cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
Analisis Terhadap Penafsiran Ahmad Hassan Tentang Azab Kubur dalam Tafsir Al-Furqan Husnel Anwar; Sugeng Wanto; Muslim Muslim
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12559

Abstract

ABSTACTAhmad Hassan walaupun bukan orang pribumi Indonesia namun kontribusinya terkait bidang agama untuk nusantara ini sangatlah banyak. Diantaranya usahanya adalah bergerak mempelopori perbaikan kehidupan keislaman masyarakat. Tafsir al-Furqan adalah salah satu tafsir nusantara karya Ahmad Hassan yang terbit pada tahun 1928 dan di terima masyarakat dengan baik dan dengan antusias tinggi. Tafsir ini menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an menggunakan metode Ijmali /secara umum atau global.Inti dan pokok-pokok yang membangun ajaran Islam dikategorikan sebagai persoalan akidah yang memiliki konsekuensi-konsekuensi signifikan dalam kehidupan beragama seseorang. Di antara perkara akidah yang harus diyakini seorang muslim adalah berkaitan dengan azab kubur dan ia merupakan bagian dari keimanan dengan hari kiamat. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dipusatkan pada aspek akidah tentang azab kubur, bertujuan untuk menganalisa secara mendalam penafsiran Ahmad Hassan terhadap ayat-ayat yang berkaitan tentang  azab kubur dalam Tafsir al-Furqan.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini dalam menganalisis data yang telah terkumpul dengan menggunakan analisis isi (content analysis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ahmad Hassan tentang azab kubur dalam Tafsir al-Furqan adalah Ahmad Hassan tidak meyakini adanya azab kubur. Ahmad Hassan mengatakan: Di dalam hadis-hadis ada disebut azab kubur dan nikmat kubur. Azab dan nikmat itu bukan sebenarnya, karena manusia tidak diberi nikmat atau disiksa sebelum pemeriksaan amal di hari kiamat. Ringkasnya, dari keterangan agama bahwa azab kubur dan nikmat kubur itu ialah gambaran azab dan nikmat yang dipertunjukkan kepada orang yang di dalam kubur. Ahmad Hassan memahami bahwa azab yang dijanjikan untuk orang-orang yang durhaka adalah azab di akhirat bukan di alam barzakh, siksaan hanya ada setelah hari pembalasan.Kata Kunci: Tafsir al-Furqan, Azab Kubur, Akidah, Muslim
PENAFSIRAN AL-HAQ MENURUT HASBI ASH SHIDDIEQY DALAM TAFSIR AL-BÄ€YAN Muzakkir Muzakkir; Husnel Anwar; Lilis Karina Pinayungan
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.12565

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul penafsiran kata Al haq menurut Hasbi Ash Shiddieqy dalam tafsir Al Bayan, yang merupakan salah satu karyanya. Bahwa makna secara keseluruhan di dalam Al quran Al haq bermakna benar atau kebenaran. tujuan dari penelitian ini adalah menemukan konsep makna kata Al haq serta upaya manusia menjadi manusia yang Haq. Dengan menggunakan metode maudhui atau tematik milik Al farmawi penelitian ini dapat menjawab rumusan masalah yang telah disusun. Yakni pengertian kata Al haq di dalam Al quran bermakna benar, kebenaran, sesuatu yang benar-benar, sebenarnya, adil, dan hak, yang mana makna tersebut sesuai dengan konteks ayat tersebut berbicara. Kemudian penafsiran kata Al haq menurut mufasirin dari kitab tafsir yang salaf hingga modern, terkhusus pembahasan ini penulis hanya mengkhususkan ayat-ayat yang memiliki munasabah dan ayat-ayat yang menurut penulis memiliki makna yang berbeda.Penafsiran Hasbi terhadap kata Al haq serta konsep kata Al haq yang disimpulkan penulis melalui tafsir Al bayan, bahwa Al haq dalam ayat-ayat Al quran berbicara mengenai kebenaran kepada bukti-bukti ke-Esaan Allah SWT, berbicara mengenai kebenaran ilmu pengetahuan, berbicara mengenai kebenaran hukum keadilan, berbicara mengenai kebenaran terhadap balasan perbuatan dan perkataan, serta berbicara mengenai peringatan dan nasihat bagi manusia. Kata kunci: Kata, Al haq, Tafsir, Al-Bayan,  Hasbi Ash Shiddieqy
Al-Qira’at Al-‘Ashrah: Sejarah, Kedudukan dan Karakteristiknya Ahmad Faizal Basri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12556

Abstract

الملخصالقراءات العشرة هي القراءات المتواترة ولوكانت الثلاثة الأخرى مختلفة على اطلاق صحتها يعني امام يعقوب (130-205) وامام خلف (150-227) وامام ابو جعفر (...-128) بل عند الرأي الصحيح صحتها بالمتواترة. هؤلاء العشرة متفقة بالقراءات المتواترة وإنّ الباقي متفق بالقراءات الشاذات. واذا يطلع التاريخي فيوجد البحث الدقيق بل كانت التعارض بين الناس وانما القراءات السبعة المتعلقة بسبعة احرف هى كلام خطاء لأن السبعة المضاف بالأحرف هي التيسير والتسهيل  لمشقة من قرأ بحرف واحد كالشيخ الكبير والعجوز والغلام. وانما القراءات تنمو بعد وجود المصحف العثماني هي متعلقة بوجه قراءة المصحف المتفق على تواتره ولكن ذالك المصحف عدم النطقة تتميز بين الراء والزاي مثلا وبين الحركات تتميز بين الفتحة والكسرة مثلا حتى توجد القراءات المختلفة ولكنه على كون الشرط الا تخالف خط مصاحف العثماني المتفقة والمروي بالرواية الصحيحة
Reorientasi Pembelajaran al-Quran dan Tafsirnya di Lembaga Pendidikan Islam Nur Aisah Simamora
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.12561

Abstract

Mengkaji isi al-Quran secara keseluruhan, ayat demi ayat secara rinci sangatlah penting dan merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang muslim, terlebih-lebih bagi seseorang yang telah menfokuskan diri pada sebuah jurusan yang konsentrasi dengan al-Quran dan tafsirnya. Hal itu dikarenakan manhaj inilah sesungguhnya yang lebih potensial membuat seseorang dapat memahami agamanya dengan baik dan benar, dan selanjutnya dapat membentuk mindset yang lurus dan benar dalam memandang segala sesuatu. Sebaliknya, manhaj yang tidak demikian, hakikatnya tidak membuat seorang penuntut ilmu agama yang bahkan puluhan tahun lamanya menjadi seseorang yang ahli tentang agama Islam. Karena mempelajari agama Islam, hakikatnya adalah mempelajari sumbernya, yaitu al-Quran dan Hadis Nabi saw. Tanpa mempelajari isi al-Quran secara rinci ayat demi ayat, seorang ilmuwan agama Islam –apapun gelar akademiknya dan di program studi apapun- tidak akan menghasilkan seseorang yang ahli tentang Islam, alih-alih sebagai pengamalnya, bahkan tidak sedikit sarjana, magister dan doktor islamic studies telah tampil dalam kehidupan sebagai penentang al-Quran, penghujatnya, dan telah mengangkanginya. Hal itu bisa terjadi dengan sadar atau tidak disadari sama sekali, selama data-data utama yang ada di dalam al-Quran tidak diinstalkan sejak dini ke dalam jiwa, akal, hati dan sanubari seorang muslim, meskipun judulnya ia seorang pelajar agama Islam. Belajar agama hakikatnya adalah mengetahui isi al-Quran dan seluk beluknya, bukan hanya mempelajari apa yang dipikirkan manusia  dan ditulis oleh manusia tentang agama Islam. Hal ini sangat sesuai dengan konsep wahdatul ulum di mana hirarki ilmu yang dibagi atas dua kategori; (1) ilmu agama berarti ilmu yang diwahyukan, ilmu tentang segala sesuatu yang Allah beritahu dalam Kitab suciNya, dan jika tidak diberitahukanNya di dalam Kitab suciNya, maka akal manusia sampai kapanpun tidak akan mampu menjangkaunya. (2) ilmu dunia, yaitu ilmu yang Allah berikan kesempatan bagi manusia untuk menemukannya dengan fasilitas akal, indra, dan intuisi manusia.Tulisan ini berangkat dari sebuah keprihatinan terhadap diri sendiri yang secara formal telah menjalani pendidikan di lembaga pendidikan Islam, akan tetapi hasilnya tidak membuat dirinya secara sistem menjadi ahli tentang agama, karena terbukti tidak mengetahui seluk beluk al-Quran. Ibarat seseorang yang dinobatkan sebagai ahli danau Toba, maka apapun yang ditanyakan kepadanya tentang danau Toba dan dari sisi manapun, dapat dipastikan orang tersebut mengetahui seluk beluknya. Berawal dari keprihatinan ini, penulis mencoba sebuah sistem pengajaran al-Quran dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan[1] berbasis al-Quran, di mana mata pelajarannya dibatasi hanya lima; Tafsir al-Quran, Tahfiz al-Quran, fahmul hadis, tahfiz hadis, bahasa al-Quran dengan mengetahui nahwu dan sharaf secara mendalam, dan fiqih. Lima hal inilah yang dijadikan pejarana yang berulang-ulang setiap hari, dengan target menjadikan santri-santri dapat mengamalkan living al-Quran dan living hadis, sehingga kelak mereka benar-benar menyadari bahwa al-Quran dan hadis itu benar-benar pedoman hidup dalam segala hal, di segala tempat dan waktu.[1]Pesantren Ubay bin Ka’b konsentrasi dua wahyu; al-Quran dan Hadis, di jalan Pengabdian, Gang H.M. Pulungan, no 368 Bandar Setia. 
MANUSKRIP AL-QUR’AN TERTUA DI SUMATERA UTARA (Studi Kodikologi dan Tekstologi Manuskrip Al-Qur’an) Amroeni Amroeni; Rofiatul Koiriah Nasution
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.12566

Abstract

AbstractOne part of the historical development of the islamic civilization in Nusantara is the copying of ancient Qur’anic manuscripts. The study of the Qur’anic manuscripts has not been much sought after by academics because they think that the Qur’an has textual similarities and has never changed. In fact, the copying of the manuscripts made by the scholars not only contain the text of the Qur’an but also contains other things that reflect the culture and locality of a society. This is evidence of the existence of scholars’ ijtihad at that time by presenting a manuscript that is familiar to the reader. This study focuses on the Qur’anic manuscript with the collection number SU AQ06/ICH which is stored in the North Sumatra History Museum of the Qur’an. This research is a qualitative research. Judging from the type of data collection, this research is a type of library and field research. Meanwhile, the data analysis method used is descriptive analysis method through a philological approach with the standard edition single manuscript method or text criticism. This study found that the Quran manuscript with collection number SU AQ06/ICH was obtained from a collector by paying a dowry. The condition of the manuscript is not intact and the material used for this manuscript is European paper. The Qur’anic manuscripts found have colophons The system of writing was not a corner system and the beginning of each section was not organized at all. The calligraphy is very simple and the writing is quite consistent. The process of copying the Qur’an manuscript is not solely written with one science, but consists of several auxiliary sciences including:  rasm ‘uṡmānī, ḍabṭ ‘addul ayy and others. The Qur’an manuscripts written in a mixed rasm, rasm ‘uṡmānī and rasm imlāi. Furthermore, the use of dabṭ has different specifications, while for the calculation of verses, there are several errors that cause differences in the number of verses Keywords: Qur’an Manuscript, Philologhy,  Rasm ‘Uṡmānī, Ḍabṭ, ‘Addul Ayy
Sighnifikansi Ayat Tentang Konsep Demokrasi di Indonesia dalam Qs. Ali Imran Ayat 159 (Pendekatan Pembacaan Kontekstual Nashr Hamid Abu Zayd) Nur Azizah; Khoirul Umami
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12557

Abstract

ABSTACTPenelitian ini membahas mengenai sighnifikansi ayat tentang konsep demokrasi di Indonesia dalam QS. Al-Imra>n ayat 159 dengan melalui pendekatan pembacaan kontekstual Nas}r Hamid Abu Zayd. Cara kerja pendekatan tersebut yaitu lebih menekankan pada asba>b al-nuzul dengan melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu dengan leseluruhan konteks sosial-historis (mujmal al-siya>q al-tarikh al-ijtima’i) turunnya wahyu. Di sisi lain juga membuat perbedaan antara makna historis (al-dala>la>t al-tarikhiyyat) yang diperoleh dari suatu konteks pada satu sisi serta sighnifikansi (al-maghza) yang di indikasikan oleh makna dalam konteks sosio-historis penafsiran pada sisi yang lain. Karenanya, dengan menggunakan pendekatan ini peneliti mengharapkan dapat mengetahui sighnifikansi mengenai konsep demokrasi dalam ayat tersebut, sebab mengingat bahwa inti daripada ayatnya hanya berbicara mengenai syura, sementara kata demokrasi sendiri tidak disebut secara ekplisit. Pada kesimpulannya, konsep syura yang terdapat dalam ayat tersebut memiki relasi dengan konsep demokrasi, meskipun secara historis ayat tersebut kaitannya erat dengan peristiwa perang badar, tetapi implikasinya terhadap pemerintahan memiliki posisi daan peran yang utama dan terpenting seperti perihal strategi dalam sebuah pemerintahan untuk kemaslahatan umat (musyawarah).Kata Kunci: Sighnifikansi, Konsep Demokrasi, Pembacaan Kontekstual, Nas}r Hamid Abu Zayd.
PERAN ALUMNI MUSTHAFAWIYAH DALAM KAJIAN TAFSIR KONTEMPORER DI SUMATERA UTARA Safria Andy; Irpan Sanusi Daulay
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.12562

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran alumni Musthafawiyah dalam kajian tafsir kontemporer di Sumatera Utara. Pesantren Musthafawiyah yang merupakan pesantren yang tertua di Sumatera Utara dan lebih diidentik dengan pesantren yang lebih mengkaji kitab-kitab klasik seperti fiqih, tasawuh, hadis, tafsir dan kitab lainnya, pesantren Musthafawiyah yang berdiri pada tahun 1912 dan alumninya sudah menyebar khususnya di Sumatera Utara. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran beberapa tokoh alumni Musthafawiyah terhadap kitab tafsir kontemporer. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode pengkajian yang dilakukan tokoh alumni Musthafawiyah dalam kajian tafsir kontemporer.Penelitian ini merupakan penelitian riset lapangan (Field Research). Dengan cara mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan penelitian kemudian diuraikan berdasarkan data-data yang diperoleh. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara wawancara dan karya atau tulisan tokoh alumni yang berkaitan dengan judul tesis. Kitab tafsir yang dikaji tokoh alumni Musthafawiyah dalam penelitian ini adalah kitab tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an karya Tantawi Jauhari, kitab tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an karya Imam Al-Qurthubi, kitab tafsir al-Ayat al-Kauniyah fi Al-Qur’an al-Karim karya Zaghlul an-Najjar, kitab tafsir Safwatut Tafsir karya Muhammad Ali As-Sabuny, kitab tafsir Ayatul Ahkam karya As-Soubuny, kitab tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi, kitab tafsir Departemen Agama RI, dan juga buku yang berkaitan dengan tafsir sanitifik. Kata kunci: Tafsir Kontemporer, Kajian, Pesantren Musthafawiyah. 
Etika Menjaga Lingkungan Hidup dalam Perspektif Ibnu Khaldun: Analisis Tafsir Maqasidi QS. al-A’raf Ayat 56 Hakam al ma'mun; Erika Aulia Fajar Wati
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.11040

Abstract

Tulisan ini membahas tentang etika menjaga lingkungan hidup menurut Ibnu Khaldun. Berawal dari statemennya di dalam karya magnum opusnya berjudul Muqaddimah, ia menjelaskan betapa keteraturan alam semesta dan segala isinya merupakan satu kesatuan sistem yang saling bertumpu satu sama lain. Keteraturan dan keserasian kinerja alam semesta ini tidak akan pernah habis untuk dicari hikmah dan pelajarannya. Dari sini kemudian dapat diambil pelajaran salah satunya ialah sistem keteraturan alam tersebut mencerminkan sistem sosial yang berlaku di masyarakat. Sistem sosial yang saling bertumpu antar individu satu dengan lainnya akan menghasilkan masyarakat madani yang berperadaban. Maka untuk mempertahankan ketaraturan dan keseimbangan lingkungan hidup tersebut al-Qur’an melalui Qs. al-A’raf ayat 56 melarang melakukan kerusakan di bumi. Melalui pendekatan tafsir maqasidi terhadap ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa prinsip utama maqasid al-syariah hanya bisa terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari apabila lingkungan hidup kondusif. Kondusifitas lingkungan hidup akan mempengaruhi efektifitas penerapan syariat Islam.
Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Nusantara (Telaah terhadap larangan Penerjemahan Al-Qur’an dalam Naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid) Muhammad Roihan Nasution; Nuraisah Simamora; Bayu Satria Damanik
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 5, NO 1 (2022): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v5i1.12558

Abstract

ABSTRAKAl-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai medianya, dalam sejarah Islam telah tercatat bahwa agama Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia, tetapi ketika Islam menyebar ke berbagai wilayah yang mana wilayah-wilayah tersebut memiliki bahasa daerah masing-masing. Maka dari itu kebutuhan akan penerjemahan Al-Qur’an memang dirasakan sangat penting sebagai upaya agar umat Islam dapat memahami dan mengamalkan ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Meskipun penerjemahan Al-Qur’an sangat dibutuhkan tetapi dalam prosesnya tidak semulus yang dibayangkan, di Indonesia sendiri terdapat berbagai macam polemik tentang kebolehan dan larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an. Adapun beberapa ulama nusantara yang melarang penerjemahan Al-Qur’an di antaranya adalah Sayyid Usman dan Abdul Hamid.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sejarah (historical approach). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deksriptif melalui pendekatan filologi dengan mengkaji naskah-naskah lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat larangan dalam penerjemahan Al-Qur’an dengan menelaah naskah Sayyid Usman dan Abdul Hamid. Menurut Sayyid Usman dalam naskahnya “Hukm al-Rahmân bi al-Nahyi ‘an Tarjamat al-Qur`ân” bahwa untuk mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dengan cara diterjemahkan seseorang tidak akan mampu melakukannya karena syarat dan rukunnya yang sangat berat, tetapi menurut beliau dalam memahami Al-Qur’an harus bersandar pada mazhab-mazhab hukum serta mengambil anutan dari ulama salaf. Sedangkan menurut Abdul Hamid dalam naskahnya “Tuhfat al-Mardhiyah fatwa fii jawaaz tafsir Al-Qur’an bi al-‘Ajamiyah” memahami bahwa, terjemahan itu mengganti lafaz Al-Qur’an dengan makna terjemahan tanpa mencantumkan ayat yang diterjemahkan, maka itu akan menghilangkan kemukjizatan Al-Qur’an yang terletak pada ayatnya bukan pada maknanya.Pemikiran Sayyid Usman dan Abdul Hamid dalam melarang penerjemahan Al-Qur’an bahwa kedua ulama ini, sangat berhati-hati dalam penerjemahan Al-Qur’an disebabkan karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam, maka jika seorang mutarjim memberikan makna yang tidak sesuai dengan bahasa yang ada di dalam Al-Qur’an, maka itu adalah sebuah kesesatan. Kata kunci: Penerjemahan Al-Qur’an, Sayyid Usman, Abdul Hamid, Perspektif.
EKSISTENSI TAFSIR MODERN Abdul Muhaimin Muhaimin; Mas’ulil Munawaroh Munawaroh
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 2 (2021) OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i2.4937

Abstract

Keberadaan Al-Qur’an yang selalu relevan sepanjang masa (sha>lihun li kulli zama>n) secara langsung memberikan ruang kepada para mufassir untuk melakukan interpretasi Al-Qur’an sesuai dengan tuntuan zaman. Tafsir Modern merupakan produk para mufassir masa kini yang mempunyai hal-hal baru sesuai dengan konteks zaman kekinian. Jika tafsir klasik mempunyai sumber, corak dan metode tafsir, maka tafsir modern pun juga mempunyai hal sama dengan tafsir klasik. Perkembangan sumber tafsir Modern dimulai dengan menggunakan metodebi al-iqtira>ni (perpaduan antara bi al-manqu>l dan bi al-ma’thu>r). Perkembangan Metode tafsir Modern dimulai dengan  metode ijama>lilalu tafsir tematik singular(al-Maudhu>’i al-Aha>di>), metode tematik prular (al-Maudhu>’i al-Ja>mi’)dan  tafsir yang membahas satu kalimat saja dengan mengumpulkan semua ayat-ayat yang menggunakan kalimat atau derivasi dan akar kalimat tersebut, kemudian menafsirkannya satu persatu dan mengemukakan dalil dan penggunaannya dalam al-Qur’an.

Page 6 of 11 | Total Record : 106