cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 439 Documents
Pemodelan Prevalensi Angka Kesakitan Malaria Berdasarkan Persentase Sanitasi Layak Dengan Pendekatan Estimator Least Square Spline Kurniawan, Ardi; Widyawati, Ayu Zulva; Pratiwi, Firda Aulia; Faizun, Nurin; Meliana, Relin
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.287-293

Abstract

Latar belakang: Malaria masih menjadi tantangan kesehatan global yang cukup besar, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi dan menentukan model terbaik untuk prevalensi malaria di Indonesia dengan menggunakan data persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan regresi nonparametrik menggunakan estimator Least Square Spline. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melihat prevalensi kejadian malaria dan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak di 34 provinsi di Indonesia.Hasil: Temuan tersebut mengungkapkan bahwa rata-rata 81% rumah tangga di Indonesia memiliki akses terhadap sanitasi yang layak, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki persentase tertinggi yaitu 96,21% dan Papua yang terendah yaitu 40,34%. Selain itu, prevalensi rata-rata morbiditas malaria di Indonesia adalah 3,91 per 1.000 orang, dengan angka tertinggi di Papua sebesar 113,07 dan terendah di beberapa provinsi seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Banten, dan Kalimantan Barat sebesar 0,00. Pemodelan menggunakan estimator Least Square Spline menunjukkan bahwa akses sanitasi layak berpengaruh signifikan terhadap prevalensi angka kesakitan malaria. Hasil estimasi model menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu persen akses sanitasi layak dapat mengurangi prevalensi angka kesakitan malaria, kecuali di provinsi dengan akses sanitasi layak di atas 80%. Model ini memiliki akurasi tinggi dengan nilai R-Square sebesar 99,11%.Simpulan: Akses sanitasi layak berperan penting dalam menurunkan prevalensi angka kesakitan malaria, namun perlu perhatian khusus di provinsi dengan akses sanitasi layak di bawah 80%. ABSTRACTTitle: Modelling the Prevalence of Malaria Rates based on the Percentage of Adequate Sanitation with the Least Square Spline Estimator ApproachBackground: Malaria remains a significant global health challenge, especially in tropical regions such as Indonesia. This study aims to estimate and determine the best model for malaria prevalence in Indonesia using data on the percentage of households that have access to proper sanitation.Method: This study uses quantitative methods with a nonparametric regression approach using the Least Square Spline estimator. This study uses secondary data obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) to see the prevalence of malaria incidence and the percentage of households that have access to proper sanitation in 34 provinces in Indonesia.Result: The findings revealed that on average 81% of households in Indonesia have access to proper sanitation, with the Special Region of Yogyakarta having the highest percentage at 96.21% and Papua the lowest at 40.34%. In addition, the average prevalence of malaria morbidity in Indonesia is 3.91 per 1,000 people, with the highest rate in Papua at 113.07 and the lowest in several provinces such as South Sumatra, Bengkulu, West Java, Banten, and West Kalimantan at 0.00. Modelling using the Least Square Spline estimator shows that access to proper sanitation has a significant effect on the prevalence of malaria morbidity. The model estimation results show that every one per cent increase in access to proper sanitation can reduce the prevalence of malaria morbidity, except in provinces with access to proper sanitation above 80%. The model has high accuracy with an R-Square value of 99.11%.Conclusion: Adequate access to sanitation is crucial in reducing the prevalence of malaria morbidity, but special emphasis needs to be placed on provinces where sanitation access rates are below 80%.
Evaluasi Polusi Udara PM2.5 dan PM10 di Kota Bandung serta Kaitannya dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut Ismail Wellid; Luga Martin Simbolon; Muhamad Anda Falahuddin; Nita Nurfitriani; Kasni Sumeru; Mohamad Firdaus bin Sukri; Nani Yuningsih
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.128-136

Abstract

Latar belakang: Polusi udara PM2.5 dan PM10 adalah salah satu polutan utama di kota-kota besar, termasuk di Kota Bandung. Salah satu dampak negatif dari polusi PM2.5 dan PM10 adalah meningkatnya kasus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di wilayah terdampak. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mengkaji kaitan antara konsentrasi PM2.5 dan PM10 di kota Bandung dengan jumlah kasus ISPA yang tercatat di puskesmas yang berdekatan dengan lokasi pengujian.Metode: Pengukuran PM2.5 dan PM10 dilakukan di tiga lokasi, dua di pusat kota, yaitu di Monumen 0 km dan Alun-alun, serta satu di Bandung utara (Di depan Terminal Dago). Pengambilan data dilakukan selama tujuh hari dari jam 08.00 hingga 16.00.Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa urutan konsentrasi PM2.5 dan PM10 dari yang tertinggi ke terendah adalah di Alun-alun, Monumen 0 km dan Terminal Dago. Secara umum konsentrasi PM2.5 dan PM10 di tiga lokasi masih di bawah baku mutu bila mengacu PPRI Nomor 22 tahun 2021, kecuali beberapa hari di Alun-alun. Namun bila mengacu pada standar dari WHO, konsentrasi PM2.5 di semua lokasi telah melebihi baku mutu, sedangkan untuk PM10, ada hari-hari tertentu yang di atas baku mutu. Ini artinya bila mengacu pada standard WHO, Kota Bandung darurat PM2.5, karena di semua lokasi pengukuran menunjukkan konsentrasi PM2.5 telah di atas baku mutu dari WHO.Simpulan: Berdasarkan data kasus ISPA dari puskesmas di wilayah pengukuran menunjukkan terjadi kebalikan, dimana jumlah kasus ISPA paling banyak terjadi di daerah Dago meskipun konsentrasi PM2.5 dan PM10-nya yang paling rendah. Kasus ISPA di pusat kota tidak sebanyak di puskesmas Dago. Diduga hal ini disebabkan masyarakat yang tinggal di pusat kota tidak banyak yang berobat di Puskemas, sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah Dago lebih banyak yang berobat ke Puskesmas di wilayahnya. ABSTRACTTitle: Evaluation of PM2.5 and PM10 Air Pollution in Bandung City and its Relation to Acute Respiratory InfectionBackground:PM2.5 and PM10 are two main pollutants in big cities like Bandung. The negative effects of the pollution caused by PM2.5 and PM10 has been a rise in the frequency of acute respiratory infections (ARI). Therefore, this study aims to assess the correlation between PM2.5 and PM10 concentrations in Bandung city and the number of ARI cases recorded at the Puskesmas adjacent to the test site.Methods: PM10 measurements were made in three places: one in northern Bandung (in front of Dago Terminal), two in the city center (at the 0 km Monument and Alun-alun). Data were collected for seven days, 08.00 to 16.00.Results: The results show that the order of PM2.5 and PM10 concentrations from highest to lowest is in Alun-alun, 0 km Monument and Dago Terminal. Referring to PPRI number 22 of 2021, PM2.5 and PM10 concentrations at all three locations remain under the standard, except for a few days in Alun-alun. However, compared to WHO guidelines, PM2.5 concentrations are always greater than the standard, but for PM10, only few days may higher than the standard. Having above average PM2.5 concentrations at each measurement, Bandung is considered in emergency state according to WHO guidelines.Conclusion: Based on measurement data on ARI cases from Puskesmas (Public Health Center), the opposite occurred, the highest number of ARI cases occurred in the Dago area even though the PM2.5 and PM10 concentrations were the lowest. There are not as many ARI cases in the city center. It is suspected that many people who live in the city canter didn’t seek treatment at the Puskemas, while more people who live in the Dago area seek treatment at the Puskesmas. 
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Baduta Di Kabupaten Bone Dan Enrekang Aisyah Noer Auliyah Madani Pertiwi; Indra Dwinata; Eny Qurniyawati; Rismayanti Rismayanti
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.1.101-110

Abstract

Latar belakang: Dari 34 provinsi di Indonesia, lebih dari 50% diantaranya memiliki prevalensi stunting  yang lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Sulawesi Selatan menempati urutan ke-13 dalam prevalensi terjadinya stunting, dengan angka kejadian 30,1%, melebihi rata-rata nasional.. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 12 hingga 23 bulan di Kabupaten Bone dan Enrekang tahun 2020.Metode: Pendekatan observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Data dikumpulkan dari baseline data program Gammara’na melalui observasi kuesioner. Jumlah populasi sebesar 19.000 bayi dengan rentang usia 12 hingga 23 bulan di Kabupaten Bone dan Enrekang. Adapun sampel yang terkumpul sebanyak 580 baduta. Jumlah sampel yang masuk dalam analisis setelah dilakukan manajemen data sebanyak 503 baduta.Hasil: Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bone dan Enrekang berturut-turut sebesar 30,5% dan 34,4%. Analisis ini menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara sumber air minum dengan kejadian stunting pada baduta usia 12 hingga 23 bulan (p=0,033). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pemberian kolostrum, ASI eksklusif, kepemilikan jamban, sumber air bersih dan paparan asap rokok dengan kejadian stunting pada baduta usia 12-23 bulan.Simpulan: Direkomendasikan untuk stakeholder mengupayakan optimalisasi fasilitas kesehatan dengan meningkatkan kualitas pelayanan kehamilan Selain itu, perlu dilakukan penyuluhan terkait pemahaman pola asih anak dan pengetahuan gizi terutama di keluarga secara tepat. Sosialisasi terkait WASH juga perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku rumah tangga dalam pengelolaan air bersih, air minum, sanitasi jamban dan perilaku merokok. ABSTRACTTitle: Factors Associated with Incidence of Stunting in Infants in Bone and Enrekang Regencies Background: Of the 34 provinces in Indonesia, more than 50% of them have a higher prevalence of stunting compared to national figures. South Sulawesi ranks 13th in the prevalence of stunting, with an incidence rate of 30.1%, exceeding the national average. The purpose of this study was to identify factors related to the incidence of stunting in baduta aged 12 to 23 months in Bone and Enrekang regencies in 2020.Method: This study used an observational analytical approach with a cross-sectional study design. Data was collected from the baseline information of the Gammara'na program through questionnaire observations. The population consisted of 19,000 infants aged 12 to 23 months in the Bone and Enrekang districts, with 580 infants selected as samples. After data management, 503 infants were included in the analysis.Result: Prevalencen rate of stunting in the Bone and Enrekang districts was 30.5% and 34.4% respectively. The analysis revealed a statistically significant correlation between the source of drinking water and stunting incidence in infants aged 12 to 23 months (p=0.033). No significant relationship was found between maternal education level, maternal occupation, colostrum provision, exclusive breastfeeding history, toilet ownership, clean water source, and exposure to cigarette smoke with the incidence of stunting in infants aged 12 to 23 months. Conclusion: Stakeholders are advised to focus on enhancing the quality of pregnancy care to optimize health facilities. Additionally, there is a need for education on understanding children's feeding patterns and nutrition knowledge, particularly within families. WASH awareness programs are also essential to improve household knowledge and practices in managing clean water, drinking water, toilet sanitation, and smoking habits.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gangguan Neurologis Pada Petani (Studi Pada Petani Di Desa Bumen Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang) Ardiansyah, Raihan Mahesa; Setiani, Onny; Suhartono, Suhartono
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.257-266

Abstract

Latar belakang: Para petani penyemprot di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono setiap harinya selalu melakukan kontak dengan pestisida. Paparan pestisida kepada para petani penyemprot di Desa Bumen dapat menyebabkan timbulnya gejala gangguan neurologis. Sebagian besar petani tersebut memiliki riwayat gejala gangguan neurologis, seperti tremor, merasa sangat lelah di luar kebiasaan, sensitif, kebas pada tangan dan kaki, dan lupa hal baru saja terjadi. Selain itu, terdapat anggota keluarga yang sering lupa akan hal yang baru saja terjadi, dan mengharuskan mereka mencatat hal-hal penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian gangguan neurologis akibat pestisida pada petani di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional yang bersfiat analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Populasi penelitian pada penelitian ini sebanyak 363 petani penyemprot. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, sehingga diperoleh subjek penelitian 76 petani penyemprot. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner Q18 Jerman yang telah dimodifikasi sesuai dengan budaya setempat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis univariat dan analisis bivariate dengan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 46 petani (60,52%) mengalami gejala gangguan neurologis. Terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja (p-value= 0,009), dosis pestisida (p-value= 0,032), jenis pestisida (p-value= 0,009), dan cara pencampuran pestisida (p-value= 0,002) dengan gejala neurologis pada para petani. Tidak ada hubungan lama penyemprotan (p-value= 0,64), frekuensi penyemprotan (p-value= 0,638), posisi menyemprot (p-value- =1,000), kelengkapan APD (p-value= 0,85), dan penyimpanan pestisida dengan kejadian gangguan neurologis pada petani di Desa Bumen.Simpulan: Terdapat sebanyak 4 variabel yang terbukti memiliki hubungan dengan kejadian gangguan neurologis pada petani di Desa Bumen. Variabel tersebut yaitu masa kerja, dosis pestisida, jenis pestisida, dan cara pencampuran pestisida. ABSTRACT Title: Factors Related to the Incident of Neurological Disorders in Farmers (Study on Farmers in Bumen Village, Sumowono District, Semarang Regency)Background: Spraying farmers in Bumen Village, Sumowono District always come into contact with pesticides every day. Exposure to pesticides by spraying farmers in Bumen Village can cause symptoms of neurological disorders. Most of these farmers have a history of symptoms of neurological disorders, such as tremors, feeling unusually tired, sensitive, numb in the hands and feet, and forgetting what has just happened. In addition, there are family members who often forget what has just happened, and require them to record important things. This research aims to determine what factors are associated with the incidence of neurological disorders due to pesticides in farmers in Bumen Village, Sumowono District, Semarang Regency.Method: This research is an analytical observational study with a cross-sectional research design. The research population in this study was 363 spray farmers. The sampling technique used simple random sampling, so that the research subjects were 76 spraying farmers. The instrument used in this research is the German Q18 questionnaire which has been modified according to local culture. The data analysis techniques used in this research include univariate analysis and bivariate analysis with the chi-square test.Result: The results showed that as many as 46 farmers (60.52%) experienced symptoms of neurological disorders. There is a significant relationship between work period (p-value= 0.009), pesticide dose (p-value= 0.032), type of pesticide (p-value= 0.009), and method of mixing pesticides (p-value= 0.002) with neurological symptoms in the farmers. There is no relationship between spraying time (p-value= 0.64), spraying frequency (p-value= 0.638), spraying position (p-value- =1.000), completeness of PPE (p-value= 0.85), and storage pesticides with the incidence of neurological disorders in farmers in Bumen Village.Conclusion: There are 4 variables that have been proven to have a relationship with the incidence of neurological disorders in farmers in Bumen Village. These variables are work period, pesticide dose, type of pesticide, and method of mixing the pesticide. 
Perubahan Iklim Terhadap Kasus DBD di Kabupaten Jayapura Tahun 2014-2021 Semuel Sandy
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.2.182-190

Abstract

Latar belakang: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia, Kasus DBD  hampir ditemukan  sepanjang tahun kasus DBD di wilayah Indonesia terutama pada awal masa penghujan. Kasus DBD di Jayapura merupakan permasalahan kesehatan sejak ditemukan kasus ini di tahun 1979. Studi ini bertujuan menganalisis factor iklim dan kepadatan penduduk terhadap kejadian DBD di Kabupaten Jayapura Tahun 2014-2021.Metode: Studi analisis menggunakan data kasus DBD Tahun 2014-2021 dari Laporan Profil Kesehatan Kabupaten Jayapura. Data factor iklim menggunakan data Laporan Kabupaten Jayapura dalam Angka Tahun 2014-2022 dari BPS Kabupaten Jayapura. Data dianalisis secara deskriptif kemudian dilakukan analisis bivariat uji spearman. Analisis regresi multivariat menggunakan uji regresi linear untuk melihat seberapa besar pengaruh factor iklim dan kepadatan penduduk terhadap kejadian DBD di Kabupaten Jayapura.Hasil: hasil analisis statistik uji Rank Spearman menemukan adanya hubungan  faktor iklim curah hujan terhadap kasus DBD di Kabupaten Jayapura (p=0.04) dengan korelasi positif (r= 0,7). analisis menggunakan model regresi multivariat (regresi linear) ditamukan asosiasi faktor iklim curah hujan ꞵ=0,06; 95%CI (0,005-0,064); kelembaban ꞵ= 10,15; 95%CI(9,55-10,75); suhu ꞵ= 28,35; 95%CI (27,10-29,61), kecepatan angin ꞵ= terhadap kasus DBD. Ditemukan juga asosiasi kepadatan penduduk terhadap kejadian DBD dikabupaten Jayapura ꞵ=2,9; 95%CI (2,50-3,39). Hasil model persamaan  regresi linear multivariat Generalized Linear Models (GLM) adalah:   Y(Kasus DBD) = -1211,721 + 10,148*(Kelembaban) + 28,354*(Kecepatan angin) + 2,945*(Kepadatan Penduduk) + 0,0060*(Curah hujan).Simpulan: Faktor iklim curah hujan, kelembaban, suhu, kecepatan angin dan faktor kepadatan penduduk merupakan faktor penting yang berasosiasi dengan kejadian DBD dikabupaten Jajayapura. Mengetahui pola perubahan iklim dapat membantu dalam mencegah terjadinya kejadian luar biasa DBD di wilayah Kabupaten Jayapura. ABSTRACTTitle: The impact of climate change on Dengue Fever cases in Jayapura Regency from 2014 to 2021.Background: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a health problem in Indonesia, especially during the early rainy season. DHF cases in Jayapura Regency have been a health concern since the first case was reported in 1979. This study aims to analyze the climate and population density factors associated with DHF occurrences in Jayapura Regency from 2014 to 2021.Methods: This analytical study used DHF case data from 2014 to 2021 obtained from the Health Profile Report of Jayapura Regency. Climate factor data were derived from the Jayapura Regency in Figures Report 2014-2022 by the Central Bureau of Statistics of Jayapura Regency. The data were analyzed descriptively and then subjected to bivariate analysis using Spearman's test. Multivariate regression analysis was performed using linear regression to assess the magnitude of the influence of climate and population density factors on DHF occurrences in Jayapura Regency.Results: The results of the statistical analysis using Spearman's Rank test found a significant relationship between rainfall and Dengue Fever (DF) cases in Jayapura District (p=0.04) with a positive correlation (r=0.7). The multivariate regression analysis (linear regression) revealed associations between rainfall (β=0.06; 95%CI 0.005-0.064), humidity (β=10.15; 95%CI 9.55-10.75), temperature (β=28.35; 95%CI 27.10-29.61), wind speed (β=), and DF cases. Additionally, an association between population density and DF occurrence in Jayapura District was found (β=2.9; 95%CI 2.50-3.39). The results of the multivariate Generalized Linear Models (GLM) regression equation are as follows: Y [DF cases] = -1211.721 + 10.148*[Humidity] + 28.354*[Wind speed] + 2.945*[Population Density] + 0.0060*[Rainfall].Conclusion: Climate factors such as rainfall, humidity, temperature, wind speed, and population density are important factors associated with DHF occurrences in Jayapura Regency. Understanding climate change patterns can help prevent DHF outbreaks in the Jayapura Regency area.
Potensi Risiko Gangguan Kesehatan Akibat Pajanan Gas CH4 dan H2S pada Pekerja TPA Air Dingin, Kota Padang Lestari, Resti Ayu; Nur, Nadia Chalida; Regia, Rinda Andhita; Marganof, Hasnan Habib; Dhiwayusja, Adhika
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.294-300

Abstract

Latar belakang: Dekomposisi sampah di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Air Dingin, Kota Padang menghasilkan polutan hidrogen sulfida (H2S) dan metana (CH4). Pajanan gas ini berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan pekerja di TPA. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi gas H2S dan CH4 serta menentukan apakah pajanan tersebut sudah berisiko terhadap kesehatan pekerja atau belum.Metode: Penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif. Pengukuran konsentrasi polutan gas H2S dan CH4 dilakukan dengan menggunakan gas impinger selama dua hari di dua titik. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 30 orang. Data karakteristik responden didapatkan melalui kuisioner. Data diolah dengan menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) untuk menentukan karakterisasi risiko pada responden akibat pajanan polutan gas tersebut.Hasil: Nilai konsentrasi H2S dan CH4 berturut-turut adalah 8,056 mg/m3 dan 6,173 mg/m3 (titik 1) dan 10,259 mg/m3 dan 6,710 mg/m3 (titik 2). Nilai intake untuk pajanan H2S pada responden di kondisi realtime dan lifetime berturut-turut berada pada rentang 0,016 – 1,463 mg/kg.hari dan 0,076–2,195 mg/kg.hari. Sementara nilai intake untuk pajanan CH4 pada kondisi realtime dan lifetime berturut-turut berada pada rentang 0,012–1,121 mg/kg.hari dan 0,058 – 1,682 mg/kg.hari. Nilai RQ realtime dan lifetime untuk pajanan polutan gas H2S menghasilkan bahwa  100% responden  memiliki nilai  RQ>1 dan pajanan CH4 memiliki nilai  RQ<1.Simpulan: Nilai konsentrasi gas H2S sudah melewati baku mutu yang ditetapkan. Berdasarkan nilai RQ diketahui bahwa semua responden di TPA Air Dingin berpotensi mengalami gangguan kesehatan akibat pajanan H2S karena nilai RQ>1. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan risiko untuk meminimalisir potensi risiko gangguan kesehatan pada responden. ABSTRACT Title: Potential Risk of Health Problems Due to Exposure to CH4 and H2S Gases in Air Dingin Landfill Workers, Padang City Background: The decomposition of waste in  Air Dingin landfill, Padang City produces gaseous pollutants such as hydrogen sulfide (H2S) and methane (CH4). Exposure of these gases to workers has the potential to cause health problems. This study aims to determine the concentration of H2S and CH4 gases and determine whether the exposure is already risky to workers' health or not.Method: This research is classified as quantitative research. Measurement of H2S and CH4 concentrations was carried out using a gas impinger for two days at two points. The  respondents  number in this study was 30 people.. These data were processed using the environmental health risk analysis (EHRA) method. Result: The H2S and CH4 concentration values were 8.56 mg/m3 and 6.173 mg/m3 (point 1) and 10.259 mg/m3 and 6.710 mg/m3 (point 2) respectively. The intake value for H2S exposure to respondents  for real-time and lifetime were 0.016 – 1.463 mg/kg.day and 0.076 – 2.195 mg/kg.day. Meanwhile the intake value for CH4 exposure for real-time and lifetime were in the range 0.012 – 1.121 mg/kg.day and 0.058 – 1.682 mg/kg.day. The real-time and lifetime RQ values for H2S resulted in 100% of respondents having RQ values >1 and RQ values <1 for CH4 exposure.Conclusion: The concentration values of H2S gas have exceeded the established quality standards. Based on the RQ value, it is known that all respondents at Air Dingin Landfill have the potential to experience health problems. Therefore, risk management is needed to minimize the potential risk of health problems to respondents. 
Analisis Faktor Paparan dan Faktor Lingkungan Tempat Tinggal dengan Kejadian Infeksi Tuberkulosis Laten (Studi pada Keluarga Pasien Tuberkulosis Aktif di Kota Semarang - Jawa Tengah) Karbito, Karbito; Muslim, Azhari; Helmy, Helina
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.311-319

Abstract

Latar belakang : Tuberkolusis merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang masih menjadi permasalahan serius di negara-negara berkembang dan terbelakang, termasuk Indonesia. Diperkirakan 25% populasi penduduk dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (M.tb), sebanyak 10% diantaranya berkembang menjadi penyakit aktif, dan sisanya (90%) akan mempertahankan diri dalam bentuk tuberkulosis laten. Antara 5-10% infeksi tuberkolusis laten akan berkembang menjadi tuberkolusis aktif. Hal ini berarti infeksi tuberkolusis laten menjadi kantung dan sumber utama kejadian dan penularan tuberkulosis aktif dimasa mendatang. Anggota keluarga serumah dengan penderita tuberkulosis aktif berisiko mengalami kejadian infeksi tuberkulosis laten. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan faktor paparan dan faktor lingkungan tempat tinggal dengan kejadian infeksi tuberkulosis laten pada anggota keluarga serumah dengan penderita tuberkulosis aktif.Metode : Studi ini merupakan studi analitik kuantitatif menggunakan rancangan cross sectional. Sejumlah 138 subjek studi dari 241 anggota keluarga 112 indeks kasus tuberkulosis aktif berpartisipasi dalam studi ini. Subjek studi dilakukan Tuberculin Skin Test (TST). Subjek studi dinyatakan positif mengalami infeksi tuberkulosis laten jika hasil TST didapatkan indurasi ≥10 mm. Variabel faktor paparan dan faktor lingkungan tempat tinggal dikumpulkan dengan teknik wawancara, pengamatan dan pengukuran menggunakan alat ukur kuesioner, checklist dan alat ukur lainnya. Analisis data penelitian dilakukan secara bivariat menggunakan uji chi-square dan secara multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis variabel dinyatakan mempunyai hubungan bermakna jika memperoleh nilai-p<0,05.Hasil : Sebanyak 63,8% anggota keluarga serumah penderita tuberkulosis aktif mengalami kejadian infeksi tuberkulosis laten. Berdasarkan analisis bivariat (uji chi square) ditemukan ada 3 (tiga) variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian infeksi tuberkulosis laten yaitu variabel jenis paparan (nilai-p=0,027), variabel lama waktu paparan (nilai-p=0,041) dan varianel kepadatan ruang tidur (nilai-p=0,001). Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diketahui bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian TB laten adalah lama waktu paparan (nilai-p=0,023; aOR=3,72; 95%CI=1,19–11,58) dan kepadatan ruang tidur (nilai-p<0,001; aOR=3,89; 95%CI=1,82–8,33).Simpulan : Kejadian infeksi tuberkulosis laten pada anggota keluarga serumah dengan penderita tuberkulosis aktif menunjukkan angka yang relatif tinggi. Secara simultan variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian infeksi tuberkulosis laten pada anggota keluarga serumah dengan penderita tuberkulosis aktif adalah variabel lama waktu paparan dan variabel kepadatan ruang tidur. Variabel kepadatan ruang tidur merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian infeksi tuberkulosis laten setelah disesuaikan oleh variabel lama waktu paparan.  ABSTRACT Title: Analysis of Exposure Factors and Residential Environmental Factors with The Incidence of Latent Tuberculosis Infection (Study on families of active tuberculosis patients in Semarang City - Central Java)Background: Tuberculosis is a contagious infectious disease that is still a serious problem in developing and underdeveloped countries, including Indonesia. It is estimated that 25% of the world's population has been infected with Mycobacterium tuberculosis (M.tb), 10% of which develop active disease, and the remainder (90%) will persist in the form of latent tuberculosis. Between 5-10% of latent tuberculosis infections will develop into active tuberculosis. This means that latent tuberculosis infection will become the main source of occurrence and transmission of active tuberculosis in the future. Family members living in a household with active tuberculosis sufferers are at risk of experiencing latent tuberculosis infection. This study aims to analyze the relationship between exposure factors and environmental factors of residence with the incidence of latent tuberculosis infection in family members living in the same house as active tuberculosis sufferers.Methods: This study is a quantitative analytical study using a cross-sectional design. 138 study subjects from 241 family members and 112 index cases of active tuberculosis participated in this study. Study subjects underwent a Tuberculin Skin Test (TST). Study subjects were declared positive for latent tuberculosis infection if the TST results showed an induration of ≥10 mm. Exposure factor variables and residential environmental factors were collected using interview techniques, observation, and measurement using questionnaires, checklists, and other measuring tools. Research data analysis was carried out bivariate using the chi-square test and multivariate using the multiple logistic regression test. The results of the variable analysis are declared to have a significant relationship if they obtain a p-value <0.05.Results: As many as 63.8% of family members living in a household with active tuberculosis experienced latent tuberculosis infection. Based on bivariate analysis (chi-square test), it was found that 3 (three) variables had a significant relationship with the incidence of latent tuberculosis infection, namely the type of exposure variable (p-value = 0.027), the length of exposure variable (p-value = 0.041) and the density variant. bedroom (p-value=0.001). The results of multivariate analysis with multiple logistic regression tests showed that the variables significantly associated with the incidence of latent TB were the length of exposure (p-value=0.023; aOR=3.72; 95%CI=1.19–11.58) and room density. sleep (p-value<0.001; aOR=3.89; 95%CI=1.82–8.33).Conclusion: The incidence of latent tuberculosis infection in family members sharing a household with active tuberculosis sufferers shows a relatively high rate. Simultaneously, the variables that have a significant relationship with the incidence of latent tuberculosis infection in family members living in the same house as active tuberculosis sufferers are the length of exposure variable and the bedroom density variable. The bedroom density variable is the most dominant variable associated with the incidence of latent tuberculosis infection after adjusting for the length of exposure variable.
Analisis Penyakit Diare di Desa Cipang Kiri Hulu dan Faktor Lingkungan Fisik yang Mempengaruhinya Susanti, Nurvi; Rasyid, Zulmeliza; Hasrianto, Nofri; Redho, Ahmad; Fadhli, Rohmi
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.374-381

Abstract

Latar belakang: Penyakit diare adalah suatu kondisi medis di mana seseorang, mengalami buang air besar dengan frekuensi yang lebih dari tiga kali per hari dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair dari biasanya. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak. Kasus diare di Desa Cipang Kiri hulu meningkat dari 231 kasus menjadi 325 kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor lingkungan fisik dengan penyakit diare di Desa Cipang Kiri Hulu.Metode: Penelitian bersifat kuantitatif analitik observasional dengan Cross sectional Design. Sampel berjumlah 150 KK. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Cipang Kiri Hulu. Variabel penelitian meliputi variabel dependen (penyakit diare) dan variabel independen (sumber air minum, pengelolaan sampah, Saluran Pembuangan Air Limbah, jamban dan jenis lantai). Pengumpulan data secara observasi dan wawancara. Teknik pengumpulan data secara Quota Sampling. Data diolah secara komputerisasi. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan sumber air minum (p-value 0,0001), pengelolaan sampah (p-value 0,0001), Saluran Pembuangan Air Limbah (p-value 0,0001), jamban (p-value 0,001), dan jenis lantai (p-value 0,0001) dengan kejadian diare di Desa Cipang Kiri Hulu.Simpulan: Edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan promosi kesehatan mengenai sumber air minum, pengelolaan sampah, saluran pembuangan air limbah, jamban dan jenis lantai yang memenuhi syarat kesehatan sangat dibutuhkan dalam pencegahan dan penanggulangan kasus angka kejadian diare.  ABSTRACTTitle: Analysis of Diarrhea Disease in Cipang Kiri Hulu Village and Physical Environmental Factors that Influence ItBackground: Diarrhea is a medical condition in which a person experiences bowel movements with a frequency of more than three times per day and a softer or more liquid stool consistency than usual. This disease usually attacks children. Diarrhea cases in Cipang Kiri Hulu Village increased from 231 cases to 325 cases. This study aims to analyze physical environmental factors with diarrhea in Cipang Kiri Hulu Village.Methods: The research is quantitative analytical observational with Cross sectional Design. The sample numbered 150 families. The location of the study was conducted in Cipang Kiri Hulu Village. The research variables include the dependent variable (diarrhea) and independent variables (drinking water sources, waste management, Wastewater Drainage Channels, toilets and floor types). Data collection by observation and interview. Data collection techniques are Quota Sampling. Data is processed computerized. Univariate and bivariate data analysis using the chi-square test.Results: The results of the study showed that there was a relationship between drinking water sources (p-value 0.0001), waste management (p-value 0.0001), Wastewater Drainage Channels (p-value 0.0001), toilets (p-value 0.001), and floor types (p-value 0.0001) with the incidence of diarrhea in Cipang Kiri Hulu Village.Conclusion: Public education through health promotion activities regarding drinking water sources, waste management, wastewater drainage channels, toilets and types of floors that meet health requirements is very much needed in preventing and dealing with cases of diarrhea.
Analisis Penyediaan Air Minum Di Wilayah Kumuh Perkotaan Kota Padang Alfian, Azyyati Ridha; Salsabilla, Rifa; Rahmah, Septia Pristi; Firdani, Fea; Gusti, Aria
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.326-333

Abstract

Latar belakang: Di Kota Padang terdapat 22 kelurahan permukiman kumuh, dimana salah satu indikator kumuh yaitu kurangnya penyediaan air minum. Masih terdapat 4,65% air minum tak layak di Kota Padang. Penelitian bertujuan untuk menganalisis penyediaan air minum di wilayah kumuh perkotaan Kota Padang.Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan bulan Januari - Agustus 2023 di empat lokasi wilayah kumuh Kota Padang. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi. Informan penelitian berjumlah 14 orang menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan metode triangulasi dan bahan referensi.Hasil: Berdasarkan penelitian terdapat kendala dalam penyediaan air minum. Kendalanya belum adanya kebijakan khusus yang mengatur penyediaan air minum di wilayah kumuh, serta tanggung jawab setiap SDM dari setiap instansi belum terfokus kepada penyediaan air minum di wilayah kumuh. Pelaksanaan penyediaan air minum belum berjalan dengan maksimal disebabkan kurangnya pendanaan untuk sambungan rumah ke masyarakat serta sarana dan prasarana yang disediakan belum mencukupi untuk masyarakat di wilayah kumuh perkotaan Kota Padang.Simpulan: Penyediaan air minum di wilayah kumuh belum mencapai target nasional. Disarankan setiap instansi untuk melakukan koordinasi dan melakukan pemberdayaan kepada masyarakat untuk berpartisipasi lebih dalam pelaksanaan penyediaan air minum di wilayah kumuh perkotaan Kota Padang. ABSTRACT Title: Analysis Of Drinking Water Provision In The Urban Slum Area Of Padang City Background: In Padang City, there are 22 slum sub-districts, and one of the indicators of slums is the lack of provision of drinking water. There is still 4.65% of unsuitable drinking water in Padang City. The research aims to analyze the provision of drinking water in the urban slum areas of Padang City. Method: This type of research is qualitative and was carried out in January–August 2023 in four locations in the slum areas of Padang City. Data collection techniques include in-depth interviews, document review, and observation. There were 14 research informants using purposive sampling techniques. Data analysis uses triangulation methods and reference materials.Result: Based on research, there are obstacles to providing drinking water. The problem is that there is no specific policy that regulates the provision of drinking water in slum areas, and the responsibility of every human resource from each agency is not yet focused on providing drinking water in slum areas. The implementation of drinking water provision has not been running optimally due to the lack of funding for house connections to the community, and the facilities and infrastructure provided are not sufficient for the community in the urban slum areas of Padang City.Conclusion: The provision of drinking water in slum areas has not reached the national target. It is recommended that each agency coordinate and empower the community to participate more in the implementation of drinking water supply in the urban slum areas of Padang City.
Keanekaragaman, Kelimpahan Nisbi, Frekuensi dan Dominansi pada Nyamuk di Daerah Endemis Filariasis Kota Pekalongan Jawa Tengah Ghofur, Abdul; Hadisaputro, Suharyo; Sayono, Sayono; Gumilar, Argo Ganda
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.23.3.334-340

Abstract

Latar belakang: Filariasis disebabkan cacing filaria dengan nyamuk sebagai vektor (vector borne disease). Kesepakatan global memberantas filariasis melalui The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 telah ditetapkan oleh WHO. Namun, sampai tahun 2021 masih terdapat 882 juta orang di 44 negara terancam filariasis, sehingga WHO menetapkan roadmap Neglected Tropical Diseases tahun 2021-2030. Indonesia memiliki 236 kabupaten atau kota endemis filariasis, pada akhir tahun 2021 tercatat 9.354 penderita. Kota Pekalongan salah satu daerah endemis filariasis. Nyamuk Culex sp. dan Aedes sp. ditetapkan sebagai vektor filariasis diperkotaan karena pernah ditemukan mikrofilaria pada spesies nyamuk tersebut, sehingga perlu penelitian parameter entomologi dan umur nyamuk untuk menemukan spesies yang paling berpotensi sebagai vektor filariasis.Tujuan: Mengetahui angka parameter entomologi untuk menentukan spesies yang paling berpotensi menjadi vektor di daerah endemis filariasis Kota PekalonganMetode: Penelitian observasional dengan rancangan crosssectional menggunakan metode purposive sampling. Sampel penelitian adalah nyamuk yang tertangkap di 6 rumah penderita. Penangkapan nyamuk selama 3 bulan. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptifHasil: Jumlah nyamuk 1.160 ekor, dengan 5 jenis spesies yaitu Culex quinquefasciatus, Culex tritaeniorhynchus, Culex vishnui, Aedes aegypti, dan Anopheles vagus. Culex quinquefasciatus di Kelurahan Jenggot dan Medono mendominasi hasil perhitungan parameter entomologi dengan kelimpahan nisbi 70,01% dan 66.19%, frekuensi 1.0 dan 1.0, dominansi 70.01 dan 66.19 dan rata-rata umur 17 dan 19 hari.Simpulan: Tingginya angka parameter entomologi dan umur dari Culex quinquefasciatus menyebabkan Culex quinquefasciatus berpotensi menjadi vektor utama filariasis di Kota Pekalongan. ABSTRACTTitle: Diversity, Relative Abundance, Frequency, And Dominance Of Mosquitoes In Filariasis Endemic Areas Of Pekalongan District, Central JavaBackground: Filariasis is a vector-borne disease caused by filarial worms transmitted by mosquitoes. The World Health Organization (WHO) has established a global goal to eliminate filariasis as a public health problem by the year 2020, known as the Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis. However, as of 2021, there are still 882 million people in 44 countries at risk of filariasis, prompting the WHO to develop a Neglected Tropical Diseases roadmap for 2021-2030. Indonesia, with 236 districts or cities endemic for filariasis, reported 9,354 cases by the end of 2021. Pekalongan City is one of the endemic areas for filariasis. Culex sp. mosquitoes and Aedes sp. mosquitoes are designated as filariasis vectors in urban areas due to the presence of microfilariae in these mosquito species. Therefore, it is essential to study the entomological parameters and age of mosquitoes to identify the species with the highest potential as a filariasis vector. Objective: This study aims to determine the entomological parameters and identify the species with the highest potential to become vectors in filariasis-endemic areas in Pekalongan City. Methods: This study utilized an observational research design with a cross-sectional approach, employing a purposive sampling method. The mosquito samples were collected from the homes of six individuals suffering from filariasis over a period of three months. Descriptive analysis was conducted to analyze the research findings. Results: A total of 1,160 mosquitoes were captured, consisting of five species: Culex quinquefasciatus, Culex tritaeniorhynchus, Culex vishnui, Anopheles vagus, and Aedes aegypti. Among these species, Culex quinquefasciatus in Jenggot and Medono Villages demonstrated dominance in the entomological parameter calculations, with a relative abundance of 70.01% and 66.19%, a frequency of 1.0 and 1.0, and a dominance of 70.01 and 66.19. The average age of these mosquitoes was 17 and 19 days, respectively. Conclusion: The high number of entomological parameters and the age of Culex quinquefasciatus mosquitoes indicate their potential as the primary vector for filariasis in Pekalongan City.

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue