cover
Contact Name
Teguh Sarry Hartono
Contact Email
bagas.afyad@gmail.com
Phone
+6285956755747
Journal Mail Official
jurnal.rspiss@gmail.com
Editorial Address
https://www.ijid-rspisuliantisaroso.co.id/index.php/ijid/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
The Indonesian Journal of Infectious Diseases
ISSN : 23546077     EISSN : 25991698     DOI : https://doi.org/10.32667/ijid.v10i1
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Infectious Diseases aims to disseminate and facilitate discussions on scientific papers related to health, particularly focusing on infectious diseases including emerging diseases, new emerging disease issues, and tropical medicine. The journal serves as a communication medium for various stakeholders interested in health research, including researchers, educators, students, healthcare practitioners, the Department of Health, Public Health Service, and the general public with an interest in this field. It endeavors to address the increasing demand for studying infectious diseases.
Articles 159 Documents
Konsentrasi Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride Sebagai Antimikroba Terhadap Isolat Bakteri Secara In Vitro atira atira; Iim Sunti; Yuni Rizki Amalia
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.46

Abstract

Latar Belakang: Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride merupakan salah satu jenis desinfektan yang mengandung senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimal  antimikroba Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride terhadap isolat bakteri dari ruang perawatan RS Al-Ihsan Bandung. Metode: metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Tru Experiment dengan menggunakan desain rancangan acak lengkap. Sampel penelitian terdiri atas 6 kelompok perlakuan yang masing-masing dilakukan 4 kali pengulangan. Data dianalisis secara statistik dengan menggunakan Anova  satu arah dengan uji lanjut menggunakan analisis Duncan (α=0,05). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hayati Institut Teknologi Bandung. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride pada berbagai konsentrasi 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,12%, dan 0,00 (kontrol) memiliki daya antimikroba terhadap isolat bakteri konsentrasi 106/mL secara in vitro dengan metode sumuran modifikasi Kirby-Bauer pada cawan petri yang berisi medium agar nutrien. Uji statistik menunjukkan pengaruh yang signifikan pada daya hambat dengan penggunaan konsentrasi Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride yang berbeda. Hasil uji lanjut analisis Duncan menunjukkan beda rata-rata yang bermakna untuk perlakuan konsentrasi hambat minimal Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride 3,12% memberikan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri rata-rata 0,378 cm (3,78 mm) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Kesimpulan: konsentrasi  hambat minimal Didecyl Dimethyl Ammonium Chloride sebagai antibakteri yaitu 3,12%. 
Faktor Intrinsik yang Berhubungan dengan Keberhasilan Pengobatan Tb Paru marni banowati; Ida Parwati; Hadyana Sukandar; Rovina Ruslami; Bachti Alisjahbana; Kumia Wahyudi
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.48

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang telah menginfeksi hampir sepertiga penduduk dunia. Indikator yang digunakan sebagai evaluasi pengobatan yaitu angka keberhasilan pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hasil pengobatan pada pasien baru TB Paru BTA positif dan faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di Puskesmas Kota Bandung. Metode: Penelitian analitik-kuantitatif dengan rancangan cross sectional prospektif. Sampel dalam penelitian ini pasien baru TB paru BTA positif pada triwulan ke empat yaitu bulan Oktober, November dan Desember 2016 dari sepuluh Puskesmas di Kota Bandung yaitu UPT. Puskesmas Puter, Garuda, Ujungberung Indah,  Sukajadi, Kopo, Ibrahim Adji, Arcamanik, Mohammad Ramdan, Salam, dan Antapani. Besar sampel 77 responden yang diambil dengan teknik multistage random sampling. Analisa bivariabel dengan uji chi square. Hasil : Angka keberhasilan pengobatan TB pada fase intensif 64% (IK 95%: 73,2%-89,9%); sedangkan pada fase lanjutan sebesar 94,8% (IK 95%: 87,4%-98,0%). Berdasarkan analisis bivariabel yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB paru  adalah jumlah BTA pada pengamatan bulan ke-2 (p: 0,05) dan status HIV pada pengamatan bulan ke-5 (p: 0,007). Kesimpulan: jumlah BTA dan status HIV berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di Puskesmas Kota Bandung.
Profil Kadar CD4 dan Lokasi Infiltrat Paru Pada Pasien Tuberkulosis dengan HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Periode Januari 2004 - Maret 2017 Adria Rusli; Vivi Lisdawati; Christine Ernita Banggai; Raden Dwi Sumiadji Putrantoro; Oldriane Agoestien; Suliati Suliati; Temmasonge Radi Pakki; Putriana Indah Lestari; Rita Rogayah
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.51

Abstract

Latar belakang: Diagnosis secara dini dan akurat sangat penting bagi perawatan dan pengendalian tuberkulosis (TB) pada orang dengan HIV. Keterlambatan diagnosis menyebabkan perkembangan penyakit tuberkulosis makin progresif. Studi ini bertujuan memperoleh gambaran lokasi infiltrat paru pada pasien tuberkulosis dengan HIV berdasarkan kadar CD4. Gambaran data klinis ini dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi penyempurnaan standar prosedur operasional identifikasi dini keparahan infeksi TB pada pasien HIV di rumah sakit. Metode: Studi menggunakan disain potong lintang dengan analisis deskriptif data sekunder pasien ko-infeksi TB-HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, periode Januari 2004-Maret 2017. Hasil: Sejumlah 318 sampel pasien TB dengan HIV menunjukkan terdapat 92,14% pasien TB-HIV memiliki kadar CD4<200 sel/µL. Berdasarkan lokasi anatomi infeksi dan kadar CD4 didapatkan juga bahwa 172 pasien (54,09%) merupakan pasien TB Paru dengan CD4<200 sel/µL, dan dari pasien tersebut bila dilihat hasil pemeriksaan radiologi toraks-nya sejumlah 159 pasien (92,44%) mengalami infiltrat paru pada lokasi selain apeks.  Kesimpulan: Pada pasien TB paru dengan HIV yang mempunyai CD4 < 200, lokasi infiltrat parunya lebih dominan di bagian selain apeks. Hasil ini dapat dijadikan bahan studi lanjut untuk membantu identifikasi dini pasien ko-infeksi TB-HIV dengan mempertimbangkan hasil pemeriksaan CD4 dan rontgen thoraks
Efektivitas Uji Kontaminan Melalui Peluruhan Gas CO2 Terhadap Ruang HCU Isolasi Airborne di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Titi Sundari; Vivi Lisdawati; Jahiroh Jahiroh; Ehwan Zunaidi; Deki Indrawanto; Farida Murtiani; Maya Marinda Montain; Temmasonge Radi Pakki; Rita Rogayah
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.55

Abstract

Latar belakang : Kualitas udara ruang isolasi  dapat diketahui melalui pengujian sistem tata udara, salah satunya menggunakan gas karbon dioksida (CO2) yang diasumsikan sebagai kontaminan udara. Waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan konsentrasi CO2 sebesar 6000 ppm pada suatu ruang tertutup dengan luas maksimal 46 m2 (500 ft2) adalah 15-20 menit dengan pertukaran udara sebesar 12 ACH. Tujuan studi ini untuk mengetahui besaran tingkat pembersihan kontaminan udara, pergantian udara serta efektivitas ventilasi, filterasi dan resirkulasi udara pada ruang isolasi airborne melalui metode peluruhan CO2. Metode : Uji eksperimental terhadap ruang HCU isolasi airborne di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada bulan Oktober 2017 menggunakan gas CO2 yang disemburkan sejumlah 5127 ppm. Hasil dibaca oleh alat pengukur emitter dalam tiap 30 detik selama 30 menit atau sampai nilai konsentrasi CO2 awal (baseline) tercapai. Algoritma konsentrasi CO2 dianalisis regresi linier. Hasil : Waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan konsentrasi CO2 dari 5127 ppm menjadi besaran konsentrasi semula/baseline sebesar 51 ppm adalah 27 menit (0,4 jam). Pergantian udara sebesar 10,1 ACH. Efektivitas ventilasi dan filterasi udara di ruang HCU sejumlah 84.16%. Persamaan garis regresi yang dihasilkan  (Algoritma peluruhan CO2) Y = 8.332 -10.067X . Kesimpulan : Besaran tingkat pembersihan kontaminan udara  di ruang HCU isolasi airborne  RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso menunjukkan hasil yang cukup baik dengan durasi pembuangan berkisar 27 menit dan pergantian udara sebesar 10,01 ACH, yang berarti bahwa efektivitas ventilasi, filterasi dan resirkulasi udara di ruang HCU sebesar 84,16%.
Peran Sistem Tata Udara dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Di Ruang Isolasi Airborne RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2017 Titi Sundari; Vivi lisdawati; Jahiroh Jahiroh; Deki Indrawanto; Farida Murtiani; Yohana Yohana; Maya Marinda Montain; Temmasonge Radi Pakki; Rita Rogayah
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i1.56

Abstract

Latar belakang : Sistem tata udara di ruang isolasi dirancang untuk mengurangi/menghilangkan penyebaran agen infeksius dengan cara menciptakan ruangan yang bertekanan negatif dan pergantian udara >12 Air Change per Hour (ACH) serta menggunakan hepafilter. Studi ini bertujuan menilai sistem tata udara ruang isolasi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso dalam rangka pencegahan dan pengendalian infeksi yang disebabkan oleh airborne diseases. Metode : Studi cross sectional menggunakan data hasil pengukuran volume dan pergantian udara pada 11 kamar isolasi. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada awal dan setelah waktu pemeliharaan berkala. Data dianalisis mengacu pada standar nasional dan internasional. Hasil : Data volume udara pada pengukuran I, dikoridor: 585,89 M3; anteroom I-XI : -8,52 s/d 49,07 M3; kamar pasien I-XI: 0,1 s/d 11,65 M3; toilet -214,55 s/d -10,29 M3. Data pengukuran II, volume udara dikoridor: 259,32 M3; anteroom I-XI : 4,53 s/d 18,13 M3; kamar pasien I-XI: 0,24 s/d 11,65 M3; toilet -69,15 s/d -30,11 M3. Aliran udara mengalir dari ruang dengan volume tinggi menuju ke ruang dengan volume lebih rendah. Data pergantian udara pada pengukuran I, kamar pasien I-XI: 6,2 s/d 12,8 ACH. Data pengukuran II, kamar pasien I-XI: 12,11 s/d 12,99 ACH. Pengendalian infeksi semakin efektif dengan pergantian udara > 12 ACH. Kesimpulan : Sistem tata udara berperan penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di ruang isolasi airborne. Hal ini perlu ditunjang dengan pemeliharaan dan pemeriksaan berkala agar besaran volume, pertukaran dan aliran udara sesuai standar
Gambaran Karakteristik Pasien dan Mekanisme Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) Pada Kasus Gigitan Hewan di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2014-2016 wariyah wariyah; Jamiatul Hoer; Farah Ghina Arifah; Siti Maemun; Farida Murtiani; Nursanti Kurniastuti
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v4i2.57

Abstract

Latar Belakang : rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui gigitan hewan penular rabies (GHPR). Rabies berakibat fatal jika post-exposure prophylaxis (PEP) tidak diberikan sebelum pasien mengalami gejala berat. Tujuan kajian ini memperoleh gambaran karakteristik pasien dan mekanime pemberian vaksin anti rabies (VAR) pada pasien GHPR di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2014-2016. Metode : kajian menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan kuantitatif terhadap data rekam medis pasien suspect rabies. Jumlah sampel yang diperoleh sesuai kriteria inklusi sejumlah 39 kasus yang diambil secara random. Hasil : Karakteristik pasien mayoritas perempuan 203 kasus (51.39%), kelompok umur dewasa 213 kasus (53.92%), tidak bekerja 251 kasus (63.54%) dan berdomisili di DKI Jakarta 337 kasus (85.32%). Kelompok gigitan hewan sebagian besar adalah kelompok hewan penular rabies (HPR) 341 kasus (86.3%) dengan kriteria luka gigitan kategori luka 2 sebanyak 275 kasus (69.6%), dan di area kaki sebanyak 172 kasus (43.54%), mendapatkan PEP awal dalam waktu ≤ 24 jam 329 kasus (83.3%) dan  menyelesaikan jadwal PEP hingga kunjungan VAR 3 sebesar183 kasus (46,33%). Kesimpulan : Dari 395 kasus sebagian besar kasus HPR dengan luka gigitan kategori 2 dengan lokasi gigitan di kaki, pemberian PEP < 24 jam dan menyelesaikan hingga kunjuangan VAR 3
Literature Review : Efektifitas SMS Reminder dan Wechat Dalam Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat ARV Pada Penderita HIV/AIDS Nuraidah Nuraidah
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 5 No. 1 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v5i1.58

Abstract

Latar belakang: Aplikasi seluler SMS dan WeChat selain dapat digunakan sebagai SMS reminder juga dapat menjadi media visual untuk pendidikan kesehatan yang berisi materi pencegahan penularan HIV/AIDS, diagnosis dan pengobatan HIV/AIDS sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas SMS reminder dan WeChat dalam meningkatkan kepatuhan minum obat ARV pada penderita HIV/AIDS. Metode: Artikel ini dibuat berdasarkan literature review artikel jurnal yang berkaitan dengan inovasi mHealth lima tahun terakhir yaitu 2013-2018. Hasil: Dari  4 jurnal yang dianalisa lebih mendalam  menyebutkan efektivitas intervensi SMS dan WeChat untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien dengan HIV/AIDS telah menjadi bukti awal dan dibuktikan secara  klinis oleh 1 artiel yang di telaah dengan adanya penekanan jumlah virus atau viral load. Kesimpulan : Berdasarkan analisa dari jurnal jurnal yang ada metode SMS remainder dan WeChat efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat  ARV pada pasien HIV/AIDS.
Monitoring Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis di Poli TB DOTS RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Rosamarlina Rosamarlina; Vivi Lisdawati; Christine Ernita Banggai; Darayani Darayani; Temmasonge Radi Pakki; Rita Rogayah; Farida Murtiani
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 5 No. 2 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v5i2.81

Abstract

Latar Belakang: Timbulnya efek samping akibat penggunaan obat anti tuberkulosis (OAT) menjadi permasalahan yang serius dalam pengobatan dan eradikasi TB karena berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan. Studi ini bertujuan untuk memperoleh gambaran efek samping OAT pada pasien TB di Poli TB DOTS RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Metode: Jenis study kohort prospektif dengan pemantauan penderita secara berkala setiap bulan selama pengobatan baik 6 bulan ataupun 9 bulan. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien TB di poli DOTS RSPI-SS tahun 2017 (Januari-Desember) yang telah menyelesaikan pengobatan pada bulan Desember 2017. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive sampling. Hasil: Dari 53 pasien sebagian besar yaitu 50.9% mengalami efek samping obat (ESO) ringan. Berdasarkan lokasi organ efek samping pada kulit 35.8%, 71.7% pada pencernaan, 67.9% pada saraf dan 9.4% pada mata. Tanda gejala ESO paling banyak adalah flu sindrom 54,7%, mual 43.4%, tidak nafsu makan 35.8%. Kesimpulan: Pasien TB yang mendapatkan OAT mayoritas mengalami efek samping kategori ringan dan pada lokasi organ pencernaan.
Effectiveness of prevention of mother-to-child-transmission (PMTCT) programs in Indonesia: Literature review Riski Wulandari
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 6 No. 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v6i1.89

Abstract

Ibu hamil dengan HIV memiliki banyak resiko bagi Ibu maupun janin diantaranya kecacatan janin, kehamilan prematur, bayi lahir rendah hingga kematian pada bayi lahir, kondisi tersebut dapat meningkat jika perempuan tidak memperoleh pelayanan prakonsepsi dan layanan keluarga berencana yang sesuai dengan HIV. Perempuan HIV mungkin tidak menyadari mereka hamil, bagaimana cara mencegah, merencanakan kehamilan atau mengurangi resiko penularan HIV pada bayi. Pencarian literatur secara online database pada EBSCOHOST, Google Scholar dan Scopus dengan kata kunci  PMTCT AND Indonesia diperoleh total 301 artikel, kemudian melakukan review abstrak sehingga dihasilkan lima artikel terpilih. Makna yang diperoleh dari artikel-artikrl tersebut yaitu tercapainya program PMTCT di Indonesia yang bergantung pada kesiapan tenaga kesehatan untuk pelayanan ibu hamil. Telaah literatur mendapatkan dua point penting yaitu intervensi yang dapat meningkatkan pelayanan dan hambatan pada pelayanan program PMTCT. Program tersebut memerlukan peran serta pemerintah untuk dapat melakukan pelatihan kembali pada tenaga kesehatan terkait pelaksanaan program PMTCT untuk dapat dilakukan di komunitas, meningkatkan komunikasi yang komprehensif. 
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Perawat Covid-19 Selama Pandemi di Indonesia Rudi Haryanto; Zahrah Maulidia Septimar
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 6 No. 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v6i1.90

Abstract

Latar Belakang: Perawat yang terlibat langsung dalam penanganan dan perawatan pasien COVID-19 beresiko mengalami gangguan psikologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada perawat yang merawat pasien COVID-19 selama pandemi di Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada 336 perawat yang merawat pasien COVID-19 di rumah sakit di berbagai wilayah di Indonesia. Pengambilan data penelitian ini menggunakan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) versi Indonesia, kuesioner data demografi dan kuesioner dukungan rumah sakit yang disebar secara daring melalui google form. Hasil: Hasil analisis dari 336 orang perawat COVID-19 terdapat 27% yang mengalami cemas ringan, 20,8% cemas sedang, dan 2,7% cemas berat, serta 48,8% tidak mengalami kecemasan. Tingkat depresi mempengaruhi tingkat kecemasan (p<.000, r=0.451). Dukungan rumah sakit yang baik menurunkan tingkat kecemasan (p<.000, r=-0.278). Perawat COVID-19 yang telah menikah/ berkeluarga cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang masih sendiri. Kesimpulan: Status pernikahan, dukungan rumah sakit dan tingkat depresi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada perawat COVID-19 di rumah sakit. Dukungan rumah sakit merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi tingkat kecemasan.

Page 10 of 16 | Total Record : 159


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 2 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 1 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 9 No. 2 (2023): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 9 No. 1 (2023): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 8 No. 2 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 8 No. 1 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 7 No. 2 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 7, No 2 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 7 No. 1 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 7, No 1 (2021): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 6 No. 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 6, No 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 6, No 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 6 No. 1 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 5 No. 2 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 5, No 2 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol. 5 No. 1 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 5, No 1 (2019): The Indonesian Journal of Infectious Disease Vol 4, No 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 2 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 4 No. 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 4, No 1 (2018): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 3, No 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 3, No 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 2, No 2 (2015): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 2, No 1 (2015): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES Vol 1, No 01 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 1, No 3 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 1, No 2 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases More Issue