cover
Contact Name
Julia Pertiwi
Contact Email
jmiakrecmed@gmail.com
Phone
+6282310902010
Journal Mail Official
jmiakrecmed@gmail.com
Editorial Address
“Program Studi Rekam Medis & Informasi Kesehatan” Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Veteran Bangun Nusantara Jl. Letjend. Sujono Humardani No. 01, Jombor, Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Surakarta - Jawa Tengah 57521. Telp (0271) 593156, Fax (0271) 591065,
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan
ISSN : 26216612     EISSN : 26226944     DOI : https://doi.org/10.32585/jmiak.v1i1.119
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK), diterbitkan oleh Program Studi Perekam Medis & Informasi Kesehatan UNIVET. Terbit 2 kali dalam 1 tahun, yaitu pada bulan Juni dan November. Berisi naskah ilmiah berupa hasil penelitian, studi literatur/ artikel review, editorial dan makalah ilmiah/ paperdi bidang Ilmu Rekam Medis, Manajemen Informasi Kesehatan dan Administrasi/ Kebijakan di Bidang Kesehatan.
Articles 297 Documents
Pemahaman, Kesiapan dan Potensi Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Mendukung Pelayanan Kesehatan di Klinik Pratama Nurhasmadiar Nandini; Rani Tiyas Budiyanti; Sutopo Patria Jati
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8108

Abstract

The use of Artificial Intelligence (AI) in healthcare facilities has begun to be implemented at both the hospital and primary healthcare facilities levels, although it is still limited and simple. This study aims to analyze the understanding of staff, the readiness of staff and organizations, and the potential use of AI to support healthcare services in primary clinics. This is a qualitative study conducted from March to October 2025 at two primary clinics in Semarang City. Informants in this study were clinic managers, doctors, and clinic administrators. Data collection was conducted through in-depth interviews with informants. Data analysis used content analysis techniques. The results show that the basic understanding of staff at the clinics is quite good, but detailed technical instructions and training are still needed. The clinics are quite ready in terms of infrastructure to support the use of AI. The potential for AI utilization is still vast, for example, for early detection, patient education, and other health and support services, if detailed guidelines and limitations are in place to ensure quality and safe healthcare. Staff at primary clinics have begun to utilize AI in several aspects, but still need expansion and more in-depth training to optimize the use of AI to provide effective, efficient, and safe healthcare.
Analisis Spasial Kasus Pneumonia Berbasis Sistem Informasi Geografis Di Kabupaten Boyolali Siti Slasaini Ahluljanah Ahluljanah; Sinta Novratilova; Wahyu Wijaya Widiyanto
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8155

Abstract

Pneumonia is a public health problem that is still a major cause of morbidity, especially in areas with diverse environmental conditions and population density, such as in Boyolali Regency. This research aims to map the distribution of pneumonia cases based on population density and regional topography and analyze the distribution pattern of pneumonia cases to support planning of targeted health interventions. The method used in this research is quantitative descriptive with a spatial analysis method based on a geographic information system. All data obtained is processed using the Qgis software application to visualize a map of pneumonia cases. The results of the Moran's autocorrelation test show a widespread pattern of case distribution with a Morans index value of -0.290, p-value 0.104 and z-score -1.0398 and there is no significant spatial autocorrelation between regions. Areas with high and medium cases are in densely populated sub-districts and in areas with relatively moderate altitude. Therefore, promotive and preventive efforts need to be carried out evenly in all regions for early anticipation in areas with a low number of pneumonia cases.
Gambaran Kelengkapan Pengisian Dokumen Resume Medis Pasien Rawat Inap di Puskesmas Reni Trianing Tyas; Ninda Mulya Ike Ardila
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8175

Abstract

Kelengkapan dokumen rekam medis yaitu hal yang sangat penting untuk dilakukan pelayanan atau prosedur medis kepada pasien dan akan selesai dalam waktu kurang dari 1 x 24 jam. Kelengkapan rekam medis harus mencapai 100%. Tujuan: Mengetahui review identifikasi, review laporan penting, review autentifikasi, review catatan yang baik kelengkapan pengisian resume medis pasien rawat inap di puskesmas. Metode: Deskriptif Kuantitatif, populasi 90 formulir dengan sampel 90 formulir, teknik total sampling dan pengumpulan data observasi dengan checklist dan wawancara. Hasil: 90 sampel didapatkan hasil review identifikasi 55 formulir (61,1%) lengkap dan 35 formulir (38,9%) tidak lengkap, laporan penting 12 formulir (13,3%) lengkap dan 78 formulir (86,7%) tidak lengkap, autentifikasi 19 formulir (21,1% lengkap dan 71 formulir (78,9%) tidak lengkap, catatan yang baik 65 formulir (72,2%) lengkap dan 25 formulir (27,8%) tidak lengkap. faktor ketidaklengkapan yaitu lupa dalam pengisian identitas, dan pekerjaan banyak. Saran: kebijakan kelengkapan pengisian DRM segera dibuat, memberikan tanda (-) pada item yang tidak perlu diisi, mengadakan sosialisasi tentang pentingnya kelengkapan pengisian resume medis, menyiapkan label identitas, mendesain formulir.
Determinasi Kesediaan Membayar Pasien Non-BPJS melalui Citra Merek, Kepercayaan, dan Nilai dengan Mediasi Loyalitas Pada Rumah Sakit Swasta Liediawaty Shahaan; Eka Desy Purnama
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor pemasaran yang memengaruhi kesediaan membayar (willingness to pay) layanan kesehatan pada pasien non-BPJS, dengan menitikberatkan pada peran citra merek (brand image), kepercayaan merek (brand trust), nilai yang dirasakan (perceived value), serta loyalitas pasien (customer loyalty). Selain itu, penelitian ini mengkaji peran loyalitas pasien sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Data dikumpulkan dari pasien non-BPJS yang menerima layanan di berbagai rumah sakit swasta di Indonesia. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode non-probability sampling. Analisis data mengguaka SmartPLS. Hasil penelitian diharapkan menunjukkan bahwa citra merek, kepercayaan merek, dan nilai yang dirasakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesediaan membayar layanan kesehatan pada pasien non-BPJS. Loyalitas pasien tidak hanya berpengaruh langsung terhadap kesediaan membayar, tetapi juga berperan sebagai mekanisme mediasi yang memperkuat pengaruh citra merek, kepercayaan merek, dan nilai yang dirasakan terhadap kesediaan membayar. Temuan ini menegaskan pentingnya strategi pemasaran rumah sakit yang berfokus pada penguatan merek, pembentukan kepercayaan, dan penciptaan nilai yang unggul untuk meningkatkan loyalitas serta penerimaan harga premium dari pasien non-BPJS. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi manajemen rumah sakit swasta dalam merancang kebijakan pemasaran dan penetapan harga yang berkelanjutan di era kompetisi layanan kesehatan yang semakin ketat.
Evaluasi Implementasi RME Rawat Jalan RSU Fitri Candra Wonogiri Berbasis HOT-Fit Diva Adinia Cipta; Wahyu Wijaya widiyanto
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8196

Abstract

Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan bagian penting dari transformasi digital pelayanan kesehatan, khususnya pada pelayanan rawat jalan yang melibatkan berbagai unit kerja dan membutuhkan ketersediaan data yang cepat, akurat, serta terintegrasi. Keberhasilan penerapan RME tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan aplikasi, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan pengguna, dukungan organisasi, kualitas teknologi, dan manfaat yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi RME pada pelayanan rawat jalan RSU Fitri Candra Wonogiri menggunakan model HOT-Fit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Informan penelitian berjumlah 11 orang yang terdiri dari petugas pendaftaran, perawat poli, petugas farmasi, kasir, laboratorium, radiologi, rekam medis, dokter poli, IT, kepala instalasi rekam medis, dan manajemen. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek Human sudah cukup baik karena pengguna merasa RME mudah digunakan dan membantu pelayanan, tetapi pelatihan belum dilakukan secara rutin. Aspek Organization menunjukkan adanya dukungan manajemen dan IT, namun belum terdapat SK pengelola RME dan SOP masih dalam proses penyusunan. Aspek Technology menunjukkan bahwa sistem cukup mudah digunakan dan fitur cukup lengkap, tetapi masih terdapat kendala jaringan, downtime, dan data pelaporan yang perlu diolah manual. Aspek Net Benefit menunjukkan bahwa RME mempercepat pelayanan, mengurangi duplikasi data, memudahkan pencarian data pasien, dan meningkatkan efisiensi kerja. Implementasi RME telah berjalan cukup baik, tetapi masih memerlukan penguatan tata kelola, pelatihan berkala, stabilitas sistem, dan pengembangan fitur pelaporan.
Eksplorasi Peran Strategis Koder dalam Implementasi Sistem Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) di Rumah Sakit Andra Dwitama Hidayat; Nurhadi Nurhadi; Syndia Puspitasari; Adinda Dwi Putri Juniasari
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8223

Abstract

Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) is an evolution of the INA-CBG system designed to better reflect patient clinical complexity. The case grouping process in iDRG is highly dependent on the accuracy of diagnosis and procedure coding. Previous studies indicate that the accuracy of clinical coding in hospitals in Indonesia remains a significant challenge. This study aims to explore the strategic role of coders in the clinical coding process within the iDRG system in a hospital setting. A qualitative method with a descriptive phenomenological approach was employed, involving in-depth interviews with five informants (four coders and one head of medical records). Data were analyzed using thematic analysis. The results show that coders perceive their role not merely as administrative, but as guardians of clinical and financial data integrity, bridging clinical services and the reimbursement system. Coders demonstrate a good technical understanding of iDRG mechanisms, particularly the impact of clinical data completeness on case grouping. Strategies to maintain accuracy include comprehensive medical record verification, proactive communication with physicians, peer review, and internal audits. Key factors influencing accuracy are the quality of clinical documentation, coder competence, workload, and health information systems. Challenges include non-specific documentation, limited communication with physicians, case complexity, and evolving regulations. This study highlights the importance of a multidisciplinary approach to improve the quality of clinical coding in hospitals.
Literasi Kesehatan Digital dalam Transformasi Digital Health di Indonesia: Literature Review Mujtahidah; Samsiana
Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan (JMIAK) Vol. 9 No. 1 (2026): JMIAK
Publisher : Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jmiak.v9i1.8266

Abstract

Transformasi digital health di Indonesia telah meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi dan layanan kesehatan melalui internet, media sosial, telemedicine, aplikasi kesehatan, dan platform layanan digital. Namun, kemudahan akses tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan masyarakat dalam memahami, mengevaluasi kredibilitas, menjaga privasi, dan menggunakan informasi kesehatan digital secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji literasi kesehatan digital dalam transformasi digital health di Indonesia, khususnya dari aspek konsep, determinan, tantangan, dan strategi penguatan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan narrative review terstruktur melalui telaah artikel ilmiah, laporan institusi, dan dokumen kebijakan yang relevan. Hasil kajian pada 13 artikel menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital merupakan kemampuan multidimensional yang mencakup akses, pemahaman, evaluasi, komunikasi, dan pemanfaatan informasi kesehatan digital. Literasi kesehatan digital dipengaruhi oleh usia, pendidikan, status sosial ekonomi, pengalaman kesehatan, intensitas penggunaan internet, serta literasi digital. Di Indonesia,tantangan utama meliputi rendahnya kemampuan evaluasi informasi, risiko misinformasi, kesenjangan akses digital, keamanan data, dan keterbatasan kompetensi digital tenaga kesehatan. Kesimpulannya, literasi kesehatan digital perlu diperkuat sebagai prasyarat keberhasilan transformasi digital health yang inklusif, aman, dan berkelanjutan