPD) and lung cancer. Further risk analysis confirmed the association between exposure to chromium and manganese and an increased risk of cancer and non-cancerous health effects. To reduce worker health risks, it is recommended to implement engineering controls such as improved local ventilation systems, such as using fume extractors or fume hoods, as well as the use of respiratory personal protective equipment (PPE) and regular medical check-up.Conclusion: Welders in the mineral ore processing industry face significant health risks due to exposure to welding fumes containing hazardous metals. Comprehensive risk control measures are needed to protect workers' health.
Evaluasi Sistem Informasi Kesehatan Lingkungan Menggunakan Model CIPP Nuryanto, Nuryanto; Lukmitarani, Ratih; Utami, Bunga Nuur Primayu
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.362-373

Abstract

Latar belakang: Capaian sistem informasi kesehatan lingkungan di Kabupaten A meliputi kelengkapan dan ketepatan laporan masih rendah. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kualitas data dan informasi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem informasi kesehatan lingkungan di Kabupaten Adengan menggunakan model CIPP.Metode: Jenis penelitian kualitatif dengan applied qualitative research methods. Evaluasi menggunakan model CIPP (Context, Input, Process dan Product). Teknik sampling yang digunakan purposive sampling. Informan sebanyak 16 orang antara lain Sanitarian (10 orang), Kepala Puskesmas (4 orang), Koordinator Kesehatan Lingkungan di Dinkes Kabupaten A (1 orang) dan Koordinator Sumber Daya Manusia Kesehatan di Dinkes Kaupaten A (1 orang). Teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi dan in-depth interview. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis melalui tahapan: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Fokus analisis CIPP meliputi: Contect (latar belakang, tujuan dan analisis SWOT); Input (pemenuhan sumberdaya);  Process (pelaksanaan sistem informasi); serta Product (Capaian sistem informasi).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan sistem informasi kesehatan lingkungan di Kabupaten A antara lain: keterbatasan sanitarian, rangkap jabatan, aplikasi mengalami error/maintenance, keterbatasan alat pengolahan data, aplikasi belum terintegrasi dan belum memfasilitasi keseluruhan layanan kesehatan lingkungan serta lemahnya monitoring. Kelengkapan dan ketepatan waktu pelaporan masing-masing sebesar 47,5% dan 57,5%.Simpulan: Sistem informasi kesehatan lingkungan di Kabupaten A ditemukan permasalahan yang berdampak pada rendahnya kualitas data dan informasi. Perlu pemenuhan kebutuhan sumbardaya, membangun aplikasi berbasis web secara terintegrasi serta memperkuat monitoring dengan melakukan validasi data/informasi dari puskesmas. ABSTRACTTitle: Evaluation Of Environmental Health Information System  Using The CIPP ModelBackground: The achievements of the environmental health information system in District A, including the completeness and accuacy of reports, are still low. This condition has an impact on the low quality of the data and information produced. This study aims to evaluate the environmental health information system in District A using the CIPP model Methods: A type of qualitative research with applied qualitative research methods. Evaluation uses the CIPP (Context, Input, Pocess and Product) model. The sampling technique used is purposive sampling. There were 16 informants, including Sanitarians (10 people), Head of Primary Health Centers (4 people), Environmental Health Coordinator at the District Health Office of A (1 person) and Health Human Resources Coordinator at the District Health Office of A (1 person). Data collection techniques through documentation studies and in-depth interviews. The data that has been collected is then analyzed through stages: data reduction, data presentation and conclusion drawn. The focus of the CIPP analysis includes: Contect (background, objectives and SWOT analysis); Input (fulfillment of resources); Process (implementation of information systems); and Product (Information system achievements).Results: The results of the study showed that there were problems in the environmental health information system in District A ncluding: limited sanitation, dual positions, application experiencing errors/maintenance, limitations of data processing tools, applications that have not been integrated and have not facilitated all environmental health services and weak monitoring. The completeness and timeliness of reporting were 47.5% and 57.5%, respectively.Conclusion: The environmental health information system in District A has several problems that have an impact on the low quality of data and information.. It is necessary to meet the needs of community resources, build an integrated web-based application and strengthen monitoring by validating data/information from Prmary Health Centers. 
Pengaruh Durasi Paparan Sansevieria trifasciata Terhadap Penurunan Kandungan Karbon Dioksida (CO2) Dalam Ruangan Ali, Mohammad Ryan Mahsun; Suparno, Suparno; Listanti, Anita
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.320-325

Abstract

Latar belakang: Kualitas udara dalam ruang tertutup berdampak signifikan pada kesehatan manusia, ekosistem, dan iklim, sering kali lebih buruk daripada udara luar karena ventilasi yang terbatas dan tingkat hunian yang tinggi. Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di dalam ruangan yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti pernapasan, kardiovaskular, serta meningkatkan risiko kanker. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dampak durasi paparan tanaman ini terhadap penurunan kadar CO2 dan pengaturan kelembapan dalam ruangan, dengan harapan hasilnya memberikan informasi bermanfaat untuk pemanfaatan tanaman sebagai solusi alami dalam meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan dalam ruangan.Metode: Desain eksperimen ini adalah quasi experiment dengan mengekspos Sansevieria trifasciata pada lingkungan terkontrol yang kadar CO2-nya dimonitor secara berkala. Durasi pemaparan meliputi interval waktu 2 jam, 4 jam, 6 jam, 12 jam, dan 24 jam. Pengukuran kadar CO2 di udara dilakukan sebelum dan setelah pemaparan Sansevieria trifasciata menggunakan peralatan pengukuran yang sesuai. Hasil pengukuran kemudian dianalisis secara deskriptif dan analitis.Hasil: Menunjukkan adanya penurunan signifikan kadar CO2 setelah Sansevieria trifasciata terpapar selama 24 jam, dengan penurunan sebesar 32% dari kadar awal. Durasi paparan 6 jam dan 12 jam menunjukkan penurunan masing-masing sekitar 15% dan 22%. Durasi paparan 2 jam dan 4 jam menunjukkan penurunan yang kurang signifikan yaitu masing-masing 4% dan 8%.Simpulan: Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) dapat digunakan sebagai solusi alami dalam mengurangi polusi karbon dioksida serta meningkatkan kualitas udara dalam ruang tertutup. ABSTRACTThe Effect Of Exposure Duration Of Sansevieria trifasciata On Reducing Carbon Dioxide (CO2) Content In Indoor EnvironmentsBackground: Indoor air quality has a significant impact on human health, ecosystems, and climate, often being worse than outdoor air due to limited ventilation and high occupancy levels. High concentrations of carbon dioxide (CO2) indoors can cause health issues such as espiratory and cardiovascular problems, and increase the risk of cancer. This study aims to explore the impact of the duration of exposure to these plants on CO2 reduction and humidity regulation indoors, with the hope that the results will provide useful information for utilizing plants as a natural solution to improve indoor air quality and comfort.Method: This type of research is a quasi-experiment involving the exposure of Sansevieria trifasciata in a controlled environment with periodically monitored CO2 levels. The exposure durations include intervals of 2 hours, 4 hours, 6 hours, 12 hours, and 24 hours. CO2 levels in the air are measured before and after the exposure of Sansevieria trifasciata using appropriate measurement equipment. The measurement results are then analyzed descriptively and analytically.Result: The text shows a significant decrease in the CO2 levels after the snake plant was exposed for 24 hours, with a decrease of 32% from the initial levels. Exposure durations of 6 hours and 12 hours showed decreases of approximately 15% and 22% respectively. Exposure durations of 2 hours and 4 hours showed less significant decreases of 4% and 8% respectively.Conclusion: Sansevieria trifasciata can be used as a natural solution to reduce carbon dioxide pollution and improve air quality in enclosed spaces.
Model Prediksi Kasus DBD Berdasarkan Perubahan Iklim: Cohort Study dengan Data NASA di Kabupaten Bantul Rahayuningtyas, Dwi; Pascawati, Nur Alvira; Alfanan, Azir; Dharmawan, Rega
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.84-94

Abstract

Latar belakang: Kasus DBD di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih cenderung tinggi terutama di Kabupaten Bantul dengan Incidance Rate ≥ 49/100.000 penduduk. Peningkatan kasus DBD dipengaruhi oleh perubahan iklim karena iklim menjadi ancaman kesehatan terbesar bagi manusia dan dapat mendukung proses transmisi penularan penyakit oleh vektor. Perubahan iklim dapat menggambarkan pola kejadian kasus DBD masa lampau dan masa kini yang berhubungan dengan variasi suhu, kelembaban relative 2 meter, tekanan udara, dan pengawanan dengan tujuan untuk membuat suatu model prediksi kasus DBD dari variabel perubahan iklim yang paling berpengaruh di Kabupaten Bantul menggunakan data NASA.Metode: Desain penelitian ini menggunakan cohort retrospektif  dengan data sekunder iklim NASA dan data kasus DBD dari Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakara selama 15 tahun (2008-2022). Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Kolmogorov Smirnof, uji Correlation Pearson, dan uji regresi linier berganda.Hasil: Hasil penelitian menunjukkaan variasi iklim seperti suhu udara bola kering, suhu bola basah, suhu titik embun, kelembaban relatif 2 meter, dan pengawanan berhubungan terhadap kasus DBD, sedangkan suhu permukaan bumi dan tekanan udara tidak berhubungan dengan kasus DBD di Kabupaten Bantul. Model persamaan regresi liniear yang ditemukan yakni Kasus DBD = -1556,679+(42,357*Suhu Udara Bola Kering)+ (7,521*Kelembaban Relative 2 Meter)+(-1,338*Pengawanan) (R2=21,1%) dengan uji asumsi klasik terpenuhi.Simpulan: Model prediksi ini dapat digunakan sebagai upaya early warning system  dalam program pencegahan dan pemberantasan kasus DBD. ABSTRACT Tittle: Prediction Model of DHF Cases Based on Climate Change: Cohort Study with NASA Data in Bantul RegencyBackground: DHF cases in Yogyakarta Special Region Province still tend to be high, especially in Bantul Regency with an incidence rate ≥ 49/100,000 population. The increase in DHF cases can be influenced by climate change because climate is the biggest health threat to humans and can support the transmission process of disease transmission by vectors. Climate change can describe the pattern of past and present DHF cases associated with variations in temperature, 2-meter relative humidity, air pressure, and cloudiness to make a prediction model of DHF cases from the most influential climate change variabels in Bantul Regency using NASA data.Method: This study design used a retrospective cohort with secondary data of NASA climate and DHF case data from the Provincial Health Office of Yogyakara Special Region for 15 years (2008-2022). Data were analyzed using Kolmogorov Smirnof normality test, Pearson Correlation test, and multiple linear regression test.Result: The results showed that climatic variations such as dry bulb temperature, wet bulb temperature, dew point temperature, 2 meter relative humidity, and cloudiness were related to DHF cases, while land surface temperature and air pressure were not related to DHF cases in Bantul Regency. The linear regression equation model found is DHF cases = -1556.679 + (42.357*Dry Bulb Air Temperature) + (7.521*Relative Humidity 2 Meters) + (-1.338*Cloud Amount) (R2 = 21.1%) with the classical assumption test fulfilled..Conclusion: This prediction model can be used as an early warning system in the prevention and eradication program of DHF cases.
Analisis Kualitas dan Kuantitas Air Bersih di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Azni, Isnatami Nurul; Hasibuan, Hayati Sari; Kusnoputranto, Haryoto
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.28-36

Abstract

Latar belakang: Pulau kecil memiliki kerentanan air bersih karena ukuran, topografi, keterbatasan sumber air, pertumbuhan penduduk dan dampak krisis iklim. Pulau Kelapa merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang memiliki karakteristik pulau kecil saat ini mengalami peningkatan jumlah penduduk ditambah dengan penetapan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional mengakibatkan kebutuhan air bersih semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan kondisi kualitas dan kuantitas pada rumah tangga untuk menjamin kualitas dan ketersediaan air di Pulau Kelapa.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Uji laboratorium kualitas air dilakukan dengan sampel air yang berasal dari air perpipaan, air isi ulang, air sumur dan air air hujan dengan menggunakan standar baku mutu air bersih berdasarkan Permenkes 2 Tahun 2023. Sampel rumah tangga sebanyak 240 Kepala Keluarga diwawancara menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan gambaran pemenuhan air domestik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air sumur mendominasi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan hygiene sanitasi. Sebanyak 51% responden menggunakan 120 liter/orang/hari air bersih untuk kebutuhan domestik; aksesibilitas responden ke sumber air (jarak< 500 meter dan waktu pengumpulan air < 30 menit) tercukupi oleh 81% dan 60% responden secara berurutan, sebanyak 76% sumber air yang digunakan oleh responden terasa payau; rata-rata biaya pemenuhan air bersih sebesar 10,76% dari total pendapatan rumah tangga. Secara kualitas, sumber air bersih yang berasal dari air perpipaan dan air isi ulang memenuhi syarat kesehatan secara fisik dan kimia namun tidak memenuhi syarat kesehatan pada parameter total koliform. Sumber air bersih yang berasal dari air sumur memenuhi syarat kesehatan secara kimia namun tidak memenuhi syarat pada parameter TDS, total koliform, dan bakteri Eschericia coli. Sedangkan sumber air hujan tidak memenuhi syarat pada parameter total koliform dan bakteri Eschericia coli.Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan masyarakat Pulau Kelapa mengeluarkan biaya yang tinggi untuk mendapatkan akses air bersih namun secara kualitasnya belum memenuhi persyaratan kesehatan khususnya pada parameter total koliform. ABSTRACTTitle: Clean Water Quality and Quantity Analysis in Kelapa Island, Seribu IslandsBackground: Small islands are vulnerable to clean water due to its size, topography, limited water resources, population growth and the impact of the climate crisis. Kelapa Island is part of Seribu Islands which has the characteristics of a small island. Increasing number of population,combined with its designation as a National Tourism Strategic Area, clean water demand is increasing. This research aims to describe clean water quality and quantity in residents to ensure the quality and availability of air on Kelapa Island.Method: This research used descriptive quantitative methods. Water quality laboratory tests were carried out with water samples originating from piped water, refill water, well water and rainwater using clean water quality standards based on Minister of Health Regulation 2/2023. A household sample of 240 heads of families was interviewed using a structured questionnaire to represent domestic water supply.Result: The research results showed that the use of well water dominates  to fulfill the need for clean water for hygiene and sanitation. As many as 51% of respondents use 120 liters/person/day of clean water for domestic needs; Respondents' accessibility to water sources (distance < 500 meters and water collection time < 30 minutes) was sufficient for 81% and 60% of respondents respectively, 76% of the water sources used by respondents felt brackish; the average cost of providing clean water is 10.76% of total household income. In terms of quality, clean water sources originating from piped water and refill water meet physical and chemical health requirements but do not meet health requirements for total coliform parameters. Clean water sources that come from well water meet chemical health requirements but do not meet the requirements for TDS parameters, total coliforms and Escherichia coli bacteria. Meanwhile, rainwater sources do not meet the requirements for the total parameters of coliforms and Escherichia coli bacteria.Conclusion: Based on the research results, it was found that the residents of Kelapa Island  had to pay high cost to get access to clean water, but the quality does not meet health requirements, especially in terms of microbiological parameters. 
Paparan Emisi Gas Kendaraan dan Kebisingan Berhubungan Dengan Tekanan Darah Petugas Pengujian Kendaraan Bermotor Hartono, Hartono; Silalahi, Marlinang Isabella; Nadapdap, Thomson Parluhutan; Manalu, Putranto; Putri, Faradiba Fatillah; Nadapdap, Marshall Jeremia
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.95-100

Abstract

Latar belakang: Paparan polutan seperti emisi gas kendaraan dan kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas pengujian kendaraan bermotor dapat membahayakan kesehatan petugas. Berbagai literatur telah mengaitkan peningkatan tekanan darah yang dialami pekerja dengan paparan polutan di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara emisi gas kendaraan dan kebisingan terhadap tekanan darah pada petugas pengujian kendaraan bermotor.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan mulai dari Desember 2020 sampai Juni 2021. Populasi pada penelitian ini adalah 54 petugas pengujian kendaraan bermotor Dinas Perhubungan Kabupaten Deli Serdang dan keseluruhan populasi dijadikan sampel (total sampling). Pengukuran paparan karbon monoksida dan hidrokarbon menggunakan emission analyzer AET-2000S. Sedangkan pengukuran kebisingan menggunakan sound level meter. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square (α=0,05).Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13 petugas terpapar karbon monoksida dengan paparan di atas nilai ambang batas. 25 petugas terpapar hidrokarbon yang melebihi nilai ambang batas. Sebanyak 21 petugas terpapar kebisingan melebihi ambang batas selama bekerja. Dari hasil pengukuran tekanan darah terlihat bahwa 20 orang memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Uji statistik menunjukkan paparan karbon monoksida (0,006), hidrokarbon (0,014) dan kebisingan (0,001) berhubungan signifikan dengan peningkatan tekanan darah pada petugas pengujian kendaraan bermotor.Simpulan: Tindakan pencegahan yang disarankan berupa penggunaan alat pelindung diri selama melakukan pengujian kendaraan bermotor. Selain itu, perlu dilakukan pembatasan jam kerja untuk meminimalisir durasi paparan polutan pada petugas. ABSTRACT Title: Exposure to Vehicle Emissions and Noise in Relation to Blood Pressure Among Motor Vehicle Testing Officers Background: Exposure to pollutants, such as vehicle gas emissions and noise generated by motor vehicle testing activities, can jeopardize officers' health. Various studies have linked the increase in blood pressure experienced by workers with exposure to pollutants in the work environment. This study aimed to determine whether there is a relationship between vehicle gas emissions and noise on blood pressure among motor vehicle testing officers.Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. This study was conducted from December 2020 to June 2021. The population in this study was 54 motor vehicle testing officers of the Deli Serdang Regency Transportation Office, and the entire population was sampled (total sampling). Carbon monoxide and hydrocarbon exposure was measured using an AET-2000S emission analyzer. Noise measurements were performed using a sound-level meter. Data were analyzed using the chi-square test (α=0.05).Result: The results showed that 13 officers were exposed to carbon monoxide with exposure above the threshold value. 25 officers were exposed to hydrocarbons that exceeded the threshold value. A total of 21 officers were exposed to noise exceeding the threshold during work. Blood pressure measurements showed that 20 people had a blood pressure above 140/90 mmHg. Statistical tests showed that exposure to carbon monoxide (0.006), hydrocarbons (0.014), and noise (0.001) were significantly associated with increased blood pressure in motor vehicle testing officers. Conclusion: To mitigate the risks associated with pollutant exposure, it is recommended that workers engaged in motor vehicle testing wear personal protective equipment (PPE) and that working hours are limited.
Kontaminasi Mikroplastik pada Rumput Laut dari Beberapa Lokasi Budidaya di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Serihollo, Lukas Giovani Gonzales; Tangguda, Sartika; Cahyanurani, Annisa’ Bias; Sudiarsa, I Nyoman; Pietoyo, Atiek; Deo, Alkuinus Fransisko Gahol; Ndoen, Gilbert Ronelsto DJ
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.37-45

Abstract

Latar belakang: Sampah plastik merupakan salah satu isu global dan masalah utama dunia saat ini. Ketika di lingkungan, sampah ini akan terpecah menjadi beberapa bagian kecil yang akan kita kenal dengan sebutan mikroplastik. Salah satu komoditas unggulan budidaya di Indonesia adalah rumput laut. Rumput laut sendiri menjadi komoditas budidaya utama di Nusa Tenggara Timur terkhususnya kabupaten kupang. Beberapa penelitian tentang pencemaran mikroplastik pada rumput laut telah dilakukan di beberapa daerah namun di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkhususnya Kabupaten Kupang belum dilakukan.Metode: Lokasi atau stasiun pengamatan ditentukan berdasarkan pada karakteristik masing-masing lokasi atau stasiun yang berbeda. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 titik yang merupakan desa yang melakukan budidaya rumput laut. Selanjutnya, sampel diekstraksi menggunakan 3 tahapan yakni Washed, Stirrer dan NaOH. Hasil ekstraksi kemudian diidentifikasi karakteristik (bentuk dan warna) dengan menggunakan mikroskop. Analisis data menggunakan Uji One Way ANOVA untuk membandingkan kelimpahan total pada setiap lokasi pengamatan dan membandingkan kelimpahan antar setiap bentuk.Hasil: Bentuk fiber menduduki urutan pertama dengan total partikel terbanyak yakni 51,19% MP, disusul fragmen dengan 30,56% dan film dengan 18,25%. Untuk warna yang mendominasi adalah transparan dengan 34,48%, disusul biru dengan 32,57%, kemudian hitam 9,58% dan kuning dengan 5,75%. Tidak adanya perbedaan yang signifikan untuk kelimpahan MP antara setiap lokasi pengamatan. Diduga adanya pengaruh pergerakan arus pada setiap lokasi sehingga kelimpahan masing-masing lokasi cenderung sama. Perbedaan signifikan terjadi pada setiap bentuk yang diamati. Hal tersebut diduga dipengaruhi oleh perbedaan masa jenis dari setiap bentuk MP yang mempengaruhi kelimpahannya pada rumput laut. 
Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Implementasi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Di Dusun Begajah, Desa Jatijajar, Kabupaten Semarang Heriyanti, Andhina Putri; Rabbani, Tiara Zahran
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.46-58

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan data World Bank Water Sanitation Program (WSP) tahun 2008 Indonesia merupakan negara dengan sanitasi buruk pada posisi kedua. Buruknya kondisi sanitasi di Indonesia menyebabkan kerugian ekonomi mencapai $6,3 miliar (Rp. 56,7triliun) pertahun atau setara dengan 2,3% dari produk domestik bruto. Melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 Pemerintah menerbitkan kebijakan terkait Program STBM. Dusun Begajah memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan berlokasi di dekat aliran sungai. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit melalui air. Selain itu, Dusun ini memiliki tingkat capaian STBM yang masih rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa praktik sanitasi belum diterapkan secara optimal dan dapat memperburuk kualitas kesehatan lingkungan dan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat Dusun Begajah pada pilar tiga, pilar empat dan pilar lima.Metode: Jenis penelitian ini merupakan mix method yang dilaksanakan pada bulan Desember 2023 hingga Juli 2024. Populasi pada penelitian ini merupakan seluruh masyarakat Desa Jatijajar sebanyak 1600 jiwa. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan simple random sampling sehingga diperoleh sebanyak 214 sampel. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, wawancara, observasi, studi dokumentasi dan studi pustaka. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kulitatif menggunakan teknik triangulasi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki pengetahuan dan pemahaman pada pilar tiga yaitu pentingnya melakukan pengelolaan air minum, namun pada pilar empat dan lima yaitu pengelolaan sampah dan pengamanan limbah cair masyarakat hanya memiliki pengetahuan dasar tanpa pemahaman mendalam. Tingkat partisipasi masyarakat pada pilar tiga, empat dan lima yaitu tinggi, rendah dan rendah. Temuan partisipasi pada pilar tiga dan lima berada pada tingkatan penentraman (placation) menunjukkan bahwa adanya keterlibatan masyarakat, namun lebih sebagai bentuk partisipasi simbolik. Tingkat partisipasi pilar empat berada pada tingkatan terapi (therapy) yang menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat bersifat pasif . Simpulan: Persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pilar 3, 4 dan 5 berbeda karena dipengaruhi oleh faktor internal berupa usia, jenis kelamin, pendidikan dan faktor eksternal berupa peran stakeholder, lamanya waktu tinggal dan adanya kemauan. Berdasarkan penelitian ini, perlunya upaya untuk meningkatkan pemahaman yang lebih mendalam dan mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih aktif, terutama pada pilar empat supaya untuk memberikan kontribusi yang lebih efektif dalam pengelolaan sampah rumah tangga. ABSTRACTTitle: Community Perception and Participation in the Implementation of the Community-Based Total Sanitation Program (STBM) in Begajah Hamlet, Jatijajar Village, Semarang RegencyBackground: Based on World Bank data Water Sanitation Program (WSP) in 2008, Indonesia had poor sanitation in second place. Poor sanitation conditions in Indonesia cause economic losses of up to $6.3 billion (Rp. 56.7 trillion) annually or 2.3% of gross domestic product. Through Minister of Health Regulation Number 3 of 2014, the Government issued policies related to the STBM Program. Begajah Hamlet has a high population density and is located near a river. This condition can potentially increase the risk of environmental pollution and the spread of disease through water. Apart from that, this hamlet has a low level of STBM achievement. This shows that sanitation practices have not been implemented optimally and can worsen the quality of environmental and community health. This research aims to analyze the perceptions and participation of the Begajah Hamlet community in Pillar Three, Pillar Four, and Pillar Five.Method: This type of research is a mixed method which will be carried out from December 2023 to July 2024. The population in this study is the entire Jatijajar Village community of 1600 people. The sampling technique was carried out using simple random sampling thus obtaining 214 samples. Data collection techniques were carried out through questionnaires, interviews, observation, documentation studies, and literature studies. The instrument used in this research was a questionnaire. Data analysis was carried out descriptively, quantitatively, and qualitatively using triangulation techniques.Result: The research results show that the community has knowledge and understanding in pillar three, namely the importance of managing drinking water, but in pillars four and five, namely waste management and securing liquid waste, the community only has basic knowledge without in-depth understanding. The level of community participation in pillars three, four, and five is high, low, and low. The findings of participation in pillars three and five are at the level of reassurance (placation) shows that there is community involvement, but more as a form of symbolic participation. The level of participation in pillar four is at the therapeutic level (therapy) which shows that community participation is passiveConclusion: Community perception and participation towards pillars 3, 4 and 5 are different because they are influenced by internal factors such as age, gender, and education and external factors such as the role of stakeholders, length of stay and willingness. Based on this research, efforts are needed to increase deeper understanding and encourage more active community involvement, especially in pillar four to make a more effective contribution to household waste management
Studi Analitik Observasional: Pengaruh Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Diare pada Balita Stunting di Desa Kalongan, Ungaran Timur Kabupaten Semarang pada Tahun 2023 Cerlyawati, Hugi; Hartini, Eko
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.24.1.68-74

Abstract

Latar belakang Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, angka stunting di Kabupaten Semarang pada tahun 2023 menurut sebesar 4,53% dari 4,61% pada tahun 2022. Penurunan ini terkait dengan berbagai intervensi kesehatan, salah satunya penerapan Lima Pilar STBM. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, yang berdampak langsung pada kejadian diare, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi angka stunting. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lima pilar STBM terhadap kejadian diare dan prevalensi stunting pada balita di Desa Kalongan, Ungaran Timur Kabupaten Semarang Tahun 2024.Metode: Studi ini dilakukan dengan pendekatan observasional analitik, menggunakan desain cross-sectional. Lima pilar STBM sebagai variabel bebas, meliputi: jamban sehat, cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan makanan dan minuman, pengelolaan sampah, pengelolaan limbah cair rumah tangga. Variabel terikatnya adalah diare dan stunting. Populasi penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak balita di wilayah Desa Kalongan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 286 orang ibu. Data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM PLS).Hasil: Studi ini menemukan bukti bahwa 5 pilar STBM antara lain : jamban sehat (t hitung = 2,387), pengelolaan makanan dan minuman (t hitung = 1,991), pengelolaan sampah (t hitung = 4,084), berpengaruh terhadap kejadian diare dan kejadian diare berdampak pada prevalensi stunting di Desa Kalongan Ungaran Timur Kabupaten Semarang Tahun 2024 dengan t hitung sebesar 3,125. CTPS (t hitung = 0,012) dan pengelolaan limbah cair rumah tangga (t hitung = 0,040) tidak berdampak pada kejadian diare.Simpulan: berdasarkan lima pilar STBM, tiga pilar utama yaitu jamban sehat, pengelolaan makanan dan minuman, dan pengelolaan sampah berdampak kuat pada kejadian diare di Desa Kalongan. Sebaliknya, cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan pengelolaan limbah cair rumah tangga tidak berdampak terhadap kejadian diare. Kejadian diare berdampak langsung pada prevalensi stunting di Desa Kalongan, Ungaran Timur Kabupaten Semarang Tahun 2024. ABSTRACTTitle: Utilizing the SEM-PLS Method to Examine the Connection Between Environmental Health and the Frequency of Diarrhea in Developmentally Deficient Toddlers in Kalongan Village, East Ungaran, Semarang Regency in 2023Background Under the medical condition known as stunting, infants or young children do not reach the appropriate height for their age due to growth conditions that are not optimum for children of that age. In Kalongan Village, which is part of the Kalongan Community Health Center's service area, this study attempts to find the five STBM pillars associated with the prevalence of stunting and diarrhea in 2023.Method: This study was conducted using a cross-sectional approach in an observational and analytical manner. Simple random sampling was also utilized. Two hundred eighty-six of the study participants were women. The SEM PLS test was used for data analysis.Result Healthy eating, meal and drink preparation, waste segregation, and the relationship between individual cases in Desa Kalongan with a significance level p <0,05. Additionally, stunting is closely associated with theses component. The tabulation analysis, reveals that only handwashing with soap and sewerage a non-linear relationship with the reported number of cases. Conclusion: Conditions related to environmental stress have a direct impact on animal health, particularly in relation to stunting. Stunting can result from bacterial infections such as diareerhea and infection, which can also cause complication with nutrient uptake and digestion. Diarrhea resulting from inadequate sanitation can significantly impair the body's ability to absorb nutrients, ultimately leading to stunting.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue