cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
ANALISIS KESETARAAN GENDER DALAM AL-QUR’AN Resky, Muhammad; Ramadhani, Muhammad Syakhil Afkar; Pratama, Yosse Amanda
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19762

Abstract

Banyak sekali terjadi multitafsir terhadap QS. An-Nisa (4): 34 diantaranya yaitu pembenaran pria memiliki posisi lebih tinggi dalam mengingatkan wanita yang berbuat salah. Tidak sedikit pria yang memiliki paradigma patriarki terhadap perempuan. Paradigma tersebut perlu diluruskan melalui analisis kajian berberapa tafsir Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji QS. An-Nisa [34]: 4-7; QS. Adzariyat [51]: 56, QS. Al-A'raf [7]:172, QS. Ali Imron [3]: 195; Al-Ahzab [33]: 35 dari berberapa kitab tafsir yang mu’tabar untuk menjelaskan bahwa Al-Quran tidak menerangkan paradigma patriarki dan matriarki. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa kitab tafsir Al-Qur’an yaitu tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Mishbah, tafsir Jalalain, tafsir Al-Azhar, dan tafsir Ath-Thabari serta beberapa sumber lainnya berupa referensi-referensi hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya Al-Qur’an menjawab keserasian antara pria dan perempuan sebagaimana yang termaktub dalam QS. An-Nisa [34]: 4-7 menjelaskan bahwa perempuan memiliki hak warisan dan mahar, QS. Adzariyat [51]: 56 menjelaskan memiliki seruan perintah yang sama dalam beribadah, QS. Al-A’raf [7]:172 menjelaskan pria dan perempuan memiliki perjanjian primordial tauhid yang sama, QS. Ali Imran [3] ayat 195 yakni pria dan wanita memiliki potensi sama dalam meraih prestasi, Al-Ahzab [33]: 35 menjelaskan bahwa pria dan wanita memiliki keserasian taqwa. Penelitian ini berimplikasi dalam perkembangan paradigma keserasian antara pria dan wanita serta paradigma patriarki dan matriarki dihapuskan.Kata kunci: Al-Qur’an; Kesetaraan Gender; Pria; Perempuan
ALQURAN DAN HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM Siregar, Idris
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19767

Abstract

Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dapat dipisahkan dari peraturan hukum. Sebagai umat beragama sudah seharusnya mengikuti perintah hukum yang tertuang dalam suatu ajaran, sebagaimana islam juga mempunyai aturan dan hukumyang harus ditaati oleh pemeluknya. Sumber hukum dala islam adalah Al-quran dan Sunnah,kalam  Allah dan Sunnah Nabi yang menjadi landasan utama dalam ajaran islam. Pemehaman terhadap kedua sumber hukum ini penting karena tidak dapat dipisahkan satu sama lain, terdapat keterkaitan antara keduanya dalam menjelaskan hukum yang berlaku dalam islam. Maka sudah sepantasnya pemahaman kedua sumberhukum itu menjadi hal yang utama, jika terjadi kesalahan pemahaman diantara keduanya maka akan merusak keberadaan sumber hukum tersebut. Dengan memahami sumber hukum yaitu Al-quran dan Hadis, maka kita akan mendapatkan petunjuk hukum yang sesuai dengan tuntutan syariat dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Tulisan ini memeparkan eksistensi antara kedua hukum Islam tersebut dalam penerapannya dalam masyarakat majemuk, dengan menggunakan metode tematik.Kata Kunci: Al-quran dan Hadis, Sumber Hukum Islam, Hukum Islam
TASAWUF DALAM PANDANGAN AL-QURAN DAN SUNNAH Siregar, Novalia Suriani; Aini, Khopipah; Jannah, Miftahul; Al Azhari, Fadhiel Akbar; Rambe, Anas Sofnur Zailani
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19758

Abstract

Artikel ini berkaitan dengan Tasawwuf dalam pandangan al-Qur’an dan Sunnah. Permasalahan yang hendak dijawab adalah bagaimana hakikat al-Quran dan Sunnah dalam perspektif Tasawuf. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah menelusuri dokumen, terutama pandangan para sufi tentang hakikat kalamullah dan beberapa ayat al-Qur’an yang dilakukan oleh para sufi.  Metode sspenelitian menunjukan bahwa kalamullah adalah bagian dari sifat Allah yang tidak tepisahkan dari zatnya sejak zaman Azali dan al-Qur’an yang dibaca saat ini merupakan lambang dari kalamullah yang diterima oleh  Nabi Muhammad SAW. Adapun pandangan tasawuf tentang makna al-Quran terbagi kepada dua hal, yaitu mengungkap mursalin ilyas, al-Quran dan Hadis dalam makna sesuai hakikat yang sebenarnya, dan memunculkan makna dengan tujuan untuk membimbing para salik untuk mencapai makrifatullah.Kata kunci : Tasawuf, mursalin ilyas, al-Quran, Hadis, Sufi, salik, makrifatullah
PENDIDIKAN KELUARGA DI ERA DIGITAL PERSPETIF AL-QUR’AN SURAH AL-TAHRIM/66 AYAT 6 Abrori, Faisol
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19763

Abstract

Dalam hal ini keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak karena pertama kali anak menerima transfer ilmu ada di lingkungan keluarga, maka dapat dipahami bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Era digital saat ini menjadi tanggung jawab besar bagi keluarga karena era digital tidak hanya membawa hal-hal positif ke tangan keluarga, tetapi juga dirasakan bahwa digitalisasi menjadi ancaman bagi keluarga. agar anak-anak yang bertanggung jawab dapat tumbuh dewasa tanpa terpengaruh oleh aspek negatif dunia digital saat ini Fokus tulisan ini adalah pada pendidikan keluarga di era perspektif digital al-Qur'an surah Al-Tahrim Ayat 6.Kata Kunci: Pendidikan keluarga, era-Digital, surah al-tahrim ayat 6.
Analisis Kalimat Istifha>m dalam QS. At-Ti>n Ayat 8: Studi Semiotika Charles Sanders Peirce Ashri, Zainul
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19754

Abstract

Kalimat istifha>m tidak selamanya diartikan sebagai kalimat pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Namun sebaliknya, kalimat tanya bisa beralihfungsi menjadi kalimat perintah, kalimat berita dan kalimat larangan. Dalam ilmu balaghah, kalimat tanya seperti ini masuk dalam klasifikasi kalimat istifha>m majazi. Hal yang menjadi polemik dalam dunia akademik ketika ilmu balaghah tidak bisa menjelaskan perubuhan fungsi kalimat dengan lebih jelas, hanya sekedar memberikan teori bila ada partikel kalimat tanya seperti kata “hamzah” atau “hal” dalam suatu ayat. Oleh sebab itu, tulisan ini ingin menggali lebih detail lagi penyebab pengalihfungsian kalimat istifha>m dengan metode semiotika Peirce. Di mana konsep semiotika Peirce merupakan proses penafsiran yang berasal dari proses semiosis obyek dan representament yang nantinya akan menghasilkan interpretant. Dengan konsep semiotika Peirce, tulisan ini fokus dalam menggali interpretant dari katlimat istifha>m pada QS. At-Ti>n ayat 8.Dengan menggunakan studi kepustakaan, dan analisis-deskriptif hasil penelitian ini menunjukkan, QS. At-Ti>n ayat 8 sebagai salah satu contoh kalimat istifha>m bila dikaji dengan teori semiotika Peirce akan mendapati tiga interpretasi, pertama, kalimat istifha>m pada ayat tersebut termasuk dalam kalimat tanya kovirmatif yang sifatnya potensial yang masih menunggu konvirmasi dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kedua, kaliamat istifha>m termasuk dalam istifha>m majazi yang memberikan makna pernyataan dan sifatnya faktual, kefaktualannya sudah diakui dalam ilmu balaghah, dan Ketiga, sebagai penegasan bahwa hakim dan keadilan yang paling adil didapati dari Allah Swt, di mana hal ini bersifat konvensional yang didapati dari proses semiosis obyek dan representament ayat-ayat sebelumnya.Kata Kunci: Kalimat Istifha>m, Semiotika Carles Sanders Peirce.
AL-QIRA>’A>T AL-‘ASHRAH: SEJARAH, KEDUDUKAN DAN KARAKTERISTIKNYA Basri, Ahmad Faizal
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.19770

Abstract

Qira>’a>t al-‘Ashrah adalah qira>’ah mutawa>tir, meskipun tiga terakhir yakni Ya’qu>b (130-205 H), Khlaf (150-227 H) dan Abu> Ja’far (...-128 H) ada yang mempermasalahkannya, tetapi menurut pendapat yang sah adalah mutawa>tir. Kesepuluh imam qira>’a>t termasuk yang tiga terakhir telah dinyatakan kemutawatirannya. Sedangkan selebihnya telah dinyatakan kesha>dznya. Jika ditarik ke sejarah qira>’ah, tentu sangat  diperdebatan. Adapun qira>’ah sab’ah yang dikaitkan dengan sab’ah ah{ruf  adalah pernyataan yang keliru. Sebab sab’ah pada kata ah{ruf itu merupakan peluang kemudahan bagi yang sulit membaca al-Qur’an, karena faktor usia, orang yang tidak mampu, atau anak kecil. Sedangkan qira>’ah yang berkembang setelah adanya mus}h}f Uthma>ni> itu terkait bacaan terhadap mus{h{af yang telah disepakati bersama akan kemutawa>tirannya, hanya saja mus{h{af tersebut tidak ada titik untuk membedakan ra>’ dengan za>y dan harakat untuk membedakan fath{ah dengan kas{rah dan lain sebagainya, sehingga timbul perbedaan bacaan dengan catatan tidak menyalahi dari antara mus}h}af-mus}h}af yang telah disepakati dan diriwayatkan dengan riwayat yang s{ah{i>h{..Kata Kunci: Qira>’a>t Ashrah, Sejarah, Kedudukan dan Karakteristik
ISA AL-MASIH SEBAGAI RUHUL KUDUS DALAM ALQURAN (ANALISIS TAFSIR AL-AZHAR KARYA BUYA HAMKA) Hasibuan, Muhammad Fakih; Arifinsyah, Arifinsyah; Wanto, Sugeng
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19759

Abstract

Isa Al Masih / Yesus Kristus, kisah penyalibannya menurut Kristen dan Islammemilikihistorisyangberbeda-beda.UmatKristianimeyakinibahwaIsaAlMasihmeninggaldalamkeadaandisalibkarenaberkaitandengandoktrinpengampunandosa-dosayangturuntemurundiwariskanolehAdamdanHawa kepadasemuaumatmanusia.SedangumatIslam,menjadiduakubudalammenyikapiapakahNabiIsaAStelah wafatatau masihhidup.BuyaHamka,seorang mufassir Muslim dari Indonesia memiliki pendapat bahwa Isa Al Masihtidak disalib dantidakterbunuh.Fokuspenelitiandalamskripsiiniuntukmendalami1)ApaituRuhulQudus?;2)BagaimanaprofilBuyaHamka?;3)BagaimanapenafsiranBuyaHamkaterhadapayatpenyalibandankematianIsa AlMasihdalamAlquran?;Penelitianinimerupakanjenispenelitiankepustakaan(libraryresearch),dimana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan yang berkaitan denganpermasalahan penyaliban IsaAl Masihdalam Alquran (studi tafsir al-Azhar).Adapun bentuk penyajian datanya adalah dengan deskriptif-kualitatif metodologitafsirmenggunakan metodeanalisisisi.Hasil temuan menunjukkan bahwa peristiwa kelahiran Isa AlMasih merupakanperistiwamukjizatdariTuhanpenciptaAlam.IsaAl-Masihdilahirkanolehseorang perempuan suci, Maryam binti Imran. Kehamilannya melalui tiupan ruholeh malaikat Jibril. Eksistensi Isa Al-Masih sebagai rasul atau Tuhan, menurutAlquran, Isa al-Masih adalah utusan Allah SWT,yang datang kepada bangsaIsraeluntukmenggenapifirmanAllahSWT,yangadadidalamkitabTauratsebelum Injil. Lain halnya dengan kitab Injil menjelaskan tentang Isa / Yesus,merupakanoknumAllahyanghadirmenjelmamenjadimanusiadantinggalbersamabangsaIsrael.MerekayakinkedatanganYesusakanmembawakedamaian dan penebusan dosa bagi bangsa Israel, untuk membuktikan yesusadalahtuhan,merekahendakmembunuhdanmenyalibkannya,setelahkematianya diatas kayu salib Yesus hidup dan mendatangi murid-muridnya, agarmemberitakankabargembiradarikerajaantuhan dilangit.KataKunci:Isaal-Masih,RuhulKudus,BuyaHamka.Isa Al Masih / Yesus Kristus, kisah penyalibannya menurut Kristen dan Islammemilikihistorisyangberbeda-beda.UmatKristianimeyakinibahwaIsaAlMasihmeninggaldalamkeadaandisalibkarenaberkaitandengandoktrinpengampunandosa-dosayangturuntemurundiwariskanolehAdamdanHawa kepadasemuaumatmanusia.SedangumatIslam,menjadiduakubudalammenyikapiapakahNabiIsaAStelah wafatatau masihhidup.BuyaHamka,seorang mufassir Muslim dari Indonesia memiliki pendapat bahwa Isa Al Masihtidak disalib dantidakterbunuh.Fokuspenelitiandalamskripsiiniuntukmendalami1)ApaituRuhulQudus?;2)BagaimanaprofilBuyaHamka?;3)BagaimanapenafsiranBuyaHamkaterhadapayatpenyalibandankematianIsa AlMasihdalamAlquran?;Penelitianinimerupakanjenispenelitiankepustakaan(libraryresearch),dimana data-data yang dipakai adalah data kepustakaan yang berkaitan denganpermasalahan penyaliban IsaAl Masihdalam Alquran (studi tafsir al-Azhar).Adapun bentuk penyajian datanya adalah dengan deskriptif-kualitatif metodologitafsirmenggunakan metodeanalisisisi.Hasil temuan menunjukkan bahwa peristiwa kelahiran Isa AlMasih merupakanperistiwamukjizatdariTuhanpenciptaAlam.IsaAl-Masihdilahirkanolehseorang perempuan suci, Maryam binti Imran. Kehamilannya melalui tiupan ruholeh malaikat Jibril. Eksistensi Isa Al-Masih sebagai rasul atau Tuhan, menurutAlquran, Isa al-Masih adalah utusan Allah SWT,yang datang kepada bangsaIsraeluntukmenggenapifirmanAllahSWT,yangadadidalamkitabTauratsebelum Injil. Lain halnya dengan kitab Injil menjelaskan tentang Isa / Yesus,merupakanoknumAllahyanghadirmenjelmamenjadimanusiadantinggalbersamabangsaIsrael.MerekayakinkedatanganYesusakanmembawakedamaian dan penebusan dosa bagi bangsa Israel, untuk membuktikan yesusadalahtuhan,merekahendakmembunuhdanmenyalibkannya,setelahkematianya diatas kayu salib Yesus hidup dan mendatangi murid-muridnya, agarmemberitakankabargembiradarikerajaantuhan dilangit.KataKunci:Isaal-Masih,RuhulKudus,BuyaHamka.
METODE PENYAMPAIAN PESAN DAKWAH DALAM AL-QUR’AN : ANALISIS AL-QUR’AN SURAH AN-NAHL AYAT 125 Zahraini, Siti; Andrian, Bob
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19764

Abstract

Penyampaian pesan atau biasa disebut dengan dakwah merupakan seruan atau ajakan untuk ummat agar berdiri di jalan yang benar, yang di ridhoi oleh Allah SWT, dalam Q.S An-Nahl dijelaskan mengenai tiga metode atau cara menyampaikan pesan yang seharusnya dilakukan oleh pendakwah, dari beberapa metode tersebut haruslah ditempatkan sesuai dengan kondisi para pendengar kita, sebab jika kita salah meletakan metode tersebut maka pesan yang ingin kita sampaikan tidak akan terasa bagi si pendengar dan mereka juga akan bisa meragukan kita, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif serta juga menggunakan studi pustaka (library research) dalam mengambil sumber-sumber yang terkait guna mempertegas gagasan yang ada di dalamnya, tulisan ini berusaha menjelaskan mengenai beberapa metode dalam menyampaikan pesan yang terdapat pada surah An-Nahl dan juga menjelaskan mengenai beberapa pengertian dari kitab tafsir terkait dengan surah An-Nahl : 125. Kata Kunci : Metode, Penyampaian pesan, Qur’an Surah An-Nahl:125
Generasi Rabbani: Kearifan Al-Qur’an dan Kebangkitan Kepemimpinan Moral Melawan Fenomena Public Enemy Sulistyarini, Angger
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19755

Abstract

Generasi rabbani adalah kelompok individu yang muncul sebagai respons terhadap berbagai fenomena "public enemy" yang mengancam ketertiban sosial dan moral dalam masyarakat. Mereka memandang al-Qur’an sebagai sumber utama panduan dalam membangun kepemimpinan moral yang kuat. Dalam menghadapi tantangan zaman, generasi rabbani menggali kearifan al-Qur’an untuk mengembangkan strategi pemimpin moral yang efektif. Penelitian ini akan mengulas peran penting al-Qur’an dalam membentuk karakter dan kepemimpinan moral generasi rabbani. Selain itu, akan dibahas upaya mereka dalam menghadapi berbagai fenomena "public enemy," seperti korupsi, kekerasan, dan degradasi moral, melalui penerapan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, generasi rabbani berusaha memperkuat fondasi moral masyarakat, menginspirasi perubahan positif, dan merintis jalan menuju kebangkitan kepemimpinan moral yang berkelanjutan.Kata Kunci: Generasi rabbani, kepemimpinan moral, public enemy
TAFSIR AYAT-AYAT PERNIKAHAN DALAM AL-QUR’AN Baihaqi, Nurun Nisaa
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.19771

Abstract

Konsep pernikahan telah banyak dibahas dalam Al-Qur’an dengan menggunakan terma yang beragam. Artikel ini secara spesifik menelusuri penafsiran para mufasir tentang ayat-ayat yang secara keseluruhan menyinggung soal pernikahan. Untuk memperoleh hasilnya, penelitian ini mengunakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pernikahan dalam Al-Qur’an yaitu: pertama, bermakna denotasi dengan terma An-nikāḥ dan bermakna konotasi dengan terma Az-zauj, istimtā’, mīṡāqan galīẓan dan ‘aqadat aymānukum. Kedua, konsep pernikahan dalam Al-Qur’an adalah (a) Az-zauj atau at-tazwīj (menikah dan menikahkan) berupa akad nikah / ijab qabul, ada mahar, wali, saksi, dan lainnya. (b) Adanya al-jimā’ atau hubungan suami istri. (c) Mencapai al-ḥulm yaitu telah bermimpi atau keduanya mencapai usia balig). (d) Menikah berarti telah az-zauj atau berpasangan, yaitu telah beristri atau bersuami agar keduanya merasa sakinah mawaddah wa raḥmah. (e) Menikah berarti memiliki teman sejawat atau pendamping hidup. (f) Adanya istimtā’ atau saling merasakan kenikmatan sehingga suami wajib memberi mut’ah dan nafkah kepada istri. (g) Adanya mīṡāqan galīẓan berupa perjanjian yang diterima perempuan dari laki-laki sebagai fitrah. (h) Adanya ‘aqadat aymānukum yaitu janji setia antar suami istri.Kata kunci: Tafsir, Ayat-Ayat Nikah, Denotasi, Konotasi

Page 8 of 11 | Total Record : 106