cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 658 Documents
PENGARUH PERBEDAAN PAKAN JADI TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT IKAN MUJAIR (Oreochromis mossambicus) DI DESA TERUNYAN KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI ., I Wayan Eva Widi Pratama; ., Drs.I Ketut Artawan,M.Si; ., Ida Ayu Putu Suryanti,S.Si.,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) ada atau tidak pengaruh perbedaan pakan jadi merk (Comfeed, Bintang, dan Provite) terhadap pertambahan berat ikan mujair (Oreochromis mossambicus); 2) Untuk mengetahui pakan jadi merk manakah yang memberikan berat badan maksimal pada Ikan mujair (Oreochromis mossambicus). Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Terunyan Kecamatan Kintamani Kabuupaten Bangli. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ikan Mujair yang dibudidayakan di Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan 90 ekor Ikan Mujair yang digunakan dalam penelitian dan akan ditebar pada setiap kolam pembesaran dengan ukuran dan berat yang relatif sama. Dari hasil penelitian pertambahan berat ikan mujair dapat dilihat pertambahan berat yang tinggi dan berbeda dari setiap pakan yang diberikan, yakni pakan merk Comfeed rata – rata pertambahan beratnya adalah 109,3 gr, pakan merk Bintang rata – rata pertambahan beratnya adalah 178,8 dan pakan merk Provite rata- rata pertambahan beratnya adalah 138,03 gr. Hal ini sesuai dengan hasil analisis statistik data pertambahan berat ikan mujair yang diberi pakan berbeda menggunakan uji ANAVA satu arah pada program SPSS versi 21.0 for windows, diperoleh angka signifikansi 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dari pertambahan berat ikan mujair yang diberi pakan yang berbeda antara merk Comfeed, Bintang dan Provite.Kata Kunci : Ikan Mujair, pakan,berat The research aimed 1) to investigate whether there was significant difference of Comfeed, Bintang, and Provite treatment toward the increase of Oreochomis mossambicus weight, 2) to understand which feed gives the most significant effect toward the Oreochomis mossambicus weight. This research was an experimental research. This research took place in Terunyan village, Kintamani sub-district, Bangli regency. There were 90 Oreochomis mossambicus fishes with same size and weight that were selected as the sample of the study. The result showed that there were different height and weight among the fishes that were given by different feed. The weight of the fishes that were given by Comfeed increase 109.3 gram. Meanwhile, the weight of the fishes given by Bintang increase 178.8 gram. On the other hand, the weight of the fishes given by Provite increase 138.03 gram. Those results were supported by ANAVA test through SPSS 21.0 for windows which showed that the significant level 0.000 < 0.05. Thus means that Ho were rejected and Hi were accepted. In addition, there were significant difference in terms of Oreochomis mossambicus weight that were given by Comfeed, Bintang, and Provite. keyword : Oreochomis mossambicus, feed, weight
EKSPLORASI SPESIES TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DALAM GEGALIHAN USADA TARU PRAMANA SEBAGAI KAJIAN ETNOBOTANI DAN EKOLOGI DI HUTAN WISATA MONKEY FOREST UBUD, KABUPATEN GIANYAR ., Komang Adi Purnama Putra; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Jumlah spesies tumbuhan berkhasiat obat yang terdapat di Hutan Wisata Monkey Forest Ubud, Kabupaten Gianyar sesuai dengan Usada Taru Pramana; (2) Organ tumbuhan berkhasiat obat yang digunakan; (3) Cara pengolahan tumbuhan obat; (4) Kegunaan setiap spesies tumbuhan berkhasiat obat; (5) Faktor edafik dan klimatik di Hutan Wisata Monkey Forest. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif dan deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Hutan Wisata Monkey Forest. Populasi dalam penelitian ini adalah semua spesies tumbuhan yang hidup di seluruh area hutan wisata Monkey Forest. Populasi juga menyangkut sosial masyarakat setempat yang nantinya berhubungan dengan pengumpulan data local genius. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh spesies tumbuhan yang ada di hutan wisata Monkey Forest dengan kuadrat ukuran 10x10 m2 sebanyak 36 kuadrat. Sampel untuk sosial masyarakat ini adalah tokoh masyarakat, pemangku/penglingsir, balian, dan masyarakat umum. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan sistematik sampling dan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Dari 3.600 m2 luas Hutan Wisata Monkey Forest, komposisi spesies tumbuhan tersusun oleh 63 spesies dengan jumlah total spesies tumbuhan obat sebanyak 28 spesies. Berdasarkan Usada Taru Pramana sebanyak 12 spesies tumbuhan obat, sedangkan hasil wawancara dari masyarakat sebanyak 26 spesies (diantara keduanya terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan sehingga menjadi 28 spesies); (2) Pada spesies tumbuhan obat yang terdata, jika organ yang bisa digunakan sejumlah 1 organ, maka yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah daun dengan jumlah 8 spesies dan persentase sebesar 28,6%. Sedangkan jika organ yang digunakan sejumlah 2 organ, maka yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah daun dan buah dengan jumlah spesies 4 spesies dan presentase sebesar 14,3%. Dan jika organ yang bisa digunakan sejumlah 3 organ, maka yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah akar, batang dan daun dengan presentase 7,1 %. (3) Cara pengolahan tumbuhan obat dapat diolah dengan beberapa cara yaitu dibuat jamu, lulur atau boreh, dikunyah kemudian disembur, diusap atau dioleskan dan dibakar kemudian dihirup asapnya; (4) Kegunaan spesies tumbuhan yang terdata dapat dipakai sebagai obat luar misalnya yaitu obat luka bakar, luka memar atau lebam, lumpuh, bengkak atau tuju brahma, dan lainnya. Sedangkan sebagai obat dalam yaitu obat pusing, diare, disentri, liver, darah tinggi dan lainnya; (5) Faktor klimatik diantaranya suhu udara 31,60C, intensitas cahaya 368,1 dan lainnya, sedangkan faktor edafik diantaranya pH tanah 7,1, BOT 28% dan lainnya.Kata Kunci : Monkey Forest, Tumbuhan berkhasiat obat, Usada Taru Pramana The purpose of this research was to know (1) The species of herbs which is located in Tourism Forest that is Monkey Forest Ubud, Gianyar in accordance with Usada Taru Pramana; (2) The organ of herbs that is used; (3) How the processing of herbs; (4) The use of each species of herbs; (5) The edafik and climatic factors in Tourism Forest that is Monkey Forest. The type of this research was explorative and descriptive research. The research location is at Monkey Forest-Tour Forest. The population of this research are all the species of plants that live in the entire forest area travel Monkey Forest. The population is also about social community that will be associated with the data collection of local genius. The sample used of this research are all plant species in the forest Monkey Forest travel with the square size of 10x10 m2 as 36 squares. The sample for this community is a social community leaders, pemangku/ penglingsir, balian, and the general public. The technique of sample collection used a systematic sampling and purposive sampling. The results of this research shows (1) from 3.600 m2 area of Monkey Forest, species composition composed by 63 species with total of 28 species of herbs. Based on Usada Taru Pramana as many as 12 species of herbs, while the results of the public interview as many as 26 species (between both of them ,there are some similarities and differences until become 28 species); (2) In data herbs species, if there is one part that can be used, so, which has the most numbers is leaves with 8 species has 28,8% of percentage. Whereas, if there are two parts that can used, so, which has the most numbers are leaves and fruit with total 4 species and has 14,3% percentage. And if there are 3 part that can be used, so, which has the most numbers of species are root, stick, and leaves with 7,1% percentage; (3) How the processing of herbs can be processed in some way that is made of herbs, herbal or boreh, chewed and then sprayed, rubbed or smeared and burned then inhaled the smoke; (4) The use of recorded plant species can be used for topically for example a drug burns, contusions or bruises, paralysis, swelling or tuju brahma, and many more. Whereas, as a inner medicine that is a drug dizziness, diarrhea, dysentery, liver, high blood pressure and others; (5) climatic factors including air temperature that is 31.6 0 C, light intensity and other 368.1, while edafik factors including soil pH of 7.1, Soil Organic Matter 28% and more.keyword : Monkey Forest, Herbs, Usada Taru Pramana
STUDI KOMPARATIF KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA EKOSISTEM LAMUN, TERUMBU KARANG, MANGROVE DI KAWASAN TNBB ., Putu Bintang Orissa; ., Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 1, No 1 (2014):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini belum ada penelitian yang membandingkan perbedaan keanekaragaman dan kemelimpahan fitoplankton pada ekosistem padang lamun, terumbu karang dan mangrove di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komposisi, indeks keanekaragaman, kemelimpahan relatif, tingkat perbedaan keanekaragaman dan kemelimpahan fitoplankton yang hidup pada ketiga ekosistem tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan eksploratif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh fitoplankton pada ekosistem padang lamun, terumbu karang dan mangrove. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah fitoplankton yang berhasil ditangkap pada sejumlah titik pengambilan sampel. Analisis data menggunakan statistik ekologi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Fitoplankton yang teridentifikasi pada ekosistem lamun sebanyak 24 jenis, ekosistem terumbu karang 32 jenis dan ekosistem mangrove 20 jenis; (2) Indeks keanekaragaman fitoplankton pada ekosistem terumbu karang tergolong tinggi sedangkan ekosistem lamun dan mangrove sedang; (3) Kemelimpahan relatif tertinggi pada ekosistem lamun adalah spesies Guinardia blavyana, ekosistem terumbu karang adalah Cocconeis scutelum dan ekosistem mangrove adalah Triceratium alternans; (4) terdapat perbedaan keanekaragaman fitoplankton antara ketiga ekosistem; (5) Terdapat perbedaan kemelimpahan fitoplankton antara ketiga ekosistem.Kata Kunci : fitoplankton, keanekaragaman, kemelimpahan Until this time there is no research that compares phytoplankton diversity and abundance between sea grass, coral reef and mangrove ecosystems in Bali Barat National Park. The research purposes are to know the phytoplankton composition, diversity index, relative abundance, comparison of diversity and abundance on three ecosystems. This research categorized as descriptive and explorative. The research population is all of phytoplankton on those three ecosystems, while the research sample is captured phytoplankton in some point. Data analyze using ecologyc statistic. The results are: (1) the amount of phytoplankton that identified on sea grass ecosystem are 24 species, on coral reef are 32 species, and on mangrove are 20 species; (2) phytoplankton diversity index on coral reef ecosystem included into high level, but on sea grass and mangrove ecosystem are moderate; (3) higher relative abundance on sea grass ecosystem is Guinardia blavyana, on coral reef ecosystem is Cocconeis scutelum and mangrove is Triceratium alternans; (4) phytoplankton diversity between three ecosystems are different; (5) phytoplankton abundance between three ecosystems are different.keyword : phytoplankton, diversity, abundance
VARIASI KOMPOSISI MEDIA CAMPURAN AMPAS TEBU DAN TONGKOL JAGUNG SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN BERAT BASAH JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) ., Stanislaus Putu Mikael Mba Balu; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) atau white mushroom merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dan popular dibudidayakan serta paling sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) Perbedaan peningkatan berat basah pada jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) setelah pemberian ampas tebu dan tongkol jagung dengan komposisi yang berbeda (2) Pemberian komposisi ampas tebu dan tongkol jagung paling baik meningkatkan berat basah jamut tiram putih (Pleurotus ostreatus). Jenis Penelitian ini adalah penelitian experimen sungguhan dengan randomized post-test only control group design. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) pada baglog yang ditakar dengan serbuk kayu, ampas tebu dan tongkol jagung dengan jumlah 16 baglog. Data yang diperoleh dari dianalisis dengan uji ANOVA two way pada taraf signifikan 5%. Hasi dari penelitian ini adalah : (1) Terdapat perbedaan pada peningkatan jumlah berat basah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) setelah pemberian ampas tebu dan tongkol jagung dengan komposisi yang berbeda (2) Komposisi ampas tebu dan tongkol jagung yang paling optimal meningkatkan berat basah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) J2T3 (Tongkol jagung 180g dan ampas tebu 80g) dengan rerata berat basah 207,00g dan memiliki rata-rata jumlah badan buah sebanyak 27,00 buahKata Kunci : Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus), ampas tebu, dan tongkol jagung This white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) or white mushroom is one of the most widely used and popular types of edible mushrooms and it was consumed by the people of Indonesia. The purpose of this study are to find out (1) knowing the differences in the increase in wet weight of white oyster mushrooms (Pleurotus ostreatus) after giving bagasse and corn cobs with different compositions (2) Knowing the composition of bagasse and corncob which the best increases growth and productivity plural white oysters (Pleurotus ostreatus). This type of study is a real experimental study with randomized post-test only control group design. This study used white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) as sample in baglog which was graded with wood powder, bagasse and corn cobs with a total of 16 baglogs. The data is analyzed by ANOVA two way at a significant level of 5%. The results of this study are: (1) There was an increase in the amount of white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) fresh weight after the giving of bagasse and corn cobs with different compositions (2) The most optimal composition of bagasse and corn cobs increases the growth of oyster mushrooms white (Pleurotus ostreatus) J2T3 (corn cob 180g and bagasse 80g) with an average fresh weight of 207.00g and has an average number of fruit bodies as many as 27.00 pieces.keyword : white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus), Bagasse, and corn cob
STUDI PENGGUNAAN BUKLET DENGAN SETTING MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X DI SMA NEGERI 1 SAWAN TAHUN AJARAN 2015/2016 ., Ismiatul Wardah; ., Dra.Desak Made Citrawathi,M.Kes; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar biologi antara kelompok kelas yang dibelajarkan menggunakan buklet setting NHT dan tanpa menggunakan buklet setting konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu (quasi experimental research) dengan rancangan non-equivalent pretest posttest control group design. Populasi penelitian adalah seluruh kelas X semester genap SMA Negeri 1 Sawan tahun ajaran 2015/2016. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik acak (random sampling). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X7 dan X8 SMA Negeri 1 Sawan. Data penelitian diperoleh dari tes hasil belajar ranah kognitif siswa. Teknik analisis data yang digunakan dua teknik analisis yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik Independent Sample T-test. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan analisis data didapatkan hasil penelitian yaitu: terdapat perbedaan hasil belajar biologi antara kelompok kelas yang dibelajarkan menggunakan buklet setting NHT dan tanpa menggunakan buklet setting konvensional.Kata Kunci : animalia, buklet, NHT. This study was aimed to identify diversity of biology learning result between learning groups with NHT setting booklet and without conventional setting. This study was a quasi experimental research with non-equivalent pre-test post-test control group design. Population of this study were second semester X grade students of SMAN 1 Sawan academic year 2015/2016. Sample were choosen through random sampling. The sample of this study were X7 and X8 of SMAN 1 Sawan. Data were collected through students' learning result with cognitive test. The Data were analyzed using two analysis technique, descriptive analysis and statistic analysis with Independent Sample T-test. The test was done with 5% significancy. Based on data analysis, the result of this study were: there was a significant effect of biology learning result between learning groups with NHT setting booklet and without conventional setting.keyword : animalia, booklet, NHT
ANALISIS STRUKTUR TEGAKAN DAN KEANEKARAGAMAN SPESIES TUMBUHAN PADA KAWASAN VEGETASI DENGAN ALTITUDE BERBEDA PADA BENTANGAN BUKIT DESA PENUKTUKAN (TEJAKULA) SAMPAI DESA SIAKIN (KINTAMANI), BALI ., Anita Dea Prafikti; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 2, No 1 (2015):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Struktur vegetasi dapat didefinisikan sebagai organisasi individu-individu tumbuhan dalam ruang yang membentuk tegakan secara lebih luas membentuk tipe vegetasi. Struktur vegetasi meliputi komposisi, struktur tegakan dan keanekaragaman spesies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur tegakan dan besarnya indeks keanekaragaman spesies tumbuhan pada kawasan vegetasi dengan altitude berbeda di bentangan bukit Desa Penuktukan (Tejakula) – Desa Siakin (Kintamani), Bali. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh spesies tumbuhan yang ada di sekitar kawasan vegetasi bentangan garis gradien bukit dari Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula sampai Desa Siakin, Kecamatan Kintamani. Penelitian dilakukan di tiga zona dengan altitude berbeda, yaitu Zona I (0 mdpl), Zona II (800 mdpl), dan Zona III (1.600 mdpl). Metode yang digunakan dalam pengambilan data di lapangan adalah dengan menggunakan metode kuadrat dan teknis pengambilan sampel dilakukan dengan sistematik sampling. Data struktur tegakan dan keanekaragaman spesies dianalisis dengan menggunakan statistik ekologi. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Terdapat tiga tipe struktur tegakan pada seluruh zona, yaitu: tegakan tidak seumur dan tegakan tidak teratur pada Zona I (0 mdpl) dan Zona II (800 mdpl); dan pada Zona III (1.600 mdpl) terdapat tegakan seumur dan tegakan tidak teratur; dan (2) Rata-rata indeks keanekaragaman spesies pada seluruh zona termasuk dalam kategori tinggi, yaitu: 4,1524 pada Zona I; 3,8414 pada Zona II; dan pada Zona III sebesar 4,4394.Kata Kunci : Struktur Tegakan, Keanekaragaman Spesies, Altitude Vegetation structure is the plants individuals of organization in the area which forming stand and for the establish meaning is forming the types of vegetation. Vegetation structure is compound by composition of species, stand structure, and diversity of species. The purpose of this research were to analyze the stand structure and diversity index of plants species in vegetation region at the different altitude of Penuktukan Village (Tejakula) – Siakin Village (Kintamani), Bali. The kind of this research is exploratory research. The population of this research are all species in the vegetation region at the different altitude of Penuktukan Village (Tejakula) – Siakin Village (Kintamani), Bali. This research was conducted at three zone with different altitude: Zone I (0 masl), Zone II (800 masl), and Zone III (1.600 masl).This research used quadrate method and sistematic sampling to collect the data in the fields. The data of stand structure and diversity index were analized by ecological statistic. The result of this research are (1) There are three types of stand structure in the entire zone; uneven-aged stand and irregular stand at Zone I (0 masl) and Zone II (800 masl); and at Zone III (1.600 masl) there are even-aged stand and irregular stand; and (2) The average of diversity index at the each zone are on high category: 4,1524 at Zone I; 3,8414 at Zone II; and at Zone III is 4,4394. keyword : Stand Structure, Species Diversity, Altitude
VARIASI PEMBERIAN JENIS PAKAN MENGAKIBATKAN PERBEDAAN TERHADAP BERAT TUBUH TUKIK PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) DI TEMPAT KONSERVASI PENYU PANTAI PENIMBANGAN SINGARAJA Trisna Dewi, LP Ayu Arsih; Warpala, IW Sukra; Mulyadiharja, S
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan berat tubuh tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang diberi pakan campuran udang ebi dan rumput laut, pakan campuran rumput laut dan ikan layang serta pakan rumput laut, dan (2) jenis pakan yang paling berpengaruh terhadap berat tubuh tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh tukik penyu lekang yang berada di Tempat Konservasi Penyu Pantai Penimbangan Singaraja, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 15 ekor tukik penyu lekang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental sungguhan dengan pola desain pre test-post test group design, menggunakan tukik penyu lekang dengan berat tubuh 14-16 gram. Data dianalisis menggunakan uji deskriptif dan statistik non parametrik Kruskal Wallis dan uji lanjut Man Whitney. Hasil penelitian ini adalah (1) terdapat perbedaan berat tubuh tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang diberi pakan campuran rumput laut dan udang ebi, rumput laut dan ikan layang, dan rumput laut, (2) jenis pakan yang paling berpengaruh terhadap berat tubuh tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) adalah jenis pakan campuran rumput laut dan udang ebi. Hasil uji statistik non parametrik Kruskal Wallis menunjukan nilai p < 0,006 (nilai p < 0,05). Hasil dari uji lanjut Man Whitney menunjukan bahwa jenis pakan campuran rumput laut dan udang ebi berbeda bermakna dengan pakan campuran rumput laut dan ikan layang. Hal yang sama terjadi pada pakan campuran rumput laut dan udang ebi dengan pakan rumput laut. Akan tetapi pada jenis pakan campuran rumput laut dan ikan layang tidak berbeda bermakna dengan pakan rumput laut (p > 0,05)
MEKANISME KERJA BORONGAN YANG MONOTON DAN REPETITIF MENINGKATKAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL DAN KELELAHAN PENENUN DI DESA GELGEL KLUNGKUNG Hendrawan, M Bayu; Sutajaya, IM; Citrawathi, DM
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kerja borongan yang monoton dan repetitif dapat meningkatkan keluhan muskuloskeletal dan kelelahan penenun. Penelitian eksperimental lapangan (field experimental) ini menggunakan rancangan randomized pre and post test group design dengan variabel bebas berupa mekanisme kerja borongan yang monoton dan repetitif. Variabel terikat berupa: (a) keluhan muskuloskeletal penenun yang didata dengan kuesioner Nordic Body Map dan (b) kelelahan penenun yang didata dengan 30 item of rating scale of general fatigue. Pendataan dilakukan sebelum dan sesudah kerja terhadap 20 sampel selama 3 (tiga) hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t-paired pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keluhan muskuloskeletal sebesar 33,20% dan kelelahan sebesar 51,48% (p < 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja borongan yang monoton dan repetitif meningkatkan keluhan muskuloskeletal dan kelelahan penenun.
Pelaksanaan Full Day School di SMA Negeri 4 Singaraja Meningkatkan Kelelahan dan Kebosanan serta Kontribusinya terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI MIPA Devy, Yitha Kartika
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan full day school di SMA Negeri 4 Singaraja dapat meningkatkan kelelahan dan kebosanan serta kontribusinya terhadap siswa. Penelitian ini berupa eksperimental lapangan (field eksperimental) dengan rancangan randomized pre and post test group design, dilakukan penilaian berupa: (a) peningkatan kelelahan siswa akibat full day school yang didata dengan kuesioner 30 items of rating scale of general fatigue; (b) peningkatan kebosanan dalam pembelajaran akibat full day school yang didata dengan kesioner kebosanan dalam pembelajaran; (c) kontribusi kelelahan dan kebosanan terhadap prestasi belajar yang didata dengan soal tes pilihan ganda sebanyak 20 butir soal. Pendataan dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran terhadap 33 sampel selama 3 (tiga) hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t-dependent sampel pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kelelahan sebesar 42,07%, kebosanan dalam pembelajaran adalah 33,70% (p<0,05), dan kontribusi terhadap prestasi belajar adalah 7,4% (p>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan full day school di SMA Negeri 4 Singaraja meningkatkan kelelahan dan kebosanan serta kontribusinya terhadap prestasi belajar hanya sedikit.
CARA ANGKAT DAN ANGKUT YANG TIDAK FISIOLOGIS MENINGKATKAN KELELAHAN DAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PEMATUNG DI DESA PELIATAN UBUD GIANYAR ., NI KADEK EWIK ERAYATI; ., Prof. Dr. I Made Sutajaya,M.Kes.; ., Ni Putu Sri Ratna Dewi, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (a) mengetahui cara angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan kelelahan pematung; dan (b) mengetahui cara angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan keluhan muskuloskeletal pematung. Melalui penelitian ekperimental lapangan dengan rancangan randomized pre and posttest group design dinilai: (a) kelelahan pematung dengan kuesioner 30 item of rating scale of general fatique yang sudah valid dan reliabel; dan (b) keluhan muskuloskeletal dengan kuesioner Nordic Body Map yang sudah valid dan reliabel. Pendataan dilakukan sebelum dan sesudah kerja terhadap 22 sampel yang dipilih secara multistage random sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji t paired pada taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kelelahan sebesar 47,10 % dan keluhan muskuloskeletal sebesar 38,74 % antara sebelum dan sesudah kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cara angkat dan angkut yang tidak fisiologis dapat meningkatkan kelelahan dan keluhan muskuloskeletal pematung.Kata Kunci : cara angkat dan angkut, kelelahan, dan keluhan muskuloskeletal This research aims to: (a) know non-physiological lifting and transporting methods can increase fatigue of sculptor; and (b) know non-physiological lifting and transporting methods can increase musculoskeletal complaints of sculptor. Through a field experimental research with randomized pre and posttest group design assessed: (a) fatigue of sculptor with questionnaire 30 items of rating of scale of general fatigue which have been valid and reliable; and (b) musculoskeletal complaints with a valid and reliable Nordic Body Map questionnaire. Data collection was done before and after working on 22 samples hosen by multistage random sampling. The data obtained were analyzed by paired t test at 5 % significance level. The results showed: an increase in fatigue of 47.10 % and musculoskeletal complaints of 38.74 % between before and after working. Thus it can be concluded that non-physiological lifting and transporting methods can increase fatigue and musculoskeletal complaints of sculptor.keyword : lifting and transporting methods, fatigue, and musculoskeletal complaints