cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 658 Documents
PERENDAMAN LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus Linn.) STRAIN NIRWANA DENGAN MADU LANCENG (Trigona sp.) DAPAT MENINGKATKAN PERSENTASE MENJADI IKAN NILA JANTAN ., P. Krisna Widyantara Sujana; ., Dr. Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa perendaman larva ikan nila (Oreochromis niloticus Linn.) menggunakan madu lanceng (Trigona sp.) dapat meningkatkan persentase menjadi ikan nila jantan serta untuk mengetahui konsentrasi madu lanceng yang optimal untuk meningkatkan persentase ikan nila jantan. Jenis penelitian ini termasuk true eksperimen dengan rancangan randomized post-test only control group design. Sampel yang digunakan berupa 150 ekor larva ikan nila berumur 7 hari. Sampel direndam selama 24 jam menggunakan madu lanceng dengan konsentrasi 0%, 0,1%, 0,3%, 0,5%, dan 0,7% kemudian dipelihara selama ± 2 bulan. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dengan taraf signifikansi 5% dan uji lanjut Mann-Whitney. Hasil uji menunjukkan perendaman larva ikan nila menggunakan madu lanceng dapat meningkatkan persentase ikan nila jantan dengan nilai p sebesar 0,044 dengan peningkatan sebesar 146,31% dibandingkan kelompok kontrol. Konsentrasi optimal untuk meningkatkan persentase ikan nila jantan terdapat pada perendaman dengan konsentrasi 0,5% yang menunjukkan persentase ikan jantan sebesar 70,37%. Kata Kunci : konsentrasi, madu lanceng, perendaman, persentase This study aimed to prove that the soaking of tilapia larvae (Oreochromis niloticus Linn.) using lanceng honey (Trigona sp.) can increase the percentage of male tilapia and to know the optimal concentration of lanceng honey to increase the percentage of male tilapia. The type of this study includes true experimental with randomized post-test only control group design. The samples which used in this research were 150 of 7-day tilapia larvae. The samples were soaked for 24 hours using lanceng honey with 0%, 0,1%, 0,3%, 0,5%, and 0,7% concentration then maintained for ± 2 months. The data were analyzed by Kruskal Wallis test with 5% significance level and Mann-Whitney test as advanced test. The test result showed that soaking of tilapia larvae using honey lanceng can increase the percentage of male tilapia with p value of 0,044 which an increase. of 145,31%. The optimal concentration to increase the percentage of male tilapia is found in immersion with 0.5% concentration which shows 70,37% of male tilapia.keyword : concentration, lanceng honey, soaking, percentage
STUDI TENTANG KOMPOSISI KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN SPESIES CRUSTACEA BENTIK SERTA FAKTOR-FAKTOR EKOLOGIS YANG MEMPENGARUHINYA DI PANTAI CANDIDASA KARANGASEM BALI ., I Gusti Lanang Agus Awitama; ., Prof. Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang crustacea dilakukan di bagian pesisir laut terutama pantai. Pantai sebagai sebuah ekosistem perairan menjadi habitat bagi kehidupan spesies crustacea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, keanekaragaman, kemelimpahan dan faktor-faktor ekologis yang mempengaruhi crustacea bentik yang hidup di pantai Candidasa, Karangasem, Bali. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif, dengan menggunakan rancangan survei lapangan yaitu dengan pengamatan, pencatatan hasil temuan di lapangan serta dilanjutkan dengan pengamatan. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh crustacea bentik yang hidup di Pantai Candidasa, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah jumlah crustacea bentik yang terdapat di dalam 15 kuadrat. Metode yang digunakan adalah metode kuadrat. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) komposisi spesies crustacea bentik yang ditemukan sebanyak 27 spesies. (2) indeks keanekaragaman sebesar 2,66 yang dinyatakan dalam kategori sedang, nilai kekayaan spesies sebesar 4,77 yang tergelong sedang, nilai kemerataan spesies sebesar 0,81 masuk tingkat kemerataan spesies tinggi dan komunitas stabil dan nilai dominansi sebesar 0,10 menandakan tidak ada jenis yang mendominansi. (3) kemelimpahan relative spesies crustacea bentik tertinggi dengan nilai sebesar 19,2% dimiliki oleh spesies Alpheus heterochaelis dan terendah yaitu spesies Cardisoma carnifex, Emerita talpoida, Manaethiops nodulosus, Ozius rugolosus, Dardanus magistos, Eriphia ferox, Pilumnus clasipodus dan Pilumnus vespertilio, sedangkan kepadatan mencapai 15,6 ind/m2. (4) Faktor-faktor ekologis fisika-kimia di pantai Candidasa diantaranya suhu berkisar 26oC-29 oC, pH 7-8 yang berada pada netral dan basa lemah, salinitas stabil berkisar 27,720/00, DO berada di kisaran 4,7-9,0 mg/l dan konduktivitas sebesar 38-50 Ms/cm. Pantai Candidasa sebagai objek wisata di Bali masih tergolong perairan yang baik kondisinya bagi kehidupan crustacea.Kata Kunci : Komposisi, Keanekaragaman, Krustasea Bentik, Faktor-Faktor Ekologis, Pantai Candidasa Study about crustaceans in the coastal areas, especially the coast. The coast as a waters ecosystem is habitat for the life species of crustaceans. This study aims to determine the composition, diversity, abundance and environment factors that affect benthic crustaceans that live on the beach Candidasa, Karangasem, Bali. This research is descriptive and exploratory, using field survey design is by observation and recording of findings in the field and continued with the observation in the laboratory. The population in this study is the entire benthic crustaceans that live in Candidasa Beach, while the sample in this study is the number of benthic crustaceans present in 15 squares. The method used is the method of least squares. The results showed (1) the composition of benthic crustacean species are found as many as 27 species of 234 individuals. (2) The diversity index of 2,66 which is expressed in the medium category, the value of species richness by 4,77 which is moderate, species evenness value of 0,81 entry level high species evenness and stable communities and dominance value of 0,10 indicating no dominant species. (3) the relative abundance of species of benthic crustaceans highest with a value of 19,2% is owned by the species Alpheus heterochaelis and low of species Cardisoma Carnifex, Emerita talpoida, Manaethiops nodulosus, Ozius rugolosus, Dardanus magistos, Eriphia ferox, Pilumnus clasipodus and Pilumnus vespertilio, while density is 15,6 ind/m2. (4) Environment factors on the beach physicochemical Candidasa including temperatures ranging from 26oC-29oC, Ph 7-8 which are in neutral and weakly basic, stable salinity ranges from 27,72 0/00 ppm, the DO is in the range of 4,7 to 9,0 mg/l and a conductivity of 38-50 MS/cm. Candidasa beach in Bali as a tourist attraction is still relatively waters in good condition for the life of crustaceans.keyword : Composition, Diversity, Benthic Crustaceans, Environment Factors, Candidasa Beach
VARIASI INTENSITAS CAHAYA MENGAKIBATKAN PERBEDAAN KECEPATAN REGENERASI SIRIP KAUDAL IKAN CUPANG (Betta splendens) DIPELIHARA DI RUMAH KOS ., Bimbi Inggayuing Gumilang; ., Drs.I Ketut Artawan,M.Si; ., Dr. Ni Luh Putu Manik Widiyanti,S.Si,M
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens) merupakan ikan yang memiliki tingkah laku unik yaitu bertarung. Perilakunya ini menyebabkan sirip indahnya terutama sirip bagian kaudalnya rentan megalami kerusakan.Sirip ikan mewakili vertebrata yang unik dengan kemampuan spektakuler untuk regenerasi berbagai organ setelah cedera traumatis. Salah satu faktor yang mempengaruhi regenerasi adalah intensitas cahaya. Dengan memberikan perlakuan lampu led merk “Opple” pada empat taraf yang berbeda yaitu intensitas cahaya 0 Lux (tanpa lampu), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), dan 8 Watt (117 Lux) dapat diketahui adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi dan perbedaan struktur anatominya. Jenis penelitian yaitu RAL. Sampel yang digunakan sebanyak 24 ikan cupang. Data menunjukkan rata-rata panjang siripakhir kaudal setelah 28 hari secara berurutan yaitu 1,10 cm, 1,16 cm, 1,28 cm, 1,35 cm pada intensitas cahaya 0 Lux, 65 Lux, 90 Lux, dan 117 Lux. Berdasarkan hasil uji ANAVA One Way menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,0001 sehingga nilai p < 0,05 yang berarti bahwa H1 yang menyatakan Terdapat perbedaan regenerasi pada sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) pada intensitas cahaya yang berbeda dilihat dari panjang akhir sirip kaudal selama 28 hari pengamatan diterima. Struktur anatomi sirip kaudal mengalami perbedaan setelah 28 hari diamputasi terutama pada bentuk akhir dan pigmentasinya. Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwaada perbedaan intensitas cahaya terhadap kecepatan regenerasi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens) dilihat dari panjang akhir sirip kaudal setelah 28 hari diamputasi, regenerasi paling cepat pada perlakuan 90 Lux, dan ada perbedaan struktur anatomi sirip kaudal ikan cupang (Betta splendens).Kata Kunci : kecepatan regenerasi, struktur anatomi, ikan cupang, intensitas cahaya BBetta fish (Bettasplendens) is a fish that has a unique behavior called fight. This behavior causes the beautiful fin particularly damage especially the caudal fin. Fin of fish represent unique vertebrate with a spectacular ability to regenerate different organs after traumatic injury. One of the factors that affect the regeneration is the intensity of light. By providing treatment led lights brand "Opple" at four different levels, namely the light intensity 0 Lux (without lights), 3 watt (65 Lux), 6 Watt (90 Lux), and 8 Watt (117 Lux) can know the difference in speed growth seen from the long end of the caudal fin after 28 days amputated and anatomic structure differences. This type of research is true experiment with RAL research design. The samples used were 24 betta fish. Data shows the average length of caudal fin end after 28 consecutive days ie 1.10 cm, 1.16 cm, 1.28 cm, 1.35 cm at 0 Lux light intensity, 65 Lux 90 Lux and 117 Lux. Based on the results of One Way ANOVA showed that the p value of 0.0001 so that the value of p
VARIASI LAMA DEKOMPOSISI LIMBAH KULIT BUAH KAKAO DENGAN PENAMBAHAN EFFECTIVE MICROORGANISM 4 SEBAGAI PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN GUMITIR (Tagetes erecta L.) ., Ni Putu Asrini; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) variasi lama dekomposisi limbah kulit buah kakao dengan penambahan effective microorganism 4 sebagai pupuk organik mengakibatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.),(2) variasi lama dekomposisi limbah kulit buah kakao dengan penambahan effective microorganism 4 sebagai pupuk organik yang paling baik mengakibatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 sampel bibit tanaman gumitir. Jumlah perlakuan terdiri dari 4 perlakuan (0 minggu, 2 minggu, 4 minggu, dan 6 minggu) yang masing - masing perlakuan diulang sebanyak 10 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Anova One Way, dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Difference (LSD) pada taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) variasi lama dekomposisi limbah kulit buah kakao dengan penambahan effective microorganism 4 sebagai pupuk organik dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) dengan presentase kenaikan berat kering dari lama dekomposisi limbah kulit buah kakao 0 minggu ke 6 minggu 54,43 %, (2) variasi lama dekomposisi limbah kulit buah kakao dengan penambahan effective microorganism 4 yang paling baik dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan tanaman gumitir (Tagetes erecta L.) yaitu dengan lama dekomposisi 6 minggu dengan rerata berat kering 4,28 gr.Kata Kunci : kulit buah kakao, tanaman gumitir The purpose of this research was to know (1) the variation in decomposition duration of cocoa fruit peel waste with the effective microorganism 4 addition as organic fertilizer resulted in differences growth of marigold plants (Tagetes erecta L.), (2) the variation in decomposition duration of cocoa fruit peel waste with the effective microorganism 4 addition as the best organic fertilizer resulted in differences growth of marigold plants (Tagetes erecta L.). Type of this research was real experimental with Completely Randomized Design (CRD). The samples used in this research were 40 samples of marigold seedlings. The number of treatments consisted of 4 treatments namely 0 weeks, 2 weeks, 4 weeks, and 6 weeks, each of which was repeated 10 times. The data obtained were analyzed by using the One Way Anova test, and obtained by the Least Significant Difference (LSD) test at the 5% significance level. The results of this research showed facts (1) the variation in decomposition duration of cocoa fruit peel with the effective microorganism 4 addition as organic fertilizer can make different growth of marigold plants (Tagetes erecta L.) with a percentage increase in dry weight from the decomposition of cocoa fruit peel waste 0 weeks to 6 weeks 54.43 %, (2) the variation in decomposition duration of cocoa fruit peel waste with the effective microorganism 4 addition as the best organic fertilizer can lead to the best difference in growth of marigold plants (Tagetes erecta L.) in this research, namely 6 weeks decomposition with a mean dry weight is 4.28 gr.keyword : cocoa fruit peel, marigold plant
EFEKTIFITAS AIR RENDAMAN TEMBAKAU DARI PUNTUNG ROKOK KRETEK TERHADAP MORTALITAS Plutella xylostella L ., Lailatus Saadah; ., Prof. Dr. Putu Budi Adnyana, M.Si; ., Dr. I Wayan Sukra Warpala,S.Pd,M.Sc
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Plutella xylostella merupakan hama yang menyerang kubis sejak awal tumbuh sampai menjelang panen sehingga menyebabkan kegagalan bila tidak segera dikendalikan. Salah satu pestisida alami yang dapat membasmi hama Plutella adalah ekstrak limbah tembakau dari puntung rokok kretek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya peningkatan mortalitas Plutella melalui pemberian air rendaman tembakau serta konsentrasi air rendaman tembakau yang dapat membunuh 50% (Lc 50) dan 90% (Lc 90) Plutella. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen dengan 4 perlakuan dan 6 kali pengulangan dengan konsentrasi 0 g/l,5 g/l,10 g/l,dan 15 g/l, data dianalisis dengan ANAVA 1 arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terjadi peningkatan mortalitas dari Plutella,(2) konsentrasi air rendaman tembakau yang membunuh 50% (Lc 50) Plutella pada konsentrasi 6,35 g/l,(3) untuk membunuh 90% (Lc 90) pada konsentrasi 21,48 g/l, melalui uji hayati dengan analisis probit. Kata Kunci : Mortalitas, Plutella xylostella, Puntung Rokok Kretek Plutella xylostella is a pest that damage since the beginning of cabbage grow until the harvest, causing a failure if not controlled immediately. One of the natural pesticides that could be eradicate the pest Plutella is tobacco immersion of cigarette butts. This research aimed to analyze the increased mortality of Plutella through the provision immersion of tobacco and concentration of tobacco extracts was kills 50% (Lc 50) and 90% (Lc 90) Plutella. The research that exsperimental with 4 treatment in 6 replication consists used concentration of 0 g/l, 5g /l, 10 g/l, and 15 g/l, and analysed with one direction of ANAVA. The results of the research showed (1) increased mortality of Plutella, (2) tobacco immersion concentration was mortality 50% (Lc 50) Plutella of 6.35 g/l concentration, (3) mortality 90% (Lc 90) of 21,48 g/l with probit analysiskeyword : Mortalit, Plutella xylostella, Butts Cigarettes
ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD BADUNG MELALUI INDIKATOR FISIKA-KIMIA, BIOINDIKATOR NVC IKAN DAN JUMLAH TOTAL COLIFORM ., Sg. Ayu Wulan Pradnyamita; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 1, No 1 (2014):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Kualitas air Tukad Badung saat ini ditinjau dari parameter fisika dan kimia; (2) kualitas air ditinjau dari bioindikator NVC ikan; (3) kualitas air ditinjau dari jumlah total Coliform; dan (4) perbedaan kualitas air pada zona hulu, tengah dan hilir. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan eksploratif dengan populasi penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh air yang ada pada ekosistem Tukad Badung sepanjang badan sungai dan sampel dalam penelitian ini adalah air Tukad Badung dan beberapa ekor ikan yang ditangkap pada masing-masing zona. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan sistematik sampling. Dalam penelitian ini kegiatan yang dilakukan, yaitu : (1) pengukuran langsung kualitas air di lapangan; (2) pengambilan sampel air untuk diuji di laboratorium. Data dianalisis secara deskriptif dan uji statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Kualitas perairan Tukad Badung tergolong tercemar untuk parameter suhu (29,99 0C), COD (120,2 mg/L) dan BOD (21,9 mg/L). Untuk parameter pH dengan nilai 8,79, turbiditas (10 NTU), konduktivitas (0,319 ms/cm), DO (3,036 mg/L) dan salinitas (0,01‰) masih sesuai dengan standar baku mutu air; (2) ada sebanyak 47% ikan tergolong tidak sehat; (3) Rerata jumlah Coliform adalah sebanyak 280.000/100ml; (4) ada perbedaan kualitas air pada zona hulu, tengah, dan hilir dilihat dari beberapa parameter terukur (pH, konduktivitas, suhu, COD, BOD, Coliform dan Fecal coli) di Tukad Badung, dan tidak terdapat perbedaan kualitas air pada zona hulu, tengah dan hilir ditinjau dari parameter DO, salinitas dan NVC ikan.Kata Kunci : Kualitas air, NVC ikan, Jumlah total Coliform This aims of this research are to know: (1) water’s quality in Tukad Badung by physical and chemical parameters; (2) water’s quality by NVC’s fish bio-indicators; (3) water’s quality by the totally number’s coliform indicators; and (4) The differences of water’s qualities in upstream zone, midstream zone and downstream zone. This research are descriptive and explorative research which all component ecosystem in Tukad Badung as population’s research and water with fish in each zona as sample’s research. The systematic sampling was used in obtaining the data. The activity of this research are: (1) direct measurement of water’s quality; ( 2 ) taking of water samples for checking in laboratory. Data were analyzed by using descriptive and statistical tests. The results of this study indicate (1) The water’s quality of the Badung Tukad was contamined by temperature parameter (29.99 0C) , COD (120.2 mg/L) and BOD (21.9 mg/L). Moreover the parameter with a value of 8.79 pH, turbidity (10 NTU), conductivity (0.319 ms/cm), DO (3.036 mg/L) and salinity (0.01‰) was in accordance with the standard water’s quality; (2) 47% of fish were not healthy; (3) Average number of Coliform were 280.000/100ml; (4) there were the differences in water’s quality at upstream, midstream, and downstream by several parameters (pH, conductivity, temperature, CO, BOD, Coliform and fecal coli) in Tukad Badung, while for the DO parameters, salinity and fish NVC there were no the differences of water’s quality in upstream, midstream and downstream zone. keyword : water’s quality, NVC of fish, totally number of Coliform
AKTIVITAS ANTIFUNGI KOMBINASI EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle) DAN EKSTRAK KULIT BUAH JERUK (Citrus reticulata) UNTUK MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Candida albicans Setiari, Ni Made Nita; Ristiati, Ni Putu; Warpala, I. W. Sukra
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan diameter daerah hambat (DDH) pertumbuhan Candida albicans dengan variasi kombinasi ekstrak daun Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata, (2) Variasi kombinasi ekstrak Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan rancangan penelitian randomized post test only control group design. Variasi kombinasi ekstrak daun Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10%:10%; 10%:20%; 10%:30%; 10%:40% dan 10%:50%. Metode uji aktivitas antifungi menggunakan uji sumur difusi. Efek perlakuan ini adalah dengan adanya diameter daerah hambat (DDH) pertumbuhan Candida albicans. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Candida albicans  dari stok kultur yang dibiakkan kembali pada media SDA (Sabouraud Dextrose Agar), sedangkan sampelnya adalah Candida albicans yang diberi perlakuan variasi kombinasi ekstrak daun Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata pada konsentrasi yang berbeda. Hasil penelitian ini adalah: (1) Ada perbedaan diameter daerah hambat pertumbuhan Candida albicans akibat pemberian variasi kombinasi ekstrak daun Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata. Hal ini diperoleh dari hasil uji hipotesis bahwa nilai signifikansi 0,0001 < 0,05. 2) Variasi kombinasi ekstrak daun Piper betle dan kulit buah Citrus reticulata yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dalam penelitian ini adalah variasi kombinasi 10%:50%.
PEMBERIAN AIR CUCIAN BERAS IR 64 DAN AIR KELAPA PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK Dendrobium laxiflorum ., Ni Luh Sasih Nurcahyani; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pengaruh pemberian air cucian beras pada konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek, (2) perbedaan pengaruh pemberian air kelapa pada konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek, (3) pengaruh interaksi antara pemberian air cucian beras dan air kelapa pada konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan desain penelitian faktorial 4x4. Populasi dalam penelitian ini adalah bibit tanaman anggrek Dendrobium laxiflorum. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 48 tanaman anggrek yang dibagi menjadi 16 kelompok perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji statistik Anova dua arah dengan hasil penelitian menunjukkan pemberian perlakuan air cucian beras dan air kelapa dengan konsentrasi yang berbeda memiliki interaksi yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman anggrek. Perlakuan dengan pemberian air cucian beras pada konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek tertinggi yaitu rata-rata berat kering tanaman anggrek sebesar 0,133 gram. Pemberian air kelapa pada konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan anggrek tertinggi yaitu rata-rata berat kering tanaman anggrek sebesar 0,071 gram. Pemberian air cucian beras dan air kelapa pada konsentrasi 60% dan 60% menghasilkan pertumbuhan tanaman anggrek tertinggi dengan rerata sebesar 0,167 gram.Kata Kunci : air cucian beras, air kelapa, pertumbuhan The research objectives to determine: (1) differences the effect of giving rice water in different concentrations on the growth of orchids, (2) differences the effect of coconut water in different concentrations on the growth of orchids, (3) the effect of interaction between giving rice water and coconut water in different concentrations on the growth of orchids. This research is experiment research with group randomized design and 4x4 factorial design. Population in this research was plant seed of Dendrobium laxiflorum. The samples in this research were 48 orchids that are divided into 16 groups. Data were analyzed using two-way ANOVA statistical. The results showed giving treatment rice water and coconut water with different concentrations had significant interaction on the growth of orchids. Treatment with giving rice water at different concentrations on the growth of orchids had highest average orchid plant dry weight of 0.133 grams. Treatment with giving coconut water at different concentrations on the growth of orchids had highest average orchid plant dry weight of 0,071 grams. Treatment with giving rice water and coconut water at a concentration of 60 % and 60 % resulted highest orchids growth with a mean of 0.167 grams.keyword : Coconut Water, Growth, Rice water
THE INFLUENCES OF EXTRACT YOUNG Musa paradisiaca var. sapientum IN VARIATION CONCENTRATION AND WATERING TIMING TO THE GROWTH PLANT OF Capsicum annuum L. ., Sagung Inten Astari; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 2, No 1 (2015):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak tanaman sebagai Zat Pengatur Tumbuh digunakan untuk mempercepat pertumbuhan. Ekstrak daging buah Musa paradisiaca var. sapientum muda digunakan sebagai pengganti auksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh konsentrasi ekstrak daging buah Musa paradisiaca var. sapientum muda terhadap pertumbuhan cabai merah, (2) pengaruh waktu penyiraman ekstrak daging buah Musa paradisiaca var. sapientum muda terhadap pertumbuhan cabai merah, (3) mengetahui interaksi antara konsentrasi dan waktu penyiraman ekstrak daging buah Musa paradisiaca var. sapientum muda terhadap pertumbuhan cabai merah. Populasi dalam penelitian ini adalah 54 bibit cabai merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3x3 dengan empat kali ulangan. Variabel pertama adalah konsentrasi k1 (5%), k2 (10%), dan k3 (15%). Variabel kedua adalah waktu penyiraman t1 (24 jam), t2 (48 jam), dan t3 (72 jam). Analisis data pada penelitian ini menggunakan ANOVA dua arah. Data dianalisis menggunakan uji Univariat dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) menggunakan Post Hoc Test. Hasil penelitian menunjukkan tanaman pada konsentrasi 15% dan waktu penyiraman 24 jam memiliki biomassa tertinggi. Terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan konsentrasi 15% dan waktu penyiraman 24 jam.Kata Kunci : auksin, Capsicum annum L., waktu penyiraman, konsentrasi, ekstrak Musa paradisiaca var. sapientum. Plant extracts as plant growth regulator used to increased growth. Young Musa paradisiaca var. sapientum extract used instead of auxin. This study aims to determine (1) the effect concentration of young Musa paradisiaca var. sapientum extract on growth red peppers, (2) the effect watering timing of young Musa paradisiaca var. sapientum extract on growth red peppers, (3) the interaction between concentration and watering timing of young Musa paradisiaca var. sapientum extract on growth red peppers. Populations in this research are 54 samples red chilli seeds. This study, using research design CRD factorial 3x3 with four replications. First variable is concentration k1 (5%), k2 (10%), and k3 (15%). Second variable is watering timing t1 (24 hours), t2 (48 hours), and t3 (72 hours). Analysis the data using two-way ANOVA. The data that analysis used Univariate test followed by Least Significant Difference (LSD) using Post Hoc Test. The results showed plants on 15% concentration and watering timing 24 hours had the highest biomass. There are significant difference between the treatments concentration of 15% and watering timing in 24 hours.keyword : auxin, Capsicum annum L., watering timing, concentration, Musa paradisiacal var. sapientum extract.
VARIASI DOSIS TEPUNG CANGKANG TELUR AYAM MENINGKATKAN JUMLAH DAUN DAN BERAT KERING TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir var. mahar) Rosita Putri, Ni Putu Ulan; Julyasih, Ketut Srie Marhaeni; Ratna Dewi, NP Sri
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cangkang telur ayam mengandung unsur hara yang baik untuk tanaman namun belum dimanfaatkan secara optimal di bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan jumlah daun dan berat kering tanaman kangkung darat setelah diberikan tepung cangkang telur dengan variasi dosis yang berbeda, (2) Dosis tepung cangkang telur ayam yang paling efektif untuk meningkatkan jumlah daun dan berat kering tanaman kangkung darat). Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan (true experimental research). Variasi dosis tepung cangkang telur ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0gr, 10gr, 15gr, 20gr, dan 25gr. Rancangan dasar yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah tanaman kangkung darat yang telah tumbuh pada saat di semai yang berasal dari satu kemasan biji kangkung darat varietas Mahar. Sampel yang digunakan adalah tanaman kangkung darat yang telah berumur 7 hari sebanyak 30 tanaman. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah dan uji lanjut  Beda Nyata Terkecil dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini adalah: (1) terdapat perbedaan jumlah daun dan berat kering  tanaman kangkung darat setelah diberikan tepung cangkang telur ayam dengan variasi dosis yang berbeda. Berdasarkan dari hasil uji hipotesis bahwa angka signifikansi, p<0.05 artinya data berbeda bermakna dan 2) Hasil Beda Nyata Terkecil menunjukkan dosis tepung cangkang telur ayam 25 gram yang paling efektif untuk meningkatkan berat kering  tanaman kangkung darat.

Page 11 of 66 | Total Record : 658