cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
KOLERASI ALQUR’AN DENGAN HADIS Siregar, Idris
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19760

Abstract

Al-Qur’an dan Hadits tidak lain adalah sumber hukum utama yang tidak dapat disangkal: juga memiliki hubungan simbiosis antara satu sama lain dalam menentukan diktum hukum. Artikel ini akan menguraikan tujuan hubungan mereka. Setidaknya ada empat masalah yang harus diungkap: kasus terminologi al-Qur’an dan Hadits, hierarki keduanya, fungsi Hadits terhadap al-Qur’an, dan penjelasan Hadits terhadap al-Qur’an. Di dalam Al-quran terdapat peraturan-peraturan seperti beribadah langsung kepada Allah, berkeluarga, bermasyarakat, berdagang. utang-piutang, kewarisan, pendidikan dan pengajaran, pidana, dan aspek- aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu. Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. Istilah hadis ini biasanya mengacu pada segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Berupa sabda, perbuatan, persetujuan. Salah satu disiplin ilmu yang mengkaji tentang hadis, perawi, sanad, asbabulwurud, adalah Ilmu hadis. Tahap perkembangan ilmu hadis. Banyak terjadi permasalahan baik itu karena faktor internal maupun faktor eksternal. Penelitian ini menggunakan Metode Pendekatan kualitatif yang digunakan peneliti adalah penelitian kepustakaan. Kegiatan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data perpustakaan.Menurut Abdul Rahman Sholeh, penelitian kepustakaan adalah penelitian yang menggunakan metode pencarian web untuk mengambil informasi perpustakaan seperti buku, makalah penelitian, jurnal, laporan sejarah, buku penelitian rumah, dan lain-lain. Berhubungan dengan barang murni. Perpustakaan penelitian memiliki.  Kesimpulannya dalam penelitian ini adalah Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur’an menjadi tiga kemungkinan, yaitu Al-l ladits mempunyai fungsi memperkuat dan mengokohkan kembali apa yang pernah ditetapkan al-Qur’an.Kata Kunci: Al-Qur’an, Hadis dan Kolerasi
BUGHAT DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Studi Komparasi Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah Karya Quraish Shihab) Walikhsan, Adli; Simamora, Nur Aisah; Akhyar, Sayed
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19765

Abstract

Bughat Dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Komparasi Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah Karya Quraish Shihab)” ini adalah hasil penelitian kepustakaan yang ditujukan untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar bagaimana makna bughat dalam Al- Qur’an, bagaimana Buya Hamka dan Quraish Shihab memakna bughat dalam Al- Qur’an, serta apa pengaruh bughat terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat. Data dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian kualitatif, yaitu data dikumpulkan dan dikutip dengan cara menganalisis pendekatan ilmu tafsir. Pendekatan ini menggunakan metode komparasi (perbandingan) antar dua Mufassir yaitu Buya Hamka dan Quraish Shihab. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah ayat Al-Qur’an dengan menjadikan QS. Al-Hujurat ayat 9 sebagai objek kajian utama ditambah dengan ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’an.Dari penelitian ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, bughat adalah suatu tindakan yang melampaui batas dan zalim yang dilakukan oleh individu maupun golongan atau kelompok. Topik dari penelitian ini merupakan topik yang sangat penting untuk dikaji karena jika tidak dipahami dengan sistematis maka akan menjadi fatal serta bibit-bibit kekerasan terhadap negara dan agama muncul. Selanjutnya dua Mufassir ini memberikan penafsiran tentang makna bughat tidak jauh berbeda karena corak tafsir yang merka gunakan adalah adabi ijtima’i. Buya Hamka menafsirkan bughat yaitu orang yang menganiaya. Sedangkan Quraish Shihab menafsirkan bughat yaitu individu atau kelompok yang berbuat melampaui batas, melanggar hukum dan berusaha merebut kekuasaan. Ayat Al-Qur’an ketika membicarakan tentang bughat bukan hanya sebatas perihal tentang politik dan kekuasaan saja. Namun, juga masalah sosial kemasyarakatan, hukum, budaya, ekonomi bahkan seluruh aspek. Hal tersebut membuktikan bahwa ruang lingkup bughat sangat luas dan sangat berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan dalam bermasyarakat. Sehingga perlu menjadi perhatian agar tidak terjadi konflik sosial seperti ini ditengah masyarakat.Kata Kunci : Bughat, Perspektif, Al-Qur,an
Hubungan Al-Ins dan Al- Jinn dalam Perspektif Al-Qur’an Umam, Reza Wasilul; Soleh, Achmad Khudori
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19756

Abstract

Allah SWT dalam menciptakan makhluk, ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Di antara makhluk yang tampak ialah manusia, sedangkan makhluk yang tidak tampak ialah jin. Al-Qur‟an sendiri memberi perhatian yang besar terhadap jin dan manusia, terbukti banyak ayat yang menyebut kedua kata tersebut dan menjelaskan haliyah kedua makhluk tersebut. Selain itu, kedua kata tersebut dijadikan salah satu nama surat dalam al-Qur’an. Lebih-lebih jin sebagai makhluk gaib yang setiap orang bertakwa wajib mempercayainya. Kajian ini sangatlah penting untuk dipelajari lebih dalam karena merupakan hal yang harus diyakini dan dibedakan anatara fungsi manusia dan jin dimuka bumi. Tujan penelitian ini adalah melihat secara seksama hubungan antara jin dan manusia (lafadz al-ins dan al-jin) didalam al-Quran yang sering digadengkan. Metode yang digunakan dalam penelitian  ini adalah metode penelitian kepustakaan dengan menggunakan Al-ur’an dan tafsir sebagai rujukan utama dan jurnal penelitian terdahulu sebagai tambahan informasi. Hasil dari penelitian ini adalah (1) jin dan manusia merupakan makhaluk allah yang memiliki tugas yang sama dengan berbagai hubungan dan persamaan-persamaan sifat dari jin dan manusia. (2) manusia adalah makhluk allah yang sempura dengan dibekali akal dan menjalankan tugas sebagai khalifah dibumi. (3) jin adalah mahluk Allah yang akan menjadi penggiring manusia untuk lengah terhadap perintah Allah sampai hari kiamat.   Keywords: Jin, Manusia, Al-Qur’an
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR BI AL-MA’TSUR DARI MASA RASULULLAH HINGGA MASA TABI’ TABI’IN Said, Hasani Ahmad; Alfarabi, Ahmad Syah; Maliki, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatu Qodir
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.19772

Abstract

Penafsiran al-Qur’an sudah terjadi pada saat zaman Nabi Muhammad masih hidup. Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah kemudian disampaikan kepada para sahabat, hal tersebut sama ketika Nabi Muhammad menyampaikan tafsir suatu ayat tertentu kepada para sahabat dan adapula sahabat yang menanyakan maksud dari suatu ayat tertentu, kemudian Nabi Muhammad menjawabnya. Setelah Nabi Muhammad wafat, perkembangan tafsir kemudian berlanjut pada masa sahabat, tabi’in dan seterusnya, dengan metode al-Qur’an, hadits dan ijtihad sahabat, karena sumber utamanya sudah tiada. Tafsir pada masa sahabat inilah mulai mengalami perkembangan yang signifikan, karena para sahabat mulai mencari penjelasan-penjelasan al-Qur’an berdasarkan penjelasan Nabi Muhammad, baik itu berasal dari al-Qur’an ataupun dari hadits-hadits, jika tidak ditemukan tafsirnya, maka para sahabat melakukan ijtihad. Perkembangan tafsir selanjutnya pada masa tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in.  Kata kunci: Tafsir bi Al-Ma’sur, al-Qur’an, Sejarah Tafsir, Perkembangan Tafsir.
TAFSIR QUR’AN PERSPEKTIF ASBABUN NUZUL DALAM HUKUM KELUARGA ISLAM (TEORI DAN APLIKASINYA) Saputra, Gusti Rian
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19761

Abstract

KEMENPPPA RI menyebut poligami sebagai praktik yang merugikan perempuan dan tidak sejalan dengan syari’at Islam. Tentu pernyataan ini bertentangan dengan pandangan umum yang memandang bahwa poligami sebagai sunnah. Selain karena dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, poligami dimaknai sebagai bentuk perlindungan, kasih sayang dan penyelamatan perempuan, khususnya para janda yang ditinggal mati suaminya. Namun, ulama berbeda pendapat menganai hal ini, sebab terjadi perbedaan zaman dan perubahan kondisi. Sehingga banyak tafsir yang melahirkan produk hukum berbeda-beda tentang poligami. Dalam artikel ini akan meninjau perkara poligami dari perspektif asbabun nuzul tafsir ayat tentang poligami, yakni surah an-Nisa ayat 3. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif hukum dan metode studi literatur. Jenis penelitian library research dan telaah pustaka yang sesuai dengan topik terkait.Kata Kunci : asbabun nuzul, poligami, hukum.
ANALISIS KRITERIA PEMIMPIN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN: KAJIAN TEMATIK TERHADAP AYAT-AYAT TENTANG PEMIMPIN IDEAL Simamora, Mauizah Hasanah; Simbolon, Jelita; Wildani, Lutfi Kurmia
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 7, No 2 (2024): JULI - DESEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v7i2.22897

Abstract

Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam membangun masyarkat yang adil, dan sejatera. Al-Qur’an sebagai pedoman utama bagi umat islam memberikan penduan yang jelas tentang kriteria kepemimpinan dalam Al-Qur’an dengan menyoroti sifat, karakteristik, dan nilai-nilai utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Kajian ini menggunkan pendekatan kulaitatif dengan metode tafsir tematik, yang mnegumpulkan dan menganalisis ayat-ayat terkait kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menekankan pentingnya keadilan, integritas, kecakapan intelektual, dan spiritual sebagai kriteria utama seorang pemimpin. Selain itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat amanah, kemampuan mengambil keputusan yang bijkasan dan komitmen terhadap kepentingan bersama. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kepemimpinan dalam Al-Qur’an bukan hanya tentang otoritas, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan sosial. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam memahami konsep kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam konteks modern, baik ditingkat individu, organisasi maupun pemerintahan.
UPAYA MENJAGA KESEHATAN FISIK DENGAN MENGKONSUMSI MAKANAN HALAL DAN THAYYIB BERLANDASKAN QS. AL-BAQARAH AYAT 168 Rahmah, Syefika Septia; Hasibuan, Umro Lania; Khodijah, Ummi
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 7, No 1 (2024): JANUARI - JUNI
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v7i1.22551

Abstract

Terkait dengan penelitian ini menunjukkan akan pentingnya untuk selalu memelihara dan menjaga kesehatan fisik manusia dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib agar terhindar dari penyakit sesuai dengan apa yang di lampirkan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an Al-Karim pada QS.Al-Baqarah ayat 168, dengan beberapa upaya yang harus dilakukan dalam memelihara dan menjaga kesehatan dari makanan yang tidak baik/haram. Pendekatan dalam peneltian ini menggunakan pendekatan berbentuk kualitatif, mengenai penelitian terdahulu relevan banyak ditemukan membahas tentang keterapan, kekorelasiaan, kekonseppan, keperintahan, kependidikan, kekandungan, dan masih banyak lagi yang tidak sama dengan tulisan yang ingin dituangkan ini, berbeda dengan  penelitian-penelitian sebelumnya. penelitian ini menghadirkan bagaimana cara upaya-upaya yang dilakukan dalam memelihara dan menjaga kesehatan dari makanan yang haram untuk dimakan. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah manusia benar-benar wajib dan harus melakukan upaya-upaya yang telah penulis sebutkan didalam pembahasan ini jangan hanya tau saja dan tetap beritikad untuk terus melakukannya akan tetapi berusaha dan berupaya wajib dilaksanakan dan diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari dengan makanan halal/baik yang telah masuk kedalam tubuh menjadikan hidup ini berkah untuk dijalani dan terhindarnya dari penyakit.
KESEIMBANGAN PERAN PEREMPUAN SEBAGAI IBU DAN PEKERJA: TINJAUAN KOMPREHENSIF DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADIS Siregar, Rois Hamid; Harahap, Alwi Padly
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 7, No 2 (2024): JULI - DESEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v7i2.22741

Abstract

Keseimbangan peran perempuan sebagai ibu dan pekerja merupakan isu yang semakin relevan di era modern ini. Di satu sisi, perempuan dihadapkan pada tuntutan untuk menjalankan tugas mulia sebagai ibu, sementara di sisi lain, mereka juga memiliki peran signifikan dalam dunia pekerjaan. Fenomena ini menimbulkan tantangan terkait pembagian waktu, energi, dan peran sosial, yang memerlukan pemahaman lebih dalam dari perspektif agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keseimbangan peran perempuan sebagai ibu dan pekerja dalam perspektif Al-Quran dan hadis, dengan mengidentifikasi prinsip-prinsip yang dapat memberikan panduan bagi perempuan dalam mengelola peran ganda tersebut. Metode yang digunakan adalah kajian literatur, dengan analisis terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan hak dan kewajiban perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Quran dan hadis menekankan pentingnya perempuan sebagai ibu yang memiliki hak-hak tertentu, namun juga memberikan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam masyarakat melalui pekerjaan. Keseimbangan ini dapat tercapai dengan komitmen terhadap tanggung jawab keluarga dan penggunaan waktu secara bijaksana. Kesimpulannya, perempuan dalam Islam diberi kebebasan untuk berperan sebagai pekerja tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu, dengan syarat memenuhi kewajiban agama dan sosial secara adil.
RIBA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN: ANALISIS AYAT-AYAT LARANGAN DAN DAMPAKNYA Pangindra, Rigel Almayfadri; Kamil, Rahadian; Ashsiddiqqy, Ashsiddiqqy; Alkani, Daffa Dhiyaulhaq; Rinaldy, Rakha Nasywa
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 7, No 2 (2024): JULI - DESEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v7i2.22899

Abstract

Konsep riba dalam perspektif Al-Qur'an, khususnya melalui analisis ayat-ayat yang melarang praktik riba beserta dampak negatifnya terhadap individu dan masyarakat. Riba, yang secara etimologis berarti "tambahan" atau "pertumbuhan", dilarang keras dalam Islam karena dianggap merugikan pihak yang meminjam dan mengganggu keadilan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir dan metode analisis konten dengan mengkaji ayat-ayat riba dalam  surah Al-Baqarah. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik riba menimbulkan ketidakseimbangan ekonomi, memperburuk kesenjangan sosial, serta menciptakan kondisi ketidakpastian dan kegelisahan bagi para pelakunya. Ayat-ayat Al-Qur'an menggarisbawahi bahwa riba tidak hanya berdampak pada pelanggaran spiritual, tetapi juga membawa kerusakan ekonomi dan sosial yang meluas. Dampak riba yang merugikan masyarakat meliputi kerusakan moral, peningkatan kemiskinan, dan perselisihan antarsesama. Sebagai solusi, Al-Qur'an mengarahkan umat Islam untuk menjauhi riba dan menganjurkan sedekah sebagai bentuk transaksi yang lebih berkah. Kajian ini menyimpulkan pentingnya penerapan sistem ekonomi tanpa riba untuk mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan dalam masyarakat.
MAKNA “LAKUM DINUKUM WALIYADIN” DALAM QS. AL-KAFIRUN AYAT 6: STUDI KOMPARATIF TAFSIR IBNU KATSIR DAN TAFSIR AL-MISBAH Indriani, Indriani; Hilira, Liliana Maqna; Mutiara, Mutiara; Khairani, Yuni
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 7, No 1 (2024): JANUARI - JUNI
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v7i1.22697

Abstract

Penelitian ini berangkat dari urgensi menjaga toleransi dalam masyarakat pluralistik, terutama di Indonesia yang memiliki populasi mayoritas muslim terbesar di dunia. QS. Al-Kafirun ayat 6 sering menjadi rujukan dalam membangun toleransi, dengan tafsir yang beragam antara pendekatan klasik dan kontemporer. Namun, kajian sebelumnya jarang membahas perbandingan mendalam antara tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir al Misbah  dari dua periode tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, dengan analisis komparatif terhadap Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Data dianalisis untuk memahami perbedaan metode dan konteks sosial yang memengaruhi kedua tafsir tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Ibnu Katsir lebih menekankan aspek teologis, menjaga kemurnian akidah, serta menghindari kompromi keyakinan dalam berinteraksi dengan non-muslim. Sebaliknya, Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab juga menekankan relevansi sosial ayat dalam membangun harmoni masyarakat yang modern, dengan fokus pada nilai-nilai toleransi, antiradikalisme, dan pentingnya dialog antarumat beragama. Pendekatan ini menjadikan ayat lebih aplikatif untuk menghadapi tantangan zaman pada saat ini. QS. Al-Kafirun ayat 6 tidak hanya menjadi landasan teologis untuk menjaga tauhid, tetapi juga menjadi panduan dalam membangun hubungan harmonis di masyarakat majemuk. Pendekatan tafsir kontemporer sangat relevan dalam menjawab isu-isu modern, seperti konflik agama, radikalisme, dan kebutuhan akan hidup berdampingan secara damai tanpa mengabaikan prinsip-prinsip Islam.

Page 9 of 11 | Total Record : 106