cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Nilai Willingness To Pay Birdwatching di Indonesia Insan Kurnia; Harnios Arief; Ani Mardiastuti; Rachmad Hermawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.302-312

Abstract

Birdwatching merupakan wisata pengamatan burung di alam bebas. Penelitian aspek penawaran telah banyak dilakukan, namun penelitian aspek permintaan masih sangat terbatas termasuk nilai willingness to pay (WTP). Penelitian bertujuan untuk menganalisis nilai WTP birdwatcher di Indonesia. Penelitian dilakukan pada Februari sampai Mei 2020 menggunakan kuesioner tertutup secara online dengan responden dari seluruh Indonesia. Nilai WTP dihitung dengan travel cost method (TCM) dari 1.062 responden yang mengisi kuesioner lengkap. Nilai rerata nilai WTP untuk setiap aspek adalah Rp 2.577.872,00 (aspek peralatan), Rp 1.482.257,00 (aspek perlengkapan khusus), Rp 1.772.410,00 (aspek transportasi), Rp 868.738,00 (aspek penginapan), Rp 918.832,00 (aspek makan dan minum), serta Rp 622.881,00 (aspek pemanduan). Proporsi nilai WTP paling tinggi adalah aspek perlengkapan (31%), sementara paling rendah adalah aspek biaya pemandu (8%). Nilai WTP meningkat seiring jarak lokasi tujuan birdwatching dari domisili. Semakin jauh tujuan maka nilai WTP juga semakin tinggi. Nilai WTP paling rendah adalah tujuan lingkungan rumah sebesar Rp 2.114.286,00 dan nilai paling tinggi adalah tujuan luar negeri sebesar Rp 23.583.333,00. Nilai total WTP untuk setiap individu birdwatcher adalah sebesar Rp 8.243.690,00.
Vegetasi Riparian Telaga Pengilon dan Gangguan Antropogenik Jumari Jumari; Tri Retnaningsih Soeprobowati
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.455-463

Abstract

Telaga Pengilon merupakan satu dari sejumlah telaga yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Alih fungsi lahan , menjadi acaman serius bagi kelestarian Kawasan Dieng, termasuk keberadaan Telaga yang banyak dijumpai di Dieng. Vegetasi riparian Telaga berperan penting dalam menjaga keberadaan dan kualitas perairan telaga. Penelitian ini bertujuan mengkaji struktur dan komposisi jenis, Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi dan dampaknya terhadap gangguan antropogenik. Lokasi penelitian dibagi 2 stasiun: Stasiun 1 (pinggir telaga); Stasiun 2 (kawasan perbukitan sekitar Telaga Pengilon). Sampling vegetasi menggunakan plot kuadrat, penentuan titik secara sistematik random sampling. Hasil penelitian didapatkan komposisi jenis tumbuhan penyusun vegetasi riparian Kawasan Telaga Pengilon meliputi 9 jenis pohon, 16 jenis semak-perdu dan 17 jenis herba. Vegetasi pada kawasan pinggir telaga (St1) didominasi oleh jenis herba. Jenis herba yang dominan adalah rumput Lempuyang (Panicum repens; INP 128,45%) dan kodominan rumput Wlingi (Actinoscirpus grossus; INP 58,65%). Pada tingkat semak, jenis dominan Glonggong (Arundo donax; INP 141,94%) dan kodominan Kecubung Hutan (Brugmansia. soaveolens; INP 62,79%) menutupi pinggir telaga yang berbatasan dengan kawasan perbukitan. Kawasan perbukitan didominasi oleh jenis pohon Kasia (Acacia decurrens) dan Puspa (Schima walichii). Aktifitas manusia dalam pengambilan air telaga dengan jumlah besar mempercepat pendangkalan air telaga terutama di musim kemarau. Tergesernya dominasi Rumput Wlingi (A. grossus) oleh jenis Rumput Lempuyang (P. repens), mengindikasikan semakin cepatnya pendangkalan Telaga Pengilon.
Analisis Suhu Permukaan Lahan sebagai Indikator Pulau Panas Perkotaan di Wilayah Kota Jayapura Noper Tulak; Zakaria Victor Kareth; Sonia Kornelia Kwano
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.609-619

Abstract

Perubahan tutupan lahan dan alih fungsi lahan dari lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun di wilayah Kota Jayapura ditengarai menjadi faktor utama meningkatnya suhu permukaan lahan. Kombinasi antara suhu permukaan lahan dengan suhu udara yang ada di atasnya akan menjadi pemicu munculnya pulau panas perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan distribusi spasial dan temporal suhu permukaan lahan serta menentukan wilayah yang berpotensi mengalami fenomena pulau panas perkotaan di Kota Jayapura. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan analisis kuantitatif yang disajikan dalam bentuk peta, grafik dan tabel menggunakan data sekunder citra satelit lansat 8 tahun 2014 dan 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu permukaan lahan di Kota Jayapura semakin meningkat dalam kurun waktu delapan tahun seiring dengan bertambahnya lahan terbangun. Peningkatan suhu permukaan lahan terdistribusi secara spasial pada lima Distrik dengan suhu permukaan rata-rata >= 27 0C. Berdasarkan peningkatan suhu permukaan lahan tersebut, maka ada lima titik wilayah yang berpotensi dan berpeluang besar menjadi sumber pulau panas perkotaan di Kota Jayapura yaitu Distrik Jayapura utara bagian timur, Distrik Jayapura selatan bagian timur, Distrik Abepura bagian utara, Distrik Heram bagian utara dan distrik Muaratami bagian barat. Secara spasial, kelima wilayah tersebut saling berdekatan atau terhubung satu dengan yang lain.
Municipal Waste Characterization and Reduction Potential in Singaraja City Anak Agung Mas Untari; I Made Wahyu Wijaya; I GD Yudha Partama; Kailas Deoram Ahire
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.756-765

Abstract

The Bengkala Landfill serves as the sole waste disposal site in the Buleleng Regency, and its current waste accumulation has exceeded the landfill's capacity. The local government has endeavoured to reduce the influx of waste to the landfill by establishing a Recycling Centre (RC) for waste processing. This research aims to analyse the generation and characteristics of waste in Singaraja City, as well as its recycling potential, to support RC planning. The study's method is to look at how much waste is made and what kinds of things are made from it by using measurements made by the local government of Buleleng Regency in line with the Indonesian National Standard (SNI) 19-3964-1994. The analysis reveals that Singaraja City produces approximately 606.23 kg/day of waste, with a density of 0.244 kg/L. Organic waste dominates, constituting 66.31% of the total waste composition. Food waste and foliage are the highest components of organic waste, underscoring the significance of food waste reduction, including composting. Paper, wood, and plastic contribute 8.23%, 1.41%, and 14.57% of the waste, respectively. The study of waste composition in Singaraja City reveals both opportunities and challenges in waste management and sustainability. Singaraja City can benefit from initiatives such as plastic reduction programmes, glass recycling, and hazardous waste management to achieve sustainable waste practices. Achieving these goals necessitates public education, policy interventions, recycling infrastructure development, and stakeholder collaboration.
Life Cycle Assesment pada Proses Distribusi BBM di PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Panjang Reza Ismail Alqindy; Suherman Suherman; Tri Retnaningsih Soeprobowati; Yusep Sopian
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 4 (2024): July 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.4.904-913

Abstract

PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Panjang mendistribusikan BBM sebesar 2.243.016,58 kiloliter (KL) pada tahun 2022. Dari proses distribusi BBM berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yaitu dampak pencemaran udara dimana proses distribusi BBM banyak memakai transportasi berbahan bakar fossil. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak lingkungan dari proses distribusi BBM PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Panjang menggunakan metode life cycle assesment (LCA) dengan ruang lingkup gate to gate dimulai dari proses penerimaan BBM hingga pendistibusian BBM. Metode penelitian ini mengacu pada SNI ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017, analisis inventori, penilaian dampak, dan interpretasi. Penilaian dampak dilakukan menggunakan software  SimaPro 9.5.0 dengan metode CMIL IA Baseline dengan unit fungsi adalah 1 KL BBM. Kategori dampak yang dikaji pada penelitian ini yaitu kategori dampak utama berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu potensi pemanasan global, potensi penipisan ozon, potensi hujan asam, dan potensi eutrofikasi. Dari masing – masing potensi dampak, terdapat dua isu penting (hotspot) yaitu dari proses distribusi dari penggunaan solar yang menghasilkan nilai karaterisasi potensi pemanasan global sebesar 6,77E+00 kg CO2 ek/KL, potensi penipisan ozon sebesar 1,30E-07 Kg CFC-11 ek/KL, dan potensi hujan asam  sebesar 1,18E-02 Kg SO2 ek/KL. Untuk potensi eutrofikasi isu penting (hotspot) disebabkan oleh proses penyaluran dari penggunaan listrik dengan menghasilkan nilai dampak eutrofikasi sebesar 2,78E-03 Kg PO4 ek/KL. Rekomendasi perbaikan yang dapat diberikan adalah penggunaan transportasi ramah lingkungan dan melakukan gerakan hemat energi atau mengganti penggunaan listrik dari PLN dengan energi terbarukan seperti menggunakan panel surya.
Inventarisasi Jenis Mangrove di Wilayah Pesisir Desa Sungai Nibung, Kalimantan Barat Ikha Safitri; Arie Antasari Kushadiwijayanto; Syarif Irwan Nurdiansyah; Mega Sari Juane Sofiana; Andreani Andreani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.109-124

Abstract

Desa Sungai Nibung merupakan salah satu wilayah pesisir di Kabupaten Kubu Raya, yang telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan konservasi di Kubu Raya. Pesisir Desa Sungai Nibung memiliki potensi sumberdaya alam dengan tingkat keanekaragaman tinggi, salah satunya mangrove. Mangrove memiliki peran penting secara ekologi dan ekonomi. Namun, pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan akan dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem, dan berdampak negatif pada keberadaan dan kelimpahan organisme. Keterbatasan data dan informasi mengenai potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan merupakan kendala utama dalam menentukan pola pengelolaan yang tepat untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis mangrove di wilayah pesisir Desa Sungai Nibung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober - November 2022. Pengambilan data keanekaragaman jenis mangrove dilakukan menggunakan metode eksploratif dengan mencatat semua jenis mangrove yang ditemui di lokasi penelitian. Sampel mangrove diambil bagian akar, batang, daun, bunga, dan buah untuk selanjutnya dilakukan identifikasi. Hasil penelitian menemukan delapan belas spesies mangrove di wilayah pesisir Desa Sungai Nibung, dimana jenis yang paling dominan adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Sonneratia, dan Nypa. Berdasarkan kriteria Red List IUCN, B. hainesii masuk dalam status Critically Endangered (CR) atau terancam punah, sehingga masuk ke dalam prioritas konservasi. Inventarisasi potensi bioekologi dapat dijadikan baseline data dalam mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (ICZM) dan mendukung rencana pengelolaan dan zonasi KKP3K Kubu Raya.
Kadar Logam Merkuri (Hg) dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna viridis L.) di Kalibaru Timur dan Muara Kamal La Ode Sumarlin; Alfionita Octa Nur Zidni; Nurhasni Nurhasni; Hendrawati Hendrawati; Meyliana Wulandari
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 1 (2024): January 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.1.264-269

Abstract

Kerang merupakan golongan Mollusca yaitu hewan lunak tidak memiliki organ hati untuk menghancurkan benda asing di dalam tubuhnya, sehingga kerang hijau bersifat filter feeder atau penyaring. Kerang hijau yang berasal dari perairan Jakarta diketahui sudah tercemar oleh logam merkuri. Merkuri pada kerang hijau merupakan salah satu logam berat yang berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia lebih dari 1,0 mg/kg berat badan. Oleh karena itu perlu diketahui kadar logam merkuri dan nilai batas aman konsumsi pada kerang hijau. Kerang hijau yang diambil dari Kalibaru Timur dan Muara Kamal diuji dengan metode sesuai SNI 2354.6:2016 menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom Uap Dingin (SSA-UD). Hasil analisis menunjukkan bahwa kerang hijau dari kedua lokasi memiliki nilai Target Hazard Quotient (THQ) < 1 sehingga tidak berpotensi terhadap risiko kesehatan individu yang mengonsumsi. Kadar merkuri kerang hijau yang berasal dari Kalibaru Timur memiliki rata-rata sebesar 0,0583 mg/kg dan dari Muara Kamal memiliki rata-rata sebesar 0,2994 mg/kg. Nilai Maximum Tolarable Intake (MTI) kerang hijau dari Kalibaru Timur untuk individu dengan berat badan 15 kg sebesar 1,0291 kg per minggu dan dari Muara Kamal sebesar 0,2004 kg per minggu. Nilai MTI kerang hijau dari Kalibaru Timur untuk individu dengan berat badan 60 kg sebesar 4,1166 kg per minggu dan dari Muara Kamal sebesar 0,8016 kg per minggu.
Partisipasi Komunitas dalam Konservasi Lingkungan (Studi Implementasi Perhutanan Sosial di Kawasan Hutan Sesaot, Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat) Yumantoko Yumantoko; Suharko Suharko; Rubangi Al Hasan; Triyono Triyono
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.408-420

Abstract

Indonesia memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia. Sumberdaya tersebut memiliki banyak manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Namun ancaman perubahan fungsi hutan akibat illegal logging, perluasan pemukiman, kegiatan pertanian yang tidak lestari, dan kebakaran hutan menjadi meningkat. Aktivitas tersebut mengancam kelestarian lingkungan dan sumber penghidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana upaya perhutanan sosial dalam melestarikan lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif di kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Sesaot, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data diperoleh melalui observasi, penelusuran dokumen, dan wawancara mendalam dengan pihak terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhutanan sosial dilatarbelakangi oleh kepemilikan lahan yang sempit, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat yang tertinggal yang meningkatkan tekanan terhadap hutan. Program HKm bertujuan untuk melestarikan hutan dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi lewat pemberian hak kelola kepada penggarap untuk mengusahakan berbagai jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Upayanya lewat tata kelola kawasan untuk memastikan pengusahaan sesuai kaidah pengelolaan lestari sekaligus menyeimbangkan dengan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat. Untuk menjaga kondisi lingkungan sehat, dilakukan konservasi antara lain dengan penanaman beringin, aren, dan bambu untuk kelestarian tanah dan sumber air. Pandangan warga sekitar mengindikasikan bahwa tanah masih dapat untuk menanam dengan baik. Kondisi air juga masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan, meskipun debitnya sudah berkurang dalam beberapa tahun ini. Ada ancaman seperti penambangan di sekitar kawasan yang dapat mengakibatkan ketidakeimbangan lingkungan.
Analisis Laju Deforestasi Hutan Manggrove Menggunakan GIS di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Elfayetti Elfayetti; Rosni Rosni; Novida Yenny; M Taufik Rahmadi; Herdi Herdi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.565-570

Abstract

Hutan mangrove memiliki peran penting dalam ekologi dan sosial ekonomi. Namun ekosistem mangrove terus mengalami deforestasi. Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu kecamatan yang juga mengalami deforestasi akibat konversi lahan mangrove. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi laju deforestasi mangrove secara spasial dan menganalisis factor penyebabnya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, interpretasi citra multi-temporal Landsat 8, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis spasial dengan SIG dan analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan deforestasi terjadi pada Desa Percut dan Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan. Laju deforestasi mangrove tertinggi terdapat pada Desa Percut. Faktor antropogenik atau aktivitas manusia menjadi penyebab utama deforestasi mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang yang meliputi aktivitas perikanan khususnya tambak. Kelompok nelayan memiliki perizinan untuk membuka lahan mangrove untuk dijadikan pertambakan. Bahkan ada kepemilikan lahan mangrove secara pribadi di Desa Percut dan Desa Tanjung Rejo. Sedangkan faktor alam tidak terlalu berpengaruh pada kerusakan ekosistem mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan. Usaha konservasi dan rehabilitasi mangrove di Kecamatan Percut Sei Tuan sudah dilaksanakan. Namun tingginya angka konservasi lahan tidak mampu mengimbangi program konservasi, sehingga luasan hutan mangrove terus mengalami penurunan sepanjang tahun.
Netralisasi Air Asam Tambang Menggunakan Pengolahan Aktif dan Pasif Esthi Kusdarini; Putri Rizka Sania; Agus Budianto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 3 (2024): May 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.3.808-815

Abstract

Air asam tambang dapat membahayakan kesehatan manusia. Tujuan penelitian mendapatkan: 1) pengaruh dosis kapur tohor terhadap pH, Fe dan Mn; 2) pengaruh ukuran butir batu gamping terhadap pH, Fe dan Mn; 3) kemampuan kapur tohor dan batu gamping dalam meningkatkan pH dan menurunkan Fe, Mn; 4) morfologi permukaan batu gamping sebelum dan setelah kontak dengan air asam tambang. Metode yang digunakan eksperimen skala laboratorium, dengan mengolah air asam tambang menggunakan: 1) kapur tohor,  variabel dosis (300; 200; 100) mg/L, t waktu pengadukan 15 menit; 2) batu gamping, variabel ukuran butir (10, 5, 1) mm, waktu kontak 30 menit. Hasil penelitian: 1) semakin besar dosis kapur tohor, pH semakin meningkat; Fe, Mn semakin berkurang; 2) semakin kecil ukuran butir batu gamping, pH semakin meningkat; Fe, Mn semakin berkurang; 3) kapur tohor optimal pada dosis 200 mg/L, meningkatkan pH dari 3,31 menjadi 7,01; menurunkan Fe 99,9% dan Mn 95,84%; batu gamping optimal pada ukuran 1 mm, meningkatkan pH dari 3,31 menjadi 6,96; menurunkan Fe 99,9% dan Mn 90,65%; 4) uji foto SEM batu gamping menunjukkan adanya partikel berbentuk gumpalan putih,  yang diperkirakan mineral kalsit, setelah berkontak dengan air asam tambang, partikel berbentuk gumpalan putih jumlahnya berkurang dan ukurannya mengecil.

Filter by Year

2011 2025