cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JPSCR : Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research
ISSN : -     EISSN : 2503331x     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Pharmaceutical Science And Clinical Research (e-ISSN 2503-331x) offers a forum for publishing the original research articles, review articles from contributors, and the novel technology news related to pharmaceutical science and clinical research. Scientific articles dealing with natural products, pharmaceutical science-industry and clinical research, etc. are particularly welcome. The journal encompasses research articles, original research report, reviews, short communications and scientific commentaries pharmaceutical science and clinical research including: bioactive products, chemotaxonomy, chemistry, ecological biochemistry, metabolism, pharmacy management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, pharmaceutical social and pharmaceutical industry.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2022)" : 10 Documents clear
Sterqulia quadrifida R.Br: A Comprehensive Review of Ethnobotany, Phytochemistry, Pharmacology and Toxicology Ulfa Afrinurfadhilah Darojati; Retno Murwanti; Triana Hertiani
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.52244

Abstract

Sterculia quadrifida, R.Br. is one of the plants that grows on the mainland of Timor, East Nusa Tenggra. Sterculia quadrifida, R.Br. commonly known as Peanut tree in English and faloak in Indonesian has various pharmacological activities and has been widely used in traditional medicine. This review article aimed to provide a comprehensive overview of the potential of the faloak plant as an herbal medicine by looking at various aspects such as ethnobotany, phytochemicals, pharmacology and toxicity. Literature searches are carried out in scientific databases that are accepted worldwide such as ScienceDirect, Scopus, PubMed, Springer Link, Wiley Online Library and advanced searches on Google scholars, books, abstracts, theses, scientific reports, and several non-impact and non-indexed journals with the search keywords "Sterculia quadrifida" or "Peanut tree" or "Red fruit kurajong" or "Faloak". From the various literature that has been collected, faloak has been shown to have pharmacological activities such as anticancer, antioxidant, antifungal, immunomodulatory, antiviral, antibacterial, antidiabetic, and antipyretic. The existence of this activity cannot be separated from the chemical compounds contained therein such as flavonoids, alkaloids, terpenoids, phenols, tannins and saponins. Faloak also has low toxicity with LD50> 5000 mg/kg body weight rats.
Pengaruh Metode Ekstraksi Terhadap Kadar Total Fenol dan Total Flavonoid Esktrak Etanol Daun Insulin (Smallanthus sonchifolius) serta Aktivitas Antibakteri Terhadap Staphylococcus aureus Chintiana Nindya Putri; Muhammad Ryan Radix Rahardhian; Dewi Ramonah
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.43465

Abstract

Fenomena resistensi antibiotik menjadi permasalahan baru dalam terapi infeksi, sehingga mendorong dilakukannya penemuan produk baru berbasis bahan alam. Daun insulin merupakan bahan alam yang berpotensi sebagai antimikroba karena mengandung metabolit sekunder seperti fenolik dan flavonoid. Jumlah kandungan senyawa tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan metode ekstraksi maserasi dan digesti terhadap kadar total fenolik dan flavonoid, serta aktivitas penghambatan bakteri Staphylococcus aureus dari ekstrak etanol daun insulin 5%,10%,15%. Pada penelitian ini penentuan kadar fenolik dan flavonoid menggunakan spektrofotometri UV-Vis, sedangkan uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 2018 menggunakan difusi agar. Hasil penelitian diperoleh data bahwa kadar flavonoid dan fenolik ekstrak daun insulin yang diekstraksi dengan maserasi lebih besar dibandingkan digesti yaitu sebesar 40,2 mg GAE/g, sedangkan pada metode digesti hanya 8,12 mg GAE/g untuk kadar fenolik. Kandungan total flavonoid ekstrak dari metode maserasi sebanyak 28,42 mg QE/g, sedangkan pada metode digesti sebanyak 11,52 mg QE/g. Pada pengujian antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 2018 diperoleh hasil bahwa ekstraksi dengan maserasi memiliki diameter daya hambat lebih besar dibandingkan digesti.
Penilaian Kualitas Hidup Pasien Kanker Nasofaring Dengan Menggunakan EORTC QLQ-C30 di RSUP dr. Kariadi Semarang Agung Permata; Dyah Aryani Perwitasari; Susan Fitria Candradewi; Bayu Prio Septiantoro; Fredrick Dermawan Purba
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.43764

Abstract

Biaya perawatan pasien kanker nasofaring masih tinggi di Indonesia, penilaian kualitas hidup dan evaluasi ekonomi pasien kanker sangatlah penting, karena penyakit dan pengobatannya mempengaruhi kesejahteraan psikologis, sosial dan ekonomi, serta integritas biologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pasien kanker nasofaring yang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penilaian kualitas hidup dilakukan menggunakan instrumen EORTC QLQ-C30. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian ini merupakan pasien kanker nasofaring di RSUP dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di unit rawat jalan poliklinik onkologi dan rawat inap selama bulan Mei – Juli 2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang telah didapatkan melalui pengisian kuesioner ditransformasikan menjadi skor dengan rentang 0-100 menggunakan rumus transformasi linier kemudian hasil kualitas hidup dideskripsikan dengan menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sample. Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata kualitas hidup pasien kanker nasofaring berdasarkan kelompok skala fungsional (80,20 ± 7,52), skala gejala (23,86 ± 6,77) dan status kesehatan umum (63,75 ± 20,99). Skor tertinggi terdapat pada domain fungsi emosional sementara domain yang terendah pada fungsi peran.
Effectiveness of Norepinephrine-Vasopressin Combination in Reducing Mortality in Septic Shock Patients: A Scoping Review Ratih Puspita Febrinasari; Kenneth Tan; Astrida Fesky Febrianty; Yusuf Ari Mashuri
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.54626

Abstract

Sepsis and septic shock are the major health problems worldwide, including in Indonesia. Sepsis and septic shock are medical emergencies that require adequate prompt resuscitation to reverse tissue hypo-perfusion, which will prevent patient mortality. The latest international guideline on septic shock treatment recommended norepinephrine as a first-line vasopressor followed by dopamine and dobutamine as an alternative vasopressor. However, the practices still vary. Therefore, a scoping review is required to scope the existing article, summarize scientific evidence, and give a bearing on future research regarding the effectiveness of norepinephrine-vasopressin combination in reducing mortality in septic shock patients. This scoping review was covered articles published after 2011. A total of 953 articles were collected. Seven articles comprised of 5 systematic reviews, 1 randomized controlled trial, and 1 cohort study with a total 21,670 of patients, were included for qualitative synthesis. From the analysis, there had not been enough scientific evidence to conclusively determine the combination of vasopressors as the best therapeutic outcome of sepsis treatment. In conclusion, based on the existing articles there is inadequate scientific evidence to definitively conclude the effectiveness of the combination of vasopressors and norepinephrine for the treatment of septic shock patients. Further research is needed to explore the effectiveness of the norepinephrine-vasopressin combination in reducing mortality in septic shock patients.
Aktivitas Antibiofilm Ekstrak dan Fraksi-Fraksi Biji Pinang (Areca catechu L.) Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 Tobi, Claudius Hendraman B.; Saptarini, Opstaria; Rahmawati, Ismi
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.43698

Abstract

Biofilm merupakan kumpulan dari sel-sel mikrobial yang melekat secara ireversibel pada suatu permukaan dan terbungkus dalam matriks EPS (Extracellular PolymericSubstances). Salah satu bakteri infeksius yang memproduksi biofilm adalah S. aureus. Biji pinang diketahui mengandung flavonoid, alkaloid dan tanin yang memiliki mekanisme antibiofilm dan antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibiofilm ekstrak dan fraksi biji pinang terhadap bakteri S. aureus. Ekstraksi biji pinang dilakukan dengan metode maserasi, fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut air, etil asetat dan n-heksan. Aktivitas penghambatan dan degradasi biofilm dilakukan dengan metode pewarnaan kristal violet yang dibaca pada panjang gelombang 595 nm. Persen peghambatan dan degradasi yang diperoleh dianalisis menggunakan uji statistik ANAVA dua arah. Persen penghambatan dan degradasi tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak etanolyaitu secara berturut-turut 70,17% dan 54%dengan nilai IC50 secara berturut-turut yaitu -0,4 mg/ml dan 5,9 mg/ml. Hasil uji statistik menunjukkan setiap kelompok sampel dan konsentrasi memberikan pengaruh yang signifikan pada persen penghambatan dan degradasi biofilm.
Perbandingan Efektivitas Angiotensin Receptor Blocker (ARB) dengan Calcium Channel Blocker (CCB) Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis dengan Hemodialisis Wuri Kinanti; Tri Murti Andayani; Fredie Irijanto
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.53514

Abstract

Prevalensi pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) berbanding lurus dengan peningkatan kejadian hipertensi. Penatalaksanaan hipertensi yang tepat dan efektif dibutuhkan pada kondisi PGK dalam hal pengendalian tekanan darah maupun memperlambat kejadian penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas Angiotensin Receptor Blocker (ARB) terhadap Calcium Channel Blocker (CCB) pada pasien PGK. Penelitian observasional ini dilakukan di RS Bethesda Yogyakarta dan merupakan penelitian dengan rancangan kohort retrospektif pada pasien PGK dengan hemodialisis (HD) yang mendapatkan terapi hipertensi pada periode tahun 2014-2019. Penelitian ini melibatkan 50 pasien yang direkrut secara total population sampling. Kelompok penelitian terdiri dari kelompok pasien yang mendapatkan terapi. Luaran klinis yang diamati adalah kejadian tekanan darah terkontrol dan kejadian kardiovaskular dalam waktu 12 bulan sejak index date. Hubungan antara jenis terapi dengan luaran klinis dianalisis dengan Chi-square sedangkan analisis survival dilakukan dengan metode Kaplan-Meier kemudian dilanjutkan dengan Log Rank Test. Kelompok terapi ARB menunjukkan proporsi kejadian tekanan darah tak terkontrol dan kejadian kardiovaskular yang lebih rendah dibandingkan kelompok terapi CCB (64% vs 84%, p=0,107; 16% vs 24%, p=0,48). Mean survival time kejadian tekanan darah tak terkontrol maupun kejadian kardiovaskular kelompok ARB lebih lama dibandingkan kelompok CCB (HR=0,513; CI 95%=0,241-1,092; p=0,128; HR=0,401; CI 95%=0,081-1,987; p=0,495). Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian luaran klinis maupun waktu kejadian luaran klinis tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok terapi. Penelitian dengan jumlah sampel lebih banyak dan periode pengamatan lebih lama dibutuhkan untuk mengetahui luaran klinis lebih lanjut antara ARB dan CCB pada pasien PGK dengan hemodialisis.
Ekstrak Etanolik Seledri (Apium graveolens L.) Memperbaiki Indeks Aktivitas Penyakit Kolitis Ulseratif dan Makroskopik Panjang Kolon Pada Tikus Yang di Induksi Asam Asetat Ardian Dewangga; Chandra Saputra; Muhammad Novrizal Abdi Sahid; Andayana Puspitasari Gani
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.55884

Abstract

Kolitis ulseratif adalah kondisi peradangan yang menyerang kolon, dipengaruhi faktor genetik, gangguan imun, dan lingkungan yang ditandai adanya peradangan pada kolon dan bisa berlanjut pada pembentukan luka atau ulkus serta juga dapat memicu tumbuhnya kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanolik seledri untuk perbaikan indeks aktivitas penyakit kolitis ulseratif pada tikus yang diinduksi asam asetat. Lima belas ekor tikus wistar jantan secara acak dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok normal, kontrol positif (pemberian 5-asam amino salisilat), kontrol negatif, dan ekstrak etanolik seledri (dosis 100 mg/KgBB dan 300 mg/KgBB). Asam asetat 4 % sebagai penginduksi kolitis diberikan pada semua kelompok kecuali kelompok normal. Respon inflamasi terhadap induksi kolitis dinilai dengan mengamati indeks aktivitas penyakit kolitis ulseratif dan makroskopik panjang kolon. Hasil penelitian menunjukan terjadi penurunan indeks aktivitas penyakit kolitis ulseratif dan makroskopik panjang kolon setelah mendapat ekstrak etanolik seledri pada dosis 100 mg/KgBB dan 300 mg/KgBB pada tikus yang diinduksi asam asetat 4%. Dosis 300 mg/kgBB menunjukkan aktivitas yang lebih baik dari dosis 100 mg/kgBB dari parameter indeks aktivitas penyakit dan makroskopik panjang kolon. Pada pengukuran panjang kolon dosis 300 mg/kgBB menunjukkan perbedaan siginifkan dibandingkan kontrol negatif (p<0,05). Dari parameter kolitis diatas menunjukkan bahwa EES mempunyai potensi yang baik dalam terapi kolitis ulseratif.  
Direct Medical Cost Inpatient ACS-STEMI at Sardjito Hospital 2017-2018 M. Fiqri Zulpadly; Anif Nur Artanti; Dian Eka Ermawati; Sholichah Rohmani; Heru Sasongko; Wisnu Kundarto
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.54864

Abstract

Cardiovascular disease is the main cause of human death worldwide. This disease is also a major burden in health financing, due to direct costs of treatment and hospitalization. One type of cardiovascular disease is Acute Coronary Syndrome (ACS). The incidence of ACS in Indonesia is still the highest with a prevalence rate of 7.2% and continues to increase every year. This study aimed to determine the average direct medical costs of new ACS-STEMI patients who are hospitalized at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta period 2017-2018 and the factors that influence the cost of the treatment statistically. This research was an observational study with a descriptive retrospective research design using data from medical records and the finance (accounting) department. The sampling technique used in this study was purposive sampling based on patients who met the inclusion criteria. A total of 495 patients matched the inclusion criteria and the average of the components of direct medical costs incurred by inpatients was IDR48,926,665 with an average length of stay of 5 days. Statistical test results showed that the categories of gender, age, and payment method were not significantly associated with the average total cost of care for ACS-STEMI patients (p>0.05). Meanwhile, the categories of length of stay and treatment regimen were significantly correlated to the average total cost of care for ACS-STEMI patients (p<0.05). The average total cost of new ACS-STEMI patients undergoing inpatient treatment amounted to IDR48,926,665 which was significantly influenced by the category of the length of hospitalization and therapeutic regimen.
Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Apoteker Terhadap Vaksinasi Hepatitis B di Kota Surakarta Verawati Hadi; Burhannudin Ichsan
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.57200

Abstract

Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Cakupan vaksinasi hepatitis B terhadap apoteker rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku apoteker terhadap infeksi virus hepatitis B dan vaksinasinya. Selain itu, peneliti juga melakukan evaluasi apakah ada hubungan signifikan antara faktor demografi dengan pengetahuan, sikap dan perilaku apoteker terhadap vaksinasi hepatitis B. Studi crosssectional dilakukan pada populasi apoteker di Kota Surakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 243 orang. Pengetahuan, sikap dan perilaku dinilai dengan kuesioner yang disusun oleh peneliti dengan menggunakan literatur pendukung dan dinilai oleh expert judgement. Pengetahuan dikategorikan menjadi baik, cukup dan kurang, sikap dan perilaku dikategorikan menjadi baik dan kurang baik. Analisis hubungan variabel dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apoteker memiliki pengetahuan baik (79,17%), sikap baik (73,33%) dan perilaku kurang baik (41,22%) terhadap vaksinasi hepatitis B. Terdapat 2 hubungan yang signifikan (p < 0,05) yaitu antara waktu praktik dengan sikap apoteker dan antara pendapatan per bulan dengan pengetahuan, sikap dan perilaku apoteker di Kota Surakarta.
Profil Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Buah Kersen (Muntingia calabura L.) dengan Metode TAC dan CUPRAC Syamsu Nur; Muhammad Aswad; Rifah Yulianty; Asril Burhan; William Johanes Dian Patabang; Alfat Fadri; Nursamsiar Nursamsiar
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v7i1.56653

Abstract

Kondisi stress oksidatif dapat mempengaruhi makromolekul seluler dan ekstraseluler (protein, lipid, asam nukleat dan DNA) sehingga dapat mengalami kerusakan oksidatif pada jaringan tubuh yang memicu terjadinya penyakit degeneratif melalui beberapa jalur oksidasi didalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dari ekstrak buah kersen dengan metode TAC dan CUPRAC. Sampel segar buah kersen dikumpulkan kemudian dilakukan proses pembuatan simplisia yang kemudian dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi untuk dilakukan proses penyarian dengan pelarut etanol 70% hingga diperoleh ekstrak kental buah kersen (EE). Ekstrak kental buah kersen kemudian dilakukan proses pemisahan dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan etanol-air (1:9) sehingga diperoleh fraksi n-heksan (HF), fraksi etil asetat (EAF) dan fraksi etanol-air (EF). Kemudian masing-masing sampel di uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode Total Antioxidant Capacity (TAC) dan Cupric ion Power Reducing Antioxidant Capacity (CUPRAC). Hasil yang diperoleh yaitu pada metode TAC, EAF memiliki aktivitas yang lebih baik dengan nilai Quercetin Equivalen Antioxidant Capacity (QEAC) 57,1±1,03 µM/mg dibandingkan dengan EE, EF dan HF. Sedangkan pada metode CUPRAC diperoleh hasil bahwa EAF memiliki aktivitas antioksidan dalam mereduksi Cu yang lebih baik dengan nilai Gallic Acid Equivalen Antioxidant Capacity (GAEAC) 13,13±0,008 µM/mg dibandingkan dengan EE, EF dan HF. Hal ini menunjukkan bahwa buah kersen memiliki potensi aktivitas antioksidan yang baik. Fraksi etil asetat (EAF) dari buah kersen memiliki potensi sebagai antioksidan dalam mereduksi Mo dan ion Cu dengan menggunakan metode TAC dan CUPRAC. Adanya data ilmiah dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan buah kersen sebagai food suplement antioksidan yang berguna untuk kesehatan masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 10