cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,065 Documents
SEBARAN KELOMPOK UMUR DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN BANGGAI CARDINAL (Pterapogon kauderni, Koumans 1933) MENGGUNAKAN MODEL LB-SPR DI KEPULAUAN BANGGAI SULAWESI TENGAH Sri Turni Hartati; Kamaluddin Kasim
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.919 KB) | DOI: 10.15578/jppi.22.3.2016.197-206

Abstract

Banggai cardinal (Pterapogon kauderni, Koumans 1933) adalah jenis ikan endemik yang saat ini masih diperdagangkan sebagai ikan hias. Informasi biologi seperti ukuran dan estimasi kelompok umur dapat digunakan untuk mengetahui status pemanfaatan di habitat aslinya, yang diperlukan dalam upaya pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status pemanfaatan stok Banggai cardinal melalui estimasi kelompok umur ikan dan menggunakan informasi tersebut sebagai indikator biologi (Biological Reference Point) Spawning Potential Ratio (SPR) melalui pendekatan Length-Based SPR model. Pengukuran panjang ikan dilakukan terhadap 7.014 ekor ikan sampel selama tahun 2010 hingga 2011, dan pengamatan aspek biologi seperti jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, serta fekunditas dilakukan terhadap 394 ekor ikan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang tertangkap berumur 10-11 bulan, dengan ukuran panjang 32,7 – 35,2 mm FL, lebih kecil dari  ukuran pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 36,1 – 44,4 mm FL. Rata-rata Nilai SPRsebesar 44,6% masih di atas ambang batas lebih tangkap (overfishing threshold) 30%. Nilai SPR secara signifikan menurun dari 46,8% pada 2010 menjadi 40,4% pada 2011. Sebanyak 50% ikan betina matang gonad (Lm) pada ukuran 37 mm FL dan 50% tertangkap (Selectivity/SL50) pada ukuran 32 mm FL (SL50< L50). Laju penangkapan relatif terhadap mortalitas alami (F/M) sebesar 0,57 mengindikasikan bahwa upaya penangkapan (relative fishing effort) telah mencapai  57% terhadap laju kematian alaminya. Banggai cardinal (Pterapogon kaudernii) fish is an endemic species which is traded as an ornamental fish. Population parameters such as length distribution and ages of P. kaudernii are required to estimate status of the species as a part of management purposes. This study aimed to determine the stock status of Banggai cardinal through estimation of the age groups and use that information as biological reference point to estimate the Spawning Potential Ratio (SPR) through Length-Based SPR model. Length of fish samples were measured of 7,014 fish samples during the year 2010 to the year 2011 while gonadal maturity, fecundity and sex differentiation were obtained from 394 individuals fish samples. The results show that fisherman caught mostly young individual fish, aged 10-11 months with relative length 32.7 - 35.2 mm FL and at below the size of length at first maturity (Lm) of 36.1 - 44.4 mm FL. Estimation of SPR shows that stock has been in healthy status which indicated by average SPR of 44.6% which still above the overfishing threshold by 30%. However, the values of SPR were declined significantly from 46.8% in 2010 to be 40.4% in 2011. As many as 50% of mature female fish found on the size of 37 mm FL and 50% caught (Selectivity/SL50) on the size of 32 mm FL (SL50 <L50). The rate of relative fishing mortality (F) to natural mortality (F / M) of 0.57 indicates relative fishing effort has reached 57% of the rate of natural mortality. 
EFISIENSI PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI BEBERAPA DAERAH PENANGKAPAN WATAMPONE Hufiadi Hufiadi; Erfind Nurdin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.627 KB) | DOI: 10.15578/jppi.19.1.2013.39-45

Abstract

Kajian pengelolaan perikanan berbasis kapasitas penangkapan merupakan alternatif pendekatan guna mengendalikan faktor-faktor input yang tidak efisien yang digunakan dalam usaha penangkapan. Efisiensi input sangat berhubungan erat dengan konsep kapasitas penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur tingkat efisiensi teknis dan pemanfaatan kapasitas alat tangkap pukat cincin di Watampone. Tingkat pemanfaatan kapasitas dari alat tangkap pukat cincin yang dikaji berdasarkan pada daerah penangkapan dan dianalisis melalui pendekatan matematika dengan data envelopment analysis (DEA). Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas perikanan pukat cincin di Watampone sebagian besar telah memanfaatkan kapasitas penangkapan secara optimal. Peningkatan efisiensi pukat cincin dapat ditempuh dengan mengurangi input (effort) yang tidak efisien atau meningkatkan output tangkapan yang dominan yaitu hasil tangkapan layang dan cakalang.  Fisheries management based on fishing capacity is an alternative approach to control inefficient input factors used in fishing business. Input efficiency is closely related to the concept of fishing capacity. The objective of this study is to measure the level of technical efficiency and utilization capacity of purse seines in Watampone. Utilization capacity level of purse seines were examined based on fishing grounds and the fishing efficiency measurement was mathematical approach by using data envelopment analysis (DEA). Results showed that generally fishing capacity of purse seines in Watampone was optimum. Increasing the efficiency of purse seine can be done by reducing the input (effort) of inefficiency or increasing dominated catch output for scad mackarel (Decapterus sp) and skipjack (Katsuwonus pelamis) catches.
PENDUGAAN STOK IKAN DI SUNGAI KAPUAS, KALIMANTAN BARAT Agus Djoko Utomo; Suslo Adjie
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9668.031 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.1.2009.33-48

Abstract

Sungai Kapuas, Kalimantan Barat mempunyai tipe ekosistem yang kompleks dan keanekaragaman jenis ikan tinggi. Sungai Kapuas ini sudah mendapat tekanan dari luar terutama dari pertanian, perkebunan, dan pertambangan. Akibatnya, beberapa jenis ikannya sudah mulai langka antara lain ringo (Datniodes quadrifsciatus), siluk (Scleropags formosus), belantau (Macrochirichthys macrochirus), dan kapas (Rohteichthys microlepis). Suatu kajian stok ikan dengan menggunakan metode akustik dilakukan pada bulan Juli dan Desember 2006 di Sungai Kapuas. Lokasi yang diambil adalah ruas Sungai Kapuas dari Pontianak ke hilir sampai Muara Jungkat, ruas Sungai Kapuas dan ruas anak sungainya sekitar Tayan, ruas anak sungai perairan banjiran di kawasan Sentarum dan satu buah danau sungai mati yaitu Danau Empangau. Untuk mengetahui komposisi jenis ikan, pengambilan contoh ikan dilakukan dan hasil tangkapan dicatat oleh enumerator. Stok ikan di hilir antara Pontianak dan Muara Jungkat adalah 1.847 ind./Ha, di Tayan pada sungai Kapuas dan anak sungainya masing-masing adalah 157 dan 403 ind./Ha, di kawasan Sentarum berkisar 1.087 - 1.634 ind./Ha, dan di Danau Empangau adalah 5.708 ind./Ha. Jenis ikan yang mendominansi di perairan antara Pontianak ke Muara Jungkat yaitu sengarat (Kryptopterus trichopterus) dan baung (Mystus nemurus), di Tayan yaitu kotol mulut (Amblyrhycnchichthys truncatus) dan kelabau (Osteochilus melanopleura), di kawasan Sentarum yaitu bauk (Labiobabrus spp.), sepat (Trichogaster trichopterus), dan toman (Channa micropeltes), serta di Danau Empangau yaitu entukan (Thynnichthys thynnoides), umpan (Puntius waandersii), dan biawan (Helostoma temminckii).  Kapuas River, West Kalimantan has various ecosystem types and high fish biodiversity. This river has been pressured by other sectors such as agriculture, plantation, and mining. Some of fish species such as ringo (Datniodes quadrifsciatus), siluk (Scleropags formosus), belantau (Macrochirichthys macrochirus), and kapas (Rohteichthys microlepis) endanger. A study on fish stock assessment using accoustic methods was done on July and December 2006 in Kapuas River. The locations selected in this study were down stream from Pontianak to Muara Jungkat, segment of Kapuas River and its tributary around Tayan area, in segment of Sentarum floodplains (Empangau oxbow lake). Average fish stock in downstream segment was 1,847 ind./Ha, around Tayan in main river and its tributary was 157 ind./Ha and 403, respectively, in Sentarum ranged 1,087 - 1,634 ind./Ha and in Empangau Lake was 5,708 ind./Ha. Fish species dominance from Pontianak to Muara Jungkat was sengarat (Kryptopterus sp.) and baung (Mystus nemurus), in Tayan was kotol mulut (Amblyrhycnchichthys truncatus) and kelabau (Osteochilusmelanopleura), in Sentarum was bauk (Labiobabrus spp.), sepat (Trichogaster trichopterus), and toman (Channa micropeltes), and in Empangau Lake were entukan (Thinnichthys thynnoides), umpan (Puntius waandersii), and biawan (Helostoma temminckii).
KONDISI BIOLIMNOLOGI SUMBER DAYA PERAIRAN KOLONG BEKAS GALIAN PASIR DI JAWA BARAT DAN KESESUAIANNYA BAGI BUDIDAYA PERIKANAN Adriani Sri Nastiti Krismono; Siti Nuroniah; Endi Setiadi Kartamihardja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17775.322 KB) | DOI: 10.15578/jppi.4.1.1998.13-46

Abstract

Badan air yang terbentuk akibat penambangan pasir banyak terdapat di Bekasi danTangerang, Jawa Barat. Sampai saat ini perairan tersebut belum dimanfaatkan untuk usaha perikanan. Salah satu informasi penting yang diperlukan dalam rangla pemanfaatan badan air tersebut untuk usaha perikanan adalah kondisi biolimnologinya.
REPRODUKSI ASEKSUAL PADA Holothuria atra (ECHINODERMATA) DI TELUK MEDANA, LOMBOK BARAT Sigit Anggoro Putro Dwiono; Pradina Purwati; Varian Fahmi; Lisa F. Indriana
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.96 KB) | DOI: 10.15578/jppi.14.4.2008.415-521

Abstract

Beberapa jenis timun laut secara alamiah memiliki kemampuan untuk berkembang biak secara aseksual melalui pembelahan (fission). Penelitian ini merupakan studi pertama tentang reproduksi aseksual alamiah timun laut di perairan Indonesia. Di Teluk Medana, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat fenomena reproduksi aseksual ini ditunjukkan oleh populasi Holothuria atra. Untuk mengetahui intensitas, musim, dan peran reproduksi ini dalam memelihara populasi, dilakukan monitoring bulanan mulai bulan Pebruari 2007 sampai Pebruari 2008. Hasil tersebut menunjukkan bahwa reproduksi aseksual pada populasi Holothuria atra ini terjadi sepanjang tahun. Intensitas pembelahan (fission intensity) maksimum mencapai 32,69%, yang berarti bahwa 1/3 dari populasi melakukan pembelahan. Variasi laju pembelahan (fission rate) berkisar antara 1,79 dan 23,68%. Pada bulan Mei 2007, komponen individu hasil pembelahan hampir mencapai separuh (47,4%) dari jumlah individu keseluruhan. Ketiga indikator ini cukup untuk menyimpulkan bahwa reproduksi aseksual pada Holothuria atra di Medana berperan dalam memelihara populasi di habitat tersebut. Topik ini sangat penting diteliti mengingat peran reproduksi aseksual ini dalam mempertahankan keberadaan di alam. Several species of sea cucumbers are able to reproduce asexually through fission. This study is the first report on fission of holothurian populations in Indonesian waters. At Medana Bay,West Lombok, fission was demonstrated by Holothuria atra population. To determine the intensity, season, and the role of fission on the population maintenance, monitoring was conducted on monthly basis, from February 2007 until February 2008. This study revealed that fission occurred throughout the year. Maximum fission intensity was 32,69%, implying that one third of the population underwent fission. Fission rate which was illustrated by the frequency of fission products during 13 month of observations, varied between 1.79 and 23.68%. In May 2007, fission products composed nearly half (47.4%) of the population. These three indicators may be sufficient to conclude that asexual reproduction in Holothuria atra population at Medana Bay might contribute significantly in maintaining its population size. This research topic seems important to be carried out considering the role of asexual reproduction in maintaining its natural population.
STUDI PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI KARAGINAN Th. Dwi Suryaningrum; Jamal Basmal; Nurochmawati Nurochmawati
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3132.882 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.4.2005.1-13

Abstract

Penelitian pembuatan edible film dari karaginan telah dilakukan Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama.
HUBUNGAN ANTARA KEBERADAAN DURI DENGAN TOKSISITAS KARANG LUNAK DAN SPONGE Muhammad Nursid; Thamrin Wikanta; Hedi Indra Januar
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5058.237 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.8.2005.83-92

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keberadaan duri dengan toksisitas ekstrak metanol karang lunak dan sponge telah dilakukan. Sebanyak 28 jenis ekstrak karang funak dan sponge diuji toksisilasnya menggunakan uji Brine Shrimp Lethality Iest (BSLT). Perbedaan mortalitas Artemia salina akibat pemberian ekstrak diuji dengan uji t dua sampel independen. Korelasi antara keberadaan duri dengan tingkat toksisitas dianalisis dengan korelasi nonparametrik Spearman.
PENGARUH RASIO ENERGI DAN PROTEIN YANG BERBEDA TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PROTEIN PADA BENIH BAUNG (Mystus nemurus C.V.) Yanti Suryanti; Agus Priyadi; Honorius Mundriyanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4852.909 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.1.2003.31-36

Abstract

lkan baung adalah jenis ikan yang tersebar di beberapa perairan sungai di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
ASPEK LINGKUNGAN DAN BIOLOGI IKAN DI DANAU ARANG-ARANG. PROPINSI JAMBI Samuel Samuel; Susilo Adjie; Zahri Nasution
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.087 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.1.2002.1-13

Abstract

Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui aspek lingkurrgan perairan biglogi ikan di Danau Arang-Arang, Jambi telah dikerjakan dari bulan Juli sampai Desember 2000 dengan metode survei. Perairan Danau Arang-Arang merupakan salah satu areal penangkapan ikan air tawar yang penting di Kabupaten Batanghari, Jambi
POLA PEMASARAN UDANG LAUT (PENAEID) DI TUBAN, JAWA TIMUR Manadiyanto Manadiyanto; Sastrawidjaja Sastrawidjaja; Achmad Azizi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7417.812 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.7.2002.67-80

Abstract

Udang laut (penaeid) merupakan komoditi perikanan yang memiliki pangsa pasar yangcukup kompetitif dengan pola yang spesifik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola pemasaran udang, sehingga dapat dijadikan bahan masukan dalam membuat kebijakan dan perencanaan pembangunan perikanan laut di bidang pemasaran

Page 6 of 107 | Total Record : 1065


Filter by Year

1995 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue