cover
Contact Name
Dr. Asep Supianudin, M.Ag.
Contact Email
asepsupianudin@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
altsaqafa@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
ISSN : 02165937     EISSN : 26544598     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
SISTEM KEPERCAYAAN DAN KARAKTERISTIK MASYARAKAT SUNDA: MEMAHAMI KEMBALI ISLAM TEH SUNDA, SUNDA TEH ISLAM Ujang Suyatman
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5937

Abstract

Islam dan Sunda adalah suatu kasus hubungan ambivalen antara agama dan budaya sebagai dua entitas yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama sebagai nilai ideal membutuhkan budaya dalam mengaktualisasikannya, dan budaya membutuhkan panduan yang berasal dari agama untuk mengantarkan manusia ke tujuan penciptaannya. Kedekatan Islam dan Sunda tidak terlepas dari proses yang terjadi pada pertemuan kedua entitas, juga simpul-simpul yang menyatukan satu sama lain. Artikel ini bertujuan untuk memahami kembali proses Islamisasi masyarakat Sunda dan simpul-simpul yang menyatukan keduanya. Proses islamisasi di tatar Sunda yang demikian lancar karena didukung oleh berbagai faktor, yaitu wawasan luas yang dimiliki oleh para leluhur di Sunda dan ajaran islam yang berterima dengan masyarakat Sunda pada saat itu.Kata Kunci: Islam Sunda, budaya Sunda, karakter Sunda, Islam moderat
Tradisi Ziarah di Komplek Pemakaman Syekh Quro Jaelani Husni
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 1 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i1.2349

Abstract

ABSTRAKJaelani Husni: Tradisi Ziarah Sabtuan di Komplek Pemakaman Syekh Quro.Tradisi ziarah sabtuan merupakan akumulasi dari jejak peninggalan sosok penyebar agama Islam di Karawang, yakni Syekh Quro. Sejak ditemukannya makam Syekh Quro oleh Raden Soemaredja tahun 1859, maka sejak saat itulah tradisi ziarah menjadi rutinitas yang berkembang secara berkala, berkesinambungan dan semakin ramai oleh karena dilakukan secara berjamaah. Adapun tradisi sabtuan baru dikenal pada tahun 1992 oleh adanya keinginan untuk melembagakan tradisi agar dapat membuat ramai, nyaman dan aman bagi para jamaah yang akan melaksanakan ziarah.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tradisi ziarah sabtuan, bagaimana tahapan – tahapan ziarah sabtuan dan dampak apa yang dirasakan setelah dilaksanakannya tradisi ziarah sabtuan.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Melalui pendekatan ilmu bantu antropologis sebagai pisau analisis untuk membedah fenomena sejarah diatas, sangatlah berguna dan membantu dalam memahami objek penelitian sejarah bersangkutan.Tradisi adalah anasir budaya tentang pola tingkah laku umat manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam melingkupi lingkungannya tertentu. Tradisi juga merupakan bagian dari realigi sebagai bagian dari unsur kebudayaan. Adapun kebudayaan merupakan hasil karya, karsa cipta manusia yang dimulai dari ide, tindakan yang mewujud dalam kehidupan sehari-hari.Sebagai bagian dari unsur kebudayaan yang berbentuk religi, praktek tradisi ziarah sabtuan tidak bisa lepas dari adanya suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan, atau religious emotion. Emosi keagamaan ini biasanya pernah dialami oleh setiap manusia, walaupun getaran emosi itu mungkin hanya berlangsung untuk beberapa detik saja, untuk kemudian menghilang lagi. Diluar dari dalam rangka ibadah, emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan – tindakan yang bersifat religi, tak terkecuali pada tradisi ziarah sabtuan di Komplek Pemakaman Syekh Quro.Oleh karena itu, lahirnya tradisi ziarah sabtuan adalah berawal dari gagasan, tindakan dan diimplementasikan dalam bentuk doa’ – do’a yang diturunkan dari generasi ke generasi hingga dewasa kini. Adapun kurun 1992 – 2012 merupakan tahun lahirnya tradisi haulan dan sabtuan sekaligus kemajuan secara kualitas dan kuantitas karena semua tradisi keagamaan itu telah dilembagakan dan diformal-institusionalisasikan semata-mata atas dasar tasyakur bi nikmat dan fastabikul khoirot.
IDEOLOGI (DAN) ESTETIKA SENO GUMIRA AJIDARMA: SAKSI MATA DALAM RUANG PERJUMPAAN IDEOLOGIS Moch Zainul Arifin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3352

Abstract

Tulisan ini mencoba menguraikan struktur ideologi Seno Gumira Ajidarma dalam Saksi Mata pada masa otoriter Orde Baru. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kritik sastra materialisme Terry Eagleton yang mengasumsikan bahwa teks sastra tidak bertindak pasif, tetapi bertindak aktif menentukan proses produksi dan struktur ideologi yang melingkupinya. Dengan demikian, kritik sastra Eagleton melihat karya sastra dari aspek eksternal dan juga aspek internalnya. Berangkat dari hal itu, bagaimana Saksi Mata menawarkan bentuk kritik yang, tentu ideologis, dihadirkan guna mengguncang kekuasaan absolut Orde Baru? Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, struktur ideologi dalam cerpen Saksi Mata meliputi prkatik material eksternal dan internal teks. Aspek eksternal teks merupakan hasil artikulasi dominasi Orde Baru. Untuk itu, Saksi Mata juga tidak luput dari pengaruh mobilisasi Soeharto, akan tetapi Seno dengan Saksi Mata mampu melawan kebijakan tersebut. Kedua, konstruksi internal teks yang sebetulnya ruang perjumpaan dan negosiasi ideologi-ideologi yang ada,  Saksi Mata berupaya menunjukkan kengerian totaliter Orde Baru. Akan tetapi, tentu dalam ruang politik yang represif, kritik dalam semangat kemanusiaan, keadilan dan kebebasan berpendapat ditransfor-masi dan dibungkus dalam cerpen Saksi Mata dengan bangunan satire dan khas komedi, sekaligus mengungkapkan kengeriannya.Kata Kunci: Struktur Ideologi, Estetika, Terry Eagleton
DESKRIPSI SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP GAMBAR DAN TULISAN YANG TERDAPAT DALAM GEROBAK TRUK Asih Prihandini; Ahmad Fauzan
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2323

Abstract

 ABSTRACTThis journal discusses the description of the lives of truck drivers represented in image and text message on the back of the truck. The image and text message become interesting since some readers feel it as a mere entertainment. However, to see the interpretation is through the perspective of linguistics. The theory of semiotics used analyze the point of view and meaning of images and writings that are represented.  By using the connotation and denotation meaning contained in semiotics, the language used is analyzed. The method used in this research is qualitative to describe the statement or the existing picture. The purpose of this study is to get understanding about image and text message illustrated on the back of the truck. The conclusion is that every writing and illustration illustrated in the truck has its own purpose which leads to the attention and criticism of the society towards the development of the era so that the meaning becomes part of the representation of some people who live on the streets.Keywords : image; text message;  truck; connotation; denotation
SISTEM WAKAF DAN KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI DI ISTANBUL PADA MASA USMANI KLASIK Frial Ramadhan Supratman
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.5769

Abstract

Artikel ini membahas manajemen dan aplikasi sistem wakaf pada periode kekuasaan Usmani pada masa klasik (1453-1600). Kota Istanbul di Turki dipilih sebagai studi kasus karena kota ini merupakan kota yang sangat berperan penting dalam jalannya sejarah Islam dan global pada periode modern awal. Istanbul menjadi kota yang menengahi peradaban Islam dan Barat, sekaligus sebagai lalu lintas ekonomi antara Eropa dan Asia. Periode 1453-1600 merupakan periode penting dalam sejarah Usmani, khususnya dalam melihat peran wakaf dalam kehidupan sosial ekonomi. Dalam makalah ini, sistem wakaf memberikan peran penting bagi perkembangan kota Istanbul. Selain itu, Istanbul dan sistem wakafnya tak dapat dipisahkan dari kebijakan politik Usmani untuk menunjukkan legitmasinya sebagai penguasa alam semesta (universal).Kata Kunci: Wakaf, Istanbul, Usmani, sosial, ekonomi
SEJARAH MASUKNYA HABAIB KE INDRAMAYU shaleh afif
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3645

Abstract

            Penelitian terkait Sejarah Masuknya Habaib Ke Indramyu yang dilakukan oleh habaib yang berada di Kabupaten Indramayu serta perannya dalam dakwah agama Islam dalam kurun waktu 1998 sampai 2014. Adapun mayoritas habaib yang berada di Nusantara didominasi berasal dari Hadralmaut dan cukup besar penyebarannya, sementara itu penelitian ini lebih khusus hanya membahas habaib di wilayah Indramayu.Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Kondisi keagamaan di Indramayu serta sejarah masuknya habaib di Indramayu yang tentunya memiliki beragam kegiatan untuk mensyiarkan dakwah Islam, juga menguatkan keislaman masyarakat di Indramayu. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah  metode penelitian sejarah, yaitu penelitian yang mempelajari peristiwa atau kejadian masa lampau berdasarkan jejak-jejak yang dihasilkan, melalui empat tahap yaitu: heuristik  (pengumpulan sumber), kritik (kritik intern dan kritik ektern), interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah).             Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: pertama, kondisi keagaman di Indrmayu sama halnya dengan kondisi keagamaan yang lain yaitu memgang teguh agama Hindu-Budha Kedua, komunitas habaib ini datang dari Hadhramaut (Yaman) pada abad ke 18. Awalnya komunitas habaib yang ada di Indramayu masih tergolong komunitas Arab di Cirebon, akan tetapi pada tahun 1872 komunitas Indramayu memisahkan diri dari komunitas Arab Cirebon, dan menyebar ke seluruh daerah di Indramayu. Meskipun komunitas Arab-Indramayu lebih muda daripada komunitas Arab Cirebon, tetapi komunitas Arab di Indramayu lebih berkembang daripada komunitas Arab di Cirebon.
INTERPRETING DANCING AS SYMBOLS OF FREEDOM IN REMY SYLADO’S NAMAKU MATA HARI FROM ITS PROTAGONIST PERSONALITY Andang Saehu Saehu; Noer Azisi Azisi
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 1 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i1.2441

Abstract

This study interprets the ‘dancing’ as symbols of freedom expressed by a Dutch dancer, Mata Hari (alias Margaretha Geertruida Zelle) in Remy Sylado’s Namaku Mata Hari, a protagonist novel.  The data in this study are sentences or paragraphs containing dancing as symbols of freedom.  Those sentences or paragraphs were collected by conducting library research through reading carefully the novel Namaku Mata Hari, coding each part of the novel showing the dancing as a symbols of freedom and the role of her id, ego and super ego, classifying data into symbols proposed by Hayek’s (1960) and Hospers’ (1984) theories, and analysing the data simultaneously.  The result shows that the dancing as freedom symbols is interpreted in a lot of expressions: dancing expressing her freedom of being life, of taking back her rights, of avoiding Western aesthetic principles, of being peaceful state of mind, of finding her desire, of gaining a deep hypnotic trance, of gaining humanity instead of being prejudice of her nationality, and of avoiding Western civilization.
ETOS KERJA URANG SUNDA: TI BIHARI KA KIWARI Setia Gumilar; Ahmad Sahidin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 2 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i2.6406

Abstract

Dinamika kehidupan di era revolusi industri 4.0 menuntut kesiapan dari berbagi komponen untuk mengahdapinya. Salah satu kesiapannya adalah sikap mental atau etos kerja yang harus dimiliki oleh setiap orang atau sekelompok orang dari sebuah entitas. Penguasaan teknologi menjadi ciri utama dari era ini yang akan memengaruhi terhadap pola interaksi manusia. Berbagai aspek kehidupan akan ditentukan oleh alat-alat teknologi yang supercanggih, bahkan keberadaan manusia pun layaknya sebagai mesin saja. Dampaknya terjadi dehumanisasi, hakekat manusia mengalami disrupsi. Kenyataann ini, menimpa salah satu etnis, yaitu etnis sunda. Oleh karena itu, keberadaan Orang Sunda di era ini sangat ditentukan oleh etos kerja yang dilakukannya. Etos kerja ini sangat dipengaruhi oleh motivasi hidup yang diperankan oleh orang Sunda yang bersumberkan pada pandangan hidupnya. Aspek lain, ditentukan oleh keyakinan yang berkembang di tatar Sunda. Dua aspek inilah yang menenetukan etos kerja orang Sunda Meningkatnya kedua aspek tersebut ditetentukan pula oleh pola pendidikan yang dikembangkan oleh orang Sunda. Pola pendidikan yang bersifat menumbuhkan kesadaran menjadi tawaran bagi problem pendidikan dewasa ini. Selain itu, faktor yang mempengaruhi etos kerja orang sunda, ditentukan oleh aspek-aspek lainnya, yang sifatnya bukan kultur, seperti peraturan formal, ekonomi, dan gaya kepemimpinan yang harus dijadikan perhatian dalam meningkatkan etos kerja. Temuan faktor-faktor inilah yang melengkapi faktor faktor yang mempengaruhi terhadap etos kerja, sebagaimana diutarakan oleh Ajip Rosjidi.Kata Kunci: Revolusi industri 4.0, etos kerja, orang Sunda
IDEOLOGI (DAN) ESTETIKA SENO GUMIRA AJIDARMA: SAKSI MATA DALAM RUANG PERJUMPAAN IDEOLOGIS Moch Zainul Arifin
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3357

Abstract

AbstrakTulisan ini mencoba menguraikan struktur ideologi Seno Gumira Adjidarma dalam Saksi Mata pada masa otoriter Orde Baru. Pisau analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kritik sastra materialisme Terry Eagleton yang mengasumsikan bahwa teks sastra tidak bertindak pasif, tetapi bertindak aktif menentukan proses produksi dan struktur ideologi yang melingkupinya. Dengan demikian, kritik sastra Eagleton melihat karya sastra dari aspek eksternal dan juga aspek internalnya. Berangkat dari hal itu, bagaimana Saksi Mata menawarkan bentuk kritik yang, tentu ideologis, dihadirkan guna mengguncang kekuasaan absolut Orde Baru? Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, struktur ideologi dalam cerpen Saksi Mata meliputi prkatik material eksternal dan internal teks. Aspek eksternal teks merupakan hasil artikulasi dominasi Orde Baru. Untuk itu, Saksi Mata juga tidak luput dari pengaruh mobilisasi Soeharto, akan tetapi Seno dengan Saksi Mata mampu melawan kebijakan tersebut. Kedua, konstruksi internal teks yang sebetulnya ruang perjumpaan dan negosiasi ideologi-ideologi yang ada,  Saksi Mata berupaya menunjukkan kengerian totaliter Orde Baru. Akan tetapi, tentu dalam ruang politik yang represif, kritik dalam semangat kemanusiaan, keadilan dan kebebasan berpendapat ditransfor-masi dan dibungkus dalam cerpen Saksi Mata dengan bangunan satire dan khas komedi, sekaligus mengungkapkan kengeriannya.Kata Kunci: Struktur Ideologi, Estetika, Terry Eagleton
REPRESENTAMEN CINTA DALAM KISAH NABI SULAIMAN DAN RATU SABA’ SURAT AN-NAML (Studi Analisis Semiotika dan Komunikasi Interpersonal) Muhamad Agus Mushodiq
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 15, No 2 (2018): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v15i2.3463

Abstract

AbstractThis paper aims to find the meanings of the signs which are contained in the Prophet Sulaiman and Saba’ Queen story. On the other view, this paper aims to reveal the interpersonal communication process between them that allegedly contain expression of love which ended in marriage. These meanings are analyzed using Peircean semiotics. Peircean semiotics focus of its triadic system, with the result that researcher has to pass three stages of analysis (represntament, object and interpretant) when he interpret the signs, and also this research intended to apply the interpersonal communication theory. After reading Prophet Sulaiman and Saba’ Queen story through Peircean semiotic views and interpersonal communication theory, this research finds some language symbols which are indicated love expressing. Those language symbols –among others- are the application of fiil mabni li majhul qila that implicated meaning of Sulaiman’s hospitable and friendly attitude to Queen Saba’. Direct imperative sentence without harfu nida ya’ implicate Sulaiman’s hope to feel close with Saba’ Queen.  And then, love indication that shown by Saba’ Queen is her positive response to Sulaiman’s letter. As for the Sulaiman’s feeling expression process that explained by al-Quran explicitly are (1) sensing (2) interpreting, (3) feeling, (4) intending, and (5) expressing. Whereas Saba’ Queen’s feeling expression process explained by al-Quran explicitly are (1) sensing and (2) expressing. Keywords: Representament; object; interpersonal communication; sign.

Page 10 of 21 | Total Record : 210