cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2: Oktober 2022" : 21 Documents clear
Development of Christian religious education learning model based on the philosophy of orang basudara life in Maluku Eklefina Pattinama; Beatrix J.M. Salenussa
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.254

Abstract

Knowledge of the Basudara concept in Maluku is generally understood by adults only. Among young people, the concept of the Basudara is not familiar. The impact of the loss of its concept, that views as a philosophy, among young people in Ambon City, Latta Village, often occurs in brawls between teenagers of different ethics and religions. It is a threat to finding peace and can create new conflicts. Therefore, the teachers need to develop a model of Christian Religious Education for peace based on the philosophy of the Basudara people in Maluku. This study aims to develop a learning model for Christian religious education for peace based on the philosophy of life of the Orang Basudara in Maluku. The research method used is development research using the ADDIE learning model (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). The results of this study indicate that the development of the peaceful Christian religious education learning model based on the Orang Basudara philosophy of life in Maluku is needed by Sunday School students. It is learning materials based on local content that can be used as relevant teaching materials. An effective cultural instrument in revitalizing and transforming peace in the context of the Church, which is contextually adapted to the philosophical values of local cultural wisdom in Maluku. Thus, it is concluded that with the teaching materials used, students can apply how to live peacefully side by side in a multicultural context.
Air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana: Sebuah tanda penyataan diri Yesus sebagai Anak Allah James Anderson Lola; Darius Darius
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.573

Abstract

This is a qualitative research article with an exegesis approach to finding the meaning of the miracle of the water turning into wine in the marriage at Cana which is recorded in John 2:1-11. The miracle of water turning into wine in the perspective of the Gospel of John is the first miracle that Jesus did to reveal Himself as the Son of God which fulfilled God's Covenant in the Old Testament. The miracle of water turning into wine is a miracle that must be understood in the theological perspective and the agenda of the Gospel of John which is intended to display the presence of Jesus and all that He did in history as an expression of Jesus' identity as the Son of God as well as the fulfillment of God's promise in the Old Testament.AbstrakPenelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan eksegesis untuk menemukan makna dari peristiwa mujizat air berubah menjadi anggur dalam perkawinan di Kana yang dicatat dalam Yohanes 2:1-11. Mujizat air berubah menjadi anggur dalam perspektif Injil Yohanes merupakan mujizat pertama yang Yesus lakukan untuk memberikan penyataan diri-Nya sebagai Anak Allah yang menggenapi Perjanjian Allah di dalam Perjanjian Lama. Mujizat air berubah jadi anggur adalah mujizat yang harus dipahami dalam perspektif teologis dan agenda dari Injil Yohanes yang memang bertujuan untuk menampilkan kehadiran Yesus dan semua yang Ia lakukan dalam sejarah sebagai penyingkapan identitas Yesus sebagai Anak Allah sekaligus juga adalah pemenuhan dari janji Allah di dalam Perjanjian Lama
Ritual cepa lingko dan tahun Sabat: Sebuah pemahaman keadilan berladang orang Manggarai Benediktus Denar; Antonius Denny Firmanto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.303

Abstract

This article aims to introduce justice in the provisions of the Sabbath year held in the Christian Scripture and its encounter with the cepa lingko ritual in the farming tradition of the Manggarai people, East Nusa Tenggara (NTT). Ethnography is used to collect data for this research, while the data are analyzed and presented using a qualitative approach. This research concludes that the basis of the Sabbath provisions is the creator's will that upholds ecological justice and social justice. The values contained in the requirements of the Sabbath are also essential aspects contained in the cepa lingko ritual, which materializes in the farming tradition of the Manggarai people, NTT. So, there is an authentic encounter between the values of the biblical Sabbath and the traditional Manggarai sabbath, especially in the provisions of the cepa lingko ritual. These values can be essential themes in the inculturation of environmental theology and the theology of social justice, especially among the Manggaraian community, who are predominantly Catholic and still adhere to their ancestors??" traditions and culture.AbstrakArtikel ini bertujuan memperkenalkan aspek keadilan yang terdapat dalam ketentuan tahun sabat yang terdapat dalam Kitab Suci Kristiani dan perjumpaannya dengan ritual cepa lingko dalam tradisi berladang orang Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Metode yang digunakan dalam pengumpulan data untuk penelitian ini adalah etnografi, sedangkan data-data dianalisis dan dipaparkan menggunakan pendekatan kualitatif. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa ketentuan-ketentuan seputar tahun sabat mengerucut pada kehendak pencipta untuk menegakkan keadilan ekologis, sekaligus keadilan sosial. Nilai-nilai yang termaktub dalam ketentuan tahun sabat tersebut juga menjadi aspek penting yang terkandung dalam ritual cepa lingko yang dilaksanakan dalam tradisi berladang orang Manggarai, NTT. Jadi ada perjumpaan otentik antara nilai-nilai sabat alkitabiah dengan sabat tradisional orang Manggarai, khususnya dalam ketentuan ritual cepa lingko. Nilai-nilai ini dapat dijadikan tema-tema penting dalam inkulturasi teologi lingkungan hidup dan teologi keadilan sosial, khususnya di kalangan masyarakat Manggarai yang mayoritas beragama Katolik dan yang secara umum masih memegang teguh tradisi dan budaya leluhur mereka.
Pendidikan kristiani yang inklusif bagi kaum muda berbasis kearifan lokal: Sebuah kajian terhadap budaya Mapalus Rolina Anggereany Ester Kaunang
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.550

Abstract

As the next generation of church and state, young people need to be educated to have a correct understanding of religious pluralism in Indonesia. The digital era that facilitates many human activities, including accessing various information, has helped to form young people who are exclusive, careless, and individualistic because they show many sensitive issues that have the power to divide the nation's unity. The plurality of religions that exist is a challenge in building the inclusive character of young people who uphold harmony and peace together as one family, in Indonesia. This study aims to show that Mapalus as a Minahasa cultural heritage has a wealth of distinctive values that can be a source of learning for young people in the church, specifically in shaping the character of caring for each other, helping each other, respecting each other, and living in harmony together. By using a qualitative-descriptive method, the research adopted the thoughts of Cynthia M. Campbell as an analytical tool to show the study of Christian Education in Mapalus culture. Through this research, two appropriate teaching methods were found to educate young people in the church about pluralism. First, the understanding that humans are equal beings, and second, the awareness that humans are social beings who need each other.AbstrakSebagai generasi penerus gereja dan negara, kaum muda perlu dididik untuk memiliki pemahaman yang benar tentang kemajemukan agama di Indonesia. Era digital yang memudahkan banyak aktivitas manusia termasuk dalam mengakses berbagai informasi, turut membentuk kaum muda yang eksklusif, kurang peduli, dan individualis karena banyak memperlihatkan isu-isu sensitif yang memiliki kekuatan untuk memecah belah persatuan bangsa. Kemajemukan agama yang ada menjadi tantangan tersendiri dalam membangun karakter inklusif kaum muda yang menjunjung tinggi kerukunan dan kedamaian bersama sebagai satu keluarga, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa Mapalus sebagai warisan budaya Minahasa memiliki kekayaan nilai-nilai khas yang dapat menjadi sumber belajar bagi kaum muda di gereja, secara khusus dalam membentuk karakter saling peduli, saling tolong menolong, saling menghargai, dan hidup rukun bersama. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif, dengan mengadopsi pemikiran Cynthia M. Campbell sebagai pisau analisis untuk memperlihatkan kajian Pendidikan kristiani terhadap budaya Mapalus. Melalui penelitian ini, ditemukan dua metode pengajaran yang tepat untuk mendidik kaum muda di gereja tentang kemajemukan. Pertama, pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang setara, dan kedua, kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.
Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui nyanyian jemaat Tahan Mentria Cambah
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.535

Abstract

The environmental crisis has threatened the world. Natural disasters can cause a wide range of issues. Various efforts have been made to overcome the effects of natural damage. From a Christian perspective, ecological theology has tried to answer the problem of environmental degradation. However, the efforts to raise awareness among the congregation members must not stop. Based on H. Paul Santmire's belief that liturgy related to worship can encourage congregational awareness, this research proposes singing as one of the liturgical elements that can play a role in encouraging concern for environmental crises. This research was pursued with a qualitative approach using literature and observation methods. This study found that congregational singing has a significant role in encouraging the congregation's concern for the environment. This role can be achieved by singing and living the nature-themed songs, supported by a calendar of warnings related to environmental themes.AbstrakKrisis lingkungan hidup telah mengancam dunia. Berbagai persoalan ditimbulkan dari berbagai kerusakan alam. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi akibat dari kerusakan alam. Dalam persfektif kekristenan, teologi ekologi telah berusaha menjawab persoalan kerusakan lingkungan. Namun, usaha penyadaran warga jemaat tidak boleh berhenti. Berlandaskan keyakinan H. Paul Santmire tentang liturgi yang terkait dengan ibadah dapat mendorong kepedulian jemaat, maka penelitian ini mengagas nyanyian jemaat sebagai salah satu unsur liturgi yang dapat berperan mendorong kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup. Penelitian ini ditempuh dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode kepustakaan dan observasi. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa nyanyian jemaat memilik peran yang signifikan untuk mendorong kepedulian warga jemaat terhadap lingkungan hidup. Peran itu dapat ditempuh dengan menyanyikan dan menghayati nyanyian yang bertema alam serta didukung oleh kalender peringatan yang berkaitan dengan tema lingkungan hidup.
Koreksi prospektif teks 2 Samuel 24 terhadap perilaku Daud bagi rekonstruksi kebijakan publik yang akuntabel Gumulya Djuharto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.468

Abstract

This article offers another solution from the various solutions that have been offered previously to the problem in 2 Samuel 24 which is more disjunctive rather than conjunctive. In fact, conjunctive understanding using the public theology perspective of Paul Hanson which is analyzed by Oliver Glanz??"s Participant-Reference Shifts Theory has the potency to produce a conjunctive solution in the form of an accountable public policy. This accountable public policy is based upon the correction of David??"s behavior, which should communicate dialogically with God, and consecutively, a dialogical communication with his subordinates through transparent sharing of vision and values. This communication model becomes a preparation key for interaction with less familiar communities that are characterized by mutual respect, and not a compromising attitude, while still promoting togetherness in solving problems that arise in a community.AbstrakArtikel ini menawarkan solusi lain dari berbagai solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya terhadap permasalahan dalam 2 Samuel 24 yang lebih bersifat disjungtif dan bukan konjungtif. Padahal, pemahaman secara konjungtif dengan menggunakan perspektif teologi publik dari Paul Hanson yang dianalisis berdasarkan Teori Participant-Reference Shifts dari Oliver Glanz terhadap teks tersebut berpotensi menghasilkan solusi konjungtif berupa suatu kebijakan publik yang akuntabel. Kebijakan publik yang akuntabel tersebut bermuara pada koreksi perilaku Daud yang seharusnya berkomunikasi secara dialogis dengan Tuhan, dan berdampak pada terciptanya komunikasi dialogis dengan para bawahannya melalui sharing visi dan nilai-nilai secara transparan. Model komunikasi tersebut menjadi kunci persiapan menuju interaksi dengan komunitas yang kurang familier yang bercirikan sikap saling menghormati, dan bukan sikap kompromistis, dengan tetap mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam suatu komunitas.
Pendidikan kristiani berbasis kearifan lokal: Sebuah tawaran konstruktif budaya Eseupalaloi di Maluku Novita Loma Sahertian; Benjamin Metekohy
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.609

Abstract

Culture at the practical level regulates the way of life, including education. In Ambon, especially in Allang land, there is a culture of eseupaloloi which is a form of cooperation between communities, both in building houses and making new land for plantations. The aim of the research is to demonstrate the construction of Christian education based on local cultural wisdom, by proposing a cultural eseupaloloi of the Allang community in Ambon. By using a descriptive-qualitative method, both with literature instruments and interviews with several local traditional leaders, an understanding was obtained about the spirit that animates eseupaloloi as a result of the research, namely mutual cooperation, characterized by: common problems/challenges; a mutual will to solve it; grace in problem-solving; common sense to solve problems; sincerity and willingness to lighten the will in solving problems. The conclusion of this study is, eseupaloloi culture contains values that can be the construction of multicultural Christian education.AbstrakKebudayaan pada tataran praksis mengatur cara hidup, termasuk aspek pendidikan. Di Ambon, khususnya di tanah Allang, terdapat budaya eseupaloloi yang merupakan bentuk kerjasama antarmasyarakat, baik dalam membangun rumah, membuat lahan baru untuk perkebunan. Tujuan penelitian untuk menunjukkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani yang berbasis pada kearifan budaya lokal, dengan mengusulkan budaya eseupaloloi masyarakat Allang di Ambon. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif, baik dengan instrumen literatur maupun wawancara pada beberapa tokoh adat setempat, diperoleh pemahaman tentang semangat yang menjiwai eseupaloloi sebagai hasil penelitian, yakni gotong royong, dengan bercirikan pada: masalah/tantangan bersama; kemauan bersama untuk menyelesaikannya; rahmat dalam pemecahan masalah; akal sehat untuk memecahkan masalah; keikhlasan dan kesediaan untuk meringankan keinginan dalam memecahkan masalah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, budaya eseupaloloi mengandung nilai-nilai yang dapat menjadi bangunan sebuah pendidikan kristiani multikultural.
Sacred and secular: A plea to re-examine the worldview among Myanmar Christians Sang Thein Thang
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.456

Abstract

The Myanmar Christian worldview on sacred and secular is the product of primarily two basic grounds; the Burmanization and Myanmar Christian understanding on Church and State, which eventually lead subjugation of the Church to political authority of the Burman government. As a result, it leads one to seeing political and social actions as secular, and Christians therefore need to be restrained from that sort of things. But anything is secular or sacred depending on the direction being used towards: in obedience or disobedience towards God??"s law and order. The Church as community of God??"s people has responsibility as a voice and witness of God for restoring God??"s standards of life aspects; culture, social activities, politics, business, education, and so on in the fallen community and society.
Liturgi sebagai aksi solidaritas terhadap kaum marginal: Sebuah diskursus teologis berbasis pengalaman perempuan di Sumba Irene Umbu Lolo
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.575

Abstract

The patriarchal culture of society places women as a marginal group. In Sumba, women who are victims of marriage by abduction experience injustice and oppression. The purpose of this paper is to examine the experiences of women victims of marriage byabduction and to show that the liturgy can symbolize the church's alignment to defend marginal groups in society. The data collection and analysis phase was carried out using descriptive-qualitative methods. The perspective of feminist liturgical theology is the lens used to highlight the experiences of women who are victims of intermarriage. This study finds that the church can show compassion and solidarity towards the marginalized, among others, through liturgical actions.AbstrakKultur masyarakat patriarkal menempatkan perempuan sebagai kelompok marginal. Di Sumba, perempuan korban kawin tangkap mengalami ketidakadilan dan penindasan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji pengalaman perempuan korban kawin tangkap dan menunjukkan bahwa liturgi dapat menjadi simbol keberpihakan gereja untuk membela kelompok marginal dalam masyarakat. Pengumpulan data dan tahap analisis ditempuh dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Perspektif teologi liturgi feminis merupakan lensa yang digunakan dalam rangka menyoroti pengalaman perempuan yang menjadi korban kawin tangkap . Studi ini menemukan bahwa gereja dapat menunjukkan sikap belarasa dan solidaritas terhadap kaum marginal antara lain melalui aksi liturgikal
Gereja dan krisis kebebasan beragama di Indonesia Agustina Raplina Samosir; Reymond Pandapotan Sianturi; Ejodia Kakunsi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.583

Abstract

In SETARA's account, cases of intolerance against churches in a decade (2007-2016) reached the highest number compared to other houses of worship, namely 186 cases. Unfortunately, the attitude of the church tends to be passive towards this reality. We see that the issue of intolerance to the church does not seem to be a common problem with churches, especially mainstream Protestant churches. On the other hand, especially in Christian-majority areas, the church is repressive towards religious freedom in its environment. To that end, we will first review the church's attitude towards cases of intolerance towards the church. Next, we will analyze these attitudes with Catherine Keller's postcolonial perspective to criticize and even reconstruct the church's idea of transformative religious freedom amid various cases of intolerance in Indonesia. This can be done by dissecting the four main issues we offer, namely the traditional conflict culture, neglect by the state, the rise of Islam, and the indifference of churches to various cases of intolerance in Indonesia.AbstrakDalam catatan SETARA, kasus intoleransi terhadap gereja dalam satu dekade (2007-2016) mencapai angka tertinggi dibanding rumah-rumah ibadah lainnya yakni 186 kasus. Sayangnya, sikap gereja cenderung pasif terhadap realitas ini. Kami melihat bahwa persoalan intoleransi terhadap gereja tampaknya belum menjadi persoalan bersama gereja-gereja terutama gereja Protestan mainstream. Di pihak lain, terutama di wilayah mayoritas Kristen, gereja malah bersikap represif terhadap kebebasan keberagamaan di lingkungannya. Untuk itu, pertama-tama kami akan meninjau sikap gereja terhadap kasus-kasus intoleransi terhadap gereja. Selanjutnya, kami akan menganalisis sikap tersebut dengan perspektif poskolonial Catherine Keller untuk mengkritisi bahkan merekonstruksi gagasan gereja tentang kebebasan beragama yang transformatif di tengah-tengah berbagai kasus intoleransi di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan membedah empat isu utama yang kami tawarkan yakni budaya konflik tradisional, pembiaran oleh negara, kebangkitan Islam, dan ketidakpedulian gereja-gereja terhadap berbagai kasus intoleransi di Indonesia.

Page 1 of 3 | Total Record : 21