Articles
578 Documents
DINAMIKA PERKEMBANGAN LEMBAGA JAMINAN FIDUCIA DI INDONESIA
Ahmad Zaini
Al Qalam Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (768.6 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i3.1669
Tulisan ini akan membahas tentang fiducia sebagai lembaga jaminan yang didasarkan pada kepercayaan (fiduciaire eigendoms overdracht). Lembaga ini sering muncul dalam praktek perdagangan dan perbankan terkait dengan perjanjian hutang-piutang, permodalan, maupun jaminan kredit. Jaminan fiducia berlaku karena masyarakat menginginkan adanya semacam jaminan, di mana benda yang dijaminkan tetap dipegang oleh pemiliknya untuk menjalankan usahanya. Dengan demikian terlihat bahwa sesungguhnya fiducia merupakan perjanjian yang bersifat accesoir, yakni merupakan tambahan saja dari perjanian pokok yang berupa perjanjian hutang piutang yang diikuti dengan jaminan berupa benda bergerak maupun tidak bergerak milik debitur.Undang-undang No. 42 Tahun 1999 menyatakan bahwa fiducia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan, dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap berada dalam penguasaan pemilik benda. Pada umumnya benda yang menjadi obyek jaminan fiducia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan, benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dalam hal memperoleh modal usahanya, maka pasal 1 angka 2 UU Nomor 42 Tahun 1999 memberikan pengertian yang luas terhadap obyek jaminan fiducia, yaitu benda bergerak yang berwujud maupun tidak berwujud dan benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan.Fiducia dinilai sebagai solusi terbaik bagi dunia usaha dalam hal ketersediaan dana, terutama dalam rangka pemberian kredit bagi golongan ekonomi lemah karena benda yang menjadi jaminan tetap dapat dikuasai dan dimanfaatkan debitur untuk kepentingan usaha. Tentu ini berbeda dengan gadai di mana benda yang dijaminkan ada dalam kekuasaan kreditur, yang baru dapat dikembalikan ketika proses pelunasan hutang piutang telah selesai.
PESANTREN AL-KHAIRIYAH
SYAIR ASIMAN
Al Qalam Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (670.55 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v10i54.1533
Pesantren al-Khaeriyah: Sebuah Pembelaan yang Terkatung-katung
PEMIKIRAN IBNU MALIK TENTANG OTORISASI HADITS SEBAGAI SUMBER KAIDAH NAHWU
Aang Saeful Milah
Al Qalam Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1476.854 KB)
Prophetic Hadits has been served as the secondary source for inducting Arabic grammar (Iim al-Nahwu) next to the Qur'an. It was Ibnu Malik the first grammarian who developed a concept of employing Hadith in postulating his theories. Even though it is not arguable that there had been grammarians who had done so prior to him, attentions that had been payed to Hadits by those grammarians seemed to be not in balance with Hadith which actually has been the most loquence language for the Arabs. There were three stands of grammarians upon the Hadits: Most grammarians refused Hadits and preferred ancient Arabic poetry more than Hadits, some others openly took it into account, and the rest took the middle position. This article aims at describing lbnu Maliks thoughts on the authority of Hadits as a source of Nahwu. He tried to prove that Hadits could, and still, play authoritative role in postulating theories of Nahwu. Key Words: Ibnu Malik, Nahwu, Hadith, Language
BUNGA DAN RIBA
Muhammad Muhammad
Al Qalam Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (905.76 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v28i3.1375
Interest and riba' become interesting discourses frequently debated by Muslims scholars all the time. Some of them, for several reasons, view that interest is something different from riba'. This view is represented by Muslim scholars recognized as Islam modernists. Meanwhile, some others view both interest and riba' are similar; a unity which can not be distinguished and separated. According to this second group, interest is riba', and riba' is interest. This group is wellknown as Islam-Neo revivalists.This article does not intend to confrontate both of these two groups, Islam modernists and Islam-Neo revivalists. It just tries to explore the Islam-Neo revivalists' views on their main base in understanding the similarities between interest and riba', and their impacts in creating the stability of economy. Keywords: Neo-Revivalist, Interest, riba', fair, Economy, Islamic Banking
AGAMA DAN PROBLEM MAKNA HIDUP
Hudaeri, Mohamad
ALQALAM Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1121.111 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v24i2.1633
Manusia tidak hanya sekedar ''hewan berpikir" (homo sapiens), ia lebih tepat didefenisikan sebagai homo spiritual (makhluk spiritual. Sebab kalau dilihat dari kecerdasan akal, ada binatang yang juga memiliki kecerdasan, tetapi tidak ada binatang yang memiliki kesadaran makna dan tujuan hidup akan yang transenden. Hanya manusia yang memiliki kesadaran akan makna hidup dan eksistensinya di dunia ini ''melampaui" batas-batas dunia fisik.Dunia ''makna" adalah dunia manusia. Manusia tidak bisa melakukan sesuatu, maupun memahami sesuatu apabila sesuatu tersebut tidak bermakna baginya. Bertindak berarti melakukan sesuatu demi suatu tujuan dan sesuatu hanya bisa menjadi tujuan apabila mempunyai arti atau bermakna. Suatu tindakan dianggap bermakna karena mencakup sesuatu yang lebih luas dan berkaitan dengan hal-hal yang eksistensial. Karena itu yang sering menjadi persoalan adalah problem makna hidup. Problem makna hidup merupakan problem eksistensial manusia, karena menyangkut tentang eksistensi kehidupannya sendiri di muka bumi ini.Bagaimana peran agama tentang problem eksisitensial manusia itu? Hati nurani merupakan tempat bersemayamnya spiritualitas manusia. Karena itu kesadaran akan makna dan tujuan hidup selalu terkait dengan spiritualitas. Spiritualitas merupakan jantungnya agama. Agama tanpa spiritualitas akan terasa kering dan hampa, karena ia hanya akan berupa ajaran-ajaran normatif dan ritual yang tidak menyentuh kedalaman kalbu manusia. Karena itu penghayatan agama yang benar adalah penghayatan yang didasarkan atas spiritualitas yang tulus dan murni bukan didasarkan alas suatu konstruks pemikiran yang sempit yang menimbulkan sikap fanatik dan ekstrim.
KEKUASAAN, KEKERASAN DAN MOBILITAS JAWARA
Suhaedi, H S
ALQALAM Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1544.584 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v23i2.1495
Dalam hirarki sosial, mereka yang memiliki kekuasaan akan menempati posisi paling tinggi pada puncak struktur sosial, seperti Sultan dan para kerabatnya sebagai bangsawan kesultanan Banten. Di bawah mereka adalah golongan elite birokrasi, termasuk pemimpin agama seperti kadi, personil mesjid, dan petugas perawat tempat-fempat suci, golongan Mardika/kaum, golongan utangan hingga munculnya kelompok yang dikenal dengan sebutan jawara .Proses terbentuknya kedudukan, peran dan jaringan sosial jawara di Banten dimulai sejak periode awal berdirinya kesultanan Banten bahkan hingga masa setelah kolonialisme berakhir. Kemampuan dan keunggulannya telah membuat menJadi sosok yang ditakuti sekaligus dikagumi bahkan muncul menjadi tokoh yang kharismatis dan herois, karena kerap muncul sebagai pemimpin sebuah pergerakan sosial.Tulisan ini, berusaha menjelaskan beberapa rumusan yang berkaitan dengan gambaran dinamika struktur sosial masyarakat Banten dan sejauhmana perubahan struktur itu mempengaruhi munculnya jawara sebagai lapisan elite sosial Hal menarik untuk dikemukakan dalam tulisan ini juga adalah: apakah yang menjadi dimensi utama dan bagaimana strategi jawara dalam mengolah mobilitas sosialnya ?.
THE RESULT OF A HOLY ALLIANCE: DEBUS IN BANTEN PROVINCE
Rohman Rohman
Al Qalam Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (678.687 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v29i2.1406
This paper describes the practice of debus in Banten and its function among present-day Bantenese. The underlying question to be considered here is the way in which debus performances are now regarded as an integral part of Banten's tradition. There is a number of studies devoted to debus in Banten and in several places in Indonesia, most of which are anthropological studies. Little attention has been given to an in-depth study of debus practised the Bantenese. In fact, debus has developed as invulnerability performance and has gone much farther of late than the previous invulnerability performances in Aceh described S nouck at the end of the nineteenth century. I attempt to show how the debus performances combined with aspects of /ariqahi! now also include several new attributes.Key words: debus, tariqah, wird, Banten
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN KECERDASAN INTERPERSONAL TERHADAP KEMAMPUAN MENYUSUN PERANCANGAN PEMBELAJARAN
Sholeh Hidayat
Al Qalam Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1399.258 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v25i2.1684
Tulisan ini mengkaji tentang pengaruh; pertama, strategi pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan menyusun rancangan pembelajaran; dua, kecerdasan interpersonal terhadap kemampuan menyusun rancangan pembelajaran; ketiga, interaksi antara strategi belajar dan kecerdasan interpersonal terhadap kemampuan menyusun rancangan pembelajaran. Kasus kajian ini terjadi pada program studi DII jurusan pendidikan guru Taman Kanak-kanan FKIP Universitas Tirtayasa, semester dua tahun akademik 2006-2007, dengan sample sebanyak 44 orang.Tulisan ini menyajikan bahwa; pertama, kemampuan merancang pembelajaran bagi siswa yang mendapat strategi belajar kooperatif lebih tinggi dari pada siswa yang mendapat strategi belajar ekspositori; kedua, kemampuan merancang pembelajaran bagi siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi lebih sesuai dengan strategi pembelajaran kooperatif; ketiga, siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang rendah dalam merancang pembelajaran lebih cocok dengan strategi belajar ekspositori; keempat, ada interaksi antara penggunaan strategi belajar dan kecerdasan interpersonal yang memberikan pengaruh yang berbeda dalam merancang pembelajaran.Kata kunci: strategi belajar, pembelajaran koopertaif, pembelajaran ekpositori, kecerdasan interpersonal, rancangan pembelajaran.
KEUANGAN MASJID DAN MODAL SOSIAL
Efi Syarifudin
Al Qalam Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (865.831 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v26i1.1510
This article tries to discuss the forms of philantrophy developed by society to meet the need of financial capital and the factors that become the sosial capital as a supporting factor for the smooth-running of the economy of the mosques: The study uses functional-structuralisme approach to explain the local wisdom of Singarajan People located in Subdistrict Pontang in fullfilling the needs of the mosque funding.Collecte (kotak jum'at), mider (monthly obliged payment), endowment (infak), one-tenth wet rice field of the mosque, wakaf (religious foundation), recompens (hasil selawat) used as the financial sources of Masjid Agung Baetut Taqwa become the concrete samples of the local wisdom of philantrophy practices of all financial sources of the mosque, one-tenth wet rice-field of the mosque gives the greatest contribution. The collected fund is used to fund kaom, supplies expense, care and maintenance, and renovation of the mosqueBased on functional-structuralime point of view, the participative and philantrhropical attitudes of Singarajan society are motivated by the strong structure of kindship and are influenced by the socialites and the ulama. Moreover, the mythes or oral stories dealing with the mosque, wakaf, and other property's right of the mosque that are able to prevent moral distrust toward pilanthripical practices become another influencing factor of participative and philantrhropical attitudes.
KONSEP PENDIDIKAN DALAM AL-QUR'AN
M. Syadli
Al Qalam Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1660.334 KB)
|
DOI: 10.32678/alqalam.v18i88-89.1455
In the world of general education, there have been three kinds of educational theories: the first is tabularasa theory that had been emerged by John Locke (1632-1704) and, later, known as Empirism; the second is talent theory that had been pioneered by Arthur Schopenhour (1768-1860) and, later welllknown as Nativism; and the third is realism theory that had been presented by William Stern (1871-1939) and, later, famous as Convergence.The said three general educational theories above are based on the anthropocentric philosophy, while the Islamic educational theory is based on the theocentric philosophy that is referred to the Holy Qur'an and the Prophet's Traditions. Here below the writer presents and focuses on the Islamic aspects of education which are based on the Holy Qur'an and the Prophet's Traditions. They consist of teacher as a social agent, student, teaching material, method of teaching, goal of teaching that has to be reached, evaluation, educational envirenment and infrastructure.Key word: Anthropocentric, Theocentric, Aspects of Education, The Holy Qur'an