cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2: Agustus 2023" : 25 Documents clear
Mencahayai the dark night of the soul dan signifikansi teologi estetika dalam ziarah pemulihan trauma Harefa, Oinike Natalia
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.753

Abstract

Traumatic experiences, either experienced personally or communally due to unforeseeable events, can lead to prolonged suffering. Therefore, resources for trauma healing are essential. Trauma healing may undergo a process called the dark night of the soul, a historical event with potentially painful and destructive processes, yet leading to liberation from the trauma's grip. This paper aims to elaborate on the dark night of the soul based on the experiences of Teresa of Avila using an Aesthetic Theology perspective. I employ a qualitative research method utilizing literature reviews and interviews. The beginning of this article emphasizes trauma as a theological issue, indicating a need to provide answers that lead to hope. I also interpret trauma as a condition closely related to the concept of the dark night of the soul. The experiences of Teresa of Avila are discussed in detail. My findings are that the idea of the dark night of the soul, from an Aesthetic Theology perspective, can serve as a theological resource for the pilgrimage of trauma recovery. AbstrakPengalaman traumatik yang dialami secara personal maupun komunal oleh karena peristiwa yang tak tertanggungkan dapat membawa pada penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, sumber-sumber pemulihan trauma dibutuhkan. Pemulihan trauma dapat melewati proses yang disebut dengan the dark night of the soul, yakni peristiwa historis dengan proses yang dapat saja menyakitkan dan menghancurkan namun membawa pada pembebasan dari keterikatan pada trauma tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi the dark night of the soul berdasarkan pengalaman Teresa dari Avila dengan menggunakan perspektif Teologi Estetika. Saya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan dan wawancara. Bagian awal artikel ini menekankan trauma sebagai persoalan teologis sehingga ada kebutuhan untuk memberi jawaban yang menuntun pada pengharapan. Saya juga memaknai trauma sebagai kondisi yang dekat dengan konsep the dark night of the soul. Pengalaman Teresa dari Avila dibahas secara khusus. Temuan saya adalah konsep the dark night of the soul berdasarkan perspektif Teologi Estetika dapat menjadi sumber teologi bagi ziarah pemulihan trauma.
Eksagerasi animasi god toon dalam cerita Alkitab: Kisah Daniel dalam konteks historis dan kultural Darmawan, Andreas James; Arimbawa, I Made Gede; Marajaya, I Made
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.729

Abstract

Exaggeration is a solution to attract attention again when conveying a message, especially when the message is an old, repeated message. This exaggeration is needed to provide novelty to the target's boredom with old, repetitive messages. This research examines a Bible story film with a bold novelty value with the scientific knife of romantic hermeneutics. The episode that is the scope of the research is the story of Daniel in the Lion's Cage, from a Korean animation studio called God Toon. This research uses a descriptive qualitative method, which describes historical and cultural contexts obtained from several literary sources, interviews, and researcher interpretations. The research results are a study of exaggeration in Biblical characterizations, which gives rise to reference implications for research that addresses similar topics. The impact of the research is to encourage similar efforts that try to make a breakthrough in the target's boredom of receiving Bible stories that are visually relatively the same, as well as trying to generate story messages so that they continue to gain interest and a place in the hearts of Christians. AbstrakEksagerasi merupakan solusi untuk menarik atensi kembali dalam menyampaikan sebuah pesan, apalagi pesan yang hendak disampaikan adalah pesan lama yang berulang; eksagerasi ini diperlukan sebagai solusi dalam upaya memberikan kebaruan pada kejenuhan target pada pesan lama yang berulang. Penelitian ini mengkaji sebuah film cerita Alkitab dengan nilai kebaruan yang berani dengan pisau keilmuan hermeneutik romantisme. Episode yang menjadi lingkup penelitian adalah cerita Daniel di Kandang Singa, dari studio animasi korea bernama God Toon. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang menggambarkan kedua konteks baik historis maupun kultural, yang didapatkan dari beberapa sumber literatur, wawancara, dan tafsiran peneliti. Hasil penelitian berupa sebuah kajian tentang eksagerasi pada penokohan Alkitab, yang melahirkan implikasi acuan bagi penelitian yang mengangkat topik yang serupa. Dampak penelitian adalah mendorong upaya serupa yang mencoba melakukan terobosan bagi kejenuhan target menerima cerita Alkitab yang secara visual relatif sama, serta berupaya mengenerasi pesan cerita agar tetap mendapatkan minat dan tempat dalam hati umat Kristiani.
Etos kerja guru dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen: Sebuah refleksi model melalui observasi leksikal Nehemia 8:9-10 Karlau, Sensius Amon; Rukua, Ivo Sastri
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.678

Abstract

The purpose of this study is to explore the work ethic of Christian religious education teachers as a projection step towards the eroding aspects of motivation, commitment, loyalty, and calling of the soul in their duties. It's ironic because some teachers leave their calling and choose careers in other fields. The method used is qualitative with a literature approach. Lexical observation and exegetical analysis steps are used to explore the text of Nehemiah 8:9-10. So it was concluded that Christian religious education teachers should associate their vocation, have maximum passion, show sincere sincerity in attitude, have commitment and responsibility, and ratify that the Christian religious education learning material is understood. AbstrakTujuan penelitian ini yaitu mengetengahkan mengenai etos kerja guru pendidikan agama Kristen sebagai langkah proyeksi terhadap tergerusnya aspek motivasi, komitmen, loyalitas dan panggilan jiwa dalam tugasnya. Sungguh ironis karena sebagian guru meninggalkan panggilannya dan memilih berkarier pada bidang yang lain. Metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Langkah observasi leksikal dan analisis eksigetik digunakan untuk mendalami teks Nehemia 8:9-10. Maka disimpulkan bahwa guru pendidikan agama Kristen sebaiknya mengasosiasikan panggilannya, memiliki gairah yang maksimal, menunjukan kesungguhan hati yang tulus dalam bersikap, memiliki komitmen dan tanggung jawab serta meratifikasi bahwa materi pembelajaran pendidikan agama Kristen yang diajarkan terpahami dengan jelas.
Dari relasi menuju partisipasi: Sebuah teologi keterhisaban identitas manusia ke dalam imago Dei pada konteks autisme Masnidar, Sherly
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.755

Abstract

This article, focusing on the theology of belongingness, centers its concern on the discriminatory interpretation of the theology of imago Dei towards individuals living with autism. Superficially, our understanding of the theology of imago Dei (image of God) legitimizes human identity as perfect creations due to their resemblance to God. Therefore, individuals living with autism are often considered outside the realm of imago Dei identity due to their limitations in physical, cognitive, and social functions. This article aims to elucidate the complexity of human identity, emphasizing that humans cannot be comprehended solely based on their physical, cognitive, and social functions. To achieve this goal, through a constructive theological approach, this article presents the participative theology of imago Dei as the fourth model of imago Dei theology, following the functional, substantial, and relational models. Ultimately, this article formulates a participative theology of imago Dei that guides us to comprehend humans' belongingness within the Imago Dei fully. Thus, we understand the essence of humanity as unrestricted by any capability reference, providing an equal space for individuals living with autism. AbstrakArtikel yang berfokus pada teologi keterhisaban (theology of belongingness) ini mendasarkan persoalannya pada pemaknaan teologi imago Dei yang diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan autisme. Secara dangkal, teologi imago Dei (gambar Allah) kita pahami guna melegitimasi identitas manusia sebagai ciptaan yang sempurna karena kesegambarannya dengan Allah. Itulah sebabnya, orang yang hidup dengan autisme dianggap tidak termasuk ciptaan yang menggambarkan identitas Imago Dei karena keterbatasan fungsi fisik, kognitif, dan sosialnya. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan tentang kompleksitas identitas manusia sehingga manusia tidak dapat dipahami hanya berdasarkan fungsi dan substansi fisik, kognitif, juga sosialnya. Untuk mencapai tujuan itu, melalui pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menawarkan teologi imago Dei partisipatif sebagai model keempat teologi imago Dei, setelah model fungsional, substansial, dan relasional. Pada akhirnya, artikel ini menghasilkan teologi imago Dei model partisipatif yang menuntun kita memahami tentang keterhisaban manusia secara penuh ke dalam Sang Imago Dei. Dengan demikian, kita memahami hakikat manusia secara utuh yang tidak terikat pada acuan kemampuan apapun, sehingga ada ruang perimaan yang sama bagi orang yang hidup dengan autisme.
We are friends: A case study of children’s tolerance experience in komunitas anak Sabtu Ceria to counter religious radicalism Tuasuun, Magyolin Carolina; Tuasuun, Dina Novita
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.273

Abstract

Living in a multicultural society requires openness and acceptance of different people. Nevertheless, it takes work for radicals to open up, accept, and appreciate differences. Religious radicalism is a challenge that we still face today. Radicalism harms life, as occurred in several countries worldwide. Therefore, the spread of religious radicalism must be stopped, particularly for children as the future of the world. This article offers the concept of heterogeneous friendship as a powerful tool for children to open up and appreciate differences. Heterogeneous friendship becomes a hidden curriculum for children. By using a case study, it shows that through friendship with children from different backgrounds, children can share experiences and get to know each other more deeply. Thus, this experience in heterogeneous friendships is a robust learning process to foster and develop tolerance amid multicultural life.
Spiritualitas inkarnatif sebagai fondasi pendidikan kristiani yang inklusif Sirait, Jannes Eduard
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.145

Abstract

Inclusive education is proclaimed as an innovative solution to expanding access to education for children with special needs or persons with disabilities. Christian education also has the same responsibility to fulfill the needs of persons with disabilities, especially in spirituality, but this has not been consistently actualized. This study aims to explain the narrative of the incarnation of Jesus as spirituality to build inclusive Christian education. The method used is descriptive qualitative. The findings obtained from this research are that there are spiritual values in the narrative of the incarnation of the Lord Jesus, which can become the foundation for implementing inclusive Christian education. This foundation is needed as God's way of embracing the integrity of creation without distinction through His incarnation. AbstrakPendidikan inklusi dicanangkan sebagai solusi inovatif perluasan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.  Pendidikan Kristiani juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas terutama pada aspek spiritualitas, namun saat ini hal tersebut belum teraktualisasikan secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang narasi inkarnasi Yesus sebagai spiritualitas untuk membangun pendidikan Kristiani yang inklusif. Metode yang dipergunakan adalah kualitatif deskriptif. Temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat nilai-nilai spiritual dalam narasi inkarnasi Tuhan Yesus yang dapat menjadi fondasi dalam penyelenggaraan pendidikan Kristiani yang bersifat inklusif. Fondasi tersebut dibutuhkan, sebagaimana cara Allah merengkuh keutuhan ciptaan tanpa pembedaan melalui inkarnasi-Nya
Gereja sebagai administrator misi keadilan sosial: Sebuah panggilan misional holistik Pentakostal Gultom, Junifrius
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.782

Abstract

This research aims to show the holistic mission of the Pentecostal perspective, which departs from the Christian concept of holistic mission, namely Missio Dei, where God initiates the mission. The trinitarian framework of sending becomes a biblical philosophical foundation for understanding the Christian mission centered on God rather than the church, a shift from an ecclesiocentric mission to a theocentric mission. The church's place is important as the administrator of God's work in the world. The method used is descriptive qualitative with a library research approach, which brings the concept of holistic Christian mission, in general, closer to the potential of Pentecostal pneumatic spirituality. Suppose the Pentecostal movement can continue to realize the potential of a friendly pneumatic spirituality (hospitality) and embrace all of creation. In that case, that solid mission drive will enable Pentecostals to present the church as an administrator of social justice. AbstrakTujuan dari penelitian ini untuk menunjukkan misi holistik perspektif Pentakostal yang bertolak dari konsep misi holistik Kristen, yakni Missio Dei, di mana Allah sebagai inisiator misi. Kerangka pengutusan trinitarian menjadi fondasi filosofis alkitabiah untuk memahami misi Kristen yang berpusat pada Allah ketimbang gereja, sebuah pergeseran dari ecclesiocentric mission ke theocentric mission. Tempat gereja menjadi penting sebagai administrator dari pekerjaan Allah di dunia. Metode yang dipergunakan adalah kualitif deskriptif dengan pendekatan library research yang mendekatkan konsep misi holistik Kristen pada umumnya dengan pontensi spritualitas pneumatik Pentakostal. Jika gerakan Pentakostal dapat terus menyadari akan potensi spiritualitas pneumatik yang ramah (hospitalitas) dan merangkul semua ciptaan, maka dorongan misi yang kuat itu memungkinkan orang-orang Pentakostal mampu menghadirkan gereja sebagai administrator keadilan sosial. 
The first hijrah: Remembering the migration of the followers of the prophet Muhammad to Ethiopia as an effort to reduce intolerance in Indonesia Sembiring, William Wahyu
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.756

Abstract

Due to increased extremism and conservatism, Christian-Islam ties in Indonesia have deteriorated in recent years. The real impact of these events is intolerance in numerous facets of Indonesian life. This article aims to analyze the migration of followers of the Prophet Muhammad to Ethiopia as a joint event between the two major religious communities in the world, namely Islam and Christianity. This event contains meaning and value that show the excellent relations between the two Abrahamic religions since Islam first arrived. This study uses a qualitative-historical method by looking at and comparing several written sources, such as Binsar J. Pakpahan’s theory about the theology of remembrance, as a reference in explaining the historical situation that occurred. The results of this paper show that remembering past events can be used to reduce extremism, conservatism, and intolerance.
Trauma dan rekonsiliasi: Peran gereja bagi perjuangan pemulihan penyintas tragedi kekerasan di indonesia Cahyono, Didik Christian Adi; Samosir, Agustina Raplina
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.800

Abstract

One way to reconcile is by acknowledging violence or crime incidents. Recognition of this tragedy, apart from opening the public's eyes to the events that occurred, is also a form of acceptance for the survivors who experienced it. Revealing the facts about incidents of violence in public spaces becomes a path for further struggle, an effort to tell the truth to create forgiveness, justice, and peace. However, practically, this recognition takes work to realize. This difficulty occurs because people tend to want to forget and cover up the violent events; secondly, there is a connection with specific political policies, making recognition challenging to realize. In situations like this, recovery and reconciliation are tough to achieve. Using Soe Tjen Marching's narrative experience, this paper will discuss the church's role in public space to provide a place for narrative and confession for the violent events that occurred and for the survivors of the tragedy. AbstrakSalah satu jalan bagi terciptanya rekonsiliasi adalah adanya pengakuan terhadap peristiwa kekerasan atau kejahatan. Pengakuan atas tragedi tersebut, selain untuk membuka mata publik atas peristiwa yang terjadi, juga sebagai bentuk penerimaan bagi para penyintas yang mengalaminya. Pembukaan fakta atas peristiwa kekerasan di ruang publik menjadi jalan bagi perjuangan selanjutnya; usaha untuk membuka kebenaran demi terciptanya pengampunan, keadilan, dan perdamaian. Akan tetapi, dalam tataran praktis, pengakuan tersebut tidak mudah diwujudkan. Kesulitan ini terjadi karena pertama, orang cenderung ingin melu-pakan dan menutupi peristiwa kekerasan yang terjadi; kedua, adanya persinggungan dengan kebijakan politis tertentu yang membuat pengakuan tidak mudah diwujudkan. Dalam situasi seperti ini, pemulihan dan rekonsiliasi tidak mudah untuk diwujudkan. Dengan memakai narasi pengalaman dari Soe Tjen Marching, makalah ini akan membahas peran gereja di ruang publik untuk memberi tempat bagi narasi dan pengakuan; atas peristiwa kekerasan yang terjadi dan bagi para penyintas atas tragedi tersebut.
Manajemen pendidikan kristiani dalam pembentukan karakter unggul Mewengkang, Christie Garry
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.239

Abstract

Educational management is closely related to creating a curriculum or managing classes in a learning process in educational institutions. The learning process that links Christian education with the formation of superior character has become a topic often repeated. However, connecting the management of Christian education with the appearance of excellent character is a discourse that needs to be considered in preparing the curriculum for Christian education. This article aims to show that the narrative of the formation of superior character is a necessity in Christian education. Using descriptive-constructive analysis methods, this research examines several previous literature related to Christian education. It produces an offer about building superior spirituality in Christian education to create excellent character. In conclusion, Christian education must be managed to develop the spirituality of exceptional Christian education. AbstrakManajemen pendidikan sangat berkaitan dengan pembuatan kurikulum atau mengelola kelas dalam sebuah proses belajar di lembaga pendidikan. Sejatinya, proses belajar yang mengaitkan pendidikan kristiani dengan pembentukan karakter unggul telah menjadi bahasan yang kerap diulang-ulang; namun, bagaimana mengaitkan manajemen pendidikan kristiani dengan pembentukan karakter yang unggul merupakan sebuah diskursus yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun kurikulum di pendidikan Kristen. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa narasi pembentukan karakter unggul menjadi niscaya dalam pendidikan kristiani. Dengan menggunakan metode analisis deksriptif-konstruktif, penelitian ini mengkaji beberapa literatur terdahulu terkait pendidikan kristiani, dan menghasilkan tawaran tentang membangun spiritualitas unggul dalam pendidikan kristiani sebagai cara membangun karakter unggul. Kesimpulannya, pendidikan kristiani perlu dikelola untuk dapat membangun spiritualitas pendidikan kristiani yang unggul.  

Page 1 of 3 | Total Record : 25