cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Eskatologi Abdul Fatah
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi tentang alam metafisika merupakan salah satu kajian yang rumit dan kaku. Dalam keyakinan Islam, kehidupan setelah kematian menjadi semacam suatu doktrin. Iman terhadap hal-hal gaib yang berkaitan erat dengan kehidupan akhirat adalah wajib. Persoalan mengenai kehidupan pasca kematian, alam barzakh, perhitungan amal dan hari pembalasan yang ditutup dengan hari akhir selalu terbuka untuk dikaji lebih dalam di era sekarang. Fazlur Rahman mencoba melihat eskatologi dari perspektif berbeda yang dikaitkan langsung dengan al-Qur’an. Karena pentingnya, Ia menjadikannya sebagai kajian tersendiri dalam satu tema penting bukunya, Major Themes of The Quran. Sehingga, eskatologi menjadi satu keilmuan penting untuk dikaji sebagai bekal muslim untuk mencapai tujuan hakiki, berupa kebahagiaan abadi di akhirat.Kata Kunci: Eskatologi, Pemikiran, Metafisika, Fazlur Rahman.
Al-Qira>’a>t Al-‘Ashrah: Sejarah, Kedudukan dan Karakteristiknya Ahmad Faizal Basri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i2.11623

Abstract

الملخصالقراءات العشرة هي القراءات المتواترة ولوكانت الثلاثة الأخرى مختلفة على اطلاق صحتها يعني امام يعقوب (130-205) وامام خلف (150-227) وامام ابو جعفر (...-128) بل عند الرأي الصحيح صحتها بالمتواترة. هؤلاء العشرة متفقة بالقراءات المتواترة وإنّ الباقي متفق بالقراءات الشاذات. واذا يطلع التاريخي فيوجد البحث الدقيق بل كانت التعارض بين الناس وانما القراءات السبعة المتعلقة بسبعة احرف هى كلام خطاء لأن السبعة المضاف بالأحرف هي التيسير والتسهيل  لمشقة من قرأ بحرف واحد كالشيخ الكبير والعجوز والغلام. وانما القراءات تنمو بعد وجود المصحف العثماني هي متعلقة بوجه قراءة المصحف المتفق على تواتره ولكن ذالك المصحف عدم النطقة تتميز بين الراء والزاي مثلا وبين الحركات تتميز بين الفتحة والكسرة مثلا حتى توجد القراءات المختلفة ولكنه على كون الشرط الا تخالف خط مصاحف العثماني المتفقة والمروي بالرواية الصحيحةالنقاط الحاكمة: القراءات العشرة, التاريخي, المقام, والإختصاصABSTRAKQira>’a>t al-‘Ashrah adalah qira>’ah mutawa>tir, meskipun tiga terakhir yakni Ya’qu>b (130-205 H), Khlaf (150-227 H) dan Abu> Ja’far (...-128 H) ada yang mempermasalahkannya, tetapi menurut pendapat yang sah adalah mutawa>tir. Kesepuluh imam qira>’a>t termasuk yang tiga terakhir telah dinyatakan kemutawatirannya. Sedangkan selebihnya telah dinyatakan kesha>dznya. Jika ditarik ke sejarah qira>’ah, tentu sangat  diperdebatan. Adapun qira>’ah sab’ah yang dikaitkan dengan sab’ah ah{ruf  adalah pernyataan yang keliru. Sebab sab’ah pada kata ah{ruf itu merupakan peluang kemudahan bagi yang sulit membaca al-Qur’an, karena faktor usia, orang yang tidak mampu, atau anak kecil. Sedangkan qira>’ah yang berkembang setelah adanya mus}h}f Uthma>ni> itu terkait bacaan terhadap mus{h{af yang telah disepakati bersama akan kemutawa>tirannya, hanya saja mus{h{af tersebut tidak ada titik untuk membedakan ra>’ dengan za>y dan harakat untuk membedakan fath{ah dengan kas{rah dan lain sebagainya, sehingga timbul perbedaan bacaan dengan catatan tidak menyalahi dari antara mus}h}af-mus}h}af yang telah disepakati dan diriwayatkan dengan riwayat yang s{ah{i>h{..
ANALISIS PEMIKIRIRAN KH. MISBAH MUSTHAFA TENTANG TASAMMUH DALAM TAFSIR AL-IKLĪL FĪ MA’ĀNĪ ALTANZĪL Nasution, Muhammad Roihan; Andy, Safria; Zulkarnain, Zulkarnain
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.15219

Abstract

AbstrakPembahasan toleransi berdasarkan kitab al-Iklil dengan analisis ilmu sosial adalah sebuah langkah maju untuk memperkenalkan bahwa Islam tidak hanya bergulat pada sufisme dan pengalaman mistis semata. Tetapi juga mengakrabkan manusia dengan realitas. Selama ini, agama dianggap mengasingkan manusia dari realitas, seperti pandangan Marx yang menyebut bahwa agama membuat orang hanya bermimpi tentang realitas imajiner, atau Sigmund Freud yang menyebut agama hanya ilusi yang harus dimusnahkan. Setidaknya, dengan pengkajian nilai toleransi dalam tafsir al-Iklil, dapat diketahui bahwa ajaran Islam sangat dekat dengan realitas masyarakat[1] Secara umum, tidak terdapat diksi tasammuh dalam Alquranyang bermakna toleransi. Namun di dalam Alquran, terdapat banyak ayat yang membahas tentang sikap dan cara untuk menjalin interaksi dalam berkehidupan antara umat beragama. Ayat-ayat Alquran akan menjadi pondasi kepada  nilai-nilai tasammuh yang diajarkan oleh Islam melalui kitab sucinya.Penelitian ini, sebagaimana yang disebutkan di atas, terfokus kepada penelaahan terhadap teks-teks tafsir karya ulama besar tanah jawa yaitu Kh. Misbah Musthafa zein dalam tafsir al-Iklil dengan ayat-ayat tasammuh. Sebagaimana kita lihat kajian tentang Tasammuh sangat menarik untuk dikaji. Dari hasil penelaahan, ditemukan beberapa poin penting terkait pondasi toleransi yang telah dikaji berdasar pemikiran beliau.Kata Kunci:  Islam, Sufisme, Tasammuh, Tafsir[1] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid, (Bandung: Mizan, 2001), hlm 98-99.
ANALISIS SEMANTIK UNTSA, IMRA’AHMAR’AH, NISA, ZAUJ, DAN UMMUN DALAM ALQURAN MENURUT BUYA HAMKA aminah, siti; Lubis, Dahlia
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.15221

Abstract

Alquran telah banyak membicarakan perempuan dengan ragam bentuk kata yang merujuk pada makna perempuan dan sesungguhnya Islam juga memberikan perhatian yang besar terhadap kaum perempuan dengan menempatkan mereka pada tempat yang terhormat. Perempuan adalah sosok yang menjadi tauladan bagi sebuah generasi sehingga perlu dipersiapkan secara matang untuk menuju suatu perubahan. Ayat yang berkaitan dengan perempuan lebih dari 200 kali, bahkan secara khusus, ada sebuah surah perempuan, bernama surah an-Nisa, sebagai bentuk jamak dari kata al Mar’ah. Alquran dalam masalah derajat kemanusiaan telah mendudukkan perempuan dalam posisi yang setara dengan laki-laki. Kedudukan, hak dan kewajibannya hampir bisa dikatakan sama. Namun karena keduanya diciptakan oleh Allah dengan karakter fisik dan psikis yang berbeda, Alquran kemudian membedakan fungsi, peran dan tugas masing-masing, baik dalam wilayah domestik maupun publik. Penelitian ini berbasis library research. Dalam penelitian ini membahas tentang Kajian “Analisis semantik Untsa, Imra’ah/mar’ah, Nisa, Zauj, dan Ummun dalam Alquran menurut buya hamka” dengan mengangkat tema perempuan baik dari segi tugas dan kedudukannya dalam Alquran “Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka” yang diprakarsai oleh seorang mufassir dari tanah minang.Kata Kunci: Tafir Al-Azhar, Semantik (Untsa,Imra’ah/Mar’ah, Nisa,Zauj,Umm
AL-QUR’AN DAN HADIS SEBAGAI MASDAR AWAL siregar, idris
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.15212

Abstract

AbstrakIslam mempunyai hukum yang wajib dipatuhi oleh pemeluknya. Sumber hukum dalam Islam merupakan al- Qur’ an serta Hadis, kalam Allah serta As- Sunnah Nabi yang ialah landasan utama dalam ajaran Islam. Uraian terhadap kedua sumber hukum tersebut berarti sebab keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, ada keterkaitan antara keduanya dalam menarangkan hukum yang berlaku dalam Islam. Hingga telah selayaknya menguasai kedua sumber hukum itu jadi perihal yang utama, bila terjalin kesalahan uraian diantara keduanya hingga hendak mengganggu keberadaan sumber hukum tersebut. Dengan menguasai 2 sumber hukum ialah al- Quran serta Hadis, hingga hendak memperoleh petunjuk hukum yang cocok dengan tuntunan syariat serta sunnah nabi Muhammad. Tulisan ini menguraikan eksistensi antara kedua sumber hukum Islam tersebut dalam pelaksanaannya dalam warga yang majemuk, dengan memakai tata cara tematik.Kata Kunci: Alqu’an, Hadis, As-Sunnah, Hukum dan Islam.
LIVING RELIGIONS AGAMA YAHUDI DALAM ALQURAN DI INDONESIA Muhammad Akbar Rosyidi Datmi
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i2.15311

Abstract

abstrakAgama Yahudi adalah salah satu agama semitis yang banyak disebutkan dalam alquran dan memiliki ciri beraneka ragam. Agama Yahudi terus tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru dunia tidak terkecuali di Indonesia. Penelitian ini dilkukan dengan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan cara hidup beragama dan bersosial kelompok Yahudi di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa Yahudi di Indonesia hidup berkelompok dan banyak terdapat di Barus Sumatera Utara, Surabaya Jawa Timur dan Manado. Yahudi di Indonesia merupakan gabungan antara Yahudi yang berasal dari Barat dan Timur Tengah.Kata kunci : Indonesia, Living Religions, Yahudi
MAKNA FAHSYA>’ DALAM AL-QUR’AN MENURUT MUHAMMAD QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL-MISHBAH Muhammad Nurhamdi Prasetya
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.17682

Abstract

ABSTRACTThis research is intended to explain in what area the meaning of the word Fahsya>' in the Al-Quran and how M. Quraish Shihab's view in Tafsir Al-Mishbah. This research is library research. And using the Maudhu'i interpretation method whose primary source is Tafsir Al-Mishbah. And the secondary sources are taken from various books, books, and journals that are. The word fahsya' is quite interesting to discuss because: First, the word fahsya>' has three derivations in the Qur'an, namely fahsya>', fa>hisyah, and fa>wahisy. Each of these words has a different area of meaning when it is in one sentence in the Qur'an. Second, the word fahsya>' in Arabic is mentioned as a bad deed and adultery while M. Quraish Shibab views this meaning as a meaning that has a fairly broad scope of meaning. The result of this research is that almost all of the use of the word fahsya>' is not accompanied by the mention of the sin referred to by fahsya>' in the verse, but in the view of M. Quraish Shihab the form of fahsya' when associated with the sentence of the verse can broadly mean that the act of fahsya>' in al-Qur’an. Then the use of the word fa>hisyah is almost always accompanied by a sign or mention of the sins referred to in the verse and all fa>hisyah actions are almost all related to sexual. while fa>wahisy, shows the act of sins in general, namely major sins and minor sins. With this, M. Quraish Shihab concludes that fahsya>' is the name for all actions or words even beliefs that are considered bad by a healthy soul and mind, and cause bad effects not only for the perpetrators but also for the environment. Keyword  : Tafsir Al-Mishbah, Fahsya>’, Fa>hisyah, Fawa>hisy.
DISKURSUS TAFSIR MASA TABI’IN DAN RUANG LINGKUPNYA Hasibuan, Akmal Rizky Gunawan; Harahap, Mardian Idris; Hasibuan, Muhammad Fakih; Wulandari, Wilda
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 2 (2023): OKTOBER - MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i2.19766

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengalnallilsils penalfsilraln Al- Qur’an paldal malsal talbil’iln, Dilskursus ilnil salngalt pentilng untuk dil kaljil kalrenal palral talbil’iln memillilkil peralnalnaln pentilng daln silgnilfilkaln dallalm  bildalng talfsilr.Talbil’iln yang merupalkaln generalsil setelalh salhalbalt, kalrenal palral talbil’iln telalh menerilmal ilnterpretalsil dalril salhalbalt secalral lalngsung. Talfsilr secalral ilstillalh bermalknal penjelalsaln tentalng kallalm Alllalh. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat dua model penafisran pada masa tabi’in yaitu penafsiran bil- ma’stsur dan bil ra’yi sedangkan metode yang diterapkan pada masa tabi’in adalah metode ijmali. Maka dapat disimpulkan penafsiran era  tabi’in menjadi awal penafsiran yang melibatkan antar budaya Arab dan  non Arab. Selain itu seiring berjalannya zaman dengan meluasnya wilayah Islam menjadi awal yang sanagat penting bagaimna Al- Qur’an pada generasi setelah Tabi’in.Kata Kunci: Diskursus, Tafsir, Tabi’in
FEMINISME DALAM PENAFSIRAN AYAT QIWA Ismail, Muhammad
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 6, No 1 (2023): APRIL - SEPTEMBER
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v6i1.19757

Abstract

Diskursus feminisme di Indonesia merupakan suatu hal penting dan relevan pada saat ini. Hal ini disebabkan kompleksitas wacana perempuan dalam berbagai upaya peningkatan kesadaran perempuan dan persoalan yang dihadapi perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari, aspek perempuan setidaknya diperdebatkan dalam wacana seputar status, tubuh, peran, dan pemikirannya. Hal ini kemudian memunculkan gerakan pendukung femisnism dan anti feminism di Indonesia yang bertolak belakang dan saling mengkampanyekan gerakan masing-masing. Artikel ini hendak mengkaji pandangan tokoh pro feminism Amina Wadud dan Riffat Hassan sebagai aktivis feminis Muslim berdasarkan ayat Qiwamah yang menjadi sumber penafsirannya. Penelusuran ide dilakukan secara komparatif dengan melihat tulisan dan karya tafsirnya. Pada akhirnya, artikel ini menemukan adanya ketersalingan penafsiran ayat qiwa>mah perspektiF Riffat Hassan dan Amina Wadud: Pertama, Keprihatinan akan ketimpangan gender. Kedua, tidak adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan baik dalam keluarga atau masyarakat. Ketiga, diagnosis bahwa dasar legitimasi atas superioritas laki-laki atas perempuan adalah bersumber dari hegemoni penafsiran ulama laki-laki yang cenderung maskulinitas dan mengunggulkan gendernya. Keempat, solusi dalam melawan hal tersebut adalah dengan memberikan    reinterpretasi    pada    ayat-ayat Al Qur’an  yang terkait perempuan dari perspektif perempuan (feminisme).Kata Kunci: Feminisme, Riffat Hassan, Amina Wadud, Qiwamah
METODE TAFSIR MU’TAZILAH TERHADAP AYAT-AYAT AQIDAH Sugianto, Muhammad; Hakim, Lukmanul
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 2 (2022): OKTOBER-MARET
Publisher : Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINSU Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/ias.v5i2.19773

Abstract

Al-qur-an adalah mu’jizat yang masih terpelihara keasliannya sampai detik ini (QS. al-Hijr: 9). Al-qur-an mustahil bisa difahami tanpa penjelasan dari hadist dan kemudian ditafsirkan oleh para ulama, terutama yang berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabihat untuk menghasilkan sebuah pemahaman yang tidak bertentangan dengan syariat. Terjadinya perbedaan di kalangan mufassir merupakan sunnatullah yang mustahil bisa di hindarkan. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya segala perbedaan itu, disiplin ilmu yang dimiliki, kecendrungan latar belakang pemikiran, sosial politik, pengaruh lingkungan, pengaruh ideologi dan beberapa peristiwa sejarah yang terjadi. Pengaruh ideologi dan sosial politik memiliki peran yang sangat penting terhadap tujuan dan maksud dari penafsiran. Selain itu, keberagaman metode dan corak penulisan juga menambah khazanah kekayaan intelektual dalam ilmu tafsir al-Qur’an. Penulis dalam hal ini akan mencoba membahas salah satu metode dalam penafsiran yang selalu mengunggulkan akal di atas wahyu. Tafsir jenis ini kita kenal dengan istilah tafsir bi al-ra’yi yang selalu digunakan golongan Mu’tazilah untuk mendukung segala bentuk pemahaman dan kepentingan golongannya. Metode yang digunakan adalah metode analisis isi. Hasil tulisan ini juga akan menunjukkan bahwa tidak semua tafsir bi al-ra’yi itu tercela dan harus ditinggalkan.  Kata kunci: Ayat mutasyabihat, ideologi, sosial politik, tafsir bi al-ra’yi, muktazilah.

Page 7 of 11 | Total Record : 106