cover
Contact Name
Teguh Sarry Hartono
Contact Email
bagas.afyad@gmail.com
Phone
+6285956755747
Journal Mail Official
jurnal.rspiss@gmail.com
Editorial Address
https://www.ijid-rspisuliantisaroso.co.id/index.php/ijid/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
The Indonesian Journal of Infectious Diseases
ISSN : 23546077     EISSN : 25991698     DOI : https://doi.org/10.32667/ijid.v10i1
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Infectious Diseases aims to disseminate and facilitate discussions on scientific papers related to health, particularly focusing on infectious diseases including emerging diseases, new emerging disease issues, and tropical medicine. The journal serves as a communication medium for various stakeholders interested in health research, including researchers, educators, students, healthcare practitioners, the Department of Health, Public Health Service, and the general public with an interest in this field. It endeavors to address the increasing demand for studying infectious diseases.
Articles 159 Documents
Hubungan Dukungan Emosional Keluarga dengan Keberhasilan Pelaksanaan Program Pengobatan HIV/AIDS di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Maulia Hindun Audhah; Marisca Agustina
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i1.30

Abstract

AbstrakLatar belakang : Dukungan emosional keluarga merupakan salah satu aspek dukungan keluarga yaitu suatu bentuk kenyamanan, perhatian ataupun bantuan yang diterima individu dari orang yang berarti baik secara perorangan maupun kelompok. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan dukungan emosional keluarga dengan pelaksanaan program pengobatan pasien HIV/AIDS.Metode : Desain dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sample dalam penelitian ini adalah pasien HIV/AIDS yang melakukan pengobatan dipokja HIV/AIDS RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso sebanyak 98 pasien yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data di analisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi Square.Hasil : Dari 98 responden sebagian besar yaitu 54 (54,1%) menyatakan kurang mendapatkan dukungan emosional keluarga dan 53 (53.1%) tidak rutin dalam pelaksanaan program pengobatan pasien HIV/AIDS. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan emosional keluarga dengan kepatuhan program pengobatan HIV/AIDS (PValue = 0,01).Kesimpulan : Ada hubungan antara dukungan emosional keluarga dengan kepatuhan program pengobatan HIV/AIDS. AbstractBackground : Emotional support is one of family’s support aspect and a form of comfort, care and help that received by a person from someone important for them. The purpose of this research is to identified the correlation of emotional support and the implementation of HIV treatment programs.Methods: The design of this research is descriptive correlation with cross sectional approach. The amount of samples is 98 patien with HIV/AIDS from pokja-HIV/AIDS at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Data analysis consist of univariate and bivariate analysis with chi square test .Results : Of the 98 respondents most of which 54 (54.1%) expressed less get emotional family support and 53 (53.1%) is not routine in the implementation of the treatment of patients with HIV/AIDS. There was a significant correlation between emotional support families with the compliance program HIV/AIDS treatment ( Pvalue = 0,01).Conclusion : There is a significant correlation between emotional support and the adherence of HIV treatment.
Gambaran Kegagalan Perbaikan CD4 Pasien Koinfeksi TB-HIV Berdasarkan Jarak Waktu Pemberian Antiretroviral Pasca Obat Anti Tuberkulosis di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso NFN Musdalifah; Ratna Djuwita; Adria Rusli; Mondastri Korib
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.31

Abstract

AbstrakLatarbelakang : Memulai terapi Antiretroviral (ARV) lebih awal berisiko menimbulkan interaksi Obat Anti TB (OAT) dengan ARV, efek samping obat, keracunan akibat obat, tantangan kepatuhan minum obat dan terjadinya Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS).Metode : Penelitian ini menggunakan design penelitian kohort restrospektif dengan follow-up selama satu setengah tahun. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2016. Populasi studi adalah pasien Ko-infeksi TB-HIV yang naive ART dan tercatat pada rekam medis periode Januari 2010 - November 2014. Data pasien diperoleh dari rekam medis pasien dengan kriteria inklusi sampel adalah pasien usia ≥15 tahun, mendapat OAT minimal 2 minggu sebelum ART dimulai, dan memiliki data hasil pemeriksaan CD4 sebanyak dua kali dengan total sampel sebanyak 164 orang.Hasil : Probabilias kumulatif kegagalan perbaikan CD4 pasien ko-infeksi TB-HIV sebesar 14,43%. Hazard rate kegagalan perbaikan CD4 pada pasien yang memulai terapi ARV 2-8 minggu setelah OAT dibandingkan dengan yang menunda terapi ARV 8 minggu setelah OAT masing-masing 767 per 10.000 orang tahun dan 447 per 10.000 orang tahun (p=0,266).Kesimpulan : Hazard rate kegagalan perbaikan CD4 pada pasien yang memulai terapi ARV 2-8 minggu setelah OAT lebih tinggi dibandingkan dengan hazard rate pada pasien yang menunda terapi ARV 8 minggu setelah OAT. AbstractBackground : Starting Antiretroviral Treatment (ART) earlier was assosiated to pharmacologic interactions, side effect, high pill burden, treatment interruption, and Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS).Methods : This study used cohort restrospective design with one and half year time to follow up. This study was conducted from May to June 2016 at Infectious Disease Hospital Sulianti Saroso. Study population were TB-HIV coinfected patients, noted as a naive ART patient in medical records from january2010-november 2014. A total 164 patients ≥ 15 years old, had ATT 2 weeks before ART and had minimum 2 CD4 sell count laboratorium test results.Result : The cumulative probability of CD4 response failure among TB-HIV co-infected patients was 14,43%. Hazard rate of CD4 response failure was 767 per 10.000 person year in early ART (2-8 weeks after OAT) versus 474 per 10.000 person year in delayed ART (8 weeks after OAT) (p=0,266).Conclusion : Hazard CD4 repair failure rate in patients who started ARV therapy 2-8 weeks after OAT higher than the hazard rate in patients who deferred antiretroviral therapy 8 weeks after OAT.
Gambaran Ketahanan Hidup (Kesintasan) Satu Tahun Pasien Koinfeksi TB-HIV Berdasarkan Waktu Awal Pengobatan Antiretroval (ARV) pada Fase Lanjut di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Periode Januari 2011-Mei 2014 Siti Maemun; Syahrizal Syarif; Adria Rusli; Renti Mahkota
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.32

Abstract

AbstrakLatar Belakang : Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan jenis retrovirus yang menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan Acquired Immunodefiency Syndrome (AIDS),. Kehadiran kuman TB menyebabkan progresivitas kasus ko-infeksi TB-HIV bertambah buruk sehingga mengancam jiwa penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesintasan satu tahun pasien ko-infeksi TB-HIV berdasarkan waktu awal pengobatan ARV.Metode : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2013-2015. Sumber data yang digunakan berasal dari penelusuran pada register pra ARV dan ARV, Form TB 01, buku monitoring ARV, monitoring farmasi ARV, pelacakan ikhtisar ARV dan status rekam medis. Pengumpulan data melibatkan petugas Pokja HIV/AIDS dan dokter (validasi diagnosa dan kovariat) yang di blind atas hipotesis penelitian.Hasil : Probabilitas ketahanan hidup kumulatif satu tahun pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan awal pengobatan ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2011-Mei 2014 adalah 81,5%. Probabilitas ketahanan hidup pasien TB-HIV berdasarkan waktu awal menunjukan bahwa ketahanan hidup satu tahun pada pasien yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase intensif adalah 89,1% dan pada pasien yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase lanjut adalah 74,5%.Kesimpulan : Pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada fase intensif cenderung memiliki probalitas ketahanan hidup yang lebih besar di tahun pertama dibandingkan pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada fase lanjut. Abstract Background : Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a type of retrovirus that infects the human immune system that causes Acquired Immunodefiency Syndrome (AIDS). The presence of TB germs cause progression of cases of co-infection of TB-HIV getting worse so threatening sufferers. This study aims to reveal the one-year survival rate of patients co-infected TB-HIV based on time start of antiretroviral treatment.Methods : This study used a retrospective cohort design in RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso years 2013-2015. The data used comes from searches on the register of pre ARV and ARV form, TB Form, the book ARV monitoring, monitoring of pharmaceutical drugs, ARV overview and status tracking of medical records. The data collection involves the officer HIV / AIDS and the doctor (validation diagnosis and covariates) were in blind on the research hypothesis. Results : The cumulative probability of survival for one year patients co-infected TB-HIV get antiretroviral treatment early in RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso period January 2011-May 2014 was 81.5%. The probability of survival for patients of TB-HIV based on the initial time showed that one-year survival in patients receiving antiretroviral treatment in the intensive phase was 89.1% and in patients receiving antiretroviral treatment in advanced phases was 74.5%.Conclusion : Co-infected TB-HIV patients get antiretroviral drugs in the intensive phase tend to have a probability of survival is greater in the first year compared to co-infection TB-HIV patients get antiretroviral drugs in the advanced phase
Profil Kepatuhan Higiene Perorangan Penjamah Makanan di Instalasi Gizi dan Tata Boga Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Ika Susanti; Nunung Hendrawati; Titi Sundari; Maya Marinda Montain
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.33

Abstract

AbstrakLatar belakang : Salah satu upaya higiene sanitasi makanan yaitu dengan meningkatkan higiene perorangan pada penjamah makanan yang merupakan kunci keberhasilan dalam pengolahan makanan yang aman dan sehat. Higiene perorangan yang terlibat dalam pengolahan makanan akan dapat dicapai, apabila dalam diri pekerja tertanam pengertian tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui profil kepatuhan higiene perorangan penjamah makanan di Instalasi Gizi dan Tata Boga RSPI Prof. Dr. Sulianti SarosoMetode : Kajian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode potong lintang. Sampel meliputi petugas penjamah makanan di Instalasi Gizi dan Tata Boga - RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode tahun 2016.Hasil : Dari 19 penjamah makanan sebagian besar berjenis kelamin perempuan (52.6%), tingkat pendidikan sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan setara SMA (78.9%, Kondisi kesehatan penjamah makanan sebagian besar pernah MCU 73.7% dengan hasil sehat bersyarat, dari observasi perilaku diketahui bahwa penjamah makanan berperilaku tidak higienis diantaranya yaitu tidak memakai sepatu tertutup sebanyak 96.5%, tidak memakai baju kerja sebanyak 87.5%, tidak memakai masker sebanyak 77.2%, tidak memakai penutup kepala sebanyak 71.9%, tidak memakai sarung tangan sebanyak 50%, tidak memakai celemek sebanyak 33.3%, bercakap cakap sebanyak 28.1% dan tidak menutup makanan yang matang sebanyak 25.9%, kepatuhan dalam hygiene perorangan sebagian besar 89.5% dengan kepatuhan kategori kurang.Kesimpulan : Penjamah makanan sebagian besardengan kepatuhan kategori kurang 89.5% dan 10.5% dengan kepatuhan kategori sedang.AbstractBackground : One of food sanitation hygiene efforts is to improve personal hygiene of food handlers which is the key to success in processing of safe and healthy food personal hygiene involved in food processing will be able to be reached, if the workers them selves are embedded an understanding of importance to keep health and personal hygiene. This study aimed to determine the compliance profile of personal hygiene of food handlers in Nutrion and Gulinary Installation at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso.Methods: The study used a descriptive design with cross sectional method. The samples included some food handlers officers in Nutrion and Gulinary Installation at RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in period of 2016Results: Obtained From 19 food handlers mostly are female (52.6%) most of education level have educational backgrounds similar to senior high school SMA (78.9%), health condition of food handlers aremostly ever MCU (73.7%) with conditional health results from the observations of the behavior were known that food handlers behaved unhygiene such as they didn’t wear closed shoes as many as 96.5%, not wear working clothes as many as much as (71.9%), not wear gloves as many as (50%), not wear aprons as much as (33.3%), talked while working as much as (28.1%), and not close the food that have been cooked as many as (25.9%), most compliance of personal hygiene are (89.5%) with the compliance of deficient category.Conclusion : Most of food handlers with deficient category compliance are (89.5%) and (10.5%) with the compliance of medium catagory.
Profil Hematologi dan Pemantauan Dosis Petugas Radiologi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2014-2015 NFN Jahiroh; Nunung Hendrawati; Maya Marinda Montain
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.34

Abstract

AbstrakLatar belakang : Petugas radiologi mempunyai risiko untuk terpapar radiasi. Pemantauan kesehatan dan dosis para petugas radiologi wajib dilakukan untuk mengidentifikasi adanya gejala awal atau tanda kerusakan awal akibat paparan radiasi dan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan petugas radiologi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko paparan radiasi pada petugas radiologi berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi dan pemantauan dosis.Metode : Kajian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode potong lintang. Subyek yang digunakan dalam kajian ini terdiri dari ahli radiologi, radiografer dan petugas administrasi yang bekerja di Instalasi Radiologi, RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode 2014-2015. Data yang digunakan yaitu data sekunder dari hasil pemeriksaan kesehatan berkala tahun 2014-2015, berupa data karakteristik demografi dan pemeriksaan laboratorium. Hasil pengukuran dosis radiasi dari laboratorium pemantauan dosis perorangan - Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan dan Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).Hasil : Jumlah petugas radiologi laki-laki sama dengan jumlah petugas perempuan, sebanyak 58,4% petugas berusia 31-40 tahun, 75% petugas berpendidikan DIII radiologi, 33,3% petugas dengan lama kerja 11-15 tahun. Hasil pemeriksaan kadar Ht, leukosit, dan LED menunjukkan semua petugas masih dalam batas normal. Petugas yang mempunyai kadar Hb rendah meningkat menjadi 33,3% pada tahun 2015 dari tahun 2014 (25%). Petugas yang mengalami anemia normositik meningkat dari 16,5% (2014) menjadi 25% (2015). Sebanyak 16,6% petugas mempunyai kadar serum besi yang rendah, sebanyak 25% petugas mempunyai jumlah retikulosit yang rendah. Hasil pemantauan dosis radiasi pada tahun 2014 dan 2015 menunjukkan semua petugas radiologi masih dibawah Nilai Batas Dosis.Kesimpulan : Secara keseluruhan hasil pemeriksaan hematologi dan pemantauan dosis petugas radiologi masih dalam batas normal. AbstractBackground : The officer radiology at risk for exposure to radiation. Health monitoring and dose the radiology staff must be conducted to identify the presence of early symptoms or signs of early damage due to exposure to radiation and to ensure the safety and health of radiology staff. This study aims to increase awareness of the risks of radiation exposure in radiology staff based on the results of hematology and dose monitoring.Methods : The study used a descriptive design with cross sectional method. The subjects used in this study consists of radiologists, radiographers and administrators who work in Radiology, Prof. RSPI Dr. Sulianti Saroso period 2014-2015. The data used is secondary data from periodic health examination results year 2014-2015, in the form of data on demographic characteristics and laboratory tests. The results of the laboratory measurement of radiation dose monitoring individual dose - Safety Center HealthFacilities and Technology Center Safety and Radiation Metrology - National Nuclear Energy Agency (BATAN).Results : The number of male officers radiology equal to the number of women officers, as many as 58.4% of 31-40-year-old clerk, 75% of the officers educated DIII radiology, 33.3% of the officers working with 11-15 years old. Examination results hematocrit levels, leukocytes, and LEDs indicate all the officers are still within normal limits. Officers who have low Hb level increased to 33.3% in 2015 from 2014 (25%). Officers who are anemic normositik increased from 16.5% (2014) to 25% (2015). A total of 16.6% of the officers had serum iron levels are low, as many as 25% of the officers had a low reticulocyte count. Radiation dose monitoring results in 2014 and 2015 shows all radiology staff is still below the dose limit value.Conclusion : Overall results of the monitoring of hematology and radiology staff doses are within normal limits. 
Efektivitas Pemberian Edukasi Berbasis Audiovisual dan Tutorial Tentang Antiretroviral (ARV) Terhadap Kepatuhan Pengobatan pada Pasien HIV/AIDS di Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016 Sinta Fresia
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.35

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Terjadinya peningkatan jumlah pasien HIV/AIDS dan rendahnya kualitas hidup pasien HIV/AIDS menimbulkan masalah yang cukup luas pada individu yang terinfeksi yakni masalah fisik, social dan emosional.Untuk meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien HIV/AIDS harus mendapatkan terapi Antiretrovirus (ARV) seumur hidup dan dibutuhkan pengawasan terhadap kepatuhan minum obat.Oleh karena itu pasien HIV/AIDS membutuhkan edukasi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dengan metode terbaru yaitu tutorial dan audiovisual.Tujuan penelitian ini untuk menganalisa perbedaan efektivitas pemberian edukasi berbasis audiovisual dan tutorial tentang ARV terhadap kepatuhan pengobatan pasien HIV/ AIDS. Metode : Penelitian ini menggunakan desain Quasi eksperimental dengan rancangan pretest-posttes design without control group.Jumlah sampel 27 responden dibagi 3 kelompok dengan 3 perlakuan berbeda.Masing-masing 9 responden diberikan edukasi dengan metode audiovisual, tutorial, audiovisual dan tutorial.Penelitian dilakukan di Klinik Teratai Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada bulan Mei-Juni 2016. Hasil : Ada perbedaan rata-rata mean kepatuhan edukasi dengan audiovisual 2,444, (Pvalue=0,003, 95% CI=1,107-3,782), edukasi dengan metode tutorial perbedaan mean 1,556 (Pvalue=0,023, 95% CI=1,274-2,837), edukasi dengan audiovisual dan tutorial didapatkan perbedaan mean 3,667 (Pvalue=0,003, 95% CI=1,670-5,664). Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang significant rata-rata kepatuhan pada masing-masing kelompok intervensi edukasi.Kombinasi edukasi berbasis audiovisual dan tutorial memberikan hasil yang paling baik. Abstract Background : An increasing number of patients with HIV/AIDS and low quality of life of patients with HIV/AIDS cause considerable problems in individuals infected area.There are physical, social and emotional problems.To improve the quality of life of receive antiretroviral (ARV) therapy for life.This requires adherence and supervision taking medication. There fore urgently needed education to improve adherence with the latest audiovisual and tutorial methods. The purpose of this research is to analyze the difference effectiveness of education based audiovisual and tutorial method on ARV treatment adherence with HIV/AIDS patients.Methods : This research use quasi experimental design with pretest and posttest without control group. The numbers of sample in this research is 27 sample. Responden group divided into three different education methode. 9 responden in audiovisual methode,9 responden in tutorial methode and 9 responden in audiovisual and tutorial methode. The study was conducted at the Clinic Teratai Hasan Sadikin Hospital in May-June, 2016. Results : There is a diference in average adherence. In audiovisual methode mean 2,444 (Pvalue=0,003, 95% CI=1,107-3,782), tutorial methode 1,556(Pvalue=0,023, 95% CI=1,274-2,837), audiovisual and tutorial methode mean 3,667 (Pvalue =0,003, 95% CI=1,670-5,664).Conclusion : There is a significant difference in the average adherence in difference methode.Especially in audiovisual and tutorial methode. The combination of audiovisual and tutorial-based education gives the best results
Perubahan Jumlah CD4 Setelah Enam Bulan Pertama Terapi Antiretroviral di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Sri Rahayuni; Nina Mariana; Buchori Lapau; Evy Nurvidiya Arifin; Siti Maemun
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.42

Abstract

Latar belakang: Pemberian ARV dapat mengoptimalkan outcome klinis ODHA. Di Indonesia, informasi tentang efek terapi ARV setelah 6 bulan pertama terhadap perubahan jumlah CD4 masih terbatas. Penelitian bertujuan mengidentifikasi perubahan jumlah CD4 setelah 6 bulan pertama pemberian jenis ARV Kombinasi Obat Terpisah (KOT) dan Kombinasi Dosis Tetap (KDT) di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2014-Maret 2017. Metode: Desain penelitian adalah kohort retrospektif, jumlah sampel 154, terdiri dari 87 ODHA yang mendapatkan KOT dan 87 KDT. Pengambilan sampel secara consecutive sampling dengan sumber data rekam medis. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi Square, dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Dari 87 yang mendapatkan KOT, 26 (29,9%) CD4 menurun/tetap dan 61(70,1%) meningkat. Sedangkan yang mendapatkan KDT, 3 (3,4%) CD4 menurun/tetap dan 84 (96,6%) meningkat. Pada ODHA yang adherence juga mengalami peningkatan CD4. Ada hubungan yang bermakna pemberian jenis ARV dan adherence dengan perubahan CD4 (p<0,05). Risiko penurunan CD4/tetap 11 kali lebih tinggi pada ODHA yang mendapatkan KOT daripada KDT (95%CI=2,98-41,61), sedangkan risiko penurunan CD4/tetap 6 kali lebih tinggi pada ODHA yang tidak adherence (95%CI=2,10-16,14). Kesimpulan: Perubahan jumlah CD4 dipengaruhi oleh penggunaan ARV KOT atau KDT  dan juga adherence.
Surveilans Pasif dan Aktif Kejadian Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan di RSUD Provinsi NTB, 2017 Eustachius Hagni Wardoyo; Edi Prasetyo Wibowo; I Gede Jayantika; I Gst Alit Rai Sudiadnya; Rolly Armand
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.43

Abstract

Pendahuluan: Surveilans Health-care Associated Infections (HAIs) atau kejadian infeksi terkait pelayanan kesehatan dapat dilakukan baik secara aktif maupun pasif sesuai sumber daya yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan mengetahui insidensi dan perbandingan hasil surveilans pasif dan aktif 4 jenis HAIs di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat periode Januari-Oktober 2017. Empat jenis HAIs tersebut adalah Ventilator-associated Pneumonia (VAP), Catheter-associated Urinary Tract Infection (CAUTI), Central Line-associated Blood Stream Infection (CLABSI) dan Surgical Site infection (SSI). Metode: Surveilans pasif menggunakan data sekunder dengan menelusuri rekam medis, sedangkan surveilans aktif berdasarkan laporan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). Hasil: Tidak ada perbedaan indikator yang digunakan dalam form VAP dan CLABSI pada surveilans pasif dan aktif. Namun pada form CAUTI dan SSI tidak mencantumkan gejala infeksi dan gejala panas di lokasi infeksi pada surveilans aktif. Perbandingan hasil surveilans pasif dan aktif berturut-turut adalah VAP 24,9 dan 0 per 1.000 ventilator days, CAUTI 49 dan 12 per 1.000 catheter days, CLABSI 18 dan 9 per 1.000 central line days, serta SSI 1,9 dan 1,4%. Kesimpulan: Ada perbedaan insidensi keempat jenis HAIs pada surveilans pasif dan aktif, karena penggunaan metodologi yang berbeda.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Pada Penderita Tuberkulosis Paru Ulfah Ulfah; Cicilia Windiyaningsih; Zainal Abidin; Farida Murtiani
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.44

Abstract

Latar Belakang: Kepatuhan pasien dalam minum obat merupakan faktor penting dalam keberhasilan suatu pengobatan TB paru. Tingginya angka putus berobat mengakibatkan tingginya kasus resisten obat. Metode: desain studi kasus kontrol (Case Control Study) menggunakan data primer dan sekunder. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien TB Paru yang berobat di Puskesmas Cipunagara Tahun 2015 sampai Juni 2017. Besar sampel 68 yang terdiri dari 84 kasus dan 84 kontrol yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan regresi logistik berganda. Hasil: faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan TB paru adalah dukungan keluarga (Pvalue=0.003; OR=2,956), jenis kelamin (Pvalue=0,045; OR=1,961), pendidikan (Pvalue=0,045; OR=1,962), pekerjaan (Pvalue=0.043; OR=1,989), pengetahuan (Pvalue=0,005; OR= 2,529), efek samping obat ((Pvalue=0,045; OR=1,961), peran PMO (Pvalue=0,000; OR=3,500), jarak fasilitas kesehatan (Pvalue=0,044; OR= 1,967), sikap petugas (Pvalue=0,020; OR=2,172). Faktor yang tidak berhubungan dengan kepatuhan pengobatan TB paru adalah pendapatan (Pvalue=0,164) dan usia (Pvalue=0.535). Kesimpulan: faktor dominan yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan TB Paru adalah peran PMO. Oleh karena itu diperlukan pelatihan bagi kader-kader TB (PMO) untuk meningkatkan pengetahuan TB, kemampuan menjaring suspek TB dan membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan.
Analisis Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Terhadap Keberadaan Jumlah Nyamuk Aedes Aegypti di Kota Bandung obin sarwita; Bachti Alisjahbana; Dwi Agustian
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.45

Abstract

Latar belakang : Penyakit dengue sampai saat ini belum dapat dikendalikan dengan baik. Transmisi virus dengue ke manusia disebabkan oleh interaksi yang kompleks dan dinamis oleh beberapa faktor diantaranya lingkungan fisik, biologi dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik dengan keberadaan nyamuk Aedes aegypti penyebab penyakit dengue di Kota Bandung. Metode : Penelitian ini merupakan studi ekologi dangan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bangunan rumah di Kota Bandung. Besar sampel sebanyak 160 rumah yang terpilih dengan multistage random sampling. Data keberadaan jumlah nyamuk diperoleh dari alat perangkap nyamuk yang dipasang di 16 kelurahan. Analisis bivariat menggunakan korelasi rank spearman, uji man whitney dan kruskal walis. Analisis multivariate menggunakan regresi zero inflated poisson. Hasil : Luas ventilasi, kepadatan hunian, jumlah baju menggantung, kelembaban udara dan suhu udara tidak berkorelasi dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti, sedangkan penampungan air positif jentik positif jentik memiliki korelasi positif dan signifikan terhadap jumlah nyamuk Aedes aegypti (p=0.017). Hasil analisis menggunakan regresi Zero Inflated Poisson, ,tidak ada variabel yang signifikan dengan nilai p>0,05 dan nilai AIC=360. Kesimpulan: Ada korelasi positif dan signifikan antara tempat penampungan air positif jentik dengan jumlah nyamuk Aedes aegypti. Analisis dengan model zero inflated poisson tepat digunakan pada penelitian ekologi dimana observasi dengan nilai nol lebih banyak ditemukan. 

Page 9 of 16 | Total Record : 159


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 2 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 1 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 9 No. 2 (2023): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 9 No. 1 (2023): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 8 No. 2 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 8 No. 1 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 7 No. 2 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 7, No 2 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 7, No 1 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 7 No. 1 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 6 No. 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 6, No 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 6, No 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 6 No. 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 5 No. 2 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 5, No 2 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 5 No. 1 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 5, No 1 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 3, No 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 3, No 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol. 3 No. 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 2, No 2 (2015): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 2, No 1 (2015): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 1, No 01 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 1, No 3 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 1, No 2 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases More Issue