cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 3: Desember 2025" : 20 Documents clear
Wise living character education amid e-commerce: Perspectives from 1 Corinthians 10:23 Darmawan, I Putu Ayub; Guild, Rebecca Joy
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/wt7re376

Abstract

This article presents new, more specific research findings on wise life character education amid the challenges of e-commerce development. The author analyzes the perspective of 1 Corinthians 10:23 using principles of biblical interpretation.  In the context of technological development, 1 Corinthians 10:23 underscores that many things are permitted, but not all are beneficial. This creates space for reflection on how to view and use technology, particularly e-commerce. The results show that 1 Corinthians 10:23 provides a solid rationale for teaching wise choices in the use of technology. The verse also teaches us to avoid over-dependence. Then, the character of a wise life arises from fruitful selection and self-control. With this approach, character education can guide the younger generation to navigate the technological era responsibly, cultivate moral values, and develop strong character. Effective parental communication is essential to character education, particularly in guiding children's use of technology and in integrating moral and ethical values into their interactions with it.   Abstrak Artikel ini menyajikan temuan penelitian baru yang lebih spesifik tentang pendidikan karakter hidup bijaksana di tengah tantangan perkembangan e-commerce. Penulis menganalisis perspektif 1 Korintus 10:23 dengan menggunakan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab. Dalam konteks perkembangan teknologi, 1 Korintus 10:23 menggarisbawahi bahwa banyak hal yang diperbolehkan, tetapi tidak semuanya bermanfaat. Hal ini menciptakan ruang untuk refleksi tentang bagaimana memandang dan menggunakan teknologi, khususnya e-commerce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 Korintus 10:23 memberikan dasar pemikiran yang kuat untuk mengajarkan pilihan-pilihan yang bijak dalam penggunaan teknologi. Ayat tersebut juga mengajarkan kita untuk menghindari ketergantungan yang berlebihan. Kemudian, karakter kehidupan yang bijaksana muncul dari pilihan yang bijaksana dan pengendalian diri. Dengan pendekatan ini, pendidikan karakter dapat membimbing generasi muda untuk menavigasi era teknologi secara bertanggung jawab, menumbuhkan nilai-nilai moral, dan mengembangkan karakter yang kuat. Komunikasi orang tua yang efektif sangat penting dalam pendidikan karakter, terutama dalam membimbing penggunaan teknologi oleh anak-anak dan dalam mengintegrasikan nilai-nilai moral dan etika ke dalam interaksi mereka dengan teknologi.
Yesus Kristus, sebuah negasi atau revolusi agama: Tinjauan terhadap eksklusivitas wahyu Karl Barth berdasarkan Church Dogmatics Kiding Allo, Christian Arisandi
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1098

Abstract

This article explores Karl Barth’s understanding of the exclusive-ty of revelation in the Church Dogmatics, addressing whether understood Jesus Christ should be seen as a negation of the understanding ofr as its re-volution. Barth rejects religion as a means of knowing God, since revelation is given only in Christ. On this basis, any appeal to general revelation as an independent way of knowing God proves invalid. At the same time, Barth affirms that creation stands under the grace of God, which can be un-derstood only as hidden grace in Christ. This dialectic indicates that Jesus Christ does not simply negate religion but transforms it. Religion is no longer regarded as a source of revelation but as a sphere drawn into the horizon of Christ’s grace. The article, therefore, affirms Barth’s Christo-centric exclusivity while also offering a reinterpretation of his position on religion and general revelation.   Abstrak Artikel ini menelaah eksklusivitas wahyu Karl Barth sebagaima-na dipaparkan dalam Church Dogmatics, dengan fokus pada pertanyaan apakah Yesus Kristus merupakan sebuah negasi terhadap agama atau jus-tru sebuah revolusi terhadapnya. Barth menolak agama sebagai jalan pe-ngetahuan tentang Allah atas dasar bahwa penyingkapan Allah hanya ada di dalam Kristus. Dari posisi ini, setiap klaim wahyu umum sebagai sarana otonom untuk mengenal Allah kehilangan validitasnya. Namun, Barth te-tap mengakui realitas ciptaan berada di bawah anugerah Allah dalam arti, ia hanya dapat dipahami sebagai rahmat yang tersembunyi (hidden grace) di dalam Kristus. Dialektika ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus bukan sekadar menegasi agama, tetapi juga merevolusinya. Agama tidak lagi berfungsi sebagai sumber wahyu, melainkan dipahami sebagai ruang yang ditarik masuk ke dalam horizon kasih karunia Kristus. Dengan de-mikian, artikel ini menegaskan eksklusivitas kristosentris Barth sekaligus menafsirkan ulang posisinya terhadap agama dan wahyu umum.
Menuju gereja sebagai komunitas pembelajar: Rekonstruksi teologi pendidikan agama Kristen berbasis spiritualitas partisipatif Simanjuntak, Haposan
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1129

Abstract

This study arises from a theological concern that Christian Religious Education (CRE) has been reduced to doctrinal transmission, thereby neglecting the dialectical dimension of faith formation. The prevailing instructive-hierarchical paradigm has produced congregations that are cognitively informed yet fail to mature into hermeneutical communities capable of collectively interpreting faith. This research aims to reconstruct the theological foundations of CRE through the framework of participatory spirituality. Employing a qualitative approach grounded in systematic literature review and a reflective-analytical approach to pastoral theology, faith pedagogy, and ecclesiological praxis, this study argues that participatory spirituality enables CRE to be reconceived as a dialogical, interactive, and transformative process of faith formation. The church is repositioned as a learning community wherein liturgy, ministry, and fellowship constitute the locus of formative encounter. In conclusion, this reconstruction offers an ecclesiological reorientation affirming the church's nature as the Body of Christ, growing through a relational learning ecology that culti-vates reflective, participatory, and contextual faith.   Abstrak Penelitian ini berangkat dari kegelisahan teologis atas reduksi Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai transmisi doktrinal yang mengabaikan dimensi dialektis pembentukan iman. Paradigma instruktif-hierarkis telah melahirkan jemaat yang terinformasi secara kognitif, namun tidak bertumbuh sebagai komunitas hermeneutis yang menafsirkan iman secara kolektif. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi landasan teologis PAK melalui kerangka spiritualitas partisipatif. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur sistematis dan pendekatan reflektif-analitis terhadap literatur teologi pastoral, pedagogi iman, serta praksis eklesiologis, penelitian ini merumuskan bahwa spiritualitas partisipatif memungkinkan PAK dipahami sebagai proses formasi iman yang dialogis, interaktif, dan transformatif. Gereja diposisikan sebagai learning community di mana liturgi, pelayanan, dan persekutuan menjadi locus pembentukan iman. Kesimpulannya, rekonstruksi ini menawarkan reorientasi eklesiologis yang menegaskan hakikat gereja sebagai Tubuh Kristus yang bertumbuh melalui ekologi pembelajaran relasional, membentuk iman yang reflektif, partisipatif, dan kontekstual.
Oikonomia theou dan oikonomia institusional: Participatio in mysterion sebagai paradigma manajemen pendidikan Kristiani Indonesia Sitorus, Pontus
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1164

Abstract

This article develops a theological framework for understanding Christian education management through the concept of oikonomia in Pauline and patristic theology. By analyzing the intrinsic relationship between oikonomia theou (divine management) and mysterion (the revealed plan of salvation), this article argues that the management of Christian educational institutions must be understood as participatio, the ontological and practical participation in God's work of salvation. Through exegetical analysis of key texts from Ephesians and Colossians, and by appropriating the concept of participatio from the Thomistic tradition and contemporary sacramental theology, this article offers a theological reconstitution of managerial practices that transcend the technocratic-instrumental approach. The implications of this paradigm are elaborated in the specific context of Indonesian Christian education, considering the challenges of contextualization and the need for theological-practical integration.   Abstrak Artikel ini mengembangkan suatu kerangka teologis, untuk memahami manajemen pendidikan Kristiani melalui konsep oikonomia dalam teologi Paulus dan patristik. Dengan menganalisis hubungan intrinsik antara oikonomia theou (pengelolaan ilahi) dan mysterion (rencana keselamatan yang terungkap), artikel ini berargumen bahwa manajemen institusi pendidikan Kristiani harus dipahami sebagai participation, partisipasi ontologis dan praktis dalam karya penyelamatan Allah. Melalui analisis eksegesis terhadap teks-teks kunci Efesus dan Kolose, serta apropriasi konsep participatio dari tradisi Thomistik dan teologi sakramental kontemporer, artikel ini menawarkan rekonstitusi teologis atas praktik manajerial yang melampaui pendekatan teknokratis-instrumental. Implikasi paradigma ini dijabarkan dalam konteks spesifik pendidikan Kristiani Indonesia dengan mempertimbangkan tantangan kontekstualisasi dan kebutuhan akan integrasi teologis-praktis.
Hikmat yang mendidik: Dimensi trinitaris hokmah dan pedagogi formasi karakter dalam kitab Amsal Rantesalu, Marsi Bombongan; Lele, Jeni Isak; Pay, Yitram Man
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1289

Abstract

This article explores the theological dimension of Christian edu-cation through an analysis of the personification of Ḥokmah (Wisdom) in the Book of Proverbs, particularly Proverbs 1-9. Employing a hermeneutical-theological approach, this study investigates how the Israelite sapien-tial tradition understood Wisdom not merely as a divine attribute, but as a persona actively involved in creation and human formation. An intertex-tual reading of Proverbs 8:22-31 alongside Colossians 1:15-17, John 1:1-3, and 1 Corinthians 1:24 demonstrates that the Old Testament personifi-cation of Wisdom exhibits christological continuity in the New Testament, in which Christ is identified as the Wisdom of God. Furthermore, this article argues that a Trinitarian understanding of Wisdom—as the activity of the Father through the Son in the Spirit—provides an ontological and teleological foundation for children's character formation. The concepts of mûsār (discipline) and yir'at YHWH (fear of the LORD) in Proverbs are understood not merely as pedagogical techniques, but as participation in the Trinitarian relation in which divine Wisdom forms humanity toward ḥayyîm (life). The practical implications of this study include a reorienta-tion of Christian educational philosophy from a knowledge-transmission paradigm to a relational-formation paradigm rooted in communion with the Triune God.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi dimensi teologis pendidikan Kristiani melalui analisis terhadap personifikasi hokmah (Hikmat) dalam Kitab Amsal, khususnya Amsal 1-9. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutis-teologis, penelitian ini menyelidiki bagaimana tradisi sapiensial Israel memahami Hikmat bukan sekadar sebagai atribut ilahi, melainkan sebagai persona yang aktif dalam penciptaan dan formasi manusia. Pembacaan intertekstual terhadap Amsal 8:22-31 bersama dengan Kolose 1:15-17; Yohanes 1:1-3; dan 1 Korintus 1:24, menunjukkan bahwa personifikasi Hikmat dalam Perjanjian Lama memiliki kontinuitas kristologis dalam Perjanjian Baru, di mana Kristus diidentifikasi sebagai Hikmat Allah. Lebih jauh, artikel ini berargumen bahwa pemahaman Trinitaris tentang Hikmat—sebagai aktivitas Bapa melalui Anak dalam Roh—menyediakan fondasi ontologis dan teleologis bagi pendidikan karakter anak. Konsep mûsār (disiplin) dan yir'at YHWH (takut akan TUHAN) dalam Amsal tidak dipahami sebagai teknik pedagogis semata, melainkan sebagai partisipasi dalam relasi Trinitaris di mana Hikmat Ilahi membentuk manusia menuju ḥayyîm (kehidupan). Implikasi praktis dari kajian ini mencakup reorientasi filosofi pendidikan Kristiani dari paradigma transmisi pengetahuan ke paradigma formasi relasional yang berakar pada communion dengan Allah Tritunggal.
Habitus pneumatis dan kompetensi emosional: Membaca ulang Galatia 5:22-24 bagi pendidikan karakter Kristiani Poroe, Herman
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/v11.i3.1330

Abstract

This article examines the concept of the fruit of the Spirit in Galatians 5:22-24 as pneumatic habitus that shapes students' emotional competence in Christian character education. Through a qualitative approach using conceptual-hermeneutical analysis, this study explores how nine manifestations of karpos tou pneumatos—love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control—can be understood as pneumatic dispositions that transform human affective structures. The analysis reveals that Christian character formation is not superficial behavioral modification but fundamental habitus restructuring through the Holy Spirit's work. This article offers a pedagogical model based on pneumatic habitus that integrates theological, psychological, and pedagogical dimensions in holistic and transformative emotional competence formation.   Abstrak Artikel ini mengkaji konsep buah Roh dalam Galatia 5:22-24 sebagai habitus pneumatis yang membentuk kompetensi emosional peserta didik dalam konteks pendidikan karakter Kristiani. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konseptual-hermeneutis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana sembilan manifestasi karpos tou pneumatos—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri—dapat dipahami sebagai disposisi-disposisi pneumatis yang mentransformasi struktur afektif manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa formasi karakter Kristiani bukanlah modifikasi perilaku superfisial, melainkan restrukturisasi habitus secara mendasar melalui karya Roh Kudus. Artikel ini menawarkan model pedagogis berbasis habitus pneumatis yang mengintegrasikan dimensi teologis, psikologis, dan pedagogis dalam pembentukan kompetensi emosional yang holistik dan transformatif.
Teologi ratapan sebagai praktik pastoral-komunal: Studi kitab Ratapan untuk pendampingan korban bencana Lewu, Ayub Pangga
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1359

Abstract

This article explores the theology of lament in the Book of Lamentations as a liturgical and pastoral resource for accompanying disaster victims in Indonesia. Through a literary-theological analysis of the structure and theology of the Book of Lamentations, this study demonstrates that the lament tradition provides a space for honest expression of suffering before God without reducing the complexity of traumatic experiences. By integrating perspectives from trauma theology and contextual pastoral studies, this article offers a theological-practical framework for building communities of accompaniment that enable disaster victims to experience holistic recovery. The research findings indicate that lament is not a sign of unbelief but rather an authentic form of faith that enables transformation from suffering toward hope.   Abstrak   Artikel ini mengeksplorasi teologi ratapan (lament) dalam Kitab Ratapan sebagai sumber daya liturgis dan pastoral untuk pendampingan korban bencana alam di Indonesia. Melalui analisis literer-teologis terhadap struktur dan teologi Kitab Ratapan, penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi ratapan menyediakan ruang ekspresi penderitaan yang jujur di hadapan Allah tanpa mereduksi kompleksitas pengalaman traumatis. Dengan mengintegrasikan perspektif trauma theology dan studi pastoral kontekstual, artikel ini menawarkan kerangka teologis-praktis untuk membangun komunitas pendampingan yang memampukan korban bencana mengalami pemulihan holistik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ratapan bukan tanda ketidakpercayaan melainkan bentuk iman yang autentik, yang memungkinkan transformasi dari penderitaan menuju harapan.
Teori modal budaya Pierre Bourdieu sebagai penguatan budaya pada anak dalam pendidikan keluarga Kristen Aponno, Simon
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1371

Abstract

Family education plays a vital role in shaping children's charac-ter and identity, including by strengthening a culture aligned with Christian values. Pierre Bourdieu's theory of cultural capital offers a relevant perspective on how cultural heritage is transmitted within Christian families, shaping children's identities and moral values. This research aims to analyze the role of cultural capital in Christian family education as a means of strengthening children's culture. The method used is a literature study. The results revealed that cultural capital, comprising habitus, symbolic capital, and social practices, shapes the mindsets, habits, and values that children adopt in daily life. In the context of Christian family education, cultural capital can be realized through the habituation to Christian values, the use of faith language in family communication, and children's involvement in Christian religious and cultural practices. This study recommends that future research examine education within Christian families more comprehensively, drawing on Pierre Bourdieu's theory of cultural capital.   Abstrak Pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas anak, termasuk dalam memperkuat budaya yang selaras dengan nilai-nilai Kristen. Teori modal budaya Pierre Bourdieu menawarkan perspektif yang relevan dalam memahami bagaimana warisan budaya ditransmisikan dalam keluarga Kristen guna membangun identitas dan nilai-nilai moral anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal budaya dalam pendidikan keluarga Kristen sebagai upaya penguatan budaya pada anak. Metode yang digunakan studi kepustakaan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa modal budaya yang meliputi habitus, kapital simbolik, dan praktik sosial berkontribusi dalam membentuk pola pikir, kebiasaan, serta nilai-nilai yang dianut oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan keluarga Kristen, modal budaya dapat diwujudkan melalui pembiasaan nilai-nilai Kekristenan, penggunaan bahasa iman dalam komunikasi keluarga, serta keterlibatan anak dalam praktik keagamaan dan budaya Kristen. Rekomendasi penelitian ini agar penelitian berikutnya mengkaji secara aktual dan luas tentang Pendidikan dalam keluarga Kristen berbasis teori modal budaya Pierre Bourdieu.
Dari trauma ke transendensi: Sebuah pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental dalam kurikulum pendidikan Kristiani generasi digital  Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1382

Abstract

The digital generation faces an unprecedented mental health crisis, with anxiety and depression rates rising dramatically since the 2010s. This article constructs a theological approach to mental health literacy as an integral component of a Christian education curriculum that is responsive to the needs of the digital generation. Through a constructive theological method with interdisciplinary analysis between trauma theology, developmental psychology, and transformative pedagogy, this study proposes a “from trauma to transcendence” framework that integrates theological understandings of suffering, grace, and healing with evidence-based mental health literacy principles. The result is a curriculum model that not only improves mental health literacy but also shapes resilient spirituality and hope rooted in the Christian narrative of healing and transformation.   Abstrak Generasi digital menghadapi krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan tingkat kecemasan dan depresi yang meningkat drastis sejak dekade 2010-an. Artikel ini mengkonstruksi pendekatan teologis terhadap literasi kesehatan mental sebagai komponen integral kurikulum pendidikan Kristiani yang responsif terhadap kebutuhan generasi digital. Melalui metode teologi konstruktif dengan analisis interdisipliner antara teologi trauma, psikologi perkembangan, dan pedagogi transformatif. Penelitian ini mengusulkan kerangka "dari trauma ke transendensi" yang mengintegrasikan pemahaman teologis tentang penderitaan, anugerah, dan pemulihan dengan prinsip-prinsip literasi kesehatan mental berbasis bukti. Hasilnya adalah model kurikulum yang tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan mental, tetapi juga membentuk spiritualitas yang resilien serta harapan yang berakar dalam narasi Kristiani tentang penyembuhan dan transformasi.
Kapasitas liminal: Kompetensi kepemimpinan Kristen dalam menavigasi ambiguitas dan transisi eklesiologis Sanjaya, Yudhy
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/7tnccz42

Abstract

Contemporary churches exist in a transitional phase marked by paradigmatic shifts, digital disruption, and institutional trust crises. This condition demands a reconstruction of Christian leadership models capable of functioning in transformative ways amid ambiguity. This article constructs the concept of "liminal capacity" as a leadership competency framework that integrates Victor Turner's insights from ritual anthropology with biblical theology on wilderness experiences and eschatological existence. Through a qualitative approach employing a constructive-integrative literature review, this research identifies four dimensions of liminal capacity: the theological foundation of liminality, kenotic-apophatic spirituality, pastoral phronesis, and communal habitus formation. Findings demonstrate that liminal leadership is not merely an adaptive strategy but an authentic expression of Christian spirituality rooted in biblical traditions of God's people being formed through threshold experiences.   Abstrak Gereja kontemporer berada dalam fase transisional yang ditandai oleh pergeseran paradigmatik, disrupsi digital, dan krisis kepercayaan institusional. Kondisi ini menuntut rekonstruksi model kepemimpinan Kristen yang mampu berfungsi secara transformatif dalam situasi ambiguitas. Artikel ini mengonstruksi konsep "kapasitas liminal" sebagai ke-rangka kompetensi kepemimpinan yang mengintegrasikan wawasan antropologi ritual Victor Turner dengan teologi biblis tentang pengalaman padang gurun dan eksistensi eskatologis. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka konstruktif-integratif, penelitian ini mengidentifikasi empat dimensi kapasitas liminal: fondasi teologis liminalitas, spiritualitas kenotik-apofatik, phronesis pastoral, dan formasi habitus komunal. Temuan menunjukkan bahwa kepemimpinan liminal bukan sekadar strategi adaptif, melainkan ekspresi autentik dari spiritualitas Kristen yang berakar pada tradisi biblis tentang pembentukan umat Allah melalui pengalaman ambang.

Page 1 of 2 | Total Record : 20