cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
The Preliminary Study about Physico-Chemical Property of Bio-Enzyme Produced from Orange Fruits Waste Treated with Different Concentrations of Probiotic Andri Kurniawan; Diah Mustikasari; Ardiansyah Kurniawan; Muntoro Muntoro; Jhodi Setiadi; Nur Afifah Kholishah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.861-867

Abstract

Fruit wastes are reported as among the main contributors to the food waste production. They have impact on the environment so they need to be treated. To reduce the negative effects, fruit wastes must be treated before they are released into environment. Meanwhile, the fruit wastes have been reported about their functional properties and nutritional as bio-enzyme. This preliminary study aimed to provide information about the physico-chemical characteristics of bio-enzyme, including pH, dissolved oxygen (DO), total dissolved solids (TDS), color, and smell of bio-enzyme from orange fruit wastes treated different concentrations of probiotic in anaerobic fermentation. Bio-enzyme was a fermented solution made from a mixture of 15 g brown sugar : 5 kg orange fruit waste : 12 L water. We designed treatments of bio-enzyme fermentation with addition of probiotic, namely 0 ml (control), 80 ml (P1), 160 ml (P2), 240 ml (P3), and 320 ml (P4) for each closed plastic drums 25 L in volume and then were fermented for 35 days. The preliminary study resulted that efficiency of brown sugar and effectivity of fruit waste to produced bio-enzyme with pH 3.4-3.6, TDS 982.7-1152.5 ppm, DO 1.4-2.2 ppm, N total 0.017-0.035%, P 0.017-0.02%, K -.046-0.056%, C organic 0.782-0.936%, C/N ratio 28.29-47.36, reduction sugar 0.005-0.134%, total plate number 4.9 x 104 to 1.1 x 105 colony/g, mold & yeast 2.2 x 104 to 5.8 x 104, light brown of liquid color, little sour to sour and freshness in odor, fungi covered surface of the liquid, Si 12.93-22.53%, Al 1.96-2.39%, Ca 3670-6940 ppm, and Fe 214-806 ppm. This research continues for up to 3 months to determine the metagenome diversity of anaerobic microorganism in bio-enzyme fermentation, characteristics of enzyme, reducing sugar production, and chemical properties of bio-enzyme from orange fruit wastes.
Potensi Energi Terbarukan dari Pemanfaatan Energi Biogas POME (Palm Oil Mill Effluent) sebagai Sumber Energi Terbarukan di Provinsi Jambi Donar Sagala; Evi Frimawaty; Ahyahudin Sodri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.205-214

Abstract

Energi berperan penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Ketersediaan dan akses yang merata terhadap energi bersih merupakan suatu tantangan yang dihadapi saat ini. Indonsia sebagai negara produsen minyak sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) di dunia dengan produksi mencapai 45.12 juta ton pada tahun 2021. Seiring dengan peningkatan volume produksi yang besar tersebut akan menghasilkan sejumlah besar limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Penguraian POME secara anaerobik akan menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan. POME yang tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif terhadap lingkungan dikarenakan kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, apabila langsung dibuang ke kolam terbuka maka akan melepas gas metana ke atmosfer sebagai emisi gas rumah kaca (GRK).  Namun jika dikelola dengan tepat akan memberikan nilai tambah secara ekonomi, sosial dan lingkungan terutama dalam hal pengurangan GRK dan pencemaran sumber daya air. Tujuan dari studi ini adalah untuk membahas potensi energi terbarukan dari pemanfaatan energi biogas POME. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif  dengan melakukan survey. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik POME memiliki suhu 70 – 900C, bersifat asam dengan pH 4 - 5,5 dan kandungan COD tinggi yaitu 80.000 – 120.000 mg/L, dengan proses anaerobik sistem tanki reaktor menghasilkan biogas dengan rasio sekitar 30 – 40 Nm3/ton POME.  Biometana sebagai komponen utama biogas yang dihasilkan dari penguraian POME dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan pengganti fosil. Potensi energi terbarukan dari POME di Provinsi Jambi besar dengan total kapasitas pabrik sebesar 3.437 ton TBS/jam, berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 2.160 GWH/tahun. Tantangan dalam pengembangan energi terbarukan dari POME dikarenakan biaya investasi yang tinggi dan juga kebijakan yang ada belum memudahkan investor untuk pengembangan energi terbarukan di pabrik kelapa sawit.
Review Metode Kompos Aerob: Windrow, Takakura dan Composter Bag Ajeng Destiasari; Sri Sumiyati; Titik Istirokhatun
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.355-364

Abstract

Kenaikan penduduk setiap tahunnya menjadikan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin padat oleh sampah sehingga diperlukannya pengolah sampah seperti pengomposan. Sampah organik dapat diubah menjadi humus dan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk dengan pengomposan aerobik. Kompos aerob membutuhkan oksigen, porositas, dan kadar air yang berfungsi sebagai alat stabilisasi limbah padat dengan variabel seperti suhu, kelembaban, dan oksigen. Proses pengomposan memiliki beberapa fase yaitu fase dekomposisi, fase pendinginan, dan fase pematangan. Kualitas kompos dipengaruhi oleh pemilihan teknologi, limbah hijau yang digunakan, tingkat kejenuhan pada wadah yang digunakan untuk pengolahan, rasion C/N, pH, kelembaban, dan lama waktu pengomposan. Pembuatan kompos dengan teknik aerob bisa menggunakan macam-macam metode seperti Metode Vermicomposting merubah cacing menjadi kascing, Metode Takakura menggunakan box atau drum berongga, dan Metode Windrow sistem terbuka dengan tumpukan statis. Berdasarkan kajian literatur bahwa pewadahan ketiga metode tersebut dapat digantikan dengan Composting Bag. Composting Bag merupakan wadah kompos yang dapat digunakan untuk proses pembuatan kompos yang sederhana menggunakan teknik aerob. Berbahan dasar UV Resisten dan memiliki tekstur rongga menjadikan Composting Bag mampu bertahan di berbagai cuaca sehingga kestabilan proses pengomposan terjaga dan memberikan pertukaran udara yang bagus karena oksigen merupakan hal penting bagi pengomposan aerob. Selain itu, Composting Bag menjadi solusi untuk lahan yang sempit.
Portrait of Environmental Governance in Waste Management in Malang City Rosyidatuzzahro Anisykurlillah; Stefanus Sampe
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.503-511

Abstract

The government has set the main national targets for waste management, namely 30% waste reduction and 70% waste handling by 2025. However, waste generation in Malang City continues to increase yearly and is included in the high category in East Java. This study aims to analyze waste management in Malang City from an environmental governance perspective. The environmental governance perspective can be analyzed using Belbase's theory with seven indicators of good environmental governance, namely 1. the rule of law, 2. participation and representation, 3. access to information, 4. transparency and accountability, 5 decentralization, 6. institutions and institutions, 7. access to justice. Data collection was carried out using interviews, observation, and literature study. The data analysis used in this study is the interactive model analysis of Miles, Huberman, and Saldana. The portrait of environmental governance in Malang City waste management must fully reflect the principles of good environmental governance. This is because there are still records in the indicators of the rule of law, participation, and representation, as well as institutions and institutions. Constraints faced in waste management in Malang City include needing to be fully implemented, not yet maximal public awareness in reducing and sorting household waste, as well as institutions and institutions that could be more optimal in waste management.
Strategi Pengelolaan Limbah Medis Padat pada Puskesmas Rawat Inap di Kabupaten Bangli Dwie Kristina Juliastini; I Made Wahyu Wijaya; I Ketut Widnyana; Ni Putu Pandawani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.658-666

Abstract

Limbah medis merupakan salah satu limbah yang belum ditangani secara optimal oleh pengelola pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Tujuan Penelitian ini adalah untuk menganalisis sistem pengelolaan limbah medis padat, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan limbah medis padat dan menentukan rencana strategis pengelolaan limbah medis padat pada Puskesmas Rawat Inap di Kabupaten Bangli. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan pendekatan kualitatif melalui metode survey dan analisis SWOT. Penelitian ini dilakukan bulan Januari-Maret 2023 dengan responden berjumlah 50 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa 4 unit Puskesmas Rawat Inap memiliki kinerja cukup yaitu Puskesmas Kintamani III (90,00%), Puskesmas Tembuku II (84,40%), Puskesmas Kintamani I (86,00%), Puskesmas Kintamani V (86,40%) dan 1 unit Puskesmas memiliki kinerja kurang yaitu Puskesmas Susut I (63,20%). Faktor internal dan eksternal yang paling berpengaruh masing-masing adalah: threat: kepercayaan masyarakat terhadap mutu layanan (4,58), strength: pelaksanaan akreditasi Puskesmas (4,52), opportunity: kerjasama pihak ketiga (4,42) dan weakness: pelatihan SDM Puskesmas (3,80). Strategi dalam pengelolaan limbah medis padat yaitu (1) membuat perencanaan yang tepat, (2) melaksanakan pengelolaan limbah medis padat Puskesmas berdasarkan kebijakan dan SOP, (3) peningkatan mutu pelayanan puskesmas melalui akreditasi Puskesmas, (4) monitoring dan evaluasi terhadap pihak ketiga/penyedia dan (5) peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan.
Mobilitas Merkuri pada Limbah Bekas Tambang Pengolahan Emas: Studi Kasus di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah Wawan Budianta; Arifudin Idrus; Winarto Kurniawan; Johan Syafri Mahathir Ahmad
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.803-807

Abstract

Di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat banyak kegiatan tambanh emas tradisional yang masih menggunakan merkuri sebagai proses amalgamasi dalam pengolahan emas. Mobilitas merkuri merupakan faktor penting untuk memahami resiko pencemaran dan remediasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis mobilitas merkuri pada limbah tambang atau tailing yang ada di lokasi penelitian. Sepuluh sampel tailing diambil dari kolam penampungan limbang tambang, kemudian konsentrasi total merkuri diukur dengan AAS. Fraksinasi merkuri diulakukan untuk mengetahui mobilitas merkuri dan pengukuran merkuri juga dilakukan dengan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi total merkuri pada kolam tailing sangat tinggi, lebih tinggi daripada konsentrasi nornal di alam. Fraksinasl merkuri yang dilakukan untuk mengetahui mobilitas merkuri mennjukkan hampir semua sampel dominan pada fraksi pertama dan kedua yang mempunyai efek negatif terhadap lingkungan.
Perancangan Organic Coastal Defence (OCD) sebagai Penangkap Lumpur untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman Mangrove di Mempawah Mangrove Park Trimei Permanus; Kiki Prio Utomo; Jumiati Jumiati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.951-964

Abstract

Ekosistem Mangrove di Mempawah Mangrove Park (MMP)  Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat telah mengalami abrasi, sehingga pada tahun 2011 MMP melakukan penanaman mangrove. Penanaman terkadang mengalami kegagalan setelah 1 hingga 2 bulan penanaman, mangrove yang ditanam tumbang dan mati oleh arus pesisir pantai. Tahun 2022 pihak MMP  berkolaborasi dengan mahasiswa Teknik Lingkungan UNTAN yang dinaungi oleh UPT Laboratorium Terpadu UNTAN pada kegiatan Matching Fund. Kolaborasi tersebut membuat bangunan penahan lumpur (mud trap) dan pemecah gelombang (breakwater). Kedua bangunan tersebut dinamai Organic Coastal Defence (OCD). Pembangunan OCD yang dibuat pada tahun 2022 belum mempunyai dasar ilmiah secara tertulis untuk dapat direplika di lokasi lain. Berdasarkan latar belakang tersebut maka perancangan OCD dengan dasar ilmiah akan dilakukan dengan observasi lapangan dan melakukan perhitungan prediksi gelombang laut berdasarkan data angin dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Maritim Pontianak. Hasil prediksi gelombang laut dengan tinggi 1,6 meter dengan periode 7 detik. Hasil dari analisis bangunan breakwater mempunyai panjang 99 meter, jarak antar breakwater 55 meter, tinggi tiang 1,8 meter, kedalaman tiang 1,5 meter dan jarak antar tiang 0,23 meter serta bangunan mud trap mempunyai panjang 99 meter, lebar 9 meter, tinggi 0,1 meter, kedalaman papan 0,9 meter. Posisi bangunan OCD menghadap ke arah laut.
Analisis Hujan Ekstrem di Kabupaten Banyumas Tahun 2016–2021 Ryan Andri Wijaya; Sekar Gading Hermawan; Aniworo Nuladani; Nanda Fuji Lestari; Adhelia Widha Alfareta; Safira Bitanisa Adnia Amanitya; Anindya Hias Bestari; Naashiruddin Fikri Qushoyyi; Emilya Nurjani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.1041-1053

Abstract

Kabupaten Banyumas memiliki variasi topografi yang dapat memicu hujan ekstrem, menyebabkan daerah ini rawan bencana hidrometeorologis.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis intensitas, pola, dan faktor yang memengaruhi hujan ekstrem (IOD, ENSO, siklon) di Kabupaten Banyumas pada tahun 2016 - 2021 serta korelasinya dengan kejadian bencana hidrometeorologis. Data yang digunakan yaitu data hujan harian dari BBWS Serayu Opak dan Pusdataru Jawa Tengah, data historis siklon dari BMKG, data ONI dan DMI dari PSL NOAA, serta data kejadian bencana dari BPBD Banyumas dan Jawa Tengah. Analisis intensitas dilakukan dengan metode persentil. Pola distribusi jumlah kejadian hujan ekstrem dianalisis menggunakan data tabular dan  grafik. Analisis pengaruh siklon dilakukan dengan grafis sedangkan analisis pengaruh ENSO dan IOD dilakukan dengan komparasi tabular. Selanjutnya, dihitung koefisien phi (φ) antara kejadian hujan ekstrem dan bencana hidrometeorologis. Intensitas R90p, R95p, dan R99p di Kabupaten Banyumas berkisar pada 33 mm, 52 mm, dan 92 mm. Distribusi hujan ekstrem di Kabupaten Banyumas merata secara spasial.  IOD dan ENSO memiliki dampak signifikan pada kejadian hujan ekstrem sehingga diduga menjadi faktor penyebab pola temporal tersebut. Kejadian siklon memiliki pengaruh terhadap kejadian hujan ekstrem. Korelasi antara kejadian hujan ekstrem dan bencana umumnya lemah, karena keterbatasan jumlah pos hujan dan tingginya variasi lokal hujan. 
Keanekaragaman Sumber Daya Genetik Lokal Umbi- Umbian di Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah Devi Raj Angely; Azra Batrisyia Nursabrina; Ellya Syafa’atun Nikmah; Suci Divia Rachim; Bunga Marsely; Sri Utami; Lilih Khotimperwati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.11-19

Abstract

ABSTRAKUmbi-umbian merupakan jenis komoditas pertanian yang banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Indonesia dan pertumbuhannya tidak menuntut iklim serta kondisi tanah yang spesifik. Umumnya umbi-umbian mengandung sumber karbohidrat terutama pati yang cukup baik untuk menggantikan beras. Dalam rangka mempertahanakan ketahanan pangan nasional diperlukan eksplorasi sumber daya genetik lokal umbi-umbian sebagai sumber bahan makanan lain sekaligus untuk dapat melindungi dan mempertahankan kelestarian sumber daya genetik lokal tanaman umbi-umbian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kemelimpahan sumber daya genetik lokal umbi-umbian di Kecamatan Mijen serta menganalisa potensi sumber daya genetik lokal umbi-umbian dalam menunjang ketahanan pangan nasional di Indonesia. Teknik penelitian menggunakan metode eksplorasi atau jelajah. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif semi kuantitatif serta ditabulasikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian ini ditemukan 10 jenis sumber daya genetik lokal umbi-umbian antara lain ganyong (Canna edulis Kerr), kimpul (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott), serawak (Colocasia esculenta (L.) Shcott), talas Jepang (Colocasia esculenta (L.) Shcott var antiquorum), kirut (Maranta arundinaceae L.), uwi putih (Dioscorea alata L.), gembili (Dioscorea esculenta L.), gadung (Dioscorea hispida Dennst), ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) (varietas manalagi, putih, krepeg, kuning, mentek, mentega, dan pulut) dan ubi jalar (Ipomea batatas (L.) (varietas kuning ungu, ungu, dan putih). Jenis sumber daya genetik lokal umbi-umbian yang melimpah adalah Xanthosoma sagittifolium (L.) dan Manihot esculenta Crantz dengan varietas krepeg, varietas putih, serta varietas mentek. Umbi-umbian di Kecamatan Mijen dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif yang kaya gizi dan karbohidrat, bahan obat-obatan untuk mengobati penyakit seperti hepatitis akut dan diare, serta bahan baku tepung untuk membuat beragam produk makanan.
Preferensi dan Kesediaan Membayar Konsumen Terhadap Kantong Belanja Ramah Lingkungan di Provinsi DKI Jakarta Nur Oktavia Benedicta; Ahyahudin Sodri; Ninasapti Triaswati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.155-162

Abstract

As a form of commitment to reducing the amount of plastic waste in the environment, DKI Jakarta Province has issued Governor Regulation Number 142 of 2019 concerning the Obligation to Use Environmentally Friendly Shopping Bags in Shopping Centers, Supermarkets and People's Markets. On the roadmap proposed by the United Nations Environment Agency, Governments developing policies will need to verify the existence of valid alternatives before banning plastic bags. However, in this regulation, the type, size, material, price and sales of eco-friendly shopping bags are the responsibility of the business actor. The definition of a reasonable price, type, size, and material of shopping bags provided by business actors in this regulation is not clear and can lead to different perceptions, causing the implementation of this regulation to be ineffective. In this study, the types and price limits of eco-friendly shopping bags were analyzed based on the perception and willingness of the public as consumers to facilitate the implementation of regulations related to the use of eco-friendly shopping bags, especially in DKI Jakarta Province. This study uses a qualitative approach by conducting a survey of 406 female respondents with an age range of 18-40 years who live in DKI Jakarta Province. Conjoint analysis is used to determine preferences for eco-friendly shopping bags using SPSS version 24. Consumers' willingness to pay for eco-friendly shopping bags is analyzed using the Contingent Valuation Methode (CVM) approach. Based on the research results, consumers prefer eco-friendly shopping bags that are made of cloth, can be reused, and prefer to bring or provide them themselves rather than being provided by businesses but paying a fee. According to consumers, material attributes are the most important, followed by environmental and economic attributes. If required to pay, 28% of respondents are willing to pay with higher price than the average estimated price of consumers' willingness to pay (WTP), which is IDR 2,380 a piece. The government can use the results of an analysis of people's preferences and willingness to formulate the policies.

Filter by Year

2011 2025