cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1: April 2025" : 22 Documents clear
Sengsara Yesus: Analisis melalui lensa Injil dan Thucydidean tentang konflik dan pengorbanan Warella, Sipora Blandina
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.572

Abstract

The Passion of Jesus reveals how power uses sacrifice to maintain stability. The suffering of Jesus is not only a theological aspect but also a consequence of the calculation of power that oppresses those who are considered a threat. Similar patterns occur in various incidents of political violence in Indonesia, such as the 1965 Tragedy and sectarian conflicts in Ambon and Poso, where certain groups are sacrificed for political interests. The church, which should be a prophetic voice, in some cases, is in league with the oppressive system. This study aims to analyze the passion of Jesus through the perspective of the Gospel and the thoughts of Thucydides to understand how sacrifice is politicized by power. This study employs critical discourse analysis and historical hermeneutics to examine the relationship between power, suffering, and political strategies in shaping the narrative of sacrifice. The study results indicate that Jesus' passion symbolizes the atonement of sin and critiques the oppressive power structure. The church is called to refuse to be a tool of power and is committed to fighting for justice for those who are oppressed.   Abstrak Sengsara Yesus mengungkap bagaimana kekuasaan menggunakan pengorbanan sebagai alat untuk mempertahankan stabilitas. Penderitaan Yesus bukan hanya aspek teologis, tetapi juga konsekuensi dari kalkulasi kekuasaan yang menindas mereka yang dianggap sebagai ancaman. Pola serupa terjadi dalam berbagai peristiwa kekerasan politik di Indonesia, seperti Tragedi 1965 dan konflik sektarian di Ambon dan Poso, di mana kelompok tertentu dikorbankan demi kepentingan politik. Gereja, yang seharusnya menjadi suara kenabian, dalam beberapa kasus justru bersekutu dengan sistem yang menindas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sengsara Yesus melalui perspektif Injil dan pemikiran Thucydides guna memahami bagaimana pengorbanan dipolitisasi oleh kekuasaan. Menggunakan metode analisis wacana kritis dan hermeneutika historis, penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kekuasaan, penderitaan, dan strategi politik dalam membentuk narasi pengorbanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengsara Yesus tidak hanya berbicara tentang penebusan dosa, tetapi juga merupakan kritik terhadap struktur kekuasaan yang menindas. Gereja dipanggil untuk menolak menjadi alat kekuasaan dan berkomitmen memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas.
Dari kesenjangan menjadi jembatan: Transformasi kepemimpinan kristiani intergenerasional Purba, Paskah Parlaungan
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.860

Abstract

Intergenerational gaps often pose a significant challenge within the church and Christian leadership context. Differences in values, perspectives, communication styles, and ministry preferences can create barriers that hinder unity, mission effectiveness, and the spiritual continuity from one generation to the next. This article analyzes the nature and impact of intergenerational gaps in Christian leadership and proposes a transformative approach to convert these "gaps" into robust "bridges." Through theological reflection and an analysis of intergenerational social dynamics, this paper explores key principles for developing inclusive, collaborative leadership that integrates the strengths and perspectives of every generation. This transformation requires understanding, empathy, open communication, and a willingness to learn from one another. The ultimate goal is to foster Christian leadership that is relevant across all ages and effectively prepares the church for the future by leveraging the rich experience and innovation found across generations.   Abstrak Kesenjangan antargenerasi seringkali menjadi tantangan signifikan dalam konteks gereja dan kepemimpinan kristiani. Perbedaan nilai, cara pandang, gaya komunikasi, dan preferensi dalam pelayanan dapat menciptakan hambatan yang menghambat kesatuan, efektivitas misi, dan kelangsungan spiritual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Artikel ini menganalisis sifat dan dampak kesenjangan antargenerasi dalam kepemimpinan kristiani serta mengusulkan pendekatan transformatif untuk mengubah "kesenjangan" ini menjadi "jembatan" yang kokoh. Melalui refleksi teologis dan analisis dinamika sosial antargenerasi, tulisan ini mengeksplorasi prinsip-prinsip kunci bagi pengembangan kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan mampu mengintegrasikan kekuatan serta perspektif dari setiap generasi. Transformasi ini membutuhkan pemahaman, empati, komunikasi terbuka, dan kesediaan untuk belajar dari satu sama lain. Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan kepemimpinan kristiani yang tidak hanya relevan bagi semua usia tetapi juga secara efektif mempersiapkan gereja untuk masa depan dengan memanfaatkan kekayaan pengalaman dan inovasi lintas generasi.
Dalek esa sebagai “integrating force”: Sebuah konstruksi teologis interaksi sosial masyarakat multikultural berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rote Ndao Pandie, Daud Alfons; Nugroho, Fibry Jati
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1018

Abstract

There has been substantial research within Indonesian community contexts attempting to understand violent conflicts in inter-ethnic, religious, and cultural interactions. Conversely, research exploring how people can live harmoniously in social interactions across ethnic, spiritual, and cultural boundaries remains limited. This study examines the local wisdom of "Dalek Esa," which has underpinned inter-ethnic and inter-religious interactions in the context of Rote Ndao Regency, East Nusa Tenggara Province. Employing qualitative research methods with phenomenological and ethnographic approaches, the study involved the author's full immersion in the context of the community's life. The research reveals that "Dalek Esa" has served as a foundation in the mechanism of ethnic and religious agreements. At the same time, differences in livelihoods have constructed the peaceful and harmonious life of the culturally and religiously diverse Rote Ndao community.   Abstrak Terdapat banyak penelitian dalam konteks komunitas masyarakat di Indonesia yang berupaya memahami tentang konflik kekerasan dalam interaksi antar etnis, agama dan budaya. Sementara, di sisi yang lain, penelitian tentang bagaimana orang-orang bisa hidup rukun dalam interaksi sosial antar etnis, agama dan budaya masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi kearifan lokal “Dalek Esa” yang telah mendasari interaksi antar etnis dan agama dalam konteks masyarakat Kabupaten Rote Ndao- Propinsi Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan etnografi yang dilakukan berupa keterlibatan penuh penulis dalam konteks kehidupan masyarakat. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa “Dalek Esa” telah menjadi pondasi dalam mekanisme kesepakatan etnis, agama dan perbedaan mata pencaharian telah mengkonstruksi kehidupan masyarakat Rote Ndao yang berbeda budaya dan agama yang rukun dan damai.
Teologi hospitalitas dalam pendidikan seksualitas: Pendekatan Pedagogi Kristen untuk meningkatkan efikasi diri seksual remaja Bara Pa, Hemi Damnosel; Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1020

Abstract

Sexuality education in Christian institutions still faces significant challenges due to the normative approach that often causes stigma and fear among adolescents. Hospitality theology provides a more reflective and inclusive approach to sexuality education, grounded in Christian Pedagogy. This model emphasizes dialogue, contextual theological reflection, and charity-based mentoring to improve students' sexual self-efficacy. By creating a safe space for exploring sexual identity in the light of faith, this approach helps adolescents build a more mature moral and spiritual awareness. This study uses a conceptual analysis method to develop a model of hospitality-based sexuality education that can be implemented in Christian institutions. The results show that hospitality-based education is more effective in fostering reflective awareness, promoting healthy decision-making, and cultivating a more supportive community in understanding responsible sexuality.   Abstrak Pendidikan seksualitas dalam institusi Kristen masih menghadapi tantangan besar akibat pendekatan normatif yang sering kali menimbulkan stigma dan rasa takut di kalangan remaja. Teologi hospitalitas menawarkan pendekatan yang lebih reflektif dan inklusif dalam pendidikan seksualitas berbasis Pedagogi Kristen. Model ini menekankan dialog, refleksi teologis yang kontekstual, serta pendampingan berbasis karitas untuk meningkatkan efikasi diri seksual peserta didik. Dengan menciptakan ruang aman untuk eksplorasi identitas seksual dalam terang iman, pendekatan ini membantu remaja membangun kesadaran moral dan spiritual yang lebih matang. Penelitian ini menggunakan metode analisis konseptual untuk mengembangkan model pendidikan seksualitas berbasis hospitalitas yang dapat diimplementasikan dalam institusi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis hospitalitas lebih efektif dalam membangun kesadaran reflektif, meningkatkan pengambilan keputusan yang sehat, serta menciptakan komunitas yang lebih mendukung dalam pemahaman seksualitas yang bertanggung jawab.
Roh Kudus dan ketekunan belajar: Eksplorasi spiritualitas pembelajar melalui permodelan komunitas gereja perdana dalam narasi Kisah Para Rasul 2:42 Sitompul, Baginda
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1022

Abstract

This article examines the relationship between the work of the Holy Spirit and the development of spiritual learning within contemporary Christian education contexts. Drawing upon the model of the early church community depicted in Acts 2:42, this research investigates how perseverance in the apostles' teaching can be constructed as a Christian educational paradigm that stimulates students to develop learning perseverance. Through exegetical analysis of the Acts 2:42 text, a literature review on the Holy Spirit's role in learning, and a synthesis of Christian educational theology, this study proposes a pneumatological framework for understanding learning perseverance as a spiritual practice empowered by the Holy Spirit. The study argues that authentic learning experiences within Christian communities are not merely cognitive activities but transformative spiritual experiences that occur through the dynamic interaction between the Holy Spirit, the Word, and the learning community. Implications for contemporary Christian educational practice are also discussed, highlighting the importance of creating Spirit-centered learning environments where learning perseverance is understood and experienced as a response to the work of the Holy Spirit.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara karya Roh Kudus dan pengembangan spiritualitas pembelajaran dalam konteks pendidikan Kristiani kontemporer. Dengan mengambil model komunitas gereja perdana yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2:42, penelitian ini menyelidiki bagaimana ketekunan dalam pengajaran para rasul dapat dikonstruksikan sebagai sebuah paradigma pendidikan Kristiani yang menstimulasi murid untuk mengembangkan ketekunan belajar. Melalui analisis eksegesis teks Kisah Para Rasul 2:42, tinjauan literatur tentang peran Roh Kudus dalam pembelajaran, dan sintesis teologi pendidikan Kristiani, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja pneumatologis untuk memahami ketekunan belajar sebagai praktik spiritual yang diberdayakan oleh Roh Kudus. Studi ini berargumen bahwa pengalaman pembelajaran autentik dalam komunitas Kristiani tidak hanya merupakan aktivitas kognitif tetapi juga pengalaman spiritual transformatif yang terjadi melalui interaksi dinamis antara Roh Kudus, Firman, dan komunitas pembelajar. Implikasi bagi praktik pendidikan Kristiani kontemporer juga dibahas, menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada Roh Kudus di mana ketekunan belajar dipahami dan dialami sebagai respons terhadap karya Roh Kudus.
Pengajaran sebagai misi: Sebuah pembacaan naratif misi Paulus di Kisah Para Rasul Butarbutar, Adolf Bastian; Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1028

Abstract

The era of digital disruption has created substantial challenges for the integrity of Christian teaching, with the proliferation of divergent doctrines spread through social media platforms. This research analyzes teaching patterns in Paul's mission as represented in the Acts narrative to identify missiological models applicable to contemporary challenges. Using narrative analysis methodology, this study identifies three essential dimensions in Paul's teaching strategy: a progressive pattern of spatial movement from synagogues to public spaces to private settings; adaptive yet uncompromising contextualization of teaching for Jewish, Greek, and Roman audiences; and, the role of teaching as a catalyst for transformative community formation. The results show that Paul's missional success lay in integrating teaching with communal formation and cultural contextualization. This model offers a paradigm for contemporary churches facing digital disruption challenges, demonstrating the importance of comprehensive, contextual, and communal teaching for maintaining doctrinal integrity in the post-truth era..   Abstrak Era disrupsi digital telah menciptakan tantangan substansif bagi integritas pengajaran Kristen, dengan proliferasi doktrin menyimpang yang disebarkan melalui platform media sosial. Penelitian ini menganalisis pola pengajaran dalam misi Paulus sebagaimana direpresentasikan dalam narasi Kisah Para Rasul untuk mengidentifikasi model misiologis yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi penting dalam strategi pengajaran Paulus: pola progresif pergerakan spasial dari sinagoga ke ruang publik ke lingkungan privat; kontekstualisasi pengajaran yang adaptatif namun tidak kompromi untuk audiens Yahudi, Yunani, dan Romawi; dan, peran pengajaran sebagai katalis pembentukan komunitas transformatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan misi Paulus terletak pada integrasi pengajaran dengan formasi komunal dan kontekstualisasi kultural. Model ini menawarkan paradigma untuk gereja kontemporer yang menghadapi tantangan disrupsi digital, menunjukkan pentingnya pengajaran yang komprehensif, kontekstual, dan komunal untuk mempertahankan integritas doktrinal di era post-truth.
Ruminatio philosophiae sebagai strategi formatif imersi spiritual dalam pendidikan agama Kristen Marbun, Merdiati
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1031

Abstract

The phenomenon of spiritual dryness in Christian Religious Education is often caused by an overly cognitive and informative approach, neglecting the formative dimension of students’ inner lives. This study explores ruminatio philosophiae as a formative strategy grounded in philosophical contemplation and Christian spirituality within the learning process of Christian Religious Education. This approach emphasizes deep reflection as a means of holistic faith formation by integrating reason, affection, and action. The study employs a library research method and reflective hermeneutical analysis of both classical and contemporary texts in theology and philosophy. The findings reveal that ruminatio philosophiae is relevant in addressing the crisis of spiritual formation in the context of the digital generation and functions as a pedagogical strategy that cultivates orthodoxy, orthopathē, and orthopraxis. This approach promotes an immersive, reflective, and transformational experience of faith that unites theological knowledge with lived reality. Therefore, ruminatio philosophiae is not merely an educational strategy, but a pedagogical spirituality that revitalizes the praxis of faith education contextually and holistically in Indonesia.   Abstrak Fenomena kekeringan spiritual dalam Pendidikan Agama Kristen sering kali disebabkan oleh pendekatan yang terlalu kognitif dan informatif, sehingga mengabaikan dimensi formasi batin peserta didik. Penelitian ini mengeksplorasi ruminatio philosophae sebagai strategi formatif berbasis kontemplasi filosofis dan spiritualitas Kristen dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Pendekatan ini menempatkan refleksi mendalam sebagai sarana pembentukan iman yang menyeluruh dengan mengintegrasikan akal, afeksi, dan tindakan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan analisis hermeneutik reflektif terhadap teks-teks klasik dan kontemporer, baik dari teologi maupun filsafat. Hasil kajian menunjukkan bahwa ruminatio philosophae tidak hanya relevan untuk menjawab krisis formasi spiritual dalam konteks generasi digital, tetapi juga mampu menjadi strategi pedagogis yang membentuk orthodoxy, orthopathē, dan orthopraxis. Pendekatan ini menekankan pengalaman iman yang imersif, reflektif, dan transformasional, yang menyatukan pengetahuan religius dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, ruminatio philosophae bukan hanya strategi pendidikan, melainkan spiritualitas pedagogis yang mampu menghidupkan kembali praksis pendidikan iman secara kontekstual dan holistik di Indonesia.
Dari burnout ke burning bright: Self-care sebagai spirit kepemimpinan Kristen di era posdigital Heryanto
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1075

Abstract

This study reexamines the urgency of integrating self-care as a foundational framework in Christian leadership within the postdigital era, where the boundaries between physical and digital spaces have become increasingly blurred, and ministry expectations are intensifying. The pressures of multitasking, constant connectivity, and the erosion of contemplative space have contributed to burnout that is not merely psychological, but structural and theological. Employing a grounded constructivist approach, this research develops a renewed theological understanding of self-care, not merely as stress management, but as a spiritual discipline that acknowledges human vulnerability as a locus of divine activity. The study formulates five pillars of a healthy leadership model to address contemporary challenges in ministry. It argues that churches will continue to reproduce fragile, exploitative, and unsustainable leadership unless there is a paradigmatic shift in leadership and a reconfiguration of structural support systems. Thus, self-care must be reclaimed as a prophetic praxis that disrupts dysfunctional ministry systems and paves the way for a resilient leadership model, rooted in grace and capable of burning bright amid an era craving authentic spiritual presence.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kembali urgensi integrasi self-care sebagai kerangka fundamental dalam kepemimpinan Kristen di era posdigital, di mana batas antara ruang fisik dan digital semakin kabur, dan ekspektasi pelayanan mengalami intensifikasi. Tekanan multitugas, ekspektasi keterhubungan konstan, dan absennya ruang kontemplatif menyebabkan munculnya gejala burnout yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga struktural dan teologis. Dengan menggunakan pendekatan grounded constructivist, studi ini mengembangkan pemahaman baru tentang self-care sebagai tindakan teologis yang melampaui sekadar pengelolaan stres, melainkan sebagai disiplin spiritual yang mengakui kerapuhan manusia sebagai ruang kerja ilahi. Lima pilar model kepemimpinan sehat diformulasikan untuk menjawab tantangan kontemporer dalam pelayanan. Penelitian ini menegaskan bahwa tanpa reposisi paradigma pelayanan dan reformulasi sistem pendukung yang memadai, gereja akan terus memproduksi kepemimpinan yang rapuh, eksploitatif, dan rentan gagal. Oleh karena itu, self-care harus dilihat sebagai praksis kenabian yang membongkar struktur pelayanan disfungsional dan membuka jalan bagi model kepemimpinan yang tahan krisis, berakar pada kasih karunia, dan mampu menyala di tengah era yang haus kehadiran autentik.
Harmoni dalam keberagaman: Penguatan kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Kristen untuk pembelajaran multikultural yang transformatif Yuel
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1143

Abstract

This article examines the enhancement of pedagogical competencies among Christian Religious Education (CRE) teachers in Indonesia's transformative multicultural learning contexts. In Indonesia's pluralistic society, CRE teachers face the challenge of facilitating learning processes that convey Christian values and instill appreciation for diversity. Through a literature review and theological perspectives, this article presents a conceptual framework for developing CRE teachers' pedagogical competencies that are responsive to multicultural learning needs. The findings indicate that strengthening culturally responsive pedagogical competencies of CRE teachers requires the integration of theological understanding concerning plurality, development of dialogue-centered learning methods, and critical reflection on existing educational practices. This article concludes that robust and transformative pedagogical competencies can facilitate harmony in diversity through contextual, inclusive, and dialogical learning processes.   Abstrak Artikel ini mengkaji penguatan kompetensi pedagogik guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam konteks pembelajaran multikultural yang transformatif di Indonesia. Dalam masyarakat Indonesia yang plural, guru PAK menghadapi tantangan untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan nilai-nilai kekristenan tetapi juga menanamkan penghargaan terhadap keberagaman. Melalui kajian literatur dan perspektif teologis, artikel ini menawarkan kerangka konseptual untuk mengembangkan kompetensi pedagogik guru PAK yang responsif terhadap kebutuhan pembelajaran multikultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan kompetensi pedagogik guru PAK yang berwawasan multikultural memerlukan integrasi pemahaman teologis tentang pluralitas, pengembangan metode pembelajaran yang berpusat pada dialog, serta refleksi kritis terhadap praktik pendidikan yang ada. Artikel ini menyimpulkan bahwa kompetensi pedagogik yang kuat dan transformatif dapat memfasilitasi harmoni dalam keberagaman melalui proses pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan dialogis.
Merajut iman dan budaya: Peran pemuda gereja melestarikan tradisi temu pengantin Jawa dalam perspektif pendidikan agama Kristen kontekstual Prihadi, Stephanus; Telhalia
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1144

Abstract

This article examines the contextual Christian religious education model in preserving the Temu Pengantin tradition by church youth in Indonesia. Employing a theological-cultural analytical approach, this study explores the relevance and significance of Javanese traditional wedding ceremonies as a dialogical space between Christian values and local wisdom. The research finds that preserving the Temu Pengantin tradition within Javanese Christian communities contributes significantly to forming a contextual Christian identity rooted in local culture while remaining faithful to the essence of Christian faith. The article proposes a transformative hermeneutical approach that facilitates critical-constructive dialogue between Christian faith and local cultural traditions, and offers a multidimensional Christian religious education model that integrates cultural elements as materials for theological reflection. This study contributes to developing a culturally-informed and contextual Christian religious education paradigm in Indonesia that bridges the gap between Christian faith and its artistic expressions.   Abstrak Artikel ini mengkaji model pendidikan agama Kristen kontekstual dalam upaya pelestarian tradisi Temu Pengantin oleh pemuda gereja di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis teologis-kultural, studi ini mengeksplorasi relevansi dan signifikansi tradisi pernikahan adat Jawa sebagai ruang dialog antara nilai-nilai kekristenan dan kearifan lokal. Penelitian ini menemukan bahwa pelestarian tradisi Temu Pengantin dalam komunitas Kristen Jawa memberikan kontribusi penting dalam pembentukan identitas Kristen kontekstual yang berakar pada budaya lokal sekaligus setia pada esensi iman Kristen. Artikel ini mengusulkan pendekatan hermeneutika transformatif yang memungkinkan dialog kritis-konstruktif antara iman Kristen dan tradisi budaya lokal, serta menawarkan model pendidikan agama Kristen multidimensional yang mengintegrasikan unsur-unsur budaya sebagai bahan refleksi teologis. Studi ini berkontribusi pada pengembangan paradigma pendidikan agama Kristen yang berbudaya dan kontekstual di Indonesia yang menjembatani kesenjangan antara iman Kristen dan ekspresi kulturalnya.

Page 1 of 3 | Total Record : 22