cover
Contact Name
jurnal petra
Contact Email
petra.polsky@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal@polsky.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyuasin,
Sumatera selatan
INDONESIA
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara
Published by Politeknik Sekayu
ISSN : 24608408     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PETRA Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Politeknik Sekayu adalah jurnal penelitian yang khusus mempublikasikan naskah hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udara Politeknik Sekayu. Terbit dua kali setahun yaitu periode Januari-Juni dan periode Juli-Desember. PETRA merupakan terbitan berkala yang memuat artikel-artikel dengan berbagai pendekatan yang diterbitkan dalam bentuk cetak dengan ISSN-P : 2460 - 8408.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA" : 6 Documents clear
ANALISA VARIASI DEBIT AIR SEBAGAI REFRIGERAN SEKUNDER PADA BAGIAN INDOOR UNIT AIR CONDITIONER (AC) TERHADAP PERFORMA SISTEM REFRIGERASI Baiti Hidayati; Ferry Irawan; Apriyansyah Apriyansyah
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.698 KB)

Abstract

Air Conditioner (AC) Split 1/2 PK menggunakan media air sebagai secondary refrigeran merupakan salah satu sistem baru pengkondisian dari AC split biasa yang direnofasi pendistribusiannya. AC split 1/2 PK dimodifikasi menjadi AC yang memiliki dua jenis refrigeran, yaitu refrigeran primer (R-22) dan sekunder (air). Dari permasalahan ini, perlu diketahui hubungan antara performansi AC Split dan variasi debit air yang masuk ke evaporator. Sehingga dapat mengetahui pengaruh debit air keluaran dari liquid coolerl menuju evaporator terhadap performansi AC split 1/2 PK menggunakan media air sebagai secondary refrigerant. Penelitian tentang refrigerasi dan tata udara telah banyak di lakukan untuk mendapatkan performansi terbaik, dengan meninjau dari pengaruh komponen utama mesin itu sendiri atau dari luar komponen utama mesin pendingin. Seperti penambahan refrigerant sekunder sebagai fluida tambahan untuk membantu efektifitas dari sistem pendinginan untuk sekala besar dan jumlah debit air yang akan mengalir pada indoor unit AC. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan performa dan efisiensi yang baik dengan mengatur jumlah debit air yang yang mengalir. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah memvariasi debit air keluaran dari liquid cooler menuju indoor unit. Debit air yang divariasikan adalah debit air pada sudut valve dengan bukaan 300, 600, dan 900. Pada tiap bukaan keran diperoleh data berupa suhu kompresor, suhu kondensor, suhu ekspansi, suhu evaporator, tekanan tinggi dan tekanan rendah. Sehingga diperoleh nilai Coefficient of Performance (COP) dan efisiensi. Dari pengolahan data didapatkan COP sebesar 4,8 pada sudut bukaan 900, 4,9 pada sudut bukaan 600 dan 5 pada bukaan sudut 300. Dari hasil perhitungan dan analisis dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan COP pada sistem refrigerasi apabila debit air pada keluaran cooling coil semakin kecil.
ANALISA PENGARUH RESIRKULASI UDARA PADA KABIN EVAPORATOR TERHADAP PERFORMANSI MESIN REFRIGERASI KOMPRESI UAP AIR CONDITIONER DENGAN REFRIGERAN R134A Hendradinata Hendradinata; Mahendra Mahendra
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1234.423 KB)

Abstract

Penelitian tentang Refrigerasi dan Tata Udara telah banyak di lakukan untuk mendapatkan Performansi Terbaik, dengan meninjau dari pengaruh Komponen Utama Mesin itu sendiri ataupun dari luar komponen Utama Mesin pendingin. Seperti Beban pendingin ataupun Resirkulasi udara dari kabin yang udaranya ingin dikondisikan. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh dari Resirkulasi udara pada kabin terhadap kinerja mesin refrigerasi kompresi uap. Metode penelitian ini adalah metode eksperimental dengan membandingkan secara langsung Resirkulasi udara dari 0 % sampai 100 % pada kabin pendingin dengan menghitung COP Ideal dari masing masing Eksperimen, kecepatan fan Evaporaotor dan Fan kondensor dikondisikan tetap. Hasil penelitian didapatkan bahwa COP tertinggi dengan nilai 4.05 terdapat pada Resirkulasi udara 20 % pada temperatur evaporator 2,5 oC. COP terendah dengan nilai 3.43 terdapat pada Resirkulasi udara 100 % pada temperatur Evaporator -2.8 oC. Arus listrik dikompresor terbesar pada resirkulasi 0 % dengan nilai 2.4 Ampere dan terkecil pada resirkulasi 100 % dengan nilai 2 Ampere.
INVESTIGASI EKSPERIMEN TATA UDARA PADA SISTEM GEOTERMAL Haryanto Haryanto; Widiyatmoko Widiyatmoko; Yulius Oktarianto
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.159 KB)

Abstract

Geothermal merupakan teknologi yang memanfaatkan suhu bumi. Terdapat dua jenis geothermal, yaitu high grade geothermal dan low grade geothermal. sistem geotermal dikembangkan dalam refrigerasi dan tata udara guna untuk efesiensi energi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antara reservoir yang berada di permukaan tanah dan reservoir yang berada di dalam tanah terhadap COP serta kapasitas pendinginan pada pada sistem geotermal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode experimental. Pengujian koefesien performa (COP) dilakukan dengan pengambilan data temperatur, tegangan listrik, debit alairan, dan arus listrik dengan selang waktu 1 jam. Untuk mendapatkan koefesien performa (COP) dilakukan perhitungan kapasitas pendinginan (q_L ) dan daya total yang masuk pada sistem (W_(net.in)). Sehingga diketahui nilai koefesien performa (COP). Setelah didapatkan nilai kapasitas pendinginan dan COP, dibuat grafik hubungan COP terhadap waktu dan grafik hubungan kapasitas pendinginan terhadap waktu. Berdasar grafik untuk yang reserfoirnya berada di atas tanah, diketahui bahwa semakin lama, COP terus mengalami peningkatan dari 0,89 sampai 2,27 dan kapasitas pendinginannya juga terus mengalami peningkatan dari 111,3 Watt sampai 306,1 Watt. Berdasar grafik untuk yang reserfoirnya berada di atas tanah, diketahui bahwa semakin lama, COP terus mengalami peningkatan dari 1,03 sampai 2,69 dan kapasitas pendinginannya juga terus mengalami peningkatan dari 139,1 Watt sampai 361,8 Watt.COP sistem geotermal yang reserfoirnya beada di atas tanah dan di dalam tanah mendapatkan hasil yang berbeda. COP rata-ratanya dari sistem geotermal yang reserfoirnya berada di atas tanah 1,403 sedangkan COP pada sistem geotermal yang reserfoirnya berada di dalam tanah 1,529. Kapasitas pendinginan sistem geotermal yang reserfoirnya beada di atas tanah dan di dalam tanah mendapatkan hasil yang berbeda. Kapasitas pendinginannya rata-ratanya dari sistem geotermal yang reserfoirnya berada di atas tanah 211,48 Watt sedangkan kapasitas pendinginannya pada sistem geotermal yang reserfoirnya berada di dalam tanah 233,76.
RANCANG BANGUN MESIN PENGHANCUR BONGGOL JAGUNG UNTUK CAMPURAN PAKAN TERNAK SAPI KAPASITAS PRODUKSI 30 Kg/Jam Ali Medi; Ahmad Junaidi
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1426.476 KB)

Abstract

Kebutuhan konsumsi daging sekarang ini semakin meningkat diikuti dengan meningkatnya populasi sapi potong di dalam negeri, hendaknya diikuti dengan peningkatan jumlah pakan demi tersedianya pakan yang cukup untuk ternak sapi.Jagung merupakan sumber pangan dan pakan di Indonesia, dalam pengolahan jagung pasti akan menghasilkan sisa berupa bonggol jagung, pengolahannya yang hanya sedikit dijadikan kerajinan tangan serta digunakan alternative pengganti kayu bakar. Melihat kandungan bonggol jagung yang kaya akan karbohidrat, memungkinkan untuk dijadikan sebagai campuran pakan ternak sapi, sehingga perlu cara yang tepat untuk mengolah bonggol jagung menggunakan mesin penghancur bonggol jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi.
PERENCANAAN ALAT PENDINGIN VAKSIN CAMPAK Gilang Saputra; Ayu Margareta; Ozkar Firdausi Homzah
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1516.331 KB)

Abstract

Air Conditioner (AC) Split 1/2 PK menggunakan media air sebagai secondary refrigeran merupakan salah satu sistem baru pengkondisian dari AC split biasa yang direnofasi pendistribusiannya. AC split 1/2 PK dimodifikasi menjadi AC yang memiliki dua jenis refrigeran, yaitu refrigeran primer (R-22) dan sekunder (air). Dari permasalahan ini, perlu diketahui hubungan antara performansi AC Split dan variasi debit air yang masuk ke evaporator. Sehingga dapat mengetahui pengaruh debit air keluaran dari liquid coolerl menuju evaporator terhadap performansi AC split 1/2 PK menggunakan media air sebagai secondary refrigerant. Penelitian tentang refrigerasi dan tata udara telah banyak di lakukan untuk mendapatkan performansi terbaik, dengan meninjau dari pengaruh komponen utama mesin itu sendiri atau dari luar komponen utama mesin pendingin. Seperti penambahan refrigerant sekunder sebagai fluida tambahan untuk membantu efektifitas dari sistem pendinginan untuk sekala besar dan jumlah debit air yang akan mengalir pada indoor unit AC. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan performa dan efisiensi yang baik dengan mengatur jumlah debit air yang yang mengalir. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah memvariasi debit air keluaran dari liquid cooler menuju indoor unit. Debit air yang divariasikan adalah debit air pada sudut valve dengan bukaan 300, 600, dan 900. Pada tiap bukaan keran diperoleh data berupa suhu kompresor, suhu kondensor, suhu ekspansi, suhu evaporator, tekanan tinggi dan tekanan rendah. Sehingga diperoleh nilai Coefficient of Performance (COP) dan efisiensi. Dari pengolahan data didapatkan COP sebesar 4,8 pada sudut bukaan 900, 4,9 pada sudut bukaan 600 dan 5 pada bukaan sudut 300. Dari hasil perhitungan dan analisis dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan COP pada sistem refrigerasi apabila debit air pada keluaran cooling coil semakin kecil
PERENCANAAN MESIN MINI FREEZER PENGAWETAN IKAN GILING 20 KG Ema Agustina; Almadora Anwar Sani; Solin Aminullah
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 2 No 1 (2016): Jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.74 KB)

Abstract

Mesin Pengawetan ikan giling dengan kapasitas 20 kg merupakan alat untuk Mengawetan ikan giling yang yang biasanya digunakan untuk membuat pempek, kerupuk dan lain-lain. Mesin pendingin ini digunakan karena daging ikan tidak tahan lama dan mudah membusuk jika ditempatkan di udara terbuka dan pada suhu biasa. Penyebab kerusakan daging ikan diantaranya adalah aktifnya mikroorganisme dan bakteri yang ada dalam daging ikan.. Pada suhu dan keadaan lembab, mikroorganisme dan bakteri dapat berkembang biak dengan cepat. Maka untuk keperluan diatas suatu teknik refrigerasi sangat diperlukan untuk proses pendinginan ikan. Pendingin dibagi menjadi dua, yaitu yang mendinginkan pada suhu +4°C dan -20°C sebagai tempat penyimpanan berkepanjangan untuk ikan. Beberapa pendingin dapat mencairkan material dengan sendirinya, namun beberapa pendingin lain pencairan daging ikan dapat dilakukan secara manual. Beberapa faktor seperti suara mesin atau suara bising, bau, atau perubahan temperatur harus tidak terjadi pada proses pendinginan. Pada mini freezer pengawetan ikan yang mempunyai pendingin dengan suhu - 18oC dapat untuk menyimpan daging ikan selama beberapa bulan, jenis refrigeran yang digunakan untuk Mesin pengawetan ikan giling ini, yaitu refrigeran primer (R-134a), Beban pendingin total mesin mini freezer Pengawetan ikan giling adalah sebesar 201,34 watt, nilai COP mesin mini freezer pada perenanaan sebesar 3,03, nilai efisiensi 81 % dan dengan daya kompresornya adalah 0,0729634031 Kw atau sebesar 72,96 watt.

Page 1 of 1 | Total Record : 6