cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Pengaruh Jumlah Step pada Aerator Cascade terhadap Penyisihan Organic Matter dalam Proses Pengolahan Air Arlini Dyah Radityaningrum; Amirul Azis Ichwan; Rachmanu Eko Handriyono; Taty Alfiah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.845-851

Abstract

Pencemaran organic matter (OM) pada sungai sebagai sumber air baku berpotensi menimbulkan trihalometana (THM) pada air produksi. Aerasi dengan aerator cascade merupakan salah satu proses untuk penyisihan OM dalam air. Penelitian ini dilakukan dengan skala laboratorium menggunakan aerator cascade 4 dan 7 step. Tujuan penelitian adalah untuk (1) menentukan konsentrasi Dissolved Oxygen (DO) dan OM efluen pada aerator cascade, (2) menentukan korelasi antara DO dan OM pada penyisihan OM dengan aerator cascade, (3) menentukan efisiensi penyisihan OM dalam proses aerasi dengan aerator cascade, (4) menentukan pengaruh jumlah step pada cascade terhadap efisiensi penyisihan OM. Penelitian ini menggunakan sampel artifisial. Standar baku mutu yang digunakan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Uji korelasi dilakukan dengan Pearson Correlation, sedangkan uji pengaruh dilakukan dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata DO yang tertinggi adalah 8,03 mg/L, pada waktu jam ke-2, menggunakan aerator cascade 7-step. Adapun konsentrasi rata-rata OM yang terendah adalah 7,08 mg/L, yang terjadi pada waktu jam ke-2 menggunakan aerator cascade 7-step. Uji signifikasi menunjukkan bahwa nilai Sig. (2-tailed) antara DO dan OM sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara konsentrasi DO dan OM. Efisiensi rata-rata penyisihan OM tertinggi (34%) dihasilkan pada aerator cascade 7-step pada jam ke-2. Namun, jumlah step di cascade aerator tidak berpengaruh signifikan dalam efisiensi penyisihan OM pada sampel artifisial (Sig. ANOVA 0,879 ˃ 0,05).
Estimasi Limpasan Permukaan dengan Menggunakan Metode CN Modifikasi di Sub DAS Mamasa Asikin Muchtar; Wahyullah Wahyullah; Herawaty Herawaty; Usman Arsyad; Achmad Fuad Fathurrahman
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.1001-1008

Abstract

Penilaian limpasan permukaan merupakan langkah penting dalam pengelolaan sumber daya air dan ekosistem di Sub DAS Mamasa. Tingginya laju erosi dan sedimentasi dari daerah tangkapan Sub DAS Mamasa berdampak pada pendangkalan dan penurunan efektivitas dayaguna keberlangsungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru. menghadapi tantangan dalam pengelolaan limpasan permukaan yang efektif, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis limpasan permukaan di Sub DAS Mamasa dengan menggunakan metode Curve Number (CN) yang dimodifikasi. Modifikasi ini dilakukan untuk meningkatkan akurasi dalam menghitung limpasan permukaan berdasarkan karakteristik hidrologis dan topografi. Metode CN modifikasi melibatkan analisis terperinci terhadap tipe tanah, tutupan lahan, dan topografi, data curah hujan di Sub DAS Mamasa tahun 2020. Analisis sensitivitas dilakukan untuk menentukan pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap perhitungan limpasan permukaan dan kapasitas penahanan air tanah. Hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang hubungan limpasan permukaan dengan nilai CN di Sub DAS Mamasa berkisar pada nilai CN 49 hingga CN 100 dan telah menunjukan bahwa semakin tinggi nilai CN maka semakin rendah nilai potensi resapan, sebaliknya semakin rendah nilai CN maka nilai potensi resapan semakin tinggi. Sumbangsih Q paling tinggi di Sub DAS Mamasa berada pada nilai CN 67 dengan luas 66% dan Q sebesar 884.186 m3/s/tahun sedangkan S paling tinggi berada pada nilai CN 79 dengan luas 15% dan S sebesar 128.496 m3/s/tahun. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman lebih mendalam tentang interaksi antara faktor-faktor limpasan permukaan yaitu pengaruh vegetasi, tanah dan topografi. Penilaian limpasan permukaan di Sub DAS Mamasa dan dapat menjadi landasan untuk perbaikan kebijakan pengelolaan sumber daya air di masa depan.
Analisis Kebijakan Restorasi Ekosistem Gambut di Indonesia dengan Discourse Network Analysis Alamsyah Alamsyah; Erlisa Saraswati; Rizky Ghoffar Ismail
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.69-78

Abstract

After the forest fires in 2014-2016, the Government of Indonesia (GoI) placed the restoration of the peatland ecosystem (RPE) as one of its priority policies in the environmental sector. This study seeks to analyze RPE in Indonesia using a discourse network analysis approach. Researchers utilize Twitter as primary research data. This data was processed with R, rDNA, and Gephi. Researchers found three network patterns that are connected to RPE efforts in Indonesia. First, affiliate networks connect actors and the concepts voiced by the actors. This network involves various actors such as government institutions, civil society organizations, private corporations, universities, research institutes, foreign governments, international organizations, and local citizens. The dominant concept in the affiliate network is peatland restoration and multi-stakeholder collaboration. Second, the actor congruence network assigns Mangrove and Peatland Restoration Agency (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove or BRGM) as the dominant and central actors. However, some actors are not connected to the core network and create separate sub-groups. Third, a network of conflicts between actors involving four conflict themes: Government Regulation Number 57/2016 concerning Amendments to Government Regulation Number 71/2014 on Protection and Management of Peatland Ecosystems, peatland conversion, horizontal conflicts between the local community and plantation corporations, and prevention and law enforcement related to forest fires. The researcher recommends BRGM to: (a) strengthen collaborative practices with the various parties involved in RPE; (b) beware in converting peatland so it does not damage the peatland ecosystem landscape; (c) integrate community conflicts with plantation corporations as part of the RPE agenda in Indonesia. The researcher also recommends NGO activists in Indonesia who care about peatlands to continue monitoring and criticizing the RPE process in Indonesia, and fight for local community groups that have been marginalized by the RPE process. Researchers also encourage plantation corporations, both oil palm plantations and industrial timber plantations, to jointly guard RPE in Indonesia by not opening up new land as part of the actual contribution of the Indonesian people to climate change adaptation and mitigation.
Analisis Kualitas dan Tingkat Pencemaran Limbah B3 Terlarut di Aliran Sungai Cideng Nabila Amalia Izaaz Aanisa; Rahmawati Rahmawati; Brainy Happy Ana Tasiman; Yayuk Astuti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.215-227

Abstract

Sungai Cideng adalah salah satu sungai yang mengalir di DKI Jakarta. Dengan lokasi berada di tengah kota Sungai Cideng terletak diantara Gedung perkantoran, Rumah sakit, klinik, dan industry dapat menyebabkan tingginya sumber pencemar masuk ke badan air yang menghasilkan limbah dengan kandungan logam berat tinggi seperti limbah yang mengandung merkuri, timbal, cadmium atau bahan kimia beracun berbahaya (B3). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sungai Cideng dilihat dari tingkat pencemaran Limbah B3 (Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd)). Pengukuran lapangan dan pengujian laboratorium merupakan metode yang digunakan pada penelitian ini karena bersifat deskriptif yang disebut sebagai metode observasional. Penelitian dilakukan di Tahun 2021 selama 4 periode yang mewakili musim hujan (Periode 1), musim peralihan-1 (Periode 2), musim kemarau (Periode 3) dan musim peralihan-2 (Periode 4). Sampel diambil pada 3 titik sungai (CDG-5, CDG-6, dan CDG-7). Untuk logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dianalisis dengan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), sedangkan logam merkuri (Hg) dianalisis dengan Mercury Analyzer. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Cideng sesuai batas mutu, kandungan logam Hg bernilai <0,00005-0,001 mg/L, kandungan logam Pb menunjukkan nilai <0,02 mg/L, dan kandungan logam cadmium (Cd) bernilai <0,006 mg/L. Hasil ini menunjukan bahwa Sungai Cideng tidak tercemar oleh limbah B3 karena nilainya berada di bawah baku mutu yang ditetapkan menurut PP No. 22 Tahun 2021.
Pengelolaan Limbah Medis Rumah Sakit yang Berkelanjutan: Eksplorasi Strategi Ekonomis dan Ramah Lingkungan Yenni Ciawi; Ni Made Utami Dwipayanti; Ardhan Tiestian Wouters
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.365-374

Abstract

Limbah medis rumah sakit sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan dan berkontribusi besar pada pengeluaran rumah sakit. Apalagi pada masa pandemi covid-19, jumlah limbah medis meningkat. Sementara itu belum semua fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai fasilitas pengolahan limbah medis yang memadai dan masih mengandalkan pihak ke tiga untuk memusnahkan limbah medis. Banyak sumber masalah dalam pengelolaan limbah medis rumah sakit, mulai dari kurangnya personil terlatih sampai pada besarnya resistensi untuk perubahan. Padahal volume limbah medis rumah sakit sebenarnya hanya 10-50% limbah yang dihasilkan rumah sakit. Tulisan ini bertujuan untuk membahas cara mereduksi jumlah limbah medis sehingga pengeluaran rumah sakit untuk pengelolaan limbah medis dapat ditekan sebesar mungkin, dengan membahas pengelolaan limbah rumah sakit secara umum dan menelaah beberapa alternatif pengelolaan dan pengolahan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari Pubmed-Medline, Research Gate, dan Google Scholar. Pemilahan di sumber dengan pengolahan sederhana dengan autoklaf untuk beberapa jenis limbah infeksius merupakan alternatif yang relatif mudah, murah, dan ramah lingkungan. Selain itu, komitmen dari seluruh stakeholder rumah sakit untuk melaksanakan secara konsisten pemilahan limbah di sumber mutlak diperlukan.
Status Mutu Air Permukaan & Airtanah di Sekitar Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo Kevin Philips Barakati; Erizal Erizal; Chusnul Arif
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.512-522

Abstract

Emas adalah salah satu logam mulia yang keberadaannya sangat menguntungkan. Kawasan Gunung Pani merupakan salah satu tempat di Provinsi Gorontalo yang mengandung kandungan emas yang cukup besar. Salah satu kegiatan masyarakat Kecamatan Buntulia yang memiliki potensi merusak lingkungan adalah penambangan emas tanpa izin (PETI). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji aktivitas proses penambangan emas tanpa izin, (2) mengkaji tingkat pencemaran airtanah dan air permukaan akibat pertambangan emas tanpa izin di Kecamatan Buntulia. Metode yang digunakan adalah metode survei, pemetaan, wawancara, uji laboratorium dan penentuan Indeks Pencemaran. Penelitian ini dilakukan pengambilan sampel untuk enam air permukaan (sungai) dan tiga airtanah (sumur). Sampel air permukaan dan airtanah kemudian diuji di laboratorium dan parameternya berdasarkan regulasi yang diacu yaitu PP No.22/2021 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan PerMenKes No. 32/2017 Tentang Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Hiegine Sanitasi. Penambangan emas oleh masyarakat yang terjadi di sekitar Kecamatan Buntulia sudah berlangsung sejak tahun 1990an. Aktivitas penambangan emas tanpa izin menggunakan alat berat untuk mengambil bahan galian mentah. Pengolahan emas dimulai dari penumbukan batu sampai penyaringan menggunakan air raksa (Hg) menjadi emas mentah. Aktivitas pengolahan emas di Kecamatan Buntulia menjadi salah satu penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Status kualitas air menunjukan bahwa semua sampel dari air sungai telah tercemar ringan sampai berat sedangkan untuk air sumur didapati telah tercemar ringan sampai sedang. Adapun saran yang dapat digunakan untuk upaya pengelolaan lingkungan yaitu meningkatkan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air, menetapkan daya tampung beban pencemaran, dan meningkatkan pemantauan kualitas air sungai dan airtanah.
Pemodelan Kesesuaian Habitat Ikan Cakalang Menggunakan Penginderaan Jauh di Perairan Selatan Jawa Barat – Banten Mamat Suhermat
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.667-671

Abstract

Pemodelan kesesuaian habitat merupakan hal yang sangat penting dalam proses perencanaan pengelolaan sumber daya perikanan laut di masa depan. Kondisi lingkungan suatu perairan mempengaruhi habitat ikan cakalang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi model kesesuaian habitat ikan cakalang di perairan selatan Jawa Barat – Banten. Data suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a digunakan dalam pemodelan ini diperoleh dari citra satelit MODIS periode Desember 2018 hingga November 2019. Data lokasi tangkapan cakalang diperoleh dari laporan tangkapan. Pemodelan ini dijalankan menggunakan software MaxEnt. Suhu permukaan laut mempengaruhi model pada rentang 28,3 – 29,2 °C untuk musim barat dan 24,0 – 28,5 °C untuk musim timur. Model mendapat pengaruh konsentrasi klorofil-a pada rentang 0 – 0,1 mg/m3 baik pada musim barat maupun musim timur. Hasil pemodelan menunjukkan kinerja yang sangat baik dengan tingkat akurasi mencapai 0,84 untuk musim barat dan 0,92 untuk musim timur.
Pemetaan Kawasan Berpotensi Mengalami Kekeringan Berdasarkan Kondisi Ketersediaan Airtanah Tersedia (KAT) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Jihan Ainur Rohma; Yulfiah Yulfiah
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.816-824

Abstract

Kekeringan adalah peristiwa alam yang mengakibatkan berkurangnya cadangan air di dalam tanah. Air yang dibutuhkan untuk keperluan keseharian masyarakat, termasuk untuk pertanian dan peternakan. Faktor penentu pemenuhan kebutuhan tersebut adalah curah hujan dan Ketersediaan Airtanah (KAT). Terkait hal tersebut, dilakukan penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan informasi spasial dan temporal terkait kekeringan dan pengaruh air hujan terhadap KAT. Penelitian menggunakan data hujan selama 30 tahun atau tiga dekade, yaitu pada rentang tahun 1992-2021. Data diperoleh dari 28 pos hujan dan satu Stasiun BMKG di Kabupaten Sidoarjo. Data temperatur udara di pos hujan diperoleh melalui perhitungan dengan persamaan Thornwaithe dan Matter. Data temperatur didapatkan dari Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, sebagai Stasiun BMKG terdekat dengan Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dari tahun ke tahun suhu udara referensi cenderung meningkat. Peningkatan suhu mencapai 1,5oC selama kurun waktu 30 tahun. Persentase Airtanah Tersedia (ATS) tertinggi pada dekade pertama, kedua, dan ketiga, terjadi di bulan Januari hingga April, yaitu sebesar 100%. KAT tertinggi dijumpai di Banjarkematren, Bono, Ketegen, Klagen, Sedati, Sidoarjo, Sruni, Stamet Juanda, dan Sumput. Sedangkan nilai ATS pada kategori kurang dan sangat kurang terjadi pada bulan Juli hingga November. Dengan kata lain, potensi kekeringan di daerah penelitian diperkirakan terjadi pada rentang bulan Juli hingga Nopember, yaitu pada saat nilai ATS dalam kategori kurang dan sangat kurang, khususnya di daerah Kedungcangkring, Porong, Watutulis, dan Ketintang.
Model Pemisahan Sampah Padat di Kapal berdasarkan Budaya Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Kerja Kuncowati Kuncowati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.965-971

Abstract

Pemisahan sampah padat di kapal dalam upaya untuk mencegah pencemaran laut dalam implementasi Annex V Marine Pollution (MARPOL) 1973/1978 dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pemisahan sampah padat di kapal dengan berdasarkan budaya keselamatan kesehatan dan lingkungan kerja. Data diperoleh dengan menyebarkan kuisioner terhadap anak buah kapal niaga Indonesia dengan sampel 150 orang. Dengan analisis Structural Equation Modeling (SEM) SmartPLS, mendapatkan model pemisahan sampah padat di kapal yang kuat dengan R Square 0.851yang menunjukkan pengaruh positif dan signifikan budaya keselamatan kesehatan kerja sebesar 0.669 satuan dan pengaruh lingkungan kerja sebesar 0.298 satuan terhadap pemisahan sampah padat di kapal. Novelty penelitian ini adalah didapatkan model pemisahan sampah padat di kapal berdasar budaya keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan kerja dengan jalur terkuat yang mempengaruhi pemisahan sampah padat di kapal adalah variabel budaya keselamatan kesehatan kerja di kapal serta dengan indikator-indikator pemisahan sampah padat di kapal sesuai rekomendasi MEPC dalam implementasi Annex V Marine Pollution 1973/1978 mengenai pencegahan pencemaran dari sampah kapal.
Evaluasi Kinerja Kelompok Kerja Masyarakat Berbasis Komunitas dalam Mengelola Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di Kota Singkawang Bewa Mulyatama; Gusti Zakaria Anshari; Evi Gusmayanti
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.1054-1066

Abstract

Keterlibatan masyarakat dalam program Sanitasi berbasis Masyarakat (SANIMAS) diharapkan aktif, namun kenyataanya keterlibatan Masyarakat sebagai pengurus Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) dari SANIMAS dalam melakukan pengelolaan serta pemeliharaan IPAL komunal sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja KPP dalam pengelolaan IPAL, serta membandingkan kondisi pengelolaan KPP aktif, kurang aktif dan tidak aktif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara semi-terstruktur, pengamatan dan pengumpulan dokumen. Sampel yang diambil adalah lima KPP, yaitu Rukun, Bambu Runcing, Nek Bagak, Melati dan Cendana. Lokasi penelitian pada Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Hasil penelitian mendapatkan KPP tidak melaksanakan pengelolaan IPAL dengan baik. Dua KPP, yaitu Melati dan Cendana menunjukan kegiatan pengelolaan KPP, tetapi termasuk kurang aktif. Hasil pengamatan IPAL menunjukkan bahwa kondisi IPAL yang dipelihara secara rutin tidak disebabkan oleh aktivitas pengurus KPP, tetapi akibat dari inisiatif anggota yang memiliki kepentingan untuk merawat IPAL. Penelitian menyimpulkan bahwa program SANIMAS banyak menghadapi berbagai kendala, terutama dalam perihal pemeliharaan IPAL, yang menjadi beban masyarakat. Bantuan pemerintah untuk memelihara IPAL komunal sangat dibutuhkan, terutama perihal pemberdayaan manajemen dan bantuan teknis untuk memelihara fungsi IPAL komunal. Pemerintah hendaknya menawarkan pembangunan IPAL yang layak ekonomi untuk dikelola langsung per rumah tangga karena masih luas lahan yang tersedia. Pengelolaan IPAL komunal saat ini menimbulkan berbagai masalah yang berhubungan dengan kesulitan dalam pengambilan keputusan dan eksekusi putusan yang berbasis pada manajemen bangunan milik bersama.

Filter by Year

2011 2025