cover
Contact Name
I Made Oka Riawan
Contact Email
made.oka@undiksha.ac.id
Phone
+62362-23884
Journal Mail Official
jurdikbiologiundiksha@gmail.com
Editorial Address
Jalan Udayana, Kampus Tengah Undiksha, FMIPA. Singaraja-Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
Jurnal Pendidikan Biologi adalah adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat dibidang pendidikan dan pembelajaran. Pada akhirnya Jurnal ini dapat memberikan deskripsi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan bagi masyarakat akademik.
Articles 658 Documents
ANALISIS JAMUR MIKROSKOPIS PADA RHIZOSFER DI LAHAN PERKEBUNAN STROBERI (Fragaria ananassa var. rosa linda) DAN DI HUTAN DASONG, DESA PANCASARI, KECAMATAN SUKASADA, KABUPATEN BULELENG, BALI ., Putu Cindy Arista; ., Prof. Dr. Ni Putu Ristiati, M.Pd.; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni dan keanekaragaman genus jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan stroberi (Fragaria ananassa var. rosa linda) dan di Hutan Dasong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Metode yang digunakan yakni survei, pengambilan sampel, uji laboratorium, dan eksplorasi. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan dan di Hutan Dasong, sedangkan obyek adalah isolat jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan dan di Hutan Dasong. Tahapan dari penelitian ini terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap purifikasi, tahap identifikasi, dan analisis data. Berdasarkan hasil uji hipotesis terdapat perbedaan jumlah koloni jamur mikroskopis pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan stroberi dan Hutan Dasong. Jumlah koloni jamur pada rhizosfer tanaman di lahan perkebunan lebih banyak daripada di Hutan Dasong, namun keanekaragaman genusnya berbanding terbalik. Pada lahan perkebunan diperoleh 9 (sembilan) isolat jamur rhizosfer antara lain Fusarium (1 isolat), Penicillium (1 isolat)¸ Scopulariopsis (1 isolat)¸ Epicoccum (1 isolat)¸ Trichoderma (3 isolat)¸ Mucor (1 isolat)¸ dan Aspergillus (1 isolat). Sedangkan dari hasil isolasi di Hutan Dasong, diperoleh 12 (dua belas) isolat jamur rhizosfer yang termasuk ke dalam genus Penicillium (3 isolat), Mucor (1 isolat), Fusarium (1 isolat), Trichoderma (2 isolat), Verticillium (1 isolat), Rhizopus (1 isolat), Aspergillus (2 isolat), dan Gliocladium (1 isolat). Sehingga total jumlah genus jamur rhizosfer yang ditemukan di lahan perkebunan stroberi dan Hutan Dasong adalah 10 (sepuluh) genus dengan satu isolat yang memiliki ciri makroskopis dan mikroskopis yang sama yaitu isolat K9 dan H10.Kata Kunci : jamur mikroskopis, rhizosfer, perkebunan stroberi, Hutan Dasong This study aims to determine the differences number of colonies and the diversity genus of microscopic fungi in rhizosphere strawberry farm (Fragaria ananassa var. rosa linda) and Dasong Forest. This research is a descriptive exploratory. The method used are surveys, sampling, laboratory testing, and exploration. The subjects in this study are all microscopic fungi in the rhizosphere of strawberry farm and rhizosfer of plant in Dasong Forest, while the object is a microscopic fungal isolates in the rhizosphere of strawberry farm and rhizosfer of plant in Dasong Forest. Stages of this study consisted of preparation stage, implementation stage, purification, identification, and analysis of data. Based on the results of hypothesis testing there are differences in the number colonies of microscopic fungi in the rhizosphere of plants in strawberry farm and Dasong Forest. The number of fungal colonies in the rhizosphere strawberry farm more higher than in Dasong forest, but the diversity of the genus inversely. On the strawberry farm acquired 9 (nine) fungal isolates include Fusarium (1 isolate), Penicillium (1 isolate) ¸ Scopulariopsis (1 isolate) ¸ Epicoccum (1 isolate)¸ Trichoderma (3 isolates)¸ Mucor (1 isolate)¸ and Aspergillus (1 isolate). While the results of the isolation in the Dasong Forest, obtained 12 (twelve) fungal isolates belong to the genus Penicillium (3 isolates), Mucor (1 isolate), Fusarium (1 isolate), Trichoderma (2 isolates), Verticillium (1 isolates ), Rhizopus (1 isolate), Aspergillus (2 isolates), and Gliocladium (1 isolate). So the total number of rhizosphere fungi genus were found in strawberries and forest plantations Dasong is 10 (ten) genus with one isolate has a characteristic macroscopic and microscopic same that isolates K9 and H10. keyword : microscopic fungi, rhizosphere, strawberry farm, Dasong Forest
PEMBERIAN VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK REBUNG BAMBU TALI (Gigantochloa apus) MENGAKIBATKAN PERBEDAAN PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor L.) ., IB PUTU EKA WEDANTA; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan, M.Si.; ., Ida Ayu Putu Suryanti, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L.) akibat pemberian perlakuan dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak rebung bambu tali (Gigantochloa apus) dan (2) mengetahui konsentrasi ekstrak rebung bambu tali yang efektif untuk pertumbuhan tanaman bayam cabut. Jenis penelitian ini termasuk penelitian sungguhan (true experimental). Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah The Randomized Post Text Only Control Group Design. Perlakuan yang diberikan terdiri dari satu variabel bebas yaitu, pemberian variasi konsentrasi ekstrak rebung bambu tali yaitu: 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Anlisis data pada penelitian ini menggunakan ANAVA satu arah dengan taraf signifikansi 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan tanaman pada konsentasi ekstrak rebung bambu tali 25% memiliki biomassa tertinggi dengan berat kering 7,93gr, tinggi 49cm, jumlah daun 25,75 helai dari semua perlakuan, dan hasil Uji BNT menyatakan bahwa konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang paling efektif dengan beda rerata 0,80gr antara 0% dan 5%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada pemberian ekstrak rebung bambu tali dengan konsentrasi yang berbeda.Kata Kunci : Konsentrasi, Amaranthus tricolor L., Gigantochloa apus, pertumbuhan. The purpose of this research were (1) perceive the difference of growth of edible amaranth plant (Amaranthus tricolor L.) due to treatment by given various concentration of string bamboo shoot (Gigantochloa apus) and (2) find out the effective concentration of string bamboo shoot extract to the growth of edible amaranth plant. This was a (true experimental) research with Randomized Post-Text-Only Control Group Design as the research method. The given treatment consisted of one independent variable that was, giving various concentration of string bamboo shoot extract, such as 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, and 25%. Data analysis in this research used one way ANOVA with significance level of 5% and was continued with the test of Least Significance Different (LSD). The results showed that the edible amaranth plant at the concentration of 25% string bamboo shoot, had the highest biomass with dry weight of 7.93 gr, height 49 cm, leaves number in amount of 25.75 strands, from all the treatments, and BNT testing showed that most effective amount of concentration used was at 5% with average different of 0.80gr in ratio 0% and 5%. It can be concluded that there was significant difference in giving string bamboo shoot extract with different concentration on the growth of edible amaranth plant.keyword : Amaranthus tricolor L., concentration, growth, Gigantochloa apus.
ANALISIS PENGARUH LAMA WAKTU PENYIMPANAN AIR REBUSAN BAYAM CABUT (Amaranthus tricolor) TERHADAP KADAR ASAM OKSALAT TERLARUT ., I Made Oka Suardyana; ., Drs. Sanusi Mulyadiharja,M.Pd.; ., I M P Anton Santiasa, S.Pd.,M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayam adalah salah satu sayuran yang terkenal memiliki kandungan serat yang sangat tinggi. Bayam juga kaya karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Dibalik manfaatnya, bayam mengandung senyawa alergik yang tidak baik bagi tubuh manusia, yaitu senyawa purin, goitrogen, dan oksalat. Asam oksalat merupakan senyawa kimia yang mudah larut dalam air dan dapat mengakibatkan pembentukkan batu ginjal jika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Terkait dengan bahaya yang ditimbulkan oleh senyawa asam oksalat pada air rebusan bayam, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) perbedaan kadar asam oksalat terlarut pada sayur bayam yang direbus dengan durasi waktu yang sama akibat lama waktu penyimpanannya yang berbeda, (2) lama waktu penyimpanan yang paling berpengaruh terhadap kadar asam oksalat terlarut pada sayur bayam yang direbus dengan durasi waktu yang sama. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Populasi pada penelitian ini adalah bayam sebanyak 250 gram/1200 ml yang tergolong bayam cabut (Amaranthus tricolor) yang terdapat di Desa Gesing Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah rebusan bayam yang telah diberikan 6 perlakuan yaitu disimpan selama: 0 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Kadar asam oksalat paling rendah terdapat pada penyimpanan 0 jam (P0) sebesar 94,85 ppm (2) Kadar asam oksalat tertinggi terdapat pada penyimpanan 10 jam (P5) sebesar 301,77 ppm. (3) lama penyimpanan air rebusan bayam mempengaruhi kadar asam oksalat pada air rebusan bayam Kata Kunci : lama penyimpanan, air rebusan bayam dan kadar asam oksalat terlarut Spinach is a kind of vegetable that is known to have very high fiber content. Spinach is also rich in carbohydrate, protein, fat and vitamins. Behind of its benefits, spinach contains allergic compound that is not good for health because it contains purine compound, goitrogen and oxalate. Oxalic acid is a chemical compound that is readily soluble in water and can lead to the formation of kidney stone if consumed in large quantity. Related to the danger posed by the oxalic acid compound in spinach stew, the study aims to determine: (1) the difference in levels of oxalic acid dissolved in spinach stew boiled in the same duration due to the variation of storage duration, (2) the most influencing storage duration on the levels of oxalic acid dissolved in spinach stew boiled in the same duration. This study is an experimental research. The population of this study was the spinach that is classified as Amaranthus tricolor, as much as 250 gram boiled in 1,200 mililitre of water, obtained from Gesing village of Banjar District of Buleleng Regency. While the sample of the study was spinach stew that has been given of six treatments that was kept for : 0 hours, 2 hours, 4 hours, 6 hours, 8 hours and 10 hours. The result of this study indicates that: (1) the lowest levels of oxalic acid contained in storage duration of 0 hours (P0) contained 94.85 ppm (2) The highest levels of oxalic acid contained in the stew resulted from the storage duration of 10 hours (P5) that is 301.77 ppm. (3) The storage duration affect the oxalic acid levels in spinach stew.keyword : storage duration, spinach stew, dissolved oxalic acid concentration
STUDI TENTANG KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ENDOPSAMMON PADA EKOSISTEM PADANG LAMUNDI TELUK TERIMA KAWASAN TAMAN NASIONAL BALI BARAT ., Serlis Nofiana Sari; ., Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si; ., Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si.
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padang lamun merupakan suatu ekosistem penting di wilayah pesisir yang memegang peran dalam melindungi garis pantai. Di dalam ekosistem ini terdapat komunitas endopsammon yang memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan yang khas. Terkait dengan ragam dan kemelimpahan Endopsammon meka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) komposisi jenis Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (2) indeks keanekaragaman Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun yang ada di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional bali Barat, (3) kemelimpahan Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Endopsammon yang hidup pada Padang Lamun di Teluk Terima Kawasan Taman Nasional Bali Barat, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian Endopsammon yang terdapat di Teluk Terima Taman Nasional Bali Barat yang terperangkap dalam 15 core dan dipasang dibibir pantai wilayah tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) komposisi spesies Endopsammon yang hidup pada Ekosisitem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat terdiri dari 877 spesies, (2) Indeks keanekaragaman spesies Endopsammon pada Ekosistem Padang Lamun di Teluk Terima kawasan Taman Nasional Bali Barat tergolong sedang yaitu sebesar 2,61, (3) kemelimpahan relatif tertinggi dimiliki oleh spesies Helycotylenchus sp. sebesar 17,67% dan kemelimpahan relatif terendah dimiliki oleh spesies Gonionemus sp. 0,34 %. Kata Kunci : Keanekaragaman, Kemelimpahan, Endopsammon, Lamun. Seagrass bed is important ecosystem in coastal area which hold important role to protect seacoast. This ecosystem have a specific diversity and abundance . Related to diversity and abundance endopsammon, the research aims to know: (1) the composition of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (2) the diversity index of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park, (3) the abundance of endopsammon in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park. This was descriptive and explorative research. The population of this research was all of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park, and the sample of this research was half of endopsammon which lived at Terima Bay Bali Barat National Park that was caught in 15 core set in seashore at that area. The result of this research showed: (1) the species composition of endopsammon which lived in in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was 877 species, (2) The diversity index of endopsammon which lived in seagrass ecosystem at Terima Bay Bali Barat National Park was categorized in medium level 2.61, (3) the highest relative abundance was the species of Helycotylenchussp with value 17.67%, and the lowest relative abundance was the species of Gonionemussp with value 0.34%keyword : Diversity, abundance, endopsammon, and seagrass.
ANALISIS POLA SEBARAN, KEBERMANFAATAN, DAN PREDIKSI PRODUKSI BUAH DAN DAUN LONTAR DI DESA LABA SARI KECAMATAN ABANG KABUPATEN KARANGASEM ., Ni Nym.Yuli Adelina; ., Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si; ., Dr.I Gusti Agung Nyoman Setiawan,M.Si
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 2, No 1 (2015):
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui; (1) pola sebaran Borassus flabellifer yang ada di Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem; (2) kebermanfaatan Borassus flabellifer yang ada di Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem; (3) besarnya prediksi produksi buah dan daun Borassus flabellifer yang ada di Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif. Populasi penelitian ini adalah seluruh spesies Borassus flabellifer yang ada di Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Sampel dalam penelitian ini adalah spesies Borassus flabellifer di Desa Laba Sari yang terkaver dalam kuadrat yang berjumlah 100 kuadrat dengan ukuran 20x20 meter. Metode yang digunakan untuk mendata pola sebaran adalah metode kuadrat dengan teknik random sampling. Untuk kebermanfaatan dan produksi digunakan metode observasi dan wawancara. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan statistik ekologi dan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) pola sebaran Borassus flabellifer yang ada di Desa Laba Sari adalah pola sebaran mengelompok. 2) Pemanfaatan tumbuhan lontar paling banyak dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga (25%) dan organ tumbuhan lontar paling banyak dimanfaatkan adalah daun lontar (41,7%). 3) Prediksi produksi buah tumbuhan lontar yang ada di Desa Laba Sari adalah sebesar 200.000 buah dan untuk daun adalah sebesar 10.000.000 helai daun.Kata Kunci : Pola sebaran, Kebermanfaatan, Produksi, Borassus flabellifer. The purpose of this research was to know; (1) Borassus flabellifer distribution patterns in the village Laba Sari, District Abang, Karangasem regency; (2) Borassus flabellifer usefulness in the village Laba Sari, District Abang, Karangasem regency; (3) the amount of fruit and leaf production forecast Borassus flabellifer in the village Laba Sari, District Abang, Karangasem regency. The kind of this research is explorative research. The research population was all the species Borassus flabellifer in the village Laba Sari, District Abang, Karangasem regency. The sample in this research is a species of Borassus flabellifer in the village Laba Sari that covered in squares of 100 squares with a size of 20x20 meters. The method used for the distribution pattern is a method of squares with random sampling techniques. For the usefulness and the production method is used observation and interviews. The collected data were analyzed using statistics ecology. The results of this research showed (1) Borassus flabellifer distribution patterns in the village Laba Sari is clumped distribution pattern. (2) Utilization of palm plants most widely used for domestic purposes (25%) and palm plant organs is the most widely used palm leaves (41.7%). (3) Prediction production palm fruit plant in the village Laba Sari amounted to 200,000 fruit and leaf amounted to 10,000,000 leaves.keyword : Distribution patterns, The usefulness, Production, Borassus flabellifer
Analisis Potensi Epidermis Daun dan Derivatnya pada Famili Palmae di Sepanjang Pantai Parangtritis Sampai Depok sebagai Sumber Belajar Biologi Anggoroputro, Cahyo
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe environment can be used as a learning resource to increase knowledge. One of the learning resources that can be found in the environment is plants. Biology learning has great potential in utilizing the environment as a learning resource. One of the uses of learning resources from the environment is by using research results.This type of research is a qualitative descriptive study carried out through the analysis method of potential learning resources. The results of the research are analyzed for their potential as a learning resource by looking at the requirements of the research results as a learning resource which includes clarity of the potential availability of objects and problems raised, conformity with learning objectives, material objectives and their designation, information to be disclosed, exploration guidelines, and acquisitions to be achieved.The results of this study indicate that (1) The results of research on the potential of leaf epidermis and its derivatives in the Palmae family along Parangtritis Beach to Depok Beach as a source of learning biology can be used as a source of learning biology because it is in accordance with the requirements of research results as a learning resource. (2) It is necessary to follow up to package / develop environment-based biology teaching materials that are tailored to the learning needs and characteristics of students through the research & development (R&D) method.Keywords: Epidermis and derivatives 1; Palmae 2; Learning resources 3; AbstrakLingkungan dapat digunakan sebagai sumber belajar untuk menambah pengetahuan. Sumber belajar yang dapat ditemukan di lingkungan salah satunya adalah tumbuhan. Pembelajaran biologi memiliki potensi yang besar dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Salah satu pemanfaatan sumber belajar dari lingkungan yaitu dengan menggunakan hasil penelitian.Jenis penelitian adalah penelitian deksriptif kualitatif yang dilakukan melalui metode analisis potensi sumber belajar. Hasil penelitian dianalisis potensinya sebagai sumber belajar dengan melihat syarat hasil penelitian sebagai sumber belajar yang meliputi kejelasan potensi ketersediaan objek dan permasalahan yang diangkat, kesesuaian dengan tujuan belajar, sasaran materi dan peruntukannya, informasi yang akan diungkap, pedoman eksplorasi, perolehan yang akan dicapai.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Hasil penelitian tentang potensi epidermis daun dan derivatnya pada famili Palmae di sepanjang Pantai Parangtritis sampai Pantai Depok sebagai sumber belajar biologi dapat dijadikan sumber belajar biologi karena sesuai dengan persyaratan hasil penelitian sebagai sumber belajar. (2) Perlu tindak lanjut untuk mengemas/mengembangkan bahan ajar biologi berbasis lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan karakteristik peserta didik melalui metode research &development (R&D).Kata-kata kunci: Epidermis dan derivat 1; Palmae 2; Sumber belajar 3
TINGKAH LAKU MEMELIHARA ANAK (EPIMELETIC BEHAVIOR) BURUNG KUNTUL (Bubulcus ibis) DI DESA PETULU, UBUD, BALI I Wayan Jaya Antara .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 1 No. 1 (2014)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v1i1.3170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku memelihara anak (epimeletic behavior) burung kuntul (Bubulcus ibis). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratoris karena sifat dari penelitian ini mendalami fakta atau informasi dari lapangan tanpa manipulasi dimana hasilnya dipaparkan secara objektif melalui uraian atau narasi secara tertulis. Data tentang tingkah laku memelihara anak burung kuntul diperoleh melalui observasi menggunakan lembar observasi dan direkam menggunakan handycam. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif tanpa perhitungan statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkah laku memelihara anak burung kuntul dilakukan sejak anakan berumur 2 hari sampai berumur 49 hari (sampai terbang). Tingkah laku memelihara anak burung kuntul sama seperti pada saat pengeraman yaitu dilakukan secara bergantian antara kedua induk. Induk yang bertugas memelihara anak burung kuntul telah menyediakan cadangan makanan yang disimpan dalam tembolok sebagai pasokan makanan untuk anaknya. Pemberian makan mengikuti perubahan dimana induk burung meletakkan makanan didalam sarang dan membiarkan anaknya mematuk sendiri makanan tersebut. Hubungan antara induk dan anak sudah putus sama sekali pada saat anak burung berumur 49 hari (sampai terbang). Anak burung sudah dapat terbang dan mencari makan sendiri. Aktivitas lain yang dilakukan burung kuntul untuk mendukung tingkah laku memelihara anak yaitu aktivitas bertengger, dan berkicau. Kata Kunci : tingkah laku memelihara anak; burung kuntul; desa petulu The purpose of this research is to know about the epimeletic behavior on kuntul bird (Bubulcus ibis). The kind of this research is descriptive exploratory research because the characteristics of this study are to explore the fact or information from the field without any manipulation and the result is presented objectively through explanation or written narration. The data about epimeletic behavior on kuntul bird was find out through observation using observation sheet and was recorded using handycam. The finding data in this research was analyze by qualitative descriptive without statistical calculations. The result of this research about epimeletic behavior on kuntul bird conducted since a 2 day until 49 day (up to fly). Epimeletic behavior on kuntul bird same as when incubation is done alternately between the parents. Parent will be charge the epimeletic behavior on chick have been providing food reserves stored in cache as the supply of food for their chick. The way of feeding food is also change in parent put the food in nest and let them alone to peck their food. The relationship between parent and chick has broken up at all during the 49 day (up to fly). The chick is able to fly and feed themselves. Other activities conducted kuntul bird in support of maintaining the epimeletic behavior that the activity of perch, and chirping.keyword : epimeletic behavior; kuntul bird; petulu village
PENGARUH JARAK PEMINDAHAN TERHADAP KEBERHASILAN KEMBALI PULANG (HOMING) KODOK BUDUK (Bufo melanostictus) Ni Wayan Mery Wintari .; Drs.I Ketut Artawan,M.Si .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 1 No. 1 (2014)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v1i1.3171

Abstract

Amphibi seringkali meninggalkan rumahnya menuju habitat berbeda dengan jarak yang cukup jauh untuk bereproduksi atau berburu mangsa. Setelah meninggalkan rumah, dalam kenyataannya mereka memerlukan mekanisme yang menuntun untuk mengetahui jalan pulang (homing). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui keberhasilan kembali pulang (homing) kodok Buduk (Bufo melanostictus) setelah percobaan translokasi, (2) menghitung besarnya persentase keberhasilan homing kodok Buduk sampai jarak pemindahan terjauh, dan (3) menghitung kecepatan rata-rata homing kodok Buduk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen lapangan dengan rancangan pra eksperimen one shot case study. Tujuh sampel kodok Buduk diambil masing-masing dari tiga lokasi penelitian; Desa Sambangan, Kelurahan Banyuning, dan Kelurahan Sukasada, Kabupaten Buleleng, kemudian dipindahkan bertahap dari jarak 30 meter sampai 180 meter dengan interval 30 meter. Jumlah kodok Buduk yang dipindahkan pada masing-masing jarak setelah pemindahan 30 meter bergantung pada jumlah kodok Buduk yang berhasil pulang pada jarak sebelumnya. Penelitian dilaksanakan dari 1 Februari-3 Maret 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kodok Buduk (Bufo melanostictus) di Desa Sambangan, Kelurahan Banyuning, dan Kelurahan Sukasada memiliki tingkat keberhasilan kembali pulang (homing) yang rendah, hanya 3 ekor kodok Buduk yang berhasil homing sampai jarak pemindahan 180 meter, (2) persentase keberhasilan homing kodok Buduk sampai jarak pemindahan terjauh (180 meter) adalah sebesar 14,28%, dan (3) kecepatan rata-rata homing kodok Buduk yang diperoleh adalah 5,5 m/jam. Kata Kunci : Kodok Buduk, translokasi, pulang Amphibian usually leave their home site and go to a new habitat in long distance for some activities like reproduction or predation. In fact, they need a mechanism to go back home after that. This research aimed to know (1) the successful homing of Buduk toad (Bufo melanostictus) after translocation experiment, (2) count successful homing percentage of Buduk toad in furthermost translocation distance, and (3) count the average speed of homing of Buduk toad. This research is field experiment with pra experiment design, one shot case study. Seven Buduk toads as sample were taken from each place; Desa Sambangan, Kelurahan Banyuning, and Kelurahan Sukasada Kabupaten Buleleng. They were moved step by step from 30 meters to 180 meters away from their home site, within 30 meters interval. The amount of Buduk toad that moved in each distance after 30 meters translocation distance depend on the successful homing amount in previous distance. This research was conducted from February 1st to March 3rd, 2014. The results show that (1) Buduk toads in Desa Sambangan, Kelurahan Banyuning, and Kelurahan Sukasada have low level of successful homing, overall only 3 toads are success to homing , (2) the successful homing percentage of Buduk toad in furthermost translocation distance (180 meters) is 14,28%, and (3) the average speed of homing of Buduk toad is 5,5 meters/hour. keyword : Buduk toad, translocation, homing
ANALISIS KLUSTER DAN ORDINASI VEGETASI HUTAN ADAT DI DESA TIGAWASA KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BUELENG Ni Putu Mawar Larassatiningtias .; Prof. Dr. Nyoman Wijana,M.Si .; Drs.I Nengah Sumardika,M.Pd. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 1 No. 1 (2014)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v1i1.3172

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) pola kluster vegetasi hutan Pememan di Desa Adat Tigawasa, (2) pola ordinasi vegetasi hutan Pememan di Desa Adat Tigawasa. Jenis penelitian ini adalah eksploratif dan deskriptif. Populasi penelitian adalah semua spesies tumbuhan yang hidup di seluruh area hutan Pememan Desa Adat Tigawasa. Sampel penelitian adalah seluruh spesies berupa pohon yang terkaver oleh kuadrat ukuran 10 x 10 m sepanjang 600 m. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode kuadrat dengan teknik sistematik sampling. Data dianalisis secara statistik ekologi. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) pola kluster vegetasi hutan Pememan Desa Adat Tigawasa, adalah pola dendrogram diskontinu. Bentuk dendrogram ini membagi unit-unit sampling menjadi dua kluster yang masing-masing kluster terdiri atas beberapa subkluster, (2) pola geometrik ordinasi vegetasi hutan Pememan Desa Adat Tigawasa adalah pola geometrik diskontinu. Pola geometrik ordinasi ini juga membagi unit-unit sampling menjadi dua kelompok geometrik. Bila antara pola kluster digabung dengan pola ordinasi maka memunculkan kelompok unit sampling kontinu dan diskontinu.Kata Kunci : kluster, dendrogram, ordinasi, vegetasi, hutan adat tigawasa The aims of this research are to know (1) the pattern of cluster Pememan forest vegetation of Tigawasa traditional village, (2) the pattern of ordination Pememan forest vegetation of Tigawasa traditional village. The population of this research was all the species of plants that live in the entire Pememan forest area Tigawasa traditional Village. The samples of this research entire species of trees that saplings covered by the square width the size 10 x 10 m along the 600 m. The method used of this research for the take of sample is quadrate method with systematic sampling technical. The data analysis by ecology statistical. The result of this research are (1) the cluster pattern of Pememan forest vegetation Tigawasa traditional village is dendrograme pattern discontinue. The form this dendrograme dividing the sample units to two cluster, each cluster consisting of several sub cluster, (2) the geometric pattern of ordination Pememan forest vegetation Tigawasa traditional village is the discontinue geometric pattern. The geometric ordination pattern dividing of sampling units to two big geometric groups. If between of cluster pattern combination with ordination pattern then appearing of continue and discontinue sampling unit groups.keyword : cluster, dendrograme, ordination, vegetation, tigawasa traditional forest.
STUDI KOMPARATIF KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON PADA EKOSISTEM LAMUN, TERUMBU KARANG, MANGROVE DI KAWASAN TNBB Putu Bintang Orissa .; Dr. Ida Bagus Jelantik Swasta,M.Si .; Gede Ari Yudasmara, S.Si., M.Si. .
Jurnal Pendidikan Biologi undiksha Vol. 1 No. 1 (2014)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpb.v1i1.3173

Abstract

Hingga saat ini belum ada penelitian yang membandingkan perbedaan keanekaragaman dan kemelimpahan fitoplankton pada ekosistem padang lamun, terumbu karang dan mangrove di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui komposisi, indeks keanekaragaman, kemelimpahan relatif, tingkat perbedaan keanekaragaman dan kemelimpahan fitoplankton yang hidup pada ketiga ekosistem tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan eksploratif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh fitoplankton pada ekosistem padang lamun, terumbu karang dan mangrove. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah fitoplankton yang berhasil ditangkap pada sejumlah titik pengambilan sampel. Analisis data menggunakan statistik ekologi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Fitoplankton yang teridentifikasi pada ekosistem lamun sebanyak 24 jenis, ekosistem terumbu karang 32 jenis dan ekosistem mangrove 20 jenis; (2) Indeks keanekaragaman fitoplankton pada ekosistem terumbu karang tergolong tinggi sedangkan ekosistem lamun dan mangrove sedang; (3) Kemelimpahan relatif tertinggi pada ekosistem lamun adalah spesies Guinardia blavyana, ekosistem terumbu karang adalah Cocconeis scutelum dan ekosistem mangrove adalah Triceratium alternans; (4) terdapat perbedaan keanekaragaman fitoplankton antara ketiga ekosistem; (5) Terdapat perbedaan kemelimpahan fitoplankton antara ketiga ekosistem.Kata Kunci : fitoplankton, keanekaragaman, kemelimpahan Until this time there is no research that compares phytoplankton diversity and abundance between sea grass, coral reef and mangrove ecosystems in Bali Barat National Park. The research purposes are to know the phytoplankton composition, diversity index, relative abundance, comparison of diversity and abundance on three ecosystems. This research categorized as descriptive and explorative. The research population is all of phytoplankton on those three ecosystems, while the research sample is captured phytoplankton in some point. Data analyze using ecologyc statistic. The results are: (1) the amount of phytoplankton that identified on sea grass ecosystem are 24 species, on coral reef are 32 species, and on mangrove are 20 species; (2) phytoplankton diversity index on coral reef ecosystem included into high level, but on sea grass and mangrove ecosystem are moderate; (3) higher relative abundance on sea grass ecosystem is Guinardia blavyana, on coral reef ecosystem is Cocconeis scutelum and mangrove is Triceratium alternans; (4) phytoplankton diversity between three ecosystems are different; (5) phytoplankton abundance between three ecosystems are different.keyword : phytoplankton, diversity, abundance